Konstruksia
Not a member yet
341 research outputs found
Sort by
ANALISIS KINERJA U-TURN (STUDI KASUS U-TURN DI ITC JALAN LETJEN SOEPONO, JAKARTA)
Jakarta merupakan ibu kota yang mengalami pertambahan penduduk sangat cepat setiap tahunnya, hal tersebut berpengaruh juga pada volume kendaraan yang ada di jalan raya kota Jakarta, salah satunya lalu lintas yang ada di Jalan Letjen Soepono (Arteri Permata Hijau) tepatnya di sebelah barat ITC Permata Hijau. Akses masuk ke ITC Permata Hijau dari arah timur serta penghuni maupun pengunjung Bellezza Apartemen yang akan keluar kearah timur akan bermanuver balik arah pada bukaan median jalan sisi sebelah barat, sehingga akan menimbulkan tundaan dan antrian pada kendaraan yang bergerak searah dengan arah kendaraan sebelum melakukan manuver berbalik arah maupun kendaraan pada jalur yang lain akibat dari manuver kendaraan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa besar pengaruh manuver berbalik arah kendaraan terhadap kinerja jalan, dan menentukan tundaan operasional dari arus lalu lintas pada kedua arah , serta mengevaluasi karakteristik lalu lintas akibat U-Turn. Metode untuk acuan utama yaitu dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI ) tahun 1997. Hasil penelitian bahwa volume terbesar di ruas jalan Letjen Soepono (Arteri Permata Hijau) terjadi pada hari kerja 1 pukul 07.00 - 08.00 arah Kebon Jeruk - Simprug sebesar 4908.65 smp/jam dengan tingkat pelayanan jalan (Q/C) > 0,75. Kecepatan kendaraan terendah pada arus terganggu oleh U-Turn adalah 38,01 km/jam terjadi pada arah Kebon Jeruk - Simprug, hari kerja 2 antara pukul 07.00 - 08.00. Rata-rata jumlah kendaraan dalam satu kasus U-Turn antara 3.13 - 3.47 kendaraan sedangkan rata-rata tundaan per kendaraan yang dipengaruhi adalah antara 6.77 - 7.73 detik. Analisa Greenshield & Shockwave didapat panjang antrian antara 90 - 350 meter
ANALISIS RED CLAUSE KONTRAK KONSTRUKSI APBD DENGAN FIDIC RED BOOK 1999
Industri konstruksi saat ini telah menjadi sangat kompleks dan berisiko tinggi, sehingga diperlukan ikatan kerja yang baik dan berdasar hukum. Di Indonesia sendiri terjadi banyak kasus klaim dan sengketa konstruksi. Hal ini diakibatkan karena adanya perbedaan presepektif mengenai pasal-pasal dalam kontrak konstruksi dan kurangnya pemahaman tentang kontrak konstruksi tersebut. Setiap proyek konstruksi di daerah menggunakan dana APBD dimana setiap daerah membuat kontrak konstruksi sendiri sesuai dengan kebutuhan proyek konstruksi di daerah tersebut, sehingga setiap kontrak konstruksi yang dibuat berbeda-beda sehingga dapat berpotensi terjadinya klaim dan sengketa. Manfaat dari penelitian diharapkan dapat memberikan informasi untuk pengembangan kontrak konstruksi di kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini adalah penelitian mixed method, diawali dengan literature review. Uji pakar dilakukan dengan menggunakan Teknik Delphi. Kuisioner disusun berdasarkan studi literatur terhadap jurnal, buku dan penelitian terdahulu. Kuesioner menggunakan skala Likert berskala 6. Analisis faktor dilakukan dengan menggunakan SPSS 23.0 untuk menemukan faktor dominan yang berkaitan dengan pasal pada kontrak konstruksi APBD. Analisis kualitatif dilakukan dengan display data dan triangulasi data untuk membandingkan temuan dengan FIDIC Red Book tahun 1999. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif ditemukan bahwa faktor paling dominan adalah ketersediaan tenaga kerja. Diatur pada pada kontrak konstruksi APBD di pasal 64. Personil dan/atau peralatan penyedia. Berdasarkan hasil analisis kualitatif dapat disimpulkan bahwa pada FIDIC Red Book 1999, pasal-pasal tersebut diatur lebih rinci dan lebih jelas mengenai hak dan kewajiban serta tanggung jawab setiap pihak sehingga dapat meminimalisir terjadinya misinterpretasi terhadap pasal-pasal tersebut
PERENCANAAN KEMBALI TEBAL PERKERASAN JALAN BETON BERTULANG MENERUS DENGAN METODE AASHTO 1993 DAN EVALUASI CRACK (STUDI KASUS RUAS JALAN TOL BALARAJA KM. 34+500 – 36+300)
Ruas tol Balaraja Barat – Cikupa merupakan jalur transportasi dan jalur pengiriman barang antarkota yang strategis penghubung provinsi Banten dengan DKI Jakarta. Ruas tol tersebut mempunyai volume lalu lintas yang padat dan sering mengalami kemacetan pada jam-jam sibuk. Sehingga, diperlukan perencanaan tebal perkerasan yang tepat, efisien serta optimal agar dapat mengakomodir beban yang melintas diatasnya serta sesuai dengan umur rencana jalan tersebut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk merencanakan kembali tebal perkerasan jalan beton bertulang menerus dengan metode AASHTO dan evaluasi crack/retak dari data existing lapangan dan data hasil perencanaan serta menganalisa hasil keduanya dengan bantuan software Hiperpav 3.2. Hasil yang diperoleh tebal perkerasan beton bertulang menerus dengan menggunakan metode AASHTO 1993 yaitu sebesar 28 cm, sambungan memanjang (tie bar) didapat diameter 13 mm dengan jarak 900 mm. Hasil perancangan tulangan memanjang menghasilkan diameter tulangan memanjang 16 mm dan jarak 100 mm serta tulangan melintang dimeter 13 mm dengan jarak 900 mm. Dari hasil analisa data existing dengan tebal perkerasan 23 cm menggunakan software Hiperpav 3.2 diperoleh nilai rata-rata jarak crack 2,98 ft dan nilai rata-rata lebar crack adalah 0,027 in Sedangkan, hasil analisa data perencanaan dengan tebal perkerasan 28 cm menggunakan software Hiperpav 3.2. diperoleh nilai rata-rata jarak crack 2,72 ft dan nilai rata-rata lebar crack didapat 0,022 in. Dari hasil perbandingan evaluasi crack yang terjadi semakin besar tebal perkerasan beton maka crack yang terjadi akan semakin kecil.Ruas tol Balaraja Barat – Cikupa merupakan jalur transportasi dan jalur pengiriman barang antarkota yang strategis penghubung provinsi Banten dengan DKI Jakarta. Ruas tol tersebut mempunyai volume lalu lintas yang padat dan sering mengalami kemacetan pada jam-jam sibuk. Sehingga, diperlukan perencanaan tebal perkerasan yang tepat, efisien serta optimal agar dapat mengakomodir beban yang melintas diatasnya serta sesuai dengan umur rencana jalan tersebut. Penelitian ini memiliki tujuan untuk merencanakan kembali tebal perkerasan jalan beton bertulang menerus dengan metode AASHTO dan evaluasi crack/retak dari data existing lapangan dan data hasil perencanaan serta menganalisa hasil keduanya dengan bantuan software Hiperpav 3.2. Hasil yang diperoleh tebal perkerasan beton bertulang menerus dengan menggunakan metode AASHTO 1993 yaitu sebesar 28 cm, sambungan memanjang (tie bar) didapat diameter 13 mm dengan jarak 900 mm. Hasil perancangan tulangan memanjang menghasilkan diameter tulangan memanjang 16 mm dan jarak 100 mm serta tulangan melintang dimeter 13 mm dengan jarak 900 mm. Dari hasil analisa data existing dengan tebal perkerasan 23 cm menggunakan software Hiperpav 3.2 diperoleh nilai rata-rata jarak crack 2,98 ft dan nilai rata-rata lebar crack adalah 0,027 in Sedangkan, hasil analisa data perencanaan dengan tebal perkerasan 28 cm menggunakan software Hiperpav 3.2. diperoleh nilai rata-rata jarak crack 2,72 ft dan nilai rata-rata lebar crack didapat 0,022 in. Dari hasil perbandingan evaluasi crack yang terjadi semakin besar tebal perkerasan beton maka crack yang terjadi akan semakin kecil
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KLAIM PADA FIDIC DESIGN BUILD 2017
Saat ini banyak proyek internasional dan pemerintah yang dikerjakan di Indonesia sebagai dampak dari perkembangan era globalisasi. Pihak internasional dan pihak pemerintah memberikan persyaratan untuk menggunakan model kontrak internasional. Salah satu model kontrak yang sering digunakan adalah FIDIC. Namun, pada kenyataannya banyak terjadi klaim konstruksi pada proyek-proyek yang menggunakan model kontrak FIDIC, khususnya FIDIC Design build (Yellow book). Berdasarkan hal itu, diperlukan penelitian untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan klaim konstruksi dalam penggunaan FIDIC Design build tahun 1999. Temuan dari penelitian itu akan dijadikan referensi untuk menganalisis FIDIC Design Build tahun 2017. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari 25 butir pertanyaan dan menggunakan skala Likert 6. Data diolah dengan menggunakan sostware SPSS 24.0 untuk menemukan faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999. Penelitian ini menggunakan analisis faktor untuk mendapatkan faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999, yang dilanjutkan dengan analisis kualitatif dengan FIDIC Design build 2017. Tujuannya adalah untuk menemukan isi dari klausula yang berhubungan untuk melihat apakah permasalahan pada faktor yang muncul tersebut sudah tercakup atau belum. Berdasarkan hasil analisis faktor ditemukan 3 faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999 yaitu: 1) Inadequate Site Investigation; 2) Difference in Interpretation; dan 3) Over Inspection. Berdasarkan hasil analisis kualitatif ditemukan bahwa faktor-faktor tersebut sudah tercakup dalam FIDIC Design Build 2017. Di samping itu ditemukan pula perubahan nama pada klausula Force Majuere menjadi Excetional Event.Saat ini banyak proyek internasional dan pemerintah yang dikerjakan di Indonesia sebagai dampak dari perkembangan era globalisasi. Pihak internasional dan pihak pemerintah memberikan persyaratan untuk menggunakan model kontrak internasional. Salah satu model kontrak yang sering digunakan adalah FIDIC. Namun, pada kenyataannya banyak terjadi klaim konstruksi pada proyek-proyek yang menggunakan model kontrak FIDIC, khususnya FIDIC Design build (Yellow book). Berdasarkan hal itu, diperlukan penelitian untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan klaim konstruksi dalam penggunaan FIDIC Design build tahun 1999. Temuan dari penelitian itu akan dijadikan referensi untuk menganalisis FIDIC Design Build tahun 2017. Kuesioner dalam penelitian ini terdiri dari 25 butir pertanyaan dan menggunakan skala Likert 6. Data diolah dengan menggunakan sostware SPSS 24.0 untuk menemukan faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999. Penelitian ini menggunakan analisis faktor untuk mendapatkan faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999, yang dilanjutkan dengan analisis kualitatif dengan FIDIC Design build 2017. Tujuannya adalah untuk menemukan isi dari klausula yang berhubungan untuk melihat apakah permasalahan pada faktor yang muncul tersebut sudah tercakup atau belum. Berdasarkan hasil analisis faktor ditemukan 3 faktor dominan penyebab klaim pada FIDIC Design build 1999 yaitu: 1) Inadequate Site Investigation; 2) Difference in Interpretation; dan 3) Over Inspection. Berdasarkan hasil analisis kualitatif ditemukan bahwa faktor-faktor tersebut sudah tercakup dalam FIDIC Design Build 2017. Di samping itu ditemukan pula perubahan nama pada klausula Force Majuere menjadi Excetional Event
STUDI FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN 6 RUAS JALAN TOL DALAM KOTA JAKARTA
Keterlambatan dalam proyek konstruksi merupakan masalah fenomena global. Di Indonesia, keterlambatan ini menjadi masalah klasik yang sering terjadi di setiap proyek konstruksi. Pada pelaksanaan proyek konstruksi sering mengalami kendala pada proses pekerjaan. Kendala tersebut menjadi penyebab terlambatnya pelaksanaan proyek, sehingga proyek tersebut tidak berlangsung sesuai rencana. Dikarenakan banyaknya indikator-indikator yang dapat mempengaruhi keterlambatan pekerjaan pada proyek pembangunan 6 Ruas Jalan Tol dalam Kota Jakarta, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari 10 faktor utama yang mempengaruhi terlambatnya pembangunan proyek tersebut dengan menganalisis menggunakan Metode Rangking. Penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner sebanyak 50 variabel yang diajukan kepada 50 responden di perusahaan kontraktor. Dan diolah menggunakan software SPSS v.25 untuk melakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji korelasi. Untuk uji peringat digunakan metode analisis deskriptif atau mencari nilai rata-rata yang bertujuan untuk menentukan variabel yang memiliki faktor dari yang tertinggi hingga terendah. Berdasarkan hasil penelitian, setelah dilakukan uji validitas didapatkan 2 dari 50 variabel “Tidak Valid”. Dengan nilai Cronbach Alpha yang didapat dari uji reliabilitas adalah 0.951 yang berarti memiliki reliabilitas tinggi atau memiliki tingkat konsisten yang tinggi yang apabila dilakukan analisis pada waktu yang berbeda maka hasilnya akan tetap sama. Untuk variabel dengan peringkat tertinggi adalah variabel X6 (Kurangnya keahlian tenaga kerja).Keterlambatan dalam proyek konstruksi merupakan masalah fenomena global. Di Indonesia, keterlambatan ini menjadi masalah klasik yang sering terjadi di setiap proyek konstruksi. Pada pelaksanaan proyek konstruksi sering mengalami kendala pada proses pekerjaan. Kendala tersebut menjadi penyebab terlambatnya pelaksanaan proyek, sehingga proyek tersebut tidak berlangsung sesuai rencana. Dikarenakan banyaknya indikator-indikator yang dapat mempengaruhi keterlambatan pekerjaan pada proyek pembangunan 6 Ruas Jalan Tol dalam Kota Jakarta, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari 10 faktor utama yang mempengaruhi terlambatnya pembangunan proyek tersebut dengan menganalisis menggunakan Metode Rangking. Penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner sebanyak 50 variabel yang diajukan kepada 50 responden di perusahaan kontraktor. Dan diolah menggunakan software SPSS v.25 untuk melakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji korelasi. Untuk uji peringat digunakan metode analisis deskriptif atau mencari nilai rata-rata yang bertujuan untuk menentukan variabel yang memiliki faktor dari yang tertinggi hingga terendah. Berdasarkan hasil penelitian, setelah dilakukan uji validitas didapatkan 2 dari 50 variabel “Tidak Valid”. Dengan nilai Cronbach Alpha yang didapat dari uji reliabilitas adalah 0.951 yang berarti memiliki reliabilitas tinggi atau memiliki tingkat konsisten yang tinggi yang apabila dilakukan analisis pada waktu yang berbeda maka hasilnya akan tetap sama. Untuk variabel dengan peringkat tertinggi adalah variabel X6 (Kurangnya keahlian tenaga kerja)
STUDI PARTICULAR CONDITION PADA PROYEK - PROYEK MILIK SWASTA
Sebagian besar kegiatan konstruksi di Indonesia, dilakukan berdasarkan FIDIC Conditions of Contracts. Pada studi ini dibahas mengenai proyek konstruksi yang menggunakan FIDIC Condition of Contract for Construction 1999. Studi ini terdapat kalimat pada klausula-klausula Particular Condition yang mengubah dan menghapus isi dari klausula-klausula General Condition. Maka dari itu diperlukan analisis terhadap Particular Condition pada kontrak. Studi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui Klausula-Klausula Particular Condition apa saja yang dominan menimbulkan masalah beserta dengan analisisnya. Studi ini awalnya dengan Literature View lalu dilanjutkan kuesioner menggunakan Skala Likert berskala 6. Analisis faktor dilakukan dengan SPSS 23.0 untuk menemukan Klausula-Klausula Particular Condition yang dominan menimbulkan masalah. Hasil analisis menunjukkan Klausula Particular Condition yang dominan menimbulkan masalah adalah Sub-Clause 1.7 [Assignment], Sub-Clause 1.5 [Priorities of Documents], Sub-Clause 4.6 [Co-Operation], Sub-Clauses 3.1 [Engineer’s Duties and Authority], Sub-Clause - 2.1 [Right of Access to the Site], Sub-Clause 2.2 - [Permits, Licenses, or Approvals], dan Sub-Clause 4.10 - [Site Data]. Analisis menunjukkan bahwa pokok dari Particular Condition seperti yang disarankan dalam lampiran ketentuan kontrak FIDIC, tetap menggunakan klausula-klausula asli tanpa mengubah isinya
ANALISIS FAKTOR KETERLAMBATAN DIMULAINYA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI PADA MODEL KONTRAK RANCANG BANGUN
Abstrak : Pemilihan metode pengadaan yang tepat, dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan sebuah proyek. Saat ini desain -bid-build model adalah yang paling populer di Indonesia. Sementara Desain–build model mulai banyak digunakan di Indonesia, karena ada beberapa keuntungan yang didapat, diantaranya adalah dapat mengurangi waktu yang diperlukan dalam penunjukan konsultan desain dan mengurangi waktu dalam melakukan desain itu sendiri. Mempertimbangkan alasan di atas, keterlambatan dimulainya pekerjaan fisik konstruksi pada design and build model menjadi sangat penting. Studi yang telah dilakukan sebelumnya sebagian besar adalah membahas keterlambatan pada tahap-tahap konstruksi, sehingga penelitian ini mencoba menganalisisa keterlambatan dimulai pekerjaan fisik konstruksi yang jarang dibahas. Berdasarkan hasil penelitian ini membuktikan faktor utama utama penundaan dimulainya fisik konstruksi pada design and build model adalah karena kontraktor gagal menyelesaikan desain tepat pada waktunya. Kata Kunci : Model kontrak Rancang Bangun, Keterlambatan, Awal pekerjaan Fisik Konstruksi. Abstract : The selection of proper procurement method is intended to achive the succes of project. Nowadays the design –bid-build model is the most popular in indonesia. The Design and build model start to become widely used in indonesia, Because there some advantages. i,e. reducing the time needed for the appoinment of the design stage consutants and the time for conducting the design it self. Considering the above reason the delay to start of the design and build model become predominartly important. The study conducted becouse most of former studies are discussing only delay on the contruction stages, so this study is try to analyse the delay to starts which is rarely discussed. Based on the study result, it is provent the main casual factor of delay to start on the design and build project is because the contractor fail to complete the design due time . Keywords : Design and build contract Model, Late, Initial Physical Construction wor
ANALISIS DAMPAK BANGUNAN KONSEP SPLIT LEVEL MENGGUNAKAN GEMPA STATIK DAN RESPONS SPEKTRUM
Abstrak : Keberadaan lahan yang semakin sempit terutama di kota-kota, akan memungkinkan penggunaaan perencanaan rumah dengan konsep split level. Hal ini sesuai dengan SNI 03-1726-2012 tentang Tata cara perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung, dan SNI 03-2847-2013 tentang Tata Cara Perhitungan Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Studi ini bertujuan untuk mengetahui periode getar yang digunakan, simpangan, gaya-gaya dalam, dan luas tulangan kolom. Pada proses analisis gempa statik menggunakan base shear yang didapat dari perhitungan koefisien respon seismik dikalikan dengan berat bangunan per lantai, sedangkan proses analisis respons spektrum ditentukan dari story shear untuk respons spektra arah x dan arah y dari story shear tersebut didapat gaya geser per lantai bangunan. Setelah dilakukan analisis didapatkan simpulan seperti berikut : periode getar yang digunakan untuk bangunan tipe A dan tipe B adalah periode getar maksimum, simpangan yang terjadi pada bangunan tipe A untuk arah x tidak memenuhi syarat sedangkan bangunan tipe B arah x maupun y memenuhi syarat, gaya-gaya dalam pada bangunan tipe A lebih besar dari pada tipe B dimana luas tulangan bangunan tipe A pada kolom C27 adalah 2411.52 mm2 sedangkan tipe B 1607.68 mm2. Kata Kunci : Split level, periode getar, simpangan, gaya-gaya dalam, luas tulangan Abstract : The existence of increasingly narrow land especially in big cities, will allow us to use home planning with a split-level concept. In accordance with the SNI 03-1726-2012 dan SNI 03-2847-2013 about Earthquake Resistance Planning Procedure for Building Structure and Non Building and also Procedure of Calculation of Concrete Structure for Building Structure. This study aims to determine the period of vibration used, deviation, the inner forces and the area of column reinforcement. In the static earthquake analysis process using base shear obtained from calculation of seismic response coefficient multiplied by weight of building per floor, while the spectrum response analysis process is determined from the story shear for the x-direction spectral response and the y direction of the story shear is obtained by shear force per floor of the building. After the analysis is obtained the following conclusions : the vibration period used for building type A and type B is maximum vibration period, deviations that occur in type A buildings for x direction are not eligible while building type B direction x and y meet the requirements, the inner forces of type A building are larger than the type B where the area of the type A reinforcement is in the column C27 is 2411,52 mm2 and type B is 1607,88 mm2. Keywords: Split level, vibration period, deviation, inner forces, reinforcement are
PERENCANAAN PERKERASAN LENTUR DENGAN STABILISASI TANAH DASAR MENGGUNAKAN BUBUK KERAMIK DAN BUBUK KACA
Abstrak : Jalan merupakan bagian dari transportasi darat yang berfungsi menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya. Jalan merupakan komponen penting dalam pembangunan maupun perekonomian, sehingga kualitas jalan pada suatu tempat dapat menentukan keberlanjutan proses pembangunan maupun keberlangsungan roda perekonomian. Kualitas jalan sangat dipengaruhi oleh lapisan perkerasan yang membentuk struktur jalan tersebut. Salah satu lapisan yang seringkali menyebabkan kerusakan jalan adalah lapisan tanah dasar. Sebagai tanah dasar, maka tanah harus memiliki daya dukung yang cukup dalam menerima beban di atasnya. Tanah dasar umumnya merupakan tanah asli yang terdapat di lokasi proyek, jika tanah dasar tidak memiliki daya dukung yang cukup maka tanah tersebut diganti atau distabilisasi. Berdasarkan penelitian stabilisasi tanah rawa dengan 10 % bubuk keramik dan 10 % bubuk kaca, didapat nilai daya dukung (CBR) sebesar 6 %. Data tersebut akan digunakan sebagai perencanaan tebal perkerasan lentur dengan metode Bina Marga. Berdasarkan hasil analisis didapat tebal lapisan permukaan 7,5 cm, lapisan pondasi atas 20 cm, lapisan pondasi bawah 20 cm dan lapisan tanah dasar 10 cm dengan total biaya Rp 1.374.821.000,00. Total biaya perkerasan lentur rencana dengan tanah terstabilisasi lebih kecil 5,4 % dibandingkan total biaya perkerasan eksisting. Kata kunci : perkerasan lentur, tanah stabilisasi, total biaya. Abstract : Roads are part of land transportation which functions to connect one area to another. The road itself is an important component in development and the economy, so that the quality of roads in one place can determine the sustainability of the development process and the sustainability of the economy. Road quality is strongly influenced by the pavement layer that forms the structure of the road. One layer that often causes road damage is the subgrade layer. As subgrade, the soil must have sufficient carrying capacity to receive the load on it. Baseline is generally the original soil found at the project location, if the subgrade does not have sufficient carrying capacity, the soil is replaced or stabilized. Based on research on the stabilization of swamp soil with 10 % ceramic powder and 10 % glass powder, the value of carrying capacity (CBR) is 6 %. The data will be used as a planning for flexible pavement thickness using the Bina Marga method. Based on the results of the analysis it was found that the surface layer thickness was 7.5 cm, the foundation layer was 20 cm, the foundation layer was below 20 cm and the subsoil layer was 10 cm with a total cost of Rp. 1,374,821,000.00. The total cost of planned flexible pavement with stabilized soil is 5.4 % smaller than the total existing pavement cost. Keywords : flexible pavement, stabilization soil, total cos
ANALISIS NONLINIER STATIC PUSHOVER STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT SOFT STORY DENGAN MENGGUNAKAN MATERIAL BETON BERTULANG DAN BETON PRATEGANG PADA BALOK BENTANG PANJANG
Abstrak : Indonesia merupakan negara yang berada di jalur gempa pasifik (Circum Pacific Earthquake Belt) dan jalur gempa Asia (Trans Asiatic Earthquake Belt) sehingga tingkat risiko terjadinya gempa bumi sangatlah tinggi. Dengan risiko terjadinya gempa yang sangat tinggi ini, maka sangat tinggi pula risiko kerusakan bangunan yang akan terjadi. Dalam konteksnya terhadap ruang lingkup kerja teknik sipil, kondisi tersebut berpengaruh besar dalam perencanaan desain struktur bangunan. Struktur gedung dalam suatu perencanaan struktur dibagi menjadi dua yaitu struktur gedung beraturan dan struktur gedung tak beraturan. Pada standar perencanaan struktur gedung tahan gempa Indonesia, salah satu definisi struktur gedung tak beraturan adalah terdapat sistem struktur tingkatan lunak (soft story) dalam arah vertikal. Dalam perencanaan ini, kinerja bangunan terhadap gempa dan pola keruntuhannya dapat dinyatakan secara jelas dalam bentuk kurva menggunakan Nonlinear Static Pushover Analysis. Nonlinear Static Pushover Analysis menghasilkan kurva kapasitas yang menggambarkan hubungan antara gaya geser dasar terhadap perpindahan titik acuan pada atap. Hasil analisis menunjukkan struktur beton bertulang akan terjadi gaya geser yang lebih besar pada balok bentang panjang sedangkan beton prategang akan lebih kecil karena beton prategang dapat meminimalisir gaya geser. Kata kunci : Nonlinear Static Pushover Analysis, soft story, beton prategang, beton bertulang, gaya geser dasar, simpangan, kinerja struktur. Abstract : Indonesia is a country that is on the Pacific Earthquake Belt and the Trans Asiatic Earthquake Belt so that the risk of earthquakes is very high. With the high risk of earthquake, the risk of building damage is very high too. In the context of the scope of civil engineering work, these conditions have a major effect on the design of building structure. The building structure in a structural plan consists of two types, namely the structure of regular buildings and irregular building structures. In the standard planning for earthquake resistant buildings in Indonesia, one of the definitions of irregular building structures there is a soft story system in the vertical direction. In this plan, the performance of the building against the earthquake and its collapse pattern can be clearly stated in the form of a curve using Nonlinear Static Pushover Analysis. The Nonlinear Static Pushover Analysis produces a capacity curve that describes the relationship between the base shear force to the displacement of the reference point on the roof. The results of the analysis show that reinforced concrete structures will have a greater shear force in long span beams while prestressed concrete will be smaller because prestressed concrete can minimize shear forces. Keywords : Nonlinear Static Pushover Analysis, soft story, prestressed concrete, reinforced concrete, base shear, displacement, structural performance