JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Perbandingan Efektivitas Larutan Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix) Dan Daun Kemangi (Ocimum sanctum) Sebagai Larvasida Aedes spp
Nowadays, the cases of dengue hemorrhagic fever are progressively increasing and necessitating control. One of the easiest controls in breaking the life cycle of Aedes spp. mosquitoes is to kill mosquito larvae using plants as natural larvacides are environmentally friendly. One of them is using purut lime leaves and basil leaves. The study aims to determine the effectiveness comparison of solution purut lime leaves and basil leaves toward Aedes spp. larvae mortality. This research method is a true experiment with a Post-Test Only Control Group design. It is also followed by concentration at control (0%), 1,5%, 2,5%, 3,5%, 4,5%, and 5,5% with 4 repetitions. The sample was 1.200 instar Aedes spp. III larvae. The results showed the effectiveness of the kaffir lime leaf solution was at the lowest concentration of 3.5% with the mortality of 18 Aedes spp. larvae and the effective concentration of basil leaves was 4.5% with 15 larvae mortality. From an economic and availability perspective, basil leaves are easier to find, making it easier to apply. This makes it easier to apply. Water reservoirs are difficult to clean outside the home.Kasus Demam Berdarah Dangue semakin meningkat sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian. Salah satu upaya pengendalian yang paling mudah dalam memutus siklus hidup nyamuk Aedes spp adalah dengan membunuh jentik nyamuk menggunakan tanaman sebagai larvasida alami yang ramah lingkungan, salah satunya yaitu daun jeruk purut dan daun kemangi. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui perbandingan efektivitas antara larutan daun jeruk purut dan daun kemangi pada kematian larva Aedes spp. Metode penelitian ini bersifat True eksperimental dengan rancangan post- test only group design. Variasi konsentrasi yang digunakan yaitu kontrol (0%), 1,5%, 2,5%, 3,5%, 4,5% dan 5,5% dengan 4 kali pengulangan. Sampel dan populasi yang digunakan adalah 1.200 ekor larva Aedes spp instar III yang berisi 25 ekor larva pada setiap kontainer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas larutan daun jeruk purut ada pada konsentrasi 3,5% dengan jumlah kematian larva Aedes spp 18 ekor dan pada larutan daun kemangi didapatkan konsentrasi yang efektif yaitu 4,5% dengan jumlah kematian larva 15 ekor. dari segi ekonomi dan ketersediaan bahan daun kemangi lebih sering dijumpai sehingga memudahkan penggunaannya dan dapat diaplikasikan pada penampungan air yang sulit dibersihkan diluar rumah
Analisis Proses Pengolahan Air Minum Pada Perusahaan Daerah Air Minum Desa Cahaya Negeri
Clean water treatment for the needs of the people of Bengkulu is carried out by several agencies, one of which is managed by The City-Owned Water Company PDAM of Cahaya Negeri Village which is a business entity owned by the local government. This type of study was a qualitative research using interview guidelines and conducting observations. There were 3 informants in this study, namely, the head of the processing unit, the head of the laboratory and the processing operator. The research was conducted in Janaury 2021. The results of the study indicate that PDAM Cahaya Negeri was running well, the processing units were also complete, from maintenance of intake, type of intake pump, coagulation equipment and coagulant material, flocculation building is still very good, sedimentation process is also good, filtration material with silica sand is also appropriate, because the absorption of silica sand is good, and the last is disinfection, using chlorinated material is good for killing bacteria in treated water. The processed water has also met the standard of the Minister of Health Regulation No. 32 of 2017, concerning clean water standards. However, rainfall greatly affects the condition of raw water quality for processing and moreover the local power plant which often shuts down is an obstacle for PDAM CahayaNegeri to carry out processing. It is expected that the PDAM of CahayaNegeri can maintain its achievements and find solutions to its obstacles, in order to meet the need for clean water.Pengolahan air bersih untuk kebutuhan masyarakat Bengkulu dilaksanakan oleh beberapa instansi, salah satunya dikelolah oleh PDAM Desa Cahaya Negeri yang merupakan badan usaha milik pemerintah daerah Kota Bengkulu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui proses pengolahan air minum pada PDAM Desa Cahaya Negeri. Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pedoman wawancara dan melakukan observasi. Informan berjumlah 3 orang yaitu, kasubag pengolahan, kasubag laboratorium dan operator pengolahan yang dilaksanakan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2021. Hasil penelitian dapatkan bahwa PDAM Desa Cahaya Negeri sudah berjalan dengan optimal, unit-unit pengolahannya juga lengkap seperti pemeliharaan intake, jenis pompa intakenya, alat koagulasi dan bahan koagulannya, bangunan flokulasinya masih sangat bagus, proses sendimentasinya juga baik, bahan filtrasi dengan pasir silika juga tepat, karena daya serap pasir silika yang bagus, dan yang terakhir disinfeksi, dengan menggunakan bahan koporit sudah bagus untuk membunuh bakteri pada air olahan. Air olahannya juga sudah masuk standar peraturan menteri kesehatan No.32 tahun 2017 tentang standar air bersih. Namun, curah hujan sangatlah mempengaruhi kondisi kualitas air baku pengolahan dan terlebih lagi pembangkit listrik setempat yang sering mati menjadi hambatan PDAM Desa Cahaya Negeri melakukan pengolahan. Diharapkan PDAM Desa Cahaya Negeri dapat mempertahankan pencapaiannya dan mendapatkan solusi dari hambatanya, demi memenuhi kebutuhan akan air bersih di wilayah Kota Bengkulu
Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Masyarakat Kota Tasikmalaya Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Di Masa Pandemi Covid-19
Household waste is the largest producer of waste from total waste in Indonesia. Waste production in Tasikmalaya City is 156 tons of waste/day and 75% of it is household waste. Awareness of household waste management < 1%, which affects the landfill which is predicted to only leave space for 4-5 more years. In the middle of the Covid-19 pandemic, there is an increase in household waste. The aim of this study was to determine the factors related to the behavior of the people of Tasikmalaya City in managing household waste during the Covid-19 pandemic. This type of research is quantitative research with a cross-sectional approach. The study population was all residents of the City of Tasikmalaya aged > 15 years. The research sample is the residents of the City of Tasikmalaya who are > 15 years old and are willing to fill out an online questionnaire. The sampling technique was accidental sampling, with a minimum number of samples (n). The dependent variable is household waste, the independent variables are age, gender, education level, family income, daily expenses for food, activity base from home, online shopping habits, and the availability of trash bins. The results showed 56.9% of the people of Tasikmalaya City stated that the volume of their household waste during the pandemic was the same as before the Covid-19 pandemic. The results also found a significant relationship between online shopping/buying food habits and the volume of household waste during the pandemic (p=0.018; OR 1.830; 95% CI: 1.106-3.027). People who have the habit of shopping/buying food online during the pandemic have a 1,830 greater tendency to generate more volume of waste compared to people who are not accustomed to buying food online during the pandemic.Sampah rumah tangga adalah produsen sampah terbesar dari total sampah di Indonesia. Produksi sampah di Kota Tasikmalaya sebanyak 156 ton sampah/hari dan 75%-nya adalah sampah rumah tangga. Kesadaran pengelolaan sampah rumah tangga < 1%, yang berpengaruh terhadap TPA sampah yang diprediksi hanya menyisakan ruang 4-5 tahun lagi. Di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi, terjadi peningkatan sampah rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat Kota Tasikmalaya dalam pengelolaan sampah rumah tangga di masa pandemi Covid-19. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk Kota Tasikmalaya yang berusia > 15 tahun. Sampel penelitian adalah penduduk Kota Tasikmalaya yang berusia >15 tahun dan bersedia mengisi kuesioner yang disebarkan secara online. Teknik pengambilan sampel adalah accidental sampling, dengan perhitungan jumlah sampel minimal (n). Variabel terikat adalah sampah rumah tangga, variabel bebas adalah usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, pengeluaran harian untuk makan, basis aktivitas dari rumah, kebiasaan belanja online, serta ketersediaan sarana tempat sampah. Hasil penelitian menunjukkan 56,9% masyarakat Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa volume sampah rumah tangga mereka selama pandemi sama dengan sebelum terjadi pandemi Covid-19. Hasil penelitian juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara kebiasaan belanja/membeli makanan secara online dengan volume sampah rumah tangga saat pandemi (p=0,018; OR 1,830; 95% CI: 1,106-3,027). Orang yang memiliki kebiasaan belanja/membeli makanan secara online selama pandemi memiliki kecenderungan 1,830 lebih besar untuk menghasilkan volume sampah yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak terbiasa membeli makanan secara online saat pandemi
Program Eco-Pesantren Dalam Pelestarian Lingkungan
Research has been carried out using the literature study method related to the eco-pesantren program in environmental conservation which aims to interpret the concept of eco-pesantren and educational values in preserving the environment. Islam as rahmatan lil'alamin regulates human relations with the environment both through the verses of the Qur'an and as-Sunnah which are integrated in the form of regulations by the Ministry of the Environment packaged into one as the eco-pesantren program. The form of cooperation between the Ministry of Environment and the Ministry of Religion in addition to establishing the first eco-pesantren in Indonesia is the formulation of objectives, benefits, and indicators that identify the application of eco-pesantren in an educational institution. The eco-pesantren program uses the concept of environmental awareness in implementing and revitalizing it. Increased environmental awareness due to the success of socializing and supported by Islamic values and spiritual life creates an ecological atmosphere both now and in the future.Telah dilakukan penelitian menggunakan metode studi pustaka terkait program eco-pesantren dalam pelestarian lingkungan yang bertujuan mamaknai konsep eco-pesantren dan nilai-nilai edukasi dalam melestarikan lingkungan. Islam sebagai rahmatan lil’alamin mengatur hubungan manusia dengan lingkungannya baik melalui ayat al-Qur’an maupun as-Sunnah yang terintegrasikan dalam bentuk aturan oleh Kementerian Lingkungan Hidup terkemas menjadi satu dengan sebutan program eco-pesantren. Bentuk kerja sama antara Kementrian Lingkungan Hidup dan Kementrian Agama selain mendirikan eco-pesantren yang pertama di Indonesia yakni dirumuskannya tujuan, keuntungan, serta indicator yang teridentifikasinya penerapan eco-pesantren pada suatu Lembaga Pendidikan. Program eco-pesantren menggunakan konsep kesadaran terhadap lingkungan hidup dalam mengimplementasikan dan merevitalisasikannya. Kesadaran lingkungan yang meningkat karena keberhasilan melakukan sosialisasi serta didukungnya oleh nilai-nilai Islam dan kehidupan spiritual mewujudkan suasana ekologis baik pada masa kini maupun masa mendatang
Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Diare Pada Santri Di Kota Tangerang Selatan
Diarrhea is a disease caused by infection with microorganisms in the environment, its transmission is related to the mouth and its spread is almost all over the world. South Tangerang City has determined that children aged 5-14 years are the third most common causes of diarrhea, with an incidence rate of 2.6% and a prevalence period of 4.7%. This study was conducted to determine the relationship between personal hygiene with the incidence of diarrhea in students at the Ummul Quro Islamic Boarding School in 2021. This research is quantitative research with an analytical observational approach with a cross-sectional study design. Data collection was carried out primarily using a questionnaire with a total sample of 133 respondents who were taken using a total sampling technique. The results obtained as many as 77 respondents (57.9%) experienced diarrhea from the last month. The results of the bivariate test with the Chi-Square test showed that age (p-value=1,000), gender (p-value=0.691), snack habits (p-value=0.801) did not have a significant relationship. While the personal hygiene variable (p-value=0.006) had a significant relationship with the incidence of diarrhea. In this study, the personal hygiene variable had a significant relationship with the incidence of diarrhea. Islamic boarding schools are required to provide education to santri related to good personal hygiene to prevent diarrhea and to support all facilities and infrastructure that support personal hygiene.Diare ialah penyakit yang ditimbulkan karena infeksi mikroorganisme dilingkungan, penularannya berkaitan dengan mulut dan penyebarannya hampir di seluruh global. Kota Tangerang Selatan menetapkan anak usia 5-14 tahun sebagai urutan ketiga kasus diare terbanyak, dengan angka insiden 2,6% dan period prevalance 4,7%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara personal higiene dengan kejadian diare pada santri di Pondok Pesanten Ummul Quro tahun 2021. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional analitik dengan desain studi cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara primer menggunakan kuesioner dengan jumlah sampel sebanyak 133 responden yang diambil dengan teknik total sampling. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 77 responden (57,9%) mengalami diare dalam satu bulan terakhir. Hasil uji bivariat dengan uji Chi-Square menunjukan variabel usia (p-value=1,000), jenis kelamin (p-value=0,691), kebiasaan jajan (p-value=0,801) tidak memiliki hubungan bermakna. Sedangkan variabel personal higiene (p-value=0,006) memiliki hubungan bermakna dengan kejadian diare. Pada penelitian ini variabel personal higiene memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian diare. Pondok Pesantren diharuskan memberikan edukasi kepada santri terkait personal higiene yang baik dalam upaya pencegahan diare serta menunjang segala fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung untuk melakukan personal higiene
Paparan Endotoksin Sebagai Faktor Risiko Penurunan Fungsi Paru Pada Pekerja Di Industri Tekstil Berbahan Baku Kapas: (Literatur Review)
Dust particles that enter the body through inhalation and into the lungs can cause disturbances in the respiratory tract. Dust particles produced from cotton fibers can contain endotoxin biological agents, inhalation of endotoxins can also cause other diseases namely, flu, bronchitis, chronic obstructive pulmonary and decreased lung function. This study was conducted for the analysis of endotoxin exposure in cotton dust as a risk factor for decreasing lung function of workers in the textile industry. The method used in writing this article is a literature review using ten scientific articles to analyze the level of endotoxins in cotton dust, the characteristics of workers and the decline in lung function in workers. The study found that the highest levels of endotoxins were found in cotton mills in Shanghai with annual endotoxin levels of 1,730-65,204 EU/m3. Endotoxins in cotton dust are found most abundantly in spinning and weaving units. Factors such as age, length of service and smoking status are risk factors for workers experiencing a decrease in lung function, while the influence of Personal Protective Equipment (PPE) still needs to be studied further.Partikel debu yang masuk ke tubuh melalui inhalasi dan kedalam paru-paru dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernafasan. Partikel debu yang dihasilkan dari serat kapas dapat mengandung agen biologi endotoksin, menghirup endotoksin juga dapat dapat menyebabkan penyakit lain yaitu flu, bronchitis,paru obstruktif kronik serta penurunan fungsi paru. Penelitian ini dilakukan untuk analisis paparan endotoksin dalam debu kapas sebagai faktor risiko penurunan fungsi paru pekerja di industri tekstil. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah literature review menggunakan sepuluh artikel ilmiah untuk menganalisis kadar endotoksin dalam debu kapas, karakteristik pekerja dan penurunan fungsi paru pada pekerja. Studi ini menemukan bahwa kadar endotoksin yang paling tinggi ditemukan pada pabrik kapas di Shanghai dengan kadar endotoksin pertahun yaitu 1.730-65.204 EU/m3. Endotoksin dalam debu kapas ditemukan paling banyak pada unit spinning dan weaving. Faktor usia, masa kerja dan status merokok adalah faktor risiko pada pekerja mengalami penurunan fungsi paru, sedangkan pengaruh Alat Pelindung Diri (APD) masih perlu dikaji lebih lanjut
Identifikasi Cacing Dan Telur Cacing Pada Sayuran Lalapan Di Pasar Tradisional Kota Semarang
Vegetables are an important type of food for humans. Lack of vegetable consumption can increase the risk of developing degenerative diseases such as obesity, coronary heart disease, kidney failure, diabetes, hypertension, and cancer. Fresh vegetables are vegetables that are usually served raw, so it is estimated that they are the source of Soil-Transmitted Helminth (STH) infection in humans. Some examples of fresh vegetables include cabbage, lettuce, basil, leeks, celery, and mustard greens. The purpose of this study was to determine the results of the identification of worm eggs and adult worms in fresh vegetables sold in traditional markets in Semarang City. This type of research is called descriptive qualitative research. The subjects of this study were all fresh vegetables sold in the traditional markets of Semarang City. The research sample was taken by random sampling from all areas of Semarang City, covering the areas of Central Semarang (Johar Market), North Semarang (Purwogondo Market), East Semarang (Langgar Indah Market), West Semarang (Karang Ayu Market), and Semarang South (Peterongan Market). The results showed that the vegetables sold in the Peterongan Market and Purwogondo Market were not found to be contaminated. Meanwhile, fresh vegetables sold at Langgar Market, Johar Market, and Karang Ayu Market were found to be contaminated. Contamination that occurs in fresh vegetables in the traditional market of Semarang City is caused by Oxyuris vermicularis worm eggs, hookworm eggs, Ascaris lumbricoides worm eggs, hookworm larvae, and adult hookworms.Sayuran merupakan jenis makanan penting bagi manusia untuk menjaga kesehatan. Kurangnya konsumsi sayur dapat meningkatkan resiko terkena penyakit degenerative di kemudian hari seperti obesitas, jantung coroner, gagal ginjal, diabetes, hipertensi, dan kanker. Sayuran lalapan adalah sayuran yang biasanya dihidangkan dalam keadaan mentah sehingga diperkirakan dapat berperan menjadi salah satu sumber infeksi Soil Transmitted Helminth (STH) pada manusia. Beberapa contoh sayur lalapan, antara lain kubis, selada, kemangi, daun bawang, seledri, dan sawi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil identifikasi jenis telur cacing dan cacing dewasa pada sayuran lalapan yang dijual di pasar tradisional Kota Semarang. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Populasi penelitian ini adalah seluruh sayuran lalapan yang dijual di pasar tradisional Kota Semarang. Adapun pengambilan sampel penelitian dilakukan secara random sampling yang diambil dari seluruh wilayah Kota Semarang, meliputi wilayah Semarang Tengah (Pasar Johar), Semarang Utara (Pasar Purwogondo), Semarang Timur (Pasar Langgar Indah), Semarang Barat (Pasar Karang Ayu), dan Semarang Selatan (Pasar Peterongan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sayuran yang dijual di Pasar Peterongan dan Pasar Purwogondo tidak ditemukan adanya kontaminasi cacing maupun telur cacing. Sedangkan untuk sayuran lalapan yang dijual di Pasar Langgar, Pasar Johar, dan Pasar karang Ayu ditemukan adanya kontaminasi cacing dan telur cacing. Cemaran yang terjadi pada sayuran lalapan di pasar tradisional Kota Semarang disebabkan oleh telur cacing Oxyuris vermicularis, telur cacing tambang, telur cacing Ascaris lumbricoides, larva cacing tambang, dan cacing tambang dewasa
Hubungan Risiko Kontaminasi Sarana Air Bersih Dan Kualitas Bakteriologis Air Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Liang Anggang
In Indonesia, the number of diarrhea sufferers in 2017 was 4,274,790 patients and in 2018 there were 4,504,524 sufferers. South Kalimantan is ranked 16th out of 34 provinces with a prevalence of diarrhea cases of 8.6%. This study aims to determine the relationship between the risk of contamination of clean water facilities and the bacteriological quality of water with the incidence of diarrhea in children under five in the working area of Puskesmas Liang Anggang. This type of research is an analytical observational case-control design with a retrospective approach. Comparison of case samples with controls 1:1. The case samples were 42 samples so that the total sample was 84 children. Data analysis using chi-square test. The highest results were obtained, namely at a low risk of contamination as much as 50% and those that did not meet the bacteriological quality requirements as much as 59.5%. The results of statistical tests showed that there was no relationship between the risk of contamination of clean water facilities and the incidence of diarrhea in children under five (p 0.827 > 0.05) and there was no relationship between the bacteriological quality of water and the incidence of diarrhea in children under five (p 0.120 > 0.05). For further researchers to be able to examine other factors with a larger sample and a wider scope so as to increase the accuracy of research results.Di Indonesia jumlah penderita diare pada tahun 2017 sebanyak 4.274.790 penderita dan pada tahun 2018 sebanyak 4.504.524 penderita. Kalimantan Selatan berada diurutan 16 dari 34 provinsi dengan prevalansi kasus diare sebanyak 8,6%. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan risiko kontaminasi sarana air bersih dan kualitas bakteriologis air dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Liang Anggang. Jenis penelitian observasional analitik berdesain case control dengan pendekatan retrospective. Perbandingan sampel kasus dengan kontrol 1:1. Sampel kasus berjumlah 42 sampel sehingga total keseluruhan sampel sebanyak 84 balita. Analisis data menggunakan uji chi-square. Didapatkan hasil sebanyak 50% sarana air bersih dengan risiko kontaminasi terbanyak kategori rendah dan 59,9% kualitas bakteriologis air dari sarana air bersih tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara risiko kontaminasi sarana air bersih dengan kejadian diare pada balita dengan hasil (p 0,827 > α 0,05) dan tidak ada hubungan bermakna antara kualitas bakteriologis air dengan kejadian diare pada balita dengan hasil (p 0,120 > α 0,05). Bagi peneliti selanjutnya agar dapat meneliti factor-faktor lain dengan menggunakan metode cross sectional dan menggunakan sampel yang lebih besar sehingga mendapatkan ruang lingkup yang lingkup yang lebih luas yang dapat meningkatkan ketelitian hasil penelitian
Metode Analytic Hierarchy Process Untuk Mendukung Strategi Pengendalian Pencemaran Air Sungai Cokro Malang
The Cokro River is a tributary of the Amprong River whose river flows through several villages in Pakis District, Malang Regency, including Sumberpasir village and Pakiskembar village. Cokro River is located between residential areas and agricultural land and several industries. Industries in the Cokro river area are the leather industry, paper industry, and tofu factories. Anthropogenic activities result in river water pollution. The purpose of this study was to analyze the water quality and quality status of the Cokro River and to formulate a strategy to control water pollution in the Cokro River. This type of research is a mix method of qualitative and quantitative. Sampling was done by purposive sampling method, for pollution control strategies using the AHP method. The results of the water quality analysis show that the BOD and COD parameters exceed the class II and III quality standards at all points, the DO parameters are below the quality standard at points 3 and 5. The quality status at all points is lightly polluted on the quality criteria for class 2, while for class III quality criteria there is one point that is in good condition, that is point 4. AHP results show that the main priority is the social – institution aspect with the highest alternative solution value is to increase the role of the community in controlling river water pollution.Sungai Cokro merupakan anak sungai dari Kali Amprong yang aliran sungainya melewati beberapa desa di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang diantaranya adalah desa Sumberpasir dan desa Pakiskembar. Sungai Cokro terletak diantara pemukiman warga dan lahan pertanian serta beberapa industri. Industri yang berada di area sungai Cokro yaitu industri kulit, industri kertas, dan pabrik tahu. Aktivitas antropogenik mengakibatkan terjadinya pencemaran air sungai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas air dan status mutu sungai Cokro serta rumusan strategi pengendalian pencemaran air di Sungai Cokro. Jenis penelitian adalah mix method kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, untuk strategi pengendalian pencemaran menggunakan metode AHP. Hasil analisa kualitas air menunjukan parameter BOD dan COD melebihi baku mutu kelas II dan III pada semua titik, parameter DO dibawah standar mutu pada titik 3 dan 5. Status mutu pada semua titik tercemar ringan pada kriteria mutu kelas 2, sedangkan pada kriteria mutu kelas III terdapat satu titik yang dalam kondisi bagus yaitu titik 4. Hasil AHP menunjukan bahwa prioritas utama adalah aspek sosial kelembagaan dengan nilai alternatif solusi tertinggi adalah peningkatan peran masyarakat dalam pengendalian pencemaran air sungai
Uji Beda Jenis Umpan Dalam Penggunaan Fly Trap Warna Kuning
Flies are the main nuisance insects and mechanical vectors which in their bodies can carry various diseases such as diarrhea, myiasis, helminthiasis, and anthrax. Generally, flies have an affinity for lighter, darker colors, and flies like things that have used various baits with pungent odors. Therefore, this study used a yellow fly trap and used various baits with strong odors. This study aims to determine differences in the effectiveness of bait types in the use of yellow fly traps. This research is an experimental study with a quasi-experimental design. The research was carried out at a chicken farm located on Penangkaran Buaya street, Makroman Urban Village, Sambutan District, Samarinda City. Research in the field lasted for 4 days start at 08.00 – 12.00 WITA. The results showed that there were differences in the effectiveness of bait types in the use of yellow fly traps in chicken coops located on Penangkaran Buaya street, Makroman Village. There was a significant difference between shrimp bait - control (0.04 < 0.05), between squid bait - beef offal (0.016 < 0.05), between feed of beef offal - control 0.001 and between fish gills - control 0.02 < 0 ,05. The most effective in attracting flies was the bait of cow offal by an average of 47 flies per day. Controlling flies by using various baits on fly traps is quite easy, inexpensive, and, certainly, can be applied by the community. The control must be carried out especially for residential areas that are not far from the breeding sites of flies.Lalat merupakan serangga pengganggu utama serta vektor mekanis yang pada tubuhnya dapat membawa berbagai penyakit seperti diare, myiasis, kecacingan dan anthrax. Umumnya lalat memiliki ketertarikan terhadap warna yang lebih cerah dan pekat serta lalat menyukai sesuatu yang memiliki bau menyengat. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan fly trap berwarna kuning dan menggunakan berbagai umpan dengan bau menyengat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas jenis umpan dalam penggunaan fly trap warna kuning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan quasi eksperimen. Penelitian dilaksanakan di peternakan ayam yang berada di Jalan Penangkaran Buaya, Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda. Penelitian di lapangan berlangsung selama 4 hari mulai pukul 08.00 – 12.00 WITA. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan efektivitas jenis umpan dalam penggunaan fly trap warna kuning di kandang ayam yang berlokasi di Jalan Penangkaran Buaya, Kelurahan Makroman. Terdapat perbedaan bermakna antara umpan udang - kontrol (0,04 < 0,05), antara umpan cumi - jeroan sapi (0,016 < 0,05), antara umpan jeroan sapi - kontrol 0,001 dan antara insang ikan - kontrol 0,02 < 0,05. Yang paling efektif menarik lalat adalah umpan jeroan sapi dengan rata-rata 47 lalat per hari. Pengendalian lalat dengan menggunakan berbagai umpan pada fly trap cukup mudah, murah dan tentunya bisa diaplikasikan oleh masyarakat. Pengendalian harus dilakukan terutama untuk daerah permukiman yang letaknya tidak jauh dari lokasi tempat perkembangbiakan lalat