Konstruksia
Not a member yet
341 research outputs found
Sort by
EVALUASI PENERAPAN ASPEK MATERIAL RESOURCES AND CYCLE SESUAI STANDAR GREEN BUILDING RATING TOOL FOR NEW BUILDING VERSION 1.2 PADA PROYEK BANGUNAN GEDUNG
Bangunan berkonsep ramah lingkungan menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk Indonesia saat ini. Pencemaran terhadap lingkungan dan penggunaan sumber daya alam tidak dapat dikontrol, sehingga memberikan dampak tidak baik bagi lingkungan. Untuk itu di Indonesia mulai diterapkan standar konsep green bulding dengan sistem rating yang bernama greenship rating tool (standar untuk tolok ukur bangunan ramah lingkungan) yang di keluarkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI). Salah satu aspek yang harus dipenuhi adalah material resources and cycle (MRC) yang memiliki 7 kategori aspek sesuai standar green building rating tool tersebut. Tujuan penelitian ini salah satunya untuk mengidentifikasi kesesuaian persyaratan pada standar sistem green building rating tool for new building version 1.2 dengan objek bangunan gedung yang ditinjau. Penelitian ini menggunakan metode survey. Metode survey dimaksudkan untuk mendapatkan data dari tempat penelitian secara alamiah, dengan peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan datanya seperti penyebaran kuesioner kepada responden yang dituju (berjumlah 30 responden). Hasil pada penelitian ini terdapat 3 sub variabel yang memiliki korelasi pada level sangat kuat, yaitu : sub variabel A1 (Penggunaan refrigeran non-chloro fluoro carbon (CFC) dan pemadam kebakaran non-halon), sub variabel G1 (Penggunaan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasinya berada di dalam radius 1.000 km dari lokasi proyek) dan sub variabel G2 (Penggunaan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasinya berada dalam wilayah RI). Sedangkan untuk kategori dominan (peringkat pertama) sesuai standar green building rating tool for new building version 1.2 yang telah diterapkan pada bangunan gedung peneliti tinjau adalah sub variabel A1 (Penggunaan refrigeran non-chloro fluoro carbon (CFC) dan pemadam kebakaran non-halon). Dengan nilai rata-rata hasil validasi penelitian (3 responden) terhadap hasil rata-rata pada sampel (30 responden) memperoleh nilai yang sama yaitu angka 4 dimana dalam skala likert angka 4 mempunyai arti setuju pada hasil analisa data yang didapat pada penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan kategori aspek material resources and cycle (MRC) pada objek bangunan gedung yang ditinjau telah sesuai dengan persyaratan standar green building rating tool for new building version 1.2.Bangunan berkonsep ramah lingkungan menjadi kebutuhan yang sangat penting untuk Indonesia saat ini. Pencemaran terhadap lingkungan dan penggunaan sumber daya alam tidak dapat dikontrol, sehingga memberikan dampak tidak baik bagi lingkungan. Untuk itu di Indonesia mulai diterapkan standar konsep green bulding dengan sistem rating yang bernama greenship rating tool (standar untuk tolok ukur bangunan ramah lingkungan) yang di keluarkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI). Salah satu aspek yang harus dipenuhi adalah material resources and cycle (MRC) yang memiliki 7 kategori aspek sesuai standar green building rating tool tersebut. Tujuan penelitian ini salah satunya untuk mengidentifikasi kesesuaian persyaratan pada standar sistem green building rating tool for new building version 1.2 dengan objek bangunan gedung yang ditinjau. Penelitian ini menggunakan metode survey. Metode survey dimaksudkan untuk mendapatkan data dari tempat penelitian secara alamiah, dengan peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan datanya seperti penyebaran kuesioner kepada responden yang dituju (berjumlah 30 responden). Hasil pada penelitian ini terdapat 3 sub variabel yang memiliki korelasi pada level sangat kuat, yaitu : sub variabel A1 (Penggunaan refrigeran non-chloro fluoro carbon (CFC) dan pemadam kebakaran non-halon), sub variabel G1 (Penggunaan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasinya berada di dalam radius 1.000 km dari lokasi proyek) dan sub variabel G2 (Penggunaan material yang lokasi asal bahan baku utama atau fabrikasinya berada dalam wilayah RI). Sedangkan untuk kategori dominan (peringkat pertama) sesuai standar green building rating tool for new building version 1.2 yang telah diterapkan pada bangunan gedung peneliti tinjau adalah sub variabel A1 (Penggunaan refrigeran non-chloro fluoro carbon (CFC) dan pemadam kebakaran non-halon). Dengan nilai rata-rata hasil validasi penelitian (3 responden) terhadap hasil rata-rata pada sampel (30 responden) memperoleh nilai yang sama yaitu angka 4 dimana dalam skala likert angka 4 mempunyai arti setuju pada hasil analisa data yang didapat pada penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan kategori aspek material resources and cycle (MRC) pada objek bangunan gedung yang ditinjau telah sesuai dengan persyaratan standar green building rating tool for new building version 1.2
EVALUASI PENURUNAN PONDASI TANGKI MINYAK SESUAI API 653
Lapangan pengolahan minyak dan gas menyimpan banyak fasilitas peralatan berupa tangki pelat baja yang melayani penyimpanan fluida diantaranya berupa minyak. Beberapa masalah yang mungkin terjadi pada tangki yang telah beroperasi sekian lama adalah penurunan pada pondasi. Suatu tangki yang telah beroperasi sekitar 20 tahun terindikasi secara visual telah mengalami kemiringan. Indikasi awal terhadap kemiringan tersebut adalah telah terjadinya penurunan tidak seragam (differential settlement) pada pondasi tangki. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah tangki tersebut masih dapat digunakan dan dalam kondisi aman untuk dioperasikan atau memerlukan perbaikan. Penelitian ini akan mengevaluasi penurunan yang terjadi pada tangki tersebut sesuai metode analisis pada American Petroleum Institute (API) 653. API 653, Tank Inspection, Repair, Alteration, and Reconstruction, fifth edition memberikan rekomendasi metoda untuk melakukan evaluasi terhadap penurunan tanah (settlement). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan tangki di beberapa titik telah melebih batas penurunan maksimum sehingga diperlukan adanya perbaikan lebih lanjut
ANALISIS PERBANDINGAN MODEL KONTRAK APBN DAN APBD TERHADAP MODEL KONTRAK FIDIC
Pemerintah Indonesia menginvestasikan ratusan triliun rupiah setiap tahun dalam membangun infrastruktur. Kontrak konstruksi adalah salah satu jaminan untuk memastikan keberhasilan proyek, oleh karena itu klausula-klausulanya harus efisien, adil dan berimbang. Makalah ini terdiri dari perbandingan Syarat-Syarat Umum Kontrak (SSUK) APBN dan APBD terhadap model kontrak FIDIC General Conditions of Contract (GCC) 1999. Selain itu bertujuan untuk menganalisis sepuluh penyebab utama klaim yang sering terjadi pada proyek konstruksi di Provinsi Banten. Kemudian mencocokkan penyebab klaim pada SSUK APBN dan APBD, yang kemudian dibandingkan dengan FIDIC GCC. Metodologi yang digunakan untuk menentukan penyebab klaim tertinggi adalah Relative Important Index (RII). Analisis perbandingan menggunakan Metodologi Multistep. Berdasarkan hasil analisis faktor, ditemukan sepuluh faktor dominan yang menyebabkan klaim di Provinsi Banten, dengan tiga tertinggi : 1) ketersediaan dan kepemilikan lahan kerja, 2) ambigu dalam memaknai klausula kontrak, 3) perubahan desain. Hasil analisis menunjukkan bahwa FIDIC GCC adalah kontrak yang paling efisien, adil, dan seimbang terhadap manajemen klaim. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk mengadopsi model kontrak FIDIC karena memiliki keuntungan pada sebagian besar aspek sebagai model kontrak konstruksi Indonesia
ANALISIS PEMILIHAN MODEL KONTRAK KONSTRUKSI PEKERJAAN PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK (FIDIC RAINBOW CONTRACT 2017)
Dalam melaksanakan pekerjaan pembangkit diharuskan ada suatu kontrak konstruksi yang dapat menghargai semangat keadilan atau keseimbangan antara hak dan kewajiban serta mudah diinterpretasikan oleh para pihak. Makalah ini terdiri dari perbandingan In-House Form of General Conditions of Contract in Indonesia terhadap Model Kontrak FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey. Selain itu bertujuan untuk menganalisis penyebab utama klaim yang sering terjadi pada proyek konstruksi pembangkit listrik di Indonesia. Kemudian mencocokkan penyebab klaim pada In-House Form of General Conditions of Contract, yang kemudian dibandingkan dengan FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey. Metodologi yang digunakan untuk menentukan penyebab klaim tertinggi adalah Relative Important Index (RII), kemudian untuk analisis perbandingannya digunakan Metodologi Comparative. Berdasarkan hasil analisis faktor, ditemukan sepuluh faktor dominan yang menyebabkan klaim di pekerjaan pembangkit, dengan tiga tertinggi : 1) Variation Order, 2) Defective Works, 3) Changes in Scope of Work. Hasil analisis menunjukkan bahwa FIDIC conditions of contract for EPC/Turnkey adalah kontrak yang paling efisien, adil, dan seimbang terhadap manajemen klaim. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk mengadopsi model kontrak FIDIC karena memiliki keuntungan pada sebagian besar aspek sebagai model kontrak konstruksi Indonesia
PEMODELAN PERILAKU KERUNTUHAN BALOK TINGGI AKIBAT PENURUNAN PONDASI DI ATAS TANAH LUNAK KOTA BANJARMASIN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA 3D
Proses penurunan pondasi diakibatkan oleh terkompresinya lapisan tanah di bawah pondasi akibat beban struktur. Secara umum terdapat dua jenis penurunan yaitu penurunan segera dan penurunan konsolidasi. Jumlah kedua jenis penurunan ini merupakan penurunan total yang terjadi. Tanah lunak/ lempung memiliki kedua jenis penurunan ini. Perilaku dan karakteristik balok tinggi sangat berbeda dengan perilaku dan karakteristik balok yang mempunyai perbandingan normal. Pada balok tinggi akan dominan terjadi keruntuhan geser, dimana keruntuhan bersifat getas tanpa adanya peringatan berupa lendutan yang berarti. Pada balok tinggi digunakan beton mutu sangat tinggi agar ketahanan serta kekakuan struktur lebih seimbang. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mendalami materi yang relevan meliputi berbagai buku teks, jurnal ilmiah, peraturan dan Standar Nasional maupun Internasional, membuat permodelan balok tinggi beton bertulang dengan menggunakan software ANSYS, membuat permodelan balok tinggi dengan variasi penurunan pondasi. Hasil dari penelitian ini untuk mendapatkan persamaan fungsi beban terhadap lendutan yang terjadi pada balok tinggi yang mengalami penurunan pondasi/ tumpuan dengan software ANSYS. Model tersebut adalah model EA.IM.BT.0, model EA.IM.BT.100, model EA.IM.BT.200, model EA.IM.BT.500 dan model EA.IM.BT.750
PEMILIHAN FIXED HEAD ATAU FREE HEAD DALAM DESAIN FUNDASI TANGKI REAKTOR KAP. 2000 M3 PILOT PLANT BIOGAS POME SETARA 700 KW DI PTPN V RIAU
Kebutuhan energi terbarukan di Indonesia sangatlah penting, saat ini sumber energi terbarukan porsinya relatif kecil. BPPT ( Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dalam kegiatannya melakukan pembangunan pilot plant Biogas Pome setara 700 kW berkerjasama dengan PTPN V (PT. Perkebunan Nusantara V) dengan sistim tangki berpengaduk secara kontinu yang mana hasil gas tersebut dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler pabrik PMKS di sei pagar. Metode pemilihan pondasi tangki reaktor dengan kapasitas 2000m3, kami melakukan perbandingan perhitungan antara menggunakan free head atau fix head dengan memakai diameter 50cm dan 60cm dengan melihat banyaknya jumlah, diameter pile dan ketebalan mat yang digunakan. Diameter rencana tangki reactor direncanakan berukuran 16.8m dengan ketinggian 9m, dengan beban tangki sekitar 2174.2ton dan berdasarkan data dari soil test didapat nilai N-SPT di kedalaman 10-15m, untuk itu kami merumuskan bahwa fundasi pile yang kita pilih. Perbandingan fix and free head pada pile ukuran 50cm dimana perbedaan fix and free head 44 berbanding 65, dengan ketebalan mat foundation 1.1m berbanding 0.6m sedangkan dengan mengunakan diameter 60cm jumlah pile 32 berbanding 50 dengan ketebalan mat 1.3m berbanding 0.6m. Dari analisa tersebut dengan memperhatikan kekuatan dan keekonomisan maka dipilih pile dengan diameter 50cm dengan mengunakan free head
EVALUASI KEPUASAN PELANGGAN TERHADAP KINERJA MANAJEMEN PROYEK KONTRAKTOR BESAR (STUDI KASUS : PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN KLM DI PROVINSI BANTEN)
Bendungan KLM merupakan mega proyek provinsi Banten. Bendungan KLM apabila dilihat dalam fungsinya maka bendungan ini berjenis bendungan serbaguna, yaitu pembangunan bendungan tidak hanya bertujuan untuk memperoleh manfaat tunggal, tapi untuk lebih dari satu manfaat seperti : untuk penyedia air irigasi, tenaga listrik, air baku, pengendali banjir, perikanan, rekreasi dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan dengan melakukan pengamatan di lokasi proyek pembangunan Bendungan KLM untuk mengevaluasi kepuasan pelanggan terhadap kinerja manajemen proyek kontraktor besar di bendungan KLM dan penyebaran kuesioner yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen proyek dari sudut pandang tingkat kepuasan dan kepentingan. Selanjutnya dilakukan evaluasi dengan tiga metode yaitu metode customer satisfaction index (CSI), metode analisis gap, dan metode importance performance analysis (IPA). Identifikasi tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelaksanaan manajemen proyek sebesar 68,64%, berdasarkan analisa CSI termasuk kategori puas. Hasil analisis kesenjangan, nilai total skor gap tertinggi terdapat pada variabel ketepatan waktu penyelesaian proyek (S2) sebesar 84 yang berarti pelanggan merasa sangat tidak puas terhadap kinerja variabel tersebut, dan total skor gap terendah terdapat pada variabel mengutamakan kepentingan pemilik (S30) sebesar 29 yang berarti pelanggan merasa sangat puas terhadap kinerja variabel tersebut. Sementara itu, berdasarkan metode IPA, kesesuaian laporan proyek dengan kondisi aktual di lapangan (S6) menjadi indikator prioritas yang perlu ditingkatkan demi mencapai kepuasan pengguna jasa yang lebih baik lagi
OPTIMALISASI KINERJA SIMPANG APILL PURI KEMBANGAN BERDASARKAN PEDOMAN KAPASITAS JALAN INDONESIA 2014
Simpang Puri Kembangan Jakarta Barat merupakan persimpangan yang menjadi akses masyarakat menuju pusat perbelanjaan, perkantoran, pemerintahan, perumahan dan jalan menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan jalan tol. Hasil data survey menunjukkan bahwa volume lalu lintas dan nilai derajat kejenuhan melebihi syarat ketentuan, dimana dapat dinyatakan persimpangan ini sudah jenuh dan perlu dilakukan perubahan kriteria desain. Optimalisasi yang dilakukan dengan perubahan penetapan fase dan waktu isyarat maupun lebar pendekat memberikan hasil nilai derajat kejenuhan untuk setiap lengan simpang yaitu pada lengan utara sebesar 0,76, lengan selatan 0.43, lengan barat 0,63 serta lengan timur 0,067. Hasil nilai derajat kejenuhan pada semua lengan simpang memenuhi nilai yang lebih rendah atau kurang dari 0,85 mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014.Simpang Puri Kembangan Jakarta Barat merupakan persimpangan yang menjadi akses masyarakat menuju pusat perbelanjaan, perkantoran, pemerintahan, perumahan dan jalan menuju pusat kota Jakarta dengan menggunakan jalan tol. Hasil data survey menunjukkan bahwa volume lalu lintas dan nilai derajat kejenuhan melebihi syarat ketentuan, dimana dapat dinyatakan persimpangan ini sudah jenuh dan perlu dilakukan perubahan kriteria desain. Optimalisasi yang dilakukan dengan perubahan penetapan fase dan waktu isyarat maupun lebar pendekat memberikan hasil nilai derajat kejenuhan untuk setiap lengan simpang yaitu pada lengan utara sebesar 0,76, lengan selatan 0.43, lengan barat 0,63 serta lengan timur 0,067. Hasil nilai derajat kejenuhan pada semua lengan simpang memenuhi nilai yang lebih rendah atau kurang dari 0,85 mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2014
PERBANDINGAN PELELANGAN BERBASIS SISTEM MANUAL DENGAN SISTEM LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK (LPSE)
Langkah-langkah pembangunan semakin menunjukkan kemajuan, salah satunya mengenai Pelelangan Jasa Pelaksana Konstruksi. Guna menciptakan pelelangan dan persaingan yang sehat, maka sistem pelelangan di atur dalam beberapa peraturan yang mengikat, diantaranya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999, Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 dan sampai yang terakhir Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015. Dalam melaksanakan proses pelelangan, terdapat dua sistem yaitu Pelelangan Manual dan Pelelangan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Tujuan penelitian ini salah satunya untuk mengetahui efisiensi serta kekurangan dan kelebihan dari Pelelangan Manual dan LPSE. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Yaitu untuk mengetahui berbagai tanggapan dari responden yang berjumlah 30 responden melalui kuesioner. Hasil penelitian ini terdapat 3 kesimpulan, yaitu 1 (Mengenai tahap-tahap proses pelelangan, Pelelangan LPSE lebih flexible dibandingkan Pelelangan Manual), 2 (Dari segi efisiensi waktu dan biaya, Pelelangan LPSE lebih efisien dibandingkan Pelelangan Manual), 3 (Masing-masing Pelelangan mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri namun Pelelangan LPSE mempunyai kelebihan lebih banyak daripada Pelelangan Manual). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pelelangan LPSE lebih efisien dibandingkan Pelelangan Manual.Langkah-langkah pembangunan semakin menunjukkan kemajuan, salah satunya mengenai Pelelangan Jasa Pelaksana Konstruksi. Guna menciptakan pelelangan dan persaingan yang sehat, maka sistem pelelangan di atur dalam beberapa peraturan yang mengikat, diantaranya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999, Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 dan sampai yang terakhir Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015. Dalam melaksanakan proses pelelangan, terdapat dua sistem yaitu Pelelangan Manual dan Pelelangan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Tujuan penelitian ini salah satunya untuk mengetahui efisiensi serta kekurangan dan kelebihan dari Pelelangan Manual dan LPSE. Metode yang digunakan yaitu metode survei. Yaitu untuk mengetahui berbagai tanggapan dari responden yang berjumlah 30 responden melalui kuesioner. Hasil penelitian ini terdapat 3 kesimpulan, yaitu 1 (Mengenai tahap-tahap proses pelelangan, Pelelangan LPSE lebih flexible dibandingkan Pelelangan Manual), 2 (Dari segi efisiensi waktu dan biaya, Pelelangan LPSE lebih efisien dibandingkan Pelelangan Manual), 3 (Masing-masing Pelelangan mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri namun Pelelangan LPSE mempunyai kelebihan lebih banyak daripada Pelelangan Manual). Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pelelangan LPSE lebih efisien dibandingkan Pelelangan Manual
PENGGANTIAN SLING PADA MENARA TELEKOMUNIKASI RANGKA BAJA YANG DISUPPORT OLEH GUY WIRE
Berdasarkan hasil inspeksi awal dari fasilitas menara telekomunikasi rangka baja yang disupport oleh guy wire dengan ketinggian 86m telah beroperasi selama labih kurang 30 tahun di area Kalimantan Timur diketahui telah terjadi penurunan integritas material yaitu korosi pada elemen struktur tower. Internal study perusahaan yang telah dilakukan meliputi kajian terhadap laporan jasa konsultan terdahulu (2013) beserta pengukuran kondisi geometeri tower terakhir serta hasil inspeksi korosi pada elemen struktur dari Menara telekomunikasi (2016) ditemukannya kondisi korosi pada sebagian besar elemen guy wire beserta aksesorisnya sehingga diperlukannya penggantian sling pada semua guy wire yang telah mengalamai korosi sebanyak 21 set yang terdapat pada elevasi +70.9m hingga 80.3m dari menara telekomunikasi. Analisa engineering diperlukan untuk memutuskan langkah yang tepat untuk menentukan metode penggantian semua sling yang terkorosi dimana langkah kerja ini akan tertuang di dalam dokumen metode kerja saat eksekusi (Special Working Procedure) sehingga resiko kegagalan struktur saat dilakukan pekerjaan penggantian sling dapat dimitigasi.Abstrak : Berdasarkan hasil inspeksi awal dari fasilitas menara telekomunikasi rangka baja yang disupport oleh guy wire dengan ketinggian 86m telah beroperasi selama labih kurang 30 tahun di area Kalimantan Timur diketahui telah terjadi penurunan integritas material yaitu korosi pada elemen struktur tower. Internal study perusahaan yang telah dilakukan meliputi kajian terhadap laporan jasa konsultan terdahulu (2013) beserta pengukuran kondisi geometeri tower terakhir serta hasil inspeksi korosi pada elemen struktur dari Menara telekomunikasi (2016) ditemukannya kondisi korosi pada sebagian besar elemen guy wire beserta aksesorisnya sehingga diperlukannya penggantian sling pada semua guy wire yang telah mengalamai korosi sebanyak 21 set yang terdapat pada elevasi +70.9m hingga 80.3m dari menara telekomunikasi. Analisa engineering diperlukan untuk memutuskan langkah yang tepat untuk menentukan metode penggantian semua sling yang terkorosi dimana langkah kerja ini akan tertuang di dalam dokumen metode kerja saat eksekusi (Special Working Procedure) sehingga resiko kegagalan struktur saat dilakukan pekerjaan penggantian sling dapat dimitigasi