49728 research outputs found
Sort by
Perancangan Interior Stasiun Kereta Api Madiun dengan Pendekatan Transit Oriented Development (TOD)
Stasiun Kereta Api Madiun merupakan stasiun besar yang melayani rute perjalanan ke seluruh Pulau Jawa dan telah beroperasi sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Seiring berjalannya waktu, moda transportasi kereta api saat ini telah menjadi salah alat transportasi paling diminati oleh masyarakat. Letak kota Madiun yang terdapat diantara provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah semakin menjadikan stasiun ini menjadi stasiun yang ramai dilalui baik sebagai kota tujuan maupun hanya sebagai area transit, sehingga diperlukan perancangan stasiun yang lebih matang demi keberlangsungan mobilitas masyarakat. Metode desain menggunakan dalam perancangan kali ini menggunakan proses desain Design Thinking dari Hasso Plattner. Konsep Transit Oriented Development (TOD) dalam desain kali ini sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan-permasalahan akses yang ada dalam Stasiun Madiun dengan desain interior sebagai media pendukungnya. Pendekatan ini akan mendukung pengintegrasian antar moda transportasi publik dengan area bisnis, retail dan tempat tinggal. Penerapan gaya desain Art Deco pada perancangan kali ini nantinya akan menjadi benang merah terciptanya “sense of place” dalam desain baru stasiun yang lebih dekat dengan sejarah kota Madiun
Project based learning pada materi drama musikal kelas XI di jurusan teater SMK Negeri 12 Surabaya
Penelitian menunjukan bahwa proses pembelajaran yang monoton menjadi penyebab peserta didik kurang berperan aktif dalam kegiatan belajar. Dengan penerapan model pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran umum dapat meningkatkan keefektifan dalam proses pembelajaran dan dapat digunakan penerapannya pada pembelajaran seni salah satunya pembelajaran seni teater. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran materi drama musikal kelas XI di Jurusan Teater SMK Negeri 12 Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, jenis penelitian deskriptif dengan penganalisisaan, perencanaan serta pelaksanaan yang diperoleh dari penemuan selama dilapangan yang berhubungan dengan topik yang diteliti yaitu objek penelitian Project Based Learning pada Materi Drama Musikal Zero kelas XI di Jurusan Teater dan subjek penelitian guru dan siswa. Pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian perihal proses pembelajaran dengan menerapkan model Project Based Learning (PjBL) berhasil untuk meningkatkan keaktifan siswa. Siswa lebih mampu memahami tentang materi drama musikal dengan praktek langsung. Cara mengajar guru jadi tidak membosankan karena guru langsung masuk untuk mengevaluasi proses latihan siswa disetiap pertemuan. Hasil proyek yang dihasilkan berbentuk pertunjukan drama musikal Zero karya Putu Wijaya yang memiliki garis besar tentang peduli lingkungan. Proses pembelajaran dilaksanakan 7 kali pertemuan dengan penerapan modul sebagai pedoman yang di dalamnya menggunakan sintak PjBL pada setiap pertemuan
Pengaruh penggunaan drum pad kit terhadap teknik pukulan pada drum akustik bagi drumer reguler/wedding
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena dominasi drum elektrik jenis drum pad kit oleh para drumer reguler/wedding. Drum pad kit menawarkan berbagai keunggulan dibandingkan drum akustik, seperti volume yang dapat diatur, ukuran yang lebih kecil dan ringan, mudah dibawa, dan variasi suara yang dapat disesuaikan. Penggunaan drum pad kit dalam jangka panjang dapat memberikan dampak negatif bagi drumer saat beralih ke drum akustik. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mngetahui pengaruh penggunaan drum pad kit terhadap teknik dan kontrol dinamika seorang drumer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik yang digunakan adalah observasi, wawancara dengan para drumer dan dokumentasi dengan mengambil foto para drumer yang menggunakan drum pad kit saat mereka tampil. Penelitian menunjukkan bahwa drumer yang menggunakan drum pad kit memiliki teknik pukulan dan kontrol dinamika yang berbeda dengan drumer yang menggunakan drum akustik. Penggunaan drum pad kit yang berlebihan dapat menyebabkan teknik pukulan yang tidak benar dan kurang dinamis dan kontrol dinamika yang salah
Tata kelola Balai Budaya Minomartani dalam upaya pelestarian budaya
Balai Budaya Minomartani yang selanjutnya disingkat BBM, merupakan balai budaya di Yogyakarta yang didirikan pada tahun 1990 dan masih aktif berkesenian hingga saat ini. BBM menaungi dua perkumpulan yaitu perkumpulan Balai Budaya Minomartani dan Perkumpulan Radio Komunitas BBM. BBM memiliki tujuan untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian jawa khususnya di Yogyakarta. BBM menjadi tempat untuk melakukan berbagai kegiatan seperti latihan rutin, dialog dengan praktisi seni, serta pergelaran wayang, karawitan dan tari. Budaya Minomartani merupakan organisasi nonprofit dimana seluruh anggota yang tergabung tidak mendapatkan keuntungan berupa meteri untuk kepentingan pribadi. Hal ini memicu keresahan dari para anggota perkumpulan berkaitan dengan keberlanjutan pengurus dari BBM sebagai upaya untuk pelestarian budaya. Selain itu konsep pengelolaan yang diterapkan BBM yang tetap dapat menghadirkan para pelaku seni untuk terlibat dalam setiap pergelaran meskipun dengan segala keterbatasan juga merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Teknik analisis data dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil dari penelitian ini adalah adanya pola manajemen sumber daya manusia semi formal yang diterapkan di Balai Budaya Minomartani. Selanjutnya dalam upaya pelestarian budaya penulis menguraikan pola transmisi budaya dan pewarisan budaya
Implementasi teori belajar behavioristik pada pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara di SMP Negeri 14 Yogyakarta
Penelitian dengan judul “Implementasi Teori Belajar Behavioristik pada Pembelajaran Ekstrakurikuler di SMP Negeri 14 Yogyakarta” dilatarbelakangi oleh daya tarik pembelajaran ini sehingga diminati oleh peserta didik, banyak menyumbang prestasi untuk sekolah, dan aktif mengisi paduan suara dalam kegiatan-kegiatan sekolah seperti pentas seni dan upacara bendera. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran ekstrakurikuler paduan suara di SMP Negeri 14 Yogyakarta khususnya kaitannya dengan implementasi teori belajar behavioristik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya data yang diperoleh kemudian dianalisis dan disusun dalam bentuk deskripsi. Triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu triangulasi sumber dan teknik. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini melalui tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran ekstrakurikuler di SMP Negeri 14 Yogyakarta telah menerapkan pendekatan pembelajaran sesuai dengan teori belajar behavioristik yaitu adanya stimulus dan respon antara guru dan peserta didik. Stimulus yang diberikan yaitu persiapan, latihan, reward dan punishment, dan evaluasi serta penilaian. Pembelajaran dengan penerapan prinsip teori belajar behavioristik terlaksana dengan baik. Peserta didik mampu menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa sesuai dengan notasi dan teknik yang tepat. Guru memberikan penilaian sebagai bentuk pengukuran capaian kemampuan peserta didik yang dapat diamati sebagai suatu bentuk perubahan
Peran tari bebai nyuncun pahakh dalam upacara perkawinan Adat Nayuh di masyarakat Suku Saibatin Kabupaten Tanggamus Lampung
Tari Bebai Nyuncun Pahakh merupakan tari yang berangkat dari salah satu tradisi masyarakat suku Saibatin yaitu tradisi Nyuncun Pahakh.Tradisi tersebut berkembang di beberapa wilayah pesisir Lampung yang menganut suku adat Saibatin salah satunya Kabupaten Tanggamus. Saibatin merupakan suku adat yang kaya dan kental dengan adat istiadatnya, sebagai contoh upacara Pernikahan Adat Nayuh Saibatin, upacara perkawinan yang dianggap sakral karena harus melalui beberapa tahap. Upacara puncak Nayuh kini menghadirkan tari Bebai Nyuncun Pahakh sebagai salah satu bagian dari rangkaian upacara Nayuh. Hal tersebut, menimbulkan permasalahan mengenai apa peran tari tersebut sehingga menjadi bagian dari rangkaian upacara Nayuh. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi-budaya milik Raymond Williams yang terdiri atas tiga komponen pokok antara lain, institutions, content, dan effect. Institutions adalah lembaga budaya atau penghasil produk budaya dan juga sebagai kontrol budaya. Kedua content atau isi budaya diartikan sebagai produk budaya yang dihasilkan dan nilai nilai apa yang diupayakan di dalamnya, dan yang ketiga, effect atau efek budaya diartikan sebagai konsekuensi yang diharapkan dari hadirnya budaya tersebut. Tiga komponen tersebut akan membantu menjawab permasalahan mengenai apa peran Tari Bebai Nyuncun Pahakh dalam upacara perkawinan Nayuh. Hasil Penelitian mengenai peran Tari Bebai Nyuncun Pahakh dalam upacara Nayuh dengan berlandaskan teori sosiologi-budaya milik Raymond Williams menunjukan bahwa, Institutions dalam penelitian ini yaitu masyarakat Saibatin dan pemerintah Kabupaten Tanggamus. Content atau nilai apa yang diupayakan dalam penelitian ini, yaitu nilai Tangible yang dapat dilihat secara bentuk fisik dan nilai Intangible berupa norma-norma budaya. Kemudian effect, konsekuensi apa yang diharapkan dari proses budaya tersebut, hasil mengenai peran Tari Bebai Nyuncun Pahakh dalam upacara Nayuh yaitu sebagai penyambutan tamu dan penghubung tradisi Nyuncun Pahakh menuju Pangan Balak. Selain peran di dalam upacara Nayuh, Tari Bebai Nyuncun Pahakh juga memiliki peran di lingkungan masyarakat Saibatin yaitu sebagai simbol inklusi dan bentuk aktualisasi diri pada masyarakat Saibatin khusunya di Kabupaten Tanggamus Lampung
Penerapan metode Drill pada pembelajaran ekstrakurikuler orkestra bagi siswa di Sekolah Menengah Atas Stella Duce 2 Yogyakarta
Stero Orchestra merupakan kegiatan eksrtakurikuler orkestra yang terdapat di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode drill. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai ekstrakurikuler orkestra. Melalui penelitian ini diharapkan sekolah umum lainnya dapat memiliki kegiatan bermusik seperti yang sudah dilakukan di sekolah ini sehingga talenta bermusik siswa dapat tersalurkan. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Terdapat tiga jenis studi kasus dalam buku Robert Yin yaitu ekploratori, eksplanatori dan deskriptif. Penelitian ini menggunakan studi kasus deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan cara kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan ekstrakurikulker orkestra yang terdapat di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta belum sesuai dengan orkestra sebenarnya. Namun kegiatan yang terdapat di sekolah ini dapat disebut ansambel campuran Metode yang digunakan untuk pembelajaran kegiatan ini sudah sudah tepat. Metode drill merupakan metode yang baik untuk pembelajaran yang membutuhkan keterampilan. Kegiatan ini dapat menjadi identitas SMA Stella Duce 2 Yogyakarta yang diunggulkan dalam bidang non akademik karena sekolah ini merupakan sekolah umum yang mengawali adanya kegiatan ekstrkurikuler orkestra dan juga aktif dalam berbagai kegiatan sehingga hal ini memiliki daya tarik dan menjadi ciri khas tersendiri bagi sekolah
“Strings Of Desire” : eksplorasi timbre orkestrasi homogen dan penerapannya dalam komposisi musik ansambel gitar klasik
Keterbatasan jenis instrumen dalam orkestrasi homogen merupakan tantangan bagi komposer dalam pemanfaatan variasi timbre yang terbatas. Berbeda dengan orkestrasi heterogen yang menawarkan berbagai jenis timbre yang dapat dengan mudah dieksploitasi dengan kombinasi instrumen yang berbeda. “Strings of Desire” merupakan komposisi instrumen homogen dalam format ansambel gitar klasik yang mencoba menjawab tantangan tersebut. Variasi timbre pada sebuah orkestrasi tidak hanya diciptakan oleh perbedaan jenis instrumen saja, namun dapat dipengaruhi dipengaruhi oleh sound quality. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai fitur gitar klasik sebagai variasi karakter timbre musikal. Kedua, mengetahui cara aplikasi fitur tersebut pada ansambel gitar dalam memunculkan efek orkestra. Efek orkestra merupakan efek perseptual pendengaran yang muncul akibat berbagai macam pengolahan pola suara yang terintegrasi atau tersegregasi secara persepsi. Komposisi musik “Strings of Desire” merupakan hasil eksplorasi orkestrasi timbre yang diciptakan melalui berbagai rangkaian proses, antara lain, penentuan ide, observasi, penentuan judul, eksplorasi musikal, dan perancangan konsep sketsa dasar. Penulis pada akhirnya dapat mengaplikasikan ide-ide musikal dengan berbagai pertimbangan prinsip efek orkestra yang sejajar dengan orkestrasi heterogen dengan proses tersebut. Fitur spesifik gitar yang diterapkan dalam karya “Strings of Desire”antara lain harmonik natural, open strings, tremolo, attack qualities, tingkat sinkronitas, perkusi bodi gitar, kemudian variasi petikan dan dinamik. Masing-masing fitur ini memiliki karakter timbre musikalnya tersendiri yang dimanfaatkan untuk memunculkan efek orkestra. Hal ini membuka berbagai macam potensi baru orkestrasi yang tidak dapat dicapai kombinasi instrumen lain selain ansambel gitar klasik
Bentuk Penyajian Beksan Ajisaka Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 pada Uyon-Uyon Hadiluhung 1 Februari 2021 di KD Bangsal Manis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Beksan Ajisaka merupakan salah satu tarian Keraton Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 yang terilhami dari Serat Ajisaka. Serat tersebut merupakan pemaknaan dari Aksara Jawa yang berisi ajaran luhur kehidupan manusia di dunia, yakni tindakan hubungan antar sesama manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan. Penciptaan Beksan Ajisaka mengalami proses intermedialitas berawal dari Serat Ajisaka yang kemudian menjadi sebuah wujud sajian karya tari. Pijakan garap Beksan Ajisaka adalah tari klasik gaya Yogyakarta, yang dikembangkan dari konsep beksan sekawanan (4 orang), namun dibawakan dua pasang sehingga menjadi delapan orang sebagai Wadya. Ditambah dengan dua orang penari sebagai tokoh Ajisaka sehingga keseluruhannya berjumlah sepuluh orang. Sepuluh orang penari Beksan Ajisaka merepresentasikan tahta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10. Fokus dari penelitian ini adalah penyajian Beksan Ajisaka Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 yang dilihat secara bentuk sajian dan maknanya. Objek material Beksan Ajisaka disajikan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung tanggal 1 Februari 2021 bertempat di Kagungan Dalem Bangsal Manis Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdurasi kurang lebih 50 menit. Penyajian Beksan Ajisaka ini merupakan sajian yang paling utuh dan lengkap sebelum dikurangi durasi pertunjukan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tekstual untuk menganalisis bentuk penyajian dan makna yang terkandung dalam Beksan Ajisaka. Beksan Ajisaka merupakan sajian tari dengan konsep bedhayan dengan mengadaptasi beberapa esensi konsep tari bedhaya 9 gaya Yogyakarta dengan pengembangan visual dan makna yang berbeda. Dalam sajian Beksan Ajisaka mengemas pengembangan dari bentuk tradisi gaya Yogyakarta yang sudah ada seperti pada gerak tari, pola lantai, iringan, busana, dan bentuk sajiannya. Bentuk gerak tari, pola lantai, iringan dan busana merupakan pesan simbolik Sultan yang akan disampaikan melalui bentuk penyajian Beksan Ajisaka. Kata kunci : Bentuk penyajian, Beksan Ajisaka, tekstua
Aktivitas seni tradisi Banyuwangi selama pandemi dalam penciptaan seni grafis
Aktivitas kesenian tradisi Banyuwangi selama pandemi Covid-19 dalam penciptaan karya seni grafis bertujuan sebagai media dokumentasi, betapa pentingnya kesenian tradisional bagi masyarakat Banyuwangi terutama pelaku seni tradisi agar tetap bertahan dan hidup. Walaupun adanya halangan yang mengganggu, mereka akan tetap semangat, gigih, dan sepenuh hati menampilkan yang terbaik. Hal itu menjadi ide sebuah wujud ekspresi diri penulis tentang sebuah kegiatan seni tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tetap dijalankan oleh masyarakat dan tidak dapat diubah karena bersifat kemasyarakatan. Lahir di masyarakat, tumbuh di masyarakat, dan semua merasa memiliki serta semangat untuk tetap melestarikan. Aktivitas seni tradisi Banyuwangi menarik untuk dijadikan karya seni grafis, karena kaya dengan nilai-nilai tradisi dan budaya khas serta nilai artistik yang tinggi. Karya akan dibuat menggunakan media papan MDF dengan teknik cetak tinggi woodcut print