Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

opac.isi.ac.id
Not a member yet
    49728 research outputs found

    Fenomena kesenjangan sosial pada kasus covid-19 sebagai Iispirasi penciptaan naskah drama “Tolong”

    No full text
    Naskah drama berjudul “Tolong” terinspirasi dari fenomena kesenjangan sosial yang terjadi selama pandemi COVID-19. Kekhawatiran yang muncul serta artikel-artikel yang membahas ketidakadilan sosial selama pandemi memotivasi penciptaan karya fiksi ini, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk naskah drama. Penciptaan ini mengangkat isu ketidakadilan sosial yang semakin menonjolkan jurang antara kelas sosial. Teori konflik kelas Karl Marx sebagai kerangka konseptual untuk memahami dinamika kekuasaan dan ketidaksetaraan dalam masyarakat, serta teori Lajos Egri untuk mengembangkan narasi yang kuat dan menarik. Dalam naskah drama "Tolong", konflik kelas dieksplorasi secara mendalam. Konflik yang dialami oleh karakter utama menggambarkan perjuangan mencari keadilan antar kelas. Metode penciptaan yang digunakan adalah metode Graham Wallas, yang terdiri dari langkah-langkah untuk menyempurnakan naskah drama. Naskah ini menggambarkan perjuangan tokoh Darma untuk melawan ketidakadilan yang dialaminya selama pandemi. Kisah ini diharapkan dapat menjadi media refleksi dan edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya kesetaraan dan keadilan sosial, serta dapat meningkatkan kesadaran sosial dan mendorong perubahan positif di tengah masyarakat

    Pengembangan media pembelajaran teknik tremolo dalam pendidikan musik melalui aransemen lagu “Ibu Pertiwi”

    No full text
    Setiap gitaris klasik yang ingin mengembangkan kompetensinya dalam permainan gitar klasik dituntut tekun dan mampu dalam menguasai berbagai teknik, termasuk teknik tremolo yang membutuhkan dedikasi latihan yang tinggi. Diketahui bahwa sebagian besar etude yang tersedia saat ini memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga kurang relevan untuk pembelajaran tremolo pada tahap awal, sehingga penting adanya model atau media pembelajaran yang komprehensif untuk menunjang gitaris mempelajari teknik tremolo. Penelitian ini menggunakan model pengembangan RnD Borg dan Gall, dimulai dengan analisis aspek-aspek yang mendasari struktur media pembelajaran yang tepat dan analisis lagu "Ibu Pertiwi". Tahap selanjutnya adalah pengkaryaan media pembelajaran, diikuti oleh validasi untuk menguji kelayakannya. Hasil penelitian berupa analisis aspek-aspek pengembangan media pembelajaran serta media pembelajaran berupa latihan awal teknik tremolo dan partitur hasil aransemen lagu “Ibu Pertiwi” telah sesuai dengan tujuan membantu gitaris pemula, dan tervalidasi oleh pakar, sehingga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi gitaris yang ingin menguasai teknik tremolo gitar klasik

    Eksplorasi estetika perancangan Dog Centre HydePark Surabaya: pendekatan lifestyle

    No full text
    Seiring dengan pertumbuhan masyarakat yang memelihara anjing, maka semakin banyak juga fasilitas dan tempat untuk mengakomodasikan kebutuhan hewan peliharaan dan pemilik dalam satu tempat. Namun, fasilitas yang tersedia dinilai belum memenuhi kebutuhan hewan dan pemilik dari segi kelayakan. Selain itu, fasilitas yang terpisah-pisah juga menjadi masalah signifikan. Sering kali pemilik harus berpindah-pindah tempat untuk memenuhi berbagai kebutuhan hewan peliharaan mereka. Ditambah lagi dengan banyaknya fasilitas belum dilengkapi dengan teknologi yang memadai sehingga proses perawatan dan kebersihan tidak optimal. Oleh karena itu, Hydepark hadir sebagai Dog Center dengan menyediakan fasilitas yang cukup lengkap dalam satu tempat dengan desain yang tidak hanya ergonomis dan fungsional bagi anjing peliharaan melainkan untuk pemiliknya juga. Melalui perancangan kali ini, area yang di desain meliputi Lobby, Retail, Pet salon, dog restaurant & cafe, VIP room dan juga toilet. Perancangan HydePark menggunakan metode desain Rosemary Kilmer dengan mengusung konsep “Form Follow Fun” yang diimplementasikan melalui bentuk layout, furniture, warna, dan material yang digunakan sehingga dapat memberikan kesan yang joyful dan fun sesuai dengan citra HydePark itu sendiri. HydePark diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bagi para pemilik anjing dan berdampak baik bagi para pengunjung. Baik dari segi kenyamanan, keamanan dan fungsionalitas. Dengan demikian, HydePark dapat memberikan pengalaman yang lengkap dan memuaskan bagi hewan, pemilik serta komunitas pecinta anjing dan dapat memperkuat citra sebagai tempat berkualitas yang mewadahi semua kebutuhan

    Fungsi Tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor Kecamatan Kalibagor Kabupaten Banyumas

    No full text
    Karya tulis ini mendeskripsikan secara sistematis dan faktual dari fungsi tari Gunungsari Kalibagoran di masyarakat Desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Tari Gunungsari Kalibagoran adalah tari tradisional tunggal putri gaya banyumasan. Tari tersebut sampai sekarang masih eksis di masyarakat Kalibagor, Banyumas. Hal ini menunjukan bahwa tari tersebut fungsional, karena apabila tidak memiliki fungsi maka elemen kebudayaan tersebut akan hilang. Permasalahan fungsi tari dalam masyarakat menarik untuk dikaji karena seni tari sebagai kesenian rakyat merupakan salah satu aktivitas budaya. Penelitian terkait fungsi tari ini mencakup tiga elemen atau materi pokok yakni objek tari Gunungsari Kalibagoran, masyarakat Kalibagor, dan teori fungsi. Permasalahan fungsi diselesaikan dengan teori Robert K. Merton yang menyatakan fungsi ke dalam dua kategori yaitu fungsi manifest yakni akibat atau konsekuensi positif yang tampak dan fungsi latent yakni akibat atau konsekuensi positif yang tersembunyi. Fungsi latent walaupun tersembunyi namun terus mengikuti dan suatu saat dapat muncul dan menjadi penjaga keutuhan dalam suatu masyarakat. Merton tidak menyebutkan secara spesifik fungsi tari, maka dalam penelitian ini teori fungsi Merton dibantu oleh konsep milik Kraus untuk memudahkan kategorisasi fungsi tari dan Kraus menyatakan fungsi tari ke dalam sepuluh kelompok. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa fungsi manifest dalam tari Gunungsari Kalibagoran ialah bentuk tari Gunungsari Kalibagoran, berfungsi sebagai hiburan, dan berfungsi sebagai pekerjaan. Fungsi latent atau fungsi yang tersembunyi dalam tari tersebut yakni fungsi konseptual ( nilai sosial, nilai historis, nilai kesuburan, dan nilai estetis ), fungsi kontinyuitas atau keberlangsungan tari, fungsi pemelihara sistem kelas sosial, serta fungsi penguat identitas bagi masyarakat Banyumas

    Pengaruh Musik terhadap Konsentrasi Belajar Siswa Kelas XII di SMAN 2 Lumajang

    No full text
    Remaja khususnya siswa kelas 12 banyak sekali mengalami distraksi belajar. Terlebih mereka sebagai generasi Z yang hidup seiring dengan berkembangnya teknologi. Penggunaan sosia media yang bebas membuat mereka mengalami penurunan belajar. Selain itu peralihan dari masa siswa menjadi mahasiswa membuat mereka mengalami tekanan dari berbagai pihak. Permasalahan yang banyak dijumpai oleh siswa khususnya kelas 12 adalah menurunnya tingkat percaya diri akan hasil belajar. Sebagian besar mengalami stres yang berkelanjutan karena perasaan akan tanggung jawab yang semakin bertambah. Pada akhirnya mereka akan berusaha untuk mencari ketenangan dengan suatu hal lain yang akan berdampak pada hasil belajar. Dari permasalahan tersebut siswa menggunakan metode musik sebagai mediauntuk meningkatkan konsentrasi belajar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa adanya Pengaruh yang signifikan antara musik terhadap kosentrasi belajar siswa. Nilai signifikansi sebesar 4,532 lebih besar dari 0,05. Nilai thitung sebesar 4,53 dan dinyatkan lebih besar daripada ttabel dengan nilai 1,99 atau (4,53 > 1,99). Dapat ditarik kesimpulan bahwa H0 ditolak yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara musik terhadap kosentrasi belajar siswa khusunya siswa kelas 12 di SMAN 2 Lumajang

    Ronjengan dalam Acara Ronjheng Rejhing di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo Jawa Timur

    No full text
    Ronjengan merupakan permainan lesung dan alat memanen dalam prosesi panen padi di Desa Krejengan. Ronjengan sempat hilang karena tergantikan dengan mesin selep, hingga diangkat kembali dan mengalami perubahan fungsi maupun bentuk permainan/pertunjukannya, yang Sekarang bisa dilihat dalam acara Rojheng Rejhing. Dengan dihadirkan Ronjengan kembali dalam acara Ronjheng Rejhing terdapat beberapa perubahan dari segi fungsi dan bentuk pertunjukannya. Pola tabuhan yang digunakan, lebih bervariatif dan terstruktur. Penelitian kualitatif ini menggunakan teori dari Rahayu Supanggah dalam bukunya Bothekan II: Garap untuk menganalisis teks, sedangkan untuk menganalisis bagian kontekstual dipakai teori perubahan sosial Alvin Boskoff. Tujuan penelitian ini menjelaskan tentang pola tabuhan, permainan Ronjengan dan perubahan yang terjadi dalam acara Ronjheng Rejhing di Desa Krejengan. Ronjengan dalam permainannya memiliki pola tabuhan yang tersusun secara terstruktur sehingga membentuk Gutta. Selain itu, terjadi perubahan fungsi Ronjengan yang dahulunya dipakai untuk prosesi panen padi, dan sekarang dipakai sebagai sarana perayaan atau acara seremonial yang diadakan oleh masyarakat Desa Krejengan

    Analisis film Tiga Dara tahun 1956 karya Usmar Ismail pandangan politiknya dan kajian unsur Male Gaze

    No full text
    Tiga Dara merupakan sebuah film tahun 1956 yang disutradarai oleh Usmar Ismail, film Tiga Dara menceritakan tentang kisah asmara tiga bersaudara perempuan, film telah dikenal sebagai media hiburan sejak jaman dahulu, film memiliki sejarah yang berpengaruh dalam kemajuan film di Indonesia. Pengaruh patriarki jaman dahulu sangat kental yang dapat menciptakan pandangan pria dalam industri film baik pengkaryaan di balik layar dan di depan layar. Penelitian ini menggunakan teori film yang di bagi menjadi dua yaitu unsur naratif dan unsur sinematik. Unsur naratif merupakan unsur yang berhubungan dengan aspek cerita dalam film yang meliputi tema, alur, konflik, latar, dan tokoh. Unsur sinematik merupakan elemen dan teknik yang digunakan untuk menciptakan pengalama audio dan visual, unsur sinematik terdiri dari mise-en-scene, setting, kostum, tata rias, pencahayaan, penggunaan lensa dan framing. Kedua unsur tersebut membentuk suatu film yang nantinya akan berpengaruh dalam perkayaan film. Teori male gaze merupakan teori yang dicetuskan oleh Laura Mulvey, male gaze muncul karena adanya pandangan mengenai sudut pandang pria dalam dunia film, tatapan pria muncul karena pengaruh patriarki yang melihat kekuasaan pria sehingga terlihat penggambaran mengenai perempuan dalam film. Film Tiga Dara menjadi contoh film yang dibuat sebagian besar pengkaryaan di depan maupun di balik layar yang di dominasi oleh pria yang akan berpengaruh dalam pandangan pria terhadap perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pandangan pria dalam film Tiga Dara

    Analisis situasi belajar vokal anak di The Sound Of Music School Yogyakarta

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebaruan yang terjadi di Lembaga Kursus Musik The Sound of Music School Yogyakarta yang baru berdiri selama 1 tahun. Fasilitas, guru, silabus, buku ajar, dan siswa yang baru menciptakan suatu adaptasi suasana belajar dengan dinamika yang unik. Penelitian ini memaparkan penerapan silabus dan materi ajar yang dibuat oleh guru pertama sekaligus supervisor lembaga kursus musik untuk diajarkan kepada siswa. Analisis terhadap situasi belajar di lembaga tersebut difokuskan pada pembelajaran vokal anak yang sementara ini paling banyak diminati. Tinjauan penyusunan silabus didasarkan pada pendekatan sintetik dan analitik yang dipaparkan oleh Wilkins dan Krahnke. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan observasi lapangan, pengumpulan data primer berupa observasi situasi belajar yang diamati langsung di kelas, wawancara mendalam kepada guru, dan pengumpulan data sekunder berupa silabus dan buku ajar. Tinjauan analisis situasi belajar didasarkan pada rekomendasi baku pedagogi vokal anak berdasarkan studi Molchanova dan Rooney baik yang sudah maupun belum diterapkan oleh guru pada saat mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan sintetik yang mengajarkan pengetahuan musik secara akumulatif sudah dilakukan oleh guru dengan dukungan materi ajar dari buku ajar berupa pengenalan notasi, vokalisasi (warm up), sight singing, aural dan pembelajaran lagu. Sementara itu pendekatan analitik dilakukan ketika siswa sudah menyelesaikan materi buku ajar dan dilatih untuk tampil pada acara khusus. Guru hanya berfokus pada bagian vokalisasi dan pembelajaran lagu. Beberapa inkonsistensi terjadi pada materi silabus seperti pengenalan notasi diarahkan untuk membuat karya musik yang tidak terdapat materinya di buku ajar dan tidak cocok diajarkan untuk siswa grade 1, kesalahan penulisan simbol-simbol notasi, dan paparan sukat lagu yang belum diajarkan pada materi pengenalan notasi. Pembelajaran secara analitik juga mendapati bahwa materi vokalisasi yang dilakukan guru belum memadai secara teori musik dan teknis olah vokal untuk membawakan lagu Karena Ku Sanggup dari Agnes Monica yang relatif sulit. Hal tersebut menjadi bahan revisi buku ajar dan penyusunan materi silabus untuk grade yang lebih tinggi yang belum disusun sampai saat penelitian ini selesai dilakukan

    Analisis Koreografi tari Topeng Tunggal karya Mak Kinang dan Kong Djiun di Sanggar Ratnasari Ciracas, Jakarta Timur

    No full text
    Tari Topeng Tunggal adalah sebuah tarian khas Betawi yang diciptakan oleh Mak Kinang dan Kong Djiun pada tahun 1930an. Sesuai dengan judulnya, Tari Topeng Tunggal ditarikan secara tunggal oleh penari perempuan. Tari Topeng Tunggal memiliki sajian koreografi yang unik dari segi properti dengan menggunakan tiga properti topeng yang berbeda. Keunikan tersebut menjadi alasan utama dipilihnya tarian ini dengan mengkaji koreografi Tari Topeng Tunggal dari aspek bentuk, teknik, dan isi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berjenis deskriptif analisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan koreografi yang berlandaskan buku karangan Y. Sumandiyo Hadi yang berjudul “Koreografi (Bentuk-Teknik-Isi)”. Pendekatan koreografi merupakan sebuah pemahaman melihat atau mengamati sebuah tarian yang dapat dilakukan dengan menganalisis konsep-konsep “isi”, “bentuk” dan “tekniknya”. Meskipun berbeda, ketiga konsep koreografi ini pada dasarnya merupakan satu kesatuan bentuk tari. Pengumpulan data yang diambil melalui metode observasi langsung yakni wawancara yang berlangsung di Sanggar Ratnasari sebagai sumber data primer dengan lampiran dokumentasinya dan studi pustaka sebagai sumber data sekunder. Hasil Penelitian ini adalah analisis terhadap koreografi Tari Topeng Tunggal yang meliputi aspek bentuk, teknik, isi, serta analisis gerak Tari Topeng Tunggal meliputi aspek tenaga, ruang, dan waktu. Hasil analisis koreografi Tari Topeng Tunggal menunjukan tarian ini secara umum terdiri dari 3 bagian yaitu Panji, Samba dan Jingga. Tari Topeng Tunggal memiliki 18 kalimat gerak dan 20 frase dengan jumlah keseluruhan motif yaitu sebanyak 117 motif. Ragam gerak pada tarian ini mengacu pada gerak dasar Betawi. Secara umum transisi gerak pada tari Topeng Tunggal sangat sederhana yang didominasi oleh motif gerak koma, sedangkan repetisi pada tarian ini selalu ada pada setiap bagian terutama bagian Samba dan Jingga. Penelitian ini juga berhasil menguraikan elemen-elemen pada koreografi Tari Topeng Tunggal seperti pola lantai, iringan tari, tata rias busana, properti, hingga pola lantai

    Analisis Icon, Simbol, Dan Indeks terhadap tokoh Semar pada pertunjukan Semar Gugat oleh teater Koma

    No full text
    Pertunjukan Semar Gugat diproduksi oleh Teater Koma karya N. Riantiarno. Tema yang diangkat dari pertunjukan Semar Gugat yakni sosial budaya politik masyarakat Indonesia. Pertunjukan Semar Gugat merupakan lakon carangan dari cerita pewayangan yang dikemas dalam bentuk teater modern. Cerita yang disajikan dalam pertunjukan teater modern tetap sama dengan cerita pewayangan, tetapi terdapat sedikit perubahan dari akhir cerita. Pada permasalahan ini dapat dirumuskan melalui menganalisis pertunjukan Semar Gugat. Metode yang digunakan di penelitian ini kualitatif deskriptif, diperlukan untuk menganalisis makna dalam tokoh Semar. Penelitian ini menggunakan tanda semiotika Charles Sanders Peirce yang ditujukan untuk mengidentifikasi tanda icon, simbol, dan indeks yang terdapat pada tokoh Semar dalam pertunjukan Semar Gugat karya N. Riantiarno. Pada analisis tokoh Semar perlu memaknai icon, simbol, dan indeks sebagai hasil analisis bahan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk memahami icon, simbol, dan indeks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Semar dalam pertunjukan Semar Gugat yaitu tokoh Semar sebagai tokoh utama dalam pertunjukan ini merupakan representasi rakyat, sebagai abdi raja yang memiliki sikap dan sifat baik rakyat terhadap pemimpinnya. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bahwa tokoh Semar dalam Semar Gugat masih membawa ciri khas yang sama dari tokoh Semar dalam cerita pewayangan

    0

    full texts

    49,728

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    opac.isi.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇