Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
Not a member yet
    499 research outputs found

    Pengaruh keadaan rongga mulut, perilaku ibu, dan lingkungan terhadap risiko karies pada anak

    No full text
    The effect of oral cavity condition, mothers’ behaviour and environment on the carries risk on children. Carries risk factors in children consist of direct risk factor, which includes the condition of oral cavity, and indirect risk factor including mother’s behaviour and environment. The study was to identify factors that influence the occurrence of caries in children. This is an observational research with a cross-sectional design. The samples were 430 children between the ages of 10-12 years. The evaluated caries risk factors included pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service, the mother’s behaviour on the child’s health care, and the mother’s behaviour on child’s food selection. The environment factors were UKGS implementation by teacher and friend’s influences. The data were analysed using multiple logistic regression. The result of multiple logistic regression analysis indicated that the pH level of saliva (POR=1.923), the amount of plaque (POR=2.382), caries experience (POR=4.048), mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service (POR= 2.107), mother’s behaviour on child’s food selection (POR= 1.676), and the UKGS implementation by teacher (POR=1,846) significantly influenced the occurrence of caries (p0,05). The study showed that pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in utilization of dental health service, mother’s behaviour on child’s food selection, and the UKGS implementation by teacher influenced the risk of caries in children.ABSTRAKFaktor risiko karies pada anak terdiri atas faktor risiko langsung, yaitu keadaan rongga mulut anak, dan faktor tidak langsung, yaitu perilaku ibu dan lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya karies. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel sebanyak 430 anak berumur 10-12 tahun, faktor risiko karies yang diukur adalah pH saliva, banyaknya plak, dan pengalaman karies, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi, dan perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak. Faktor lingkungan terdiri atas pelaksanaan UKGS oleh guru dan pengaruh teman sebaya. Analisis data dilakukan dengan multiple logistic regression. Hasil analisis menunjukkan pH saliva (POR=1,923), banyaknya plak (POR 2,382), dan pengalaman karies (POR= 4,048), perilaku ibu dalam pemanfatan pelayanan kesehatan gigi anak (POR=1,876), perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak (POR=1,676) dan pelaksanaan UKGS oleh guru (POR=1,847) berpengaruh secara signifikan dengan risiko karies pada anak (p0,05). Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko karies pada anak adalah pengalaman karies, banyaknya plak, pH saliva, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak, dan pelaksanaan UKGS oleh guru

    Seleksi Kasus dan Perawatan Ortodontik pada Gigi Kaninus Maksila Impaksi

    No full text
    Latar belakang: Seleksi kasus merupakan hal utama sebelum melakukan perawatan ortodontik terhadap gigi kaninus maksila impaksi. Hanya gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal dan berada di ruangnya yang dapat dilakukan perawatan ortodontik. Konsultasi kepada Ahli Bedah Mulut mengenai teknik surgical exposure akan memberikan manfaat bagi Ortodontis dalam melakukan perawatan ortodontik. Teknik pembedahan yang tepat akan membuat proses perawatan ortodontik lebih singkat dengan hasil memuaskan. Teknik Begg merupakan salah satu teknik ortodontik yang dapat digunakan untuk merawat gigi kaninus impaksi. Tujuan: Memaparkan teknik perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg pada gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal. Kasus: Perempuan 18 tahun disertai gigi kaninus maksila kanan impaksi. Perawatan: 1. Perawtan ortodontik dengan teknik Begg tahap pertama. 2. Surgical exposure oleh Ahli Bedah Mulut. 3. Perawatan ortodontik teknik Begg tahap kedua dan ketiga. Kesimpulan: Perawatan ortodontik dengan teknik Begg mampu menempatkan gigi kaninus impaksi pada lengkung gigi yang baik. Background: case selection is the important thing before orthodontically impacted maxillary canine treated. Certain impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane could be orthodontically treated. Consultation to Oral Surgeon to have a proper surgical exposure technique would be benefit to speed up the treatment with a succesful outcome. Begg Technique is a choice of orthodontic treatments that could treat impacted maxillary canine. Purpose: To describe of Begg technique for treating of impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane. Case: A 18 years old female patient with impacted of a right maxillary canine. Management: 1. First step of Begg technic. 2. Surgical exposure by Oral Surgeon. 3. Second and third steps of Begg technic. Conclusion: Begg technique could treat impacted maxillary canine in to the proper maxillary arch jaw

    Pengaruh konsentrasi cobalt chromium pada uji hemolisis sebagai implan gigi

    No full text
    The effect of concentration of cobalt chromium in hemolysis test for dental implant. Dental implants are used to replace tooth/teeth loss and its function. Cobalt chromium has ideal characteristics to be made as dental implants material. It is required that the material to be implanted must be biocompatible with cells and tissues. One of biocompatibility characteristics is hemocompatibility. Hemocompatibility of materials can be observed with hemolysis test. Thus the purpose of this research is to know whether cobalt chromium as dental implants material affect the hemolysis of rabbit blood or not. This research was done with rabbit blood (Oryctolagus cuniculus) and devided into 3 groups (treatment, positive and negative control). The tested material was cobalt chromium Remanium® GM 800, a product from Dentaurum. The contact between blood and material was done with ASTM-F075 hemolysis test. Cobalt chromium was not hemolytic at 2,5%, 5%, and 10% of concentration, slightly hemolytic at 20% of concentration, and hemolytic at 40% and 80% of concentration. The conclusion of this research was variety of concentration of cobalt chromium affected hemolysis percentage signi cantly.ABSTRAKImplan gigi digunakan untuk mengganti gigi yang hilang untuk dan dapat mengembalikan fungsi gigi. Cobalt chromium memiliki sifat-sifat yang memenuhi persyaratan sebagai material implan. Material yang diimplankan dalam tubuh harus memiliki sifat biokompatibilitas. Salah satu sifat biokompatibilitas yang harus dimiliki material yang diimplankan dalam tubuh adalah sifat hemokompatibilitas. Sifat hemokompatibilitas dapat diketahui dengan uji hemolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh logam cobalt chromium sebagai material implan gigi terhadap hemolisis pada darah kelinci. Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel darah yang didapat dari kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu perlakuan, kontrol positif dan negatif. Bahan penelitian yang diuji adalah cobalt chromium Remanium GM 800 produksi Dentaurum. Kontak darah dengan bahan uji dilakukan menggunakan uji hemolisis ASTM-F075. Hasil penelitian menunjukkan material logam cobalt chromium tidak menimbulkan hemolisis pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%, menimbulkan hemolisis ringan pada konsentrasi 20%, dan hemolisis pada konsentrasi 40% dan 80%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi logam cobalt chromium berpengaruh secara signikan terhadap persentase hemolisis

    Studi in vivo ekstrak etanolik ciplukan (Physalis angulata) dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah

    No full text
    In vivo study of ethanolic ciplukan extract (Physalis angulata) to enhance the apoptosis of tongue cancer cell. Tongue cancer is kind of oral cancer with high prevalence. Ciplukan (Physalis angulata L.) has cytotoxic activity to inhibit cancer cells proliferation and induct cell cycle arrest. This study aims to assess the potential of ethanolic ciplukan extract (ECE) as anti tongue cancer and determine the effect of ECE in increasing tongue cancer cells apoptotic injected by DMBA. Fifteen female Sprague dawley rats of approximately 80-60 gram and aged 2-3 months were divided into three groups: (1) control group; (2) DMBA+ 750 mg/kg BW ECE; (3) DMBA+1500 mg/kg BW ECE. Tongue cancer was inducted by injecting 2% DMBA 0,1ml /100 grams BW on the lateral tongue and then it was observed for 5 weeks. After that, the 750 and 1500 mg/kg BW ECE were given orally everyday for seven days. By the end of the sixth week, all the rats were sacrified and then the tongue tissue was stained using TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL) assay to see the apoptotic cells. The results showed that apoptotic index for the control group was 3,94%, treatment with 750 mg/Kg BW extract had 15,34% result meanwhile treatment with 1500 mg/Kg BW resulted in 25,5%.The result of one way ANOVA (p<0,05) test showed that ECE increased cancer cells apoptotic treated by DMBA. Thus, it is possible to conclude that ECE is effective in inhibiting the growth of tongue cancer cell by increasing apoptotic tongue cancer cells.ABSTRAKKanker lidah merupakan jenis kanker di dalam rongga mulut yang sering terjadi dan memiliki prevalensi yang tinggi. Ciplukan (Physalis angulata L.) memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker, yaitu mampu menghambat proliferasi sel kanker dan menginduksi cell cycle arrest. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak etanolik ciplukan (EEC) sebagai antikanker lidah dan mengetahui pengaruh EEC dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah yang diinjeksi DMBA. Lima belas ekor tikus Sprague dawley betina usia 2-3 bulan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: (1) kelompok kontrol DMBA; (2) kelompok DMBA+EEC dosis 750 mg/kg BB; (3) kelompok DMBA+EEC dosis 1500 mg/kg BB. Kanker lidah diinduksi dengan injeksi 0,1 ml/100 gram BB tikus larutan DMBA 2% pada bagian lateral lidah hewan uji satu kali, lalu dibiarkan selama 5 minggu. Pada awal minggu ke-6 EEC 750 dan 1500 mg/kg BB diberikan secara sondasi kepada hewan uji selama 7 hari. Pada awal minggu ketujuh tikus dikorbankan. Selanjutnya, dilakukan pengamatan untuk memeriksa apoptosis sel dengan pewarnaan TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL). Hasil penelitian menunjukkan indeks apoptosis kelompok kontrol adalah 3,94%, kelompok perlakuan EEC 750 mg/kg BB adalah 15,34%, dan kelompok perlakuan EEC 1500 mg/kg BB sebesar 25,5%. Hasil uji One Way ANOVA (p<0,05) menunjukkan bahwa EEC mampu meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus yang diinduksi DMBA. Kesimpulan penelitian ini adalah EEC dapat menghambat pertumbuhan sel kanker lidah dengan cara meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus

    Hubungan antara Kesehatan Gigi dan Mulut dan Upaya Rehabilitasi Prostodonsia pada Lanjut Usia

    No full text
    Latar belakang. Peningkatan populasi lanjut usia berdampak pada status kesehatan gigi dan mulut dan pelayanannya termasuk pelayanan rehabilitasi prostodonsia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara kesehatan gigi mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Metode penelitian. Seratus duapuluh sampel lanjut usia dipilih dengan ciri: umur > 60 tahun, tahapan keluarga sejahtera II dan III, gigi kurang 20, pendidikan minimal SD atau SR, dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dan diberi angket. Pemeriksaan kesehatn gigi dan mulut untuk mengetahui: jumlah gigi tinggal dengan cara menghitung berdasarkan 32 – gigi missing, kebersihan mulut dengan Oral Hygiene Indek-S, kesehatan jaringan periodontal dengan indeks Russel, pemakaian gigi tiruan dan kebutuhan gigi tiruan dengan observasi. Angket merupakan skala sikap dibuat berdasarkan skala Likert yang dimodifikasi untuk mengetahui tingkat upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Angket berisi 5 aspek rehabilitasi yaitu aspek pengunyahan, estetis, bicara, kenyamanan, dan pelestarian jaringan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis regresi berganda. Hasil. Terdapat hubungan positif sangat bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia (R= 0,497, F= 7,492, p<0,01). Kesimpulan penelitian. Ada hubungan positif antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Background. Increase in elderly population have impact to oral and dental health and dental services included prostodontic rehabilitation services. Purpose. The purpose of this research was to investigate the correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort of elderly. Methods. One hundred and twenty elderly people were selected sample with criteria: more than 60 years old, the prosperous family stage II and III, have teeth less than 20 and minimum education is elementary school. The research was taken by oral and dental examination and questionnaire. The oral and dental examination were: remaining dentition (31 minus missing teeth), oral hygiene status (OHI-S), periodontal status (Russel periodontal index), denture wearing and denture’s need. A modification Likert scale questionnare was used to measure the prostodontic rehablitation effort level. The data were analyzed statistically by multiple regression. Result. The result showed there was a significant positive correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort (R= 0,497, F= 0,7492, <0,01). Conclusion. There was a positive correlation between oral and dental health and prosthodontic rehabilitation effort of the elderly.

    Perawatan Gigitan Silang Gigi Depan pada Gigi Susu dengan Dataran Gigitan Miring Akrilik Cekat

    No full text
    Latar Belakang: Gigitan silang gigi depan jika dibiarkan berkembang akan dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan maksila dan tidak terkontrolnya pertumbuhan mandibula ke depan sehingga dapat menjadi maloklusi skeletal kelas III yang sangat merusak penampilan wajah. Perawatan sangat perlu dilakukan pada usia dini sejak periode gigi susu. Tujuan: Membahas perawatan gigitan silang gihi depan pada gigi susu menggunakan dataran gigitan miring dari resin akrilik yang dipasang secara cekat pada rahang bawah. Kasus: Dua kasus maloklusi pseuid kelas III dengan gigitan silang gigi depan pada periode gigi susu. Dirawat menggunakan dataran gigitan miring akrilik yang dipasang secara cekat pada gigi depan bawah. Kesimpulan: maloklusi dapat terkoreksi dalam waktu 2 bulan, oklusi dapat dikembalikan ke relasi normalnya dan tetap dalam keadaan normal saat dilakukan observasi ketika semua gigi depan permanen telah erupsi. Background: Untreated anterior crossbite will be able to inhibit the maxillary growth and subsquent uncontrolled forward growth of the mandible can lead to class III skeletal malocclusion and therefore an unattractive appearance. Care needs to be done at a very early age and can be started during primary dentition period. Objectives: Discussing the treatment anterior crossbite of primary dentition using fixed acrylic mandibulary inclined bite plane. Cases: Two cases of pesudo class III malocclusion with anterior crossbite of primary dentition have been treated using fixed acrylic bite plane mounted on the lower front teeth. Conclusion: Malocclusion can be corrected in 2 months, and normal occlusion can be restored and remained stable when all the permanent anterior teeth had been erupted

    Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol Menurunkan Pembentukan Plak Gigi

    No full text
    Latar belakang. Plak gigi adalah deposit lunak yang terdiri dari kumpulan berbagai macam mikroorganisme pada permukaan gigi yang berada dalam suatu polimer matriks bakteri. Pengunyahan perm en karet dapat membersihkan gigi dari debris dan plak gigi, mencegah terjadinya penyakit gingivitis dan periodontal, meningkatkan pH plak gigi, dan merangsang pengeluaran saliva. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dan xylitol terhadap pembentukan plak gigi. Metode penelitian. Subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan rentang usia 18-24 tahun sebanyak 30 subjek. Kelompok subyek dibagi menjadi tiga yaitu mengunyah permen karet gula, permen karet xylitol, dan kontrol (masing-masing kelompok sebanyak 10 subjek). Data yang diambil adalah indeks plak gigi (Podshadley dan Haley Indeks) kemudian dianalisis dengan statistik Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna pembentukan plak gigi antara mengunyah permen karet xylitol, gula, dan kontrol salama tujuh hari. Disimpulkan. bahwa pengunyahan permen karet gula dan xylitol dapat menurunkan indeks plak gigi

    Pengaruh Ekstrak Etanolik Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn) sebagai Bahan Kumur terhadap Daya Perlekatan C. Albicans pada Plat Resin Akrilik

    No full text
    Latar Belakang: Candia albicans adalah mikroorganisme yang berkoloni melekat pada permukaan gigi maupun gigi tiruan. Obat kumur mengandung bahan tarapeutik yang berfungsi sebagai antibakteri. Kulit batang jambu mete antara lain mengandung senyawa fenolik yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui apakah ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap gaya perlekatan C. Albicans pada plat resin akrilik. Metode penelitian: Ekstrak kulit batang jambu mete diperoleh dengan menggunakan metode maserasi dan menggunakan etanol sebagai pelarut. Bahan kumur ekstrak kulit batang jambu mete dibuat dengan komposisi bahan kumur standar dengan menambahkan ekstrak etanolik kulit batang jambu mete dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% sebagai agen antibakteri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan plat resin akrilik yang dibuat bentuk disk dengan ukuran diameter 10 mm dan tebal 2 mm sebanyak 24 buah, yang dibagi dalam 6 kelompok yaitu 5 kelompok perlakuan dengan menggunakan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete dan 1 kelompok kontrol menggunakan bahan kumur standar. Seluruh plat resin dimasukkan dalam tabung C. Albicans 10 CFU/ml selama 5 menit, kemudian plat diambil dan dimasukkan dalam larutan bahan kumur standar sebagai kontrol dan larutan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete untuk kelompok perlakuan selama 3 menit dan digetarkan. Cairan kemudian diambil sebanyak 0,1 ml dan ditanam pada piring petri dengan agar saboruraud dan diinkubasi selama 48 jam. Perhitungan koloni dilakukan menggunakan counter. Hasil penelitian: Hasil daya perlekatan pada bahan kumur standar 1912,50±14,93; pada bahan kumur dengan ekstrak 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 dan 5% = 670,00±38,37. Analisis varian satu jalur memperlihatkan pengaruh yang bermakna ekstrak etanolik kulit batang jambu mete terhadap daya lekat C. Albicans pada plat resin akrilik (p<0,05). Hasil LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan (p<0,05). Kesimpulan: Ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap daya perlekatan C. Albicans pada plat resin aklirik. Background: C. Albicans is a microorganism which colonized on the tooth or denture prosthesis surfaces. Mouthwashes usually contain therapeutic agent as antibacterial. The bark of Annacardium occidentale contains fenolic as antibacterial activity. The aim of this research was to determine the influence of the etanolic ectract of anacardium occidentale bark as mouthwashes on C. Albicans adherence. Method: the extract of anacardium occidentale bark was conducted in maceration method and used ethanol as solvent. Mouthwashes were made in standart composition and added annacardium occidentale bark extract 1%, 2%, 3%, 4% and 5% as antibacterial agent. As a negative control was used standart mouthwashes without extract. The research used 24 resin acrylic which made in disk shape with diameter 10 mm. This acrylic were divided in 6 group, there were 5 group treated with mouthwash that contain extract anacardium occidentale bark and 1 group treated with standart mouthwashes. All of resins plate were incubated in C. Albicans solution for 5 minute. After that resin acrylic plate were immersed in standart mouthwashes as a control and mouthwashes with anaracium occidentale bark extract and vibrate for 3 minutes. The solution then taken 0,1 ml and planted in petry dish with saboruraud agar and incubated for 48 hours. Result: Attachment of candida alvicans was: 1912,50±14,93 as control and mouthwash with extract were 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 and 5% = 670,00±38,37. Analyzed with one way Anova showed that the extract of annaracium occidentale bark as mouthwash influenced the cancida albicans adherence on resin acrylic surface (p<0,05). LSD analyzed showed there were significant differenced between all groups (p<0,05). Conclusion: The extract of anacardium occidentale bark extract as mouthwash were influence of the C. Albicans adherence on resin acrylic surface

    Perawatan Maloklusi Pseudo Kelas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg

    No full text
    Latar Belakang: Maloklusi Pseudo kelas III ditandai dengan hubungan yang tidak harmonis antara relasi anteroposterior rahang dan posisi mandibula terhadap maksila. Ketidakharmonisan tersebut dapat disebabkan karena mandibula yang normal dengan maksila retrusif. Maloklusi pseudo kelas III mempunyai perhitungan yang menunjukkan bentuk antara klas I dan skeletal klas III. Perbedaanya hanya pada sudut gonial dimana pada skeletal klas III sudutnya lebih tumpul, sedangkan pada sampel pseudo klas III, sudut gonial lebih mirip dengan klas I. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat juga untuk merawat maloklusi Angle kelas III, termasuk maloklusi skeletal yang menyertainya. Tujuan: memaparkan perubahan dental dan skeletal setelah perawatan dengan alat cekat teknik Begg. Kasus: perempuan 20 tahun mengeluhkan gigi-gigi rahang atas ada yang tumbuh di belakang dan rahang bawah nyakil sehingga menganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III subdivisi serta hubungan skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula protusif disertai Crossbite: 12, 11, 21, 22 terhadap 34, 32,31, 41, 42, 43. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan: Hasil menunjukkan crowded terkoreksi, overjet dan overbite terkoreksi, relasi molar menjadi klas I. Background: Pseudo class III malocclusion characterized by disharmony between anteroposterior relationship of jaw and mandibulae position toward maxilla. This disharmony cause by normally shaped mandibles and underveloped maxillae. Pseudo clas III malocclusion is an intermediate form between class I and skeletal clas III malocclusion. The only exception was the gonial angle, which was generally more obtuse in the skeletal class III sample. Measurement of gonial angle in the pseudo class III sample was found to be rather similar to class I sample. Fixed Begg orthodontic appliance can be used to treat Angle’s class III malocclusion accompany with skeletal problem. Purpose: to describe dental and skeletal changes after begg fixed orthodontic. Case: 20 year old woman complained of crowded maxilla front teeth and mandible protrusion. Diagnosis: malocclusion Angle class III subdivision, skeletal class III with maxilla retruded and mandibular pronation along with anterior crossbite: 12, 11, 21, 22, to 34, 32, 31, 41, 42, 43. Treatment: using the Begg fixed appliance techniques without extraction. Conclusion: The result showed that crowded, overjet and overbite corrected, and molar relation become class I

    Terapi Kombinasi Root Debridement dan Antibiotik terhadap Periodontitis Agresif

    No full text
    Latar Belakang. Kerusakan periodontal yang signifikan secara klinis selama dewasa atau awal masa dewasa dikenal sebagai periodontitis agresif. Perawatan standar scaling dan root planing sering kurang memuaskan hasilnya sehingga perlu mempelajari periodontitis agresif secara tuntas dan terapi yang harus diberikan sehingga perawatan bisa memberikan hasil yang optimal. Tujuan. Untuk mengupas tentang periodontitis agresif agar bisa menegakkan diagnosis, serta mendapatkan hasil yang optimal dalam perawatannya. Ringkasan Pembahasan. Gigi goyah disebabkan oleh sedikit atau rapuhnya tulang alveoler pendukung gigi sehingga gigi tidak bisa menjalankan fungsinya. Periodontitis agresif menyerang seseorang, diketahui oleh dokter gigi sering tidak dari awal, akan tetapi setelah penyakit tersebut berlanjut. Skrening melalui foto Rontgen pada penderita periodontitis usia awal dewasa berguna untuk mengetahui secara dini periodontitis agresif. Pada perawatan regeneratif dengan mengganti tulang alveoler yang hilang, terlebih dahulu menghentikan aktivitas periodontitis agresif, yaitu dengan memberikan antibiotik dikombinasi dengan root debridement baik secara bedah maupun non bedah. Kesimpulan. 1. Mengenali dan merawat periodontitis agresif secara dini dapat mencegah kerusakan jaringan periodontal yang berat. 2. Perawatan periodontitis agresif terutama mengeliminir bakteri dengan kombinasi tindakan mekanis root debridement dan pemberian antibiotik yang tepat dalam jagka waktu yang cukup secara konsisten. 3. Pemberian antibiotik sebaiknya berdasarkan tes laboratorium bakteri resiten. Background. Periodontal destruction is clinically significant during adulthood or early adulthood is known as aggressive periodontitis. Nursing standard scaling and root planing is often less satisfactory result, so need to study of periodontits aggressive thoroughly and therapy should be given so that treatments can provide result that optimal. The Purpose. To investigated the aggresive periodontitis in order to establish the diagnosis, and obtain optimal results in treatment. Summary of Discussion. Wobbly tooth caused by a slightly or bone fragility alveoler supporting the teeth so the teeth can not perform its function. Aggressive periodontitis someone attack, is is known by dentist often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis someone attack, it is known by dentists often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis patients with adult early age is useful to know early aggresive periodontitis. In the regenerative treatment by replacing the lost bone alveoler, first stop the activities of aggresive periodontitis, namely by giving antibiotics combination with root debridement either surgery or non surgical. Conclusion. 1. Recognizing and treating aggressive periodontitis early can prevent severe damage to periodontal tissues. 2. Treatment of aggressive periodontitis, especially action to eliminate the bacteria with a combination of mechanical root debridement and giving appropriate antibiotics within a sufficient period of time is concictently. 3. The given antibiotics should be based on laboratory tests of resistant bacteria

    0

    full texts

    499

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇