138 research outputs found
Sort by
GEOLOGI DAN POLA SEBARAN BATUBARA DAERAH DESA SUKAMERINDU DAN WANARAYA KECAMATAN KIKIM BARAT, KABUPATEN LAHAT PROVINSI SUMATERA SELATAN
Pola sebaran batubara sangatlah penting sebagai data pendukung arah penambangan dan model penambangan. Dengan mengetahui pola sebaran batubara maka akan dapat memudahkan dalam pembagian arah dan blok penambangan. Pola sebaran batubara sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan batubara, lingkungan pembentukan batubara juga di pengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian
PEMBENTUKAN RESERVOAR DAERAH KARST PEGUNUNGAN SEWU, PEGUNUNGAN SELATAN JAWA
Pada umumnya topografi karst di daerah Pegunungan Selatan Jawa yang dikenal sebagai Pegunungan Sewu lebih didominasi oleh bentang alam dengan relief positip daripada kenampakan relief negatip seperti sink hole, dolina dan sebagainya. Pembentukan karst Pegunungan Sewu sangat berkait dengan pengaruh curah hujan tinggi daerah beriklim tropis. Pengangkatan batuan karbonat yang terlitifikasi paling tidak telah mempengaruhi permukaan aliran air hujan (run-off) pada wilayah yang luas dan mengontrol perkembangan bentang alam karst yang berrelief positip. Pengangkatan juga akan menyebabkan pembentukan sesar maupun rekahan-rekahan yang lebih jauh akan mengontrol penyebaran bentang alam karst termasuk pula perkembangan porositas sekundernya yang berperan dalam pembentukan reservoir. Berdasarkan pada karakter reservoir daerah telitian dapat dibagi menjadi dua karakter reservoir yaitu reservoir dengan porositas rekahan di selatan dan reservoir dengan porositas matrik di utara
KEBERHASILAN OPTIMASI KERJA ULANG PINDAH LAPISAN (KUPL)
Struktur Cemara dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Cemara Barat, Cemara Timur dan Cemara Selatan Gambar 1.1. Struktur ini terletak di daerah Indramayu, Jawa Barat. Struktur Cemara Barat ditemukan pada awal tahun 1976 dengan pemboran eksplorasi pertama pada sumur CMB-01. Penemuan hidrokarbon ini menghasilkan produksi minyak sebesar 400 BOPD dari Formasi Cibulakan atas dan produksi gas sebesar 3.5 MMCFGPD dari Formasi Cibulakan bawah.Tujuan utama dari KUPL (Kerja Ulang Pindah Lapisan) sumur EYK-02 adalah untuk mengoptimalisasi produksi hidrokarbon dari Formasi Cibulakan Atas lapisan L. Perkiraan produksi sumur ini adalah gas.Kerja Ulang Pindah Lapisan (KUPL) merupakan salah satu metode stimulasi untuk meningkatkan atau mengoptimalkan produksi sumur
CLAY MINERALS IN SANDSTONE RESERVOIR ROCKS DISTRIBUTION, DIAGENETIC EVOLUTION & POTENTIAL FORMATION DAMAGE
Sandstones are important oil and gas reservoir rocks and most sandstones contain clay minerals. Clay minerals variously occur as detrital (allogenic) particles and grains incorporated in the sediment at the time of deposition or are classified as authigenic minerals (authigenic), which formed at a later stage as cements and replacements within the rock.Kaolinite, chlorite, illite, smectite and mixed layer clays are the most common individual groups of clay minerals present in sandstones. They clays can have complex relationships and appear at various stages in the formation of a rock.Examination of clay minerals in the geological laboratory is undertaken using thin section petrography, scanning electron microscopy (SEM) and X-Ray diffraction (XRD) analyses. This suite of analyses provides an understanding of the types, amounts, distribution and origin of various clays present in a rock, although other types of analysis may also be required in order to provide information on how they will react during oil and gas production.The distribution of clays plays an important role in the ability of the rock to store oil and gas as a reservoir. Clays generally have a negative affect on the reservoir quality of a sandstone, and can block or occlude pores and be the cause of reduced permeability, but some cases the transformation of an unstable mineral, such a feldspar grain, to clay results in formation of additional or secondary pores.It is important to understand the types and distribution of clays when considering oil and gas production. The original sedimentary distribution of clays plays an important role in the distribution and the amount of porosity and permeability, while later stage authigenic clays can often block or occlude pores and ultimately reduce permeability. In certain cases, for instance, authigenic clays may be dislodged within the pore system and will eventually block pores and restrict production, while in other cases certain clays, such as smectite, have the tendency to swell when exposed to water, creating a potential drilling hazard when such clay bearing rock formations are exposed to water-base fluids during drilling, possibly reducing the permeability of a good reservoir rock.Some clays are used in drilling fluids to form an impermeable mud cake to isolate a formation from the invasion of drilling fluid
EVALUASI POMPA ELECTRIC SUBMERSIBEL (ESP) SUMUR KWG WK DI LAPANGAN KAWENGAN AREA CEPU PT. PERTAMINA EP REGION JAWA
Evaluasi volumetris pompa benam listrik submersible (ESP) yang dilakukan pada sumur produksi merupakan hal penting dalam proses pengembangan lapangan produksi, maka dengan evaluasi ini dapat diketahui apakah pompa yang terpasang tersebut beroperasi sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Memproduksi minyak pada lapangan tidak terlepas dengan adanya penurunan tekanan reservoir sehingga dapat menyebabkan adanya penurunan efisiensi volumetris pompa. Berkaitan dengan permasalahan tersebut, maka untuk meningkatkan harga volumetris pompa yang telah menurun dilakukan desain ulang pompa dengan cara melakukan kembali pengaturan pompa sesuai dengan kebutuhan. Pendekatan yang dilakukan adalah menentukan besarnya efisiensi volumetris pompa, diperoleh dengan cara membandingkan antara laju produksi aktual dengan laju produksi teoritis yang diberikan oleh pompa terpasang. Desain menggunakan pompa REDA DN2000 pada frekeunsi 60Hz karena berdasarkan analisa sensitivitas terhadap frekuensi, laju alir 2000 BPD berpotongan dengan daerah best effisiensi. Dilihat dari kurva pompa untuk REDA DN2000 frekuensi 60 Hz didapat head/stage sebesar 22.2 ft dan stage yang dibutuhkan sebanyak 97stage
GEOLOGI DAERAH GUNUNG TENONG DAN SEKITARNYA KECAMATAN TULAKAN DAN KECAMATAN NGADIRAJA KABUPATEN PACITAN PROPINSI JAWA TIMUR
Daerah penelitian secara administratif berada di Kecamatan Tulakan dan Kecamatan Ngadiraja, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Secara fisiografis terletak antara koordinat 8°8’42”LS - 8°14’01”LS dan 4°25’47”BT - 4°29’57”BT. Geomorfologi daerah penelitian dapat dibagi menjadi empat satuan geomorfik yaitu denudasi, fluvial, karst, dan volkanik. Stratigrafi yang menyusun daerah penelitian adalah Formasi Besole, Formasi Jaten, Formasi Wuni, Formasi Nampol, Formasi Punung, Batuan Terobosan, dan Aluvial dengan struktur geologi yang berkembang yaitu Sesar Kali Sempu yang berarah relatif Timurlaut – Baratdaya, Sesar Kali Guyangan yang berarah relatif Tenggara – Baratlaut, Sesar Pagerejo, Sesar Tembelong, Sinklin Watulawang, dan Antiklin Pringamba
GEOLOGI DAN KARAKTERISTIK BATUAN BEKU ULTRAMAFIK SEBAGAI BAHAN BAKU KONSTRUKSI DI DAERAH LEMBAH SUNYI KELURAHAN ANGKASAPURA, KOTA JAYAPURA PROVINSI PAPUA
Pemetaan geologi dilaksanakan di daerah Lembah Sunyi, Kelurahan Angkasapura, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Daerah penelitian memiliki satuan batuan ultramafik yang terdiri dari batuan peridotit dan batuan serpentinit hasil dari serpentinisasi batuan peridotit dengan struktur columnar joint yang memiliki penyebaran cukup luas, sehingga diharapkan dengan memanfaatkan struktur columnar joint yang ada maka pemanfaatan satuan batuan peridotit pada daerah Lembah Sunyi akan lebih efektif, potensial, dan lebih bernilai.Penelitian dilakukan dengan pemetaan geologi serta melakukan analisis keteknikan contoh batuan dan analisis petrografi pada sampel batuan peridotit dan serpentinit pada daerah Lembah Sunyi.Geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi 2 satuan, yaitu satuan perbukitan tersayat sangat tajam struktural dan satuan perbukitan tersayat tajam struktural. Pola penyaluran yang bekerja adalah pola penyaluran sub denritik. Stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda dibagi menjadi 2 satuan, yaitu satuan batuan ultramafik dan satuan batugamping.Hasil analisa keteknikan pada sampel batuan peridotit dan serpentinit yaitu kuat tekan rata-rata sebesar 2446,898 kg/cm2 dan 68,036, berat jenis rata-rata sebesar 2,8754 gr/cm3 dan 2,2442 gr/cm3 , serapan air rata-rata sebesar 0.0543 % dan 5,8113 % serta ketahanan aus rata-rata yaitu 0.0351 mm/menit dan 0,2436mm/menit.Dari hasil analisis maka peridotit daerah penelitian baik untuk dimanfaatkan sebagai batu dimensi (penutup lantai atau trotoir dan batu hias atau batu tempel) serta baik digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi ringan, sedang dan berat.. Cara penambangan yang baik digunakan pada daerah penelitian yaitu dengan menggunakan “side hill system”
POTRET PAD DAN RELEVANSINYA TERHADAP KEMANDIRIAN DAERAH
Filosofi otonomi daerah adalah mewujudkan kemandirian daerah di segala segi kehidupan, yang diukur melalui elemen Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di harapkan dengan otonomi, semua daerah di Indonesia mampu melaksanakan semua urusan pemerintahan dan pembangunan dengan bertumpu pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang di milikinya. Dengan melihat realita pencapaian PAD di hampir semua daerah di Indonesia, tujuan mulia otonomi tersebut bagaikan jauh panggang daripada api. Bukan kemandirian yang ada justru tingkat ketergantunagn terhadap pusat yang semakin besa
AN ALTERNATIVE ANALYSIS OF SURFACE WAVES DATA FOR SITE CHARACTERIZATION
The spectral analysis of surface waves (SASW) is an in situ non-destructive testing method. It has been developed and used for many years in the fields of geotechnical engineering and site characterization. It is typically used in evaluation of elastic moduli and layer thickness of soils, rocks and pavements. This method consists of wave generation, measurement and processing of dispersive Rayleigh waves. The stiffness profile of soil media or pavement systems are determined by fitting measured dispersion data with an adjustable theoretical model of the material that depends on layer thickness and elastic moduli. The best-fit stiffness profile is usually formed with optimization techniques.This paper presents an alternative analysis of the Rayleigh waves. This alternative analysis comprises four main steps (1) determine the range of frequencies based on the best coherence value, (2) determine the dominant frequency and wave cycle for wavelength (LR) calculations, (3) calculate the attenuation coefficient for each geophones spacing and plot it versus phase velocity (VR) to produce an exponential equation, and (4) calculate the shear wave velocity from the derived exponential equation.The alternative analysis was tested at three sites i.e. Kamsis H UKM, Bangi, Bandar Sri Putra and Sri Damansara. The analysis has successfully produced an empirical exponential curve for each site. For Bandar Sri Damansara site the exponential equation obtained is α=0.0084*e-0.0014Vs, for Bandar Sri Putra α=0.0094*e-0.0015Vs and for site at KamsisH UKM α=0.0035*e-0.0007Vs. The final profile of Vs versus depth obtained for each site is compared with those of the SASW inversion analysis and Standard Penetration Test data from borehole
PENGARUH KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM OPTIMALISASI PEMANFAATAN ENERGI PANASBUMI
Indonesia merupakan salah satu negara yang telah memanfaatkan sumber energi panasbumi sebagai pembangkit tenaga listrik. Di dunia, Indonesia menempati urutan keempat negara yang telah memiliki kapasitas terpasang power plant terbesar setelah Amerika Serikat, Philipina, dan Mexico. Namun, jika kita melihat potensi cadangan panasbumi Indonesia yang mencapai 27.000 MWe, upaya pemanfaatan sumber energi yang berkelanjutan tersebut barulah mencapai kisaran 3%. Angka tersebut merupakan angka yang kecil untuk sebuah potensi yang begitu besar. Oleh karena itulah, pemerintah berusaha melakukan perencanaan, kajian, pengembangan, dan menyusun kebijakan berkaitan dengan upaya peningkatan pemanfaatan sumber energi tersebut secara bertahap dimasa yang akan datang.Banyak sekali kendala yang sering dihadapi dalam upaya peningkatan pemanfaatan sumber energi panasbumi. Harga BBM di Indonesia yang masih rendah, menyebabkan harga listrik dari pembangkit listrik tenaga panasbumi belum kompetitif dibandingkan dengan harga listrik dari pembangkit tenaga listrik BBM. Adanya upaya pemanfaatan bahan bakar fosil lain yang relatif murah, seperti gas dan batubara yang cadangannya juga besar di Indonesia, menambah ketergantungan kita untuk tetap memanfaatkan sumber energi tersebut. Harga listrik yang tidak kompetitif tersebut menjadi kurang menarik minat investor dalam berinvestasi.Sudah banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah disusun untuk meningkatkan pemanfaatan sumber energi yang berkelanjutan ini. Namun, untuk membangun pembangkit-pembangkit baru atau bahkan meningkatkan kapasitas terpasang pada Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) yang telah ada saja langkahnya masih tersendat-sendat. Kendala utama yang tampak saat ini adalah kurang terintegrasinya antara kebijakan energi nasional dengan implementasi yang pemerintah lakukan. Sudah saatnya pemerintah berfikir jauh kedepan, untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia melalui pemanfaatan panasbumi sebagai pemasok ketenagalistrikan Indonesia. Kita semua berharap, pemanfaatan sumber energi yang sangat ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable resource) ini dapat dikembangkan dengan baik di Indonesia bukan hanya untuk sektor ketenagalistrikan tetapi juga dimanfaatkan untuk sektor non-listrik seperti yang telah dikembangkan di beberapa negara lain