Jurnal Agro Ekonomi
Not a member yet
80 research outputs found
Sort by
Sebuah Catatan Tentang Definisi Petani Besar dan Kecil
IndonesianArtikel ini menyuguhkan â⠡¬Ëœcara baruâ⠡‰ ¾Ã‚¢Ãƒ ¡Ãƒâ€šÃ‚ bagaimana membuat batasan usahatani â⠡¬Ëœbesarâ⠡‰ ¾Ã‚¢ dan â⠡¬Ëœkecilâ⠡‰ ¾Ã‚¢ sebagai usaha untuk memperbaiki â⠡¬Ëœcara lamaâ⠡‰ ¾Ã‚¢ (yang biasanya dipakai dengan mendasarkan diri pada batasan nilai tengah atau rata-rata luas usahatani). Model non linear regression di pakai pada cara baru tersebut dan hasilnya ternyata berbeda bila dibandingkan dengan cara lama. Keunggulan cara baru ini adalah mampu di pakai untuk memisahkan usahatani besar dan kecil secara lebih baik berdasarkan masing-masing teknologi yang ada pada kelompok usahatani tersebut dan berdasarkan distribusi luas usahatani yang ada. Sedangkan kelemahan cara baru ini adalah bila paket regresi non-linear belum tersedia di komputer di Indonesia, maka ia tidak dapat dikerjakan. Implikasi dari cara ini adalah pemberian batasan tentang petani atau usahatani besar dan kecil yang keliru akan menghasilkan implikasià ¡Ãƒâ€šÃ‚ kebijaksanaan yang keliru pula
The Role and Financial Analysis of Mini Coffee-Processing Units
There is no available abstract from the Print Editio
Usahatani, Sebagai Lapangan Pekerjaan dan Sumber Pendapatan Rumah Tangga: Studi Kasus Desa Rowosari, Kabupaten Kendal Jawa Tengah
IndonesianTingginya produktifitas tenaga kerja pada kegiatan usahatani, mendorong para pekerja lebih mengutamakan kegiatan pada usahatani, walaupun kesempatan kerja pada kegiatan ini relatif terbatas. Semakin luas garapan usahatani, semakin rendah partisipasi kerja anggota rumah tangga. Produktifitas tenaga kerja dipengaruhi oleh penguasaan atas faktor-faktor produksi modal dan atau keterampilan. Rumah tangga yang tidak menguasai faktor-faktor tersebut hanya mampu mengerjakan jenis-jenis kegiatan dengan produktifitas tenaga kerja yang lebih rendah
Efficiency Analysis of Rice Farming in Java 1977-1983
There is no available abstract from the Print Editio
Pengelolaan Daerah Tampung Way Rarem, Lampung Utara, Suatu Analisa Sosial Ekonomi
IndonesianKelestarian fungsi Waduk Way Rarem sangat bergantung pada tingkat erosi tanah dan debit air yang dihasilkan oleh daerah tampung. Oleh karena itu daerah tampung Way Rarem perlu dijaga kelestariannya supaya dapat berfungsi sebagai pengatur erosi tanah dan aliran air. Pengelolaan daerah tampung yang ditinjau dari segi sosial ekonomi bermanfaat dalam mengidentifikasi peubah sosial, ekonomi dan kependudukan yang berperan dalam proses perubahan tataguna lahan di daerah ini. Optimasi penggunaan sumberdaya lahan yang memperhatikan pembatas erosi tanah diperlukan dalam rangka meningkatkan manfaat sosial bagi pengelolaan daerah tampung. Analisa kualitatif, yang ditunjang oleh analisa korelasi non parametrika dipergunakan dalam rangka mengidentifikasi peubah sosial, ekonomi dan kependudukan yang berperan dalam proses perubahan tataguna lahan. Metode rancangan linier dipergunakan dalam analisa optimasi penggunaan sumberdaya lahan di daerah tampung. Dari hasil analisa sosial ekonomi didapatkan tiga peubah yang sangat menentukan perubahan tataguna lahan di daerah tampung, yaitu peubah sarana sosial ekonomi (X2), status hukum atas lahan (X4) dan kepadatan penduduk (X12). Hasil optimasi penggunaan sumberdaya lahan menunjukkan bahwa kegiatan penanaman kopi seluas 19.205 (63.7%), lada seluas 7644 (25.4%) dan reboisasi seluas 1.146 ha (3.8%); masih dapat menjamin umur pakai waduk sampai dengan 60 tahun. Keuntungan sosial yang didapat dari hasil optimasi tersebut adalah 16.4 milyar rupiah
Kebutuhan terhadap Penggunaan Traktor di Kabupaten Karawang Dihubungkan dengan Jadwal Irigasi
IndonesianPerbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan traktor di satu pihak dan dampak penggunaannya terhadap kesempatan kerja bagi buruh tani di pihak lain, merupakan ajang diskusi yang cukup menarik akhir-akhir ini. Dalam studi ini ditelaah kebutuhan mengenai penggunaan traktor di daerah Karawang dengan asumsi bahwa para petani harus mampu menyelesaikan pengolahan tanah sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh Panita Irigasi setempat. Pertama-tama dihitung berapa tenaga kerja yang tersedia di suatu wilayah, termasuk ternak. Kemudian dibuat model yang menggambarkan mobilitas tenaga kerja untuk pindah dari golongan yang satu ke golongan yang lain. Berdasarkan data itu dihitung, dengan menggunakan Rancangan Linier (Linear Programming), kebutuhan tenaga traktor di Karawang untuk masing-masing golongan irigasi. Ternyata bahwa tanpa traktor para petani tidak akan mampu menyelesaikan pengolahan tanah sesuai dengan jadwal. Karena itu untuk memungkinkan dilaksanakannya jadwal pengolahan tanah yang sesuai dengan jadwal irigasi, diperlukan tenaga traktor
Production Efficiency of Cauliflower (Brassica Oleracea Var. Botrytis) at Cirateun, West Java, Indonesia
There is no available abstract from the Print Editio
Pendapatan dan Kesempatan Kerja Buruh Migran di Mariuk dan Tambakdahan (Kabupaten Subang-Jawa Barat)
There is no available abstract from the Print Editio
Alokasi Produksi dan Distribusi yang Menuju Maksimisasi Keuntungan Pabrik Gula (Analisa Keadaan 1980)
IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari sejauh mana potensi-potensi pengembangan pabrik gula dalam rangka memberikan keuntungan maksimal sesuai dengan alokasi produksi dan distribusi yang optimal. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang meliputi data biaya produksi, biaya transportasi, sumber daya lahan serta kapasitas pabrik dari delapan propinsi di Indonesia, sedangkan untuk daerah konsumsi diwakili oleh pelabuhan-pelabuhan dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Pola alokasi produksi dan distribusi optimal diperoleh dengan mengkaitkan fungsi objektif dengan pembatas sumberdaya ialah lahan sawah yang tersedia untuk tanaman tebu di pulau Jawa dan lahan yang cocok untuk tanaman tebu di luar Jawa serta kapasitas giling dari masing-masing pabrik gula. Alokasi distribusi optimal dibatasi oleh jumlah produksi gula masing-masing propinsi produksi dan jumlah kebutuhan gula pada masing-masing pelabuhan konsumsi. Sebagai hasil penelitian dapat dikemukakan bahwa keuntungan maksimal yang sesuai dengan alokasi produksi dan distribusi yang optimal dengan tingkat harga yang terjadi pada tahun 1980 adalah Rp 645,507 juta. Tingkat harga domestik yang terjadi pada tahun 1980 adalah besarnya harga yang terjadi di pasar dunia ditambah dengan Subsidi pemerintah, sehingga apabila tingkat harga di pasar dunia yang berlaku di dalam negeri maka besarnya subsidi yang dapat dihemat adalah Rp 231 ,664 juta. Pola alokasi produksi optimal akan merubah alokasi produksi di masing-masing pabrik baik dalam penggunaan lahan maupun dalam jumlah produksinya. Pada umumnya pola alokasi produksi optimal menggunakan kapasitas pabrik yang maksimal, sehingga luas lahan yang terpakai disesuaikan dengan kebutuhan tebu untuk memenuhi kapasitas giling. Pola distribusi optimal juga akan merubah pola distribusi yang berlaku baik dalam jalur distribusinya maupun dalam volumenya. Secara umum pola distribusi adalah produksi propinsi produsen digunakan untuk kebutuhan propinsi produsen yang bersangkutan, barulah surplusnya disalurkan pada propinsi konsumsi
Skala Usaha pada Perkebunan Kelapa Sawit dan Implikasinya terhadap Pengembangan Perkebunan Rakyat
IndonesianInformasi mengenai keadaan skala usaha penting untuk pengambilan keputusan dan perumusan kebijaksanaan tetapi jumlahnya masih sedikit. Tulisan ini bertujuan menyajikan keadaan skala usaha perkebunan kelapa sawit di Sumatera Bagian Utara dengan menggunakan fungsi keuntungan sebagai alat analisa. Berdasarkan penelitian data yang tersedia perkebunan kelapa sawit di daerah ini ternyata dalam keadaan skala usaha dengan hasil bertambah. Tulisan ini juga menyodorkan implikasi dari hasil penelitian