RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
MODELLING OF LAND SUBSIDENCE ALONG TANAH MAS -PELABUHAN SECTION SEMARANG CITY USING FINITE ELEMENT METHOD
ABSTRACT Land subsidence has been an apparent problem in the northern part of Semarang city, Central Java, which has caused enormous physical and economical impacts. This area is underlain by alluvium sediments of clay, silt, sand and gravel. The nature of the alluvium soil is soft and highly compressible which induces natural consolidation to occur. The lowering of groundwater table due to exploitation and loads of building and earth fill accelerate the rate of consolidation settlement. A study of land subsidence modeling was carried out in the northern part of Semarang city. Collection and analysis of data on the geology, hydrology, soil properties and monitored settlements were conducted. Modeling of land subsidence involved stress deformation analysis using finite element method. The settlements computed for selected section of the city of Semarang were compared with measurements of settlement in the city area. The simulation results appear to be in reasonably good agreement with the measurement results. Simulation results at selected section indicated that the contribution of lowering groundwater table factor accounts for less than 50% of total monitored subsidence. Meanwhile simulation results using application of external loading and lowering of groundwater table showed better agreement with the monitored subsidence. Information of magnitude and factors causing land subsidence is important particularly for city planning purposes
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI UNTUK MENDUGA KUANTITAS KOMPONEN SUMBERDAYA AIR BULANAN SECARA SPASIAL DENGAN METODA CN-NRCS, TEGANGAN AIRTANAH DAN KONDUKTIVITAS HIDRAULIK DI HULU DAS CITARUM
ABSTRAK Keberadaan metodologi pendugaan yang lebih rinci tentang ketersediaan sumberdaya air secara spasial telah menjadi keperluan mendesak. Selama beberapa dekade terakhir terjadi perluasan pesat daerah urban, utamanya di Pulau Jawa, dimana beberapa diantaranya kini mengalami krisis air. Sistem Informasi Geografi telah dimanfaatkan untuk menduga kuantitas komponen sumberdaya air di hulu DAS Citarum. Data yang digunakan adalah model elevasi digital (DEM), citra satelit, data curah hujan dari 22 stasiun yang tersebar di daerah kajian, peta tanah dan peta geologi. Pendugaan kuantitas komponen sumberdaya air didasarkan pada metoda CN (SCS/NRCS), distribusi tegangan airtanah (pF) dan perbedaan konduktifitas hidraulik. Hasil penelitian menghasilkan basis data spasial kuantitas komponen sumberdaya air yang dapat disajikan baik sebagai data tabular, diagram, maupun peta tematik untuk keseluruhan daerah penelitian maupun khusus untuk daerah yang dipilih. Validasi dilakukan dengan membandingkan antara hasil pendugaan dengan hasil pengukuran luah aliran Sungai Citarum di Stasiun Nanjung. Model pendugaan memperlihatkan validitas yang baik untuk kuantifikasi air larian bulanan. Untuk air infiltrasi serta total aliran, validitas baik hanya diperoleh untuk waktu kumulatif tahunan. Hasil pendugaan ini memadai untuk disajikan setara dengan informasi peta pada skala 1: 50 000. Pemahaman tentang keterbatasan model diperlukan untuk meminimalkan kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan yang didasarkan atas informasi hasil pendugaan
TRANSPORT AND TRANSFORMATION OF CHEMICAL COMPONENTS IN THE GROUNDWATER FLOW SYSTEM OF JAKARTA METROPOLITAN AREA
ABSTRACT The aim of this study is to examine the transport and transformation of chemical components within the groundwater flow in Jakarta area, and to evaluate the effects of accelerated urbanization on it. The collected data showed that the current hydraulic potential in the Jakarta metropolitan area is below sea level because of prior excess abstraction of groundwater. The distribution of Cl- and Mn2- concentration in groundwater suggests that the decline in hydraulic potential has caused the intrusion of seawater to shallow groundwater and the movement of shallow groundwater into deep groundwater. It implies an accumulation of contaminants in deep aquifers. On the other hands, the presentation of NO3--N in groundwater is suggested to be attenuated by the processes of denitrification and dilution in the coastal area
DAMPAK BEBERAPA PARAMETER FAKTOR FISIK KIMIA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN PERAIRAN WILAYAH PESISIR KARAWANG - JAWA BARAT
ABSTRAK Evaluasi dampak terhadap beberapa parameter fisika-kimia perairan di wilayah pesisir Utara Karawang dilakukan untuk mengetahui kondisi kualitas lingkungan perairan yang berfungsi sebagai habitat biota perairan. Hasil analisa menunjukkan bahwa status kualitas perairan di wilayah pesisir Utara Karawang berdasarkan hasil hitungan Indeks Mutu Lingkungan Perairan (IMLP) secara umum berada dalam kualifikasi sedang mendekati kurang baik berkisar antara 58,71 – 67,78 untuk memelihara organisma perairan seperti ikan atau udang. Penurunan atau rendahnya nilai guna perairan ini diduga karena rendahnya tingkat kecerahan perairan akibat tingginya kadar partikel tersuspensi hasil pengamatan antara 40 mg/L – 1225 mg/L, disamping telah terjadinya akumulasi limbah organik baik yang terbawa sungai dari aliran sungai bagian hulu maupun buangan dari areal persawahan dan pertambakan yang banyak terdapat di wilayah pesisir. Untuk memperbaiki kondisi ekosistem di wilayah pesisir Utara Karawang dan menekan penurunan nilai gunanya, perlu dilakukan pembatasan, pengendalian dan perbaikan dalam sistem pembuangan bahan organik dari sungai bagian hulu, persawahan dan pertambakan
DINAMIKA ELEVASI MUKA AIR PADA LAHAN DAN SALURAN DI LAHAN GAMBUT
ABSTRAK Reklamasi gambut untuk pertanian memerlukan jaringan drainase makro yang dapat mengendalikan tata air dalam satu wilayah dan drainase mikro untuk mengendalikan tata air di tingkat lahan. Elevasi muka air harus dipertahankan secara optimal. Tidak terlalu dalam agar tanaman tidak mengalami kekeringan dan tidak terlalu dangkal agar tanaman tidak tergenang. Untuk itu diperlukan bangunan pengendali berupa pintu air di setiap saluran. Pintu air berfungsi untuk mengatur muka air tanah supaya tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam, sehingga kelestarian gambut dapat terjaga. Pemasangan pintu air baik letak maupun jumlahnya perlu diawali dengan mengetahui fluktuasi air di saluran dan lahan. Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari dinamika elevasi muka air pada lahan dan saluran dan keterkaitannya dengan curah hujan di lahan gambut. Untuk mencapai tujuan tersebut telah dilakukan penelitian di Desa Jabiren, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai dengan Oktober 2011. Analisis difokuskan untuk memahami karakteristik hujan, karakteristik hidrologi, elevasi muka air lahan dan saluran, hidrotopografi, serta hubungan curah hujan dan elevasi muka air. Data dasar ini sangat dibutuhkan sebagai informasi peringatan dini agar kejadian air berlebihan atau terbatas di lahan gambut dapat diantisipasi dengan baik
KESESUAIAN LAHAN UNTUK KOMODITAS TEH DI WILAYAH SAGALAHERANG, SUBANG, JAWA BARAT
ABSTRAK Penurunan produksi komoditas teh di wilayah Sagalaherang, Kabupaten Subang, telah terjadi sejak tahun 2007. Penurunan produksi ini disebabkan oleh semakin berkurangnya ketersediaan lahan untuk budidaya teh akibat konversi lahan perkebunan menjadi pemukiman, diversifikasi komoditas menjadi kelapa sawit. Ketersediaan dan kualitas lahan merupakan salah aspek penting dalam pengembangan komoditas teh guna meningkatkan produksi teh di masa datang. Oleh karena itu diperlukan studi untuk menilai kondisi lahan sebagai bahan pertimbangan dalam penilaian kesesuaian lahan untuk komoditas teh di wilayah Sagalaherang. Kegiatan studi dimulai dengan penyusunan peta dasar, yaitu berupa peta-peta tanah, geomorfologi, topografi, dan geologi pada skala 1 : 100.000. Survei tanah dilakukan dengan pengambilan contoh tanah untuk analisa sifat kimia dan fisika tanah di laboratorium. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mencocokkan antara persyaratan tumbuh tanaman dengan karakteristik lahan dengan teknik tumpang tindih (overlay). Hasil studi didapatkan bahwa di wilayah studi memiliki 4 ordo tanah, yaitu Inceptisols, Andisols, Ultisols dan Entisols dengan 8 sub grup. Nilai kelas kesesuaian lahan untuk komoditas teh diperoleh kelas S1 dengan luas 6,44 km2, kelas S2 dengan faktor pembatas lereng seluas 45,94 km2, kelas S3 dengan faktor pembatas lereng dan ketersediaan air seluas 38,50 km2 dan kelas N dengan faktor pembatas ketersediaan air dan nutrisi, kondisi drainase dan lereng seluas 32,98 km2. Berdasarkan penilaian kondisi lingkungannya, wilayah Sagalaherang secara umum memiliki kondisi lahan yang sesuai untuk komoditas teh. Oleh karena itu kegiatan alih fungsi atau konversi lahan baik berubah ke lahan pemukiman maupun beralih komoditas ke sawit perlu dibatasi, sehingga produksi teh dapat kembali meningkat dan menjadi komoditas utama di wilayah Sagalaherang
MATAAIR SEBAGAI SUMBER AIR BERSIH DI KECAMATAN LASIOLAT, KABUPATEN BELU, NTT
ABSTRAK Ketersediaan air merupakan salah satu faktor penentu dalam pengembangan kawasan permukiman yang diperuntukan bagi penduduk lokal maupun pengungsi eks-Timor Timur di Kabupaten Belu, NTT. Dalam rangka menunjang pengembangan kawasan tersebut diatas telah dilakukan studi potensi mataair di sekitar Gunung Lakaan (+1578 m dpl) di Kecamatan Lasiolat. Studi meliputi pengamatan lapisan batuan pembawa air, pengukuran debit dan analisis hidrokimia. Mataair yang di jumpai umumnya merupakan mataair karst tipe kontak yang keluar dari celah batugamping dimana yang bertindak sebagai lapisan kedap air adalah lempung dan napal. Debit rata-rata terukur Mataair Wetihu (88 L/dt) ; Lahurus (155 L/dt); Webot (254 L/dt) dan Wemauhalek (201 L/dt). Sedangkan hidrokimia mataair dari akifer batugamping didominasi kalsium, bikarbonat dan kesadahan yang sangat tinggi, bila dibandingkan dengan air yang berasal dari batuan ultrabasa dan semuanya memenuhi syarat sebagai bahan baku air bersih
SUBMARINE GROUNDWATER DISCHARGE (SGD) IN INDONESIA
ABSTRAK Mengikuti kontrol gayaMengikuti kontrol gaya gravitasi, airtanah akan mengalir menuju titik terendah dan pada beberapa lokasi akan mengalami kontak dengan air laut pada akhir sistem luaran aliran. Pada penelitian terdahulu, bentuk kontak ini telah seringkali dibahas berdasarkan hukum Ghyben-Herzberg. Mengikuti hukum fisika, airtanah dapat keluar di tepi pantai, lepas pantai atau didasar laut. Keluaran inilah yang secara terminologi dapat disebut sebagai keluaran airtanah di lepas pantai (SGD). Dari analisis keluaran airtanah di lepas pantai ini, terlihat bahwa keluaran ini memiliki beberapa bentuk seperti rembesan dekat pantai, rembesan aliran airtanah dan mataair lepas pantai. Keluaran inipun merupakan jalur penghubung yang penting antara interaksi airtanah dan air laut. Pemahaman keluaran airtanah di lepas pantai ini akan sangat membantu untuk permasalahan potensi pencemaran pantai, sumber nutrisi untuk wilayah lepas pantai dan alternatif kebutuhan akan air bersih. Makalah ini membahas tentang bukti ilmiah keberadaan keluaran airtanah di lepas pantai Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses keluaran airtanah dilepas pantai tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Penilaian karakteristik dan besarannya di masing-masing lokasi memerlukan berbagai teknik yang berbeda tergantung pada kondisi geologi dan hidrogeologi keluaran tersebut. Pengamatan secara detail telah dilakukan di 6 lokasi, dimana penelitian ini adalah pertama kalinya dilakukan di Indonesia
FUNGSI PERINGATAN DINI DAN KESIAPAN MASYARAKAT DALAM PENGURANGAN RESIKO BENCANA TSUNAMI DI INDONESIA: STUDI KASUS DI KOTA PADANG
ABSTRAK Gempabumi (Mw = 9.3) yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, dengan sumber ± 160 km dari pantai barat Provinsi NAD, telah memicu mega-tsunami yang dahsyat. Gelombang tsunami tersebut tidak hanya menyapu wilayah Provinsi NAD akan tetapi juga pantai-pantai di negara-negara seputar lautan Hindia. Tidak adanya kesiapan masyarakat serta belum adanya peringatan dan tidak dipahaminya tanda-tanda alam yang menyebabkan gelombang tsunami telah menyebabkan banyaknya jatuh korban pada saat bencana tahun 2004 yang lalu. Sistem peringatan dini bahaya tsunami dapat didasarkan kepada tanda-tanda alam yang mendahuluinya atau yang secara resmi disampaikan kepada masyarakat berdasarkan sistem yang dirancang secara khusus dengan menggunakan teknologi modern, yang penggunaannya di Indonesia telah diresmikan sejak tahun 2008 yang lalu. Sejumlah sirine untuk mendukung peringatan dini tersebut telah pula terpasang disejumlah tempat di wilayah rawan tsunami di Indonesia, diantaranya di Kota Padang. Namun demikian, efektivitas suatu sistem peringatan dini tsunami, sangat ditentukan oleh kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi ancaman bahaya tsunami. Kajian ini bertujuan untuk mengembangkan suatu analisis kesiapan masyarakat yang terpapar oleh bahaya tsunami di Kota Padang, dalam merespon dan memahami peringatan dini bahaya tsunami. Kajian dilakukan dengan metoda kuesioner untuk menganalisis fungsi peringatan dini dan kesiapan masyarakat di Kota Padang terhadap ancaman bahaya tsunami. Sedangkan pertanyaan-pertanyaan terkait dalam kuesioner digolongkan dalam unsur-unsur kewaspadaan, perencanaan evakuasi dan unsur pendukung kesiapan
LIQUEFACTION POTENTIAL AT PADANG CITY: A COMPARISON OF PREDICTED AND OBSERVED LIQUEFACTIONS DURING THE 2009 PADANG EARTHQUAKE
ABSTRACT The September 30, 2009 Padang earthquake has resulted in damages to infrastructures and buildings and a death toll of 383 in Padang City. Numerous liquefaction and ground deformations caused by the earthquake were particularly evidence in the areas few kilometers from the coast. The paper presents results of the previous field geotechnical investigations of liquefaction potential and the recent liquefaction observations in Padang City. A microzonation map was created using the data from liquefaction potential analyses and liquefaction potential indexes. The predicted liquefaction susceptibility zones showed a good agreement with site observations. The assessment suggests that the liquefaction susceptibility decreases to the northeast away from the coastal line