Konstruksia
Not a member yet
341 research outputs found
Sort by
Simulasi Rekayasa Lalu Lintas Terhadap Kemacetan Bundaran Kadipaten
Kemacetan lalu lintas merupakan masalah yang sering terjadi di kota-kota besar. Salah satu titik kemacetan yang sering dikeluhkan adalah kemacetan yang terjadi di bundaran Kadipaten Kabupaten Majalengka, yang memiliki peran penting menghubungkan pusat kota Sumedang-Majalengka-Cirebon dengan daerah sekitarnya. Kemacetan disebabkan oleh volume kendaraan yang tinggi dan penggunaan lajur yang tidak efisien, mempengaruhi waktu tempuh perjalanan, meningkatkan polusi udara, dan mengurangi kenyamanan pengguna jalan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja bundaran Kadipaten Kabupaten Majalengka serta alternatif simulasi pengalihan lalu lintas dengan menggunakan metode MKJI 1997 dan aplikasi VISSIM. Hasil analisis menunjukkan variasi lalu lintas, dengan jam tertentu memiliki kepadatan rendah. Komposisi kendaraan termasuk jenis kendaraan ringan, berat, dan sepeda motor. Namun, beberapa jalur seperti Jl. Bandung – Kertajati dan Jl. Kertajati – Majalengka mengalami kemacetan karena derajat kejenuhan melebihi 0,7, meskipun masih di bawah 0,75 sesuai MKJI 1997. Beberapa jalinan juga menunjukkan potensi kemacetan, seperti jalinan AB, BC, dan CD, yang memerlukan perhatian untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Simulasi pengalihan lalu lintas dengan 2 skema, menunjukkan skema 1 lebih efektif dibandingkan skema 2 dengan waktu tundaan lebih rendah dan antrian lebih pendek. Rencana untuk menghapus bundaran Kadipaten diharapkan meningkatkan kelancaran lalu lintas secara keseluruhan
Perilaku Lekatan Tulangan Bambu Takikan Terhadap Beton Normal Dan Beton SCC
Morisco (1996) melakukan penelitian dengan menggunakan bambu sebagai pengganti tulangan baja dikarenakan Kekuatan Tarik bambu relatif tinggi dan bisa mencapai 370 MPa. Untuk tulangan bambu yang digunakan berukuran 20 mm x 5 mm akan diberikan takikan tipe setengah lingkaran dengan lebar takikan 10 mm, dalam takikan 5 mm dan jarak antara takikan 40 mm. penelitian ini menggunakan metode eksperimen, dengan pengujian yang dilakukan antara lain, pengujian karasteristik bambu, berupa kadar air bambu dan uji kuat Tarik bambu, dan untuk mengetahui kuat lekat antara tulangan bambu takikan dengan beton normal dan beton SCC akan dilakukan pengujian pull out. Nilai kuat lekat tulangan bambu terhadap bambu takikan type setengah lingkaran terhadap beton normal setelah dirata-ratakan dari ketiga sampel uji adalah 0,76 MPa, sedangkan nilai kuat lekat tulangan bambu takikan type setengah lingkaran terhadap beton SCC setelah dirata-ratakan dari ketiga sampel uji adalah 0,86 MPa. maka dapat disumpulkan bahwa penggunaan beton SCC berpengaruh terhadap kuat lekat tulangan bambu jika dibandingkan dengan beton normal, hal ini dikarenakan sifat beton SCC yang memiliki sifat dapat memadat dengan sendirinya sehingga memiliki kerapatan yang lebih baik. Selain itu faktor lain yang mempengaruhi hasil tersebut adalah nilai kuat tekan beton SCC lebih tinggi dibandingkan dengan beton normal
Time History Sintetik di Wilayah Bogor Ditinjau dari Deagregasi Hazard
Indonesia dikenal selain sebagai negeri yang dikeliling cincin gunung api, juga wilayah yang paling kerap diguncang gempa. Salah satu, yang terdahsyat di zaman modern ini, adalah gempa yang menyebabkan tsunami Aceh 2004 yang memiliki kekuatan 9,1 – 9,3 Mw juga termasuk gempa besar di dunia. Salah satu gempa besar lain adalah gempa Cianjur 2022 yang berkekuatan 5,6 Mw. Salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi risiko gempa adalah mendesain bangunan dengan konsep tahan gempa. Dalam perencanaan bangunan dengan konsep tahan gempa terutama gedung tinggi dibutuhkan data time history dalam merencanakan beban gempa. ketersediaan data time history di Indonesia saat ini masih menjadi kendala. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis Bangunan Tinggi di Wilayah Bogor yang dapat jadikan referensi dalam mendesain beban gempa untuk perencanaan gedung. Penentuan Uniform Hazard Spectrum (UHS) dilakukan dengan metode probabilistik, kemudian dilanjutkan dengan melakukan spectral matching untuk mendapatkan ground motion sintetik, lalu tahap berikutnya menggunakan Deepsoil untuk mengetahui Shear Stress Ratio dan Tripartite Graph. Hasil dari penelitian ini diperoleh risiko gempa yang direpresentasikan dalam bentuk nilai percepatan untuk Wilayah Bogor pada UHS memiliki nilai percepatan T = 0 detik adalah 0.3537 g, T = 0.2 detik adalah 0.8689 g, dan T = 1 detik adalah 0.2802 g. Sumber gempa Sesar Cimandiri mendominasi sebesar 23,775% yang diprediksi memiliki kontribusi terbesar terhadap risiko gempa. Hasil Spectral Matching dengan Big Bear 01 1992 Wrightwood - Swarthout yang mempunyai magnitude 6.46 dengan mekanisme strike slip dan jarak 70.94 km yang kurang lebih sama dengan Deagregasi Hazard yang dimaksud. Hasil respons spektra memperlihatkan bahwa hasil dari matching begitu tinggi dan turun bertemu dengan respons spektra yang ada pada layer 1, 2, dan 3 di detik ke sekitar 0.74
Pengaruh Tinggi Tertanam Pondasi Block Terhadap Karakteristik Dinamik Pondasi Mesin
Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh dari panjang pondasi tertanam didalam tanah terhadap karakterisik dinamis pondasi mesin. Dari penelitian diperoleh dengan pengurangan tinggi ratio tertanam pondasi (Rh) dari 90% ke 20% diperoleh penurunan frekuensi arah vertikal (fnz) sebesar 5,24% dan untuk frekuensi alami arah horizontal (fnx) diperoleh penurunan sebesar 10,66%. Penurunan nilai frekuensi alami pondasi dapat beresiko pada meningkatnya respon pondasi akibat beban vibrasi mesin jika pondasi mesin didesain berada di atas frekuensi operasi mesin (high tune system) dan mendekati frekuensi operasi mesin
Perbandingan Kecepatan Pada Bundaran Dengan Menggunakan PTV VISSIM
Perkembangan Ibukota memainkan peran krusial dalam membentuk dinamika sistem lalu lintas. Jakarta, sebagai pusat kegiatan dan ibukota negara, menanggung dampak signifikan dari pertumbuhan dan perubahan. Pertumbuhan tersebut dan perekonomian akan dipengaruhi oleh transportasi yang menitikberatkan salah satunya pada kecepatan kendaraan. Dalam analisanya diperlukan beberapa data yang akan diinput ke program PTV VISSIM untuk melihat kecepatan kendaraan yang terjadi pada masing-masing bundaran tersebut. Pada pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan data selama beberapa hari pada 2 bundaran yang ditinjau. Bundaran yang ditinjau berada didaerah Jakarta pusat dan Jakarta utara. Pengumpulan data dilakukan dengan merujuk pada kondisi jam pagi, siang dan malam. Analisa yang dilakukan menggunakan data primer yang dimasukkan ke dalam PTV VISSIM. Datanya berupa volume kendaraan dan geometrik jalan yang ada di lokasi tersebut. Geometrik yaitu berupa ukuran lebar jalan pada bundaran termasuk jalan yang masuk ke bundaran dan yang keluar bundaran. Untuk pemodelan PTV VISSIM dengan kondisi yang terjadi pada bundaran yang terdapat di daerah Jakarta Utara didapatkan nilai r2 sebesar 0,9949. Pemodelan PTV VISSIM dengan kondisi yang terjadi pada bundaran yang terdapat di daerah Jakarta Pusat didapatkan nilai r2 sebesar 0,9728. Pada bundaran yang ada di Jakarta Pusat kecepatan rata-rata yang didapat sebesar 35,73 km/jam. Pada bundaran yang terjadi di Jakarta Utara lengannya hanya 4 lengan dengan volume yang relatif rendah. Pada kecepatan kendaraan yang ada di Jakarta Utara didapat rata-rata sebesar 57,70 km/jam
Pemodelan Empiris Pemeliharaan Pada Perkerasan Chip Seal Dan Laston
Di Indonesia, seperti halnya di banyak negara lain, terdapat beberapa masalah yang berkaitan dengan pemeliharaan perkerasan jalan. Perencanaan pemeliharaan jangka panjang yang tidak memadai dapat menyebabkan pemeliharaan yang reaktif dan tidak efisien. Perencanaan yang baik sangat penting untuk memastikan bahwa perkerasan jalan tetap dalam kondisi yang baik. Umumnya, masalah pemeliharaan akibat alur terjadi ketika perkerasan berubah bentuk secara permanen akibat beban lalu lintas yang berulang. Permukaan yang bergelombang atau tidak rata dapat membuat pengemudi tidak nyaman dan meningkatkan risiko kecelakaan. Perkerasan Laston dan chip seal merupakan perkerasan yang paling sering digunakan, sehingga perlu dilakukan kajian terkait ketebalan perkerasan dan umur pemeliharaan. Penggunaan material Laston memiliki umur pemeliharaan yang lebih lama namun jika lalu lintas padat maka penggunaan chip seal menjadi alternatif. Laston memiliki umur pemakaian yang lebih lama dibandingkan dengan chip seal, sehingga pemeliharaan Laston sebagai perkerasan jalan dapat menjadi pilihan. Persamaan Logaritmik merupakan bahasa komunikasi yang memudahkan dan cepat dalam menghitung probabilitas atau prediksi untuk menghitung pemeliharaan jalan
Pengaruh Faktor Pemangku Kepentingan, Manajemen Pelaksanaan terhadap Kinerja Pekerjaan Elevated pada Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung
Salah satu bentuk pembangunan nasional adalah pembangunan sektor infrastruktur. Pada tataran politik, kereta cepat merupakan salah satu bentuk modernisasi di Indonesia yang memperkuat peran perkeretaapian sebagai angkutan umum di perkotaan dan lalu lintas antar kota. Jalur kereta api berkecepatan tinggi ini terdiri dari elevated, tunnel dan subgrade. Selama pelaksanaan proyek konstruksi banyak terjadi keterlambatan pelaksanaan, salah satunya adalah pekerjaan elevated. Survei dilakukan dengan metodologi survei terhadap 44 (empat puluh empat) responden, menggunakan instrumen tanya jawab kepada responden untuk mengidentifikasi faktor pemangku kepentingan dan dampak manajemen implementasi terhadap kinerja waktu dan dampak biaya proyek konstruksi. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan metode Relative Importance Index (RII) dan SPSS. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa variabel yang paling dominan adalah pemangku kepentingan. Main faktor paling dominan adalah owner, sedangkan sub faktor paling dominan yang berpengaruh menjadi kendala kinerja pekerjaan elevated, yaitu terdapat perubahan design pada saat pelaksanaan proyek
Optimalisasi Biaya dan Waktu Pekerjaan Perumahan Griya Pekerja Sejahtera
Distrik Malasilen merupakan salah satu distrik di Kota Sorong yang termasuk dataran tinggi dan daerah pengembangan di Kota Sorong, daerah ini mulai berkembang salah satunya proyek pembangunan perumahan subsidi yang sementara ini berkembang sangat pesat di Kota Sorong. Hal ini memaksa pengusaha untuk memikirkan bagaimana menyelesaikan proyek dan mengoptimalkan biaya dalam jangka waktu yang relatif singkat. Dalam penelitian ini menggunakan aplikasi Primavera P6 dengan memasukkan RAB (Rencana Anggaran Biaya), durasi pekerjaan dan Analisa harga satuan. Metode yang digunakan yaitu Time Cost Trade Off dengan penambahan jam kerja 1 dan 2 jam. Hasil dari penelitian ini biaya paling optimum didapat pada penambahan dua jam kerja dengan biaya Rp.147.788.791,03 terjadi pengurangan biaya sebesar Rp.5.619.053,6 dari biaya total normal sebesar Rp.153.407.844,63 dipersingkat 19 hari dari biasanya 97 hari menjadi 78 hari. Satu jam kerja akan mengurangi waktu penyelesaian proyek sebesar 11 hari dari biasanya 97 hari menjadi 86 hari, sehingga mengurangi biaya sebesar Rp 3.952.267,54 dari biasanya sebesar Rp 153.407.844,63. 149 455 577 ,09
Peningkatan Kualitas Menggunakan Pendekatan Lean Six Sigma Untuk Konstruksi Gedung Di Indonesia
Indonesia melalui kota Jakarta sedang gencar dibangun. Berdasarkan survei konsultan konstruksi, pembangunan merupakan langkah terbaik untuk memenuhi kualitas hidup masyarakat luas. Kinerja pembangunan harus meningkatkan kualitas baik sarana maupun prasarana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor dan pengaruh evaluasi metode lean six sigma pada pekerjaan gedung perkantoran. Diperlukan metode lean six sigma yang digunakan untuk menganalisis fungsi-fungsi yang dibutuhkan dengan kinerja yang berkualitas untuk pekerjaan gedung perkantoran. Metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) dianalisis menggunakan software SmartPls untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan waktu. Hasil dari penelitian ini adalah faktor-faktor yang terjadi pada pekerjaan suprastruktur, material, tenaga kerja, dan manajemen proyek: Y1 =0,529X1 + 0,073X2 - 0,231X3 + 0,072X4 + 0,017X5 - 0,036X6 + 0,125X7 danY2= -0,038X1 + 0,001X2 - 0,199X3 - 0,024X4 + 0,390X5 + 0,357X6 - 0,108X7. Penilaian penerapan Lean Six Sigma dari nilai Non-Conformance Report (NCR) sebesar 181, data sigma untuk cacat yang dihasilkan oleh pekerjaan suprastruktur dengan nilai DPMO sebesar 6.725,624 atau setara dengan 3,99 sigma