Jurnal Agro Ekonomi
Not a member yet
80 research outputs found
Sort by
Technical Efficiency and Income Level of Sugarcane Farming in Pati Regency
IndonesianDefisit produksi gula dalam negeri antara lain disebabkan oleh rendahnya produktivitas usaha tani tebu. Peningkatan efisiensi teknis dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi teknis usaha tani tebu dengan metode MLE stochastic frontier production function. Data primer diperoleh dari 61 contoh yang dipilih secara acak dari populasi petani tebu di pabrik gula Pakis Baru dan Trangkil di Kabupaten Pati pada April-Mei 2018. Analisis menunjukkan bahwa efisiensi teknis dan pendapatan usaha tani tebu dengan sistem benih baru lebih tinggi daripada dengan sistem kepras. Penggunaan pupuk kimia sudah berlebihan. Keanggotaan kelompok tani berdampak signifikan dalam meningkatkan inefisiensi pada sistem benih baru, sedangkan keanggotaan dalam koperasi berpengaruh signifikan dalam menurunkan inefisiensi pada sistem benih baru. Jumlah anggota keluarga berpengaruh signifikan dalam mengurangi inefisiensi teknis sistem kepras. Efisiensi teknis dan pendapatan usaha tani tebu dapat ditingkatkan melalui optimasi penggunaan sarana produksi dengan mematuhi rekomendasi pabrik mitra dan pemerintah, khususnya penggunaan pupuk sesuai dosis rekomendasi dan penggantian ratun yang sudah berumur tiga tahun dengan benih baru bermutu tinggi sesuai agroekosistem spesifik lokasi. Untuk itu, penyediaan layanan penyuluhan yang efektif merupakan syarat keharusan.
EnglishDomestic sugar production deficit is partly caused low productivity of sugarcane farming. Improving technical efficiency may increase farm productivity and income. The study aims to analyze the sugarcane farming technical efficiency by using the stochastic frontier production function. The primary data were obtained from 61 randomly selected samples of sugarcane farmers population of the Pakis Baru and Trangkil sugar factories in Pati Regency in April-May 2018. The study shows that the sugarcane farming technical efficiency and income of the new sugarcane seed system is higher than the ratoon system. Chemical fertilizers have been over used. Farmer group membership significantly increases inefficiency of the new sugarcane seed system, while the cooperative membership significantly decreases inefficiency of the new sugarcane seed system. Family member significantly decreases technical inefficiency of the ratoon system. Technical efficiency and farmers’ income can be improved by allocating production inputs in efficient manner based on the recommendations of partner Sugar Factory and Government, of in particular, fertilizer utilizations according to the recommended dosages and replacement of the already three years ratoon seeds with new high-quality seeds in accordance with the local agroecosystem condition. To this end, provision of an effective extension service is imperative
KERENTANAN DAN ADAPTASI RUMAH TANGGA PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
EnglishFarmer households are considered vulnerable to climate change because they depend on uncertain natural conditions. Regional economy and majority of people in the Gunungkidul Regency rely on their livelihoods from food crops. This study aims to identify adaptation strategies of farmer households and to analyze their vulnerability due to climate change in three villages in Gunungkidul Regency. This study uses an explanatory sequential mixed method design (quantitative-qualitative). Livelihood vulnerability analysis uses quantitative analysis with the Livelihood Vulnerability Index (LVI), while adaptation analysis is carried out qualitatively using the Sustainable Livelihoods Approach (SLA). The results showed that Pucanganom Village (south zone) was the most vulnerable to climate change with a value of LVI 0.352, while Bendung Village (north zone) 0.333 and Gedangrejo Village (middle zone) 0.346. The adaptation strategies of farmer households in each village consist of: (1) agricultural intensification and extensification, i.e. by applying climate adaptation technology, five agricultural farms systems, and integrated farming systems; (2) diversification strategy by carrying out food stocks, processing agricultural products, trade and service sectors, liquidating assets, loans or debt, and remittances; and (3) migration strategy by doing non-permanent migration, i.e. looking for side jobs outside the region, becoming seasonal laborers, and also permanent migration.
IndonesianRumah tangga petani dianggap rentan terhadap perubahan iklim, karena sangat bergantung pada kondisi alam yang tidak menentu. Perekonomian wilayah dan sebagian besar masyarakat di Kabupaten Gunungkidul menggantungkan sumber penghidupannya pada sektor pertanian tanaman pangan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis kerentanan dan mengidentifikasi strategi adaptasi rumah tangga petani akibat perubahan iklim di tiga desa di Kabupaten Gunungkidul. Rancangan metode yang digunakan adalah campuran sekuensial eksplanatori (kuantitatif-kualitatif). Analisis kerentanan penghidupan menggunakan analisis kuantitatif dengan penghitungan Livelihood Vulnerability Index (LVI), sedangkan untuk menganalisis adaptasi dilakukan secara kualitatif menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Desa Pucanganom (zona selatan) paling rentan terhadap perubahan iklim dengan nilai LVI 0,352 sedangkan nilai untuk Desa Bendung (zona utara) 0,333 dan Desa Gedangrejo (zona tengah) 0,346. Strategi adaptasi rumah tangga petani pada masing-masing desa adalah (1) intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian, yaitu dengan penerapan teknologi adaptasi iklim, panca usaha tani dan sistem pertanian terpadu, (2) diversifikasi dengan melakukan stok pangan, pengolahan hasil pertanian, sektor perdagangan dan jasa, pencairan aset, pinjaman atau utang dan kiriman uang, dan (3) migrasi dengan melakukan migrasi nonpermanen, yaitu mencari pekerjaan sampingan di luar daerah dan menjadi buruh musiman, maupun migrasi permanen dengan merantau
DAMPAK STANDAR KEBERLANJUTAN TERHADAP PENDAPATAN USAHA TANI KOPI: KASUS PROGRAM CAFE PRACTICES DI KABUPATEN ENREKANG
EnglishThe Coffee and Farmer Equity (CAFE) Practices is a sustainable coffee farming and handling program initiated by Starbucks Coffee Company. The CAFE Practices program offers economic benefits through increased coffee productivity and quality, better market access, and higher coffee prices. The program, however, potentially increases the production costs needed to implement better cultivation practices according to the CAFE Practices protocol. This study aims to analyze the impact of CAFE Practices program on coffee farming income in Enrekang Regency, and to track down the income impact pathways. This study used primary data from 200 coffee farmers in Enrekang Regency. The data were analyzed using the Propensity Score Matching method. The results showed that the CAFE Practices participating farmers had 18.55% higher farm income than non-CAFE Practices farmers. The change in the CAFE Practices participating farmers was due to increasing farm productivity by 16.66%, increasing production costs by 24.38%, and increasing selling prices by 2.95%. CAFE Practices farmers should be able to maintain or increase their coffee productivity and quality in order to continue to receive high incomes. They also need financial support from the government and/or Starbucks to meet the higher cost of implementing the CAFE Practices program.
IndonesianCoffee and Farmer Equity (CAFE) Practices adalah program standar budi daya dan penanganan kopi berkelanjutan yang diinisiasi oleh Starbucks Coffee Company. Di satu sisi, penerapan Program CAFE Practices menawarkan keuntungan ekonomi melalui peningkatan produktivitas dan kualitas kopi, akses pasar yang lebih baik, dan harga kopi yang lebih tinggi. Di sisi lain, penerapan program juga berpotensi meningkatkan biaya produksi yang dibutuhkan untuk menerapkan praktik budi daya yang lebih baik sesuai protokol CAFE Practices. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak Program CAFE Practices terhadap pendapatan usaha tani kopi di Kabupaten Enrekang, serta menganalisis perubahan komponen pendapatan yang merupakan jalur dampak perubahan pendapatan tersebut. Penelitian menggunakan data primer dari 200 petani kopi di Kabupaten Enrekang yang dikumpulkan pada bulan Juli–Agustus 2021. Data dianalisis dengan metode Propensity Score Matching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kopi yang berpartisipasi dalam Program CAFE Practices memperoleh pendapatan usaha tani 18,55% lebih tinggi dibandingkan petani yang tidak berpartisipasi. Perubahan pendapatan disebabkan oleh peningkatan produktivitas kopi sebesar 16,66%, peningkatan biaya produksi sebesar 24,38%, dan peningkatan harga jual kopi sebesar 2,95%. Petani yang berpartisipasi dalam Program CAFE Practices harus dapat mempertahankan atau meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi yang dihasilkan agar tetap dapat menerima pendapatan yang tinggi. Petani kopi juga membutuhkan dukungan pembiayaan dari pemerintah dan/atau Starbucks agar dapat memenuhi kebutuhan biaya yang tinggi atas penerapan Program CAFE Practices
Dampak Kebijakan Domestik terhadap Ketersediaan Jagung untuk Bahan Baku Industri Pengolahan di Indonesia
EnglishMaize is a strategic commodity for Indonesia. In line with the consumption pattern, the domestic demand for maize has changed from previously dominated by household consumption to presently dominated by raw material for feed and food processing industries. The maize demand of the processing industry increases rapidly, outpaced domestic production growth, that makes Indonesia must import maize in an increasing amount. This study aims to determine the impact of government policy on maize production which is the input of the maize processing industry. The analysis was conducted using an econometric simultaneous equation system model which was estimated with the two stages least squares technique using time series data of 1985-2017. The results show that the maize harvest area is negatively related with labor wage and urea price, and is positively related with the maize farm price. Maize productivity is positively related with quantity of urea fertilizer and hybrid seeds. but negatively related with composite seeds. The scenario of subsidizing urea prices and hybrid seed, raising import tariffs can increase the availability maize for processing industries as indicated by increasing domestic production and decreasing maize imports.
indonesianJagung termasuk komoditas strategis untuk Indonesia. Seiring dengan perubahan pola konsumsi, permintaan jagung dalam negeri berubah dari sebelumnya didominasi oleh konsumsi rumah tangga menjadi kini didominasi oleh bahan baku industri pengolahan pakan dan pangan. Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri pengolahan meningkat pesat, bahkan melampaui peningkatan produksi jagung dalam negeri, sehingga Indonesia terpaksa mengimpor jagung dalam jumlah yang terus meningkat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak kebijakan pemerintah terhadap produksi jagung yang menjadi input industri pengolahan jagung. Metode analisis yang digunakan ialah model ekonometrika sistem persamaan simultan yang diduga dengan teknik two stages least squares memakai data deret waktu 1985-2017. Hasil analisis menunjukkan bahwa luas areal panen jagung berhubungan negatif dengan upah buruh tani dan harga pupuk urea, sebaliknya, berhubungan positif terhadap harga jagung di tingkat petani. Produktivitas jagung berhubungan positif dengan volume penggunaan pupuk urea dan benih hibrida, namun berhubungan negatif dengan benih komposit. Skenario kebijakan subsidi harga pupuk urea, subsidi harga benih hibrida, dan kenaikan tarif impor dapat meningkatkan ketersediaan bahan baku industri pengolahan dan peternak mandiri sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan produksi dalam negeri dan penurunan impor jagung
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KEPUTUSAN PETANI DALAM MENGADOPSI TEKNOLOGI PERSEMAIAN BIBIT CABAI DI PROVINSI JAWA BARAT
EnglishNursery technology is the key determinant of seedling quality for supporting high chilli yield potential. The adoption rates of nursery technology vary by the chilli varieties and are determined by the appropriateness of the dissemination. The main objective of the study is to identify the determinants of farmers’ decisions in adopting chilli seedling nursery technology. The data was obtained by interviewing 231 farmers using the GeoODK Collect application in Ciamis, Tasikmalaya, and Garut in May-June 2016. The determinants of farmers\u27 decisions in adopting chilli seedling nursery technology were analyzed with the logit regression. Results showed that most farmers produce their own seedlings using commercial seeds. The determinants of farmers’ decisions on chilli seedling nursery technology are non-farm income, travel time to seed suppliers, seed credit, seed sources, and main occupation. Dissemination of chilli seeding nursery should be consistent with the chilli variety types. The open-pollinated variety may be introduced to farmers who save seeds for seedlings and need a long travel time to seed suppliers. The hybrid seedling nursery technology can be introduced to farmers who have access to hybrid seed suppliers and sufficient working capital. The government should facilitate farmers to access the necessary supporting infrastructures and inputs to increase the adoption rates.
IndonesianTeknologi persemaian adalah penentu mutu benih penunjang potensi tinggi produktivitas cabai. Tingkat adopsi teknologi persemaian bervariasi menurut varietas cabai yang diintroduksikan dan ditentukan oleh metode diseminasi yang sesuai dengan karakteristik petani. Tujuan utama penelitian adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam mengadopsi teknologi persemaian benih cabai. Data diperoleh dengan mewawancarai 231 petani melalui aplikasi GeoODK Collect di Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut pada bulan Mei – Juni 2016. Determinan keputusan petani dalam penyemaian benih cabai dianalisis dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani menyemai sendiri benih yang dipergunakannya pada usaha tani cabai dengan menggunakan benih komersial. Determinan keputusan dalam adopsi teknologi penyemaian benih adalah pendapatan dari nonusaha tani, waktu tempuh dari lahan usaha ke penjual benih, kredit benih, sumber benih, dan pekerjaan utama. Diseminasi metode persemaian benih cabai perlu disesuaikan dengan jenis varietas cabai. Introduksi teknologi persemaian benih varietas cabai open-pollinated dapat diperkenalkan kepada petani yang menyimpan hasil panen sebagai benih dan lokasinya jauh dari penjual benih. Introduksi teknologi persemaian benih cabai hibrida dapat diperkenalkan kepada petani yang memiliki akses bibit dari kios pemasok terdekat dan modal kerja memadai. Pemerintah perlu memfasilitasi petani dalam mengakses sarana dan prasarana yang diperlukan serta input untuk meningkatkan tingkat adopsi
ANALISIS MULTIDIMENSI KEBERLANJUTAN SISTEM USAHA TANI PADI DI KABUPATEN SUBANG DAN KARAWANG
EnglishStrategic environment change requires improvement in sustainable rice business system. Research aims to asses sustainability of paddy farming system in Pringkasap Village, Pabuaran District, Subang Regency and in Kalijati Village, Jatisari District, Karawang Regency. Data was collected by interviewing farmers, extension workers, and related stakeholders in 2018. Study used the Raprice method with multidimensional scaling. Results showed that rice farming sustainability index was sufficient, although it varied between farmers, locations, and influenced by land size and cropping index.The most sensitive attributes were (a) ecological dimension, namely integration of plants with livestock, local wisdom, addition of organic matter; (b) economic dimension, namely capital, labor, inputs; (c) social dimension, namely extension intensity, training intensity, technology application; (d) institutional dimension, namely agricultural equipment and machinery service management unit, partnership and social system; and (e) technological dimension, namely land cultivation, super jarwo technology application and local resources utilization. Development of a sustainable rice business system should focus on the most sensitive variables. Farming intensification and increasing planting index must be done by applying environmentally friendly technology, particularly by implementing rice and livestock integration, commodities and or varieties rotation, balanced fertilizer use, organic fertilizers use, integrated pest and disease management, and retaining the soil organic matter.
IndonesianPerubahan lingkungan strategis menuntut pembenahan pengelolaan sistem usaha padi secara berkelanjutan. Penelitian bertujuan untuk melakukan penilaian keberlanjutan sistem usaha tani padi dengan metode multidimensi di Desa Pringkasap, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang dan di Desa Kalijati, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang sebagai sentra produksi padi di Jawa Barat. Data yang digunakan ialah data primer hasil wawancara terhadap petani, penyuluh, dan pemangku kepentingan terkait lainnya pada tahun 2018. Penelitian menggunakan metode raprice dengan pendekatan multidimensional scaling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks kerbelanjutan usaha tani padi termasuk dalam kategori cukup, meskipun bervariasi antarpetani, antarlokasi, dan dipengaruhi oleh luas lahan serta indeks pertanaman. Atribut yang paling sensitif memengaruhi keberlanjutan sistem usaha tani padi yaitu (a) dimensi ekologi, yaitu integrasi tanaman dengan ternak, kearifan lokal, dan penambahan bahan organik untuk dimensi ekologi, (b) dimensi ekonomi, yaitu modal, tenaga kerja, dan saprodi, (c) dimensi sosial, yaitu intensitas penyuluhan, intensitas pelatihan dan penerapan teknologi, (d) dimensi kelembagaan, yaitu unit pengelola jasa alat dan mesin pertanian, kemitraan, dan sistem sosial, dan (e) dimensi teknologi, yaitu pengolahan tanah, penerapan teknologi jarwo super, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Pengembangan sistem usaha padi berkelanjutan sebaiknya difokuskan pada variabel yang paling sensitif. Upaya peningkatan produksi pangan (khususnya padi) secara berkelanjutan perlu mempertimbangkan keenam dimensi keberlanjutan secara seimbang. Intensifikasi usaha tani dan peningkatan indeks tanam harus dilakukan dengan penerapan teknologi ramah lingkungan, antara lain dengan penerapan integrasi padi dan ternak, pergiliran komoditas dan atau varietas, penggunaan pupuk secara berimbang, penggunaan pupuk organik, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, dan pengembalian bahan organik ke lahan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PILIHAN PETANI ATAS POLA TANAM DI AGROEKOSISTEM LAHAN KERING
EnglishThe condition of agriculture in dry land agroecosystems has many limitations both biophysically and socio-economically. As a result, farmers become less optimal in applying cropping patterns. This study aims to analyze factors that influence cropping patterns in dry land agroecosystems. The main data used for the study is the 2008 and 2017 Panel Petani Nasional (Patanas) PSEKP, Ministry of Agriculture. Descriptive statistics was used to describe cropping patterns association with household characteristics, land types, agroclimate, land tenure, and level of income. The influence of each factor on cropping pattern was measured with the Average Marginal Effect computed from the Random Effect Multinomial Logit estimation. Most respondents are self-land owner smallholders. The vegetable-corn-vegetable cropping is the cropping pattern that produces the highest income. The main factor affecting cropping pattern choice is volatility of water availability. Land type, maize price ratio, and level education of household head also significantly affect the cropping pattern choice. It is recommended that the farmers efficiently use the available rain water by appropriate selection of crops and using water conservation technique. Irrigation tools facilitation should create flexibility for the farmers in choosing the optimal cropping patterns.
IndonesianKondisi pertanian pada agroekosistem lahan kering memiliki banyak keterbatasan baik secara biofisik maupun sosial ekonomi. Akibatnya petani menjadi kurang optimal dalam menerapkan pola tanam. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan pola tanam oleh petani di agroekosistem lahan kering. Data utama yang digunakan adalah Panel Petani Nasional (Patanas) tahun 2008 dan 2017 bersumber dari PSEKP, Kementerian Pertanian. Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan hubungan asosiatif pola tanam dengan faktor-faktor yang diduga berpengaruh seperti karakteristik rumah tangga, jenis lahan, agroklimat, penguasaan lahan, harga, dan tingkat pendapatan. Pengaruh setiap faktor terhadap pola tanam diukur dengan Average Marginal Effect dari hasil estimasi Random Effect Multinomial Logit Model. Hasil analisis menunjukkan bahwa responden didominasi oleh petani gurem dengan lahan milik sendiri. Pola sayur-jagung-sayur merupakan pola tanam yang menghasilkan pendapatan paling tinggi dibandingkan pola tanam lain. Faktor utama yang memengaruhi pola tanam adalah volatilitas ketersediaan air. Jenis lahan, rasio harga jagung, dan tingkat pendidikan kepala keluarga juga berpengaruh signifikan dengan arah dan besaran pengaruh yang berbeda antarpola tanam. Disarankan agar petani melakukan efisiensi pemanfaatan air melalui pemilihan komoditas yang sesuai dan penggunaan teknik konservasi air. Fasilitasi penyediaan sarana pengairan dapat meningkatkan fleksibilitas petani dalam memilih pola tanam optimal
Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Lombok Utara Pasca Gempa Bumi Tahun 2018
EnglishNorth Lombok Regency was the epicentrum of Lombok Island 7 Richter Scale earthquake in 2018.. Declining socio-economic conditions caused by the disaster could affect food security of the people in the North Lombok. Therefore, this study aims to compare the share of food expenditure, the level of energy adequacy, and the level of food security before and after the earthquake. This study used the National Socioeconomic Survey of March 2018 and 2019 of North Lombok Regency Central Bureau of Statistics. The analytical method used was the Johnson and Toole method, which is a cross-classification between proportion of food expenditure and energy adequacy levels. The research results show that the share of household food expenditure after the earthquake (2019) was statistically significantly different than before the earthquake (2018),the level of household energy adequacy after the earthquake ) was not statistically different from before the earthquake, the level of household food security after the earthquake was not statistically different from before the earthquake . Food aid and support from the agricultural sector contribute to maintaining food security levels after the earthquake. Small-business-related trainings and aid in agriculture sector are two alternatives policy to improve household income and food security.
IndonesianKabupaten Lombok Utara merupakan pusat gempa sebesar 7 Skala Richter yang menimpa Pulau Lombok pada pertengahan tahun 2018. Kondisi sosial ekonomi yang menurun akibat bencana dapat memengaruhi ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Lombok Utara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pangsa pengeluaran pangan, tingkat kecukupan energi, serta tingkat ketahanan pangan sebelum (2018) dan setelah gempa bumi (2019) di Kabupaten Lombok Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) pada bulan Maret 2018 dan 2019 dari Kabupaten Lombok Utara yang bersumber dari Badan Pusat Statistik. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Johnson and Toole yang merupakan persilangan antara pangsa pengeluaran pangan dan tingkat kecukupan energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pangsa pengeluaran pangan rumah tangga pasca terjadi gempa bumi (tahun 2019) berbeda nyata secara statistik dengan sebelum terjadi gempa bumi (tahun 2018), kecukupan energi rumah tangga pasca terjadi gempa bumi tidak berbeda secara statistik dengan sebelum terjadi gempa bumi, tingkat ketahanan pangan rumah tangga pasca terjadi gempa bumi tidak berbeda secara statistik dengan sebelum terjadi gempa bumi. Bantuan pangan dan dukungan dari sektor pertanian berperan dalam mempertahankan tingkat ketahanan pangan pasca gempa bumi. Pemberian pelatihan terkait usaha kecil dan bantuan di sektor pertanian adalah dua alternatif kebijakan untuk meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan rumah tangga