RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
STRUKTUR LAPISAN BUMI DI BAWAH G. TANGKUBAN PARAHU BERDASARKAN STUDI SEISMIK STASIUN TUNGGAL
Stasiun seismograf tunggal pita lebar (broadband) di G. Tangkubanparahu telah merekam sejumlah gempa jarak jauh. Gelombang gempa yang terekam telah di analisa dengan menggunakan pendekatan fungsi penerima untuk mempelajari struktur bawah permukaan di bawah stasiun. Hasil awal, berdasarkan metode pemodelan kedepan (forward) dan inversi fungsi penerima menunjukkan ketebalan kerak di bawah Tangkubanparahu adalah sekitar 30-35 km. Juga ada kemungkinan adanya dua zona kecepatan rendah di bawah G. Tangkubanparahu yang boleh jadi merupakan dua kantung magma pada kedalaman sekitar 5 km dan 25 km
TINJAUAN ULANG REKONSTRUKSI LEMPENG LAUT FILIPINA
Proses terbentuknya lempeng Laut Filipina sebenarnya cukup dapat dimengerti dengan adanya beberapa sistem punggungan dan palung yang telah diketahui umurnya. Yang menjadi permasalahan adalah adanya beberapa pendapat tentang perubahan posisi lempeng ini sejak terbentuk (sekitar 50 juta tahun yang lalu) hingga posisinya saat ini. Tomografi dari data seismik yang dapat memetakan lempeng-lempeng yang terkubur di dalam mantel menunjukkan bahwa posisi lempeng tidak banyak berubah sejak saat lempeng ini terbentuk
KARAKTERISTIK DISTRIBUSI MINERAL UBAHAN: JEJAK EPISODE KEGIATAN HIDROTERMAL DI DAERAH CUPUNAGARA, SUBANG, JAWA BARAT
Cupunagara Area, lies in the North-Northeastern of the Sunda Volcanic Complex, occupied by rough mountainous area consisting of two calderas and surrounded by several volcanic cones. The lithology of the studied area consists of intrusive rocks unit, andesitic – basaltic lava and pyroclastic, mostly had been altered into prophylitic and argillic zones. The prophylitic zone is distributed widely in the central part of the calderas, whilst the argillic zone is distributed confined to the Northwest-Southeast trending fault zones overprints the prophylitic zone and contains the remnants of quartz veins. Structural geology pattern of the studied area is affected by its position as the meeting area of the Cimandiri and the Baribis Fault Systems. Two main strike slip faults are recognized consist of the Northeast-Southwest trending sinistral fault and the Northwest-Southeast trending dextral fault. Two episodes of hydrothermal activities occurred in the studied area, in the first episode the hydrothermal fluid was relatively hot (temperature between >100 to 250oC) and neutral (pH 5-6), whilst in the second its temperature was <100oC and acid. The first episode was triggered by the Oligo-Miocene tectonic activity (the formation of the Northeast-Southwest fault zone), the controlling factor of the hydrothermal alteration distribution were the permeability of the host rocks and fault zones, altered the mineralogy of the host rocks into the prophylitic alteration assemblage and formed quartz veins. The second episode was triggered by the Plio-Pleistocene tectonic activity (the formation of the Northwest-Southeast fault zone), altered (overprinted) the wall rocks into the argillic alteration assemblage, the controlling factor was the fault zones
PENGARUH PANJANG ZONA GASIFIKASI BATUBARA BAWAH TANAH TERHADAP KOMPOSISI GAS HASIL (EFFECT OF ZONA LENGTH OF AN UNDERGROUND COAL GASIFICATION TO THE GAS PRODUCT COMPOSITION)
Eksperimen gasifikasi batubara bawah yanah telah disimulasikan dilaboratorium. Eksperimen dilakukan dengan tujuan untuk menyelidiki pengaruh perbedaan panjang zona gasifikasi terhadap komposisi gas hasil. Untuk tujuan itu dua buah reaktor yang berbentuk silinder dengan panjang yang berbeda dipergunakan. Panjang reaktor pertama adalah 80 cm dan reaktor kedua adalah 200 cm; kedua reaktor mempunyai diameter yang sama yaitu 30 cm. Gasifikasi dilakukan selama 24 jam dengan volume udara yang ditiupkan masuk kedalam reaktor diatur sebesar 70 liter per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa komposisi gas-gas yang dihasilkan dari reaktor pertama adalah sebagai berikut: CO2 = (11,6-14,4)%; CnHm = (0,0-0,4)%; CO = (1,2-6,8)%; O2 = (3,2-7,2)%; H2 = (0,8-3,2)%; C3H8 = (0,0-0,9)%; CH4 = (0,2-3,0)%. Dilain pihak, reaktor kedua menghasilkan gas dengan komposisi: CO2 = (5,0-15,0)%; CnHm = (0,0-0,3)%; CO = (1,8-4,0)%; O2 = (4,0-13,8)%; H2 = (0,2-4,0)%; C3H8 = (0,0-1,2)%; CH4 = (0,1-1,7)%. Hasil ini memperlihatkan bahwa prosentase gas CO2; CO; H2 dan CH4 dari reaktor pertama lebih tinggi dibandingkan dengan reaktor kedua. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa reaksi-reaksi gasifikasi yang terjadi pada reaktor pertama berjalan lebih baik baik dibandingkan dengan reaksi yang terjadi pada reaktor kedua. Hal ini juga didukung oleh nilai kalori gas yaitu berada dalam kisaran antara(127-517) kcal/m3 untuk gas yang dihasilkan dari reaktor pertama dibandingkan dengan (118-460) kcal/m3 untuk gas yang berasal dari reaktor kedua. Perbedaan pola temperatur T1 dan T2 dari masing-masing reaktor juga mendukung hal tersebut
SISTEM INFORMASI KEBUMIAN SEBAGAI SARANA PENYEDIAAN INFORMASI GEOLOGI DAERAH KARANGSAMBUNG
Daerah Karangsambung merupakan daerah kompleks geologi yang unik, dimana tersingkap beraneka ragam jenis batuan yang berasal dari berbagai proses kejadian. Ada 30 titik lokasi batuan yang tersebar di daerah tersebut ditetapkan sebagai batuan yang dilindungi. Secara umum daerah Karangsambung ditujukan untuk studi ilmu kebumian bagi para peneliti, mahasiswa, pelajar dan umum. Untuk keperluan tersebut UPT Balai Informasi dan Konservasi Kebumian Karangsambung - LIPI mendokumentasikan keanekaragaman jenis batuan dan keunikan aspek geologi melalui salah satu bentuk sistem informasi yang diberi nama “Sistem Informasi Kebumian” disingkat SIK. Sistem ini dibuat dalam bahasa MapBasic yang dijalankan melalui MapInfo (Software SIG). Melalui SIK ini, data dan informasi geologi daerah Karangsambung dapat langsung diperoleh dalam bentuk peta maupun tabulasinya, hanya dengan memilih objek peta atau melalui pencarian dengan kriteria yang diminta, sehingga sangat berguna sebagai salah satu alat bantu yang dapat menyebar-luasan informasi geologi daerah Karangsambung secara visual untuk tujuan pendidikan atau penelitian ilmu kebumia
CARBONATE DEPOSITIONAL ENVIRONMENT AND PLATFORM MORPHOLOGY OF THE WONOSARI FORMATION IN THE AREA EAST OF PACITAN
Penelitian lapangan dan analisa di laboratorium telah dilakukan untuk menentukan sebaran fasies karbonat dan interpretasi lingkungan pengendapan serta morfologi platform dari batugamping Tersier Formasi Wonosari di sebelah timur Pacitan. Sampel batuan diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Jordan (1985) yang kemudian diinterpretasikan lingkungan pengedapannya. Formasi Wonosari di timur Pacitan terdiri atas fasies coral boundstone, foraminifera packstone-wackestone, larger foram packstone, coral-larger foram rudstone, dan fasies algal-foraminiferal packstone. Fasies-fasies tersebut mewakili lingkungan-lingkungan pengendapan reef zone atau outer-shelf, lingkungan basin-outer slope dan middle-upper slope yang terletak di utara reef zone, serta lingkungan back reef-inner shelf di sebelah selatan dan barat reef zone.
FENOMENA GEOLOGI DAN SEDIMENTASI GUA DARI SITUS LIANG BUA – FLORES
Penemuan sejumlah rangka manusia purba, fosil vertebrata dan artefak berupa alat batu kreasi manusia di lokasi gua, sangat menarik untuk dikaji, tidak hanya berkaitan dengan keberadaan manusia prasejarah, tetapi juga menyangkut proses geologi yang berkembang dalam gua dan lingkungan di sekitarnya.SitusLiang Bua yang merupakan suatu gua gamping besar dengan ukuran luas lebih dari 1300 m2, memperlihatkan proses perkembangan yang cukup panjang, dimulai dari proses pembentukan gua, sedimentasi sungai yang masuk ke dalam lingkungan gua, dan gua sebagai hunian. Peristiwa tektonik berupa proses pengangkatan daerah secara menyeluruh mengakibatkan berpindahnya aliran sungai purba.Indikasi endapan sungai terungkap dengan baik pada lubang galian 1 yang memperlihatkan urutan perlapisan pasir, lanau, ataupun lempung dengan sejumlah struktur sedimen yang diakibatkan oleh arus dan proses pengerosiannya.Berdasarkan urut-urutan stratigrafi, terdapat beberapa lapisan yang memperlihatkan terjadinya sebagian runtuhan atap gua yang ditandai dengan bongkah-bongkah batugamping dan pecahan stalaktit yang ditutupi lapisan sinter (“flowstone”).
Geochemical Signatures of Volcanic Rocks Related to Gold Mineralization: a case of volcanic rocks in Pasaman area, West Sumatera, Indonesia
Gold deposit is always related to volcanic activities. They occur usually in areas characterized by multi magmatic activities, indicated by occurrences various volcanic rocks with wide range composition. The source of the gold metal is believed to be magma, but not all magmatic activity related to gold mineralization. However, among different volcanic rocks in a multi magmatic activities area, only a certain magmatic or volcanic activity that related to the mineralization while the other products should be classified as barren type. It should give an important contribution for mining exploration in effort to discover new deposits in the future, if the volcanic rocks related to mineralization can be recognized easily and separated from the barren ones.Pasaman area located in west flank of Bukit Barisan Mountain within West Sumatera Province is reported since Japanese time to nowadays having indications of gold mineralization. Small scale mining by the local people was running in Tambang Pambaluan and area near Simpang Dingin in Dua Koto Sub-District during Japanese time, but now is not active anymore. At Bonjol, in Bonjol Sub-District, local people are still doing mining activity using amalgamation method and this activity has been running for a few decades since the Dutch time. The locations are situated in a wide area that covered by so called undifferentiated volcanic rocks without any trace of its eruption center. Major elements have been failed to separate volcanic rocks related to mineralization from the barren ones, but trace elements and REE signatures can be used effectively for the purpose. Analytical data of the rocks collected from the undifferentiated volcanic area show clear and different character of the rocks related to mineralization compared to the barren ones. The rocks related to mineralization contain Ytrium less than 10 ppm, while the barren rocks have more than 20 ppm Ytrium content. Furthermore, the rocks related to mineralization are slightly enriched on Rb. More specific character for the rocks related to mineralization is observed on REE diagrams. REE pattern of the rocks related to mineralization shows a clear and significant depletion on medium to HREE (from Gd to Lu), although the depletion can be recognized from Sm and Eu elements. The specific geochemical signatures of the rocks are interpreted to be caused by the presence of gold metal in the magma. The aim of this paper is to demonstrate that the rocks related to mineralization have specific geochemical signatures and different from the barren rocks. The specific signatures have been found out through comparison of trace elements and REE pattern between rocks related to mineralization collected from Tambang Pambaluan, Simpang Dingin dan Bonjol with the barren rocks collected in other locations in the undifferentiated volcanic area in Pasama
SEDIMENTASI DAN MODEL TERUMBU FORMASI RAJAMANDALA DI DAERAH PADALARANG - JAWA BARAT
Formasi Rajamandala yang tersebar di daerah Cikamuning – Sangiangtikoro sebelah barat Bandung dibagi menjadi dua satuan batuan yaitu Anggota Batugamping dan Anggota Lempung-Napal. Formasi ini terbentuk pada Oligosen Akhir sampai Miosen Awal. Anggota Batugamping memperlihatkan singkapan yang sangat bagus dan beberapa fasies yang berkaitan dengan terumbu koral dapat dikenali dalam batuan karbonat ini. Tiga fasies yaitu fasies planktonic packstone – wackestone, fasies Lepidocyclina packstone dan fasies rudstone berkembang di lingkungan muka terumbu (toe of slope dan reef slope). Fasies boundstone membentuk inti terumbu dalam mana tiga subfasies seperti subfasies framestone, subfasies bafflestone dan subfasies bindstone ditemukan. Fasies boundstone diendapkan pada reef crest sampai reef flat. Fasies Milliolid packstone diendapkan pada beberapa lingkungan termasuk surge channel, lagoon dan back reef. Batuan karbonat Formasi Rajamandala ditafsirkan sebagai barrier reef berarah ENE – WSE dengan bagian muka terumbu dan cekungan berada di bagian utara
HYDROTHERMAL MINERALIZATION AT GOMBONG AREA KEBUMEN REGENCY - CENTRAL JAVA
Aktifitas magma dan sesar di daerah Gombong, Jawa Tengah yang diekspresikan dalam bentuk-bentuk melingkar (poligonal) dan kelurusan pada citra LANDSAT, diduga pembentukannya diikuti suatu proses mineralisasi yang diawali oleh aktifitas magmatik dan tektonik pada Kala Pliosen, ditunjukkan oleh adanya asosiasi yang erat antara zona mineralisasi dengan zona sesar. Mineralisasi di daerah penelitian dicirikan oleh asosiasi ubahan propilitik, pembentukan urat (terutama karbonat), dan butiran sangat halus Fe, Cu, Pb, dan Zn sulfida pada Formasi Gabon berumur Oligosen Akhir Boiling/lattice texture pada urat kuarsa yang tersingkap di Kali Lodeng mengindikasikan kondisi fluida hidrotermal dalam keadaan mendidih. Walaupun tak dijumpai kandungan inklusi fluida yang dapat dipergunakan untuk analisis mikrotermometri, asosiasi minral sulfida mengindikasi temperatur fluida hidrotermal daerah penelitian berkisar dari 300 – 350o C dan mengalami pendinginan hingga <300o C