RISET Geologi dan Pertambangan
Not a member yet
304 research outputs found
Sort by
Peningkatan Daya Serap Karbon Aktif Terhadap Ion Logam Hexavalent Chromium (CrVI) Melalui Modifikasi Dengan Cationic Surfactant (Ethylinediamine)
ABSTRAK Karbon aktif telah digunakan sebagai adsorban dalam pengolahan limbah cair industri dan terbukti mampu menyerap ion logam berat seperti Hg, Cu, Fe, namun kurang efektif terhadap ion logam hexavalent chromium (Cr.VI). Salah satu upaya peningkatan daya serap karbon aktif dapat dilakukan melalui modifikasi dengan cationic surfactant (Ethylinediamine, EDA), yakni dengan mengubah tegangan permukaan karbon aktif dari yang bersifat hydrophobic menjadi hydrophilic. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh prototip SMAC (Surfactant Modified Activated Carbon), yakni karbon aktif yang dimodifikasi dengan surfaktan, sehingga mempunyai daya serap tinggi terhadap ion logam hexavalent chromium (Cr.VI). Guna mencapai tujuan tersebut dilakukan treatment karbon aktif dari batubara dengan metoda batch. Parameter kimia dan fisika yang meliputi perubahan pH, suhu proses, waktu kontak, konsentrasi surfaktan dan berat karbon aktif digunakan sebagai parameter eksperimen. Mekanisme pembentukan prototip SMAC yang menyangkut karakteristik penyerapan diobservasi melalui analisis X-RD (X-Ray Diffractometer), FTIR (Fourier Transformer Infra Red), sedangkan daya serap terhadap ion logam hexavalent chromium (Cr.VI) diamati melalui analisis UV Spectrophotometry. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa peningkatan daya serap karbon aktif termodifikasi (SMAC) terhadap ion logam hexavalent chromium (CrVI) sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan karbon aktif biasa, dicapai pada kondisi pH 2, konsentrasi karbon aktif 5 g/liter dalam waktu kontak 2 jam
Sejarah Perkembangan Kota Semarang (Jawa Tengah) di Masa Lalu dan Dampak Kehadiran Polutan Nitrat Pada Airtanah di Masa Kini
ABSTRAK Sejarah perkembangan kota Semarang dimulai sejak abad ke-8 dengan mulai dibangunnya perkantoran dan permukiman tahun 1705 terpusat di kota yang saat ini terkenal dengan kota lama Semarang. Periode berikutnya meliputi pembangunan perkantoran, permukiman dan vila-vila yang cukup pesat tahun 1942-1976. Jumlah penduduk pada tahun 2010 akibat urbanisasi sebesar 1.527.433 jiwa, tingkat pertumbuhan penduduk 2,09% pertahun dengan kepadatan penduduk rata-rata 4.087 jiwa/km2. Permasalahannya apakah airtanah di kota Semarang, yang termasuk kota tua dan merupakan wilayah urban, telah mengalami kontaminasi nitrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian airtanah dangkal telah tercemari polutan nitrat dan tingginya nitrat tidak selalu berhubungan erat dengan umur permukiman dan kepadatan penduduk karena karakter litologi berperan sebagai penyerap atau meluluskan nitrat
Kontribusi Sumber Aliran pada Pembentukan Air Limpasan dari Lelehan dan Hujan Salju di Cekungan Hulu Kawakami, Jepang Tengah
ABSTRAK Penetapan sumber air yang berkontribusi dalam proses air larian sangat penting untuk mengkarakterisasi proses hidrologi di daerah beriklim sedang. Penelitian dilakukan terhadap pelelehan salju tanggal 28 Maret 2001 dan hujan pada salju tanggal 29 Maret 2001 di Kebun Penelitian Kawakami, Provinsi Nagano, Jepang bagian Tengah. Pengukuran parameter hidrometrik dan hidrokimia serta Analisis Percampuran Sumber Air (EMMA) menggunakan Ca2+ dan SO42-dilaksanakan untuk menentukan sifat dinamis dari jalur aliran air dan untuk menganalisis sumber air yang berkontribusi terhadap proses larian. Tiga sumber air yang meliputi air bumi dangkal di zona Riparian, air tanah di zona pelerengan, dan air bumi dalam di zona Riparian teridentifikasi sebagai sumber air utama dalam menentukan proses larian di DAS hulu berhutan wilayah Kawakami, masing-masing 55%, 23% dan 22% serta 73%, 12%, dan 15%. Analisis hidrometrik menunjukkan bahwa air larian bawah permukaan selama kejadian pelelehan salju dan hujan pada salju didominasi oleh aliran air bawah permukaan khususnya pada zona Riparian. Hal ini merupakan alasan mengapa air bumi dangkal di zona Riparian memiliki kontribusi terbesar pada kejadian larian. Puncak larian pada 28 Maret 2001 diidentifikasi saat pelelehan salju terjadi pada pukul 14.00 yang berkorelasi dengan suhu tertinggi. Sementara itu puncak larian pada kejadian hujan pada salju terjadi pukul 16.00 dimana jumlah hujan merupakan faktor penentu kejadian larian tersebut
Limbah Batubara Sebagai Pembenah Tanah dan Sumber Nutrisi: Studi Kasus Tanaman Bunga Matahari (Helianthus Annuus)
Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pemanfaatan limbah batubara sebagai pembenah tanah dan sumber nutrisi bagi tanaman bunga matahari (Helianthus Annuus). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah rasio limbah batubara (% berat) yang terdiri dari 6 (enam) perlakuan yaitu 0, 10, 20, 30, 40 dan 50%. Faktor kedua adalah dosis kompos yang terdiri dari 3 (tiga) perlakuan yaitu 0, 400 dan 800 gram/pot. Kedua faktor tersebut dikombinasikan sehingga diperoleh 18 perlakuan dengan dua kali ulangan sehingga terdapat 36 pot percobaan. Pengaruh perbedaan perlakuan pada percobaan diuji dengan uji ANOVA pada taraf 5%. Untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan pada masing-masing faktor, dilakukan uji jarak berganda Duncan, pada taraf ketelitian 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah batubara atau kompos pada tanah meningkatkan biomassa tanaman bunga matahari, namun bila keduanya dikombinasikan tidak berpengaruh terhadap biomassa tanaman. Penambahan limbah batubara 50% (% berat) atau kompos 800 g/pot menghasilkan biomassa tanaman bunga matahari tertinggi yaitu masing-masing sebesar 0,16 kg dan 0,14 kg bk (berat kering)
EARLY CRETACEOUS RADIOLARIANS IN MANGANESE CARBONATE NODULE FROM THE BARRU AREA, SOUTH SULAWESI, INDONESIA.
Abstract The Mesozoic basement complex in South Sulawesi, Indonesia, is exposed in two areas near Bantimala and Barru, known as the Bantimala Complex and the Barru Complex. The complexes consist of metamorphic, ultramafic and sedimentary rocks. Part of these rocks was chaotically mixed to form a mélange. Early Cretaceous (Valanginian to Barremian) radiolarians were extracted from manganese carbonate nodule embeded in dark reddish shale of the Barru Complex. Previously middle Cretaceous (late Albian to early Cenomanian) radiolarian assemblage was reported found in chert and siliceous shale of the Bantimala Complex.The hemipelagic dark reddish shale with manganese carbonate nodule of the Barru Complex are considered to have been deposited in Early Cretaceous time (Valanginian to Barremian) and accreted at the subduction trench during late Early Cretaceous (Aptian) time.Based on radiolarian data, it is considered that the Barru and Bantimala Complexes were not derived from single accretionary complex as previously regarded
NEW GEOCHEMICAL DATA OF ISLAND-ARC ORIGIN FOR SUMATERA: THE BENGKULU CASE.
ABSTRACT Sumatera is always recognized as margin of Eurasia continental plate, where the Indian oceanic plate is considered to be subducted beneath continental materials. The subduction system has produced volcanic or magmatic rocks on Sumatera at least since Cretaceous. Chemical analytical results of volcanic rocks in Bengkulu Province on major, trace and rare earth elements reveal that the volcanic rocks are derived from two different tectonic settings where the western side showing island-arc character and the eastern side represents an active continental margin (ACM). The island-arc group is characterized by lower ratio of (Ce/P)N varying between 1.1 to 2.4 and wider range of (P/Zr)N ratio varying from 1.0 to 1.7, while the ACM group show wider variation with (Ce/P)N ratio more than 3.4 and has narrower range of (P/Zr)N ranging from 0.3 to 0.6. The REE pattern of the island-arc in spider diagram shows steady decreasing in rock/chondrite ratio from La to Lu, while the ACM type is characterized by flat trend from Eu to Lu. The results suggest that it is not the whole Sumatera showing continent character, but it is island-arc in origin from Sumatera Fault Zone to the west and becomes ACM to the east
FASIES DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUAN KARBONAT FORMASI PARIGI DI DAERAH PALIMANAN, CIREBON
ABSTRAK Batuan karbonat Formasi Parigi tersingkap baik di Komplek Kromong daerah Palimanan, Cirebon dimana studi fasies karbonat ini dilakukan. Berdasarkan karakter fisik dan biota yang dikandungnya, batuan karbonat Komplek Kromong dapat dikelompokkan menjadi 7 fasies, yakni : (1) fasies boundstone, (2) fasies rudstone, (3) fasies cross bedded grainstone, (4) fasies foraminiferal packstone, (5) fasies algal-foram packstone, (6) fasies floatstone, dan (7) fasies thin bedded wackestone-packstone. Fasies boundstone dapat dibagi menjadi 2 subfasies yaitu subfasies bafflestone dan subfasies framestone. Lingkungan pengendapan Formasi Parigi diperkirakan diendapkan pada lingkungan reef front, reef crest, back reef, lagoon-surge chanel dan tidal flat-tidal chanel. Hasil analisis fosil foraminifera besar menunjukkan umur Formasi Parigi adalah Miosen Awal. Berdasarkan pada pola lingkungan pengendapan Formasi Parigi diinterpretasikan terumbu bagian depan berada di sebelah timur laut, sedangkan terumbu bagian belakang di bagian baratdaya
IMBUHAN BUATAN : SOLUSI UNTUK MENGATASI MASALAH KEKURANGAN AIRTANAH DI CEKUNGAN BANDUNG
ABSTRAK Analisa prospek penerapan imbuhan buatan menggunakan air cucuran atap untuk mengatasi permasalahan defisit airtanah di Cekungan Bandung dilakukan berdasarkan aspek kebutuhan, adanya sumber air dan adanya dukungan kebijakan. Penurunan muka airtanah yang terjadi di sebagian besar wilayah Cekungan Airtanah Bandung menandakan telah terjadinya pengambilan airtanah yang melebihi pengisian secara alamiah. Untuk airtanah dangkal, hampir di semua kawasan terbangun muka airtanah berada antara 3 m – 20 m dibawah muka tanah setempat sementara pada airtanah dalam, muka airtanah berada pada kedalaman antara 15 m - 91 m (bmt). Ini menandakan perlunya dilakukan pengimbuhan buatan. Sekitar 10,3% atau sekitar 17,324 ha wilayah Cekungan Bandung merupakan lahan terbangun. Dengan curah hujan monsoon sekitar 1350 mm/tahun akan terdapat 187 juta m3 air cucuran atap yang bisa diresapkan ke dalam tanah untuk menambah potensi airtanah di Cekungan Bandung. Penerapan imbuhan buatan juga didukung oleh perundang-undangan. Sudah ada tiga peraturan yang bisa diacu untuk menerapkan imbuhan buatan di Cekungan Bandung yaitu UU No. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air, PP No. 43 tahun 2008 tentang pengelolaan airtanah dan Perda Jawa Barat No. 16 tahun 2001 tentang airtanah
KERENTANAN DAN KAPASITAS RESPON MASYARAKAT KOTA PADANG TERHADAP BAHAYA TSUNAMI
Potential risk of a disaster can not be separated from the potential natural hazards and the vulnerability of the people residing within a region. Experts estimate is that Padang City is one of the city in Indonesia are threatened by the danger of the tsunami. Both the City and the community have been aware of the potential tsunami waves that threaten the city of Padang. Recently, a number of tsunami hazard early warning sirens have been installed at several locations at Padang, which will warn the people if there are a tsunami threat. This study aims to understand and map response capacity the people of Padang toward tsunami early warning system and their vulnerability by using questionnaires and focus group discussion methods. The results of this study show that the category of people response is still not enough for tsunami warning to be more effective, although it should be emphasized that on the other hand the people vulnerability has been low enough, when the survey conducted in Padang City in between 2007 until 2009.