Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

opac.isi.ac.id
Not a member yet
    49728 research outputs found

    Pemeranan Tokoh Alex Dalam Naskah Perjumpaan Terakhir Karya Jean-Pierre Martinez Terjemahan Jenar Kidjing

    No full text
    Perjumpaan Terakhir karya Jean-Pierre Martinez terjemahan Jenar Kidjing menceritakan tentang pertemuan seorang pria dan wanita di sebuah stasiun untuk mencapai kebebasan hidup. Naskah ini dipilih sebagai pemeran karena mengandung eksistensialisme yang menekankan keaslian hasrat tokoh yang relevansinya masih erat kaitannya dengan masyarakat serta potensinya yang kaya pada wilayah pemeranan. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk mewujudkan karakter Alex dan juga mencari metode yang tepat untuk membangun karakter. Pendekatan gaya akting merupakan pengintegrasian akting presentasional dan akting representasional dengan menggunakan metode aspek akting milik Robert Cohen yang memiliki 4 tahapan yaitu simulation character, character embodiment, virtuosity, dan magic. Dalam upaya menekankan absurditas dan efek perubahan gaya akting, pemeran menggunakan teknik alinasi Brecht. Proses pemeranan menawarkan sesuatu yang baru, yakni menciptakan karakter Alex yang secara visual berbeda dengan naskah. Melalui penciptaan ini, pemeran memiliki lebih banyak ruang untuk bereksplorasi, sehingga memunculkan banyak keterampilan dalam permainan seperti menyanyi dan menari

    Memperkuat Motivational Complex Melalui Mobile Staging pada Penyutradaraan Film Noda-Noda Seragam

    No full text
    Noda-Noda Seragam menceritakan tentang Alvin, seorang remaja korban bullying yang harus menyembunyikan noda darah di seragam SMA-nya dari Ana, seorang ibu single parent yang overprotektif. Secara singkat, Noda-Noda Seragam adalah tentang menyembunyikan dan keterbukaan. Analisa yang dilakukan pada naskahnya adalah membedah motivational complex mulai dari: human drives, situasi fisik & sosial, interaksi sosial, dan pola watak. Keempat aspek ini dijadikan ukuran untuk menentukan mobile staging yang seperti apa yang akan dipakai, mulai dari: blocking, jenis mobile staging, teknik mobile staging, dan camera movement yang digunakan. Rancangan ini nantinya akan menghasilkan sebuah fungsi dari mobile staging sekaligus melayani dua aspek yang dominan dalam naskah Noda-Noda Seragam, yaitu: mengeksternalisasi sisi psikologis dan relasi antar karakter

    Analisis Retorika Visual Food Photography di Instagram @Sazhabusha

    No full text
    Dalam dunia seni khususnya fotografi dapat menjadi media untuk menyampaikan suatu pesan visual, tidak terkecuali pada food photography. Penggunaan fotografi sebagai media komunikasi melalui elemen-elemen mampu menciptakan pesan persuasi serta penyelesaian permasalahan paradigmatik melalui penyebaran visual fotografi makanan di media sosial. Penelitian ini secara spesifik menganalisis foto makanan diet karya Sazha Busha di Instagram @sazhabusha dengan menggunakan teori Sonja K Foss dan menggunakan “The Rhetorical Triangle” oleh Wendy Hesford dan Jo Brueggeman sebagai alat analisis data. Retorika visual mempengaruhi sikap serta perilaku manusia melalui narasi gambar visual. Penerapan dengan teori segitiga retorika pada empat karya Sazha Busha untuk mengetahui dan menganalisis pemaknaan pesan yang dimunculkan melalui visual maupun respon audiens terhadap visual fotografi itu sendiri. Metode penelitian skripsi ini adalah penelitian dengan metode kualitatif dan teknik analisis data, observasi visual, studi literatur serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur visual mampu membantu audiens menangkap pesan persuasi serta menciptakan persepsi baru melalui unsur-unsur pembangun visual fotografi seperti, latar belakang fotografer, komposisi, teknis, caption , dan unsur lainnya yang ditampilkan pada unggahan media sosial di Instagram @sazhabusha

    Perancangan Interior Museum R.E.B.O Tjokroadiredjo Surabaya dengan Konsep Interactive Journey for Fun Education

    No full text
    Museum R.E.B.O Tjokroadiredjo di Surabaya merupakan salah satu sarana pembelajaran dan warisan budaya yang menarik bagi masyarakat. Meskipun lokasinya strategis di pangkalan Udara TNI Angkatan Laut dan dekat dengan Bandara Internasional Juanda, museum ini belum berhasil menarik perhatian kalangan dewasa karena minimnya wawasan dan minat terkait penerbangan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pemaksimalan teknologi pada area display dan penataan ruang yang baik guna menciptakan pengalaman pembelajaran yang edukatif, rekreatif, dan interaktif. Redesain museum dengan konsep 'Interactive Journey for Fun Education' bertujuan untuk merangsang minat pengunjung dari berbagai kalangan, khususnya anak-anak dan remaja, dengan memanfaatkan media interaktif di setiap area. Gaya futuristik dipilih untuk mendukung konsep museum yang berfokus pada teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan di masa depan, dengan penggunaan material dan komposisi warna yang sesuai. Redesain museum ini diharapkan dapat meningkatkan minat pengunjung dan efektivitas museum sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan

    Kajian Bentuk dan Gaya Motif Batik Mliwis Temanggung yang Mengangkat Tokoh dari Temanggung

    No full text
    Di Temanggung terdapat sebuah motif batik klasik yang bernama motif batik Mliwis. Motif tersebut diciptakan oleh Sri Rahayu Widati Adi. Terdapat 20 variasi motif batik Mliwis yang dibuat secara bertahap sejak tahun 2009 hingga 2016. Motif batik tersebut memunculkan burung mliwis sebagai motif utama dan hal-hal yang berkaitan dengan Temanggung sebagai motif pendukung. Motif batik Mliwis masih belum begitu dikenal. Oleh sebab itu, laporan ini disusun sebagai bentuk perkenalan motif batik Mliwis Temanggung kepada khalayak. Kajian ini fokus membahas bentuk dan gaya motif batik Mliwis yang mengangkat tokoh dari Temanggung guna mengenalkan tokoh-tokoh berpengaruh dari Temanggung. Kepenulisan laporan ini menggunakan metode pendekatan estetika dari teori Feldman yang dibantu teori ornamen Gustami serta Sewan Susanto dan metode penelitian. Teori estetika dari Feldman digunakan untuk mengkaji bentuk estetika motif, teori ornamen dari Gustami digunakan untuk mengklasifikasi komponen motif serta gaya motif, dan teori ornamen dari Sewan Susanto digunakan untuk menggolongkan motif dan gaya motif. Metode penelitian yang digunakan terdiri atas tiga hal, yaitu (1) Populasi yang diambil dari 20 jenis variasi motif batik Mliwis dan sampel yang diambil dari motif batik Mliwis yang mengangkat tokoh dari Temanggung, yaitu motif Rejeng Ni Thowok, motif Ukel Moeh Roem, dan motif Truntum Puspa Wilis; (2) Metode pengumpulan data; (3) Metode analisis data. Hasil dari penelitian yang dilakukan adalah bentuk ketiga motif yang dikaji memiliki nilai estetika berdasarkan teori dari Feldman. Ketiga motif memiliki motif utama, motif pendukung, dan isian motif berdasarkan teori Gustami. Terdapat dua motif geometris dan satu motif non-geometris. Ketiga motif memiliki gaya klasik tradisional berdasarkan teori dari Sewan Susanto

    Idiom Metaforik Refleksi Masa Kecil Melalui Falsafah Stoisisme sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis

    No full text
    Seni lukis merupakan salah satu medium untuk merefleksikan wawasan pemikiran, salah satunya adalah ilmu filsafat Stoisisme, sebuah aliran filsafat yang menekankan penerimaan terhadap hal-hal yang tidak dapat diubah dan pengendalian diri terhadap reaksi emosional, menawarkan perspektif yang bermanfaat untuk mengatasi dampak negatif dari suatu pengalaman negatif yang menjadi trauma. Pengalaman negatif yang terjadi pada penulis selama masa kecil yang hingga saat ini belum terselesaikan, seperti trauma, iri, dan kekecewaan, luka emosional bisa berdampak jangka panjang pada kesejahteraan psikologis individu. Dengan mengenang masa kecil melalui prinsip dan idiom Stoisisme membantu penulis menerima masa lalu, mengembangkan ketahanan emosional dan fokus pada hal yang positif untuk menangkal emosi negatif. Kenangan-kenangan masa kecil seperti bermain, berpetualang, dan kebersamaan digunakan dalam memetaforkan idiom dan prinsip Stoisisme kemudian direpresentasikan secara fantastik dengan menampilkan figur anak-anak yang berlatarkan tempat di alam, dengan menggunakan bentuk, warna, dan komposisi yang disusun sedemikian rupa dengan gaya fantasi

    Perancangan Interior Rumah Sakit Ibu dan Anak Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

    No full text
    Rumah sakit, atau rumah berobat menjadi salah satu ruang untuk pemulihan yang esensial di masyarakat. Namun, fasilitas yang memadai terkadang bertolak belakang dengan paradigma yang mengatakan bahwa rumah sakit terkadang menyeramkan dan mengintimidasi atau menakutkan, cenderung membuat Pasien gelisah, dan berujung pada proses pemulihan yang menjadi lama. Berdasarkan perbandingan antara fasilitas keseahatan yang tersedia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan kondisi psikologi ruangan yang kurang menyeimbangi, kebutuhan masyarakat Jakarta terhadap fasilitas kesehatan nyaman masih belum terpenuhi. Maka dari itu, dibutuhkan penambahan fasilitas kesehatan yang mempertimbangkan kondisi fisiologis dan kondisi psikologis (pikiran batin) manusia yang turut mempunyai kontribusi dalam proses penyembuhan. Agar aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang memperhatikan psikologi ruang terpenuhi, perancangan kali ini bertujuan untuk menghadirkan ruang pemulihan yang tidak hanya diutilitaskan sebagai tempat berobat secara fisik, namun juga secara pikiran dan psikologis. Selain itu, dengan hadirnya pendekatan Healing Environment atau lingkungan menyembuhkan, dapat membangun Kembali citra Rumah Sakit Cipto mangunkusumo Jakarta yang sudah dikenal sebagai salah satu Rumah Sakit dengan fasilitas terlengkap di Jakarta. Proses perancangan yang dilakukan menggunakan metode perancangan Rosemary Kilmer melalui tahap analisis dan sintesis untuk menghasilkan solusi desain yang optimal. Hasil desain yang ditawarkan mengusung pendekatan "Healing Environment" sebagai esensi yang ingin dicapai kedalam penerapan bentuk, warna, pengembangan ruang, serta aspek interior lainnya yang mampu menunjang fasilitas Kesehatan. Perancangan Rumah Sakit Ibu dan Anak ini menggunakan gaya Post Modern dengan karakter yang ekspresif, Playful dan Fun

    Implementasi teori belajar konstruktivisme pada pembelajaran tari turangga yaksa di Sanggar Tari Sekar Mayang Trenggalek

    No full text
    Sanggar Tari Sekar Mayang Trenggalek merupakan sanggar yang aktif dalam mencetak generasi muda dengan mengedepankan kearifan seni budaya lokal. Seni budaya lokal tersebut yaitu tari Turangga Yaksa. Pendidik sanggar menerapkan teori belajar konstruktivisme pada pembelajaran tari Turangga Yaksa untuk memahami setiap karakter siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran tari Turangga Yaksa di Sanggar Tari Sekar Mayang Trenggalek. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus (case study). Objek penelitian yaitu implementasi teori belajar konstruktivisme pada pembelajaran tari Turangga Yaksa yang diidentifikasi, dideskripsikan, dan diungkapkan dari pengamatan proses pembelajaran secara aktif. Subjek penelitian yaitu pelatih, pengelola sanggar, serta siswa yang mengikuti pembelajaran tari Turangga Yaksa di Sanggar Tari Sekar Mayang Trenggalek Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validasi data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Analisis data menggunakan teori Creswell yang dilakukan dengan enam tahapan, yakni tahap persiapan data, general sense, coding data, deskripsi data, menyajikan data, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi teori belajar konstruktivisme secara umum berjalan dengan baik dan sesuai dengan tahapan, karakteristik, dan prinsip teori belajar konstruktivisme. Karakteristik dan prinsip, tahapan, teori belajar konstruktivisme ditemukan di setiap pertemuan dalam kegiatan yang berbeda sesuai dengan kondisi pembelajaran. Implementasi teori belajar konstruktivisme memberikan peluang kepada siswa untuk membangun pengetahuan dan keterampilannya atas usaha sendiri sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal, meskipun masih terdapat hambatan yakni manajemen waktu pembelajaran yang kurang terkelola

    Uning-uningan dalam horja tindang saur matua di bius si onom ompu bakara Kabupaten Humbang Hasundutan

    No full text
    Horja Tindang Saur Matua adalah sebuah upacara adat kematian dengan tahap paling tinggi dalam masyar akat Batak Toba di lingkup Bius Si Onom Ompu Bakara yang menghadirkan Uning Uningan dalam iringan upacara. Upacara ini secara khusus diatur dan dijalankan oleh Bius Si Onom Ompu . Bius Si Onom Ompu adalah kumpulan 6 Marga yang didirikan oleh Raja Sisingaman garaja, dimana ke enam Marga ini yakni; Bakara, Sinambela, Sihite, Simanullang, Marbun dan Simamora. Dari beberapa aspek kebudayaan serta adat istiadat yang dijalankan oleh Bius Si Onom Ompu , Penulis menyorot Musik yang disebut Uning U ningan yang digunakan pada upacara adat Horja Tindang Saur Matua . Penulis merumuskan masalah menjadi dua, yakni; 1. Bagaimana bentuk lagu Uning uningan dalam Horja Tindang Saur Matua di Bius Si Onom Ompu Bakara kabupaten Humbang Hasundutan dan 2. Bagaimana fungsi Uning uninga n dalam Horja Tindang Saur Matua di Bius Si Onom Ompu Bakara Kabupaten Humbang Hasundutan?. Penulis menggunakan teori dari Carl Edmund Prier dalam bukunya yang berjudul Ilmu Bentuk Analisa Musik untuk membedah rumusan masalah yang pertama, serta menggunaka n teori Interaksionisme Simbolik dari Herbert Blumer. Dalam membedah objek kajian ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan cara observasi, pengumpulan data dan kemudian mendeskripsikannya melalui pendekatan Etnomusikologi. Melalui bidang kajia n Etnomusikologi ini, penulis mendeskripsikan fungsi Uning Uningan dalam masyarakat Bius Si Onom Ompu Bakara sebagai media hiburan, dan menganalisa bentuk lagu Uning U ningan oleh salah satu grup musik di Bakara pada sebuah upacara adat Horja Tindang Saur Matua

    Kreativitas musikal penyajian grup musik pop “Titi Laras” di Surabaya: sebuah kajian musikologis

    No full text
    Persaingan dalam industri musik datang dari musisi dan platform streaming musik serta layanan digital yang bersaing memikat pengguna. Para musisi juga harus terus mengikuti perkembangan tren dan menciptakan karya yang inovatif untuk tetap relevan. Di Surabaya terdapat sebuah grup musik pop Titi Laras yang cukup terkenal. Titi Laras dapat menarik audiens dengan cara mengemas musik pop dengan penggabungan idiom keroncong, dangdut, Latin. Penelitian ini bertujuan mengungkap proses kreatif Titi Laras menggunakan teori The Four P’s of Creativity dari Mel Rhodes. Selain itu, penelitian ini juga ingin mengungkap pencapaian Titi Laras selama berkarya dalam industri musik menggunakan teori AGIL dari Talcott Parson. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif analitis yang pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Titi Laras telah mengembangkan inovasi dengan menggabungkan unsur musik keroncong, musik dangdut, serta musik Latin ke dalam musik pop. Pendekatan unik terhadap alat musik menghasilkan genre baru dengan irama segar dan menarik para audiens. Grup musik Titi Laras memanfaatkan materi musik tradisional Indonesia untuk memperkuat identitas mereka, menciptakan karya otentik dengan mengeksplorasi musik keroncong serta dangdut. Sebagai kesimpulan proses kreatif penggabungan genre musik keroncong, dangdut, dan Latin meningkatkan daya saing Titi Laras di kancah nasional. Hal tersebut dapat memikat audiens dengan kreativitas dan inovasi, serta menunjukkan kekayaan warisan musik Indonesia yang relevan di era modern

    0

    full texts

    49,728

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    opac.isi.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇