JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN: Jurnal dan Aplikasi Teknik Kesehatan Lingkungan
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pajanan PM10 Pada Karyawan Operator Di Spbu Lapadde Km 3 Kota Parepare
PM10 is a dust with solid and liquid particulates floating in the air with a media value of 10 microns in aerodynamic diameter. This particulate matter (PM10) can enter through the nose and throat and can reach the lungs. This inhaled particulate metter has a negative impact on health problems, especially on the lungs and heart organs. The purpose of this study is to determine the estimated risk level of PM10 exposure to gas station operator employees. The research method used in this study is the Environmental Health Risk Analysis (ARKL) method. and carried out in July 2021 with a sample of 8 employees of gas station operators. The total concentration of PM10 in ambient air is 0.020 mg/m3 which is carried out at the location point, namely the refueling area at the gas station. The results of the calculation of the Realtime and Lifetime RQ values are obtained 1, the risk for SPBU Operator Employees can still be said to be safe at the gas station for 8 hours per day for the next 30 years.Salah satu pencemar udara yang dapat menimbulkan masalah kesehatan adalah partikel debu kasar atau Particulate Matter 10 (PM10). PM10 adalah debu dengan partikulat padat dan cair yang melayang di udara dengan nilai media ukuran diameter aerodinamik 10 mikron. Particulate matter (PM10) ini bisa masuk melalui hidung tenggorokan dan bias sampai pada paru- paru. Particulate metter yang terhirup ini memberi dampak buruk pada masalah kesehatan terutama pada organ paruparu dan jantung.tujuan penelitian ini Untuk mengetahui estimasi tingkat risiko pajanan PM10 pada Karyawan Operator SPBU.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) dan dilaksanakan pada bulan Juli 2021 dengan jumlah sampel sebanyak 8 orang karyawan operator SPBU. Jumlah konsentrasi PM10 udara ambien di dapatkan yaitu 0,020 mg/m3yang di lakukan pada titik lokasi yaitu area pengisian bahan bakar di SPBU. Hasil perhitungan nilai RQ Realtime dan Lifetime didapatkan ≤1 maka risiko untuk Karyawan Operator SPBU masih dapat dikatakan aman berada di SPBU selama 8 Jam perhari hingga 30 tahun mendatang
Hubungan Pola Makan Dan Pemakaian Masker Terhadap Pencegahan COVID-19 Di Kecamatan Tulis Kabupaten Batang Jawa Tengah
The COVID-19 pandemic has not yet stopped until the spread of COVID-19 has spread, including in Indonesia. Tulis District wis one of the areas with the most COVID-19 cases in Batang Regency, Central Java Province. Covid prevention factors could be influenced by internal factors and external factors. This study aims to analyze the factors related to preventing the spread of Covid in the community in Tulis District. This research is observational with a case control design. A total of 100 people with systematic sampling. Data were analyzed using Chi-Square test and Odds Ratio test. The results showed that there was a relationship between an unbalanced diet (OR = 3.857; CI = 1.670-8.911; p = 0.002), and less habit of wearing masks (OR = 2.923; CI = 1.245-6.865; p = 0.022) with the lack of prevention of the spread of Covid in the Tulis District. So that eating patterns and the habit of wearing masks are factors related to preventing the spread of COVID-19 in Tulis District.Pandemi COVID-19 sampai sekarang belum berhenti hingga penyebaran Covid-19 meluas termasuk Indonesia. Kecamatan Tulis adalah salah satu daerah terbanyak kasus Covid-19 di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Faktor pencegahan Covid dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pencegahan penyebaran Covid pada masyarakat di Kecamatan Tulis. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain case control. Sebanyak 100 orang dengan sampling sistematis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan uji Odds Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pola makan tidak seimbang (OR = 3,857; CI = 1,670-8,911; p = 0,002), dan kebiasaan memakai masker kurang (OR = 2,923; CI = 1,245-6,865; p = 0,022) dengan pencegahan penyebaran Covid di Kecamatan Tulis. Sehingga pola makan dan kebiasaan memakai masker merupakan faktor yang berhubungan dengan pencegahan penyebaran COVID-19 di Kecamatan Tulis
Pemanfaatan Film Animasi Dengue Hemorrhagic Fever Selama Masa Pandemi Covid-19
The number of cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Malang Raya during the COVID-19 pandemic has increased. This is due to the Large-Scale Social Restriction Program (PSBB), so that efforts to tackle the spread of DHF cannot run optimally. This study aims to create an animated film that facilitates education to the people of Malang Raya regarding efforts to prevent and control dengue outbreaks in the pandemic period and in the future. The research methodology is carried out using research and development methods which are divided into two major parts, namely product design and product design in the form of animated films. Research respondents consisted of 16 respondents with an age range of 15-21 years. The results showed that most of the respondents had never watched a DHF animated film. Respondents' responses indicated that there was a potential increase in dengue fever sufferers during the COVID-19 pandemic caused by low self-awareness such as ignoring the quality of their health when studying at home. Suggestions for the DHF animated film are to add information on how to drain the bathtub properly on a regular basis, bury used items that are no longer used, plant mosquito repellent plants, use insect repellent, and create posters or content about dengue fever.Angka kasus Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di Malang Raya pada kondisi pandemi COVID-19 mengalami lonjakan. Hal ini disebabkan oleh adanya Program Pembatasan Social Berskala Besar (PSBB), sehingga usaha untuk menanggulangi penyebaran DHF pun tidak dapat berjalan maksimal. penelitian yang bertujuan untuk membuat film animasi yang mempermudah edukasi kepada masyarakat Malang Raya mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan wabah DBD di masa pandemi dan masa yang akan datang. Metodologi penelitian yang dilakukan dengan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development) yang dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu desain produk dan produk berupa film animasi. Responden penelitian terdiri dari 16 responden dengan rentang usia 15-21 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum pernah menonton film animasi DHF. Tanggapan responden menunjukkan adanya potensi kenaikan penderita demam berdarah di masa pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh kesadaran diri yang rendah seperti mengabaikan kualitas kesehatannya saat pembelajaran di rumah. Saran untuk film animasi DHF adalah dengan menambahkan informasi tentang cara menguras bak mandi dengan baik secara rutin, mengubur barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, menanam tanaman pengusir nyamuk, menggunakan obat nyamuk, dan membuat poster atau konten mengenai demam berdarah
Implementasi Program Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri Di Puskesmas Kecamatan Sukmajaya
The healthcare sector is one of the most important sources of mercury emissions worldwide due to its use in medical devices. Hg is found in thermometers, sphygmomanometers, and dental amalgams. Risk factors due to mercury can arise if medical devices containing mercury are damaged, broken, or spilled. The Government of Indonesia issued Regulation of the Minister of Health Number 41 of 2019 concerning the Elimination and Withdrawal of Mercury Medical Devices in Health Service Facilities. The purpose of this study was to evaluate the withdrawal program for mercury medical devices in Puskesmas in Sukmajaya District, namely Abadijaya Health Center, Baktijaya Health Center, Pondok Sukmajaya Health Center, and Sukmajaya Health Center. Research on the evaluation of the program for the elimination of mercury medical devices in the community health center of Sukmajaya District was conducted using a descriptive observational research design with a quantitative approach. The Mercury Medical Device Withdrawal Program at the Sukmajaya District Community Health Center has not been 100% successful. All puskesmas have stopped using mercury medical devices and switched to non-mercury medical devices, but the management carried out by the puskesmas has not met the requirements because there are still stocks of mercury medical devices that are not available. According to the standard, The withdrawal of mercury medical devices has also not been carried out by the Health Office, and the guidance and supervision of the program also does not run according to standards.Sektor kesehatan adalah salah satu sumber emisi merkuri terpenting di seluruh dunia karena penggunaannya dalam peralatan medis. Hg ditemukan dalam termometer, sphygmomanometer, dan amalgam gigi. Faktor resiko akibat merkuri dapat muncul apabila alat kesehatan yang mengandung merkuri rusak, pecah, ataupun tumpah. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 41 Tahun 2019 mengenai Penghapusan dan Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi program penarikan alat kesehatan bermerkuri di Puskesmas yang berada di Kecamatan Sukmajaya, yaitu Puskesmas Abadijaya, Puskesmas Baktijaya, Puskesmas Pondok Sukmajaya, dan Puskesmas Sukmajaya. Penelitian mengenai evaluasi program penghapusan alat kesehatan bermerkuri di pusat kesehatan masyarakat Kecamatan Sukmajaya dilakukan menggunakan jenis penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Program Penarikan Alat Kesehatan Bermerkuri di Pusat Kesehatan Masyarakat Kecamatan Sukmajaya belum 100% berhasil, seluruh puskesmas telah menghentikan penggunaan alat kesehatan bermerkuri dan berganti ke alat kesehatan non merkuri, namun pengelolaan yang dilakukan oleh puskesmas belum memenuhi syarat karena masih ditemukannya penyimpanan alat kesehatan bermerkuri yang tidak sesuai dengan standar. Penarikan alat kesehatan bermerkuri juga belum dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan pembinaan serta pengawasan program juga tidak berjalan sesuai standar
Analisis Dampak Debu Dan Asap Transportasi Umum Yang Dirasakan Masyarakat Sumber Kejayan
Kejayan Sumber Kejayan is a village whose highway is connected to the provincial road. Where the provincial road is the road that is most frequently passed by public transportation, both large ones such as trailer trucks, containers, tanks and so on as well as small ones such as motorcycles, public transportation, tricycles, private cars and so on. Modern transportation as it is today, the development of transportation is increasingly rapid, which causes air pollution to also increase, this is due to the faster transportation it will require quite a lot of fuel which will result in exhaust gas or road dust also increasing caused by public transportation. The purpose of this research analysis is to determine the impact felt by the local community, especially those who live on the edge of the highway, on dust and smoke caused by public transportation. The data used are primary data and secondary data with descriptive observation method. The primary data was obtained from interviews and questionnaires with 30 local people (respondents) and secondary data was obtained from literature studies such as journals, articles, e-books and searching for data on the internet. The analysis used is descriptive analysis to identify the impact of dust and smoke on public transportation felt by local people in roadside areas. The results of the analysis show that the impact felt by the people who live or work on the edge of the highway on average experience health problems such as coughing, respiratory tract disorders, eye irritation, skin irritation (itching) or redness, headache, nausea, visual disturbances, chest pain, hypertension and also impaired smell.Dimana jalan provinsi merupakan jalan yang paling banyak dilewati oleh transportasi umum baik yang berukuran besar seperti truk gandeng, kontener, tangki dan sebagainya maupun yang berukuran kecil seperti sepeda motor, angkutan umum, becak, mobil-mobil pribadi dan sebagainya.Tidak dapat dipungkiri di zaman modern seperti sekarang ini perkembangan transportasi semakin pesat, yang menyebabkan pencemaran udara juga semakin meningkat, hal ini di akibatkan semakin pesat transportasi maka akan membutuhkan bahan bakar yang cukup banyak dimana nantinya akan mengakibatkan gas buangan atau debu jalanan juga semakin meningkat yang disebabkan oleh transportasi umum. Tujuan diadakan analisis penelitian ini untuk mengetahui dampak yang dirasakan oleh masyarakat setempat khususnya yang bertempat tinggal di pinggir jalan raya terhadap debu dan asap yang disebabkan oleh transportasi umum. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder dengan metode observasi deskriptif. Data primer di peroleh dari hasil wawancara dan kuisioner dengan masyarakat setempat sebanyak 30 (responden) dan data sekunder diperoleh dari studi literatur seperti jurnal, artikel, e-book dan pencarian data di internet. Analisis yang digunakan yakni analisis deskriptif untuk mengidentifikasi dampak debu dan asap transportasi umum yang di rasakan oleh masyarakat setempat di daerah pinggir jalan raya. Hasil analisis menunjukkan bahwa dampak yang dirasakan masyarakat sumber kejayan yang bertempat tinggal atau beraktivitas di pinggir jalan raya rata-rata mengalami gangguan kesehatan seperti batuk, gangguan saluran pernapasan, iritasi mata, iritasi kulit (gatal-gatal) atau kemerahan, sakit kepala, mual, gangguan penglihatan, nyeri di dada, hipertensi dan juga gangguan penciuman
Hubungan Pengetahuan Terhadap Perilaku Masyarakat Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Aedes Aegypti Di Wilayah Kerja Puskesmas Pal. 3 Pontianak
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito and possibly the Aedes albopictus mosquito. The incidence of DHF in Indonesia in the last 3 years of 2018 was 65,602 cases, in 2019 as many as 138,127 cases, and in 2020 as many as 108,303 cases. In West Kalimantan, in 2018, as many as 3,125 cases, in 2019 as many as 2,798 cases, and in 2020 as many as 784 cases. Meanwhile, data on dengue cases in Pontianak City, in 2018 there were as many as 182 cases, in 2019 there were as many as 106 cases, and in 2020 there were as many as 27 cases. Nationally, cases of DHF fluctuate, while in West Kalimantan to Pontianak, it tends to decrease. The death rate (CFR) due to DHF cases in Pontianak City during the period 2018-2019 showed the highest mortality rate occurred in 2018 with a percentage of 1,54% of 100 DHF cases. However, the incidence rate is still there, and every year (endemic) and always has the potential to cause outbreaks. Therefore, efforts to control mosquitoes carrying dengue disease are needed, starting by assessing community knowledge and behavior in controlling DHF disease with nest eradication. Mosquitoes (PSN 3M plus). Objective To examine the relationship between knowledge and community behavior in PSN 3M plus in the work area of the Pal.3 Pontianak Health Center. Methodology is observational research with a cross-sectional approach. The results of the study showed that there was a significant relationship between knowledge and PSN 3M plus in the work area of the Pontianak Pal.3 Health Center, with a value of p = 0.000 (p<). Most respondents have poor knowledge in PSN 3M plus (61,7%), as well as bad behavior in PSN 3M plus (77,7%), so it is concluded that there is a significant relationship between respondents' knowledge and behavior in PSN 3M Plus in the work area of the Pontianak Pal. 3 Health Center.Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan mungkin juga nyamuk Aedes Albopictus. Insidensi DBD di Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir tahun 2018 sebanyak 65.602 kasus, tahun 2019 sebanyak 138.127 kasus dan tahun 2020 sebanyak 108.303 kasus. Di Kalimantan Barat Tahun 2018 sebanyak 3.125 kasus, tahun 2019 sebanyak 2.798 kasus dan tahun 2020 sebanyak 784 kasus. Sedangkan data kasus DBD di Kota Pontianak, tahun 2018 sebanyak 182 kasus, tahun 2019 sebanyak 106 kasus dan tahun 2020 sebanyak 27 Kasus. Secara nasional kasus DBD bergerak fluktuatif, sedangkan di Kalimantan Barat hingga Kota Pontianak cenderung menurun. Angka kematian (CFR) karena kasus DBD di Kota Pontianak selama periode tahun 2018-2019 menunjukan angka kematian paling tinggi terjadi pada tahun 2018 dengan presentase sebanyak 1,54 % dari 100 kasus DBD. Tahun 2020 tidak ada kematian, namun demikian insidence rate masih ada, dan setiap tahun (endemis) dan selalu berpotensi menimbulkan wabah. Oleh karena Perlu ada upaya pengendalian nyamuk pembawa penyakit DBD, dimulai dari mengkaji pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam pengendalian penyakit DBD dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN 3M plus). Tujuan penelitian adalah mengkaji hubungan pengetahuan terhadap perilaku masyarakat dalam PSN 3M plus di wilayah kerja Puskesmas Pal.3 Pontianak. Penelitian bersifat Observasional dengan pendekatan Crossectional. Hasil Penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara Pengetahuan dengan PSN 3M plus di wilayah kerja Puskesmas Pal.3 Pontianak, dengan nilai p=0.000 (p<α). Sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang baik dalam PSN 3M plus (61,7%), begitu juga perilaku kurang baik dalam PSN 3M plus (77,7%), sehingga disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden dengan perilaku PSN 3M Plus di wilayah kerja Puskesmas Pal. 3 Pontianak
Faktor Iklim Dengan Kejadian Pneumonia Di Kota Jakarta Pusat Periode 2016-2020
The environment is one factor that can cause health problems. One aspect of the environment that plays a role in the pattern of disease transmission is climate change. This can be seen in the frequency of respiratory and cardiovascular disease events such as pneumonia. This study aimed to determine the relationship between climate, including temperature, humidity, and rainfall, and the incidence of pneumonia in Central Jakarta in 2016–2020. The method used is quantitative research with a descriptive study design. This study used secondary data where climate data was obtained from the Meteorology, Climatology, and Geophysics Agency. Climate data is daily data which is converted into monthly data. While pneumonia data is monthly data for all pneumonia cases recorded at the DKI Jakarta Health Office, which can be accessed online. The data was processed univariately with descriptive analysis and bivariate with correlation analysis. The results showed that the lower the temperature, the higher the pneumonia cases (r = -0.238). However, the higher the humidity (0.145) and the rainfall (0.158), the higher the pneumonia cases. The local government should increase vigilance against the transmission of pneumonia, especially when humidity and rainfall are high and the ambient temperature is low.Lingkungan merupakan salah satu factor yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Salah satu aspek dari lingkungan yang berperan dalam pola penularan penyakit yaitu perubahan iklim. Hal tersebut dapat terlihat pada frekuensi peristiwa penyakit pernapasan dan kardiovaskular seperti penyakit pneumonia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara iklim meliputi suhu, kelembaban udara, dan curah hujan dengan kejadian pneumonia di Jakarta Pusat pada tahun 2016-2020. Metode yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan desain studi deskriptif. Penelitian ini menggunakan data sekunder dimana data iklim diperoleh dari Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika. Data iklim merupakan data harian yang dikonversi mejnadi data bulanan. Sedangkan data pneumonia merupakan data bulanan seluruh kasus pneumonia yang tecatat pada Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dapat diakses secara online. Data diolah secara univariat dengan analisis deskriptif dan bivariate dengan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah suhu maka semakin tinggi kasus pneumonia (r = -0.238). Namun, semakin tinggi kelembaban udara (0.145) dan curah hujan (0.158) maka semakin tinggi pula kasus pneumonia. Pemerintah setempat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit pneumonia terutama ketika kelembaban dan curah hujan tinggi serta suhu lingkungan rendah
Kemampuan Zeolit Dan Kulit Ubi Kayu Untuk Memperbaiki Kadar Besi (Fe) Dan pH Air Sumur Bor
The amount of Fe in groundwater is usually quite high and causes the water to turn yellow-brown in color. According to preliminary test results, Fe levels were 4.62 mg/L and pH was 4.3 in one of the drilled wells in Banjarbaru, which did not fulfill quality criteria. Using zeolit and cassava peel to enhance Fe levels can be taken as an option. The aim of this study was to determine the effectiveness of the combination of zeolite and cassava peel in improving Fe and pH levels in a drilled water well. An experiment with a post-test only control group design was used for this study. The research population was the entire water supply from one of Banjarbaru’s drilled wells. The research sample was drilled well water, which was taken in part for testing. The Kruskal-Wallis test was employed to analyze differences in Fe levels, followed by the Mann Whitney test with a p-value < 0.05, indicating that there is a significant difference in Fe levels after treatment with combinations A, B, and C. According to the study’s findings, combinations C were the most effective in increasing the Fe levels and pH of drilled well water by up to 0.91 mg/L (78.32%) and 7.2.Air tanah biasanya mengandung Fe yang tinggi dan menyebabkan warna air berubah menjadi kuning-kecoklatan. Berdasarkan hasil uji pendahuluan pada salah satu air sumur bor di Kota Banjarbaru diperoleh kadar Fe 4,62 mg/L dan pH 4,3 yang belum memenuhi baku mutu. Salah satu cara untuk memperbaiki kadar Fe dapat dilakukan menggunakan zeolit dan kulit ubi kayu. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas kombinasi zeolit dan kulit ubi kayu dalam memperbaiki kadar Fe dan pH pada air sumur bor. Jenis penelitian yaitu eksperimen dengan Post-test Only Control Group Design. Populasi penelitian yaitu seluruh air di salah satu sumur bor Kota Banjarbaru. Sampel penelitian yaitu air sumur bor yang diambil sebagian untuk uji coba. Analisis perbed aan kadar Fe menggunakan uji Kruskal Wallis, kemudian dilanjutkan uji Mann Whitney dengan p-value < ∝ (0,05), artinya terdapat perbedaan kadar Fe yang signifikan setelah diberikan perlakuan antara kombinasi A, B dan C. Berdasarkan hasil penelitian kombinasi C paling efektif dalam memperbaiki kadar Fe dan pH air sumur bor sampai dengan 0,91 mg/L (78,32%) dan 7,2
Penilaian Risiko K3 Pada Praktikum Farmakognosi Di Laboratorium Program Studi Farmasi Terkait Dengan Risiko Covid-19
Safe and healthy working conditions the basic for decent work where working conditions like this are even more important today, given the importance of ensuring K3 in managing the Covid-19 pandemic and the ability to return to work. This study aims to determine the risks of making phyto-vegetable simplicia in the Pharmacognosy practicum which related to the risk of Covid-19 and research is descriptive observational. Population i.e work at Pharmacognosy practicum and the sample is job on the manufacture of phyto-vegetable simplicia taken purposively. The research instrument, the researcher identifies the potential hazards (loss) of making simplicia and determines the level of risk. The technique of collecting data i.e. observing step of making simplicia with K3 hazard identification form. The analysis technique i.e. observational data of making simplicia and then determined the potential hazards, cause, the impact, calculated the risk value and level of risk. The results show of making simplicia has potential loss in the form of be inhalated, repetitive movements, and mishandling that can affects the final result with the dominant consequence of discomfort. Dominant risk value 20 (extreme) at the collecting raw materials and wet sorting. As a whole show a low risk meaning acceptable so practicum can do but supervision is needed while low risk of spreading Covid-19 achieved with reducing number exposed chance, minimize contact with the source of transmission i.e. protocols health optimal that so impact disease incidence is also low.Kondisi kerja yang aman dan sehat menjadi dasar untuk pekerjaan yang layak dimana kondisi kerja seperti ini semakin penting saat ini, mengingat pentingnya memastikan K3 dalam mengelola pandemi Covid-19 dan kemampuan untuk kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko pembuatan simplisia nabati pada praktikum Farmakognosi terkait risiko Covid-19 dan penelitian ini bersifat deskriptif observasional. Populasi yaitu pekerjaan pada praktikum Farmakognosi dan sampel adalah pekerjaan pada pembuatan simplisia nabati yang diambil secara purposive. Instrumen penelitian, peneliti mengidentifikasi potensi bahaya (kerugian) dari pembuatan simplisia dan menentukan tingkat risiko. Teknik pengumpulan data yaitu mengamati langkah pembuatan simplisia dengan formulir identifikasi bahaya K3. Teknik analisis yaitu data observasi pembuatan simplisia kemudian ditentukan potensi bahaya, penyebab, dampak, perhitungan nilai risiko dan tingkat risiko. Hasil penelitian menunjukkan pembuatan simplisia memiliki potensi kerugian berupa terhirup, gerakan berulang, dan salah penanganan yang dapat mempengaruhi hasil akhir dengan konsekuensi dominan berupa ketidaknyamanan. Nilai risiko dominan 20 (ekstrim) pada pengumpulan bahan baku dan sortasi basah. Secara keseluruhan menunjukkan resiko rendah artinya dapat diterima sehingga praktikum dapat dilakukan namun diperlukan pengawasan sedangkan resiko rendah penyebaran Covid-19 dicapai dengan mengurangi angka peluang terpapar, meminimalkan kontak dengan sumber penularan yaitu protokol kesehatan yang optimal sehingga berdampak timbulnya penyakit juga rendah
Analisis Pencemaran Air Pasca Penerapan Sanksi Terhadap Tindak Perusakan Konservasi Sumber Daya Air Di Sungai Silandak Kecamatan Ngaliyan Semarang
Changes in river quality can reduce the optimal use of rivers for residents. The rapid development of industry in Indonesia, which is not balanced with a sense of responsibility towards the environment, can trigger water pollution. Liquid waste containing toxic materials that is flowed into rivers without being neutralized first can damage marine ecosystems and even kill aquatic biota. The study was conducted to find out the comparison between before and after sanctions were applied to water pollution in the Silandak River. The research procedure uses field observations of water conditions such as color, turbidity, aroma, amount of water, and current by taking pictures using a smartphone camera and recording observations using ATK. In addition, interviews were conducted with local residents. The results showed that there was a comparison between before and after handling. The color indicator was light brown, the level of turbidity was low, there was no foul smell, and the river flow was heavier than before. The existence of handling or efforts to overcome environmental problems so that the community is not disturbed again due to waste disposal without being processed first.Berubahnya kualitas sungai dapat mengurangi keoptimalam pemanfaatan sungai bagi warga. Pesatnya perkembangan industri di Indonesia yang tidak diimbangi dengan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan dapat memicu pencemaran air. Limbah cair yang mengandung bahan beracun yang dialirkan ke parit atau sungai tanpa dilakukan netralisir terlebih dahulu dapat merusak ekosistem laut bahkan membunuh biota air. Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran perbandingan antara sebelum dan sesudah diterapkan sanksi terhadap tindak pencemaran air di Sungai Silandak. Prosedur penelitian dengan pengamatan lapangan terhadap kondisi air dari warna, kekeruhan, aroma, jumlah air serta arus dengan mengambil gambar menggunakan kamera smartphone dan mencatat hasil pengamatan menggunakan ATK. Selain itu dilakukan wawancara kepada warga sekitar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbandingan antara sebelum dan pasca penanganan indicator warna air coklat muda, tingkat kekeruhan rendah, tidak timbul aroma busuk, dan aliran sungai lebih deras dari sebelumnya. Adanya penanganan ataupun upaya dalam mengatasi permasalahan lingkungan sehingga masyarakat tidak terganggu kembali akibat pembuangan limbah tanpa diproses terlebih dahulu