49728 research outputs found
Sort by
Evaluasi penerapan standar prasarana pendidikan pada interior Sekolah Khusus Autisme di Yogyakarta
Sekolah khusus autisme sebagai wadah pendidikan formal anak autisme perlu diperhatikan karena individu mengalami kesulitan interaksi, komunikasi, dan berperilaku sehingga akan tumbuh dan berkembang berbeda dengan anak normal pada umumnya. Penelitian ini membahas tentang penerapan standar prasarana pendidikan pada interior sekolah khusus autisme di Yogyakarta, yaitu SLB Bina Anggita, SLB Dian Amanah, dan SLB Citra Mulia Mandiri dengan tujuan untuk mengetahui penerapan standar prasarana pendidikan pada interior sekolah khusus autisme di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan human instrument dalam proses pengumpulan dan analisis data. Hasil analisis akan disajikan secara dalam bentuk perbandingan dan persentase data dari objek berdasarkan dua data pustaka yaitu Peraturan Menteri Pendidikan No.33 Tahun 2008 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) dan Aturan dalam Merancang Ruang untuk Indera Autisme. Hasil penelitian adalah ketiga objek telah memenuhi standar Peraturan Menteri Pendidikan No.33 Tahun 2008 dan menunjukkan bahwa ruang sensori integritas pada sekolah khusus autisme perlu ada. Berdasarkan Aturan dalam Merancang Ruang untuk Indera Autisme, SLB Bina Anggita dan SLB Citra Mulia Mandiri sudah memenuhi standar, namun SLB Dian Amanah belum memenuhi standar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat indikator yang berpengaruh dan tidak berpengaruh terhadap indera anak autisme maupun proses belajar mengajar
Intermixture fabrics pada busana ready to wear dengan konsep cottagecore
ottagecore merupakan istilah yang berkembang di media sosial sejak pandemi untuk orang-orang yang menyukai gaya pedesaan Eropa dari awal abad ke 18-an. Gaya cottagecore sendiri mencangkup dalam berbagai gaya hidup di masyarakat mulai dari pertanian, interior, hingga fesyen. Fashion dengan konsep cottagecore memiliki ciri yang mudah dibedakan yaitu pemilihan kain katun dan motif yang cenderung geometri. Oleh karena itu pemilihan berbagai jenis kain dari serat katun digunakan dalam pembuatan karya ready to wear. Sedangkan untuk motifnya sendiri menggunakan ornamen katedral dengan gaya gotik yang dominan khas ornamen Eropa. Tujuan dari penciptaan dengan konsep cottagecore adalah menghasilkan karya busana yang timeless dengan menggabungkan beberapa teknik dan jenis kain. Metode yang diaplikasikan pada penciptaan karya Tugas Akhir ini adalah practice based research. Metode penciptaan meliputi penelitian tentang konteks yang diambil, meneliti metode apa yang akan digunakan, eksplorasi, eksperimen, dan forming atau pewujudan karya. Penerapan metode penciptaan digunakan untuk memperkuat konsep mulai dari observasi hingga pewujudan karya. Tugas Akhir ini menghasilkan lima karya dengan judul yang sama tetapi memiliki bentuk dan karakteristik yang berbeda antara karya yang satu dengan yang lainnya. Jenis busana yang diciptakan adalah ready to wear yang menitikberatkan pada konsep cottagecore, teknik intermixture fabrics mulai dari fabric manipulation hingga sashiko, dan katedral sebagai ornamen utama pada motif
Nilai Pendidikan Asah Asih Asuh Dalam Materi Tembang Dolanan Anak Di Sekolah Kasih I-Care Nusantara Borobudur
Perkembangan pariwisata di wilayah Borobudur semakin masif. Sejalan dengan hal tersebut, Sekolah Kasih I-CARE Nusantara memiliki visi untuk dapat meningkatkan SDM bagi anak-anak setempat melalui pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang berkualitas diupayakan melalui misi penerapan pola asah asih asuh sebagai dasar metode pembelajarannya. Pola ini diterapkan sejalan dengan kemerdekaan belajar dalam prosesnya. Pengajaran yang diberikan bukan hanya berupa pengetahuan, melainkan keterampilan, tata krama, dan pengajaran dasar kehidupan lainnya. Para pengelola juga bertekad untuk dapat terus mewariskan ilmu-ilmu dasar berbasis kebudayaan Jawa bagi para murid, salah satunya melalui pembelajaran materi tembang dolanan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan asah asih asuh dalam materi tembang dolanan anak di Sekolah Kasih I-CARE Nusantara Borobudur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus bersifat deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Kasih I-CARE Nusantara Borobudur. Objek penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan asah asih asuh dalam materi tembang dolanan anak. Sumber data yaitu pendiri sekolah, pengajar, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik validasi data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Teknik analisis data terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat nilai pendidikan asah asih asuh yang ditemukan pada lirik tembang dolanan anak, proses pembelajaran dan sikap pengajar. Nilai asah ditemukan pada proses pembelajaran tembang dolanan anak, nilai asih terdapat pada lirik tembang dolanan anak dan sikap pengajar, nilai asuh ditemukan pada sikap pengajar dan proses pembelajaran. Nilai asih merupakan nilai pendidikan yang paling dominan. Kekhasan penerapan nilai pendidikan asah asih asuh terdapat pada variasi penempatan materi tembang dolanan anak yaitu pada inti kegiatan dan kegiatan penutup
Studi motorik kasar permainan egrang untuk mengurangi gaya hidup instan melalui storytelling film "Mengatur Ulang"
Pada masa sekarang, perkembangan teknologi yang semakin pesat memiliki banyak keunggulan yang dapat dimanfaatkan namun terdapat berdampak pada perubahan gaya hidup dan pola konsumsi manusia yang semakin cepat atau disebut gaya hidup serba instan. Gaya hidup instan yang berlebihan memiliki dampak negatif salah satunya yaitu kurangnya menguasai motorik kasar. Film “Mengatur Ulang” dibuat untuk mengedukasi menggunakan teknik storytelling untuk menarik antusiasme anak dengan metode struktur tiga babak penceritaan agar mudah dipahami karena menunjukkan sifat mendasar dari penceritaan, bahwa sebuah cerita memiliki babak awal, tengah, dan akhir yang memuat cerita tentang bahayanya pengaruh gaya hidup instan yang berlebihan pada kehidupan sehari-hari dan faktor psikologis malas mempengaruhi seseorang dalam penguasaan keterampilan motorik kasar
Pengaruh konflik terhadap perubahan komponen karakter tokoh utama sebagai representasi penyintas kekerasan seksual dalam film "Penyalin Cahaya"
Film Penyalin Cahaya bercerita tentang seorang mahasiswi yang kehilangan beasiswanya karena foto – foto mabuk di pesta perayaan tersebar di media sosial. Keinginan untuk menguak fakta diiringi dengan lika-liku konflik yang terus bermunculan. Penelitian yang berjudul Pengaruh Konflik Terhadap Perubahan Komponen Karakter Tokoh Utama Sebagai Representasi Penyintas Kekerasan Seksual Dalam Film “Penyalin Cahaya” ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konflik dapat mempengaruhi karakter tokoh utama pada film ini. Penelitian ini menggunakan teori Kubler Roos tentang lima tahapan kehilangan dan teori tentang perubahan karakter oleh Lajos Egri untuk menganalisa data secara lebih detail. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis data deskriptif kualitatif dengan fokus pada perubahan komponen karakter tokoh utama. Dilihat dari aspek konflik, apakah mampu membuktikan adanya perubahan komponen karakter yang terjadi pada tokoh utama atau tidak sama sekali. Lalu, perubahan komponen tersebut dielaborasikan dengan aspek tahapan kehilangan untuk menunjukkan perubahan komponen terdapat dalam aspek tahapan yang mana. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa konflik mempengaruhi perubahan komponen karakter tokoh utama dan dapat merepresentasikan tahapan – tahapan yang akan dilalui oleh seorang penyintas kekerasan seksual sampai mampu kembali menerima dirinya sendiri dan menjalani kehidupannya
Peran masyarakat hukum adat Sendi dalam pelestarian hutan kawasan Pacet Mojokerto dalm film dokumenter potret "Rahayu Sendi"
Isu lingkungan menjadi isu yang tak habis jika didiskusikan. Banyak sekali permasalahan lingkungan yang terjadi di planet bumi ini. Eksplorasi besar-besaran sumber daya alam menjadi sebuah bom waktu jika tidak segera dihentikan. Pohon-pohon di hutan harus dijaga kelestariannya. Selain itu perlu diperhatikan manfaat dari pohon tersebut. Jangan sampai pohon hanya dijadikan bisnis semata tanpa mempertimbangkan dampak terhadap kesinambungan manusia dengan alam. Masyarakat Sendi yang tinggal di daerah Sendi Kecamatan Pacet Kabupaten Mojokerto terus mengupayakan konservasi atas hutan yang berada di kawasan Sendi. Konservasi ini meliputi aksi reboisasi dan juga pemberlakuan hukum adat. Hukum adat ini menjadi sebuah kearifan lokal yang mengatur penebangan pohon di kawasan Sendi. Terlepas dari upaya konservasi yang dilakukan, masyarakat Sendi mempunyai alasan dalam melakukan konservasi. Mereka pernah merasakan sulitnya mencari air karena sumber air yang mengalami penyusutan karena masifnya pohon industri yang ditanam pada zaman dulu. Namun sekarang masyarakat dapat merasakan banyak manfaat dari konservasi yang dulu mereka lakukan. Film dokumenter “Rahayu Sendi” adalah film dokumenter dengan genre potret yang menceritakan peran masyarakat adat Sendi dalam menjaga kelestarian hutan kawasan Pacet di Mojokerto. Inisiasi serta aksi masyarakat Sendi yang unik dalam usaha menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam menjadi aspek human interest yang menarik untuk diangkat menjadi sebuah film dokumenter. Tipe ekspositori digunakan dalam menuturkan cerita langsung dari narasumber dengan ditambahkan footage sebagai pendukung statement. Penggunaan struktur bercerita secara tematis membagi film ini dalam 3 sekuen yaitu Tanah, Konservasi, dan Air
Gecko dalam Fotografi Komersial dengan Kombinasi Visual Pendukung Berbasis Kecerdasan Buatan
Penciptaan karya fotografi komersial ini diprakarsai oleh adanya novelty atau kebaruan dalam mengeksplorasi objek penciptaan yang mungkin masih jarang dijumpai, yakni hewan gecko. Bekerja sama dengan Sanjaya Reptile Indonesia (SRI) untuk memvisualisasikan gecko dengan cara yang kreatif dan inovatif. Penulis melihat adanya ide dan peluang untuk menjadikan hewan gecko sebagai subject matter. Selain karena memiliki target pasar tersendiri, gecko juga memiliki nilai artistik dari segi visual. Keunikan pada penciptaan ini adalah menghadirkan karya foto hewan gecko yang divisualisasikan melalui teknik fotografi digital dengan kombinasi elemen pendukung foto berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Penggabungan hasil fotografi dan generate AI menggunakan teknik digital imaging untuk mengintegrasikan seluruh elemen menjadi satu karya yang koheren dan estetis. Melalui studi pustaka, eksplorasi, dan eksperimentasi, penulis berusaha menunjukkan bagaimana karya foto dapat digunakan secara kreatif untuk tujuan komersial dengan menggabungkan imajinasi dan unsur artistik. Secara keseluruhan, konsep ini ditujukan sebagai upaya persuasi kepada target pasar untuk mengiklankan gecko dengan konsep yang melampaui batas konvensional sehingga terkesan unik dan tidak monoton. Kesan yang dibangun dari segi visual dibuat berbeda dari pesaing bisnis serupa supaya memiliki daya tarik tersendir
Low Key Lighting untuk Memperkuat Konflik Interpersonal dalam Tata Cahaya Film Pendek Geger Perikoloso
Karya seni tugas akhir dengan judul Low Key Lighting untuk Memperkuat Konflik Interpersonal dalam Tata Cahaya Film Pendek Geger Perikoloso bercerita tentang seorang anak laki - laki bernama Koesno yang memiliki keinginan untuk menari bersama kelompok Lekra di desanya namun dilarang oleh Bapak Koesno yang sedang mencalonkan diri sebagai Lurah di desanya dengan mayoritas penduduk NU. Film Geger Perikoloso menerapkan low key lighting sebagai cara untuk memperlihatkan perasaan karakter Koesno ketika menghadapi konflik interpersonal. Tata cahaya merupakan sebuah proses membentuk pencahayaan di dalam frame yang dapat menyampaikan perasaan dari sebuah gambar. Pencahayaan dapat berperan untuk memberikan kesan secara mudah kepada penonton tentang suasana yang sedang berlangsung di dalam film. Tata cahaya low key lighting dalam film Geger Perikoloso memilki peran untuk memperkuat konflik interpersonal dengan cara menampilkan kubu oposisi dan koalisi melalui visual. Tak hanya itu saja, low key lighting juga menyampaikan perasaan yang dimiliki oleh tokoh utama, Koesno, ketika dirinya menghadapi konflik interpersonal tersebut melalui pencahayaan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa low key lighting di dalam film Geger Perikoloso merupakan perwujudan perasaan karakter ketika menghadapi konflik interpersona
The Paradox of the Actor: Reflexions Sur Le Paradoxe
Denis Diderot, dalam The Paradox of the Actor, berpendapat bahwa seorang aktor hebat seharusnya tidak terlalu peka atau sensitif terhadap emosi yang ia tampilkan di atas panggung. Menurutnya, "sensitivitas yang berlebihan justru membuat aktor menjadi buruk, sementara kurangnya sensitivitas adalah kualitas utama dalam seni peran."Diderot mendukung pandangannya dengan enam argumen, di antaranya:Emosi tidak bisa diulang secara sengaja, karena kekuatannya akan cepat habis.Masa keemasan seorang aktor bukanlah di usia muda, ketika emosinya masih menggebu-gebu, tetapi di usia yang lebih matang, ketika ia telah berpengalaman dan mampu mengendalikan perasaannya dengan kepala dingin.Ada banyak bukti bahwa perasaan asli seorang aktor sering kali berbeda dari emosi yang ia tampilkan di atas panggung.Argumen terkuatnya adalah bahwa seseorang tidak bisa melakukan dua hal sekaligus.Seorang aktor harus memperhatikan penampilannya, mengatur efek dramatis, gerakan, dan ekspresinya agar sesuai dengan perannya. Ia harus tetap fokus pada adegan dan mengingat dialognya. Semua pekerjaan teknis ini tidak sejalan dengan perasaan yang benar-benar tulus. Jika seseorang benar-benar dilanda kesedihan mendalam, ia mungkin akan duduk terpuruk seperti yang dilakukan aktor di panggung, tetapi ia tidak akan memikirkan bagaimana cara jatuh yang terlihat indah atau dramatis—sebaliknya, ia akan sepenuhnya larut dalam kesedihannya
Pertunjukan teater "Panggung Terakhir" terinspirasi dari kasus krisis identitas pada seorang aktor
Pekerjaan aktor bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena memerlukan berbagai macam proses yang tidak singkat untuk dapat menjelmakan peran yang akan ia mainkan. Walaupun aktor memiliki caranya sendiri dalam mempersiapkan karakter yang akan diperankan, mereka harus bisa melakukan pendekatan yang tepat baik fisik dan psikis untuk mempelajari dan masuk ke dalam sebuah karakter. Akan tetapi beberapa aktor setelah melakukan pementasan kerap kali mengalami kesulitan dalam melepaskan karakter yang telah diperankannya. Salah satu penyebab dari terjadinya kasus tersebut ialah penerapan metode the magic “if” milik Constantin Stanilavski yang mengharuskan aktor masuk lebih dalam ke peran yang ia mainkan dan melatihnya di kehidupan sehari- hari. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan fenomena yang sering terjadi di kalangan aktor serta menciptakan karya pertunjukan teater untuk mewakili fenomena krisis identitas yang terjadi pada aktor. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis yang bertujuan agar masalah yang diteliti dapat diinterpretasikan dengan jelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benar adanya masalah krisis identitas terjadi dalam dunia keaktoran, yang pada akhirnya menginspirasi terciptanya sebuah karya pertunjukan teater berjudul “Panggung Terakhir”. “Panggung Terakhir” mengisahkan tentang sisi lain dari kehidupan seorang wanita paruh baya bernama Kana, di usia mudanya merupakan seorang aktris sukses. Karya ini menggambarkan bagaimana pertikaian pikiran yang terjadi dalam kehidupan Kana, pertikaian tersebut menjelma menjadi tokoh-tokoh yang masing-masing mewakili karakter dari peran-peran yang pernah ia mainkan dan sulit dilepaskan