49728 research outputs found
Sort by
Analisis bentuk dan makna lirik lagu “Kekuatan serta Penghiburan” karya Caroline Sandell Berg
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk lagu “Kekuatan serta Penghiburan” dan juga mengetahui makna lirik lagu Kekuatan serta Penghiburan. Adapun makna dari lirik lagu “Kekuatan serta Penghiburan” yang sangat mendalam dan disertai makna konotasi dan denotasi yang mana kedua makna ini dilakukan dengan pemaknaan syair secara semiotika yaitu berdasarkan table dan menentukan penanda dan pertanda lalu syair/lirik lagu tersebut dianalisis maknanya. Metode penelitian yang digunakan sebagai riset data dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berdasarkan studi pustaka,dan studi lapangan melalui observasi, dokumentasi, wawancara, analisis data, serta interpretasi data. Berdasarkan hasil penelitian berupa analisis bentuk lagu diperoleh bentuk lagu “Kekuatan serta Penghiburan” merupakan bentuk lagu three part song form yang artinya bentuk lagu tiga bagian, dan adapun hasil analisis makna lirik lagu “Kekuatan serta Penghiburan” dapat diperoleh bahwa lagu ini di peruntukkan untuk menghibur orang yang sedang berduka dan lirik lagu ini mengajak umat-Nya untuk percaya akan ada sukacita setelah dukacita itu berlalu
Gamelan gambang dalam ritual Mapurwadaksina pada Upacara Maligia Lajur di Puri Bukit Bangli Bali
Salah satu fenomena menarik yang terjadi dalam pelaksanaan upacara maligia lajur terutama dalam ritual mapurwadaksina adalah digunakannya gamelan gambang dalam prosesi ritual tersebut. Gamelan gambang merupakan barungan gamelan yang hanya hadir dalam mengiringi pada upacara pitra yadnya salah satunya dalam upacara maligia lajur. Gamelan gambang merupakan salah satu gamelan Bali yang tergolong langka, dilihat dari ciri-cirinya yang tidak terdapat instrumen kendang dalam barungannya. Banyak masyarakat di Bali masih belum memahami akan makna kehadiran gamelan gambang dalam ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur. Padahal pemahaman akan makna sangat penting untuk diketahui, jika ingin persembahan yang dilakukan menjadi lebih religius. Dari pengalaman empiris peneliti, melihat fenomena penyajian gamelan gambang dalam upacara maligia lajur disajikan ditempat yang tersembunyi di bawah bangunan yang berisikan tapakan puspa lingga. Hal ini menjadi ketertarikan peneliti untuk membahas lebih mendalam. Penelitian ini memfokuskan pada penyajian gamelan gambang dan makna musikal gamelan gambang serta keterlibatan gamelan gambang dalam ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit, Bangli, Bali. Terdapat teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori dari Marco De Marinis mengenai bentuk penyajian untuk menganalisis secara tekstual dan teori dari Charles Sanders Peierce mengenai semiotika untuk menganalisa makna musikal gamelan gambang. Penilitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yaitu metode penelitian yang didasari dari pengalaman pada diri individual. Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini yaitu wawancara, studi lapangan (observasi dan dokumentasi), dan studi Pustaka. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini, bentuk penyajian gamelan gambang meliputi pelaku, busana, tata panggung, musik, dan sarana upacara. Makna musikal gamelan gambang ketika mengiringi ritual mapurwadaksina pada upacara maligia lajur di Puri Bukit Bangli diantaranya ritual mapurwadaksina dalam upacara maligia lajur adalah sebagai objek, sedangkan gending gambang yang dimainkan oleh penabuh gamelan gambang sebagai tanda representament dan masyarakat Puri Bukit sebagai interpretan
Tinjauan musikologis pembuatan musik latar video pembelajaran "bola" karya Daud Nugraha berdasarkan perspektif komposer
Terdapat video edukasi storybased untuk anak yang beredar di internet yang perlu untuk dikembangkan agar menjadi lebih menarik, salah satunya dari aspek musik. Penlitian ini mengungkap proses perancangan musik latar dalam memperbaiki kualitas video edukasi storybased untuk anak. Jenis penelitian ini adalah Practice Based Research yang dilaksanakan dengan pendekatan teori musik film dan design thinking, serta menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah proses kreatif pembuatan musik latar pada video “Short Film Desa Timun: Bola” yang merupakan salah satu koleksi kanal Desa Timun yang terbaik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa musik latar “Short Film Desa Timun: Bola” merupakan hasil dari perancangan musik dengan pendekatan design thinking karena meliputi proses empathize, define, ideate, prorotype, dan test
Siku-siku
Karya tari Siku-siku merupakan bentuk refleksi diri dari satu perjalanan kehidupan pengkarya. Terinspirasi dari pengalaman pribadi pengkarya yang mengalami kegelisahandalam tatanan pembangunan suatu rumah di Bali. Hal ini berawal dari adanya bangunan rumah pengkarya yang berada di kota dan desa yang memiliki perbedaan Asta Kosala Kosali. Selain itu, adanya penolakan dari Mangku (orang suci) pada saat mengupacarai rumah pengkarya yang berada di kota menimbulkan pertanyaan dalam diri pengkarya. Proses penciptaan karya tari Siku-siku mengacu pada metode yang dijelaskan oleh Hawkins, yang meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, evaluasi. Karya tari Siku-siku menggunakan pengembangan motif gerak tari Bali serta dipadukan dengan bentuk sikut dalam tatanan Asta Kosala Kosali, sehingga muncul motif gerak sikut dalam karya ini. Motif gerak sikut pengkarya pilih sebagai gerak inti dikarenakan dalam motif gerak tersebut meliputi bentuk pengukuran rumahyang ada di dalam tatanan Asta Kosala Kosali. Iringan musik sebagai penguat suasana dalam karya ini yaitu menggunakan gamelan Jawa seperti bonang, suling, saron, demung, selentem, ketuk, dan gong. Pemilihan gamelan Jawa berdasarkan konsep Desa Kala Patra dan tatanan Asta Kosala Kosali. Pada proses pencarian jawaban mengenai kegelisahan pengkarya yang dialami, pengkarya mendapatkan satu jawaban pasti yaitu Desa Kala Patra dalam pembangunan rumah di Bali. Konsep Desa Kala Patra menjadi titik terang dari proses perjalanan penciptaan karya tari Siku-siku, selain itu karya tari ini menjadi media ungkap untuk menyampaikan keluh kesah dalam proses mencari jawaban
Pembelajaran tari Angguk Putri dengan metode resitasi dance script pada kelas remaja di Sanggar Seni Sripanglaras Kulon Progo
Sanggar Seni Sripanglaras adalah sanggar yang terdapat di Desa Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo. Tari yang diajarkan oleh Sanggar Seni Sripanglaras adalah tarian khas dari Kabupaten Kulon Progo yaitu Tari Angguk. Dinamakan Tari Angguk karena setiap gerakan mengawali dan menutup selalu melakukan hormat dan mengAnggukkan kepala. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan metode resitasi dance script pada tari Angguk Angsang pada kelas remaja di Sanggar Seni Sripanglaras. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Teknik validasi yang digunakan triangulasi. Triangulasi sumber dalam penelitian ini dengan cara mengecek sumber data dari pengurus sanggar, guru sanggar, peserta didik, dan orang tua wali. Data di anlisis Milis and Hubermen. Perolehan data yang, diolah dan dianalisis. Hasil penelitian tentang penerapan metode resitasi dance script merupakan metode baru yang diterapkan oleh Sanggar Seni Sripanglaras. Pada waktu penerapan metode tersebut banyak peserta didik meningkat kulitas dari segi hafalan, bentuk, teknik gerak, dan tempo. Pencapaian hasil penilai pada peserta didik yang pretest memilki rata-rata 7,3 pada penerapan siklus pertama menjadi 7,7, dan pada siklus kedua menjadi 8,5
Hubungan Rezim Jender Dengan Preferensi Intrument Musik Pada Orkes Simponi
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjawab hipotesis adanya hubungan antara rezim jender dengan preferensi instrumen musik. Hal tersebut berdasarkan pada fenomena sosial pemain musik perempuan dalam kelompok orkes simfoni dan adanya ketimpangan proporsi jender. Meskipun pimpinan orkes telah melakukan upaya memperluas partisipasi perempuan melalui audisi namun anggota orkes yang ada hingga saat ini masih didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut dapat diduga adanya rezim jender atau sistem sosial dan budaya yang mengatur peran, harapan, hak dan norma jenis kelamin seseorang dalam masyarakat. Melalui pandangan Connell tentang gender order, dikatakan bahwa struktur relasi jender dalam masyarakat menghasilkan adanya rezim jender dalam lingkup kelompok, sehingga memberikan konfirmasi terhadap permasalahan yang dihadapi. Menurutnya, tubuh adalah objek praktik sosial sekaligus agen dalam praktik sosial maka, laki-laki dan perempuan pada saat yang bersamaan mencakup kedua hal tersebut. Pada dasarnya rezim jender adalah institusi dan juga tatanan jender suatu masyarakat yang terkait dengan relasi jender. Sehingga, semua hal yang diatur dan ditata disini, baik dalam institusi maupun masyarakat secara keseluruhan itu adalah cara orang berelasi satu sama lain. Metode penelitian yang digunakan adalah mix-method dengan mengukur dominasi rezim jender dalam proporsi musisi orkes simfoni di Jakarta melalui survei dan studi kasus untuk menjelaskan konteks sosial serta budaya yang memengaruhi preferensi instrumen musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi instrumen musik dipengaruhi oleh struktur relasi jender yang ada dalam keluarga, pengalaman lingkungan sekolah, praktik sosial dalam masyarakat dan budaya yang erat dengan tatanan jender. Dominasi musisi laki-laki dalam orkes simfoni mencapai 74,4% dari N=133 yang mencerminkan relasi kekuasaan dalam produksi, konsumsi dan akumulasi yang ter-jenderkan secara berangsur. Hasil statistik menunjukkan terdapat hubungan antara Rezim Jender dengan Preferensi Instrumen Musik, dengan menunjukan nilai signifikansi pada p = 0,000 < 0,05. Selain itu, stereotip jender yang tak disadari dengan asumsi laki-laki lebih memiliki stamina dan keberanian bereksplorasi, hal ini memengaruhi persepsi terhadap kemampuan perempuan dalam memainkan instrumen musik. Pembatas peran perempuan dalam bermusik juga terkait dengan adanya arena reproduktif seperti menikah dan mengurus anak sehingga perempuan tersubordinasi oleh laki-laki. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi signifikan antara rezim jender dengan preferensi instrumen musik dalam orkes simfoni Jakarta
Penciptaan tokoh aku dalam naskah Malam-Malam Putih yang ditulis ulang dari novelet The White Nights karya Fyodor Dostoevsky
Penciptaan tokoh Aku dalam naskah Malam-malam Putih yang ditulis ulang dari Novelet seorang sastrawan Rusia bernama Fyodor Dostoevsky dengan judul White Nights, menjadi pilihan dalam penciptaan tugas akhir ini karena menjadi tantangan bagi pemeran dalam mengolah pikiran dari psikoanalisa tokoh Aku yang memiliki psikologi yang menarik untuk di ciptakan diatas panggung. Pergolakan batin yang dialami tokoh aku dan bagaimana itu mempengaruhi cara pandangnya terhadap realitas menjadi motif bagi penulis untuk menjadikannya sebagai objek penelitian sekaligus praktik penciptaan tokoh dalam Tugas Akhir pemeranan di Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Pertunjukan akan menghadirkan pertemuan antara tokoh aku dan Nastenka hingga mereka berpisah satu sama lain. Proses pemeran dalam menciptakan tokoh Aku memiliki cara-cara sendiri yang ditemukan oleh pemeran selama menjadi tokoh Aku. Dalam memerankan tokoh Aku, pemeran menggunakan teori psikoanalisa Sigmund Freud sebagai pisau bedah psikologi tokoh dan The System dari Stanislavsky sebagai metode dalam menciptakan karakter tokoh Aku. Hasil dari proses pemeranan tokoh Aku, pemeran dapat menyampaikan karkter tokoh melalui permainan yang detail dan kecil. Dari pikiran dan laku tokoh serta tata panggung yang dapat di nikmati penonton
Penciptaan skenario film Luce terinspirasi dari dampak konflik orang tua terhadap kondisi mental anak
Skenario film Luce merupakan skenario yang terinspirasi dari dampak konflik orang tua terhadap kondisi mental anak, dengan genre drama. Film dipilih sebagai media untuk menyampaikan bagaimana konflik orang tua mempengaruhi kondisi mental anak karena film memiliki kemampuan unik untuk berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus pendidikan. Film memiliki dampak yang signifikan terhadap penontonnya, baik secara psikologis maupun sosial, sehingga memerlukan skenario yang kuat untuk menciptakan visual yang efektif dan mendalam. Proses pembuatan skenario Luce melibatkan perencanaan plot yang cermat menggunakan struktur tiga babak, yang memungkinkan pengembangan cerita yang logis dan emosional. Persoalan konflik orang tua dan dampaknya terhadap anak dianalisis secara mendalam dengan menggunakan teori psikoanalisis untuk mengungkap sejauh mana peran orang tua mempengaruhi kondisi mental anak. Analisis ini memberikan landasan teori yang kuat dan mendukung pengembangan karakter dan alur dalam skenario film ini. Tema konflik orang tua dipilih karena relevansinya yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menggambarkan dampak negatif yang muncul terhadap kondisi mental anak. Dengan mengangkat isu tersebut, film ini bertujuan untuk memberikan informasi penting kepada penonton mengenai bagaimana konflik orang tua dapat mempengaruhi kesehatan mental anak, serta mengedukasi penonton mengenai pentingnya menjaga keharmonisan dalam keluarga
Eksperimentasi Penggunaan Bahan Kayu Mangga Sebagai Inovasi Alternatif Pengganti kayu Maple Dalam Pembuatan violin
Penerapan gaya musik yang modern dengan penempatan format musik band berkolaborasi dengan brass section yang dilakukan oleh HKBP Yogyakarta dianggap sesuatu yang tidak biasa. Maka perlu mendapat perhatian, mengingat realita yang umumnya terjadi di gereja-gereja HKBP lainnya tidak sama dengan hal tersebut. Sehingga menimbulkan rasa keingintahuan penulis untuk mengungkapnya dalam penelitian ini, dengan maksud untuk mengkaji peran serta kontribusi brass section dalam mendukung musik pengiring Ibadah Minggu di HKBP Yogyakarta, serta untuk mengkaji faktor yang melatarbelakangi penempatan format musik tersebut dalam Ibadah Minggu sesi sore di HKBP Yogyakarta. Untuk memperoleh temuan, peneliti menganut metode penelitian kualitatif deskriptif dari Cresswel dengan pendekatan studi kasus. Terlebih dahulu peneliti menentukan batasan penelitian, lalu melakukan pengumpulan data melalui tahap studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Data-data tersebut diyakinkan melalui teknik triangulasi. Kemudian hasil temuan dianalisis untuk membangun penjelasan baru tentang fenomena yang diteliti. Kredibilitas temuan diverifikasi melalui triangulasi, dengan membandingkan temuan yang didapat dari pengumpulan berbasis studi kasus dari dari hasil kajian yang sudah dilakukan. Penelitian ini membuahkan hasil temuan, bahwa: (1) brass section berperan sebagai filler melody untuk melengkapi melodi, harmoni, ritme, energi, dinamika, dan warna musik dalam tim. Mereka juga berkontribusi dalam membangun tema lagu, membantu jemaat dalam bernyanyi dengan fungsinya untuk memperjelas melodi utama lagu, serta memberikan suasana peribadatan yang berbeda dari yang biasanya. (2) Penempatan format musik ini pada Ibadah Minggu sesi sore dilatarbelakangi oleh beberapa faktor yang memungkinkan atau mengharuskan HKBP Yogyakarta melakukannya, yakni: ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni, bentuk adaptasi HKBP Yogyakarta terhadap realita demografi atau situasi yang ada, otoritas pimpinan dalam menentukan kebijakan khusus, dan hal ini dilakukan tidak lain tidak bukan dipengaruhi oleh sejarah budaya gereja HKBP yang sejak dahulunya telah mengikutsertakan alat musik tiup brass sebagai alat musik pengiring nyanyian jemaat sebagai bagian dari liturgi
"Count Me In, Count Me Out" komposisi musik progressive rock berdasarkan konsep metric modulation
“Count Me In, Count Me Out” merupakan sebuah karya musik progressive rock berdasarkan konsep metric modulation. Karya ini merupakan karya musik yang berbentuk musik absolut. Penulis mengkomposisikan karya ini dengan munculnya keinginan untuk membuat sebuah karya yang memunculkan unsur ritme yang kompleks. Salah satu konsep yang dapat dipakai untuk memunculkan unsur ritme yang kompleks pada suatu karya merupakan konsep metric modulation. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui cara memunculkan kompleksitas ritmis dalam menerapkan metric modulation, serta mengetahui apa saja strategi untuk memunculkan polyrhythm menggunakan metric modulation dalam karya progressive rock pada karya “Count Me In, Count Me Out”. Penulis juga menerapkan jenis-jenis pengklasifikasian metric modulation sebagai bentuk orisinalitas karya. Penulis melakukan proses dalam penciptaan karya ini dengan melakukan penentuan ide penciptaan, penentuan judul karya, observasi, eksplorasi, penentuan instrumen, pembuatan konsep karya, penggarapan detil karya, penggunaan DAW (Digital Audio Workstation), serta penulisan notasi. Eksplorasi dilakukan penulis dengan penggabungan dua jenis metric modulation sehingga membentuk suatu hybrid metric modulation dengan menerapkan penggabungan dari Pulse Modulation dan Duration Modulation. Penulis menyimpulkan bahwa untuk memunculkan kompleksitas ritmis pada metric modulation dilakukan penerapan pengelompokkan meter. Perlakuan khusus pada pengelompokkan meter dilakukan berdasarkan kompleksitas ritme yang diinginkan. Penulis menyimpulkan bahwa dalam menerapkan metric modulation dalam suatu bagian karya perlu adanya pemahaman terhadap detak. Detak merupakan ketukan dalam sukat yang dihadirkan, dimana detak dapat dipersepsikan dengan berbeda oleh setiap pendengar berkaitan dengan unsur ritmis yang dihadirkan. Ketika detak dari satuan meter pertama dipertemukan dengan satuan meter kedua, maka dapat memunculkan polyrhythm ketika detak tersebut dibunyikan pada suatu bagian dari karya musik. Metric modulation menantang persepsi pendengar terhadap detak yang diolah pada suatu transisi. Dalam membuat karya ini, penulis menyadari bahwa diperlukan kemampuan untuk mengetahui penempatan metric modulation pada bagian yang tepat serta memiliki kemampuan untuk memahami detak yang terjadi pada suatu bagian. Melalui karya ini, penulis berharap pendengar memiliki ketertarikan untuk membuat karya dengan pendekatan ritmis yang kompleks