SHARE Journal of Service Learning
Not a member yet
166 research outputs found
Sort by
Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Inggris dengan Metode “Operant Conditioning” pada Anak di Panti Asuhan Cinta Kasih Anugerah
Bahasa Inggris telah menjadi bahasa universal yang penting dalam komunikasi global. Namun, motivasi belajar Bahasa Inggris masih menjadi tantangan, terutama bagi anak-anak di panti asuhan yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber belajar yang memadai. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar Bahasa Inggris pada anak-anak di Panti Asuhan Cinta Kasih Anugerah melalui metode operant conditioning. Program intervensi melibatkan 15 anak dan berlangsung selama 4 minggu, terdiri dari berbagai sesi yang dirancang untuk meningkatkan motivasi belajar, seperti penerapan teknik operant conditioning, permainan edukatif, serta psikoedukasi. Pengukuran motivasi belajar dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Students’ Motivation in Learning English Questionnaire dan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam motivasi belajar Bahasa Inggris setelah intervensi, yang ditunjukkan melalui peningkatan partisipasi dan keterlibatan anak dalam sesi pembelajaran. Meskipun hasilnya positif, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memiliki beberapa keterbatasan. Ukuran sampel yang kecil (15 anak) dan durasi intervensi yang relatif singkat (4 minggu) membatasi generalisasi temuan. Selain itu, faktor eksternal seperti lingkungan sosial dan kondisi individu anak juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan motivasi, sehingga efek intervensi tidak dapat diatribusikan sepenuhnya pada metode yang digunakan. Studi lanjutan dengan cakupan peserta yang lebih luas dan durasi intervensi yang lebih panjang diperlukan untuk menguatkan temuan ini
Implementasi Pendekatan Arsitektur Permakultur Pada Perancangan Lanskap Gereja Katolik Santo Yusuf di Singkil, Gunung Kidul
Gereja Katolik Santo Yusuf di Singkil, Gunungkidul, Yogyakarta, memiliki kebutuhan dasar pengembangan ruang ibadah baru akibat pelebaran Jalur Jalan Lintas Selatan Pulau Jawa. Selain kebutuhan pengembangan ruang, gereja menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial, terutama kekeringan akibat kondisi geologi kawasan karst, kebisingan dari Jalur Jalan Lintas Selatan Pulau Jawa, serta keterbatasan ekonomi masyarakat. Pendekatan arsitektur permakultur yang berorientasi pada keberlanjutan, produktivitas, dan kemandirian komunitas diterapkan sebagai solusi permasalahan. Perwujudan pendekatan melalui integrasi sistem rainwater harvesting guna mengatasi keterbatasan sumber air, pengembangan kebun hortikultura produktif untuk meningkatkan perekonomian lokal, serta strategi pengendalian kebisingan menggunakan elemen alami seperti taman vertikal dan fitur air. Selain itu, pengelolaan lahan gereja dilakukan dengan pendekatan holistik, termasuk pembangunan greenhouse untuk hortikultura yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Implementasi konsep permakultur dalam desain arsitektur dan lanskap gereja ini tidak hanya menjadi solusi atas tantangan lingkungan, tetapi juga menciptakan hubungan harmonis antara bangunan dan ekosistem sekitarnya. Melalui penerapan prinsip permakultur, desain gereja tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual jemaat, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem yang lebih lestari dan mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, Gereja Katolik Santo Yusuf tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, ketahanan lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi. Melalui strategi yang diterapkan, proyek ini diharapkan dapat menjadi model arsitektur ekologi yang dapat diterapkan pada permalahan perancangan serupa
Pelatihan Perancangan Media Pembelajaran Berbasis TPACK Untuk Guru Pada Program PPG DALJAB Angkatan 2023
Media pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Saat ini guru dituntut untuk dapat mengintegrasikan teknologi sebagai media pembelajaran, agar kegiatan pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi, tidak semua integrasi teknologi berjalan dengan optimal. Oleh sebab itu guru harus memahami prinsip-prinsip integrasi teknologi seperti TPACK, dalam kegiatan pembelajaran, temasuk dalam media pembelajaran. Saat mengikuti program profesi guru dalam jabatan, para guru diminta untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah yang menjadi penyebab masalah belajar peserta didik. Salah satu akar masalah yang cukup sering muncul adalah keterbatasan guru dalam mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, kegiatan workshop perancangan media pembelajaran berbasi TPACK ini dilaksanakan, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan guru dalam mengintegrasikan teknologi kedalam media pembelajaran. Kegiatan ini dibagi menjadi dua tahap kegiatan, yaitu persiapan dan pelaksanaan. Pada tahap persiapan, materi dirancang secara mandiri oleh para narasumber. Sebagai bentuk evaluasi, dipersiapkan pula Angket Pengetahuan Awal dan Angket Pengetahuan Akhir yang selanjutnya di validasi oleh ahli. Tahap pelaksanaan dilakukan di tanggal 19-20 Juli 2024 dengan jumlah peserta 19 orang. Pada kegiatan workshop para narasumber menyampaikan materi, kemudian para guru melakukan praktik dengan membuat suatu media ajar berbasis teknologi. Sebelum dan sesudah kegiatan workshop terlaksana, para guru mengisi survei untuk melihat apakah ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan setelah mengikuti workshop. Ada 9 guru yang mengisi Angket Pengetahuan Awal dan Akhir secara lengkap. Hasil dari kegiatan ini adalah terdapat peningkatan dalam pengetahuan dan keterampilan para guru sebesar 9,36%. Hasil diperoleh dengan membandingkan dan mencari presentase dari rata-rata skor pada Angket Pengetahuan Awal dan Angket Pengetahuan Akhir. Rekomendasi untuk kegiatan selanjutnya adalah teknis kegiatan yang perlu lebih melibatkan para guru untuk secara aktif melakukan simulasi, pemanfaatan media pendampingan jarak jauh yang menggunakan tiap fitur dengan optimal dan melibatkan para guru, serta perencanaan kegiatan pendampingan selanjutnya yang lebih panjang durasi waktunya
Membangun Identitas Jenama Produk Wastra Alami Pokmas Wastra Sejahtera Jombang
Kelompok Masyarakat (POKMAS) Wastra Sejahtera, suatu komunitas pengrajin tenun alami di Desa Mojotrisno, Kabupaten Jombang, menghadapi kendala signifikan dalam memasarkan produknya. Pemasaran tradisional yang selama ini dilakukan belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas, mengakibatkan penumpukan produk yang berdampak pada keberlangsungan usaha para pengrajin. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, proyek abdimas dirancang dengan tujuan meningkatkan kinerja penjualan melalui pemanfaatan potensi pemasaran digital, khususnya media sosial seperti Instagram dan Tiktok. Metode pelaksanaan proyek meliputi lima tahap, yaitu persiapan dan analisa kompetitor, rekomendasi indentitas jenama, pembuatan indentitas jenama dan media sosial, pelatihan, dan evaluasi. Hasil proyek abdimas menunjukan bahwa POKMAS Wastra Sejahtera berhasil memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya membangun identitas jenama pada era digital. Para anggota komunitas menyadari bahwa indentitas jenama tidak hanya sekedar logo atau nama, tetapi merupakan representasi dari nilai-nilai, karakter, dan keunikan produk tenun. Mereka telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan strategi pemasaran digital secara mandiri, memahami cara merancang konten yang menarik, berinteraksi dengan audiens, serta mengukur kinerja kampanye pemasaran yang telah dilakukan. Proyek abdimas ini juga memberikan dampak jangka panjang bagi keberlangsungan dan perkembangan POKMAS Wastra Sejahtera. Pelaksanaan kegiatan abdimas selajutnya hendaknya berfokus pada pengembangan modul pelatihan yang lebih interaktif dan berbasis praktik. Selain itu, perlu dilakukan pendampingan secara intensif bagi peserta yang mengalami kesulitan dalam mengoperasikan alat-alat digital
Pemberdayaan Masyarakat Bisnis Digital Kampung Kue Rungkut Surabaya Untuk Digital Branding Dan E-Commerce UMKM
Kampung Kue Rungkut Surabaya dikenal sebagai sentra produksi kuliner tradisional yang memiliki potensi besar dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, keterbatasan dalam literasi digital dan strategi pemasaran modern menjadi kendala utama dalam peningkatan daya saing produk di era ekonomi digital. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dimulai dari bulan Juni hingga Oktober 2025 ini bertujuan untuk memberdayakan pelaku UMKM melalui pelatihan digital branding dan pemanfaatan platform e-commerce. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui pelatihan teknis, pendampingan langsung, dan evaluasi progres. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap konsep brand identity, pembuatan konten digital (foto, video, dan copywriting), serta kemampuan menggunakan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi dan penjualan. Lalu, pembangunan website resmi Kampung Kue Rungkut, www.kampungkue-rungkutsurabaya.com, sebagai etalase digital kolektif yang memuat profil usaha, katalog produk, kontak bisnis, dan tautan ke akun media sosial serta marketplace UMKM Kampung Kue. Kegiatan ini berkontribusi terhadap peningkatan visibilitas produk UMKM Kampung Kue di ranah digital serta memperkuat kemandirian pelaku usaha dalam mengelola pemasaran berbasis teknologi. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa keterbatasan perangkat digital menjadi hambatan dalam program ini namun antusiasme yang tinggi dari peserta, keterlibatan mahasiswa, dan materi pelatihan yang praktis menjadi faktor pendukung keberhasilan dari program ini. Program ini direkomendasikan untuk direplikasi di wilayah UMKM lain dengan adaptasi sesuai kebutuhan lokal
Kami Tidak Takut Air !
Menurut data UNDP 2017, Indonesia adalah negara dengan populasi masyarakat buta terbanyak ke dua di dunia setelah India. Dari jumlah total penduduk Indonesia, tercatat 1,5% menderita kebutaan dengan berbagai tingkat, dari yang masih dapat sedikit melihat, sampai yang buta total. Penduduk buta ini juga ingin beraktivitas seperti layaknya orang biasa. Namun, berbeda dengan keadaan di negara maju, di Indonesia, rendahnya penerimaan masyarakat dan kurangnya fasilitas yang mendukung, membuat mereka umumnya berada di lingkungan terbatas dan senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Kurangnya fasilitas, tidak seharusnya menghalangi mereka belajar life-skill agar dapat menjadi manusia mandiri. Salah satu life-skill yang perlu dikuasai adalah mengenal air agar tidak takut. Hal ini makin penting, karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi air. Sejalan dengan kebutuhan pembelajaran terkait ruang dan penumbuhan empati, melalui Mata Kuliah Community Outreach, para mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra menggelar program pendampingan siswa buta untuk mengenal dan tidak takut air. Program diawali dengan pembekalan bagi mahasiswa dan teman buta, praktek pendampingan, pendampingan di kolam renang dan pantai, serta evaluasi. Kegiatan sederhana ini, ternyata mampu menumbuhkan rasa percaya diri teman buta, empati para mahasiswa, dan empati masyarakat sekitar. Kegiatan pengenalan air ini penting untuk rutin diselenggarakan, karena teman buta menyukai dan membutuhkannya
Diversifikasi Olahan Bawang: Upaya Peningkatan Manfaat dan Nilai Ekonomi
Bawang putih dan bawang merah banyak digunakan sebagai penyedap alami karena mempunyai rasa yang kuat pada bumbu alami berbagai jenis masakan. Menambahkan bawang putih atau bawang merah pada berbagai jenis masakan apapun akan menghasilkan aroma dan rasanya menjadi lebih gurih, nikmat dan lezat, baik pada berbagai menu rebusan maupun tumisan. Kian hari harga bawang terus bergerak meningkat, keadaan ini seringkali terjadi akibat pasokan yang semakin berkurang di pasaran. Curah hujan yang tidak stabil di beberapa wilayah, kenaikan bahan bakar transportasi, serta musim panen yang mulai berakhir di beberapa sentra penghasil bawang merupakan faktor dominan naik turunnya harga bawang putih dan bawang merah ini. Keadaan ini seringkali membuat kuwatir para pelaku UMKM kuliner, ibu rumah tangga bahkan industri makanan rumahan, termasuk kelompok usaha yang bergerak di sektor makanan, tidak terkecuali UMKM kuliner yang ada di wilayah Keputih Surabaya; mengingat fungsi penting bawang pada bumbu makanan-makanan yang diolah. Keadaan tersebut terkadang menjadi pilihan yang sangat sulit, di satu sisi kalau harga jual dinaikkan konsumen cenderung lari namun apabila tidak dinaikkan harga jualnya maka untuk modal berikutnya UMKM ini akan mengalami kesulitan. Oleh karena itu biasanya diambil jalan tengah, harga tetap namun ukuran penjualan ke konsumen agak dikurangi. Pelaksanaan Kegiataan Pengabdian Kepada Masyarakat berbasis Produk ini didasarkan sebagai fasilitas memberikan solusi permasalahan-permasalahan tersebut, sehingga upaya kelangsungan kegiatan jual beli yang selama ini telah dilakukan tidak terhenti dan upaya untuk terus meningkatkan pendapatan masyarakat dapat terlaksana. Pada kegiaatan ini melibatkan UMKM kuliner, pemasok bawang, ibu-ibu PKK, karang taruna dan remaja di wilayah Keputih Surabaya; yang tertarik untuk mengembangkan modifikasi dan diversifikasi olahan bawang. Teknologi pengelolaan dalam modifikasi dan diversifikasi olahan bawang yang dimaksud adalah transfer ilmu dan metoda serta pendampingan yang terus-menerus dilakukan oleh pengabdi mulai dari awal stok bawang segar diterima, cara penyimpanan, pengelolaan suhu dan kelembaban, proses produksi serta variasi modifikasi produk olahan bawang; tidak hanya bawang goreng namun bisa juga diolah menjadi bawang serbuk, pasta bawang, minyak bawang ataupun bawang aneka rasa. Produk ini juga akan dianalisa komposisi hasil produksi yang didapatkan serta terus menerus dimonitor supaya sesuai dengan SNI sehingga memenuhi kecukupan gizinya
Produksi Souvenir untuk Mendukung Eksistensi Desa Wisata Tri Rukun di Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo, Gorontalo
Souvenir merupakan salah satu elemen penting dalam mendukung eksistensi desa wisata guna meningkatkan daya tarik dan belanjaan wisatawan. Namun sebagian besar pengelola desa wisata belum mampu memproduksi souvenir yang unik dan bervariasi sesuai kebutuhan wisatawan, karena lemahnya keterampilan produksi yang dikuasai. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melatih pengelola desa wisata sebagai mitra dalam meningkatkan keterampilan memproduksi beragam jenis souvenir yang unik sebagai komoditas desa wisata. Kegiatan pengabdian menerapkan metode partisipatif dalam bentuk pelatihan praktis (workshop) melalui tahap: sosialisasi dan pembekalan pengetahuan, penyediaan alat dan bahan, pelatihan proses produksi souvenir, penerapan finishing, dan pembuatan kemasan. Adapun hasil yang dicapai adalah: 1) meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mitra dalam memproduksi beragam jenis souvenir yang unik; 2) tersedianya alat dan bahan yang memadai untuk memproduksi beragam bentuk souvenir; 3) mitra berhasil memproduksi 10 model souvenir dengan menerapkan beragam corak finishing dan disajikan dalam kemasan yang bervariasi. Berdasarkan hasil evaluasi, model-model souvenir tersebut telah sesuai dengan contoh yang ditawarkan dengan tingkat kemiripan 80% dan memiliki prospek pasar yang menjanjikan. Souvenir-souvenir tersebut dianggap layak untuk diproduksi secara massal atau dalam jumlah tertentu guna memenuhi kebutuhan pasar (wisatawan). Dengan demikian, diyakini mitra mampu mengembangkan usaha di bidang souvenir dengan memproduksi beragam jenis produk souvenir secara rutin, yang berkontribusi dalam mendukung eksistensi desa wisata yang dikelolanya secara berkelanjutan
Pendampingan Pembentukan Paguyuban Pedagang Pasar Plono di Kalurahan Pagerharjo Kapanewon Samigaluh Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, pasar bukan hanya tempat bertemunya antara penjual dan pembeli tetapi juga sebagai wadah untuk berinteraksi, tempat untuk saling menukar informasi dan mempunyai peran dalam menggerakkan roda perekonomian. Walaupun memiliki potensi ekonomi yang tinggi bagi pengembangan desa, namun masih terdapat kendala dalam aktivitas perdagangannya. Sebagai unit usaha bumdes setempat, pedagang Pasar Plono belum merasakan kesejahteraannya, karena adanya beberapa permasalahan yang dihadapi yaitu aktivitas rentenir yang mengganggu perekonomian pedagang, pelembagaan pedagang sebagai penyalur aspirasi belum terbentuk, konsumen menurun, daya saing dengan pelaku sejenis rendah, budaya kebersihan lingkungan usaha dan tertib parkir lemah. Mengacu permasalahan tersebut, maka pengabdi berusaha untuk turut memecahkan permasalahan dengan memberikan sumbangan bagi solusi berupa pembentukan paguyuban pedagang Pasar Plono. Untuk mewujudkan organisasi pedagang berupa paguyuban terkendala keterbatasan sumber daya pedagang tentang pemahaman sebuah organisasi. maka ditempuh dengan kerjasama antara tim pengabdi bersama pedagang dan BUM Desa Binangun Pagerharjo melakukan sosialisasi, pemetaan masalah dan kebutuhan pedagang dalam berorganisasi, pendampingan studi banding dan fasilitasi pembentukan kepengurusan paguyuban pedagang pasar. Hasil pengabdian, pedagang memiliki kesadaran akan potensi dan permasalahan yang harus dihadapi dalam menjalankan aktivitas ekonomi di Pasar Plono. Pilihan organisasi berupa paguyuban pedagang pasar menjadi solusi mengatasi permasalahan pedagang semakin mantap setelah melakukan studi banding di Paguyuban Pedagang Pasar Kasihan Ngentakrejo. Terbentuknya paguyuban pedagang bermanfaat untuk kelanjutan dan pengembangan usaha, meningkatkan daya saing serta kepercayaan masyarakat, sehingga mampu menjadi pengungkit ekonomi masyarakat desa dan kesejahteraan pedagang