49728 research outputs found
Sort by
Andhe
Andhe merupakan karya tari yang bersumber dari kisah perjalanan asmara Retna Cindhaga dengan Raden Panji Asmarabangun yang merupakan salah satu lakon pada Babad Panji. Ketika seorang perempuan tidak lagi menjadi inferior akan tetapi sudah bersikap superior. Ambisinya untuk mencapai tujuan, perempuan menyingkirkan semua penghalang, perjuangan perempuan terlihat emosional dan terdapat ambivalensi, disatu sisi perempuan ditempatan sebagai pekerja keras namun tidak memikirkan efek samping dari perbuatannya. Karya tari ini berpijak pada Tari Topeng Klasik Gaya Yogyakarta seperti Ogek Lambung, Dolanan Sampur, dan Pacak Gulu Topeng yang telah dikembangkan sesuai kebutuhan dan daya kreatif penata tari. Menggunakan metode penciptaan Eksplorasi, Improvisasi, Komposisi, dan Evaluasi. Karya tari ini dengan pola koreografi kelompok dengan tipe dramatic dengan konsep Bedhayan, tanpa adanya keluar masuk penari. Tema yang digunakan adalah percintaan dengan bentuk cara ungkap dibagi menjadi introduksi penggambaran adegan inti perubahan Retna Cindhaga menjadi Dewi Sekartaji, bagian 1 penggambaran dari perjalanan Retna Cindhaga yang bersifat emosional, gigih dan ambisius dalam menyesatkan Dewi Sekartaji, bagian 2 sebagai penggambaran gandrung Retna Cindhaga terhadap Raden Panji Asmarabangun. Bagian 3 adalah penggambaran Retna Cindhaga yang berhasil memasuki kerajaan untuk menikah menggantikan Dewi Sekartaji, bagian 4 sebagai penggambaran Retna Cindhaga ketahuan dan terjadilah pertempuran oleh Retna Cindhaga dengan Dewi Sekartaji, dan ending Retna Cindhaga mengalami kekalahan, namun sifat emosional dan ambisiusnya tidak membuat Retna Cindhaga menyerah untuk mendapatkan cinta dari Raden Panji Asmarabangun
Perancangan Pop-Up Permainan Tradisional Bali sebagai Media Pendamping Pembelajaran seni Budaya pada Anak
Perancangan ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan generasi muda terhadap warisan budaya dalam bentuk permainan tradisional daerah. Permasalahan tersebut terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya ialah perkembangan teknologi yang semakin canggih, perubahan gaya hidup, dan keterlibatan orang tua yang tidak mengajarkan permainan tradisional kepada anaknya. Di sisi lain, kurangnya pendidikan di sekolah mengenai permainan tradisional juga menjadi faktor utama dalam hilangnya pengetahuan terhadap warisan budaya ini
Ilustrasi lewah pikir melalui fotografi konseptual
Karya fotografi ini mengangkat tema lewah pikir, yaitu kondisi seseorang yang terjebak dalam siklus berpikir berlebihan tanpa solusi yang jelas. Tujuan karya ini adalah menggambarkan perasaan cemas, bingung, dan terjebak akibat berpikir berlebihan. Fotografi konseptual dipilih karena dapat menyampaikan cerita melalui visual. Model dalam foto berfungsi untuk menggambarkan seseorang dengan lewah pikir melalui teknik framing yang digunakan untuk menciptakan batasan visual, yang memberikan perasaan terperangkap, dan ekspresi wajah dan tubuh yang mencerminkan kondisi lewah pikir atau berpikir berlebihan. Properti tambahan yaitu cermin, benang merah, kertas berhamburan, meja dan lainnya untuk memperkuat visual. Warna biru pada framing melambangkan kecemasan, sementara pencahayaan yang redup menciptakan suasana ketidakpastian. Metode yang digunakan adalah observasi, di mana pengkarya mengamati pengalaman pribadi dan situasi relevan. Hasil karya ini memberikan wawasan baru tentang penggunaan fotografi untuk menggambarkan kondisi lewah pikir atau berpikir berlebihan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, serta membuka refleksi tentang pikiran berlebihan dan perasaan kebingungan
Ayam jangan mati di lumbung padi: Sebuah refleksi kepustakawanan lasa
Ayam Jangan Mati di Lumbung Padi.Buku biografi tokoh kepustakawanan ini diangkat Kembali dari hasil penelitian Aha yang berjudul “Pustakawan Bukan Jalan Hidup Tapi Menghidupi:Sebuah refeksi Kepustakawanan Lasa Hs."Buku ini dihadirkan di ruang baca Anda untuk mencoba mengangkat kisah Lasa dalam perjalanan hidupnya sebagai pustakawan senior di Jogja dan telah purna tugas mengabdi sebagai ASN dan pangkat terakhir adalah pustakawan utama golongan IVe di di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Sebagai buku yang mengangkat isu kepustakawanan, biografi tokoh ini relatif jarang ditulis dan tokoh yang 'langka' seperti ini menarik sebagai role model bagi siapapun yang menaruh kepedulian pada isu-isu kepustakawanan. Tak ubahnya sebuah anomali, di perpustakaan yang diam dan sepi, sejatinya terjadi keriuhan dalam pikiran, ide dan gagasan untuk sebuah kemajuan. Konsep perpustakaan yang hidup seperti ini bukan hanya dipahami oleh seorang Lasa Hs, namun telah diresapi dan diejawantahkan olehnya melalui denyut-denyut kehidupannya dalam keseharian. Lasa Hs adalah satu dari sedikit orang yang memaknai perpustakaan bukan sebagai museum, namun sebagai lumbung kehidu pan. Karena itulah, orang yang masuk dalam perpustakaan, ibarat masuk dalam lumbung kehidupan itu sendiri, Sehingga ketika seorang masuk di dalamnya, dia akan mendapatkan energi untuk bekembang menjadi manusia seutuhny
Lungit
Lungit merupakan karya tari yang bersumber dari pengalaman empiris tentang perjalanan dalam berkesenian tepatnya pada kesenian rakyat Reog Wayang. Kesenian Reog Wayang menjadi daya tarik untuk di jadikan sebagai bahan proses kreatif dalam terciptanya karya Lungit ini. Motif gerak yang muncul dalam karya tari ini karena dengan adanya memori - memori tubuh serta dengan adanya nilai - nilai yang ada pada kesenian rakyat Reog Wayang yang di interpretasikan dengan bentuk - bentuk yang berbeda sebagai contoh adalah konsep tandingan menjadi nilai utama pada kesenian rakyat Reog Wayang tetapi pada karya ini muncul gagasan baru yang tentunya berhubungan dengan keseimbangan. Karya tari ini disajikan dalam bentuk koreografi tunggal yang di pentaskan dengan konsep outdoor yaitu di area persawahan. Peesawaahan dijadikan tempat yang tepat untuk membawakan karya Lungit dikarenakan sawah sendiri merupakan ruang dimana sangat membutuhkan adanya nilai - nilai keseimbangan yang tidak jauh dari konsep pada karya tari Lungit ini. Musik tari yang di gunakan adalah musik MIDI yang di dalamnya terdapat suara instrumen kerakyatan seperti ; bende, bedug, kecer dan di lengkapi dengan tembang Jawa macapa
Estetika tari burung enggang khas Suku Kenyah di Kalimantan Timur
Tulisan ini mengupas “Estetika Tari Burung Enggang Khas Suku Dayak Kenyah Di Kalimantan Timur” Tari Burung Enggang adalah tarian yang diciptakan untuk memuja nenek moyang yang berasal dari langit dan turun menyerupai Burung Enggang. Fungsi dari tari Burung Enggang awalnya sebagai tarian upacara dan tarian sakral, tetapi sekarang tari Burung Enggang sebagai tarian hiburan. Tari dan semua aspek pendukung yang telah diteliti, bertujuan untuk mengetahui estetika dalam tari Burung Enggang suku Dayak Kenyah yang ada di Kalimantan Timur. Untuk memecahkan permasalahan, penelitian ini menggunakan landasan pemikiran A. A. M. Djelantik, dengan pendekatan estetika dan analisis deskriptif analisis. Teori ini mengupas tentang kehidupan dan estetika dalam suku Dayak Kenyah dan tari Burung Enggang. Hasil yang didapat berasal dari sumber yang telah dicari dengan baik tanpa melebih-lebihkan dan juga mengurangi informasi. Penjelasan estetika menurut A. A. M. Djelantik berhubungan satu sama lain, bahwa dalam tarian pasti terdapat estetika didalamnya. Penelitian ini menggunakan konsep Djelantik yang menyebutkan ada tiga faktor munculnya estetika, wujud atau rupa, bobot atau isi, dan penampilan atau penyajian. Dari tiga faktor tersebut saling melengkapi satu sama lain sehingga terciptanya sebuah tarian yang memiliki estetika. Faktor tersebut juga membentuk satu tarian yang nantinya akan memunculkan estetika atau keindahan baik dari segi gerakan, busana tari, properti yang digunakan, dan alat musik untuk mengiringi tari Burung Enggang. Estetika yang terdapat di dalam tari Burung Enggang yaitu gerak tarian yang sederhana tapi masih bisa dinikmati, busana tari yang khas dengan manik-manik, motif, dan warna yang terdapat di busananya, penggunaan properti kirip menambah keindahan dari tari Burung Enggang, dan iringan musik untuk memunculkan suasana gembira
Perancangan perhiasan bergaya neoklasik dengan tema ornamen Yogykarata
Seiring berkembangnya waktu, tren dan minat masyarakat terhadap perhiasan semakin berkembang. Pada masa sekarang, beberapa masyarakat sudah jarang mengenal ornamen tradisional serta perhiasan klasik yang menerapkan corak ornamen menjadi tidak lagi mendapat perhatian yang besar dari masyarakat.Masyarakat saat ini lebih suka kepada desain perhiasan yang modern, yang menyesuaikan dengan perkembangan masa. Perancangan perhiasan ini bertujuan mengenalkan perhiasan dengan ornamen tradisional Yogyakarta yang ditampilkan dengan gaya Neoklasik untuk menarik minat masyarakat. Gaya desain Neoklasik mengedepankan detail, tampilan elegan, mewah dan lebih identik dengan adanya ornamen. Dengan gaya Neoklasik, gaya yang klasik dapat diubah menjadi gaya lebih elegan agar terlihat lebih modern sesuai dengan pilihan desain yang digemari masyarakat saat ini. Perancangan ini bertujuan membantu pengguna untuk dapat melengkapi dan mempercantik penampilan dalam kegiatan sehari-hari maupun untuk menghadiri berbagai acara. Selain itu, agar membuat pengguna lebih mengenal corak ornamen tradisional Yogyakarta serta menjaga eksistensi corak ornamen tradisional Yogyakarta untuk generasi yang akan datan
“Waltz In My Melody”: Studi Kasus Perubahan Sukat 4/4 Menjadi Bentuk Waltz 3/4 pada Lagu Greatest Love of All –Whitney Houston
Pada zaman ini penari professional waltz menggunakan music pop yang telah diaransemen kedalam sukat 3/4 sebagai iringan untuk tarian waltz. Penulis terkejut saat mendengar lagu pop yang memiliki karakteristik waltz digunakan sebagai iringan tari pada suatu kompetisi international. Hal ini membuat penulis bertanya bagaimana mengolah suatu musik menjadi musik waltz dan aspekaspek apa yang menjadi pertimbangan dalam perubahan ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis akan menganalisis transformasi lagu "Greatest Love Of All" oleh Whitney Houston dari sukat 4/4 menjadi 3/4 yang digunakan dalam kompetisi tari waltz seperti WDSF PD (World Dance Sport Federation) World Championship 2021. Menggunakan teori pembuatan melodi dan harmoni modern Gordon Delamont, menganalisis penempatan aksen dan chord progressi dengan teori musik dasar Stefan Kotska dan Dorothy Payne dan menganalisis struktur dalam musik tersebut menggunakan teori leon stein, aspek yang menjadi pemeran utama dapat ditemukan
Foto Dokumenter Eksistensi Delman Wisata di Kawasan Monumen Nasional
Skripsi tugas akhir penciptaan seni fotografi dengan judul “Foto Dokumenter Eksistensi Delman Wisata di Kawasan Monumen Nasional” merupakan penciptaan karya seni fotografi yang bertujuan untuk memvisualisasikan eksistensi delman sebagai kendaraan wisata di Kawasan Monumen Nasional(Monas), Jakarta. Penciptaan karya seni foto dokumenter menggunakan metode pendekatan dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara, dan studi literatur. Observasi langsung dilakukan terhadap keadaan delman wisata di kawasan Monas, mengamati aktivitas kusir dan kuda-kuda delman, serta interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Tujuan penciptaan karya foto dokumenter ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada khalayak dengan menyoroti secara estetika visual eksistensi delman wisata di Kawasan Monas. Karya-karya ini memperlihatkan aktivitas kusir delman menghadapi tantangan mereka dalam menjalankan usaha delman di tengah arus transportasi modern, dan menghadapi kebijakan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait dengan pengoperasian delman di Kawasan Monas. Penciptaan karya ini menghasilkan deskripsi visual yang menggambarkan kehidupan dan peran penting delman dalam konteks eksistensi. Peran kusir dalam menjaga kesejahteraan kuda dan beradaptasi dengan perubahan zaman menunjukkan bagaimana delman dapat hidup berdampingan dengan perkembangan kota Jakarta. Dengan memahami dan menghargai keberadaan delman, karya foto dokumenter ini mendukung keberlanjutan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Kawasan Monas. Penciptaan ini menghasilkan 22 karya dengan foto-foto yang mencerminkan eksistensi delman wisata di Kawasan Monas. Setiap foto bercerita tentang aktivitas dan interaksi antara kusir delman, wisatawan, dan lingkungan sekitar, serta detail-detail lain yang dimiliki oleh delman di Kawasan Monas
Perancangan Interior Fasilitas Penunjang Gelanggang Olahraga Persatuan Bulu Tangkis Universitas Diponegoro Semarang
Popularitas bulu tangkis di Indonesia telah meningkat sejak tahun 1960an, sehingga menyebabkan peningkatan jumlah atlet professional. Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, proyek GOR Persatuan Bulu Tangkis Universitas Diponegoro Semarang bertujuan membangun GOR dan sekolah atlet bulu tangkis. Projek pembangunan gedung olahraga sekaligus sekolah atlet ini didasari oleh permasalahan jumlah atlet bulu tangkis telah mencapai 11.155 atlet berada di Jawa Tengah khususnya di kota Semarang, namun masih kurangnya gedung olahraga bulu tangkis yang memadai bagi atlet. Sehingga dibutuhkan gedung olahraga yang dapat memfasilitasi atlet bulu tangkis di kota Semarang dan sekitarnya. Dengan menggunakan metode User Centered Design (UCD), proyek ini berfokus pada kebutuhan para atlet, menggabungkan konsep Futuristic Sporty untuk memotivasi atlet. Perancangan gedung olahraga ini bertujuan untuk memberikan lingkungan yang menginspirasi bagi para atlet untuk berlatih dan meraih kesuksesan di tingkat nasional dan internasional di masa yang akan datang. Abstract Badminton's popularity in Indonesia has increased since the 1960s, leading to an increase in the number of professional athletes. To support this growth, Diponegoro University Badminton Association Semarang Sports Arena project aims to build a Sports Arena badminton athletes school. The project is based on the problem of the number of badminton athletes reaching 11,155 athletes in Central Java, especially in the city of Semarang, but there is still a lack of adequate badminton sports halls for athletes. So a sports hall is needed that can accommodate and facilitate badminton athletes in the city of Semarang and its surroundings. Using the User Centered Design (UCD) method, this project focuses on the needs of athletes, incorporating the concept of Futuristic Sporty to motivate athletes. The design of this sports hall aims to provide an inspiring environment for athletes to train and achieve success at the national and international levels in the future