eJournal Kedokteran Indonesia
Not a member yet
    287 research outputs found

    Eradikasi Kusta: Apakah Memungkinkan?

    No full text
    No Abstrac

    Gambaran CT Scan Toraks Sesuai dengan Jenis Sitologi/Histologi pada Pasien Kanker Paru yang Merokok

    No full text
    Kanker paru merupakan  penyebab kematian paling banyak akibat keganasan. Kanker paru memberikan gambaran CT scan yang berbeda sesuai dengan jenis sitologi/histologinya. Pemeriksaan CT scan  toraksdengan teknik high resolution computed tomography (HRCT) dapat memperlihatkan kelainan kanker parusecara rinci. Penelitian dilakukan di Instalasi Radiologi RSU Persahabatan, Jakarta bekerja sama denganDepartemen Pulmonologi dan Respirasi RSU Persahabatan terhadap 100 sampel yang diperoleh pada bulanNovember 2014 hingga Maret 2015. Berdasarkan jenis sitologi/histologi kanker paru (adenokarsinoma dankarsinoma sel skuamosa/KSS) tidak ditemukan  variabel yang bermakna secara statistik  (bentuk, letak, tepispikulasi, tepi lobulasi, nodul satelit). Variabel yang paling banyak ditemukan pada adenokarsinoma maupunKSS adalah bentuk massa, lokasi di sentral dan paru sebelah kanan. Gambaran kanker paru adenokarsinomadan KSS pada pasien merokok paling banyak berupa massa, lokasi di sentral dan lobus kanan paru. Kata kunci: kanker paru, merokok, CT scan toraks   Lung Cancer CT Scan Findings in Smoker Patients Basedon Cytology/Histology Abstract Lung cancer is the leading cause of most deaths due to malignancy. Lung cancer CT scan provides an overview according to the type of cytology / histology. Thorax CT scan with high resolution technique (HRCT) may revealdetail lung cancer abnormalities. This study was conducted between Department of Radiology and Departmentof Pulmonology Respiratory, Persahabatan Hospital Jakarta based on 100 samples, November 2014 until March2015. Based on cytological/histological type (adenocarcinoma and squamous cell carcinoma/KSS), it was not found significant meaningfull variables (shape, location, spiculate edge, lobulate edge, satellite nodules). Most commonly variables found in adenocarcinomas and KSS were mass forming, central location, right lung location.Most of adenocarcinoma and SCC in smoked patients were mass forming, central location, right lobe location. Keywords: lung cancer, smoking, thorax CT sca

    Embryonal Rhabdomyosarcoma of The Forearm: A Diagnostic Dilemma and Surgical Management

    No full text
    Establishing the diagnosis of primary soft-tissue sarcoma is a difficult task even for an experienced clinician. There is a plethora of clinical manifestation yet its radiological appearancecan be very deceiving in every way.  We report a case of embryonal rhabdomyosarcoma in an adultfemale with lump in her left distal forearm, with clinical manifestation and radiological appearance thatimmitate bone sarcoma. The diagnosis was not established until the biopsy result came up whichalso confirmed by immunohistochemistry stain. The treatment is a novelty limb salvage surgery withmodified forearm segmental amputation and shortening procedure. Six months after the surgery thepatient had good functional outcome without local recurrence and distant metastasis. Keywords: embryonal rhabdomyosarcoma, limb salvage surgery, forearm segmental amputation Rabdomiosarkoma Embrional Antebrakhii:suatu Masalah Diagnosis dan Penatalaksanaan Bedah Abstrak Menegakkan diagnosis sarkoma jaringan lunak primer merupakan pekerjaan sulit, bahkan di tangan klinisi yang berpengalaman sekalipun. Sejumlah kasus sarkoma jaringan lunak menunjukkan  manifestasi klinis,  tetapi gambaran radiologisnya tidak sesuai. Pada makalah ini dilaporkan satu kasus rabdomiosarkoma embrional pada perempuan dewasa dengan benjolan di antebrachii distalkiri dengan manifestasi klinis dan gambaran radiologi menyerupai sarkoma tulang. Diagnosis pastiditegakkan setelah pemeriksaan pulasan imunohistokimia. Penatalaksanaan bedah yang dilakukanmerupakan inovasi baru dengan cara limb salvage surgery amputasi segmental antebrachii yangdimodifikasi dan shorthening procedure. Pada pengamatan 6 bulan pascabedah, pasien memilikiluaran fungsional yang baik tanpa disertai rekurensi lokal dan metastasis jauh. Kata kunci: rabdomiosarkoma embrional, limb salvage surgery, amputasi antebrakhii segmenta

    Hubungan Hipertensi dan Penyakit Arteri Perifer Berdasarkan Nilai Ankle-Brachial Index

    No full text
    Penyakit arteri perifer (PAP) merupakan penyakit vaskular yang memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pasien dengan PAP memiliki resiko tinggi menderita infark miokard, stroke iskemik dan kematian. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko PAP dan belum pernah dilakukan penelitian tentang hipertensi dan PAP di RSU Dokter Soedarso Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dan PAP berdasarkan nilai ankle-brachialindex (ABI). Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Sebanyak 58 sampel penelitian dipilih dengan teknik consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan dari wawancara, rekam medis, pemeriksaan tekanan darahdan ABI. Diagnosis PAP ditegakkan jika ditemukan nilai ABI ≤0,9 pada salah satu kaki. Prevalensi PAP pada pasien hipertensi ditemukan sebesar 21% (IK95% 11-31%). Kejadian PAP paling banyak ditemukan pada kelompok umur 60-69 tahun yakni sebesar 48%. Terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dan PAP berdasarkan nilai ABI (p=0,000). Hipertensi berhubungan dengan penyakit arteri perifer berdasarkan nilai ankle-brachial index. Kata kunci: penyakit arteri perifer, faktor resiko, hipertensi, ankle-brachial inde

    The Knowledge on Scabies among Students in a Pesantren in East Jakarta, Before and After Health Education

    No full text
    AbstractScabies is a skin disease commonly found in overcrowded and poor hygiene environment. The purpose of this study was to determine the level of knowledge of students in pesantren X, East Jakarta, before and after conducting health education on scabies. The study design was a pre-post study and the data were taken on March 8, 2014. All students who came during the data collectionare the research subjects. Data was collected through a questionnaire consisting of 25 questions about the etiology, clinical symptoms, treatment, transmission, and prevention of scabies. The data were processed with SPSS version 20 and was tested with marginal homogeneity. The results showed that of 104 respondents, prior to health education, most students have a poor level of knowledge on the topic of etiology (68.3%), clinical symptoms (64.2%), treatment (51.9%), prevention (39,4%), and transmission (27.9%). After a health eduvation lecture, more than 50% of students showed a good level of knowledge on every topic on scabies (ranging from 65.4% and the highest 82.7%) while the students with poor level of knowledge on every topic ranged from 4.8%9.6%. Marginal homogeneity test showed significant differences in knowledge before and after health education (p<0.01). In conclusion, health education is effective in increasing knowledge about scabies.Keywords: scabies, knowledge, pesantren students, health education AbstrakSkabies adalah penyakit kulit yang banyak terdapat di lingkungan padat penduduk dan kebersihan yang buruk.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan siswa pesantren X, Jakarta Timur, sebelum dan sesudah penyuluhan skabies. Desain penelitian adalah pre-post study dan data diambil pada 8 Maret 2014. Semua siswa yang datang saat pengumpulan data dijadikan subyek penelitian. Data dikumpulkan dengan kuesioner berisi 25 pertanyaantentang etiologi, gejala klinis, pengobatan, penularan, dan pencegahan skabies. Data diolah dengan SPSS versi 20 dan diuji dengan marginal homogeneity. Dari 104 responden, sebelum penyuluhan, sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan yang buruk tentang topik etiologi (68,3%), manifestasi klinis (64,2%), pengobatan (51,9%), pencegahan (39,4%), dan penularan(27,9%). Setelah penyuluhan, lebih dari 50% siswa memiliki pengetahuan yang baik pada setiap topik skabies (paling rendah 65,4% dan paling tinggi 82,7%) dan tingkat pengetahuan buruk pada setiap topik scabies 4,8%-9,6%. Uji marginal homogeneity menunjukkan perbedaan bermakna pada pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan (p<0,01). Disimpulkan penyuluhan efektifmeningkatkan pengetahuan tentang skabies. Kata kunci: scabies, pengetahuan, siswapesantren, penyuluha

    Pelaksanaan Internsip di Indonesia

    No full text

    Pengaruh Induksi Hipoksia Hipobarik Intermiten pada Aktivitas Spesifik Manganese Superoxide Dismutase dan Kadar Malondialdehyde Ginjal Tikus

    No full text
    Hipoksia hipobarik merupakan kondisi yang sering dialami penerbang angkatan udara. Pengenalanhipoksia hipobarik intermiten dapat memicu mekanisme adaptasi untuk mengurangi efek buruk hipoksiahipobarik. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh induksi hipoksia hipobarik intermiten terhadapstres oksidatif dan antioksidan serta hubungan keduanya di jaringan ginjal tikus. Sebanyak 25 ekor tikusjenis wistar dibagi menjadi lima kelompok: kelompok kontrol dan kelompok terpajan hipoksia hipobarikintermiten 1x, 2x, 3x dan 4x, dengan interval 7 hari antar pajanan. Tiap kelompok ditempatkan dalamhypobaric chamber dan dipajankan kondisi hipoksia hipobarik dengan berbagai ketinggian. Tikusdimatikan dan sampel jaringan ginjal diambil untuk diukur enzim manganese superoxide dismutase(MnSOD) dan malondialdehyde (MDA).  Aktivitas enzim MnSOD tidak menunjukkan perubahanbermakna pada induksi hipoksia hipobarik 1x, 2x, 3x dan 4x dibandingkan kontrol (p>0,05).  KadarMDA pada kelompok dengan perlakuan 2x hipoksia hipobarik meningkat bermakna (p<0,05). Padakelompok induksi 3x dan 4x, kadar MDA ginjal turun secara bermakna dibandingkan kelompok 2xperlakuan (p<0,05).  Tidak terdapat korelasi aktivitas MnSOD dan kadar MDA (p>0,05).  Setelah induksi3x, mulai terjadi adaptasi terhadap stres oksidatif. Adaptasi tersebut kemungkinan juga melibatkanantioksidan yang lain pada ginjal, seperti katalase. Dengan demikian induksi hipoksia hipobarikintermiten tampaknya dapat memberikan efek protektif pada jaringan ginjal tikus.Kata kunci: hipoksia hipobarik intermiten, stres oksidatif, manganese superoxide dismutase, malondialdehyd

    Perbandingan Rumus Johnson-Tohsach dengan Rumus South Africa Dalam Menentukan Taksiran Berat Janin di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur

    No full text
    Akurasi dari estimasi berat janin merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan perencanaan dan manajemen proses persalinan sehingga klinisi dapat memprediksi komplikasi yang mungkin terjadi. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi rumus Johnson-Toshach dengan rumus taksiran berat janin yang diperoleh Buchmann,et al pada populasi di Afrika Selatan dalam memprediksi taksiran berat janin pada bayi yang lahir di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo pada tahun 2013 dengan desain cross-sectional dan menggunakan data sekunder. Total sampel sebanyak 161 subyek. Hasil perbandingan didapatkan taksiran berat janin kedua rumus memiliki hubungan bermakna dengan berat aktual bayi dengan korelasi positif kuat. Pada beratbayi normal, rumus Johnson-Toshach dapat memprediksi berat janin lebih mendekati berat aktual bayi, sedangkan rumus Buchmann cenderung overestimasi terhadap TBJ.  Kata kunci: taksiran berat janin (TBJ), berat lahir bayi, Johnson-Tohsach, Buchmann et a

    Peran Akupunktur dalam Penatalaksanaan Pasien Geriatri

    No full text
    AbstrakPersentase penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2012 telah mencapai di atas 7% dari keseluruhan jumlah penduduk. Hal penting terkait peningkatan populasi tersebut adalah perlunya perawatan kesehatan terpadu untuk meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup penduduk usia lanjut. Pasien geriatri adalah pasien usia lanjut yang memiliki karakteristik khusus sehingga membedakannya dari pasien pada umumnya. Kondisi multipatologimengakibatkan seorang usia lanjut mendapatkan berbagai jenis obat dalam jumlah banyak. Terapi non-farmakologi dapat menjadi pilihan untuk mengatasi masalah pada pasien usia lanjut, sehingga dapat mengurangi jumlah obat yang diberikan pada pasien geriatri. Akupunktur sebagai modalitas non farmakologi dapat menjadi pilihan terapi untuk membantu tatalaksana pasien geriatri.Kata kunci: akupunktur, usia lanjut, geriatri, nonfakmakologiAbstractThe percentage of the elderly in 2012 has reached over 7% of the total population in Indonesia. The important thing is related to the increase of these population the need an integrated health care to improve the functional capacity and quality of life. Geriatric patients are elderly patients who have special characteristics that differentiate it from the patient in general. The geriatric patients can get various kinds of drugs in large quantities because of multipatology condition. Non-pharmacological therapy may be an option to overcome the problems in elderly patients, thus reducing the amountof drug administered in geriatric patients. Acupuncture as a non-pharmacological modality therapy can be an option to help geriatric patients.Keywords: acupuncture, elderly, geriatric, non-pharmacolog

    Efektivitas Penyuluhan terhadap Tingkat Pengetahuan Guru SD di Jakarta Mengenai Pencegahan Cacingan, Tahun 2011

    No full text
    Cacingan merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama pada anak. Pengetahuan mengenaipencegahan berperan penting dalam menanggulangi cacingan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahuiefektivitas penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan guru sekolah dasar (SD) mengenai cacingan.Penelitian menggunakan desain penelitian eksperimental dengan metode pre-post study. Pengambilandata dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 12 Oktober 2011 terhadap 67 orang guru SD yang dimintauntuk mengisi kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan. Kuesioner berisi lima pertanyaan mengenaipencegahan infeksi A. lumbricoides, T. trichiura dan O. vermicularis.  Dari penelitian ini diperoleh hasilbahwa sebelum penyuluhan guru yang mempunyai tingkat pengetahuan baik adalah 12 orang (17,9%),cukup 21 orang (31,3%), dan kurang 34 orang (50,7%). Setelah penyuluhan, guru dengan tingkatpengetahuan baik adalah 39 orang (58,2%), cukup 24 orang (35,8%), dan kurang 4 orang (6,0%).Sebelum penyuluhan, pertanyaan yang paling banyak tidak dimengerti responden adalah kapan waktumemberikan obat cacing (hanya 6% yang menjawab benar). Berdasarkan uji marginal homogeneitydidapatkan perbedaan bermakna (p<0,01) pada tingkat pengetahuan guru sebelum dan sesudahpenyuluhan kesehatan. Disimpulkan bahwa penyuluhan efektif dalam meningkatkan pengetahuanguru SD mengenai pencegahan cacingan.Kata kunci: cacingan, penyuluhan, guru SD, tingkat pengetahuan, pencegaha

    0

    full texts

    287

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Kedokteran Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇