Jurnal Agro Ekonomi
Not a member yet
80 research outputs found
Sort by
Kesediaan Peternak Membayar Premi Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah
EnglishHigh risk in cattle business encourages the government to carry out risk management through cattle insurance program (AUTS/K). This policy is implemented by subsidizing the premium and is expected to increase cattle production and farmer’s welfare. However, farmer’s participation in the program is low. This study aims to determine the cattle’s farmers willingness to pay for the cattle insurance and identifying its determinant factors. This research was conducted from May to June 2022 in Wonogiri regency. The data was obtained by interviewing 50 cattle farmers consisting of three group: a group of cattle farmers who participated for 5 years; 3 years and then stopped; and only one year and then stopped. This study used a Contingent Valuation Method in estimating the cattle farmer’s willingness to pay. The various factor that influence the farmer’s willingness to pay were analyzed by using the ordinary least square regression. This study found that the willingness to pay by cattle farmers who have been participating in cattle insurance in the last 5 years were IDR 76,000 or 18% higher than government stipulation (20% or IDR 40.000/cow/year). The cattle farmers who participated for 3 years and then stopped were willing to pay premium at IDR 44,000 or 2% higher than government stipulation (20% or IDR 40.000/cow/year). The farmers who participated for only 1 year and then stopped were willing to pay IDR 26,000. Education, experience in cattle business, household income, and the risk of landslide were positively affecting the farmers’ willingness to pay. However, age showed negative effect toward the farmer’s willingness to pay. Therefore, the government can increase farmers\u27 willingness to pay by targeting farmers who have higher education, younger and have off-farm income.
IndonesianRisiko tinggi dalam usaha ternak sapi mendorong pemerintah untuk melakukan manajemen risiko melalui program Asuransi Usaha Ternak dengan memberikan subsidi premi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesediaan dan faktor-faktor yang memengaruhi peternak untuk membayar asuransi usaha ternak sapi (AUTS). Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Wonogiri pada bulan Mei hingga Juni 2022. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan 50 responden yang dipilih secara acak dengan tiga kategori yaitu peternak yang mengikuti AUTS selama 5 tahun, 3 tahun dan berhenti, serta 1 tahun dan berhenti. Kesediaan membayar dihitung dengan contingent valuation method sedangkan faktor-faktor berpengaruhdianalisis menggunakan regresi sederhana. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata peternak bersedia membayar premi sebesar Rp76.000 untuk peserta terdaftar 5 tahun; Rp44.000 untuk peserta terdaftar 3 tahun dan berhenti, dan Rp26.000 untuk peserta yang terdaftar 1 tahun dan berhenti. Faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan membayar premi asuransi yaitu umur, pendidikan, pengalaman beternak, pendapatan rumah tangga, dan risiko terjadi tanah longsor. Pemerintah dapat meningkatkan kesediaan membayar peternak dengan menargetkan kepada peternak yang menempuh pendidikan lebih tinggi, masih berusia muda, dan memiliki penghasilan di luar usaha tani
Performa Rantai Pasok dan Strategi Pengembangan Manggis Tujuan Ekspor di Kabupaten Bogor
EnglishBogor Regency is an important mangosteen production centre in West Java. However, the supply chain for this commodity still needs help related to the low percentage of export-quality mangosteen in the downstream section. In addition, several upstream problems require an appropriate commodity development strategy. This study aims to analyze the performance of the supply chain and the strategic plan for developing mangosteen for export in Bogor Regency. Supply chain performance describes as the performance and efficiency of the mangosteen supply chain using the Food Supply Chain Network (FSCN) framework, marketing margins, farmer\u27s share, and profit-cost ratio. Meanwhile, the commodity development strategy is determined using the Strengths, Weaknesses, Opportunities, Treats (SWOT) method. The results of the analysis show the performance of the mangosteen supply chain consisting of channel-1 (farmers - small collectors - wholesalers - exporters) and channel-2 (farmers - wholesalers - exporters). Quantitative supply chain performance shows that channel-2 is more efficient than channel-1. The marketing margin and profit-cost ratio are efficient. Meanwhile, the farmer\u27s share still needs to be more efficient. An ideal mangosteen development strategy uses an alternative SO (Strength Opportunity) approach through intensification and improving the quality of export destination mangosteen commodities.
IndonesianKabupaten Bogor merupakan sentra produksi manggis yang penting dan terus berkembang di Jawa Barat. Beberapa rumah kemas dibangun di wilayah ini untuk peningkatan kelancaran distribusi komoditas. Akan tetapi, rantai pasok komoditas ini masih memiliki kendala terkait rendahnya proporsi manggis kualitas ekspor di bagian hilir. Selain itu, beberapa permasalahan hulu terkait budi daya manggis yang tidak optimal dan lahan petani yang sempit memerlukan strategi pengembangan komoditas yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis performa rantai pasok dan strategi rencana pengembangan komoditas manggis tujuan ekspor di Kabupaten Bogor. Performa rantai pasok diuraikan melalui performa dan efisiensi rantai pasok manggis menggunakan kerangka Food Supply Chain Network (FSCN), margin pemasaran, farmer’s share dan rasio keuntungan-biaya. Sementara itu, strategi pengembangan komoditas ditentukan menggunakan metode Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats (SWOT). Hasil analisis menunjukkan performa rantai pasok manggis terdiri dari saluran-1 (petani - pedagang pengumpul kecil - pedagang pengumpul besar - eksportir) dan saluran-2 (petani - pedagang pengumpul besar - eksportir). Performa rantai pasok secara kuantitatif menunjukkan bahwa saluran-2 lebih efisien dibandingkan saluran-1 karena memiliki rantai pasok yang lebih pendek. Parameter margin pemasaran dan rasio keuntungan-biaya termasuk efisien. Sementara itu, bagian yang diterima petani pada seluruh saluran pemasaran sebesar 22,4-33% dan masih belum efisien. Oleh karena itu, upaya fasilitasi diperlukan dalam penentuan harga yang lebih adil terhadap petani. Hasil analisis juga memperlihatkan bahwa strategi pengembangan manggis yang lebih ideal menggunakan alternatif pendekatan SO (Strength Opportunity) melalui intensifikasi dan perbaikan kualitas komoditas manggis tujuan ekspor
Analisis Efisiensi Produksi Usaha Tani Sagu di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau
EnglishThis study aimed to find out the income of sago farming and analyze the production efficiency of sago farming with Data Envelopment Analysis (DEA). The average sago farming income is IDR 112.487.440 per harvested area per harvest rotation, IDR 56.243.720 per year, IDR 4.686.977 per month and IDR 1.654.227 per hectare per month. The results showed that sago farmers in Tebing Tinggi Timur tended to overuse production factors. The production efficiency analysis concluded the following: technical efficiency in sago farming is mostly inefficient because there is excessive use of inputs, most sago farmers are not allocatively efficient because they have not been able to combine inputs with input prices to achieve optimal output and most sago farmers are economically inefficient. This shows that they have not been able to use inputs efficiently, so that production is not optimal and profits are not maximized. Overall, most sago farmers are still not technically, allocatively and economically efficient. To increase the efficiency of sago farming, the following are needed: counseling on good cultivation techniques, policy to control input and output prices by providing subsidies for farmers on input costs, especially labor costs, strengthening farmer groups and innovation in processed products.
IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usaha tani sagu dan menganalisis efisiensi produksi usaha tani sagu dengan metode data envelopment analysis (DEA). Rata-rata pendapatan usaha tani sagu di Kecamatan Tebing Tinggi Timur sebesar Rp112.487.440 per luas panen per rotasi panen, Rp56.243.720 per tahun, Rp4.686.976,70 per bulan serta Rp1.654.227,06 per hektare per bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani sagu di Kecamatan Tebing Tinggi Timur cenderung menggunakan faktor produksi secara berlebihan. Analisis efisiensi produksi menyimpulkan sebagai berikut: efisiensi teknis pada usaha tani sagu sebagian besar tidak efisien karena terdapat penggunaan input yang berlebihan, sebagian besar petani sagu tidak efisien secara alokatif karena mereka belum mampu mengkombinasikan input dengan harga input untuk mencapai output yang optimal dan sebagian besar petani sagu tidak efisien secara ekonomis. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum mampu menggunakan input secara efisien sehingga produksi yang dihasilkan tidak optimal dan keuntungan belum maksimal. Secara keseluruhan, sebagian besar petani sagu belum efisien secara teknis, alokatif, dan ekonomis. Untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sagu, diperlukan penyuluhan tentang teknik budi daya yang baik serta pengendalian harga input dan output dengan pemberian subsidi pada biaya input pada petani sagu khususnya biaya upah tenaga kerja, penguatan kelompok tani sagu, dan inovasi produk olahan sagu
Analisis Keberlanjutan Sistem Usaha Tani Integrasi Kelapa Sawit Rakyat dengan Ternak Sapi Potong di Provinsi Riau
EnglishCrop-livestock integrated farming is commonly considered a feasible choice to develop sustainable agriculture. The adoption of the integrated agricultural techniques, oil palm-cattle farming, is determined by economic, social, and environmental conditions. It is essential to examine the performance of the integrated oil palm-cattle farming system that has long been promoted in Indonesia. Data was collected from purposively selected 165 integrated farmers and 135 non-integrated farmers in February-June 2021 in five regencies. The Sustainable Value Added approach was used to evaluate the condition of oil palm-cattle integration, with the average value of non-integrated that had reached efficiency as a benchmark. The results suggest that integrated oil palm-cattle farming in Riau Province has an average negative sustainability value, indicating that the value of benefits generated has not been able to cover the opportunity cost of the resources used (management of family labor and provision of fertilizer). Resources will be more productive if managed by benchmark farming. The number of workers in the household has a negative influence on farming sustainability, whereas technical efficiency, oil palm plantation area, nitrogen residue, cattle production, and the price of fresh fruit bunches have a positive and significant impact. The number of farm household workers should be considered when oil palm and cattle integration is applied.
IndonesianSistem integrasi tanaman-ternak dianggap merupakan salah satu alternatif dalam membangun pertanian berkelanjutan. Adanya petani yang mengadopsi praktik pertanian terintegrasi, khususnya perkebunan kelapa sawit rakyat dengan ternak sapi, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pengembangan usaha tani integrasi kelapa sawit-sapi yang telah berlangsung perlu dievaluasi khususnya pada keberhasilan usaha tani dalam mengelola dan menciptakan nilai manfaat dari sumber daya yang digunakan. Penelitian dilaksanakan di lima kabupaten di Provinsi Riau dari Februari hingga Juni 2021. Keberlanjutan usaha tani integrasi kelapa sawit-sapi dianalisis dengan pendekatan Sustainable Value Added (SVA), dengan menggunakan rata-rata nilai dari usaha tani nonintegrasi yang telah mencapai efisiensi sebagai benchmark. Hasil analisis menunjukkan, keberlanjutan usaha tani integrasi kelapa sawit-sapi di Provinsi Riau memiliki rata-rata nilai keberlanjutan negatif, yang artinya nilai manfaat yang diciptakan belum mampu menutupi opportunity cost dari sumber daya yang digunakan (pengelolaan tenaga kerja keluarga dan penyediaan pupuk). Sumber daya akan lebih produktif apabila dikelola oleh usaha tani benchmark. Efisiensi teknis, luas kebun kelapa sawit, residu nitrogen, produksi sapi, dan harga tandan buah segar memberi dampak positif dan signifikan terhadap keberlanjutan usaha tani, sedangkan jumlah tenaga kerja dalam rumah tangga memberikan dampak negatif. Introduksi integrasi kelapa sawit-ternak sapi hendaknya memperhatikan jumlah tenaga kerja rumah tangga petani
Strategi Brand Loyalty Obat Herbal Unggas dalam Pencegahan Resistensi Antimikrobia di Wilayah Bogor
EnglishDemands for antibiotic resistance control require farmers in Indonesia to stop using antibiotics. One alternative to the use of antibiotics is herbs that have properties for poultry health. This study aims to obtain a brand loyalty strategy for herbal products in poultry as an effort by veterinary pharmaceutical companies to support the prevention of antimicrobial resistance in Bogor. Five expert respondents in this field were involved in determining the right priority strategy in achieving the goal of loyalty of farmers to continue using herbal products. Strategy aspects include aspects of competitiveness, customer satisfaction, trust, and education. Furthermore, the four strategies are related to the 7P factor which includes aspects of place, price, promotion, people, physical evidence, and product. The Analytical Network Process method was used in analyzing this research and in-depth interviews with experts were used to validate the results of this study. The managerial implications in this study are that veterinary pharmaceutical companies pay attention to and choose the main strategic priorities, namely prioritizing the analysis of similar competitors, tangibility, product certification by registering herbal products in quality standardization, and the publication of herbal products by participating in the writing of magazines, books, and scientific journals.
IndonesianTuntutan akan pengendalian resistensi antibiotik mengharuskan peternak di Indonesia untuk menghentikan penggunaan antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dosis dan terus menerus akan menyebabkan resistensi, penyakit tidak terobati, dan berakibat pada penyakit Antimicrobia Resistence (AMR) bagi konsumen. Salah satu alternatif pengunaan antibiotik adalah herbal yang memiliki khasiat bagi kesehatan unggas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh strategi brand loyalty produk herbal pada unggas sebagai upaya perusahaan farmasi hewan dalam mendukung pencegahan resistensi antimikrobia di Wilayah Bogor. Lima responden ahli dalam bidang ini dilibatkan untuk menentukan strategi prioritas yang tepat dalam mencapai tujuan loyalitas peternak untuk tetap memakai produk herbal. Aspek strategi meliputi aspek daya saing, kepuasan pelanggan, kepercayaan, dan edukasi. Selanjutnya keempat strategi tersebut dihubungkan dengan faktor 7P yang meliputi aspek place, price, promotion, people, physical evidence, dan product. Metode Analytical Network Process digunakan dalam menganalisis penelitian ini dan interviu mendalam dengan para pakar digunakan untuk validasi hasil penelitian ini. Implikasi manajerial pada penelitian ini ialah perusahaan farmasi hewan memerhatikan dan memilih prioritas strategi utama yaitu mengutamakan analisis pesaing sejenis, peningkatan tangibility, peningkatan sertifikasi produk dengan mendaftarkan produk herbal dalam standardisasi mutu, dan peningkatan publikasi produk herbal dengan cara keikutsertaan dalam penulisan majalah, buku, maupun jurnal ilmiah
Kesediaan Membayar dari Petani Skala Kecil terhadap Pupuk Bersubsidi: Studi Kasus di Kabupaten Jember, Jawa Timur
EnglishJember Regency, as center of agriculture, especially rice in East Java, also experienced problems related to the distribution of subsidised fertilizer. In 2022, there was an increase in the ceiling retail price of subsidized fertilizers, which increased by IDR 300-450 per kilogram, which has implications for the price of subsidized fertilizers to increase. The increase in subsidized fertilizer prices caused many small-scale farmers not to fertilize on time and in the right amount, which resulted in a decrease in rice production for small-scale farmers. Small-scale farmers may think that the fertilizer price increase is not in line with their ability to pay.AccordinglyThis study aimed to analyze the willingness to pay small-scale rice farmers for subsidized fertilizers. Data were collected from 60 small-scale farmers through interviews using a questionnaire in June-September 2022 in Jember Regency, East Java Province. The method used in this study is the WTP/Contingent Valuation Method analysis. The analysis results showed that small-scale farmers\u27 willingness to pay for subsidized fertilizers (Urea and NPK) is still below their ceiling retail price. Small-scale farmers are willing to pay more for subsidized fertilizer if there is a change in price and an increase in farmer income. This study suggests that the government re-set the highest retail price of subsidized fertilizers by adjusting to the willingness to pay of farmers, especially small-scale farmers.IndonesianKabupaten Jember sebagai salah satu sentra pertanian khususnya padi di Jawa Timur juga mengalami permasalahan terkait pendistribusian pupuk bersubsidi. Tahun 2022 terdapat kenaikan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi yang naik Rp300-450 per kg yang berimplikasi terhadap harga pupuk bersubsidi mengalami peningkatan. Peningkatan harga pupuk bersubsidi menyebabkan banyak petani skala kecil yang tidak melakukan pemupukan secara tepat waktu dan tepat jumlah yang berakibat terhadap penurunan produksi padi petani skala kecil. Petani kecil beranggapan bahwa kenaikan harga tersebut tidak sesuai dengan kemampuan membayar mereka. Berdasarkan hal tersebut, perlu diteliti apakah sudah sesuai dengan kesediaan membayar dari petani khususnya petani skala kecil. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis besaran kesediaan membayar petani padi skala kecil terhadap pupuk bersubsidi. Data dikumpulkan dari 60 petani skala kecil melalui wawancara menggunakan kuesioner pada bulan Juni-September 2022 di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis WTP/Contingent Valuation Method. Hasil analisis menunjukkan bahwa kesediaan membayar pupuk bersubsidi (urea dan NPK) oleh petani skala kecil masih di bawah harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi tersebut. Petani skala kecil bersedia membayar lebih tinggi terhadap pupuk bersubsidi jika terdapat perubahan harga dan peningkatan pendapatan petani. Penelitian ini menyarankan pemerintah untuk menetapkan kembali harga eceran tertinggi terhadap pupuk bersubsidi dengan cara menyesuaikan dengan kesediaan membayar petani khususnya petani skala kecil
Economic Feasibility and Performance of Biogas Production From Cacao Waste
IndonesianDalam mencapai target konsumsi energi terbarukan, Indonesia dapat memanfaatkan bioenergi. Biogas adalah bentuk energi terbarukan dan sektor bisnis berkelanjutan yang dapat menyediakan alternatif energi untuk aktivitas konsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi produksi biogas eksperimental dari kulit cangkang buah kakao (CPH) dan 2) mengukur kelayakan ekonominya. Sampel CPH dikumpulkan dari kelompok petani di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Sampel tersebut dianalisis di laboratorium untuk mendapatkan hasil eksperimental potensi produksi biogas. Kemudian, hasil eksperimental dikategorikan ke dalam 6 skenario berdasarkan jumlah CPH dan ukuran reaktor biogas. Pada penelitian ini, net present value dan internal rate of return digunakan untuk menentukan kelayakan ekonomi dari skenario produksi biogas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biogas dari limbah kakao di Dusun Gambiran saat ini tidak layak, tetapi skenario VI dengan kapasitas reaktor 8 m3 adalah layak karena CPH tambahan dan limbah kakao lainnya dapat dikumpulkan dari kecamatan sekitarnya. Oleh karena itu, kelayakan ekonomi biogas dari CPH juga dapat bervariasi tergantung pada bahan organik, lokasi, dan ukuran reaktor.
EnglishTo achieve the renewable energy consumption target, Indonesia can utilize bioenergy. Biogas is a form of renewable energy and a sustainable business sector that can provide energy alternative for consumption activities. This study aims to evaluate techno-economic feasibility of the experimental biogas production from cacao pod husk (CPH). The CPH sample was collected from a farmer group in Patuk Sub-district, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia. The sample was analyzed in the laboratory to obtain the experimental results of potential biogas production. Then, the experimental results are categorized into 6 scenarios according to the amount of CPH and biogas reactor size. Meanwhile, net present value and internal rate of return were used to determine the economic feasibility of biogas production scenarios. Results showed that biogas from cacao waste in Gambiran Hamlet is currently not feasible, but scenario VI with the reactor sized 8 m3 is feasible as additional CPH and other cacao waste can be gathered from nearby sub-districts. Hence, the economic feasibility of biogas from CPH may also vary according to organic materials, locations, and reactor size
Integrasi Pasar Biji Kakao Indonesia dengan Pasar Dunia
EnglishIndonesia is one of the largest producers and exporters of cocoa in the world. Dependence on the export market causes the price of Indonesian cocoa beans to fluctuate following price changes in the world market. The study aims to analyze market integration of cocoa beans in various markets, namely Indonesia, competing producing countries (Côte d\u27Ivoire and Ghana) and three major importing countries (Netherlands, Germany and Malaysia). The data used monthly price data January 2010 to December 2019. The cocoa bean markets integration was analyzed using the Johansen cointegration approach utilizing the Vector Error Correction Model (VECM). Results show a long-run integration between prices at Indonesian, competing producing countries, and major importing countries. In the short-run, Indonesia current domestic price was influenced by the previous month cocoa bean price of Indonesia and the Netherlands. The Granger causality test showed that Malaysia’s price causes Indonesia’s price. The Indonesian cocoa price did not have two-way causality either the competitor and the importing markets. The cocoa price linkage between the Indonesia and international markets was weak. Therefore, efforts are needed to smooth out the information on price changes in order to form an efficient market integration.
IndonesianIndonesia merupakan salah satu negara produsen dan eksportir kakao terbesar di dunia. Ketergantungan terhadap pasar ekspor menyebabkan harga biji kakao Indonesia berfluktuasi mengikuti perubahan harga di pasar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pasar biji kakao di berbagai pasar yakni Indonesia, negara pesaing dan importir pesaing. Data yang digunakan adalah data harga bulanan periode Januari 2010 hingga Desember 2019. Integrasi pasar biji kakao dianalisis dengan pendekatan kointegrasi Johansen menggunakan Vector Error Correction Model (VECM). Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan jangka pajang antara harga Indonesia, negara eksportir pesaing dan negara importir utama. Harga Indonesia dalam jangka pendek dipengaruhi oleh harga Indonesia sendiri dan harga Belanda satu bulan sebelumnya. Uji kausalitas Granger menunjukkan bahwa harga Malaysia mempengaruhi harga Indonesia. Harga biji kakao Indonesia tidak memiliki hubungan timbal balik dengan pasar pesaing dan importir. Keterkaitan harga biji kakao di pasar Indonesia dengan pasar internasional tidak kuat. Oleh karena itu, diperlukan upaya kelancaran informasi perubahan harga agar terbentuk integrasi pasar yang efisien
Pengaruh Usaha Kambing Perah dalam Mengurangi Kerentanan Rumah Tangga Petani
EnglishFarm households are a group of people who are vulnerable to natural changes and economic fluctuations. Especially unstable income because the distance between planting and harvesting is quite long and harvesting results are not always good depending on natural conditions. Other alternative sources of income are needed to suppress the economic vulnerability of farmer households. Dairy goat business development is expected to overcome this problem because it generates daily income from milk. This study aims to determine the level of vulnerability and the effect of dairy goat business in suppressing the vulnerability of farmer households. The research was carried out from April to June 2021, located in Turi District, Sleman Regency, DIY as one of the centers for dairy goat milk production in the Special Region of Yogyakarta. The method to measure the level of vulnerability is PLS-PM and the method to determine the role of the dairy goat business in suppressing households is by ordinal logit regression. The results showed that most of the farming households that kept dairy goats had moderate vulnerability. Dairy goat business is able to reduce household vulnerability through the production of milk produced. The amount of milk production obtained provides an opportunity for households to be very vulnerable, which is 0.765 times smaller than the opportunity for households not to be vulnerable, and the opportunity for moderately vulnerable households is 0.851 times less than that of non-vulnerable ones. There are other factors that can reduce the vulnerability of farmer households, namely farmer education (head of household). To increase added value, farmers should diversify goat\u27s milk products. The government is advised to introduce a dairy goat business to farmers in areas that have suitable natural resources because the milk production obtained can reduce household vulnerability.
IndonesianRumah tangga petani merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap perubahan alam dan fluktuasi ekonomi, terutama tidak stabilnya pendapatan karena jarak tanam dengan jarak panen cukup lama dan hasil penen tidak selalu bagus tergantung dengan kondisi alam. Diperlukan alternatif sumber nafkah lain untuk menekan kerentanan ekonomi rumah tangga petani. Pengembangan usaha kambing perah diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut karena menghasilkan pendapatan harian dari susu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan dan pengaruh usaha kambing perah dalam menekan kerentanan rumah tangga petani. Penelitian dilaksanakan pada April hingga Juni 2021 yang berlokasi di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu sentra produksi susu kambing perah di DIY. Metode untuk mengukur tingkat kerentanan adalah PLS-PM dan metode untuk mengetahui peran usaha kambing perah dalam menekan kerentanan ekonomi rumah tangga adalah dengan Regresi Ordinal Logit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga petani yang memelihara kambing perah memiliki kerentanan sedang. Usaha kambing perah mampu menekan kerentanan rumah tangga melalui produksi susu yang dihasilkan. Banyaknya produksi susu yang didapat memberikan peluang rumah tangga untuk sangat rentan adalah 0,765 kali lebih kecil dibanding dengan peluang rumah tangga untuk tidak rentan, dan peluang untuk rentan sedang adalah 0,851 lebih kecil dibanding tidak rentan. Terdapat faktor lain yang mampu menekan kerentanan rumah tangga petani yaitu pendidikan petani (kepala keluarga). Untuk meningkatkan nilai tambah petani sebaiknya melakukan diversifikasi produk olahan susu kambing. Pemerintah disarankan mengenalkan usaha kambing perah pada petani di wilayah-wilayah yang memiliki sumeber daya alam yang cocok karena produksi susu yang didapat mampu menekan kerentanan rumah tangga