Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

opac.isi.ac.id
Not a member yet
    49728 research outputs found

    Makna Tari Lima Serangkai di Kabupaten Karo Sumatera Utara dalam Perspektif Semiotika

    No full text
    Penelitian ini menganalisis makna tari Lima Serangkai di Kabupaten Karo Sumatera Utara. Tari Lima Serangkai merupakan tari yang bersifat hiburan yang bertemakan pergaulan dan biasanya ditampilkan pada acara Gendang Guro-guro Aron. Tari ini menceritakan pertemuan ramah tamah sepasang insan muda-mudi dan ertutur (berkenalan) antara satu dengan yang lainnya, hingga mereka menjalin hubungan dan menuju perkawinan. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiologi oleh Roland Barthes yang menawarkan metode untuk memperdalam pemahaman terhadap bahasa, sastra, dan masyarakat. Nilai penting semiologi terletak pada fungsionalitasnya karena semiologi memungkinkan untuk membongkar mitos-mitos dengan menganalisis proses pemaknaan yang digunakan untuk mengubah konflik budaya yang bersfiat historis ke dalam suatu budaya yang bersifat universal. Analisis makna Tari Lima Serangkai akan difokuskan pada makna denotatif dan makna konotatif. Secara denotatif, makna Tari Lima Serangkai adalah tari kelompok yang biasanya ditarikan oleh 10 orang penari yang terdiri dari 5 orang penari laki-laki dan 5 orang penari perempuan, dengan diiringi musik yang disebut Gendang Lima Sedalanen terdiri dari lima gendang yaitu, gendang morah-morah, gendang perakut, gendang patam-patam sereng, gendang sipajok, dan gendang kabangkiung, yang menghasilkan komposisi pola gerak tari yang memiliki nilai-nilai estetis. Gendang lima sendalanen, juga artinya seperangkat gendang yang terdiri dari lima unsur atau lima instrumen, yaitu gendang singindungi, sinanaki, gong, penganak, dan sarunai. Secara konotatif, tari Lima Serangkai mengandung konsepsi nilai utama kehidupan masyarakat Karo yang lahir dari lima marga awal pada masyarakat Karo, yaitu Karo, Ginting, Sembiring, Perangin-angin, dan Tarigan. Tari Lima Serangkai menceritakan sifat manusia hubungan dengan individu maupun hubungan dengan kehidupan sosial masyarakat Karo

    Analisis perbandingan pengalaman emosi anak terhadap gerak aktivitas musikal di TK Hanacaraka Edukids Montessori School Yogyakarta

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman emosi anak-anak dalam aktivitas musik disertai gerak di kelas Sadewa B dan C TK Hanacaraka Edukids Montessori School Yogyakarta secara mendalam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas Sadewa B dan C dengan jumlah siswa 31 orang dengan rentang umur yang berbeda. Sadewa B 5-7 tahun dan Sadewa C 4-5 tahun dan penelitian ini juga melakukan wawancara dengan murid, wali kelas dan kepala sekolah. Data dikumpulkan melalui observasi pastisipatif, wawancara, literatur-literatur dan penelitian terkait, dan rekaman video. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan musik dan gerak umumnya memberikan pengalaman emosional yang positif pada anak-anak, walaupun terdapat variasi dalam ekspresi emosional individu. Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain perbedaan tahap perkembangan kognitif dan emosional pada kedua kelompok kelas yang berbeda, kemampuan bahasa yang berbeda, pengalaman sosial yang berbeda, dan faktor kepribadian individu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana aktivitas musikal yang disertai gerakan dapat mempengaruhi pengalaman emosional pada anak-anak khususnya anak TK di TK Hanacaraka Edukids Montessori School, mencari tahu perbedaan pengalaman emosional anak-anak di kelas Sadewa B dan C terhadap aktivitas gerak menggunakan musik di TK Hanacaraka. Edukids Montessori School, dan memahami faktor-faktor apa yang mempengaruhi perbedaan pengalaman emosi pada kelas Sadewa B dan Sadewa C di TK. Sekolah Montessori Hanacaraka Edukids. Penelitian ini menghubungkan hasil penelitian dengan teori Self Determination (SDT) dan Golden Age Theory, menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan psikologis dasar anak-anak melalui kegiatan musikal dan gerak untuk mendukung perkembangan emosional dan sosial mereka.Kegiatan musikal dan gerak terbukti efektif dalam meningkatkan kecerdasan emosional dan kesejahteraan. anak-anak, yang penting bagi perkembangan holistik mereka di masa depan. Penelitian ini juga mengedepankan pemikiran bahwa aktivitas musikal yang disertai gerak dapat memberikan dampak pada pengalaman emosi anak yang nantinya dapat mempengaruhi banyak aspek di masa dewasa atau kemudian hari

    Akulturasi suku Mandar di Pulau Bali dalam karya seni rupa

    No full text
    Penelitian ini membahas akulturasi budaya Suku Mandar di Bali, khususnya di Kampung Mandar Sumberkima. Masyarakat Mandar di Bali berinteraksi harmonis dengan masyarakat Hindu Bali, menunjukkan toleransi yang kuat. Mereka memiliki dua cerita asal-usul kedatangan mereka di Bali. Mereka merasa terpisah dari keluarga mereka di Sulawesi, dan ide ini menjadi inspirasi penulis untuk membuat karya seni grafis yang mencerminkan akulturasi dan identitas mereka di Bali. Penulis memilih teknik grafis untuk mencerminkan eksistensi suku Mandar yang sering terlupakan, mirip dengan sejauh mana seni grafis belum mendapatkan perhatian yang layak dalam dunia seni. Dengan menciptakan karya yang tidak terikat oleh aturan konvensional, penulis mengekspresikan ide toleransi yang dihasilkan oleh suku Mandar di Bali. Rumusan penciptaan ini didasarkan pada: Bagaimana mentransformasikan fenomena yang terjadi pada Akulturasi Suku Mandar di Pulau Bali menjadi sebuah karya? Seperti apa memvisualisasikan akulturasi Suku Mandar di Pulau Bali?, Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode David Champbell yang terdiri dari lima langkah yaitu: 1. Persiapan, 2. Konsentrasi, 3. Inkubasi, 4. Iluminasi, 5. Produksi penulis menyadari bahwa dalam penciptaan karya sangat berkaitan erat dengan pengalaman yang dirasakaan dan dilihat penulis ketika tinggal di Bali, pengalaman pribadi masyarakat Mandar serta dari buku yang membahas suku Mandar dan Bali. Penulis merangkul dan menikmati perbedaan toleransi yang ada dalam masyarakat Mandar di Bali sebagai inspirasi dalam karyanya

    Dinamika ruang tri mandala dalam interoretasi angkep-angkepan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan model angkep-angkepan sebagai fenomena harmoni dalam karawitan. Penciptaan angkep-angkepan ini dilatar belakangi dari pengalaman psikologis yang mampu merasakan harmoni ketika berada pada ruang-ruang tri mandala, sebaliknya mendapatkan kekerasan simbolik selama menjadi seorang komposer. Kekerasan simbolik terjadi karena komposisi yang tercipta sebelumnya tidak mampu menunjukan adanya kompleksitas harmoni, kreatif, dan inovatif. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh kelemahan sistem angkep-angkepan dimensi dua gamelan Bali, sebuah sistem yang tidak dapat menghadirkan sensasi keharmonisan secara multidimensional (dimensi tiga). Oleh sebab itu, perlu dilakukan deteritorialisasi dari tri mandala ke dalam interpretasi angkep-angkepan. Proses interpretasi ini menggunakan pendekatan Deluzian tentang deteritorialisasi, reteritorialisasi, smooth space, dan striated space sebagai alat analisa untuk mentrasformasi tri mandala menjadi angkep-angkepan gamelan Bali. Oleh sebab itu, research led practise, practise led research dijadikan metode penelitian untuk menghasilkan konsep/sistem angkep-angkepan dan produk berupa komposisi karawitan. Metode ini bersifat bolak-balik, artinya sebelum praktik, terlebih dahulu dilakukan penelitian, kemudian dilanjutkan praktik, setelahnya dilakukan sebuah penelitian kembali terhadap hasil praktik yang telah dilakukan. Penciptaan angkep-angkepan berupa sistem dan komposisi baru karawitan ini menghasilkan tiga temuan yang sekaligus menjadi jawaban dari pertanyaan penelitian, yaitu: (1) konsekuensi teknis dari penciptaan sistem angkep-angkepan dimensi tiga tri mandala terhadap sistem laras dan teknik permainan gamelan Bali adalah terbentuknya tangga nada baru berupa laras gamelan yang bukan pelog dan bukan pula slendro; tiga pitch yang disebut dengan pengumbang-penyelah-pengisep sebagai unsur pembentuk angkep-angkepan; teknik baru yaitu polos, penyelah, dan sangsih sebagai salah satu formulasi dari sistem tersebu; (2) Bagaimana model realisasi penciptaan angkep-angkepan dimensi tiga tri mandala dalam relasinya terhadap kebaruan estetika gamelan Bali adalah melalui penciptaan ragam pola musikal yang berlandasakan pada dimensi tiga melahirkan estetika baru yang berbasis pada pola tiga; (3) mengapa tri mandala menjadi landasan pada pengembangan sistem angkep-angkepan karena dimensi tiga yang menjadi keberagaman konsepsi dasar tri mandala adalah sebuah spirit/kekuatan untuk membangun harmoni dalam kasus gamelan Bali, yang mana dimensi ini melebihi dari dimensi-dimensi lainnya

    Analisis Koreografi Tari Bang-Bang Wetan Karya Agustinus Heri Sugianto

    No full text
    Tari Bang-Bang Wetan merupakan salah satu tari gagah Jawa Timuran ciptaan Agustinus Heri Sugianto yang berangkat dari Tari Remo. Seperti Tari Remo pada umumnya, tarian ini menghadirkan gerak-gerak yang tegas, patah-patah, rancak, dan dinamis yang dikreasikan sedemikian rupa dengan inovasi yang baru dan kompleks. Kompleksitas yang disuguhkan menyongsong tema kepahlawanan yang terkandung di dalamnya dan membuat tarian ini populer, sehingga akan dijelaskan lebih dalam bagaimana bentuk-bentuk dan cara yang tepat untuk menarikan Tari Bang-Bang Wetan. Penelitian ini menggunakan landasan pemikiran Y. Sumandiyo Hadi melalui pendekatan koreografis karena dapat membantu menganalisis bentuk gerak, teknik atau cara pelaksanaan, dan isi yang terkandung dalam Tari Bang-Bang Wetan. Koreografi sebagai bentuk dapat dilihat berdasarkan struktur luarnya melalui keutuhan, variasi, repetisi, transisi, rangkaian, dan klimaks. Koreografi sebagai teknik dipahami sebagai suatu cara mengerjakan seluruh proses, sementara koreografi sebagai isi artinya melihat bentuk atau sosok tarian dari struktur luar dan dalamnya. Ketiga konsep tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan membentuk sebuah integral dalam bentuk keseluruhan sebuah tarian. Hasil analisis koreografi Tari Bang-Bang Wetan menunjukkan bahwa tari ini berdurasi 6 (enam) menit 30 (tiga puluh) detik dengan motif gerak dasar gejug, seblak, tolehan, laku, dan ukel yang banyak mengalami variasi dan pengembangan. Variasi tersebut terlihat dari banyaknya motif gerak yang dihadirkan. Gerak dari keseluruhan Tari Bang-Bang Wetan cenderung menggunakan volume gerak yang luas, tenaga yang kuat, serta tempo yang cepat dan ritme yang ajeg

    "The Journey" Sebuah Komposisi Musik Program Berdasarkan Representasi Makna Happiness dengan Menggunakan Majas Metafora

    No full text
    “The Journey” merupakan sebuah komposisi musik program yang merupakan hasil representasi dari makna happiness dengan memanfaatkan majas metafora. Tingkat kebahagiaan seseorang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap emosi dan suasana hati seseorang. Disisi lain, musik merupakan salah satu media seseorang untuk mengekspresikan emosinya. Relevansi antara musik dan tingkat kebahagiaan seseorang sangat erat. Permasalahan yang sering terjadi pada musik program ada pada proses transformasi dari aspek ekstramusikal menjadi intramusikal. Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini untuk merepresentasikan teori emosi positif ke dalam komposisi musik dengan menggunakan majas metafora dan mengetahui aspek musikal yang digunakan dalam merepresentasikan makna happiness. Proses yang dilakukan dalam penciptaan karya ini, antara lain: perumusan ide penciptaan, penentuan judul, konsep, perancangan, observasi, penentuan instrumen, pembuatan sketsa dasar, dan penulisan karya ke dalam notasi melalui aplikasi komputer. Observasi yang dilakukan memperoleh hasil informasi tentang makna happiness secara umum, serta beberapa kajian karya yang sesuai dengan representasi makna happiness yang kemudian dituangkan ke dalam sebuah komposisi dengan menggunakan majas metafora. Penulis menyimpulkan bahwa dalam merepresentasikan makna happiness ke dalam komposisi musik “The Journey” dapat dilakukan dengan cara pemilihan tonalitas, nilai not, penggunaan ritme, pemilihan melodi, dan teknik yang digunakan. Selain itu cara pengaplikasian majas metafora ke dalam komposisi musik “The Journey” tidak hanya dilakukan pada pemilihan not dan ritme serta tonalitas, namun penggambaran tersebut dapat ditinjau dari dinamika, tempo, pemilihan karakter dan pengembangan komposisi yang dibuat sehingga konsep dari penciptaan komposisi tersebut dapat tersampaikan secara jelas dan tepa

    Perancangan Interior Museum Wayang Kekayon

    No full text
    Wayang merupakan sebuah kesenian asli Indonesia yang di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur. Untuk menjaga kelestariannya diperlukan suatu sarana yang dapat memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat luas terlebih generasi muda masa kini. Sehingga dibutuhkan sebuah museum dengan inovasi pengalaman meruang yang baru untuk meninggalkan kesan ‘membosankan’ pada museum. Hal ini dapat dicapai salah satunya melalui pendekatan konsep desain interaktif yang memungkinkan pengunjung dapat berinteraksi secara langsung dengan benda koleksi sehingga informasi yang akan disampaikan museum dapat dengan mudah dimengerti pengunjung serta memunculkan kesan ‘fun museum’. Metode yang akan digunakan dalam perancangan ini ialah proses desain dari Rosemary Kilmer. Mengangkat konsep ‘Sangkan Paraning Dumadi’ sebagai dasar storyline museum menciptakan alur museum yang terstruktur dan runtut sehingga memberikan pemahaman kepada pengunjung mengenai proses perkembangan wayang. Penambahan unsur modern pada interior museum membuat museum tidak terlihat ketinggalan perkembangan zaman, namun tetap menjaga nilai-nilai Jawa melalui konsep dan detail elemen estetis yang diterapkan agar ciri khas tradisional Jawa dari museum tidak luntur

    Interpretasi Visual Novel "Demian" Karya Herman Hesse ke dalam Seni Grafis

    No full text
    Novel “Demian” merupakan novel klasik tahun 1919, namun eksplorasi topik pencarian jati diri dan pertanyaan filosofis khas anak muda tentang kehidupan yang diangkat dalam novel pasti akan tetap relevan dalam kehidupan manusia di berbagai zaman. Pada masa kini, pertanyaan-pertanyaan tentang identitas, tujuan hidup, dan makna eksistensi masih memegang arti penting. Walaupun konteks permasalahan yang dihadapi mungkin berbeda-beda, namun topik pencarian jati diri itu kekal terjadi utamanya untuk anak muda. Proses pencarian jati diri adalah salah satu hal yang paling dekat dengan diri manusia dan dapat dieksplorasi menjadi karya-karya seni grafis. Penggunaan teknik cetak saring dalam pembuatan karya akan memunculkan visual warna yang beragam. Setiap karya memiliki simbolnya masing-masing namun secara tidak berurutan masih memiliki hubungan antara satu karya dengan karya yang lain sebagai hubungan sebab akibat dalam proses pencarian jati diri

    Perancangan Interior Perpustakaan Umum Kabupaten Garut Dengan Penerapan Konsep Hybrid Library

    No full text
    Perpustakaan Umum Kabupaten Garut merupakan pusat kegiatan literasi masyarakat Garut terutama untuk siswa sekolah dan perguruan tinggi yang tersebar di sekitaran zonasi perpustakaan. Perancangan perpustakaan ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca khususnya Generasi Z dan Alpha sebagai upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Mengangkat konsep Hybrid Library dengan tema “ The shape of Garut” dan gaya desain Post-modern yang dengan pendekatan Human-Centered Design dalam menentukan program ruang dan karakter pengguna. Metode desain pada perancangan ini menggunakan metode yang dikemukakan oleh Rosemary Kilmer, yang berkaitan dengan metode pengumpulan data dan permasalahan, tahapanya antara lain commit, state, collect, analyze. Lalu tahap pengembangkan ide desain sebagai jawaban permasalahan desain, tahapanya antara lain, ideate, choose, implement. Kemudian tahapan terakhir adalah evaluasi, untuk peninjauan kembali hasil desain. Hasil perancangan menunjukan bahwa perancangan perpustakaan dengan konsep hybrid library menghasilkan ruang yang interaktif antara pengguna ruang dan perpustakaan itu sendiri melalui media fisik dan digital. Serta perwujudan perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat untuk kegiatan membaca dan penyimpanan buku fisik tapi juga sebagai wadah untuk kegiatan literasi digital seperti pengolahan informasi digital, penguasaan teknologi, pengembangkan minat dan bakat serta ekspresi diri. Selain itu kegiatan diskusi literasi dapat terjadi secara lintas media melalui fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan selayaknya generasi z dan alpha berinteraksi dengan internet dan media sosial. Manfaat yang diharapkan dari perancangan ini adalah dapat menjadi sebuah ide dan gagasan bagi mahasiswa dan pekerja di bidang desain interior serta menjadi pembahasan untuk pemecahan masalah serupa kedepanya

    Perancangan Interactive Touch Wall Sebagai Media Pengenalan Langkah Mitigasi Perubahan Iklim Pada Remaja

    No full text
    Pengetahuan dan pemahaman masyarakat di Indonesia terhadap bencana yang dapat ditimbulkan karena perubahan iklim masih rendah, sementara pengenalan terhadap langkah mitigasi perubahan iklim dapat menjadi langkah awal yang penting. Untuk mengatasi kekurangan ini, tujuan penulis yakni menjembatani kesenjangan pengetahuan dengan merancang media pengenalan menggunakan interactive touch wall. Metode analisis 5W+1H digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan perancangan. Hasil akhir dari perancangan ini adalah sebuah interactive touch wall. Sebagai produk utama yang dapat diakses kapanpun dan di manapun, sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran remaja terhadap pentingnya langkah mitigasi perubahan iklim pada remaja. Inisiatif ini mengakui kebutuhan mendesak akan peningkatan kesadaran dan pemahaman yang luas terkait langkah mitigasi perubahan iklim di masyarakat Indonesia. Penggunaan metode analisis 5W+1H memastikan eksplorasi yang komprehensif terhadap kebutuhan perancangan, memfasilitasi pendekatan yang nuansa dan efektif dalam mengatasi kesenjangan pengetahuan yang diidentifikasi

    0

    full texts

    49,728

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    opac.isi.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇