49728 research outputs found
Sort by
Bentuk Penyajian Kesenian Topeng Ireng Tri Renggo Seto di Dusun Demo, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Magelang
Penulisan tentang Bentuk Penyajian Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto di Dusun Demo, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun Magelang ini bertujuan untuk mengetahui segala aspek yang ada pada pertunjukan Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto. Kesenian Topeng Ireng merupakan kesenian rakyat yang berkembang di wilayah Kabupaten Magelang. Kesenian Topeng Ireng berasal dari Desa Tuk Songo, Borobudur. Berawal dari para santri yang menyebarkan ajaran agama Islam melalui gerak tari yaitu Kesenian Topeng Ireng. Seiring berkembangnya waktu Kesenian Topeng Ireng makin dikenal dan berkembang di berbagai wilayah Kabupaten Magelang. Salah satunya yaitu di Dusun Demo, Desa Kalibening, Kecamatan Dukun, Magelang yang memiliki satu Kesenian Topeng Ireng bernama Tri Ronggo Seto. Untuk dapat mengupas permasalahan yang ada pada penelitian ini maka digunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan koreografi untuk melihat keterkaitan pada bentuk penyajian Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto. Dalam mengamati sebuah koreografi, dipilih teori dari Y. Sumandiyo Hadi untuk melihat serta mengamati koreografi dengan menganalisis konsep “bentuk”, “teknik”, “isinya”. Terkait dengan bentuk terdapat aspek-aspek seperti gerak, pola lantai, tata iringan, tata rias, tata busana, serta tata pentas. Teknik yang ada pada Kesenian Topeng Ireng ditonjolkan pada bagian kepala, tangan, kaki, dan tubuh. Sedangkan pada isi, Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto memiliki pesan yang tersalur pada tema tari, tipe tari serta mode penyajiannya. Bentuk penyajian dari Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto dibagi menjadi tiga babak yaitu babak rodat dewasa, babak rodat anak-anak, serta babak monolan. Motif gerak pada kesenian ini berdasarkan syair lagu wajib yang dibawakan. Pola lantai pada babak rodat dewasa lebih variatif dibanding babak lainnya. Penyajian sederhana dari kesenian ini menjadi ciri khas dari Kesenian Topeng Ireng Tri Ronggo Seto karena masih menerapkan pakem-pakem yang sudah ada lebih dahul
Pembuatan Gitar Klasik Dengan Bahan Baku kayu Khas Nusantara: Suara Dan Estetika
Gitar merupakan alat musik petik yang memiliki 6 dawai dengan steman standar nada E2 pada senar 6, A2 pada senar 5, D3 pada senar 4, G3 pada senar 3, B3 pada senar 2 dan E4 pada senar 1, juga dimainkan dengan menggunakan kuku atau plectrum (pick). Secara tradisional, gitar terbuat dari berbagai jenis kayu pilihan untuk dijadikan konstruksi. Tentu tonewood yang dihasilkan tiap jenis kayu berbeda pula seperti Rosewood dan Mahoni, kedua jenis kayu ini memiliki tone yang berbeda karena beberapa faktor, diantaranya adalah massa kayu dan kerapatan serat kayu dalam merespon gelombang suara yang dikirim oleh senar. Indonesia sendiri mempunyai hutan penghasil beberapa jenis kayu tonewood yang diakui secara Internasional untuk dijadikan bahan pembuatan gitar, terlebih pada produksi gitar klasik. Penelitian ini akan membahas pembuatan gitar klasik dengan bahan dasar kayu khas Nusantara. Penelitian ini akan berfokus pada beberapa jenis kayu khas Nusantara yang diambil dari beberapa tempat yang berbeda sebagai bahan dasar pembuatan gitar klasik. Penulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan jenis-jenis kayu yang ada di Indonesia sebagai bahan pembuatan gitar klasik kepada masyarakat luas. Topik ini dipilih karena penulis menyadari bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum menyadari bahwa ada berbagai jenis kayu dari Indonesia yang ternyata adalah bahan pembuatan gitar klasik dan dipakai serta diakui secara Internasional. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan tiga teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk melengkapi penel. Hipotesis yang diperoleh adalah gitar berbahan baku kayu khas Nusantara terambil dari berbagai tempat dan dapat mengejar produksi suara dari bracing Hermann Hauser dengan ciri khas tonewood nya sendiri
Visualisasi gonggong sebagai ikon lokal kepulauan Riau melalui eksplorasi material pipa paralon
Penciptaan karya ini bertujuan untuk memvisualisasikan ikon lokal Kepulauan Riau, yaitu siput laut Gonggong, melalui patung berbahan PVC (paralon) dengan teknik bakar. Permasalahan utama yang diangkat adalah kurangnya apresiasi generasi muda terhadap identitas budaya lokal dan kesalahpahaman identitas antara Provinsi Kepulauan Riau dengan Provinsi Riau. Modernisasi yang menggerus simbol-simbol lokal turut memperburuk keadaan ini. Gonggong dipilih sebagai simbol karena perannya dalam ekosistem laut dan ikon budaya lokal serta diharapkan dapat menjadi media edukasi tentang keunikan identitas Kepulauan Riau dan pentingnya kepedulian lingkungan. Penciptaan patung ini melibatkan eksplorasi material PVC, yang dipilih karena sifatnya yang mudah dibentuk dan relevan dalam pengolahan limbah plastik. Teknik bakar menghasilkan tekstur unik menyerupai kulit reptil, yang mencerminkan transformasi budaya dan dampak lingkungan. Pengamatan tentang bentuk, proses pemanasan, dan manipulasi material dilakukan untuk menciptakan karya yang estetis dan bermakna. Hasil yang diharapkan adalah terciptanya sebuah karya seni yang tidak hanya menjadi media edukasi budaya, tetapi juga refleksi kritis tentang dampak modernisasi dan pencemaran plastik terhadap ekosistem laut. Dengan adanya karya ini diharapkan generasi muda dapat lebih menghargai jati diri budaya daerah dan berperan dalam pelestarian lingkungan
Hue dan value warna pada film mean girls dalam perspektif feminisme
Kehadiran warna bukanlah hal yang baru dalam dunia film. Warna dapat digunakan sebagai alat atau simbol yang dapat menyampaikan pesan. Film Mean Girls menjadi salah satu film yang menggunakan warna sebagai simbol. Dalam film Mean Girls, warna pink digunakan secara berulang. Hal tersebut perlu untuk dikaji lebih dalam terlebih karena karakter dan ceritanya berpusat pada identitas, dalam hal ini perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana hue dan value warna diterapkan sebagai simbol dalam film Mean Girls. Data yang ada kemudian akan dianalisis menggunakan teori analisis isi. Guna mempertajam hasil analisis, data juga akan ditafsirkan melalui teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir untuk melihat, menandai, dan menafsirkan tanda, dalam hal ini atribut warna serta karakter perempuan di dalamnya. Dari analisis yang telah dilakukan, dapat dibuktikan bahwa film Mean Girls menggunakan warna untuk menciptakan kontras, harmoni, dan keseimbangan. Warna juga digunakan sebagai associative color dan menjadi simbol dari sosok Mean Girls. Penelitian juga menunjukkan bahwa sesuai dengan teori feminisme eksistensialis, penyebab subordinasi perempuan (perempuan sebagai gender kelas dua) masih terlihat. Hal tersebut ditunjukkan dari fakta, mitos, dan kehidupan perempuan. Adapun hubungan antara warna, film Mean Girls, dan feminisme eksistensialis mencakup mengenai warna pink yang digunakan sebagai simbol feminitas dari The Plastic atau sosok Mean Girls. Warna pink menjadi parodi feminitas yang sesuai seperti yang Beauvoir kemukakan mengenai bagaimana masyarakat mengondisikan perempuan untuk menjadi feminin. Hal tersebut sesuai dengan landasan teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir yakni “one is not born, but rather, becomes a woman” atau perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan tapi menjadi perempuan
Rekonstruksi memori masa kecil sebagai ide penciptaan seni patung
Seni patung merupakan karya tiga dimensi yang mencerminkan ekspresi dari senimannya, yang melibatkan perasaan,imajinasi,ingatan divisualisasikan dalam karya. Memori masa kecil atau kenangan yang melekat dalam ingatan setiap orang tentunya berbeda-beda. Hal yang paling menyenangkan dalam ingatan kenangan masa kecil adalah bermain. Tidak selamanya menceritakan momen bahagia, menyenangkan dan indah. Beberapa orang memiliki momen yang menyedihkan, membuat trauma dan sulit untuk dilupakan. Pengalaman masa kecil dapat diolah menjadi sebuah energi yang baik atau positif dengan cara mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup sebagai proses untuk bekal ketika kita dewasa dalam menyikapi sesuatu. Dengan mengangkat tema memori masa kecil ini ke dalam karya patung dengan teknik assemblage, divisualkan dalam surealistik menggunakan komposisi bentuk, tekstur dan warna dalam merepresentasikan pengalaman masa kecil. Kata kunci: seni patung, masa kecil, memori, surealisti
Landscape aktivitas nelayan di Pantai Sadeng Gunung Kidul dalam karya batik dekoratif
Pantai Sadeng terletak di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal dengan keindahan panorama alamnya dan sebagai pusat Tempat Pelelangan Ikan yang menjadi aktivitas utama nelayan. Selain itu, pantai ini juga memiliki nilai budaya, salah satunya adalah tradisi Ritual Petik Laut yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat sebagai penghormatan kepada laut dan syukur atas hasil laut yang melimpah. Aktivitas nelayan dan Ritual Petik Laut ini mencerminkan hubungan yang erat antara masyarakat dengan alam. Hal tersebut juga menunjukkan bagaimana tradisi dan ekonomi lokal saling terhubung. Metode pendekatan yang digunakan dalam penciptaan ini adalah pendekatan estetika. Metode Pendekatan estetika diterapkan dalam pembuatan karya ini untuk menyampaikan keindahan visual dan pengalaman emosional yang mendalam bagi penikmatnya. Proses perwujudan dimulai dengan observasi, kemudian pembuatan sketsa, mencanting, serta pewarnaan menggunakan pewarna sintesis napthol dan indigosol. Setelah itu dilakukan pelorodan kain dan proses diakhiri dengan finishing. Hasil akhir dari penciptaan ini berupa 6 karya batik panel dengan komposisi landscape. Karya-karya batik ini berjudul (1) Desa di Balik Ombak, (2) Sun at the End of the Sea, (3) Jala dan Takdir Desa, (4) Tangan-tangan yang Menjala, (5) Be a Blessing, (6) Doa di Ujung Pesisir. Setiap karya dirancang dengan menggunakan warna cerah untuk menciptakan visual dinamis yang menggambarkan kehidupan dan harapan masyarakat pesisir. Karya-karya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada seni batik dengan gaya dekoratif dengan mengangkat cerita lokal melalui teknik tradisional yang dikemas sentuhan modern
Mengenalkan pohon gayam melalui penciptaan busana modest wear batik
Ide dasar penciptaan ini yaitu pohon gayam. Penulis ingin memperkenalkan pohon gayam kepada khalayak umum. Pohon gayam memiliki makna nggayuh/meraih sesuatu. Tugas akhir ini berjudul Mengenalkan Pohon Gayam melalui Penciptaan Busana Modest Wear Batik Metode pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan estetika dan pendekatan ergonomi. Metode penciptaannya yaitu Practice-led Reserch. Landasan teori yang digunakan yaitu teori estetika dan teori ergonomi. Penciptaan busana ini menggunakan teknik batik tulis dan pewarnaan teknik colet remasol. Motif batik berupa batang, bunga, buah dan daun pohon gayam. Motif batik yang diciptakan diaplikasikan pada busana modest wear. Langkah yang dilakukan yaitu pembuatan pola busana, motif batik, penjiplakan pada kain, mencanting, pewarnaan, penguncian warna, pelorodan, pemotongan bahan, penjahitan busana, dan finishing. Tugas akhir ini menghasilkan enam karya yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Karya busana ini memadukan warna cokelat, oranye, kuning hijau dan putih. Setiap karya dari busana ini berjudul sama yaitu “Ayem”
Interprestasi lagu "Broken Melodies" sebagai sumber ide penciptaan batik kontemporer
Penciptaan karya Tugas Akhir yang berjudul “Interpretasi Lagu Broken Melodies sebagai Sumber Ide Penciptaan Batik Kontemporer” adalah perwujudan dari pengekspresian ide atau gagasan individu dengan imajinasi pribadi. Broken Melodies adalah sebuah lagu yang menggambarkan perjalanan emosional dari hubungan jarak serta bagaimana mengelolanya dengan komunikasi. Proses Penciptaan karya seni Tugas Akhir ini menggunakan metode pendekatan estetika dan semiotika, sedangkan metode penciptaannya menggunakan metode practice base research. Pengumpulan data melalui analisis lirik lagu Broken Melodies, studi pustaka, dan studi lapangan dengan melalukan observasi. Proses perwujudan karya menggunakan teknik pewarnaan tutup celup pewarnaan sintetis napthol dan indigosol. Karya yang dihasilkan dari penciptaan Tugas Akhir batik kontemporer berjumlah 6 karya yang masing – masing memiliki keunikan visual dan makna yang tersendiri. Dari penciptaan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penikmat seni dan masyarakat pada umumnya, serta dapat memeberi kontribusi dan inovatif tentang pengambangan kriya khususnya pada bidang teksti
Perancangan motion comic adaptasi cerita rakyat cindelaras dan ayam ajaib
Pengenalan pesan, nilai moral dan meningkatkan jiwa pejuang terhadap generasi stroberi yang mudah menyerah sangat penting untuk dilakukan. Untuk itu dibuat motion comic yang bertujuan memperkenalkan cerita rakyat dan memotivasi agar pantang menyerah. Cerita rakyat sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengedukasi dari pesan moral dan tokoh-tokoh cerita. Dengan potensi tersebut dan kurangnya cerita rakyat diangkat menjadi motion comic, dirancanglah motion comic ini. Motion Comic mengadaptasi cerita rakyat Cindelaras dan Ayam Ajaib, dengan metode 5W+1H, perancangan ini dibuat menjadi sebuah motion comic yang berdurasi kurang lebih sekitar 9 menit. Dengan menggunakan artstyle yang menarik dengan warna harmonis, penataan panel, animasi, pemberian narasi cerita dan menyertakan takarir agar dapat mengonsumsi media lebih mudah dan dapat berfokus pada cerita. Kemudian, agar mudah diakses bagi target audience telah disebarluaskan melalui berbagai media sosial sehingga diharapkan tercapainya tujuan perancangan ini
Visualisasi Bentuk Ikan Pari Manta Alfredi Pada Karya Logam
Penciptaan karya seni berjudul " Visualisasi Bentuk Ikan Pari Manta Alfredi Pada Karya Logam " ini adalah sebuah wujud akspresi diri penulis yang memang memiliki ketertarikan dan kekaguman dengan bentukikan pari manta alfredi. Dalam sebuah penglaman pribadi penulis yang melihat langsung ikan pari manta alfredi membuat penulis tertarik untuk membuat karya seni non fungsional dengn media logam yang mengacu pada bentuk kaarakter ikan pari manta alfresi