RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
    304 research outputs found

    Distribusi Polen pada Sedimen Permukaan Bawah Laut di Perairan Sumba, Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    Sumba merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang terletak di bumi bagian selatan dan berbatasan dengan Samudra Indonesia. Distribusi polen pada sedimen permukaan di Perairan Sumba dilakukan untuk membantu interpretasi efek sedimentasi yang terjadi di daerah fluvial dan laut serta perubahan tumbuhan terestrial. Penelitian ini merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2016 yang dilaksanakan pada tanggal 4 – 26 Agustus 2016 menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VIII. Tiga belas sampel sedimen permukaan dianalisis menggunakan metode asetolisis dan swirling. Spektrum polen menunjukkan hubungan antara distribusi polen yang mengendap di sedimen laut dan transportasinya dari daratan. Sebaran polen yang banyak terakumulasi di bagian barat Pulau Sumba menunjukkan adanya pengaruh fluvial dan jarak dari pantai dan kedalaman air. Hasil uji korelasi antara distribusi polen dengan kedalaman dan besar butir (rata-rata dan persentase mud) menunjukkan hubungan yang cukup kuat (r=0,465; r=0,374 dan r=0,443). Meskipun dengan rata-rata tingkat keanekaragaman tumbuhan termasuk dalam kategori rendah (indeks 1,07), distribusi polen dalam sedimen permukaan laut merefleksikan vegetasi lokal di daratan Pulau Sumba. Polen yang paling mendominasi berasal dari Famili Poaceae. Studi ini menjelaskan bahwa rekaman polen dari inti sedimen laut Perairan Sumba mempunyai potensi menjadi alat rekonstruksi perubahan vegetasi di daratan sekitarnya dalam studi variabilitas iklim masa lalu dan masa yang akan datang. Sumba, one of the outer Indonesian island,  is located in the southern hemisphere and bordered by the Indonesian Ocean. The distribution of pollen in marine sediments offshore the Sumba Waters has been investigated to help interpret the sedimentation effect on fluvial inputs, marine and terrestrial vegetation changes. The research is a part of Expedition of Widya Nusantara 2016 which was conducted on 4 - 26 August 2016 using Baruna Jaya VIII research vessel. Thirteen surface sediment samples were analyzed by acetolyisis method and swirling. Pollen spectra illustrate the relationships between pollen distribution in the sampled marine sediments and their transport from the vegetation onshore. The pollen distribution that accumulated a lot in western part of Sumba island were linked to fluvial inputs and controlled by the distance from the coast and water depth. Correlation test between the distribution of pollen and water depth as well as grain size (mean and mud percentage) showed moderate correlation (r=0.465; r=0.374 and r=0.443, respectively). Although the average of vegetation diversity index is  in low category (index of  1.07), the pollen distribution  percentage in these marine surface sediment samples reflects the local vegetation from the nearby onshore of Sumba island.  The most dominant pollen comes from Family Poaceae. This study demonstrates that pollen records from marine surface sediment in the Sumba Waters have the potential tool to reconstruct palaeovegetation on the adjacent continent for the past and future climate variability study at these area

    Fasies dan Lingkungan Pengendapan Formasi Jonggrangan pada Jalur Lintasan Sentul-Gunung Jonggol, Pegunungan Kulon Progo Bagian Timur

    Full text link
    Formasi Jonggrangan tersingkap dengan baik di daerah Sentul- Gunung Jonggol, bagian timur dari Pegunungan Kulon Progo. Terbatasnya informasi stratigrafi rinci mengenai Formasi Jonggrangan menyebabkan sejarah pengendapan formasi ini masih menjadi topik menarik untuk diteliti. Pengukuran stratigrafi serta analisa petrografi dan paleontologi telah dilakukan di area ini untuk mengetahui fasies dan memprediksi lingkungan pembentukannya. Berdasarkan karakter fisik dan biotanya Formasi Jonggrangan di daerah penelitian dapat dibagi menjadi 6 fasies batuan, yakni fasies tuff, fasies batupasir karbonatan, fasies batugamping pasiran, fasies batugamping koral/rudstone, fasies algal bindstone-coraline framestone dan fasies konglomerat polimik. Lingkungan pengendapan Formasi Jonggrangan diinterpretasikan berada pada daerah interior normal marine, reef crest/margin and reef slope. Hasil analisis fosil foraminifera mengindikasikan pengendapan formasi ini dimulai pada Miosen Awal (N4) dan diakhiri di Miosen Tengah (N9).The Jonggrangan Formation are well exposed in the Sentul - Gunung Jonggol area, at the eastern part of Kulon Progo Mountain. Limited detailed stratigraphic information causes the evolution of the depositional of the formation is an interesting topic to study. Stratigraphic measurement along with petrographic and paleontology analyses of this formation have been carried out to identify their facies and predict the development of depositional environment. Based on the physical character and content of the biota, the Jonggrangan Formation can be grouped into 6 facies tuff facies, allochemic sandstone facies, sandy limestone facies, rudstone facies, algal bindstone-coraline framestone facies and polymict conglomerate facies. The depositional environment of Jonggrangan Formation are in the platform of interior normal marine, reef crest/margin and reef slope. Result of the foramminifera fossil anaysis indicates that the deposition of this formation started in the Early Miocene (N4) and terminated in the Middle Miocene (N9).

    Cover Depan

    No full text
    Cover Depa

    Lumpur Hitam Tanah Rawa Hutan Mangrove Karangsong (Kabupaten Indramayu): Komposisi Kimia dan Transformasi Fasa Mineral yang Dihasilkan melalui Penanganan secara Termal

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki kandungan unsur dan transformasi mineral-mineral utama lumpur hitam dari tanah rawa hutan mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Sampel lumpur hitam kering diberi perlakuan secara termal dan bertahap pada kisaran suhu 120 - 1000 °C. Kandungan mineral dan transformasinya kemudian dianalisis dengan metode difraksi serbuk sinar-X. Kandungan unsur-unsur berat sebelum dan sesudah perlakuan ditentukan dengan menggunakan metode fluoresensi sinar-X, sedangkan unsur-unsur yang lebih ringannya ditentukan berdasarkan interpretasi pola pergeseran spektrum FTIR. Berdasarkan tiga analisis dan karakterisasi, sampel lumpur mengandung unsur utama O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, dan Mg, dan sisanya masing-masing kurang dari 1% adalah K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, dan Sc. Kehadiran unsur C dan N dideteksi secara kualitatif melalui pola spektrum inframerah. Fase yang terdeteksi pada sampel awal terutama meliputi kuarsa, hastingsit, halloisit, dan albit. Dua fase lainnya yang terdeteksi adalah pirit dan sfalerit. Dengan memperhatikan kandungan kimia dan transformasi mineral-mineralnya, lingkungan abiotik hutan mangrove menyimpan banyak informasi kimia yang berharga dalam memahami kemungkinan reaksi-reaksi katalisis di dalamnya sepanjang waktu geologi. This research was to investigate the content of elements and transformation of the minerals of black mud samples from mangrove forest masrshland, Karangsong, Indramayu Regency, West Java. The dried black mud sample was treated gradually in the temperature ranges of 120 - 1000 °C. The mineral contents and their transformations were then examined by the X-ray powder diffraction method. The content of heavy elements before and after the treatment was determined using the X-ray fluorescence method, while the light elements was determined based on the interpretation of the FTIR spectrum shift patterns. The three analyses and characterizations indicate that the mud samples contained the main elements of O, Si, Al, Fe, Cl, Na, S, and Mg. The remaining of less than 1% contained K, Ca, Ti, P , Mn, V, Zn, Cr, Br, Rb, Cu, Ni, Ga, Y, and Sc. The presence of C and N elements were detected qualitatively through the infrared spectrum patterns. The phases detected in the initial sample mainly include quartz, hastingsite, halloysite, and albite. The other two phases detected were pyrite and sphalerite. Given the elements and transformation of such minerals, the abiotic environment of mangrove forests holds much valuable chemical information in understanding the possibility of catalysis reactions in them over geologic time.

    Palinologi Laut di Selat Sumba, Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    Penelitian ini merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2016 yang bertujuan untuk merekonstruksi dinamika iklim dengan memperhatikan kondisi keanekaragaman morfologi polen, spora dan keanekaragaman flora sekitar perairan Selat Sumba pada Kala Holosen. Sedimen diambil menggunakan penginti gravitasi pada Kapal Riset Baruna Jaya VIII pada kedalaman kolom air 1283 m dengan panjang inti 243 cm. Kedalaman yang diamati yakni 0-102 cm dengan interval penyamplingan adalah 5 cm, sehingga diperoleh 22 sub-sampel. Jenis sedimen yang dominan adalah lanau sedangkan pasir hanya mendominasi bagian permukaan. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif palinologi, lapisan dibagi menjadi empat zona dan untuk mengetahui umur dari tiap lapisan sedimen digunakan datum Foraminifera Globigerinella calida calida. Zona I dengan perkiraan umur  5662-7550 tahun yang lalu memiliki karakteristik, jenis Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan yakni Cupressaceae, sedangkan jenis spora yang dominan adalah Polypodiaceae dan Acrostichum aureum. Zona ini diintepretasikan beriklim panas dan basah, dengan nilai Pollen Marine Index (PMI) 100 dan indeks keanekaragaman adalah 0,35. Zona II berumur 4530-5662 tahun yang lalu dengan kehadiran Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan adalah Casuarinaceae dan spora Polypodiaceae, sehingga diintepretasikan iklimnya adalah panas dan basah, PMI = 105 dan Indeks keanekaragaman 1,56.  Zona III berumur  2265-4530 tahun terdapat Arboreal Pollen (AP) yakni Anonaceae 43,75 % dan Spora yakni Polypodiaceae 33 %, sehingga diintepretasikan beriklim panas dan basah, PMI= 118 serta Indeks keanekaragaman 2. Zona IV adalah lapisan paling muda berumur 2265-sekarang memiliki persentase Arboreal Pollen (AP) yang lebih dominan yakni Anonaceae sebanyak 44% dan adanya peningkatan kehadiran spora yakni taksa Acrostichum aureum sebanyak 41,2 %, PMI = 128,25 dan memiliki Indeks keanekaragaman 1. This research is part of Widya Nusantara Expedition 2016 aiming to reconstruct the dynamics of the climate by considering the condition of morphology of pollen, spore and the diversity of flora around the waters of the Sumba Strait in the time of Holocene. The sediment was taken using gravity corer on Research Vessel of Baruna Jaya VIII at a water column depth of 1283 m with a core length of 243 cm. The depth was observed at 0-102 cm and the sampling interval of 5 cm, so 22 sub-samples were obtained. The dominant type of sediment was silt and sand dominates on the surface. Foraminifera Globigerinella calida calida is used as a datum to determine relative age. Based on the results of the analysis, the layers are divided into four zones. Zone I with an estimated age of 5662-7550 years ago has a more dominant Arboreal Pollen (AP) type characteristic, namely Cupressaceae, while the dominant spores are Polypodiaceae and Acrostichum aureum. This zone is interpreted as a hot and wet climate, with a Pollen Marine Index (PMI) 100 and a diversity index of 0.35. Zone II was 4530-5662 years ago with the more dominant Arboreal Pollen (AP) presence being Casuarinaceae and Polypodiaceae spores, so the interpreted climate was hot and wet, PMI = 105 and the Diversity Index 1.56. Zone III aged 2265-4530 years. There are Arboreal Pollen (AP) i.e. Anonaceae 43.75% and Spores i.e. Polypodiaceae 33%, so it is interpreted as hot and wet climate, PMI = 118 and Diversity Index 2. Zone IV is the youngest layer of 2265 – now. It has the most dominant percentage of Arboreal Pollen (AP), Anonaceae as much as 44% and an increase in the presence of spores i.e. Acrostichum aureum taxes as much as 41.2%, PMI = 128.25 and has a Diversity Index of 1

    Dosis Rata-Rata Harian dan Efektif Tahunan Radon Airtanah pada Daerah Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Indonesia

    Full text link
    Konsentrasi radon dapat mempengaruhi kondisi air yang biasa dikonsumsi masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini berpotensi terhadap resiko kesehatan termasuk resiko kanker. Pada penelitian ini sampel didapatkan dari sumber air di berbagai kampung di daerah Gunung Masigit, Cipatat, yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari. Sampel di tes menggunakan RAD 7 Electronic Radon detector. Konsentrasi radon pada sampel bervariasi di setiap sumber air. Konsentrasi radon terukur yaitu  2030± 509 Bq/m3, yang berasal dari sumber mata air kampung Cisalada dan 1140±393 Bq/m3 yang berasal dari air sumur Kampung Giri Mulya dan 705±393 Bq/m3 pada mata air daerah Kampung Pamucatan. Konsentrasi ini digunakan untuk menghitung konsentrasi rerata harian pada penduduk sekitar yang terpapar radon. Dosis rerata harian individu yang terpapar akibat konsumsi air mengandung radon  adalah 5,0 × 10-3 kg/ug/hari dan dosis efektif tahunan lebih rendah dari 0,1 mSv/tahun. Penelitian ini direkomendasikan sebagai acuan komprehensif yang dapat ditarik untuk kajian radiobiologi kesehatan dan toksisitas yang berhubungan dengan penyakit dan kualitas hidup masyarakat.Radon concentration affects the water condition, which is consumed daily. Radon is potentially have an effect on health, including cancer risk. In this research, samples were obtained from variou water sources in villages in Gunung Masigit, Cipatat. The samples were tested using RAD 7 Electronic Radon detector. We found that radon concentrations in water vary in each water source. Radon concentration from spring in Cisalada is 2030±509 Bq/m3, from water wells in Giri Mulya is 1140±393 Bq/m3 and from spring in pamucatan is 705±393 Bq/m3. The radon concentrations are used to calculate the daily average dose in the population. The daily average dose of individuals exposed for consuming water containing radon is 5.0 × 10-3 kg/ug/day, and the annually effective dose is lower than 0.1 mSv/year. This research is recommended as a comprehensive reference for radiobiology studies of health and disease-related toxicity and the quality of life of communities

    Active Fault Zones of The 2006 Yogyakarta Earthquake Inferred from Tilt Derivative Analysis of Gravity Anomalies

    Full text link
    The 2006 Yogyakarta Earthquake had caused a disaster in Bantul area. Several institutions had reported different results for the epicenter location. However, aftershocks studies indicated that the rupture area was at about 10 km east of Opak Fault. Analysis of gravity anomaly, including several degrees of residual anomalies and tilt derivative, facilitated this regional tectonic study to determine the structural constraints on the main earthquake and its aftershocks. The Yogyakarta area was primarily characterized by several SW-NE faults; one of them is the Opak Fault. Among those faults,, there are a series of WNW-ESE faults. Several groups of these lineations indicated a presence of some pairs of parallel strike-slips faults that formed pull-a-part basins. The obtained structural pattern has signified the dynamic response of the force from the subduction of the Australian Plate toward Sunda (Eurasia) Plate.  The subduction force produced the strike-slip fault in a parallel direction of subduction, and subsequently, the faults caused the formation of thrust structures that are perpendicular to them.Gempabumi Yogyakarta pada tahun 2006 telah menyebabkan bencana di daerah Bantul dan sekitarnya. Lokasi episenter yang ditentukan oleh beberapa lembaga menunjukkan hasil yang berbeda. Tetapi analisa gempabumi susulan telah menunjukkan daerah pegerakan hingga 10 km ke sebelah timur dari Sesar Opak. Analisa anomali gayaberat yang terdiri dari perhitungan anomali sisa dan turunan kemiringan (tilt derivative) diharapkan dapat membantu studi tektonik regional dalam menentukan batasan struktur yang menyebabkan kejadian gempabumi di daerah Yogyakarta. Daerah ini dicirikan oleh sesar-sesar berarah BD (Barat daya)-TL (Timur laut), yang salah satunya adalah Sesar Opak. Di antara sesar-sesar tersebut, terdapat pula deretan sesar-sesar berarah BBL (Barat barat laut)-TTG (Timur tenggara). Beberapa kelompok kelurusan-kelurusan membentuk kemungkinan adanya cekungan pull-a-part, yang terbentuk karena adanya deretan sesar-sesar strike-slip. Pola struktur yang diperoleh menunjukkan respon dinamik dari subduksi Lempeng Australia terhadap Lempeng Eurasia (Sunda). Tekanan dari gaya subduksi menyebabkan terbentuknya sesar-sesar strike-slip. Kemudian sesar-sesar tersebut menyebabkan adanya struktur sesar naik yang tegak lurus terhadapnya

    Kualitas Air pada Puncak Musim Kemarau di Daerah Rawa Danau Kabupaten Serang

    Full text link
    Rawa Danau Serang merupakan rawa pegunungan yang menjadi andalan pemasok air di kawasan industri Cilegon dan sekitarnya. Selain air hujan, pasokan air ke Rawa Danau juga berasal dari mataair gunungapi di sekitarnya. Sumber air yang ada terdiri dari mataair, mataair panas, sumur gali, sumur bor dan sungai. Percampuran beragam sumber air tersebut dapat mempengaruhi kualitas air Rawa Danau, sehingga penelitian kondisi fisika dan kimia air menjadi penting untuk dilakukan. Pengukuran dilakukan pada kondisi puncak musim kemarau untuk menganalisis skenario terburuk dari curah hujan minimal dan kualitas air belum banyak dipengaruhi air hujan. Pada puncak musim kemarau, air di daerah penelitian cenderung bersifat asam dengan pH air berkisar 5,7-7,65. Hasil pengukuran dan analisis kimia air menggunakan AAS dan turbidimeter secara keseluruhan air masih memenuhi syarat untuk digunakan sesuai dengan peruntukannya. Analisis hidrogeokimia menggunakan diagram Piper menunjukkan bahwa tipe air Ca+Mg-HCO3. Rawa Danau Serang, which is a wetland in the mountain area, is the primary source of water for Cilegon and surrounding areas. Besides the precipitation, the main source of water in Rawa Danau is the mountain springs. The other water sources include springs, hot springs, dug wells, boreholes, and rivers. The mixture of those various sources of water might affect the quality of water.  Therefore, a study on the chemical and physical properties of the water is essential. We measured the water condition in the dry season to analyze the worst-case scenario of minimal rain. At the peak of dry season, water in the study area was acidic with pH ranging from 5.7 to 7.65. The results of chemical analysis of water using AAS and turbidimeter have indicated that, as a whole, the water from Rawa Danau was still meet the requirements for domestic use. Hydro-geochemical analysis using the Piper diagram has indicated that the type water is Ca + Mg- HCO3.

    Pendugaan Akifer Airtanah dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger di Lereng Utara Gunungapi Tangkubanparahu

    Full text link
    Airtanah sangat diperlukan dan meningkatnya jumlah penduduk akan menyebabkan pengurangan cadangan airtanah yang tersedia. Gunung Tangkubanparahu merupakan daerah endapan vulkanik yang memiliki potensi sistem akuifer airtanah yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi airtanah dari sistem akuifer vulkanik berdasarkan pengamatan geologi dan pengukuran geolistrik 1D sebanyak 100 titik. Hasil penelitian menunjukkan empat kelompok nilai resistivitas yang merepresentasikan kondisi geologi bawah permukaan. Kelompok pertama mempunyai nilai 0-100 ohm.m, berupa kelompok batuan piroklastik yang tercampur tanah. Kelompok kedua mempunyai nilai resitivitas 101-250 ohm.m, berupa kelompok batuan perselingan antara pasir tufan dan tuf kasar. Kelompok ketiga mempunyai nilai 251-600 ohm.m, berupa kelompok batuan breksi. Kelompok keempat  mempunyai nilai resistivitas >600 ohm.m, berupa kelompok batuan aliran lava. Sistem airtanah yang dapat diasumsikan sebagai akifer tersebar merata pada kedalaman 50 m, 75 m, dan 100 m berupa kelompok batuan tuf.Groundwater is the primary source of water and the increase in population will cause an decrease in groundwater reserves. Mt.Tangkubanparahu is a volcanic deposition area that has high potential groundwater aquifer systems. The purpose of this study was to determine the groundwater potential of the volcanic aquifer system based on geology mapping and 1D geoelectric measurements at 100 stations. The results indicated four groups of resistivity values, which represent subsurface geological conditions. The first group has a resistivity value of 0-100 ohms.m in the form of pyroclastic rocks. The second group has a resistivity value of 101-250 ohms.m in the form sand tuff and coarse tuff. The third group has a value of 251-600 ohm.m in the form of breccia rocks. And the fourth group has resistivity values> 600 ohms in the form of lava flow rock groups. In the groundwater system, the layer that can be assumed as aquifer is evenly distributed at depths of 50 m, 75 m, and 100 m in the form of tuff groups. 

    Karakteristik Interaksi Air - CO2 - CaCO3 dan Analisis Sistem Aliran Air Tanah Karst Musim Kemarau di Kab. Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan dengan pengukuran sifat fisika dan kimia air di lapangan berupa suhu, daya hantar listrik, pH, dan ion HCO3-, serta analisis hidrokimia di laboratorium terhadap contoh air dari sumur bor, mata air, dan sungai bawah tanah. Interpretasi aliran air tanah karst sebagai bentuk interaksi antara air (H2O), CO2, dan CaCO3 dilakukan dengan menghitung indeks kejenuhan CaCO3 dan tekanan parsial CO2. Hasil analisis menunjukkan air tanah pada mata air dan sungai bawah tanah memiliki tingkat interaksi air- CaCO3 lebih singkat dan interaksi air-CO2 lebih lama dibanding air tanah pada sumur bor. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sistem akuifer karst pada satuan plato Wonosari memiliki karakter aliran difusi yang bersifat tertutup, sedangkan pada satuan perbukitan karst Gunungsewu menunjukkan adanya perubahan karakter aliran secara difusi pada zona epikarst menjadi aliran konduit.This study was conducted by measuring the physical and chemical properties of water in the field: temperature, electrical conductivity, pH, and HCO3-, as well as hydrochemical analysis of major ions in the laboratory against water samples from boreholes, springs, and underground rivers. Groundwater flow system as a result of water-CO2-CaCO3 interaction is interpreted by calculating the saturation index of CaCO3 and the partial pressure of CO2. The results of the analysis show that groundwater in springs and underground rivers have shorter water-rock interaction and longer water-CO2 interactions than groundwater in boreholes. This condition indicates that the karst aquifer system in the Wonosari plateau unit has a character of diffusion flow (closed system), whereas in the Gunungsewu karst hills shows a change in the character of the flow diffusion in the epikarst zone into a conduit flow.

    263

    full texts

    304

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    RISET Geologi dan Pertambangan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇