Damianus Journal of Medicine
Not a member yet
    169 research outputs found

    A Paralisis Periodik Hipokalemia Dengan Renal Tubular Asidosis Tipe Distal: Laporan Kasus

    No full text
    Pendahuluan: Paralisis periodik hipokalemia merupakan episode kelemahan otot berat yang jarang terjadi dengan prevalensi 1:100.000. Renal tubular asidosis terjadi saat ginjal tidak mampu menjaga homeostasis normal asam-basa karena defek tubular dalam ekskresi asam atau reabsorbsi ion bikarbonat. Kasus: Seorang laki-laki berusia 18 tahun mengeluhkan kelemahan anggota gerak dan leher sejak bangun tidur di pagi hari. Keluhan diawali muntah lebih dari 5 kali sejak 1 hari yang lalu. Keluhan disertai batuk dan sesak sesekali sejak 1 minggu terakhir. Pemeriksaan kekuatan motorik ekstremitas atas 4444/4444 dan ekstremitas bawah 4444/3333. Pemeriksaan elektrolit menunjukkan kalium serum 1,7 mmol/L dan klorida 110 mmol/L. Analisis gas darah menunjukkan pH 7,3, pCO2 24,4 mmHg, dan HCO3- 13 mmol/L. Analisis urin menunjukkan pH urin 8,0, kalium urin 231 mmol/24 jam, klorida urin 260 mmol/24 jam, dan kreatinin urin sebesar 15,4 mmol/24 jam. Rasio kalium banding kreatinin urin adalah 15. Pasien didiagnosis sebagai paralisis periodik hipokalemia dengan renal tubular asidosis tipe distal. Pasien mendapatkan terapi KCl intravena dan KCl per oral selama 2 hari dan didapatkan perbaikan. Simpulan: Paralisis periodik hipokalemia merupakan penyakit kelemahan tubuh yang dapat disebabkan renal tubular asidosis. Diagnosis renal tubular asidosis tipe distal ditegakkan berdasarkan adanya asidosis metabolik hiperkloremia, hipokalemia berat, anion gap urin positif, dan fungsi ginjal normal. Koreksi kalium diberikan untuk memperbaiki keadaan pasien. Prognosis umumnya baik setelah koreksi kalium.Pendahuluan: Paralisis periodik hipokalemia merupakan episode kelemahan otot berat yang jarang terjadi dengan prevalensi 1:100.000. Renal tubular asidosis terjadi saat ginjal tidak mampu menjaga homeostasis normal asam-basa karena defek tubular dalam ekskresi asam atau reabsorbsi ion bikarbonat. Kasus: Seorang laki-laki berusia 18 tahun mengeluhkan kelemahan anggota gerak dan leher sejak bangun tidur di pagi hari. Keluhan diawali muntah lebih dari 5 kali sejak 1 hari yang lalu. Keluhan disertai batuk dan sesak sesekali sejak 1 minggu terakhir. Pemeriksaan kekuatan motorik ekstremitas atas 4444/4444 dan ekstremitas bawah 4444/3333. Pemeriksaan elektrolit menunjukkan kalium serum 1,7 mmol/L dan klorida 110 mmol/L. Analisa gas darah menunjukkan pH 7,3, PCO2 24,4 mmHg, dan HCO3 13 mmol/L. Analisis urin menunjukkan pH urin 8,0, kalium urin 231 mmol/24 jam, klorida urin 260 mmol/24 jam, dan kreatinin urin sebesar 15,4 mmol/24 jam. Rasio kalium banding kreatinin urin adalah 15. Pasien didiagnosis sebagai paralisis periodik hipokalemia dengan renal tubular asidosis tipe distal. Pasien mendapatkan terapi KCl intravena dan KCl per oral selama 2 hari dan didapatkan perbaikan. Simpulan: Paralisis periodik hipokalemia merupakan penyakit kelemahan tubuh yang dapat disebabkan renal tubular asidosis. Diagnosis renal tubular asidosis tipe distal ditegakkan berdasarkan adanya asidosis metabolik hiperkloremia, hipokalemia berat, anion gap urin positif, dan fungsi ginjal normal. Koreksi kalium diberikan untuk memperbaiki keadaan pasien. Prognosis umumnya baik setelah koreksi kalium

    The Kemampuan Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) Dalam Menghambat Pembentukan Biofilm Streptococcus mutans

    No full text
    Pendahuluan: Streptococcus mutans merupakan bakteri predominan pada karies gigi. Bakteri ini mampu membentuk biofilm. Adanya resistensi antibiotik dan biofilm yang menghambat penetrasinya menyebabkan perlunya dilakukan penelitian untuk mengendalikan terbentuknya biofilm. Binahong (Anredera cordifolia) memiliki aktivitas antibakteri dan mudah ditemukan di lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efek antibiofilm ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap S. mutans sebagai penyebab utama karies gigi. Metode: Ekstrak dipersiapkan menggunakan metode macerasi. Uji antibakteri S. mutans ATCC 25175 menggunakan metode broth microdilution. Pengujian antibiofilm menggunakan metode yang serupa. Biofilm yang terbentuk diwarnai dengan 0,1% crystal violet dan dibaca pada 595 nm menggunakan microplate reader. Hasil: Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa nilai hambat minimum (MIC) ada pada konsentrasi 3750 µg/ml, sedangkan konsentrasi ekstrak sebagai antibiofilm didapatkan mulai dari konsentrasi 187,5 µg/ml sampai dengan 3000 µg/ml. Analisis statistik menggunakan One-way ANOVA menunjukkan perbedaan yang bermakna dari masing-masing kelompok perlakuan (p=0,000). Simpulan: Ekstrak etanol daun binahong dapat menghambat pertumbuhan S. mutans dengan konsentrasi hambat minimum 3750 µg/ml serta menghambat pembentukan biofilm S. mutans pada konsentrasi efektif 750 µg/ml.Pendahuluan: Streptococcus mutans merupakan bakteri predominan pada karies gigi. Bakteri ini mampu membentuk biofilm. Adanya resistensi antibiotik dan biofilm yang menghambat penetrasinya menyebabkan perlunya dilakukan penelitian untuk mengendalikan terbentuknya biofilm. Binahong (Anredera cordifolia) memiliki aktivitas antibakteri dan mudah ditemukan di lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efek anti biofilm ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) terhadap S. mutans sebagai penyebab utama karies gigi. Metode: Ekstrak dipersiapkan menggunakan metode macerasi. Uji antibakteri S. mutans ATCC 25175menggunakan metode broth microdilution. Pengujian anti biofilm menggunakan metode yang serupa. Biofilm yang terbentuk diwarnai dengan 0.1% crystal violet dan dibaca pada 595 nm menggunakan microplate reader. Hasil: Hasil uji anti bakteri menunjukkan bahwa nilai hambat minimum (MIC) ada pada konsentrasi 3750 µg/ml, sedangkan konsentrasi ekstrak sebagai anti biofilm didapatkan mulai dari konsentrasi 187,5 µg/ml sampai dengan 3000 µg/ml. Analisis statistik menggunakan One-way Anova menunjukkan perbedaan yang bermakna dari masing-masing kelompok perlakuan (p̳̳̳̳ = 0,000). Simpulan: Ekstrak etanol daun binahong dapat menghambat pertumbuhan S. mutans dengan konsentrasi hambat minimum 3750 µg/ml serta menghambat pembentukan biofilm S. mutans pada konsentrasi efektif 750 µg/ml

    The Association of Lipid Profile Especially Total Cholestrol With Hypertension of Urban Elderly in PUSAKA, Kalideres, West Jakarta

    No full text
    Pendahuluan: Peningkatan harapan hidup manusia berkontribusi pada peningkatan jumlah lansia, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kejadian penyakit tidak menular termasuk penyakit kardivoaskular seperti hipertensi. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross-sectional yang melibatkan 97 lansia PUSAKA di Kalideres, Jakarta Barat. Variabel yang diukur adalah aktivitas fisik, status gizi, dan profil lipid. Responden dinyatakan mengalami hipertensi apabila memiliki tekanan darah ≥140/90 mmHg ketika dilakukan pengukuran, atau pada responden yang memang sudah terdiagnosis mengalami hipertensi sebelumnya. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden adalah perempuan (72,2%). Sebanyak 33% responden mengalami hipertensi. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,045; OR=2,571), LDL (p=0,045; OR=2,571), dan kolesterol total (p= 0,018; OR=3,279) terhadap hipertensi pada lansia. Sedangkan jenis kelamin, pendidikan, status gizi, aktivitas fisik, HDL, dan trigliserida tidak memiliki hubungan terhadap hipertensi pada lansia Simpulan: Usia, LDL, dan kolesterol total ditemukan sebagai faktor risiko kejadian hipertensi pada lansia.Pendahuluan: Peningkatan harapan hidup manusia dapat meningkatkan jumlah penduduk lansia, yang kemudian dapat meningkatkan penyakit-penyakit degeneratif termasuk penyakit kardivoaskular seperti hipertensi. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara mengetahui faktor-faktor risiko yang dapat diubah. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian cross-sectional yang melibatkan 97 lansia PUSAKA di Kalideres, Jakarta Barat. Variabel yang diukur adalah aktivitas visi, status gizi, dan profil lipid. Responden dinyatakan mengalami hipertensi apabila memiliki tekanan darah ≥ 140/90 ketika dilakukan pengukuran, atau pada responden yang memang sudah terdiagnosa mengalami hipertensi sebelumnya. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar responden adalah perempuan (72,2%). Serta terdapat 33% responden mengalami hipertensi. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa didapatkan hubungan yang bermakna antara usia (p = 0.045; OR = 2.571), LDL (p = 0.045; OR = 2.571), dan kolestrol total (p= 0.018; OR = 3.279) terhadap hipertensi pada lansia. Sedangkan jenis kelamin, pendidikan, status gizi, aktivitas fisik, HDL, dan trigliserida tidak terdapat hubungan terhadap hipertensi pada lansia Simpulan: Usia, LDL, dan Kolestrol total ditemukan sebagai faktor risiko kejadian hipertensi pada lansia. Kata Kunci: aktivitas fisik, hipertensi, lansia, profil lipid, status giz

    Skrining Fitokimia, Kapasitas Antioksidan, dan Efek Sitotoksik Ekstrak Metanol Daun Kari (Murraya koenigii L.)

    No full text
    Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa Reactive Oxygen Species (ROS) dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu, hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode 3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid (ABTS). Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat sitotoksik terhadap sel yang sedang membelah sehingga memiliki potensi sebagai antikanker.Pendahuluan: Kanker merupakan kelainan genetik dan metabolik yang menjadi tantangan yang besar pada abad ke-21 ini. Dewasa ini terbukti bahwa ROS dapat memicu karsinogenesis melalui beberapa jalur ongkogenik atau mutasi ongkogenik pada DNA. Oleh sebab itu diperlukan antioksidan yang dapat meregulasi jumlah ROS dalam sel kanker. Selain itu hampir semua aktivitas fitokimia bekerja dalam beberapa jalur pensinyalan sel dan dapat memicu berhentinya siklus sel dan/atau induksi deferensiasi dan apotosis sehingga berpotensi menghambat progresi keganasan. Salah satu fitokimia yang dapat memicu apoptosis adalah alkaloid karbazol yang terdapat pada daun kari (Murraya koenigii L.). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fitokimia, kapasitas antioksidan, dan sitotoksisitas ekstrak metanol daun kari. Metode: Penelitian ini menggunakan ekstrak metanol daun kari yang diperoleh dengan metode perkolasi. Ekstrak kemudian dilakukan pengujian secara invitro untuk mengetahui kandungan fitokimia dan kapasitas antioksidan dengan metode ABTS. Selain itu, dilakukan juga pengujian dengan bioassay pada uji sitotoksisitas metode BSLT. Hasil: Ekstrak metanol daun kari mengandung alkaloid, antosianin, koumarin, flavonoid, kuinon, saponin, steroid, tanin, dan terpenoid, dengan kapasitas antioksidan yang dinyatakan dalam IC50 sebesar 30,70 μg/mL, sedikit lebih lemah dibandingkan Trolox sebesar 16,46 µg/mL. Sedangkan uji sitotoksisitas pada ekstrak metanol daun kari didapatkan LC50 sebesar 235,34 µg/mL. Simpulan: Ekstrak metanol daun kari memiliki beragam fitokimia dengan aktivitas antioksidan yang sangat kuat (> 150 µg/mL) dan tergolong toksik (31 – 1000 µg/mL) sehingga bersifat antimitosis

    Aktivitas Fisik Sebagai Penentu Frailty: Melampaui Indeks Massa Tubuh, Lingkar Pinggang, dan Body Fat Percentage.

    No full text
    Pendahuluan: Proses penuaan meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah frailty. Sebuah penelitian studi potong lintang oleh Setiati, et al. di Indonesia pada tahun 2020, didapatkan prevalensi sebesar 66,20% pre-frail dan 18,70% frail. Tujuan: Mendapatkan gambaran mengenai frailty pada lansia dan faktor risikonya di Pusaka Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan terdiri dari 100 subjek dengan usia ≥60 tahun yang telah memenuhi kriteria penelitian. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan instrumen yang sudah divalidasi. Hasil: Dari 100 responden, sebagian besar berusia 60-74 tahun (75%), perempuan (71%), pendidikan ≥12 tahun (90%). Terdapat 18% lansia yang mengalami frailty. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang memiliki hubungan bermakna adalah usia (p<0,001; RO=7,633; 95%CI=2,519–23,127) dan aktivitas fisik (p=0,011; RO=3,857; 95%CI=1,308–11,370). Simpulan: Frailty memiliki hubungan bermakna dengan usia dan aktivitas fisik. Usia menjadi faktor yang paling memengaruhi dan meningkatkan risiko frailty pada lansia.  Pendahuluan : Proses penuaan meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami masalah kesehatan, salah satunya adalah frailty. Sebuah penelitian studi potong lintang oleh Setiati, et al. di Indonesia pada tahun 2020, didapatkan prevalensi sebesar 66,20% pre-frail dan 18,70% frail. Tujuan : Mendapatkan gambaran mengenai frailty pada lansia dan faktor risikonya di Pusaka Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Metode : Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dan terdiri dari 100 subjek dengan usia ≥60 tahun yang telah memenuhi kriteria penelitian. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara menggunakan instrumen yang sudah divalidasi. Hasil : Dari 100 responden, sebagian besar berusia 60-74 tahun (75%), perempuan (71%), pendidikan ≥12 tahun (90%). Terdapat 18% lansia yang mengalami frailty. Analisis bivariat menunjukkan faktor yang memiliki hubungan bermakna adalah usia (p : <0,001; RO : 7,633; 95%CI : 2,519 – 23,127) dan aktivitas fisik (p : 0,011; RO : 3,857; 95%CI : 1,308 – 11,370). Kesimpulan : Frailty memiliki hubungan bermakna dengan usia dan aktivitas fisik. Dengan usia menjadi faktor yang        paling         memengaruhi         dan         meningkatkan         risiko         frailty         pada         lansia. Kata Kunci : Frailty, lansia, usia, indeks massa tubuh, lingkar pinggang, body fat percentage, aktivitas fisi

    Hubungan Dismenore Primer dengan Kualitas Tidur Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

    No full text
    Pendahuluan: Wanita mengalami menstruasi saat fase remaja dimulai. Proses menstruasi ini menimbulkan pengalaman yang kurang nyaman bagi wanita, salah satu yang tersering adalah dismenore. Prevalensi dismenore bervariasi namun mayoritas wanita yang mengalami dismenore terpengaruh kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup wanita, termasuk prestasi akademis pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ). Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 212 responden yang merupakan mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019 – 2021. Pengambilan data dilakukan menggunakan Kuesioner Kualitas Tidur (KKT) yang telah dimodifikasi dan kuesioner WaLLID score yang disebarkan secara online melalui google form. Analisis data penelitian menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasil: Sebanyak 91% mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019–2021 mengalami dismenore primer, dengan prevalensi dismenore ringan sebanyak 36,3%, dismenore sedang 44,8%, dan dismenore berat 9,9%. Angka kejadian kualitas tidur baik pada reponden sebanyak 75%, sedangkan 25% lainnya mengalami kualitas tidur yang buruk. Hasil uji SPSS menunjukkan terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur responden dengan nilai p <0,05. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi FKIK UAJ angkatan 2019–2021.Pendahuluan: Wanita mengalami menstruasi saat fase remaja dimulai. Proses menstruasi ini menimbulkan pengalaman yang kurang nyaman bagi wanita, salah satu yang tersering adalah dismenore. Prevalensi dismenore bervariasi namun mayoritas wanita yang mengalami dismenore terdampak kualitas tidurnya. Kualitas tidur yang buruk berdampak negatif terhadap kualitas hidup wanita, termasuk prestasi akademis pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan terhadap 212 responden yang merupakan mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 2021. Pengambilan data dilakukan menggunakan Kuesioner Kualitas Tidur (KKT) yang telah dimodifikasi dan kuesioner WaLLID score yang disebarkan secara online melalui google form. Analisis data penelitian menggunakan uji bivariat Chi-Square. Hasil Penelitian: Sebanyak 91% mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 2021 mengalami dismenore primer, dengan prevalensi dismenore ringan sebanyak 36,3%, dismenore sedang 44,8% dan dismenore berat 9,9%. Angka kejadian kualitas tidur baik pada reponden sebanyak 75%, sedangkan 25% lainnya mengalami kualitas tidur yang buruk. Hasil uji SPSS menunjukkan terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur responden dengan p value < 0,001. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara derajat keparahan dismenore primer dengan kualitas tidur mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya angkatan 2019 – 202

    Perbandingan Aktivitas Antibakterial Ekstrak Panas dan Ekstrak Dingin Biji Alpukat terhadap Bakteri S. aureus dan MRSA

    No full text
    Pendahuluan: Penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian tinggi. Biji alpukat (Persea americana Mill.) mengandung senyawa dengan potensi antibakterial, seperti flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakterial ekstrak biji alpukat yang diperoleh melalui teknik ekstraksi dingin (remaserasi) dan panas (refluks) terhadap Staphylococcus aureus dan MRSA. Metode: Penelitian adalah penelitian eksperimental in vitro. Ekstraksi simplisia biji alpukat dilakukan dengan metode remaserasi (dingin) dan refluks (panas). Dilanjutkan dengan uji fitokimia kualitatif metode penampisan terhadap flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Uji kuantitatif dengan metode UV-Vis terhadap senyawa Flavonoid. Uji aktivitas antibakterial dilakukan dengan uji difusi sumuran. Analisis statistik menggunakan uji non parametrik. Hasil: Ekstrak biji Alpukan memiliki metabolit sekunder flavonioid, alkaloid, saponin, dan Tanin. Ekstrak digin memiliki jumlah flavonoid dengan rata-rata 3,932 mgQE/g. Ekstrak panas memiliki jumlah flavonoid dengan rata-rata 2,288 mgQE/g. Ekstrak dingin dan ekstrak panas biji alpukat memiliki aktivitas antibakterial jika dibandingkan dengan kontrol negatif pada konsentrasi 25% (p<0,05). Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran menunjukkan bahwa ekstrak dingin dan panas memiliki efektivitas yang tidak berbeda signifikan terhadap kedua jenis bakteri pada berbagai konsentrasi (p>0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa kedua metode ekstraksi dapat menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antibakteri yang setara. Simpulan: Ekstrak biji alpukat, baik melalui metode ekstraksi dingin (remaserasi) maupun panas (refluks), memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan MRSA. Tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode ekstraksi dalam menghambat pertumbuhan kedua bakteri​.Pendahuluan: Penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen, termasuk Staphylococcus aureus dan Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), menjadi masalah kesehatan global dengan angka kematian tinggi. Biji alpukat (Persea americana Mill.) mengandung senyawa dengan potensi antibakterial, seperti flavonoid dan tanin. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antibakterial ekstrak biji alpukat yang diperoleh melalui teknik ekstraksi dingin (remaserasi) dan panas (refluks) terhadap S.aureus dan MRSA. Metode: Penelitian adalah penelitian eksperimental in vitro. Ekstraksi simplisia biji alpukat dilakukan dengan metode remaserasi (dingin) dan refluks (panas). Dilanjutkan dengan uji fitokimia kualitatif dan kuantitatif. Uji aktivitas antibakterial dilakukan dengan uji difusi sumuran. Analisis statistik menggunakan uji non parametrik. Hasil: Ekstrak dingin dan ekstrak panas biji alpukat memiliki aktivitas antibakterial. Kedua metode ekstraksi menghasilkan kandungan senyawa aktif serupa dengan kadar flavonoid lebih tinggi pada ekstrak dingin. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi sumuran menunjukkan bahwa ekstrak dingin dan panas memiliki efektivitas yang tidak berbeda signifikan terhadap kedua jenis bakteri pada berbagai konsentrasi (p>0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa kedua metode ekstraksi dapat menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antibakteri yang setara

    Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kemampuan Interpretasi Radiografi Toraks Dokter Muda Kepaniteraan Klinik Unika Atma Jaya

    No full text
    Latar Belakang: Pemeriksaan radiografi toraks merupakan tes pencitraan yang paling banyak digunakan. Radiografi toraks berguna untuk skrining, diagnosis dan pengelolaan berbagai kondisi dan penyakit. Keterampilan membaca dan membuat interpretasi radiografi toraks dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.  Penelitian ini menilai kemampuan interpretasi radiografi toraks oleh dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya, dan hubungan indeks prestasi kumulatif, pengalaman stase dan bimbingan dengan kemampuan tersebut. Metode: Studi observasional analitik dengan rancangan penelitian potong-lintang dilakukan pada 54 dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya yang sudah menyelesaikan stase Radiologi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner demografi dan tes pembacaan yang terdiri dari 11 kasus radiografi toraks. Analisis data menggunakan aplikasi pengolahan data, dan data diolah secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Correlation dan uji Fisher Exact. Hasil: Kemampuan interpretasi yang baik dimiliki oleh 88,8% responden. Terdapat hubungan bermakna antara indeks prestasi kumulatif dan kemampuan interpretasi radiografi toraks (p=0,0198). Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengalaman stase dan bimbingan. Simpulan: Mayoritas kemampuan interpretasi radiografi toraks dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya adalah baik (88,8%) yang memiliki hubungan positif kuat dengan nilai IPK.  Latar Belakang: Pemeriksaan radiografi toraks merupakan tes pencitraan yang paling banyak digunakan. Radiografi toraks berguna untuk skrining, diagnosis dan pengelolaan berbagai kondisi dan penyakit. Keterampilan membaca dan membuat interpretasi radiografi toraks dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal.  Penelitian ini menilai kemampuan interpretasi radiografi toraks oleh dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya, dan hubungan indeks prestasi kumulatif, pengalaman stase dan bimbingan dengan kemampuan tersebut. Metode: Studi observasional analitik dengan rancangan penelitian potong-lintang dilakukan pada 54 dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya yang sudah menyelesaikan stase Radiologi. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner demografi dan tes pembacaan yang terdiri dari 11 kasus radiografi toraks. Analisis data menggunakan aplikasi pengolahan data, dan data diolah secara univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson Correlation dan uji Fisher Exact. Hasil: Nilai rata-rata interpretasi radiografi toraks dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya adalah 7.80, dan nilai median adalah 8.00. Kemampuan interpretasi yang baik dimiliki oleh 85.2% responden. Terdapat hubungan bermakna antara indeks prestasi kumulatif dan kemampuan interpretasi radiografi toraks (p = 0.029). Tidak terdapat hubungan bermakna antara pengalaman stase (p = 1.000) dan bimbingan (p = 0.607). Kesimpulan: Kemampuan interpretasi dokter muda kepaniteraan klinik Unika Atma Jaya umumnya bersifat baik. Terdapat hubungan antara indeks prestasi kumulatif dan kemampuan interpretasi radiografi toraks. Kata Kunci: Bimbingan, Dokter Muda, Indeks Prestasi Kumulatif, Kemampuan Interpretasi Radiografi Toraks, Pengalaman Stas

    DERAJAT FUNGSI MOTORIK KASAR DENGAN EPILEPSI PADA ANAK DENGAN PALSI SEREBRAL

    Full text link
    Introduction: Epilepsy is a common comorbidity of cerebral palsy (CP). Variations in gross motor function affect functional outcomes in CP children significantly. This study aims to analyze the association between gross motor function and epilepsy in children with CP. Methods: A cross-sectional study was performed at the Pediatric Inpatient Ward, Outpatient Clinic, and Medical Rehabilitation Installation at Ulin General Hospital in Banjarmasin from July to September 2024. The subjects of the study were children between the ages of 2 and 18 who had been diagnosed with CP. We evaluated gross motor function utilizing the Gross Motor Function Classification System (GMFCS), categorizing the results into two groups: mild-moderate (GMFCS I-III) and severe (GMFCS IV-V) motor dysfunction. Chi-Square test was used for statistical analysis. Results: The study involved a total of 42 subjects diagnosed with CP. Twenty-eight subjects (66.7%) had epilepsy as a comorbidity. Twenty-three subjects experienced generalized seizures (82.1%), and 18 subjects were quadriplegic (64.3%). There were 17 subjects (40.5%) with mild-moderate motor dysfunction and 25 subjects (59.5%) with severe motor dysfunction. Twenty subjects with epilepsy showed severe motor dysfunction (71.4%). A significant association was identified between severe gross motor function and epilepsy in children with CP (p=0.026). Conclusion: Epilepsy was found to be significantly associated with cerebral palsy in children with severe gross motor dysfunction.Pendahuluan: Epilepsi merupakan komorbiditas yang sering ditemui pada palsi serebral. Anak dengan palsi serebral memiliki variasi derajat fungsi motorik yang berdampak signifkan terhadap luaran fungsionalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat fungsi motorik kasar dengan epilepsi pada anak dengan palsi serebral. Metode: Penelitian dengan metode potong lintang dilakukan di ruang rawat inap anak, poliklinik, dan unit rehabilitasi medik RSUD Ulin Banjarmasin sejak bulan Juli hingga September 2024. Sampel merupakan anak berusia 2-18 tahun yang didiagnosis palsi serebral. Fungsi motorik kasar dinilai menggunakan Gross Motor Function Classification System (GMFCS) dan dibagi menjadi dua kategori yaitu disfungsi motorik ringan-sedang (GMFCS I-III) dan berat (GMFCS IV-V). Hasil: Sebanyak 42 sampel memenuhi kriteria inklusi. Dua puluh delapan (66,7%) sampel menderita palsi serebral disertai dengan epilepsi. Mayoritas mengalami kejang umum (82,1%) dan kuadiplegia (64,3%). Disfungsi motorik ringan-sedang ditemukan pada 40,5% sampel sedangkan disfungsi motorik berat ditemukan pada 59,5% sampel. Sebagian besar anak dengan palsi serebral yang disertai epilepsi memiliki disfungsi motorik berat (71,4%). Terdapat hubungan yang signifikan antara derajat fungsi motorik kasar dengan epilepsi pada anak dengan palsi serebral (p=0.026). Simpulan: Disfungsi motorik kasar yang berat ditemukan secara signifikan pada anak dengan palsi serebral yang disertai epilepsi. Kata Kunci: epilepsi, GMFCS, komorbiditas, palsi serebra

    Structure, morphology, and role of primo vascular system

    Full text link
    Introduction: Kim Bong Han in 1960 introduced the primo vascular system (PVS), a novel circulatory system independent of the circulatory and lymphatic systems. This system is believed to have a relationship with classical acupuncture points and meridians which underlie the mechanism of acupuncture in healing diseases. This study aims to better understand the structure, morphology and role of the primo vascular system.    Methods: This study obtained 30,336 articles from international journals, including Google Scholar, Proquest, Scopus, and Pubmed, focusing on the Primo Vascular System. 12 journals were analyzed, including original English articles published between 2019-2022, open access, and free full text. Results: This study discovered that primo vascular system has a distinct structure and shape in the form of milky-white, semi-transparent spots with primo vessels and primo nodes inside of which primo fluid circulates and contains a variety of cells, including primo microcells that contain DNA. Primo Vascular System can play a role in tissue regeneration, innate immunity in inflammatory processes, and extramedullary hematopoiesis. Conclusion: The primo vascular system, consisting of milky-white, semi-transparent spots with primo vessels and nodes, plays a crucial role in tissue regeneration, innate immunity, and extramedullary hematopoiesis

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Damianus Journal of Medicine
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇