Jurnal Agro Ekonomi
Not a member yet
    80 research outputs found

    Kepuasan Petani terhadap Pilihan Lembaga Pemasaran Karet di Kabupaten Kuantan Singingi

    Full text link
    EnglishThere are two types of rubber marketing institutions in Gunung Toar and Kuantan Mudik, namely conventional and auction. Farmers who use the auction system are members of The Kuantan Singingi Rubber Farmer Association. The choice of marketing institution is determined by some factors, includes the farmer’s satisfaction. The research aims to analyze the level of farmer satisfaction with the choice of marketing institutions in Kuantan Singingi Regency, both auction and conventional systems, using the Customer Satisfaction Index (CSI) and to know the satisfaction attributes that need to be improved and maintained by using the Importance Performance Analysis (IPA). The CSI analysis showed that all farmer participants were satisfied both with the auction system (102 farmers) and with the conventional marketing system. The IPA analysis found that the attributes that need to be improved for the auction marketing system is agribusiness enterprise, whereas the variable that need to be maintained is source of human and technological information. Meanwhile for the conventional marketing system, the variables that need to be improved are organization and agribusiness enterprises, whereas the variable that need to be maintained is technology information. IndonesianLembaga pemasaran karet di Kecamatan Gunung Toar dan Kuantan Mudik terdapat dua jenis yaitu konvensional dan lelang. Petani yang menggunakan sistem lelang tergabung dalam Asosiasi Petani Karet Kuantan Singingi. Pemilihan lembaga pemasaran ini dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya yaitu tingkat kepuasaan petani itu sendiri. Untuk itu tujuan penelitian adalahmenganalisis tingkat kepuasan petani terhadap pilihan lembaga pemasarannya baik sistem lelang ataupun konvensional di Kabupaten Kuantan Singingi menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI)dan mengidentifikasi atribut kepuasan yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan dengan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Teknik pengambilan contoh yang digunakan pada masing-masing lembaga pemasaran adalah acak sederhana dengan jumlah sampel 195 orang. Hasil analisis CSI menunjukkan bahwa seluruh petani peserta lelang (102 orang) maupun peserta pemasaran konvensional (93 orang) menyatakan sangat puas. Hasil IPA menunjukkan atribut yang perlu ditingkatkan di lembaga pemasaran lelang adalah variabel usaha agribisnis, sedangkan yang perlu dipertahankan adalah variabel variabel sumber daya manusia dan teknologi informasi. Untuk lembaga pemasaran konvensional atribut yang perlu ditingkatkan yaitu variabel organisasi dan usaha agribisnis, sedangkan atribut yang perlu dipertahankan yaitu variabel teknologi informasi

    Mapping of the Potential Economic Sectors of Rengat Peatland

    Full text link
    IndonesianPengembangan spesialisasi ekonomi berdasarkan kondisi lahan saat ini sangat penting karena dapat mendukung ekonomi dan melestarikan ekosistem lahan. Spesialisasi dalam suatu bidang ekonomi akan menghasilkan penciptaan merek atau ciri khas suatu produk atau komoditi suatu daerah, yang akan meningkatkan nilai jual dan daya tawar pasar. Salah satu persoalan yang menyebabkan rusaknya fungsi ekosistem lahan gambut adalah pemilihan komoditas atau sektor ekonomi yang kurang tepat dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesialisasi komoditas lahan gambut di Kabupaten Rengat Provinsi Riau. Metode AHP dan Borda Count Method digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan temuan perhitungan AHP dan Borda, setiap desa atau kecamatan sampel yang diteliti memiliki komoditas dan sektor ekonomi tertentu yang berpotensi untuk dikembangkan di lahan gambut. Metode ini juga mengungkapkan bahwa jagung merupakan komoditas yang paling menjanjikan untuk dikembangkan di lahan gambut di Kecamatan Rengat, dengan luas tanam terbanyak di Desa Rawa Bangun. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dan indikator kebijakan pemerintah dalam pengembangan ekonomi lahan gambut di Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. EnglishThe development of economic specialization based on current regional land conditions is crucial because it can both support the economy and preserve land ecosystems. Specialization in an economic field will result in the creation of a brand or characteristic of a product or commodity of an area, which would increase the market\u27s selling value and bargaining power. One of the issues causing damage to the peat ecosystem\u27s function is the inappropriate selection of commodities or economic sectors being developed. The purpose of this study was to ascertain the specialization of peatland commodities in Rengat District, Riau Province. The AHP and Borda Count Method methods were used in this study. According to the findings of AHP and Borda calculations, each sample village or district studied has certain commodities and economic sectors that have the potential to be developed on peatlands. This method also revealed that maize is the most promising commodity to be developed on peatlands in Rengat District, with the most planted area in Rawa Bangun Village. The findings of this study are expected to serve as a reference and indicator for government policies on peatland economic development in Rengat District, Indragiri Hulu Regency, Riau Province

    Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Smartphone oleh Petani Padi Sawah di Kota Padang Sidimpuan Provinsi Sumatera Utara

    Full text link
    IndonesianPemanfaatan smartphone oleh petani dalam mengembangkan usaha di bidang pertanian kini sudah merupakan praktik biasa di Indonesia. Petani padi sawah menggunakan smartphone sebagai media informasi, edukasi dan hiburan.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku determinan penerimaan teknologi terhadap penggunaan smartphone oleh petani padi sawah. Penelitian dilakukan dengan mempergunakan pendekatan Model Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model). Analisis jalus dilakukan dengan mempergunakan model persamaan structural yang diduga dengan metode partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan smartphone berpengaruh positif terhadap kegunaan dan sikap menggunakan smartphone, dan sikap menggunakan berpengaruh positif terhadap perilaku menggunakan smartphone, serta perilaku menggunakan smartphone berpengaruh positif terhadap penggunaan smartphone sesungguhnya. Intervensi mendorong petani kecil untuk menggunakan smartphone terutama untuk kegiatan usahatani berdampak positif pada hasil usahatani. EnglishThe use of smartphones by farmers in developing businesses in the agricultural sector is needed in accessing agricultural information. Most farmers have used smartphones as a medium of information, education and entertainment. To find out the factors that influence the use of smartphones using the technology acceptance method. This study aims to (1) determine the characteristics of farmers (2) to determine the technology acceptance model of smartphone use. The data used are primary and secondary data, processed using descriptive analysis, and partial least squares (PLS). The results of this study are (1) the characteristics of farmers, namely smartphone ownership, gender, age, education, land area, experience, income, production, duration, quota, smartphone shop, family support. (2) the perception of ease is significant to the perception of usefulness, the perception of convenience is significant to the attitude, the attitude is significant to the behavior, the factors that have a significant influence on the perception of the convenience, the factors that have a significant influence on the attitude, the factors that have a significant influence on the actual use and significant behavior towards actual use

    Peranan dan Kebijakan Pendukung Sektor Peternakan sebagai Leading Sector dalam Perekonomian Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    EnglishThe agricultural sector is not yet the primary source of economic growth, although it contributes greatly to the Gross Regional Domestic Product and employment in the economy of East Nusa Tenggara. The study aims to analyze the role of the agricultural sector and formulate policy proposals to streamline the livestock sector as the leading sector in East Nusa Tenggara. The study was conducted from May to November 2021. The analysis method used is the East Nusa Tenggara Input-Output Table in 2020 which was updated from the East Nusa Tenggara Input-Output Table in 2017. The results of the analysis show that the livestock sector contributes greatly to the supply of goods and services derived from domestic production and has a large role in the formation of output. The livestock sector also has a great ability to drive output growth in its upstream and downstream sectors. Thus, the livestock sector is categorized as a leading sector that is needed in the sustainable economic development of East Nusa Tenggara. The development of the livestock sector is a very strategic choice with the improvement of the beef cattle production system to increase productivity and accessibility of business financing. IndonesianSektor pertanian belum menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi, meskipun sektor tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan penyerapan tenaga kerja dalam perekonomian Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian bertujuan untuk menganalisis peranan sektor pertanian dan merumuskan usulan kebijakan untuk mengefektifkan sektor peternakan sebagai leading sector di NTT. Ruang lingkup penelitian mencakup perekonomian NTT. Penelitian dilakukan pada Mei hingga November 2021. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif pada Tabel Input-Ouput (I-O) NTT tahun 2020 klasifikasi 38 sektor dari pembaruan Tabel I-O NTT tahun 2017 klasifikasi 52. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor peternakan berkontribusi besar terhadap penawaran barang dan jasa yang berasal dari produksi domestik serta memiliki peranan besar dalam pembentukan output dan nilai tambah bruto. Sektor peternakan memiliki kemampuan yang besar untuk menarik pertumbuhan output sektor yang menyediakan output untuk digunakan sebagai input produksi oleh sektor tersebut dan mendorong pertumbuhan output sektor yang menggunakan input produksi dari sektor tersebut. Dengan demikian, sektor peternakan dikategorikan sebagai leading sector yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi NTT yang berkelanjutan. Pengambil Kebijakan perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif karena peluang investasi di sektor pertanian cukup besar. Dalam kondisi dana pembangunan yang dimiliki pemerintah terbatas maka pengembangan sektor peternakan merupakan pilihan yang sangat strategis dengan perbaikan sistem produksi peternakan sapi potong sebagai upaya peningkatan produktivitas dan aksesibilitas pembiayaan usaha untuk mengefektifkan sektor peternakan sebagai leading sector

    Efisiensi Usaha Tani Bawang Merah di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur

    Full text link
    EnglishShallot productivity in East Nusa Tenggara Province (NTT) in 2021 reached 7.17 tons/ha, below the national average productivity of 10.16 tons/ha. One of the regencies in NTT that contributes to shallot production is Manggarai with a production center, namely Reok District. Shallot production in Reok in 2021 compared to the previous year decreased by 58.84%. To develop shallots in Manggarai, it is necessary to know the factors that affect shallot farming through the level of technical efficiency, allocative efficiency, and economic efficiency. This study was conducted in Reok, involving 50 respondents and using the Cobb-Douglass frontier stochastic production function through two stages of approach methods, namely Ordinary Leas Square and Maximization Likelihood Estimation. Based on the analysis result, the average technical efficiency reached 81.27% with influential variables being seeds, fertilizers, and labor. In addition, allocative efficiency reached 38.57% and economic efficiency reached 29.08%. Technically, the onion farming business has been efficient, but the level of allocative and economic efficiency of the onion farming business is included in the inefficient category. Therefore, it is necessary to have the availability of production inputs such as seeds and fertilizers with the appropriate amount, time, and price so that farmers can increase efficiency. IndonesianProduktivitas bawang merah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 2021 mencapai 7,17 ton/ha, keadaan tersebut berada di bawah rata-rata produktivitas nasional 10,16 ton/ha. Salah satu kabupaten di NTT yang berkontribusi terhadap produksi bawang merah adalah Kabupaten Manggarai dengan sentra produksi di Kecamatan Reok. Produksi bawang merah di Kecamatan Reok pada tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya mengalami penurunan sebesar 58,84%. Sebagai upaya dalam pengembangan bawang merah di Kabupaten Manggarai maka perlu diketahui faktor-faktor yang memengaruhi usaha tani bawang merah melalui tingkat efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomi. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Reok, dengan melibatkan 50 orang responden, data dianalisis menggunakan fungsi produksi stochastic frontier Cobb-Douglass melalui dua tahap metode pendekatan yaitu Ordinary Least Square dan Maximization Likelihood Estimation. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rata-rata efisiensi teknis mencapai 81,27% dengan variabel yang berpengaruh adalah bibit, pupuk, dan tenaga kerja. Efisiensi alokatif mencapai 38,57% dan efisiensi ekonomi mencapai 29,08%. Secara teknis usaha tani bawang merah telah efisien, namun tingkat efisiensi alokatif dan ekonomi dari usaha tani bawang merah masuk dalam kategori tidak efisien. Oleh karena itu, diperlukan ketersediaan input produksi seperti bibit dan pupuk dengan jumlah, waktu, dan harga yang sesuai agar petani mampu meningkatkan efisiensi

    Analisis Pengembangan Industri Prioritas Daerah Berbasis Komoditas Pertanian Unggulan di Kabupaten Bogor

    Full text link
    EnglishThe industrial sector is the largest contributor to GRDP and investment value in Bogor Regency. In addition, Bogor Regency has potential natural resources in the agricultural sector. However, the provision of competitive agricultural products is less than optimal. This study aims to analyze the types of priority industries that are worth developing based on leading agricultural commodities as industrial raw materials in Bogor Regency. The type of data used is agricultural commodity production data for Bogor Regency and West Java Province in 2019-2022, as well as regulations on the industrial and agricultural sectors. LQ, SSA and Klassen typology analysis to analyze leading agricultural commodities. Determination of priority industry types by looking at the industrial tree and national and provincial industrial policies. The results showed that priority industries based on leading agricultural commodities that are feasible to develop in Bogor Regency are: granulated composite flour, yam starch, bioethanol, livestock feed, canned fruit/vegetable, fruit/vegetable layer, cosmetics, vitamin C, various processed food industries based on organic coffee, essential oil, herbal/natural product, and various processed fish industries. The results of the analysis also show that the determination of priority industries must be located in sub-districts that are centers of leading agricultural commodities. IndonesianSektor industri merupakan penyumbang PDRB dan nilai investasi terbesar di Kabupaten Bogor. Selain itu, Kabupaten Bogor memiliki sumber daya alam sektor pertanian yang sangat potensial. Namun, penyediaan produk hasil pertanian yang berdaya saing kurang optimalPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis industri prioritas yang layak dikembangkan berdasarkan komoditas pertanian unggulan sebagai bahan baku industri di Kabupaten Bogor. Jenis data yang digunakan berupa data produksi komoditas pertanian Kabupaten Bogor dan Provinsi Jawa Barat tahun 2019-2022, serta regulasi sektor perindustrian dan pertanian. Analisis LQ, SSA, dan tipologi klassen untuk mengetahui komoditas pertanian unggulan. Penentuan jenis industri prioritas dengan melihat pohon industri dan kebijakan industri nasional dan provinsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industri prioritas berbasis komoditas pertanian unggulan yang layak dikembangkan di Kabupaten Bogor yaitu industri tepung granulated composite flour, industri pati ubi, industri bioethanol, industri pakan ternak, industri buah/sayuran dalam kaleng, industri fruit/vegetable layer, industri kosmetik, industri vitamin C, industri aneka pangan olahan berbasis kopi organik, industri minyak atsiri, industri produk herbal/natural, dan industri aneka olahan ikan. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa penentuan industri prioritas harus berlokasi pada kecamatan yang merupakan sentra komoditas pertanian unggulan

    Mitigasi Risiko Rantai Pasok Sari Nanas Berbasis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kabupaten Kediri

    Full text link
    EnglishKediri Regency is the largest pineapple producer in East Java. There are various risks faced by each actor in the pineapple supply chain. Asan example, during a long dry season its production decreases that makes Micro, Small, and Medium Enterprise (MSME) of pineapple juice processing face difficulty in obtaining raw materials. The research aims to analyze risk events and risk-causing factors and formulate mitigation measures using the House of Risk (HOR) method. The HOR method was chosen because it has a framework that covers the entire analysis in risk management. The risks faced by actors in the pineapple supply chain in pineapple juice processing MSMEs in Kediri Regency are caused by risk factors including low rainfall, limited supply from collectors, decreased harvest quantity, expensive pineapple prices, fermented products, and workers who are less compliant to Standard Operation and Procedure protocol. Risk mitigation strategies for the pineapple supply chain include that the MSMEs and the wholesaler buy pineapples from other collectors who are still in Ngancar District, fertilizing using the watering technique, look for pineapple supplies from outside Ngancar District, and keep the cleanliness and sterility of the equipment used and that the pineapple farmers to use fertigation technique. IndonesianKabupaten Kediri merupakan penghasil nanas terbesar di Jawa Timur. Terdapat berbagai risiko yang dihadapi oleh setiap pelaku dalam rantai pasok nanas. Sebagai contoh, saat terjadi kemarau panjang produksi nanas menurun sehingga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolahan sari nenas kesulitan memperoleh bahan baku yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian risiko dan faktor-faktor penyebab risiko serta merumuskan tindakan mitigasinya. Metode analisis yang digunakan adalah house of risk. Metode ini dipilih karena memiliki kerangka kerja yang mencakup keseluruhan analisis dalam manajemen risiko. Penelitian menemukan bahwa risiko yang dihadapi oleh pelaku dalam rantai pasok nanas UMKM pengolah sari nanas di Kabupaten Kediri disebabkan oleh faktor-faktor risiko antara lain curah hujan yang rendah, pasokan dari pengepul terbatas, kuantitas panen menurun, harga nanas mahal, produk mengalami fermentasi, dan pekerja yang kurang mematuhi protokol Standar Operasi Prosedur. Strategi mitigasi risiko rantai pasok nanas yang dapat meningatkan resiliensi antara lain UMKM dan pedagang besar dapat membeli nanas dari pengepul lain yang masih berada di Kecamatan Ngancar, pengadaan pasokan nanas dari daerah lain, dan melakukan kontrol kebersihan serta kesterilan alat yang digunakan, serta petani melakukan pemupukan dengan teknik kocor

    Efisiensi Teknis Usaha Tani Bawang Merah Petani Milenial di Kabupaten Bantul

    Full text link
    EnglishThe expansion of land area presents challenges for agriculture, including the formation of tech-savvy farmer groups and the rejuvenation of millennial farmers. Research focusing on millennial farmers is pivotal for ensuring the sector\u27s future sustainability. Emphasizing technical efficiency and income is crucial to discern factors influencing productivity and economic sustainability. This study investigates production factors, technical efficiency, sources of inefficiency, and income levels in shallot farming by millennial farmers in Bantul Regency. Conducted across Sanden, Imogiri, and Kretek with 85 respondents, the study employed the census method. Data analysis utilized the stochastic production function model and Maximum Likelihood Estimation (MLE) via Frontier 4.1, complemented by the T test using SPSS 20. Findings revealed positive impacts of seeds, pesticides, and land area on shallot production, with human labor exerting a negative influence. Average technical efficiencies were 0.839 (first season) and 0.930 (second season). Farmers adopting technology in tillage, engaging in counseling, owning land, using advanced irrigation, and digitally marketing products demonstrated higher efficiency, affecting farming income. Policy implications underscore the necessity of enhancing technology access, extension services, and digital marketing for millennial farmers, supported by continuous governmental technological assistance and training to sustain shallot farming in Bantul Regency. IndonesianPeningkatan luas lahan menyebabkan sektor pertanian menghadapi berbagai tantangan, termasuk pembentukan kelompok tani yang mengadopsi teknologi dan inovasi serta regenerasi petani milenial. Penelitian usaha tani oleh petani milenial menjadi sangat penting karena mereka merupakan kunci keberlanjutan sektor pertanian pada masa depan. Fokus pada efisiensi teknis dan pendapatan diperlukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas dan keberlanjutan ekonomi usaha tani mereka. Penelitian ini bertujuan mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi produksi, tingkat efisiensi teknis, sumber inefisiensi teknis, dan tingkat pendapatan usaha tani bawang merah oleh petani milenial di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan di tiga kecamatan di Kabupaten Bantul, yaitu Sanden, Imogiri, dan Kretek, dengan 85 responden (47 petani penerima bantuan dan 38 petani nonpenerima bantuan) menggunakan metode sensus. Analisis data dilakukan dengan model fungsi produksi stokastik dan metode maximum likelihood estimation (MLE) menggunakan program frontier 4.1, serta uji T menggunakan SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berpengaruh positif terhadap produksi bawang merah adalah benih, pestisida, dan luas lahan, sementara variabel negatif adalah tenaga kerja manusia. Rata-rata tingkat efisiensi teknis petani adalah 0,839 (musim tanam pertama) dan 0,930 (musim tanam kedua). Petani yang menggunakan teknologi dalam pengolahan tanah, sering mengikuti penyuluhan, memiliki lahan sendiri, menggunakan teknologi irigasi, dan memasarkan hasil usaha taninya secara digital cenderung lebih efisien. Pendapatan usaha tani juga dipengaruhi faktor-faktor tersebut. Implikasi kebijakan menunjukkan pentingnya peningkatan akses teknologi dan penyuluhan bagi petani milenial serta pengembangan pemasaran digital untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan. Dukungan pemerintah dalam bentuk bantuan teknologi dan pelatihan berkelanjutan sangat diperlukan untuk mencapai efisiensi dan keberlanjutan usaha tani bawang merah di Kabupaten Bantul

    Profitabilitas Usaha Tani Bawang Putih pada Berbagai Tingkat Efisiensi di Kecamatan Sembalun

    Full text link
    EnglishAchievement of efficiency is important in increasing production and farming profits. Efficiency shows the potential production and the ability to use inputs at minimum cost. The research aims to study the potential for increasing the profits of garlic farming in Sembalun District, East Lombok Regency, through efficiency. Data were collected using random and purposive sampling methods through direct observation and interviews with 80 farmers. The data was analyzed using the stochastic frontier production function of the Cobb-Douglas model and the dual cost function derived from it. The results showed that the technical, allocative, and economic efficiency values were 0.714; 0.690; and 0.493 respectively. Garlic farming has been technically efficient, but not allocatively and economically efficient, hence maximum profits has not been obtained. The average garlic production of 13,149 kg can generate profits worth IDR22,983,487 (profitability of 25%). The potential for increasing farming profits through achievement of efficiency is very large that it is worthy to pursue. The factors that significantly influenced the technical efficiency were EBI and farmers experience. Achievement of farm efficiency can be done through production optimization, namely by increasing labor, organic and inorganic fertilizers, and mulch, or cost minimization by reducing the use of seeds and pesticides. IndonesianPencapaian efisiensi sangat penting dalam peningkatan produksi dan keuntungan usaha tani. Efisiensi menggambarkan produksi potensial, serta kemampuan untuk menggunakan input dengan biaya minimum. Penelitian bertujuan untuk menganalisis potensi peningkatan keuntungan usaha tani bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, melalui pencapaian efisiensi. Data dikumpulkan menggunakan metode random dan purposive sampling melalui observasi langsung dan wawancara terhadap 80 orang petani. Data dianalisis menggunakan fungsi produksi stochastic frontier model cobb-douglas dan fungsi biaya dual yang diturunkan darinya. Hasil analisis menunjukkan nilai efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi sebesar 0,714; 0,690; dan 0,493. Artinya usaha tani bawang putih di Kecamatan Sembalun telah efisien secara teknis namun belum efisien secara alokatif dan ekonomi sehingga keuntungan maksimum belum diperoleh. Rata-rata produksi bawang putih sebesar 13.149 kg dapat menghasilkan keuntungan senilai Rp22.983.487 (profitabilitas 25%). Potensi peningkatan keuntungan usaha tani melalui pencapaian efisiensi sangat besar sehingga relevan untuk diupayakan. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap efisiensi teknis yaitu indeks perilaku kewirausahaan dan pengalaman. Pencapaian efisiensi usaha tani dapat dilakukan melalui optimasi produksi, yaitu dengan menambah tenaga kerja, pupuk organik dan anorganik, serta mulsa, atau meminimalkan biaya dengan mengurangi penggunaan bibit dan pestisida

    Pengaruh Indeks Kewirausahaan dan Preferensi Risiko Produksi terhadap Pendapatan Petani Tebu di Kabupaten Malang

    Full text link
    EnglishSugarcane is one of the important commodities in the Indonesian economy which is responsible for the income of thousands of sugar cane farmers in Indonesia. However, sugarcane production tends to fluctuate every year. An understanding of the cognitive characteristics of farmers is very important in the formulation of sugarcane development policy. This study aims to analyze the entrepreneurial capacity and preferences of farmers in facing risks, as well as their effect on income. The research was conducted in Malang Regency, one of the sugarcane production center in Indonesia. To analyze entrepreneurial capacity, the Method Successive Interval (MSI) method was first used to convert ordinal data into interval data, that was then transformed into an index value, while risk preferences were analyzed using the Just and Pope model. The effect of the entrepreneurial index and risk preference on income was analyzed by regression analysis. The results show that the average value of the entrepreneurial index in each aspect is high and makes sugarcane farmers in Malang Regency included in the farmers with moderate and high levels of entrepreneurship, while the risk preferences of farmers 77.86% are risk averse. This finding also indicates that there is a positive and significant influence between the entrepreneurial index and risk preference on income. Therefore, efforts to increase the frequency of counseling, training, and technology dissemination related to sugar cane farming are important to be made as top priority. Extension workers\u27 understanding of agricultural entrepreneurship also needs to be improved. IndonesianTebu menjadi salah satu komoditas perkebunan yang penting dalam perekonomian Indonesia yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan ribuan petani tebu di Indonesia. Namun demikian produksi tebu cenderung mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Pemahaman tentang sifat kognitif petani sangat penting dalam perumusan kebijakan pengembangan komoditas tebu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas kewirausahaan dan preferensi petani dalam menghadapi risiko, serta pengaruhnya terhadap pendapatan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Malang, salah satu sentra produksi tebu di Indonesia. Untuk menganalisis kapasitas kewirausahaan digunakan metode MSI terlebih dahulu untuk mengubah data ordinal menjadi data interval, kemudian akan ditransformasikan menjadi nilai indeks, sedangkan preferensi risiko dianalisis dengan Just and Pope model. Selanjutnya, untuk mengetahui pengaruh indeks kewirausahaan dan preferensi risiko terhadap pendapatan digunakan analisis regresi. Hasil analisis menunjukkan nilai rata-rata indeks kewirausahaan pada masing-masing aspek tinggi, dan menjadikan petani tebu di Kabupaten Malang termasuk kedalam petani dengan tingkat wirausaha sedang dan tinggi, sedangkan preferensi risiko petani sebesar 77,86% merupakan petani risk averse. Temuan ini juga mengindikasikan adanya pengaruh positif dan signifikan antara indeks kewirausahaan dan preferensi risiko terhadap pendapatan. Karena itu, upaya peningkatan frekuensi penyuluhan, pelatihan dan diseminasi teknologi terkait usaha tani tebu penting untuk dijadikan prioritas utama. Pemahaman penyuluh terkait kewirausahaan pertanian juga perlu untuk ditingkatkan

    70

    full texts

    80

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro Ekonomi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇