Jurnal Agro Ekonomi
Not a member yet
    80 research outputs found

    Front Matter

    No full text

    Pendugaan Skala Usaha Usahatani Padi dengan Fungsi Biaya

    Full text link
    IndonesianPenelitian ini memfocuskan dalam penentuan skala usaha Usahatani Padi dalam jangka panjang, yaitu dengan menggunakan lahan sehingga peubah bebas. Data yang digunakan berasal dari tiga desa contoh Penelitian PATANAS (Panel Petani Nasional). Beberapa rumusan penting yang merupakan implikasi dari penelitian ini adalah: pertama, usahatani dengan luas garapan 0,69 ha masing-masing belum memberikan tingkat keuntungan yang optimal. Skala usaha masih berada dalam "Increasing return to Scale"; kedua, nilai lahan, upah tenaga kerja manusia dan upah tenaga ternak merupakan peubah yang paling berpengaruh terhadap biaya produksi; ketiga, adanya kecenderungan produk marginal pupuk (Urea dan TSP) yang menurun, dan keempat, perlunya pengembangan ternak dan alat mekanis pengolahan tanah (traktor) dalam menunjang peningkatan kebutuhan tenaga pengolah tanah

    Elastisitas Pendapatan dari Permintaan Beras Penduduk Indonesia

    No full text
    IndonesianPenelitian Houthakker menunjukkan bahwa di negara-negara yang pengeluaran totalnya rendah, permintaan bahan pangan kurang elastik terhadap pengeluaran total. Mengingat beras merupakan bahan pangan pokok yang utama bagià ¡Ãƒâ€šÃ‚  penduduk Indonesia, pengetahuan mengenai besarnya elastisitas pendapatan dari permintaan beras dapat digunakan sebagai bahan kebijaksanaan penyediaan beras bagi penduduk. Penelitian menggunakan data Susenas 1978, dan membagi penduduk Indonesia menurut tiga golongan berdasarkan konsumsi kalori dan 15 daerah, tujuh Daerah Pedesaan dan delapan Daerah Kota. Model yang digunakan ialah logaritma kuadratik, dengan pengeluaran total sebagai nilai pendekatan dari pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan beras kurang elastik terhadap perubahan pendapatan. Elastisitas kuantitas permintaan dan elastisitas anggaran belanja terhadap pendapatan bagi penduduk Pedesaan Indonesia golongan Pendapatan Rendah dan sebagian penduduk golongan Pendapatan Sedang dan Tinggi di Pedesaan Luar Jawa lebih besar dari 0.5, sedangkan golongan-golongan lainnya lebih rendah dari 0.5. Elastisitas pendapatan dari permintaan beras penduduk Daerah Pedesaan lebih tinggi daripada penduduk Kota, dan lebih tinggi pendapatan penduduk, lebih rendah elastisitas pendapatan permintaan beras. Elastisitas anggaran belanja beras terhadap pendapatan lebih tinggi daripada elastisitas kuantitas permintaan terhadap pendapatan. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan penduduk mengakibatkan peningkatan kuantitas dan kualitas beras yang dikonsumsi. Hasil penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan elastisitas permintaan beras di berbagai daerah itu dapat digunakan sebagai bahan kebijaksanaan penyediaan beras, disesuaikan dengan perbaikan taraf hidup dan pertambahan penduduk. Usaha penyediaan beras di berbagai daerah itu memerlukan suatu sistem penyediaan yang intensif, yaitu kelancaran distribusi dari daerah surplus beras ke daerah kekurangan beras

    Skala Usaha dan Efisiensi Ekonomi Relatif Usaha Ternak Ayam Petelur

    Full text link
    IndonesianSkala usaha dalam usaha ternak ayam merupakan topik dari penelitian ini. Dengan mengambil lokasi penelitian pada jalur lintas Jakarta-Bogor dan Sukabumi dan dengan sampel peternak dari berbagai skala usaha, telah dapat dirumuskan beberapa hal pokok. Pertama, biaya tenaga kerja dan makanan ternak berpengaruh negatif dan nyata pada tingkat keuntungan, sedangkan kenaikan investasi memberikan dampak yang sama. Kedua, antara pemilikan 500-15.000 ekor dengan rata-rata 1.600 ekor ternyata masih berada pada kondisi "increasing returns to scale". Ketiga, semakin besar skala usaha, semakin baik efisiensi ekonominya. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya penerapan azas konsolidasi dan dalam usaha pengadaan masukan ternak yang murah serta perlunya pelayanan kredit investasi yang lebih luas, terutama untuk peternak kecil

    Metode Peramalan Produksi Teh Berdasarkan Luas Areal Tanam Tahun Sebelumnya

    Full text link
    IndonesianPeramalan produksi di masa mendatang adalah sangat penting, sehubungan dengan perencanaan pembiayaan, pendapatan, pemasaran dan sebagainya. Tulisan ini mengajukan suatu metode peramalan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi seperti luas areal, iklim, jenis klon, tingkat kesuburan tanah, pemangkasan dan kegiatan perluasan/peremajaan dengan beberapa asumsi tertentu. Penerapan metode ini secara matematik telah dicobakan untuk meramalkan produksi teh. Hasilnya produksi teh Indonesia akan naik 0.96 persen per tahun dalam periode 1981-85. Pada periode yang sama diramalkan produksi teh rakyat, swasta dan PN/PT masing-masing naik 3.18 persen; 2.16 persen dan -0.32 persen

    Urea dan TSP di Indonesia dalam Analisis Permintaan Kuantitatif

    No full text
    IndonesianPola permintaan pupuk Urea dan TSP didekati dengan model-model ekonometrik yang mencari hubungan antara jumlah konsumsi pupuk Urea dan TSP dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pengetahuan yang baik mengenai faktor-faktor yang dapat memacu perluasan penggunaan pupuk beserta kendala-kendalanya akan berguna untuk mewujudkan pengembangan pemasaran pupuk yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irigasi merupakan faktor yang dominan dalam menerangkan keragaman permintaan pupuk Urea dan juga pupuk TSP. Di samping itu, faktor irigasi memiliki elastisitas permintaan yang tinggi, yang memungkinkannya menjadi peubah (variabel) kebijaksanaan yang efektif. Untuk permintaan pupuk Urea, kontribusi keragaman faktor irigasi tercatat 56.47 persen dengan nilai elastisitas permintaan 63 persen (model 3). Untuk permintaan pupuk TSP, kontribusi faktor irigasi tercatat 39.62 persen dengan nilai elastisitas permintaan 54 persen (model 2). Perbaikan dan perluasan areal irigasi akan memungkinkan peningkatan areal intensifikasi Bimas dan lnmas yang nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP. Faktor rasio harga pupuk terhadap harga padi, nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea dan TSP; demikian pula faktor tingkat pengetahuan teknis petani. Curah hujan musiman tidak nyata mempengaruhi permintaan pupuk Urea maupun pupuk TSP. Penelitian yang bersifat mikro dengan data primer disarankan dilakukan untuk melengkapi gambaran permintaan pupuk Urea dan TSP di Indonesia

    Analisis Fungsi Produksi Usahatani untuk Menunjang Pengembangan Daerah Aliran Sungai Cimanuk

    No full text
    IndonesianSekitar 43 persen dari total luas DAS Cimanuk telah dijadikan lahan sawah. Hampir 50 persen sawah tersebut berada pada selang ketinggian 0-50 meter dari muka laut, atau dapat juga dikatakan berada di DAS Cimanuk bagian hilir. Dari sawah seluas itu, 48.8 persen dapat diairi dua kali setahun, 41.6 persen satu kali setahun dan 9.6 persen tadah hujan (Dent et al, 1977). Dalam pada itu, jumlah dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan keterbatasan lahan pertanian telah menyebabkan nisbah lahan pertanian-orang sangat rendah. Selain langka dalam arti kuantitas, kelangkaan lahan di DAS Cimanuk terjadi pula dalam segi kualitas, yang tergambar dalam kemampuan lahan. Di DAS ini, lahan yang terluas adalah Kelas Kemampuan Lahan (KKL) III, IV, dan V, masing-masing seluas 25 persen, 30 persen dan 13 persen dari total area. KKL I tidak dijumpai dan KKL II hanya 0.04 persen dari total area. Total luas DAS Cimanuk adalah 400 705 ha. Dilatarbelakangi oleh keadaan itu, maka pertanyaan yang timbul adalah faktor-faktor apa saja yang strategis untuk ditangani agar dalam keterbatasan tersebut produksi pangan masih tetap dapat ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan pangan penduduk. Dalam menganalisa pertanyaan di atas digunakan tiga bentuk hubungan fungsi: (1) fungsi pangkat, (2) fungsi transcendental dan (3) fungsi inversi log-log. Data yang dianalisa terbagi dalam empat golongan: (1) DAS Cimanuk Agregat, (2) KKL III, (3) KKL IV dan (4) KKL V. Pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Nilai Korbanan Marginal digunakan untuk menguji tingkat alokasi masukan. Dari hasil penelitian ini diperoleh informasi bahwa model yang sesuai adalah model transcendental, dan masukan usahatani yang memberikan respon terpenting adalah: luas lahan garapan dan setelah itu pupuk anorganik. Jumlah penggunaan tenaga kerja sudah harus dikurangi. Pada KKL yang berbeda respon luas maupun pupuk berbeda pula. Pada KKL III, KKL IV, dan KKL V besaran respon luas garap pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.75, 0.53 dan 0.24; sedangkan respon pupuk anorganik pada masing-masing KKL tersebut adalah: 0.20, 0.16 dan 0.04. Selanjutnya, hasil pembandingan Nilai Produk Marginal dengan Biaya Korbanan Marginal menunjukkan bahwa usahatani sawah pada KKL V adalah tidak efisien, sedangkan pada KKL III dan IV penggunaan masukan masih perlu dikembangkan agar mencapai tingkat à ¡Ãƒâ€šÃ‚ optimal, kecuali untuk masukan tenaga kerja. Untuk dapat menangkap respon dari luas garapan yang cukup tinggi mungkin dapat dilakukan melalui peningkatan intensitas tanam. Hal tersebut dapat dilakukan apabila sistim irigasi yang tersedia memadai. Sedangkan untuk mengamankan irigasi dan melestarikan sumberdaya lahan dan air maka investasi dalam bidang konservasi sumberdaya lahan/tanah dan air di DAS Cimanuk bagian hulu sangat diperlukan

    Analisa Permintaan Pupuk Urea dan TSP di Tingkat Petani pada Usahatani Jagung

    Full text link
    IndonesianSalah satu cara untuk meningkatkan produktivitas per ha pada tanaman jagung adalah dengan pemakaian pupuk yang lebih intensif. Tulisan ini mencoba mengungkapkan mengenai penggunaan pupuk, produksi dan pendapatan pada usahatani jagung serta faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan pupuk (Urea dan TSP) pada usahatani jagung di tingkat petani, juga sekaligus menguji kecocokan alat analisa fungsi permintaan pupuk pada tingkat petani. Dari hasil analisa menunjukkan bahwa petani jagung di daerah penelitian telah menggunakan Urea, tetapi sebagian kecil petani yang menggunakan TSP dan semua petani contoh belum menggunakan pupuk K. Usahatani jagung di daerah penelitian menguntungkan, namun demikian produksi per ha masih dapat ditingkatkan dengan meningkatkan penggunaan pupuk P dan K. Melalui analisa fungsi permintaan langsung diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi besarnya permintaan pupuk adalah luas lahan garapan. Variabel lainnya seperti harga pupuk, biaya angkut, pengetahuan petani, varietas yang dipakai dan status penggarapan tidak berpengaruh secara nyata terhadap permintaan pupuk. Analisa permintaan pupuk di tingkat petani dengan menggunakan fungsi keuntungan UOP dan data primer tidak cocok. Diduga penyebabnya adalah tidak terpenuhinya syarat maksimisasi keuntungan pada usahatani yang dianalisa

    Evaluasi Ekonomik terhadap Usaha Pemanfaatan Air Tanah dalam Usahatani (Studi Kasus di Daerah Kediri-Nganjuk, Jawa Timur)

    Full text link
    IndonesianDalam menunjang program intensifikasi padi dan tanaman pangan lainnya, pemerintah melakukan rehabilitasi prasarana pengairan maupun pengembangan sumber-sumber air baru. Salah satu sumber air yang telah mulai dikembangkan pemanfaatannya ialah air tanah. Tulisan ini membahas evaluasi ekonomik terhadap proyek pemanfaatan air tanah yang didasarkan atas hasil penelitian di daerah Kediri- Nganjuk, Jawa Timur. Analisa ditekankan pada telaahan perubahan yang terjadi dalam pola pertanaman, intensitas pertanaman, penggunaan sarana produksi, produksi dan pendapatan. Selain itu dilakukan analisa kelayakan dengan menggunakan kriteria investasi RMB dan TIP dari segi pandangan finansial maupun ekonomik. Dari hasil penelitian ini diperoleh petunjuk yang mantap bahwa pemanfaatan air tanah dengan menggunakan pompa merupakan salah satu alternatif yang layak dalam perluasan areal maupun peningkatan produksi pangan

    Skenario Goal Programming dalam Perencanaan Pola Tanam Petani: Kasus Daerah Balung Kabupaten Jember

    Full text link
    IndonesianOrientasi petani-petani dengan sumberdaya yang sangat terbatas padanya adalah usaha pemenuhan sekumpulan tujuan-tujuan yang diinginkannya. Masing-masing spesifikasi tujuan mempunyai prioritas yang berbeda, tergantung pada perilaku petani sendiri. Dengan demikian, keputusan yang diambilnyapun akan sangat terbatas pula. Dasar pemikiran tersebut memberikan signal bahwa pengambilan keputusan menurut perilaku ekonomi ortodoks tidaklah seirama lagi dengan permasalahannya. Berangkat dari kenyataan tersebut, penelitian ini mencoba melangkah dengan metodologi "Linear Goal Programming" (LGP) untuk menolong problematika yang kompleks di atas dengan karakterisasi tujuan berganda. Optimasi perancangan meliputi beberapa skenario optimal berdasarkan kemungkinan perubahan tingkat harga-harga keluaran. Penelitian dilakukan di daerah WKBPP Balung Kabupaten Jember pada lahan sawah usahatani musim tanam MH 1979 dan MK 1980. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sumberdaya pertanian di daerah penelitian belum menunjukkan skema yang optimal. Belum diambilnya kesempatan skema pola pertanaman yang optimal tersebut dalam banyak hal disebabkan oleh belum teradopsinya beberapa tehnik produksi usahatani oleh petani-petani. Faktor tenaga kerja keluarga dan modal terlihat merupakan restriksi yang ketat, walaupun terjadi kemungkinan adanya perubahan harga-harga keluaran. Dilain pihak, walaupun penguasaan lahan usahatani sangat terbatas, namun kebutuhan konsumsi pokok keluarga terhadap padi/beras masih dapat dijangkau. Hal yang sangat menarik adalah perilaku petani-petani yang cenderung menjual hasil produksi padinya andaikan harga padi cenderung meningkat. Sampai pada batas-batas tertentu, perubahan harga-harga keluaran dapat memacu perubahan pemilihan skema optimal pola bertanam, dan kemungkinan-kemungkinan tersebut masih memperlihatkan belum dapat dipenuhinya semua tujuan petani

    70

    full texts

    80

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro Ekonomi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇