49728 research outputs found
Sort by
Mahfudzat sebagai ide penciptaan motif batik dalam busana kasual muslim
Ide dasar penciptaan ini yaitu kalimat peribahasa Arab mahfudzat. Penulis ingin memperkenalkan kalimat peribahasa Arab mahfudzat kepada khalayak umum dan menjadi edukasi serta pengingat bagi diri sendiri dan orang banyak. Kalimat mahfudzat yang diambil memiliki makna kecantikan haqiqi seorang wanita yang mempunyai akal fikiran yang bagus dan adab atau akhlak yang baik. Tugas akhir ini berjudul mahfudzat Sebagai Ide Penciptaan Motif Batik dalam Busana Kasual Muslim. Metode pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan estetika dari A.A Djelantik, pendekatan ergonomi dari Peospo dan pendekatan batik dari Supriono. Metode penciptaan dari Gustami SP yaitu dengan melewati eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Landasan teori yang digunakan yaitu teori estetika menurut A.A Djelantik, teori ergonomi menurut Peospo dan teori batik menurut Supriono. Penciptaan busana ini menggunakan teknik batik tulis dengan pewarnaan teknik celup napthol dan teknik colet remasol. Langkah yang dilakukan yaitu pembuatan pola busana, pemotongan kain, motif batik, penjiplakan pada kain, mencanting, pewarnaan, penguncian warna, pelorodan, penjahitan busana, dan finishing. Tugas akhir ini menghasilkan tujuh karya yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Karya busana ini memadukan warna hitam, cokelat, kuning, merah dan putih. Setiap karya dari busana ini berjudul sama yaitu “Maziyyah”
Pesawat kertas sebagai ide penciptaan karya seni lukis
Melalui karya seni, seorang seniman mampu mengeksplorasi pengalaman masa kecil seperti pesawat kertas yang dijadikan sebagai ide penciptaan karya seni lukis. Pesawat kertas dipilih, karena dapat memicu untuk membangkitkan kembali kenangan dan imajinasi, sehingga tercipta ikatan emosional yang kuat terhadap masa kecil penulis. Representasi naratif merupakan metode yang digunakan dalam penciptaan tugas akhir ini yang mampu mengubah pengalaman masa kecil menjadi sebuah cerita visual pada karya seni lukis. Karya tugas akhir ini menampilkan bentuk figuratif dengan sentuhan gaya Pop Surealistik, gaya inilah yang memberi ruang untuk memainkan realitas dan fantasi dengan warna-warrna yang cerah. Secara keseluruhan, karya tugas akhir ini menghadirkan tentang pesawat kertas sebagai metafora dari harapan dan arti hidup yang mampu ditemukan dalam sebuah kesederhanaan
Pengkajia representasi pola asuh dalam film animasi My Father's Dragon
Penelitian ini mengkaji makna denotasi dan konotasi elemen-elemen visual dan narasi pada adegan interaksi antara ibu dan anak di dalam film animasi My Father’s Dragon. Film berfungsi sebagai media yang tidak hanya bersifat menghibur tetapi juga komunikatif dalam menyampaikan isu sosial dan budaya. Umum ditemukan representasi peran ibu, ayah, dan anak dalam sistem keluarga yang dikonstruksikan secara normatif dan ideal pada film animasi anak-anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teori semiotika Roland Barthes yang berdasarkan dua tingkat pemaknaan yaitu denotasi dan konotasi. Analisis menemukan bahwa secara eksplisit adegan-adegan film menggambarkan bentuk pola asuh secara otoritatif dan otoriter. Sedangkan makna implisit dari film menunjukkan adanya gambaran representasi pola asuh transformatif yang berkaitan erat dengan otonomi anak, ikatan maternal, dan pengaruh lingkungan tempat tinggal. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film animasi My Father’s Dragon masih bergantung pada simbol-simbol stereotipe seperti makna pengorbanan orang tua namun dengan melepas kemasan romantisasinya
Penerapan Notasi Braille dalam Pembelajaran Ekstrakurikuler Musik di Sekolah Luar Biasa A (Tunanetra) Bina Insani Bandar Lampung
Penerapan Notasi Braille dalam Pembelajaran Ekstrakurikuler Musik di SLB A Bina Insani Bandar Lampung ditujukan sebagai upaya pemenuhan aksesibilitas pendidikan musik bagi siswa tunanetra untuk membantu dan mempermudah dalam mengenal dan memahami notasi musik yang sebelumnya di sekolah tersebut belum diberikan, akan tetapi pelaksanaan pembelajaran belum terlaksana dengan optimal dikarenakan kurangnya waktu dalam mengimplementasi pembelajaran notasi braille sehingga membutuhkan waktu yang efektif untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pendekatan studi kasus digunakan dalam kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan, dan menganalisis setiap proses penerapan notasi braille dalam pembelajaran ekstrakurikuler musik di SLB A Bina Insani Bandar Lampung. Proses pembelajaran dilalui dengan tiga tahap yaitu; perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi. Terdiri lima siswa tunanetra yang mengikuti pembelajaran ekstrakurikuler musik di SLB A Bina Insani Bandar Lampung digunakan sebagai subyek penelitian. Dalam menyajikan hasil penelitian ini yaitu dengan melakukan tahapan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam menganalisis data-data penelitian menggunakan teknik reduksi, teknik menampilkan data, dan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah proses penerapan pembelajaran dalam mengenalkan dan mempelajari notasi musik dengan media braille melalui metode solfegio sehingga penerapan notasi braille dalam pembelajaran ekstrakurikuler musik di SLB A Bina Insani Bandar Lampung dapat membantu siswa tunanetra dalam mengenali dan memahami notasi musik
"Symbiora" eksplorasi limbah cair beras sebagai karya sirkular berbasis keberlanjutan
Symbiora merupakan eksplorasi artistik yang mengembangkan sistem sirkular berkelanjutan melalui pendekatan interdisipliner. Karya ini memanfaatkan air limbah cucian beras sebagai material utama, yang difermentasi oleh mikroorganisme untuk menghasilkan biomaterial, gas CO₂, dan residu organik. Seluruh hasil dari proses ini dimanfaatkan secara ekologis dalam sebuah instalasi seni, antara lain untuk pemurnian air dan mendukung pertumbuhan tanaman. Proses penciptaan berlandaskan pada konsep sympoiesis yang diperkenalkan oleh Donna Haraway, yang menekankan pentingnya penciptaan bersama antara manusia, mikroba, dan teknologi dalam ekosistem yang saling terhubung. Metodologi yang digunakan menggabungkan design thinking dan pendekatan critical making, yang mendorong keterlibatan partisipatif, refleksi sosial, serta pengembangan inovasi berbasis keberlanjutan. Karya ini bertujuan untuk membangun kesadaran ekologis, memberikan edukasi mengenai pengelolaan limbah rumah tangga, serta berfungsi sebagai artefak kontemporer yang relevan dengan isu-isu lingkungan saat ini
Penciptaan teater Kala Mahakali berdasarkan serat Calonarang
Pertunjukan teater Kala Mahakali menggunakan gaya Teater Kejam Artaud sebagai gaya. Teater Kejam merupakan sebuah gaya surealis yang menawarkan teror kepada penonton dengan teknis pemanggungan dan laku aktor di atas panggung. Mengadaptasi trilogi novel Cok Sawitri menjadi naskah pertunjukan. Cerita yang dibawakan tentang serat Calonarang, dimana Calonarang yang bangkit setelah moksa menyampaikan pesan kebajikan kepada Rarung dan para muridnya, sehingga terungkapnya kebajikan dari ajaran Dewi Durga. Secara bentuk pertunjukan Kala Mahakali menggunakan idiom tradisi lewat gagasan Antropologi Teater Eugenio Barba. Elemen tradisi yang termuat dalam pertunjukan Kala Mahakali berakar dari budaya, upacara, dan ritual dari Bali. Ajaran tantrayana dalam kepercayaan Hindu-Buddha menambah kesan mistis dan sakral dalam proses penggarapan karya. Pementasan dilakukan di outdoor untuk menghilangkan batas antara penonton dan pertunjukan
Penerapan teknik color grading dalam mendukung mood pada film animasi 2D "Metanoia Beauty is More Than Your Skin"
Penulisan ini membahas tentang penerapa Teknik color grading yaitu pemberian warna dominam pada adegan di film animasi 2D “Metanoia”. Mood suasana cerita dalam suatu adegan menjadi salah satu peran penting untuk membangun perasaan audiens agar dapat berempati dan turut merasakan mood tersebut. Film animasi 2D “Metanoia” menerapkan teknik color grading untuk memperkuat suasana yang dibangun dengan pendekatan model ADDIE yang bertujuan untuk mendukung mood adegan agar dapat dirasakan oleh udiens. Dengan menggunakan Teknok color grading adegan film 2D “Metanoia” , penelitian ini mendapat hasil bahwa pemberian warna dominan yang tepat pada suatu adegan, dan penambahan running text yang mendukung adalah factor utama sebuah adegan disukai dan perasaan yang dibangun dapat tersampaikan kepada audiens
Analisis patriarki pada tiga film kontemporer Indonesia
Dalam sejarah sinema Indonesia, representasi perempuan seringkali terperangkap dalam narasi patriarkal yang melanggengkan stereotip gender. Namun, munculnya film-film kontemporer seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, Yuni, dan Like & Share menawarkan perspektif baru di mana semua film tersebut dibuat oleh perempuan dan mencoba untuk menunjukkan nilai patriarki dan mengkritisi nilai patriarki tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana patriarki diungkapkan dan dilawan dalam tiga film tersebut melalui pendekatan semiotika John Fiske. Fokus penelitian mencakup analisis tanda-tanda pada level realitas, representasi, dan ideologi yang terkait dengan dinamika patriarki dan politik gender.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Sampel dipilih secara purposive sampling dengan kriteria tertentu, sementara pengumpulan data dilakukan melalui observasi mendalam terhadap elemen-elemen visual dan naratif film. Analisis dilakukan dengan pengkodean berdasarkan model semiotika tiga level dari Fiske untuk mendekonstruksi makna-makna patriarki. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa ketiga film tersebut berhasil merepresentasikan perempuan sebagai agen perubahan yang melawan dominasi patriarki. Dialog, simbol properti, dan elemen sinematografi digunakan untuk menonjolkan perjuangan perempuan dalam menghadapi struktur sosial yang patriarkal. Namun, penelitian juga mencatat bahwa jejak patriarki lama masih tampak dalam beberapa representasi, mencerminkan kompleksitas dinamika sosial dan budaya Indonesia
Transformasi Rinding Gumbeng Gunungkidul dalam acara HUT Republik Indonesia ke-77 di Istana Negara Jakarta
Rinding Gumbeng dusun Duren Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, dalam konteks penampilannya pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-77 di Istana Negara Jakarta. Rinding Gumbeng, sebagai salah satu warisan tradisional agraris, awalnya hadir dalam konteks ritual dan kehidupan masyarakat pedesaan, terutama sebagai rasa syukur atas hasil panen. Namun, ketika dipentaskan di ruang kenegaraan yang formal dan terstruktur, kesenian ini mengalami sejumlah perubahan bentuk dan penyajian. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian Rinding Gumbeng dalam acara HUT RI ke-77 serta bagaimana perkembangan musik tradisional ini mempertahankan esensinya ketika dipindahkan ke ruang pertunjukan formal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan etnomusikologis, data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku seni, dan dokumentasi pertunjukan. Teori Garap Rahayu Supanggah dan Transformasi oleh Umar Kayam sebagai landasan teori untuk membedah permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat penyesuaian unsur musikal dan struktur penyajian agar sesuai dengan format acara kenegaraan, namun transformasi ini tetap menjaga esensi budaya dan identitas lokal yang melekat pada Rinding Gumbeng. Penampilan di Istana Negara mendapat apresiasi dari tamu undangan VVIP yang melintas di depan panggung Rinding Gumbeng, bahkan ada beberapa menteri yang ikut berjoged seiring lagu yang disajikan
“Fixfest Yogyakarta 2025” Festival Sepeda Fixie di Institut Seni Indonesia Yogyakarta
“FixFest Yogyakarta 2025” merupakan sebuah event yang berfokus pada budaya sepeda fixie, dengan rangkaian kegiatan utama berupa kontes sepeda Fixie dan lomba criterium. Tugas akhir ini disusun sebagai bentuk dokumentasi dan analisis atas proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Penciptaan ini menggunakan pendekatan Etnografis dengan metode observasi langsung, wawancara, dan studi dokumentasi. Fokus utama Penciptaan adalah pada manajemen event seni dan olahraga, serta peran partisipasi publik dalam membangun atmosfer dan keberlanjutan acara. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa “FixFest Yogyakarta 2025” berhasil menciptakan ruang ekspresi kreatif dan kompetitif bagi penggemar sepeda fixie, sekaligus memperkuat jaringan komunitas lokal. Hal ini menunjukkan pentingnya perencanaan yang matang, pembagian peran yang jelas dalam tim kerja, serta fleksibilitas dalam menghadapi kendala di lapangan