Konstruksia
Not a member yet
341 research outputs found
Sort by
ANALISIS UNJUK KERJA JARINGAN PIPA SIPHON
Dalam makalah ini dijelaskan tentang kemampuan jaringan pipa siphon memindahkan sejumlah air dari satu reservoir ke reservoir lain. Konsep teknik pemindahan air ini, sama seperti halnya dengan irigasi yang sudah lazim digunakan. Perbedaan diantara keduanya terletak pada jaringan pipa siphon dibentangkan mengikuti halangan dengan ketinggian tertentu. Hasil-hasil yang dicapai berdasarkan pengukuran dari berbagai ukuran dan bentangan pipa siphon, diuraikan dalam makalah ini. Volume air keluaran yang secara teoritis berbanding langsung dengan laju aliran air, ternyata banyak juga dipengaruhi oleh dimensi fisik.Kata kunci: Pipa PVC, sistem siphon, laju aliran, rugirugi, debi
ANALISIS SAMBUNGAN SISTEM SARUNG SEBAGAI SOLUSI KEGAGALAN STRUKTUR AKIBAT PERBEDAAN MATERIAL KONSTRUKSI
Konstruksi Beton bertulang memiliki kelebihan pada mudahnya membentuk ukuran sesuai dengan kapasitas layannya, dan ini berbeda dengan Baja. Baja adalah dibentuk berdasar Profil yang telah tersedia di pasaran. Bila kapasitas layan lebih besar 0.001 diatas dari kebutuhan Profil baja nya, maka dimensi harus dirubah, dan sangat mungkin dimensinya menjadi terlampau boros dibanding kapasitas yang akan dilayani. Hasil Pemeriksaan jumlah tulangan / pembesian terpasang untuk Balok Kantilever mempunyai tulangan atas sebanyak 6D32, dan tulangan bawah 5D32 dengan bentang balok kantilever sepanjang 3 m. Dimensi balok kantilever adalah 20 x 40 cm2. Hasil pemeriksaan Tulangan Kolom adalah didasarkan dari Tulangan Kolom yang ditinjau dari lantai dasar yang menembus ke lantai Aula dengan cara diketrik (dikupas) untuk meninjau jumlah tulangannya. Hasilnya Tulangan Kolom adalah berjumlah 8D32 ditambah “tulangan ekstra” 4D16. Elemen Balok Kantilever Balkon eksisting sulit diangkur, bila di sisi depan dibuatkan sambungan, maka dibuat ide dengan Sambungan Sarung. Sambungan Sarung yang dimaksud adalah memberikan perkuatan sambungan antara konstruksi baja dan beton dari momen puntir, momen lentur (walau dalam modelisasinya sendi), dan tarik. Filosofi dari konstruksi seperti Gambar 3 dan 4 tersebut, adalah memiliki dampak tarik pada sambungan akibat dari beban vertikal maupun beban horisontal gemp
MODEL KEBUTUHAN TRANSPORTASI MENGGUNAKAN DATA VOLUME LALU LINTAS
Masalah-masalah yang timbul di dalam sistem transportasi memerlukan Matriks AsalTujuan (MAT) sebagai input utama yang merepresentasikan pola perjalanan pada suatu wilayah perencanaan. Metode untuk mendapatkan MAT dapat dikelompokkan menjadi Metode Konvensional dan Metode berdasarkan data arus lalu lintas (biasanya disebut Metode Tidak Konvensional). Metode Tidak Konvensional merupakan suatu metode estimasi yang cukup efektif dan ekonomis karena data utama yang dibutuhkannya adalah data arus lalu lintas yang untuk memperolehnya membutuhkan biaya yang murah, banyak tersedia dan mudah didapat. MAT yang dihasilkan dari data arus lalu lintas selanjutnya dapat dibedakan menjadi dua kondisi yaitu MAT pada kondisi saat ini dan MAT yang diprediksi untuk masa mendatang. Estimasi MAT pada kondisi saat ini digunakan sebagai input dalam memprakirakan MAT di masa mendatang. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memodelkan perilaku kebutuhan transportasi di dalam wilayah studi. Tujuan penelitian ini adalah melanjutkan pengembangan metode estimasi model kebutuhan transportasi berdasarkan informasi data arus lalu lintas, dalam meninjau faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keakurasian MAT. Model yang dikembangkan selanjutnya di uji menggunakan data Kota Bandung dan sekitarnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa MAT hasil estimasi menunjukkan tingkat kesesuaian yang tinggi terhadap MAT hasil pengamatan. Metode uji statistik yang digunakan adalah: Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), Normalised Mean Absolute Error (NMAE) dan Koefisien Determinasi (R2 dan SR2). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa model GO selalu menghasilkan arus lalu lintas hasil estimasi yang terbaik. Jika dipertimbangkan beberapa kriteria tambahan, maka secara keseluruhan metode estimasi yang terbaik adalah kombinasi antara model GR dengan metode estimasi KTB. Disamping itu, dari hasil yang diperoleh, penggunaan metode pemilihan rute keseimbangan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan metode all-ornothin
PERCEPATAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR DI INDONESIA: MENATA ULANG PERAN PEMERINTAH DAN DUNIA USAHA SWASTA DALAM PEMBANGUNAN DAN PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR
Setelah krisis ekonomi tahun 1998, Investasi infrastruktur di Indonesia turun menjadi hanya 1-2% dari Product Domestic Bruto (PDB), dan setelah itu secara berangsur terus meningkat di kisaran 2-3%. Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan kebutuhan investasi infrastruktur pada tahun 2010-2014 mencapai Rp 1.429 triliun atau sekitar 3% dari PDB, hal ini dalam rangka ‘mengejar’ agar angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5-7% per tahun dapat tercapai. Namun hal tersebut terkendala dengan terbatasnya kemampuan pendanaan Pemerintah, sehingga diproyeksikan bahwa sekitar 65% dari kebutuhan investasi tersebut diharapkan berasal dari swasta. Sebagai perbandingan, investasi infrastruktur di negara maju adalah 5-6% dari PDB. Perpres juga memberikan peluang bagi badan usaha swasta untuk mengajukan prakarsa proyek kerjasama di luar proyek yang diajukan pemerintah (unsolicited project) dengan tetap mengacu pada prosedur pengusulan proyek yang berlaku dan apabila diterima, akan tetap diproses melalui pelelangan umum secara terbuka dan kompetitif. Pemrakarsa proyek akan diberikan kompensasi antara lain dalam bentuk pemberian tambahan nilai atau pembelian prakarsa proyek termasuk Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yang menyertainya
SEJARAH BATU BATA MERAH PEJAL
Peran baris batu digunakan pada waktu kuno. Baris batu dikeringkan di bawah sinar matahari atau dibakar. Selanjutnya, batu bata digunakan untuk pertama kalinya di Yunani kuno sampai sekarang. Cara membuatnya berubah dari waktu ke waktu, dari cara sederhana sampai cara manufaktur. Pekerja juga harus memenuhi standar mutu. Perubahan ukuran dari batu bata mulai dengan ukuran (65 x 85 x 4) cm dan sekarang, bata memiliki ukuran yang lebih besar. Cara membakarnya juga berubah untuk mendapatkan kualitas yang lebih baik
STUDI BANDING PENGARUH FAKTOR AIR SEMEN DAN KADAR FLY ASH TERHADAP KUAT TEKAN DAN PERMEABILITAS BETON RINGAN
Kadar air semen (w/c) sangat mempengaruhi kuat tekan beton, kadar air semen yang kecil menghasilkan kuat kuat tekan yang besar.. sebaliknya kadar air semen besar menghasilkan kuat tekan beton yang kecil. Abu terbang ( fly ash) dapat meningkatkan kuat tekan beton, karena fly ash mengandung Si02 yang tinggi, kekuatan beton meningkat karena butiran mikrosilika yang sangat hales bereaksi dengan air dan Ca(OH)2 (kapur) akan menghasilkan Massa yang padat, sehingga menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Pada percobaan ini kuat tekan yang paling besar adalah. 50 Mpa yang dihasilkan oleh campuran denga perbandingan air semen ( w/c) =0.3 dan penambaban fly ash 30%
PEMAHAMAN KONTRAK KONSTRUKSI INTERNASIONAL TERHADAP TANTANGAN ERA GLOBALISASI
Bidang konstruksi di indonesia diatur dengan Undang-Undang 18/1999, dimana salah satu butir tentang Tujuan pengaturan jasa Konstruksi adalah ”menjamin kesetaraan kedudukan antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam hak dan kewajiban”, yang merupakan juga tuntutan dalam bidang jasa konstruksi nasional maupun internasional. Saat ini di Indonesia untuk proyek-proyek dengan pendanaan dalam negeri banyak digunakan ”tailor made contract” yang merupakan ”unilateral contract” disiapkan oleh pengguna jasa dengan keberpihakan tentunya kepada pengguna jasa. Dalam menghadapi era globalisasi, apa yang sudah bisa dilakukan harus segera dilakukan, yaitu peningkatan pemahaman standar kontrak internasional yang merupakan suatu hal yang ”mandatory” dalam pelaksanaan konstruksi ke depan, upaya pendorong dukungan dari pemerintah adalah pemberlakuan standar kontrak nasional sebagai upaya pembelajaran bagi penyedia jasa nasiona
PENCEGAHAN PENDANGKALAN ALUR PELAYARAN ANTARA DUA BREAKWATER, DENGAN SYSTEM SAND BYPASSING
Pendangkalan alur pelayaran yang terletak diantara dua breakwater, merupakan fenomena alam yang biasa terjadi, sehingga upaya mengatasinya harus menggunakan solusi yang tepat agar alur pelayaran dapat berfungsi sebagaimana mestinya dengan biaya yang memadai. Upaya pencegahan pendangkalan yang disebabkan oleh sedimen transport yang datang dan masuk ke alur pelayaran harus dipindahkan agar tidak terjadi pengendapan, dalam hal ini dibahas dengan menggunakan sistem sand by passing. Material yang masuk melalui breakwater diupayakan agar dapat terus berlalu dan tidak mengendap di alur, tentunya dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas material sedimen
ANALISIS KETAHANAN GEMPA DINAMIS PADA GEDUNG DEPARTEMEN ERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN MENGGUNAKAN SNI 03-1726-2002
oai:ojs.jurnal.umj.ac.id:article/6Aspek perencanaan yang harus ditinjau salah satunya adalah memperhitungkan kemampuan struktur terhadap gempa. Di Indonesia saat ini terdapat 2 peraturan yang kedua-duanya masih berlaku yaitu Peraturan Bangunan Tahan Gempa SNI 03-1726-1989 dan SNI 03-1726-1989. Peraturan ini menjadi menarik ketika ada klaim bahwa peraturan tahun 1989 menjadikan konstruksi tidak aman ketika diberlakukan peraturan baru. Kasus yang dipakai disini adalah menggunakan bangunan eksisting Depatemen Perindustrian dan Perdagangan Jl. MI Ridwan No. 5 Jakarta Pusat. Alat bantu hitung adalah SAP 2000 versi 11. Perencanaan dengan Gempa sistem Statis dan Dinamis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Volume pembesian yang dihasilkan peraturan SNI 03-1726-1989, menunjukkan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan peraturan tahun 2002. Hasil tersebut mematahkan klaim tentang peraturan 1989 tersebut
KORELASI PENERAPAN ILMU TEKNIK, ILMU EKONOMI DAN KEAHLIAN TEKNIK DALAM PROBLEMATIK PROYEK KONSTRUKSI
Proyek adalah suatu keseluruhan aktifitas atau kegiatan yang menggunakan sumber-sumber (dana, daya dan lain-lain) untuk mendapatkan manfaat pada masa yang akan datang dan yang dapat direncanakan dibiayai dan dilaksanakan sebagai suatu unit aktifitas untuk mencapai tujuan dan mempunyai suatu titik akhir (ending point). Pada dekade tahun 60-an dan sebelumnya, umumnya para tenaga teknik (insinyur) melibatkan dirinya dengan pekerjaan-pekerjaan perencanaan konstruksi, perhitungan-perhitungan dan lain sebagainya, kurang sekali perhatiannya terhadap sumber-sumber daya atau tenaga baik yang berasal dari manusia maupun sumber alam yang menghasilkan produk-produk akhir. Bidang usaha semakin lama semakin kompetetif, akibatnya para insinyur memainkan peran yang semakin bertambah penting dalam pengelolaan dan beberapa keputusan yang dibuat oleh para insinyur menyangkut faktor ekonomi. Para insinyur sebagai ahli teknik dalam melakanakan suatu proyek diahadapan dengan persoalan penerapan ilmu teknik, ilmu ekonomi serta keahlian teknik dalam permasalahan proyek untuk mengambil suatu keputusan. Segi proses keahlian teknik yang mencoba mempelajari kebutuhan-kebutuhan manusia, memerlukan tidak hanya suatu pengetahuan saja (batasan-batasan kemampuan teknik), tetapi memerlukan juga pengetahuan umum seperti sosiologi, psikologi, politik, ekonomi dan lain-lain dimana pengetahuan ini sangat berguna dan penting dalam banyak cabang ilmu pengetahuan teknik modern. Pengetahuan tentang Net Present Value, Internal Rate of Return dan Net Benefit-Cost Ratio sangat diutamkan dan merupakan hal yang mutlak dikuasai agar investasi yang diutamakan dapat mencapai sasaran sesuai dengan prinsip ekonomi dan teknik.Keahlian teknik yang selalu berhadapan dengan lingkungan fisik, berlangsung terus menerus untuk memenuhi kebutuhan umat manusia yang timbul dalam suatu lingkungan ekonomi