Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
BUDIDAYA KEPITING BAKAU DI KELURAHAN AIR JUKUNG, KECAMATAN BELINYU, KABUPATEN BANGKA: Budidaya Kepiting Bakau Di Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka
Perairan payau banyak dimanfaatkan oleh para pembudidaya ikan sebagai media pemeliharan bagi komoditi air payau seperti kepiting bakau. Namun kegiatan budidayayang dilakukan seringkali menghadapi permasalahan yang menyebabkan hasil produksi menjadi tidak optimal. Pembudidaya ikan di Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka merupakan pembudidaya ikan yang bergerak pada kegiatan budidaya air payau khususnya kepiting bakau (Scylla serrata). Budidaya yang dilakukan selama ini tidak berjalan dengan baik dikarenakan keterbatasan dana, kurangnya teknologi dan pendampingan untuk kegiatan produksinya sangat kurang. Oleh karena itu pendampingan dan teknologi dalam teknis kegiatan budidaya harus ditingkatkan agar didapatkan keuntungan yang optimal. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan aplikasi IPTEKS berupa sistem dan teknologi untuk menghasilkan kepiting bakau yang memiliki harga jual tinggi dan sesuai dengan keinginan pasar ekspor. Kegiatan ini dilaksanakan di kolam budidaya kepiting bakau yang dimiliki oleh para pembudidaya di Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Target khusus dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas produksi budidaya dengan teraplikasinya sistem dan teknologipada semua petak tambak budidaya bagi bagi para pembudidaya. Metode kegiatan ini yaitu melakukan kegiatan budidaya dengan menyisipkan aplikasi teknologi. Hasil dari kegiatan ini yaitu kepiting bakau yang dipelihara tumbuh optimal pada tambak budidaya. Jumlah kepiting bakau memenuhi kapasitas produksi.Perairan payau banyak dimanfaatkan oleh para pembudidaya ikan sebagai media pemeliharan bagi komoditi air payau seperti kepiting bakau. Namun kegiatan budidayayang dilakukan seringkali menghadapi permasalahan yang menyebabkan hasil produksi menjadi tidak optimal. Pembudidaya ikan di Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka merupakan pembudidaya ikan yang bergerak pada kegiatan budidaya air payau khususnya kepiting bakau (Scylla serrata). Budidaya yang dilakukan selama ini tidak berjalan dengan baik dikarenakan keterbatasan dana, kurangnya teknologi dan pendampingan untuk kegiatan produksinya sangat kurang. Oleh karena itu pendampingan dan teknologi dalam teknis kegiatan budidaya harus ditingkatkan agar didapatkan keuntungan yang optimal. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan aplikasi IPTEKS berupa sistem dan teknologi untuk menghasilkan kepiting bakau yang memiliki harga jual tinggi dan sesuai dengan keinginan pasar ekspor. Kegiatan ini dilaksanakan di kolam budidaya kepiting bakau yang dimiliki oleh para pembudidaya di Kelurahan Air Jukung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Target khusus dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas produksi budidaya dengan teraplikasinya sistem dan teknologipada semua petak tambak budidaya bagi bagi para pembudidaya. Metode kegiatan ini yaitu melakukan kegiatan budidaya dengan menyisipkan aplikasi teknologi. Hasil dari kegiatan ini yaitu kepiting bakau yang dipelihara tumbuh optimal pada tambak budidaya. Jumlah kepiting bakau memenuhi kapasitas produksi
IPTEK BAGI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI MELALUI PEMANFAATAN BARANG BEKAS MENJADI PRODUK BERNILAI JUAL: IPTEK Bagi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Melalui Pemanfaatan Barang Bekas Menjadi Produk Bernilai Jual
Masalah klasik yang dihadapi banyak lulusan setiap tahunnya adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan karena lapangan pekerjaan yang terbatas sedangkan jumlah pencari kerja sangat banyak. Hal ini menuntut lulusan untuk memiliki kemampuan dan kreativitas yang tinggi serta mampu melihat peluang. Peluang yang ada saat ini dan harusnya dimanfaatkan oleh lulusan adalah banyaknya barang bekas yang belum diolah di lingkungan sekitar. Dengan kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh lulusan maka barang bekas tersebut dapat diolah dan memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh lulusan.Masalah klasik yang dihadapi banyak lulusan setiap tahunnya adalah sulitnya mendapatkan pekerjaan karena lapangan pekerjaan yang terbatas sedangkan jumlah pencari kerja sangat banyak. Hal ini menuntut lulusan untuk memiliki kemampuan dan kreativitas yang tinggi serta mampu melihat peluang. Peluang yang ada saat ini dan harusnya dimanfaatkan oleh lulusan adalah banyaknya barang bekas yang belum diolah di lingkungan sekitar. Dengan kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh lulusan maka barang bekas tersebut dapat diolah dan memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan ekonomi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh lulusan
PEMBERDAYAAN INDUSTRI KERAJINAN CROCHET DI KELURAHAN TUA TUNU KECAMATAN GERUNGGANG KOTA PANGKALPINANG DALAM RANGKA MENDUKUNG PARIWISATA DAN PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT: Pemberdayaan Industri Kerajinan Crochet Di Kelurahan Tua Tunu Kecamatan Gerunggang Kota Pangkalpinang Dalam Rangka Mendukung Pariwisata Dan Peningkatan Pendapatan Masyarakat
Tujuan program IbM pengerajin Rajutan di Kelurahan Tua Tunu ini adalah untuk memberdayakan kelompok pengerajin rajutan baru dalam mengembangkan usahanya secara mandiri dan juga memberdayakan perekonomian lokal yang sudah ada. Pengembangan ini berupa bidang produksi dan manajemen. Target luaran yang ingin dicapai pada pengerajin rajutan ini tersusun menjadi dua bagian yaitu yang (1) luaran bidang produksi (a) Pemanfaatan bahan baku benang yang ada yang sesuai dengan yang dibutuhkan pengerajin secara optimal sehingga kelancaran proses produksi pengerajin dapat maksimal dan desain yang diinginkan sesuai dengan harapan.(b) Pengerajin rajutan mampu mengembangkan satu atau lebih desain jenis baru yang ada di pasar sehingga ragam model rajutan akan bertambah yang akan memperbanyak hasil penjualan.(c) Produksi pengerajin akan semakin meningkat.(2) luaran bidang manajemen (a) Setiap pengerajin memiliki pembukuan untuk mencatat jumlah produk yang dihasilkan , banyaknya bahan yang dihabiskan dan banyaknya penjualan atau upah yang didapat sehingga diketahui besarnya penghasilan atau keuntungan yang mereka dapat selama ini.(b) Pengerajin mampu mempromosikan produk yang dihasilkan baik melalui media cetak ataupun elektronik. Rencana dan pelaksanaan program IbM di Kelurahan Tua Tunu (1) Persiapan, meliputi Sosialisasi Program IbM kepada mitra, Penyusunan indikator dan instrument, Pembentukan tim pelaksana program IbM, Pembagian tugas tim pelaksana dan pengarahan/diskusi, Mengadakan koordinasi dengan mitra IbM, Mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.(2) Pelaksanaan, meliputi Pengadaan bahan baku benang untuk memperlancar proses produksi merajut, Membuat buku koleksi jenis- jenis desain merajut sebagai bahan acuan untuk diperlihatkan kepada pelanggan, Pelatihan membuat pembukuan hasil usaha merajut, Pelatihan menggunakan internet untuk mempromosikan hasil karya merajut, Membuatkan brosur sebagai media promosi yang nantinya akan diberikan kepada pelanggan yang datang.(3) Pemantauan meliputi, Pemantauan pengadaan bahan baku merajut seperti benang dan warnawarna benang yang diperlukan, Pemantauan pelaksanaan pelatihan pembuatan pembukuan hasil usaha, Pemantauan pelatihan menggunakan internet sebagai media promosi, Pemantauan pembuatan brosur untuk media promosi internal.(4) Evaluasi meliputi, Evaluasi pengadaan bahan baku benang dan warna-warna benang, Evaluasi pelaksanaan pelatihan pembukuan hasil usaha, Evaluasi pelatihan menggunakan internet untuk media promosi, Evaluasi pelaksanaan pembuatan brosur internal, Pembuatan laporan program IbM.Tujuan program IbM pengerajin Rajutan di Kelurahan Tua Tunu ini adalah untuk memberdayakan kelompok pengerajin rajutan baru dalam mengembangkan usahanya secara mandiri dan juga memberdayakan perekonomian lokal yang sudah ada. Pengembangan ini berupa bidang produksi dan manajemen. Target luaran yang ingin dicapai pada pengerajin rajutan ini tersusun menjadi dua bagian yaitu yang (1) luaran bidang produksi (a) Pemanfaatan bahan baku benang yang ada yang sesuai dengan yang dibutuhkan pengerajin secara optimal sehingga kelancaran proses produksi pengerajin dapat maksimal dan desain yang diinginkan sesuai dengan harapan.(b) Pengerajin rajutan mampu mengembangkan satu atau lebih desain jenis baru yang ada di pasar sehingga ragam model rajutan akan bertambah yang akan memperbanyak hasil penjualan.(c) Produksi pengerajin akan semakin meningkat.(2) luaran bidang manajemen (a) Setiap pengerajin memiliki pembukuan untuk mencatat jumlah produk yang dihasilkan , banyaknya bahan yang dihabiskan dan banyaknya penjualan atau upah yang didapat sehingga diketahui besarnya penghasilan atau keuntungan yang mereka dapat selama ini.(b) Pengerajin mampu mempromosikan produk yang dihasilkan baik melalui media cetak ataupun elektronik. Rencana dan pelaksanaan program IbM di Kelurahan Tua Tunu (1) Persiapan, meliputi Sosialisasi Program IbM kepada mitra, Penyusunan indikator dan instrument, Pembentukan tim pelaksana program IbM, Pembagian tugas tim pelaksana dan pengarahan/diskusi, Mengadakan koordinasi dengan mitra IbM, Mengadakan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.(2) Pelaksanaan, meliputi Pengadaan bahan baku benang untuk memperlancar proses produksi merajut, Membuat buku koleksi jenis- jenis desain merajut sebagai bahan acuan untuk diperlihatkan kepada pelanggan, Pelatihan membuat pembukuan hasil usaha merajut, Pelatihan menggunakan internet untuk mempromosikan hasil karya merajut, Membuatkan brosur sebagai media promosi yang nantinya akan diberikan kepada pelanggan yang datang.(3) Pemantauan meliputi, Pemantauan pengadaan bahan baku merajut seperti benang dan warnawarna benang yang diperlukan, Pemantauan pelaksanaan pelatihan pembuatan pembukuan hasil usaha, Pemantauan pelatihan menggunakan internet sebagai media promosi, Pemantauan pembuatan brosur untuk media promosi internal.(4) Evaluasi meliputi, Evaluasi pengadaan bahan baku benang dan warna-warna benang, Evaluasi pelaksanaan pelatihan pembukuan hasil usaha, Evaluasi pelatihan menggunakan internet untuk media promosi, Evaluasi pelaksanaan pembuatan brosur internal, Pembuatan laporan program IbM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KECAMATAN LEPAR PONGOK DALAM PENGELOLAAN SAMPAH GUNA MENYONGSONG DESTINASI WISATA PULAU LEPAR: Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Lepar Pongok Dalam Pengelolaan Sampah Guna Menyongsong Destinasi Wisata Pulau Lepar
The tourism sector as a service industry is one of the fields that is expected to contribute significantly to regional development.This tourism activity if managed properly can be one of the potential contributors to income in regional and national economic growth. Tourism is not only a source of foreign exchange but can also expand employment opportunities arising from the involvement of a number of other sectors in it. For the Bangka Belitung Islands Province, tourism is one of the sectors that can be relied upon to anticipate the post tin mining era which has so far been the flagship in Bangka Belitung, because in addition to its strategic location, tourism also provides multiplier effects that can encourage economic growth.To build a tourist island, it is necessary to prepare various aspects. One of them is the cleanliness of the island. Waste generated by the local community and the local environment should be managed properly. Waste generated by the local community and the local environment should be managed well, especially if the waste can provide benefits either directly or indirectly.Sektor pariwisata sebagai suatu industri jasa merupakan salah satu bidang yang diharapkan dapat memberikan andil yang cukup besar dalam pembangunan daerah.Kegiatan pariwisata ini bila dikelola dengan baik dapat menjadi salahsatu penyumbang pendapatan yang potensial dalam pertumbuhan ekonomi daerahmaupun nasional. Pariwisata bukan hanya sebagai sumber devisa tetapi juga dapatmemperluas kesempatan kerja yang ditimbulkan dari sejumlah keterlibatan sektor-sektor lain di dalamnya. Bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pariwisata adalah salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk mengantisipasi era pasca pertambangan timah yang selama ini masih menjadi unggulan di Bangka Belitung, karena selain letaknya strategis, pariwisata juga memberikan multiplier effects yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.Untuk membangun pulau wisata maka perlu dipersiapkan berbagai aspek. Salah satunya adalah kebersihan pulau tersebut.Sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat setempat dan lingkungan setempat hendaknya perlu dikelola dengan baik. Terlebih lagi jika sampah tersebut dapat memberi manfaat baik secara langsung ataupun tak langsung
KULIAH KERJA NYATA (KKN) TEMATIK UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA BERBASIS LINGKUNGAN DAN EKONOMI DI KECAMATAN MERAWANG KABUPATEN BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG: Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Upaya Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penerapan Teknologi Tepat Guna Berbasis Lingkungan Dan Ekonomi Di Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematikmerupakan program yang diadakansetiap tahun di Universitas BangkaBelitung. Salah satu KKN TematikUBB dilaksanakan di KecamatanMerawang dengan judul KKN“Upaya Pemberdayaan MasyarakatDalam penerapan Teknologi TepatGuna Berbasis Lingkungan danEkonomi di Kecamatan MerawangKabupaten Bangka”. KecamatanMerawang memiliki 37 dusun yangtersebar di 10 kelurahan/desa dengantotal penduduk sebanyak 26.258 jiwa.KKN Tematik UBB di KecamatanMerawang berjumlah 38 orangmahasiswa UBB yang dibagi menjadi3 posko desa yaitu Desa Baturusa,Desa Riding Panjang dan DesaMerawang. Pada tiga desa tersebutdilaksanakan program kerja yangtelah dibuat oleh para DosenPembimbing Lapangan(DPL)berdasarkan permasalah danpotensi yang ada di desa tersebut.Program kerja keseluruhan padaKKN Tematik di KecamatanMerawang berjumlah 52 program,dengan 44 program terlaksana dan 8program yang tidak terlaksana.Dengan adanya KKN Tematik diKecamatan Merawang, diharapkandapat mewujudkan objek wisata baruberkonsep edukasi yang berwawasanlingkungan, mampu membantumasyarakat dalam meningkatkanperekonomian dan memajukanpertanian masyarakat denganpenerapan teknologi tepat guna.Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematikmerupakan program yang diadakansetiap tahun di Universitas BangkaBelitung. Salah satu KKN TematikUBB dilaksanakan di KecamatanMerawang dengan judul KKN“Upaya Pemberdayaan MasyarakatDalam penerapan Teknologi TepatGuna Berbasis Lingkungan danEkonomi di Kecamatan MerawangKabupaten Bangka”. KecamatanMerawang memiliki 37 dusun yangtersebar di 10 kelurahan/desa dengantotal penduduk sebanyak 26.258 jiwa.KKN Tematik UBB di KecamatanMerawang berjumlah 38 orangmahasiswa UBB yang dibagi menjadi3 posko desa yaitu Desa Baturusa,Desa Riding Panjang dan DesaMerawang. Pada tiga desa tersebutdilaksanakan program kerja yangtelah dibuat oleh para DosenPembimbing Lapangan(DPL)berdasarkan permasalah danpotensi yang ada di desa tersebut.Program kerja keseluruhan padaKKN Tematik di KecamatanMerawang berjumlah 52 program,dengan 44 program terlaksana dan 8program yang tidak terlaksana.Dengan adanya KKN Tematik diKecamatan Merawang, diharapkandapat mewujudkan objek wisata baruberkonsep edukasi yang berwawasanlingkungan, mampu membantumasyarakat dalam meningkatkanperekonomian dan memajukanpertanian masyarakat denganpenerapan teknologi tepat guna
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN LIMBAH RAJUNGAN SEBAGAI PAKAN IKAN DI DESA TUKAK, BANGKA SELATAN: Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pemanfaatan Limbah Rajungan Sebagai Pakan Ikan Di Desa Tukak, Bangka Selatan
Limbah rajungan selama ini menimbulkan berbagai permasalahan bagi masyarakat Desa Tukak. Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara pengelolaan limbah rajungan menjadi pakan ikan yang memiliki nilai ekonomis. Pakan ini kemudian bisa diaplikasikan ke budidaya ikan lele dengan kolam terpal. Tujuan pengabdian ini yaitu 1) Pemanfaatan limbah rajungan menjadi pakan ikan, 2) Budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal, dan 3) Pemulihan tambak ikan yang selama ini tidak dimanfaatkan oleh warga Desa Tukak. Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara pendampingan langsung, peragaan dan pelatihan ke siswa SMK Perikanan Tukak Sadai, Karang Taruna dan Masyarakat Desa Tukak. Hasil kegiatan produk pakan ikan dari limbah rajungan, kolam terpal dan rekomendasi untuk upaya pemulihan tambak di Desa Tukak. Kegiatan ini terlihat adanya respons positif dari Siswa SMK Perikanan Tukak Sadai, Karang Taruna dan Masyarakat Desa Tukak, karana akan merencanakan pembuatan kolam terpal yang lebih banyak sebagai usaha untuk meningkatkan perekonomian masyrakat.Limbah rajungan selama ini menimbulkan berbagai permasalahan bagi masyarakat Desa Tukak. Permasalahan ini dapat diatasi dengan cara pengelolaan limbah rajungan menjadi pakan ikan yang memiliki nilai ekonomis. Pakan ini kemudian bisa diaplikasikan ke budidaya ikan lele dengan kolam terpal. Tujuan pengabdian ini yaitu 1) Pemanfaatan limbah rajungan menjadi pakan ikan, 2) Budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal, dan 3) Pemulihan tambak ikan yang selama ini tidak dimanfaatkan oleh warga Desa Tukak. Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara pendampingan langsung, peragaan dan pelatihan ke siswa SMK Perikanan Tukak Sadai, Karang Taruna dan Masyarakat Desa Tukak. Hasil kegiatan produk pakan ikan dari limbah rajungan, kolam terpal dan rekomendasi untuk upaya pemulihan tambak di Desa Tukak. Kegiatan ini terlihat adanya respons positif dari Siswa SMK Perikanan Tukak Sadai, Karang Taruna dan Masyarakat Desa Tukak, karana akan merencanakan pembuatan kolam terpal yang lebih banyak sebagai usaha untuk meningkatkan perekonomian masyrakat
ANALISIS EKONOMI SUMBER DAYA KAWASAN KONSERVASI LAUT MARINE PROTECTED AREA (MPA) MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DAN PENGEMBANGAN WISATA BAHARI: Analisis Ekonomi Sumber Daya Kawasan Konservasi Laut Marine Protected Area (MPA) Melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dan Pengembangan Wisata Bahari
Marine Protected Area (MPA) merupakan salah satu instrumen yang didesain langsung pada pengendalian sumber daya alam, yaitu berupa penentuan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi. Kawasan konservasi laut (Marine Protected Area) ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang tidak hanya bersifat tangible (terukur), namun juga bersifat intangible (tidak terukur). Manfaat terukur biasanya digolongkan ke dalam manfaat kegunaan, baik yang dikonsumsi maupun tidak, sementara manfaat tidak terukur berupa manfaat non kegunaan yang lebih bersifat pemeliharaan ekosistem dalam jangka panjang. Hal ini tentunya sejalan dengan konsep dari KKN Tematik XII UBB ini untuk adanya program KKN yang berkelanjutan (sustainable).KKN Tematik XII UBB Tahun 2017 di Desa Rebo Kabupaten Bangka ini diikuti sebanyak 44 mahasiswa dari berbagai fakultas, yakni dari Fakultas Ekonomi sebanyak 28 orang, Fakultas Hukum sebanyak 7 orang, 1 orang mahasiswa dari FISIP, 2 orang mahasiswa dari FPPB dan terakhir sebanyak 6 orang dari Fakultas Teknik.Program utama dari kegiatan KKN Tematik XII UBB Tahun 2017 ini yang tersentral pada kegiatan Marine Protected Area (MPA) ini terdiri dari beberapa sub program diantaranya: 1) Sosialisasi mengenai kawasan konservasi laut/Marine Protected Area (MPA) dan pentingnya tempat konservasi spesies laut yang bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta Dinas Pariwisata, 2) Sosialisasi mengenai pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan daur ulang sampah melalui kreativitas masyarakat, 3) Pendampingan mengenai cara penangkapan ikan masyarakat pesisir khususnya nelayan setempat, 4) Pendirian spot mini konservasi ekosistem laut berupa penanaman mangrove, cemara laut, ketapang dan jambu mente di area tertentu guna mencegah abrasi serta tak luput pula adanya program tambahan berupa pendirian spot foto di area pantai dan adanya progam bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bangka mengenai bantuan terhadap anak putus sekolah, orang tua yang hidup sendiri, dan masih banyak lagi.Hasil dari KKN Tematik ini tentunya berdampak langsung dari sisi kehidupan warga Desa Rebo sendiri mengingat program utama yang memfokuskan kegiatan pada Marine Protected Area (MPA) melalui penanaman sebanyak 5000 bibit mangrove, bibit cemara laut dan ketapang ini bersifat sustainable atau berkelanjutan sehingga tentunya semua pihak bisa ikut serta untuk melestarikan area pesisir pantai terutama bagi masayarakat setempat dan sebagai planning kedepan dari Dinas Pariwisata serta dari Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan didirikannya spot area pemeliharaan ekosistem kepiting bakau.Marine Protected Area (MPA) merupakan salah satu instrumen yang didesain langsung pada pengendalian sumber daya alam, yaitu berupa penentuan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi. Kawasan konservasi laut (Marine Protected Area) ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi yang tidak hanya bersifat tangible (terukur), namun juga bersifat intangible (tidak terukur). Manfaat terukur biasanya digolongkan ke dalam manfaat kegunaan, baik yang dikonsumsi maupun tidak, sementara manfaat tidak terukur berupa manfaat non kegunaan yang lebih bersifat pemeliharaan ekosistem dalam jangka panjang. Hal ini tentunya sejalan dengan konsep dari KKN Tematik XII UBB ini untuk adanya program KKN yang berkelanjutan (sustainable).KKN Tematik XII UBB Tahun 2017 di Desa Rebo Kabupaten Bangka ini diikuti sebanyak 44 mahasiswa dari berbagai fakultas, yakni dari Fakultas Ekonomi sebanyak 28 orang, Fakultas Hukum sebanyak 7 orang, 1 orang mahasiswa dari FISIP, 2 orang mahasiswa dari FPPB dan terakhir sebanyak 6 orang dari Fakultas Teknik.Program utama dari kegiatan KKN Tematik XII UBB Tahun 2017 ini yang tersentral pada kegiatan Marine Protected Area (MPA) ini terdiri dari beberapa sub program diantaranya: 1) Sosialisasi mengenai kawasan konservasi laut/Marine Protected Area (MPA) dan pentingnya tempat konservasi spesies laut yang bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung serta Dinas Pariwisata, 2) Sosialisasi mengenai pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan daur ulang sampah melalui kreativitas masyarakat, 3) Pendampingan mengenai cara penangkapan ikan masyarakat pesisir khususnya nelayan setempat, 4) Pendirian spot mini konservasi ekosistem laut berupa penanaman mangrove, cemara laut, ketapang dan jambu mente di area tertentu guna mencegah abrasi serta tak luput pula adanya program tambahan berupa pendirian spot foto di area pantai dan adanya progam bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bangka mengenai bantuan terhadap anak putus sekolah, orang tua yang hidup sendiri, dan masih banyak lagi.Hasil dari KKN Tematik ini tentunya berdampak langsung dari sisi kehidupan warga Desa Rebo sendiri mengingat program utama yang memfokuskan kegiatan pada Marine Protected Area (MPA) melalui penanaman sebanyak 5000 bibit mangrove, bibit cemara laut dan ketapang ini bersifat sustainable atau berkelanjutan sehingga tentunya semua pihak bisa ikut serta untuk melestarikan area pesisir pantai terutama bagi masayarakat setempat dan sebagai planning kedepan dari Dinas Pariwisata serta dari Dinas Kelauatan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan didirikannya spot area pemeliharaan ekosistem kepiting bakau
Pemberdayaan Masyarakat Desa Kurau Barat Untuk Pengembangan Ekonomi Produktif: Diversifikasi Produk Olahan Berbasis Ikan Air Tawar: Pemberdayaan Masyarakat Desa Kurau Barat Untuk Pengembangan Ekonomi Produktif: Diversifikasi Produk Olahan Berbasis Ikan Air Tawar
Desa Kurau Barat memiliki potensi pengembangan produk olahan ikan. Letaknya yang strategis di pesisir, memudahkan akses mendapatkan bahan baku. Namun, perikanan tangkap yang bersifat musiman, menjadi kendala bagi pengembangan usaha ini. Alternatif bahan baku ikan air tawar hasil budidaya masyarakat, dapat menjadi solusi bagi diversifikasi produk olahan ikan di Desa Kurau Barat. Diversifikasi merupakan solusi untuk mengatasi kendala perikanan tangkap yang bersifat musiman, dan melimpahnya sumberdaya ikan air tawar di Kabupaten Bangka Tengah sebagai sentra budidaya ikan air tawar. Pemanfaatan limbah ikan berupa tulang sebagai bahan baku pembuatan kemplang tulang, merupakan implementasi konsep blue economy (zero waste), diharapkan dapat meningkatkan keuntungan pengusaha olahan ikan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat utamanya pada masa paceklik. Analisa usaha pengolahan abon dan kemplang tulang layak dikembangkan, dengan kriteria keuntungan sebesar Rp. 10.616.000,per bulan, Return of Investment (ROI) sebesar 589,8%, Revenue Cost Ratio (R/C ratio) sebesar 1,44, dan Payback Period (PP) sebesar 0,05 tahun atau kurang dari satu bulan.Desa Kurau Barat memiliki potensi pengembangan produk olahan ikan. Letaknya yang strategis di pesisir, memudahkan akses mendapatkan bahan baku. Namun, perikanan tangkap yang bersifat musiman, menjadi kendala bagi pengembangan usaha ini. Alternatif bahan baku ikan air tawar hasil budidaya masyarakat, dapat menjadi solusi bagi diversifikasi produk olahan ikan di Desa Kurau Barat. Diversifikasi merupakan solusi untuk mengatasi kendala perikanan tangkap yang bersifat musiman, dan melimpahnya sumberdaya ikan air tawar di Kabupaten Bangka Tengah sebagai sentra budidaya ikan air tawar. Pemanfaatan limbah ikan berupa tulang sebagai bahan baku pembuatan kemplang tulang, merupakan implementasi konsep blue economy (zero waste), diharapkan dapat meningkatkan keuntungan pengusaha olahan ikan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat utamanya pada masa paceklik. Analisa usaha pengolahan abon dan kemplang tulang layak dikembangkan, dengan kriteria keuntungan sebesar Rp. 10.616.000,per bulan, Return of Investment (ROI) sebesar 589,8%, Revenue Cost Ratio (R/C ratio) sebesar 1,44, dan Payback Period (PP) sebesar 0,05 tahun atau kurang dari satu bulan
RINTISAN KAMPUNG WISATA BERBASIS PEMBERDAYAAN POTENSI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KAKI BUKIT MARAS KECAMATAN RIAUSILIP KABUPATEN BANGKA: Rintisan Kampung Wisata Berbasis Pemberdayaan Potensi Kearifan Lokal Masyarakat Kaki Bukit Maras Kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka
The tourism village pilot based on empowering the local wisdom potential of the community at the foot of Bukit Maras, Riau Silip Sub-District, Bangka Regency aims to identify and explore the potential of local wisdom stored in the community. This local wisdom potential is deemed necessary to be raised so that the village can complement this area as a tourist destination. The empowerment method uses Focus Group Discussions, Participant Observation, In-depth Interviews and mentoring.The results achieved were the identification of problems faced by the community in order to prepare their village as a tourist village. The problems include, among others, the lack of public awareness in participating in making the village a tourist village, the lack of knowledge related to things that must be prepared to realize a tourist village such as information about the history of the village, the potential of small and medium enterprises, signposts (bars) to natural tourist areas, historical sites and village forests. The achievement of all of these depends on the dynamics of the role and function of community institutions in mobilizing the power of social capital.Rintisan kampung wisata berbasis pemberdayaan potensi kearifan local masyarakat kaki Bukit Maras Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggali potensi kearifan local yang tersimpan di dalam masyarakat. Potensi Kearifan local ini dirasa perlu untuk dimunculkan agar desa dapat melengkapi kawasan ini sebagai destinasi wisata. Metode pemberdayaan dengan Focus Group Discusssion, Observasi Partisipan, Wawancara Mendalam dan pendampingan.Hasil yang dicapai berupa teridentifikasinya masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat guna mempersiapkan desa mereka sebagai desa wisata. Permasalahan itu antara lain, masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam berpartisipasi menjadikan desa sebagai kampong wisata, minimnya pengetahuan yang terkait dengan hal-hal yang harus dipersiapkan guna mewujudkan kampong wisata misalnya informasi tentang sejarah desa, potensi usaha kecil dan menengah, penunjuk arah (palang) menuju kawasan wisata alam, situs sejarah dan hutan desa. Pencapaian itu semua bergantung kepada dinamika peran dan fungsi kelembagaan masyarakat dalam mengerahkan kekuatan modal sosialnya
IbM REKAYASA BUDIDAYA ABALON (Haliotis asenina) TERHADAP PERTUMBUHAN DI PESISIR PERAIRAN DESA UWEDIKAN IbM OF ABALON (Haliotis asenina) CULTURE ENGINEERING TO THE GROWTH AT THE COASTAL OF UWEDIKAN VILLAGE: Rekayasa Budidaya Abalon (Haliotis asenina) Terhadap Pertumbuhan Di Pesisir Perairan Desa Uwedikan
Berdasarkan potensi perikanan, perairan laut kabupaten banggai, telah mengalami tekanan, dimana jumlah tangkapan menurun, baik ikan demersal, pelagis maupun kerangkerangan termasuk abalone. Untuk menjaga keseimbangan potensi perikanan, maka salah satu program untuk menjaga kelestarian tersebut diperlukan pengembangan budidaya abalon (Haliotis assenina). Desa Uwedikan merupakan desa yang memiliki perairan yang eksotik dan bioekonomi, namun karena faktor sumberdaya manusia yang terbatas sehingga pengelolaan sumber daya perairan perlu perhatian dan pengembangan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Program kemitraan, melalui pengolahan dengan sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Diharapkan desa Uwedikan menjadi sentral produksi abalon sehingga program Iptek bagi Masyarakat (IbM) melalui mitra, pengolahan abalone dengan inovasi sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Pertimbangan dalam rekayasa budidaya abalone yaitu, menipisnya stok abalon untuk indukan di alam, akibat penangkaran yang tidak selektifsehingga solusinya yaitu meningkatkan pengembangan budidaya dan ketersediaan pakan. Hasil analisis proximat abalon, menunjukkan bahwa kadar air ( 13,26%), abu (3,69 %), protein (59,70 %), lemak (3,86%) serat kasar (2,84 %) dan BETN (16,65%), sumber Lab. Nutisi BDP FPIK Institut Pertanian Bogor 2016. Luaran dalam kegiatan IbM Rekayasa Budidaya terhadap pertumbuhan abalon dapat terbitkan pada Jurnal Nasional terakreditasi atau telah terdaftar ISBN.Berdasarkan potensi perikanan, perairan laut kabupaten banggai, telah mengalami tekanan, dimana jumlah tangkapan menurun, baik ikan demersal, pelagis maupun kerangkerangan termasuk abalone. Untuk menjaga keseimbangan potensi perikanan, maka salah satu program untuk menjaga kelestarian tersebut diperlukan pengembangan budidaya abalon (Haliotis assenina). Desa Uwedikan merupakan desa yang memiliki perairan yang eksotik dan bioekonomi, namun karena faktor sumberdaya manusia yang terbatas sehingga pengelolaan sumber daya perairan perlu perhatian dan pengembangan dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Program kemitraan, melalui pengolahan dengan sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Diharapkan desa Uwedikan menjadi sentral produksi abalon sehingga program Iptek bagi Masyarakat (IbM) melalui mitra, pengolahan abalone dengan inovasi sistem pengeringan, maupun pemasaran secara hidup dapat memenuhi permintaan pasar. Pertimbangan dalam rekayasa budidaya abalone yaitu, menipisnya stok abalon untuk indukan di alam, akibat penangkaran yang tidak selektifsehingga solusinya yaitu meningkatkan pengembangan budidaya dan ketersediaan pakan. Hasil analisis proximat abalon, menunjukkan bahwa kadar air ( 13,26%), abu (3,69 %), protein (59,70 %), lemak (3,86%) serat kasar (2,84 %) dan BETN (16,65%), sumber Lab. Nutisi BDP FPIK Institut Pertanian Bogor 2016. Luaran dalam kegiatan IbM Rekayasa Budidaya terhadap pertumbuhan abalon dapat terbitkan pada Jurnal Nasional terakreditasi atau telah terdaftar ISBN