Konstruksia
Not a member yet
    341 research outputs found

    TINJAUAN METODE PELAKSANAAN AKIBAT KERUSAKAN RANGKA FACADE CURTAIN WALL SISTEM UNITIZED

    Get PDF
    Perkembangan teknologi facade curtain wall dan pengaplikasiannya pada suatu bangunan tidak terlepas dari disiplin ilmu arsitektur dan ilmu teknik sipil, walaupun secara kecenderungan lebih berpihak pada bidang ilmu arsitektur, namun dalam prakteknya tidak dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan bidang ilmu teknik sipil khususnya dalam metode pelaksanaan dan analisa struktur. Facade curtain wall merupakan salah satu komponen dari suatu gedung yang pertama menerima pengaruh dari luar gedung baik dari beban angin, hujan, suhu dan cahaya. Proses pengerjaan facade curtain wall mulai dari proses disain, fabrikasi, dan proses pemasangan di lapangan haruslah menjadi perhatian khusus untuk mencapai hasil yang diinginkan dari sistim facade curtain wall, jika tidak hal ini akan menyebabkan kerusakan pada sestim facade curtain wall yang mengakibatkan kebocoran air dan udara yang masuk ke area interior gedung dan kerusakan dari material komponen facade curtain wall juga dapat menyebabkan keruntuhan yang membahayakan jiwa di area bawah gedung. Salah satu faktor dari kerusakan facade curtain wall adalah faktor defleksi dari rangka curtain wall yang tidak memenuhi syarat yang di tentukan. Selain kerusakan dari rangka facade curtain wall itu sendiri, hal ini berdampak terhadap kerusakan material lainya yang menempel langsung terhadap rangka facade curtain wall diantaranya material silicon sealant, gasket dan kaca yang nantinya akan menyebabkan potensi penyebab kebocoran air hujan yang masuk ke dalam area gedung . Upaya untuk mengatasi hal ini, dengan tidak merubah luas penampang dari profil rangka aluminium facade curtain wall yaitu dengan memperpendek bentangan untuk rangka vertical ( mullion male dan female ) dengan menambahkan steel bracing pada area backing spandrel sehingga defleksi yang disyaratkan dapat tercapai. Pemeliharaan facade curtain wall baik dalam proses konstruksi dan setelah proyek diserah terimakan kepada pemilik gedung ( owner ) sangatlah penting. Pengetahuan akan sistem dari façade curtain terutama sekali bagi pihak maintanace pemilik gedung yang akan melakukan pengecekan secara berkala.Kata Kunci :Facade curtain wall, Sistem unitized , Kekuatan rangk

    ANALISA KARAKTERISTIK CURAH HUJAN DI KOTA BANDAR LAMPUNG

    Get PDF
    Dari hasil penelitian untuk menganalisis karakteristik curah hujan dari data hujan durasi jangka pendek pada stasiun BMG Maritim Lampung (tahun 2000-2014), dapat disimpulkan  sebagai berikut: (1) Data hujan yang digunakan adalah data curah hujan jangka pendek ( 5, 10, 15, 30, 45, 60, 120 menit, 3 jam, 6 jam dan 12 jam ) dan merupakan data maksimum tahunan (annual maximum series), (2) Jenis distribusi yang sesuai dengan  semua stasiun pengamatan adalah Distibusi Log pearson Type III, (3)  Intensitas hujan metode Van Breen menggunakan persamaan Talbot dipakai sebagai acuan untuk membentuk kurva IDF. Persamaan Intensitas ini berlaku hanya untuk data hujan sepanjang tahun pengamatan saja pada stasiun BMG Maritim Lampung, (4) Dari kurva IDF terlihat bahwa intensitas hujan yang tinggi berlangsung dalam durasi pendek, (5) Kurva IDF dapat digunakan untuk menentukan banjir rencana dengan mempergunakan metode rasional.Kata kunci: Intensitas Hujan, kurva IDF, curah huja

    PENYEBAB DAN DAMPAK VARIATION ORDER (VO) PADA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI

    Get PDF
    Variation order dapat disebabkan dari berbagai pihak yang terkait pada pelaksanaan proyek konstruksi. Hal ini yang menyebabkan perubahan perencanaan sehingga pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan perencanaan awal dan biaya yang telah ditentukan. Untuk mengetahui penyebab variation order dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner kepada pihak-pihak yang terkait pada pelaksanaan konstruksi. Analisa data kuisioner menggunakan program SPSS 19.0 for Windows dengan metode analisis deskriptif dan analisis rangking. Dari hasil penelitian didapatkan urutan rangking faktor-faktor yang menjadi penyebab variation order. Dampak variation order dikaji pada data dokumen kontrak addendum untuk mengetahui berapa besar penambahan biaya yang terjadi akibat adanya variation order yang dituangkan dalam bentuk tabel dan grafik dengan menggunakan Microsoft Excel untuk mempercepat perhitungan dan penjumlahan.Kata Kunci : variation order, penyebab, dampak

    STUDI KEBUTUHAN PELABUHAN DAN TINJAUAN TEKNIS TERHADAP KONDISI PERAIRAN DAERAH KEPULAUAN ARU

    Get PDF
    Kabupaten Kepulauan Aru merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Maluku Tenggara pada tahun 2003 berdasarkan Undang-undang No 40 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Seram Bagian Timur, Kabupaten Seram Bagian Barat, Dan Kabupaten Kepulauan Aru Di Provinsi Maluku. Pada saat pembentukan kabupaten baru, wilayah ini terdiri dari 3 kecamatan, Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kecamatan Aru Tengah dan Kecamatan Aru Selatan. Sarana dan prasarana angkutan penyeberangan yang beroperasi secara rutin seperti LCT/kapal fery dan dermaganya masih sangat terbatas. Sampai dengan saat ini Pemerintah Dearah telah memiliki 1 unit LCT dan 1 buah dermaga penyeberangan yang masih dalam tahap pembangunan. Saat ini, pergerakan melalui laut, baik untuk transportasi regional maupun lokal, dilayani oleh pelabuhan Dobo dan pelabuhan Benjina. Jumlah penumpang yang naik turun di pelabuhan Dobo pada tahun 2006 mencapai 19.947 orang, sedangkan jumlah barang yang dibongkar muat mencapai 1.469 ton. Secara lebih rinci mengenai angkutan penumpang dan barang pada lintas penyeberangan Dobo – Tual. Hasil pemilihan alternatif diperoleh alternatif 1 sebagai lokasi yang paling tepat sebagai lokasi rencana pelabuhan Batu Goyang namun dari evaluasi kelayakan didapati bahwa lokasi ini dikategorikan kurang layak dibangun mengingat tinggi gelombang, arus dan akses enunjang hinterland tidak terpenuhi. Kata Kunci: kelayakan, pelabuhan, kondisi perairan, Indonesia Timu

    EPC/TURNKEY CONTRACT, LUMPSUM FIXED PRICE SUBJECT TO ADJUSTMENTS

    Get PDF
    The most important thing before starting the construction project is deciding the type of contract will be used for the project’s implementation. In order to get the proper decision, the understanding on various conditions of contracts are required. In Indonesia there are many project using the so called “modified” FIDIC Conditions of Contract for EPC/Turnkey Project, but with the incorrect understanding on the reasons of using EPC/Turnkey Contract, so instead of solving the problem it may caused bigger problems in practice, many problems raised during the execution due to such incorrect understanding of the spirit of EPC/Turnkey Contract. Most of Employers, in this case the government institution or state owned enterprises in Indonesia, choose the EPC/Turnkey Contract with minimum understanding of the essence of the EPC/Turnkey Contract. Their reasons of choosing the EPC/Turnkey Contract was the “tied schedule” and the “higher certainty of cost”. FIDIC EPC/Turnkey Contract based on the discussion in this paper, instead of fit the Employer’s need only, the EPC/Turnkey Contract still give chance to the contractor to submit their claim (Clause 20) and even the price is fixed, payment could be made once the claim is accepted (Sub-Clause 17.4) means that additional to the contract price can be done. One of the important noteworthy thing is that if there is additional cost it should be “added to the contract price”, while in the conventional contract it should be “included in the contract price”, so the final price will be the same (Sub-Clause 14.1). Keyword: EPC/Turnkey Contract, tied schedule, higher certainty of cost, added, included.The most important thing before starting the construction project is deciding the type of contract will be used for the project’s implementation. In order to get the proper decision, the understanding on various conditions of contracts are required. In Indonesia there are many project using the so called “modified” FIDIC Conditions of Contract for EPC/Turnkey Project, but with the incorrect understanding on the reasons of using EPC/Turnkey Contract, so instead of solving the problem it may caused bigger problems in practice, many problems raised during the execution due to such incorrect understanding of the spirit of EPC/Turnkey Contract. Most of Employers, in this case the government institution or state owned enterprises in Indonesia, choose the EPC/Turnkey Contract with minimum understanding of the essence of the EPC/Turnkey Contract. Their reasons of choosing the EPC/Turnkey Contract was the “tied schedule” and the “higher certainty of cost”. FIDIC EPC/Turnkey Contract based on the discussion in this paper, instead of fit the Employer’s need only, the EPC/Turnkey Contract still give chance to the contractor to submit their claim (Clause 20) and even the price is fixed, payment could be made once the claim is accepted (Sub-Clause 17.4) means that additional to the contract price can be done. One of the important noteworthy thing is that if there is additional cost it should be “added to the contract price”, while in the conventional contract it should be “included in the contract price”, so the final price will be the same (Sub-Clause 14.1). Keyword: EPC/Turnkey Contract, tied schedule, higher certainty of cost, added, included

    STUDI ANALISIS KEBUTUHAN AIR BERSIH PEDESAAN SISTEM GRAVITASI MENGGUNAKAN SOFTWARE EPANET 2.0

    Get PDF
    Saat ini sebagian wilayah di desa Taman Sari belum mendapatkan air bersih walaupun terdapat sumber mata air yang dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Masalah yang ada yaitu sistem distribusi untuk menyalurkan air dari sumber mata air sampai ke tempat yang mudah di jangkau oleh masyarakat. Sistem jaringan air bersih direncanakan dapat memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah studi sampai tahun 2033. Kebutuhan air bersih dihitung berdasarkan proyeksi jumlah penduduk yang pertumbuhannya dianalisis dengan menggunakan analisa regresi. Dari hasil perhitungan analisis kebutuhan air bersih di desa Taman Sari pada tahun 2033 dengan jumlah penduduk 3875 jiwa mencapai 3,245 liter/detik. Sistem distribusi menggunakan sistem gravitasi, dengan hasil perhitungan manual didapat  diameter pipa distribusi bervariasi dari 2 inch sampai 4 inch, sedangkan perhitungan Epanet 2.0 didapat 25 mm, 50 mm, 75 mm dan 100 mm. Untuk mendesain sistem penyediaan air bersih digunakan software EPANET 2.0.Kata Kunci : air bersih, gravitasi, Epanet 2.

    PERBANDINGAN MUTU BETON HASIL UPVT METODE INDIRECT TERHADAP MUTU BETON HASIL HAMMER TEST DAN CORE DRILL

    No full text
    Pengujian mutu kuat tekan beton saat ini diperlukan dalam upaya penyeragaman mutu slab beton landasan udara sebelum dilakukan perbaikan mutu kuat tekan betonnya. Pengujian mutu kuat tekan beton eksisting secara umum terbagi atas pengujian destructive(merusak) dan non destructive (tidak merusak). Umumnya metode pengujian kuat tekan beton yang bersifat non destructive digunakan metode Hammer Test dan Ultrasonic Pulse Velocity Test. Sedangkan pengujian mutu kuat tekan beton yang bersifat merusak(destructive) digunakan metode Core Drill. Pada penelitian ini dilihat perbandingan mutu dari ketiga metode pengujian mutu kuat tekan beton tersebut dan didapatkan faktor atau nilai koefisien pengali untuk persamaan mutu hasil uji ketiga metode uji. Perbandingan nilai mutu ini diambil dari sampel-sampel beton yang telah lulus uji kurva t dimana terdapat ketentuan-ketentuannya. Didapatkan mutu hasil hammer test dan ultrasonic pulse velocity memliki mutu yang hampir sama karena pengujiannya terletak pada permukaan slab beton dan terlihat perbedaan mutu dengan metode Core Drill yang menguji sampel beton bagian intinya dimana kondisi beton bagian inti terlihat dari tampilan visualnya dalam kondisi baik(tidak terdapat rongga). Dari hasil pengujian didapatkan mutu uji hasil ulrasonic pulse velocity memiliki mutu uji paling rendah sedangkan mutu hasil uji Core Drill memiliki mutu paling besar. Berikut adalah nilai korelasi dari ketiga metode uji: UPVT = 0,93 HT; UPVT = 0,6 CD; HT = 0,64 CDKata Kunci : beton, hammer test, ultrasonic pulse velocity, core dril

    STUDI ANALISIS PENGGUNAAN ALAT BERAT (CRANE) SEBAGAI ALAT ANGKAT UNTUK INSTALASI EQUIPMENT DEODORIZER DI PROYEK CPO PLANT

    Get PDF
    Tingginya permintaan akan produk minyak sawit mentah / Crude palm oil (CPO) dan produk turunannya di pasaran dunia, membuat tinggi harga jual dari miyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya. Sehingga membuat investor asing dan dalam negeri mengivestasikan dananya untuk pengembangan produk minyak sawit mentah (CPO). Equipment Deodorizer Column Parts 822QS merupakan salah satu equipment terpenting dalam sistem proses refinery.  Untuk itu pada proses lifting Equipment Deodorizer Column Parts 822QS harus dilakukan perencanaan (lifting plan) yang baik, dari mulai awal kedatangan equipment tersebut, alat berat (crane), alat bantu kerja crane (lifting devices), lokasi kerja, pekerja (man power), biaya pelaksanaan, waktu pelaksanaan, juga keselamatan kerja baik dari equipment tersebut dan keselamatan man power-nya pada saat pelaksanaan pekerjaan lifting. Pada analisa pekerjaan Heavy Lifting, Equipment Deodorizer Column Parts 822QS dapat dilakukan dengan dengan beberapa cara yang tentunya semua bertujuan baik, sesuai dengan spesifikasi teknis dan juga manufaktur, agar equipment tersebut dapat berfungsi dengan baik nantinya pada saat opersional pabrik, dengan memperhatikan dari segi biaya, mutu, waktu dan keselamatan kerja. Pelaksanaan dilakukan dengan metode,Assembling and Lifting Methode, Lifting and Air Rising Methode, atau melakukan kombinasi antara  Assembling and Lifting Methode, Lifting and Air Rising Method. Kata kunci : crane, deodorize, liftin

    STUDI KUAT TEKAN BETON NORMAL DENGAN ABU GUNUNG KELUD SEBAGAI BAHAN ADITIF PENGGANTI SEMEN

    Get PDF
    Untuk menanggulangi bencana akibat erupsi Gunung Kelud, dilakukan rekonstruksi sejumlah bangunan yang rusak dengan berfokus pada rumah warga dengan pembangunan rumah sederhana massal. Salah satu material penting untuk struktur Bangunan tersebut adalah beton yang mana campurannya antara lain pasir, kerikil, air dan semen. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Kelud juga dicoba dipakai sebagai bahan aditif lokal pengganti sebagian semen dan diharapkan dapat menghemat biaya dari pengurangan berat semen dalam campuran beton normal. Pada penelitian ini variasi penggunaan abu Gunung Kelud adalah 0%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semen dengan jumlah benda uji per-sampel sebanyak 4 buah berbentuk silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Mutu beton rencana yang dipakai adalah f’c= 18,7 Mpa atau setara dengan K-225. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur beton mencapai 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan terbesar (optimum) adalah varian  0% abu G. Kelud  yaitu sebesar f’c= 28,20 MPa dan dengan campuran abu Gunung Kelud dengan proporsi 10%, 15% dan 20% dari berat semen, kuat tekan beton pada umur beton 28 hari mengalami trend penurunan yaitu sebesar 4,87%, 6,33%, dan 26,63% dari kuat tekan beton dengan campuran abu Gunung Kelud 0%. Tetapi terhadap mutu rencana f’c=18,7 Mpa penambahan abu Gunung Kelud 10%, 15% dan 20% dapat menaikkan mutu beton sampai 43,80%, 41,82% dan 19,89%. Kata kunci : beton, abu Gunung Kelud, kuat tekan

    STUDI PENGARUH PENGGUNAAN AIR PAYAU DALAM MIX DESIGN BETON UNTUK PEMBUATAN KONSTRUKSI DERMAGA AKIBAT RENDAMAN AIR LAUT

    Get PDF
    Penggunaan air yang baik dan sesuai dengan peraturan beton ada kalanya tidak dapat dicapai diakibatkan keterbatasan sumber daya alam. Seperti pada area kepulauan di Kepulauan Seribu dimana air bersih sangat sulit didapat sehingga dalam konstruksi beton menggunakan air payau yang diperoleh dari sumur warga, sehingga diharapkan dapat mendekati standar air yang ada ditambah lagi dengan konstruksi dermaga sehingga diharapkan dapat dicapai umur rencana konstruksi yang maksimal. Dalam penelitian ini akan diuji penggunaan masing-masing variable penggunaan air PDAM dan air payau pada campuran beton dengan rendaman air laut dan diuji kuat tekannya pada umur beton 28 hari dan 56 hari, pada mutu beton rencana K-250 menggunakan benda uji beton kubus. Hasil penelitian diantaranya yaitu: penggunaan air payau hasil uji lebih tinggi 1,92% dibandingkan dengan kuat tekan rencana, sementara penggunaan air PDAM hasil uji lebih rendah 1.3% dari kuat tekan rencana pada umur 28 hari. Pada beton uji umur 56 hari penggunaan air PDAM hasil uji lebih tinggi 5,55% dibandingkan dengan kuat tekan rencana, sementara pada beton campuran air payau hasil uji mengalami penurunan atau lebih rendah 13,48% dari kuat tekan rencana. Dari gambar 5.3 Grafik perbandingan kuat tekan, didapat beton campuran air PDAM kuat tekannya mempunyai trend meningkat, sementara beton campuran air payau mempunyai trend menurun.Kata kunci : campuran beton normal, air payau, air laut dan kuat tekan

    311

    full texts

    341

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Konstruksia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇