49728 research outputs found
Sort by
Paé'e Bhábbhár : penciptaan karya performance on display
Penelitian ini bertujuan menciptakan karya seni pertunjukan bertajuk Paè’e Bhábbhár dengan pendekatan performance on display, yang mendokumentasikan dan mentransformasi praktik perawatan tradisional perempuan Madura pasca melahirkan. Tradisi paè’e bhábbhár mencerminkan pengetahuan lokal tentang perawatan tubuh, pemulihan rahim, dan kesehatan reproduksi yang dilakukan melalui pemakaian bhângkong (bengkung), konsumsi jamu, serta berbagai ritual lain yang diwariskan secara turun-temurun. Menggunakan metode Art-Based Research dan pendekatan performatif, karya ini mengeksplorasi objek, ruang, tubuh, serta narasi yang hidup dalam masyarakat Madura sebagai bentuk performativitas budaya. Instalasi yang dipertunjukkan menampilkan rekaman wawancara, arsip visual, properti tradisional, dan aksi tubuh yang dikurasi secara artistik di dalam ruang galeri. Galeri sebagai ruang pertunjukan mengaburkan batas antara seni pertunjukan dan seni rupa, menciptakan ruang baru untuk membaca kembali praktik tradisi sebagai pengalaman estetik kontemporer. Karya ini tidak hanya menyajikan fenomena sosial-kultural, tetapi juga menawarkan refleksi kritis tentang bagaimana tradisi perempuan Madura dapat dibaca ulang, diwariskan, dan dipresentasikan kepada publik luas melalui medium seni kontemporer
Kain perca di Piyungan sebagai inspirasi penciptaan lukisan
Kain Perca di Piyungan sebagai inspirasi penciptaan lukisan. Tugas Akhir ini mengeksplorasi pemanfaatan kain perca sebagai bahan baku kreatif dalam seni lukis, dengan penekanan pada limbah kain sisa yang sering dianggap tidak berguna. Melalui pendekatan eksperimental, karya ini terinspirasi oleh lingkungan Piyungan dan pengaruh seniman terdahulu, bertujuan untuk merefleksikan dampak perubahan sosial dan limbah tekstil. Kain perca tidak hanya diolah menjadi karya seni, tetapi juga sebagai medium bagi ekspresi artistik yang melampaui batasan konvensional, mendorong dialog mengenai praktik seni rupa masa kini. Tujuan penciptaan karya ini adalah untuk mengekpresikan dorongan batin kreatifitas dalam kaitannya berupaya menciptakan barang temuan, dan barang bekas tidak berguna dan tidak bernilai menjadi sebuah karya seni rupa kontemporer. Dengan melakukan eksplorasi medium dan teknik yang relevan dalam penciptaan karya seni rupa kontemporer kain perca di piyungan sebagai inspirasi penciptaan lukisan. Penelitian ini menggunakan metode riset atau penelitian dalam penciptaan seni lukis adalah Artistic Research Mika Hannula, Juha Suoranta & Tere Veden Mace & Ward's.Karya seni lukis dan seni instalasi dengan media kain perca, mengajak untuk merefleksikan kembali pemikiran Duchamp tentang seni rupa murni. Dengan menggabungkan berbagai material dan ide provokatif, seniman mencoba menguji norma praktik seni rupa yang telah mapan saat ini. Karya ini terinspirasi oleh seniman terdahulu seperti Anselm Kiefer, Marcel Duchamp, dan Laksmi Shitaresmi, mengeksplorasi persamaan dan perbedaan dalam pendekatan artistik mereka. Tulisan ini membahas pemanfaatan limbah dan barang-barang tak terpakai lainnya sebagai titik tolak untuk mengeksplorasi aspek-aspek formal dalam praktik seni rupa kontemporer. Karya-karya yang tercipta tersebut menghadirkan dialog antarelemen yang berbeda, mengekspresikan keprihatinan, dan membangkitkan kesadaran akan kompleksitas jaringan manusia. Ditutup dengan kehadiran idiom atau bentuk visual yang ganjil dan spontan. Penemuan material dan medium menjadi dorongan untuk terus mempertanyakan praktik artistik penulis, baik secara epistemologis maupun ontologis, dalam penciptaan seni rupa kontemporer. Prinsip 'di dalam dan melalui' atau In and through dalam setiap tahapan proses kreatif penciptaan karya seni, penulis membebaskan, membuka imajinasi melampaui batas-batas institusional dunia seni yang melampaui gelembung wacana dunia seni kontemporer
Eksperimentasi ritmis Gendang Singindungi Karo menggunakan konsep poliritme dalam karya Ncakcaki
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengembangan pola ritmis Gendang Singindungi Karo menggunakan konsep poliritme. Fenomena penggunaan instrumen gendang di etnis Karo, Minang dan Bali memiliki keterkaitan dengan kejenuhan dan pola ritmisnya. Kejenuhan akibat pola ritmis yang monoton berulang disitu saja dan juga pola ritmis yang rapat, rumit, dan sulit dipetakan oleh pikiran, menjadi kendala yang terdapat pada permainan Gendang Singindungi selain teknik bermain. Fenomena tersebut mengurangi penggunaan instrumen gendang, sehingga konsep poliritme menjadi solusi dalam masalah tersebut. Teori yang digunakan untuk membedah fenomena pola ritmis Gendang Singindungi dalam penelitian ini yaitu Relativisme Budaya dan Eksperimentasi Musik dengan menerapkan konsep baru terhadap musik. Poliritme yaitu ritme yang banyak atau lebih dari satu. Metode Penelitian yang digunakan yaitu Practice Led Reasearch dengan empat tahap pengumpulan data yaitu Collect Data, Incubation, Generation of Ideas, dan Reflection. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Poliritme dapat menambah pandangan terhadap pola ritmis Gendang Singindungi. Selain itu, terdapat konsep yang sama yaitu terkait ritmis dan ritme juga pola dan poli, konsep yang digunakan saling melengkapi sehingga menghasilkan pengetahuan yang menjadi landasan dalam penciptaan karya musik. Penelitain ini menyimpulkan bahwa penerapan konsep poliritme terhadap pola ritmis Gendang Singindungi dapat menambah cara melihat gendang dengan perspektif yang berbeda
Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tari godril di sanggar tari sekar arum Pasirian Lumajang
Nilai-nilai pendidikan karakter dapat dipelajari melalui kesenian, seperti tari kreasi. Tari kreasi dapat menjadi wadah untuk mensosialisasikan pendidikan karakter yang terdapat pada unsur gerak, iringan, tata rias, dan kostum yang dimiliki. Tari Godril dipilih karena merupakan tarian yang menjadi ikon Kabupaten Lumajang dan terdapat nilai-nilai pendidikan karakter di dalamnya. Pendeskripsian pendidikan karakter dalam tari Godril di sanggar tari Sekar Arum, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur menjadi fokus penelitian ini. Tari Godril di sanggar tari Sekar Arum Pasirian Lumajang dan prinsip�prinsip pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya menjadi sasaran penelitian deskriptif kualitatif ini. Observasi, wawancara dengan beberapa narasumber, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Pengurus sanggar tari Sekar Arum Pasirian, Lumajang menjadi sumber data penelitian ini. Triangulasi adalah metode yang digunakan untuk validasi data, dan analisis data melibatkan penggabungan semua informasi yang dikumpulkan melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi dengan proses reduksi data. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan seni tari Langen Tayub Kabupaten Lumajang bertanggung jawab terhadap sejumlah sifat pendidikan karakter dalam tari Godril, termasuk rasa syukur, gotong royong dan interaksi sosial, cinta tanah air, dan kreativitas. Kata kunci: nilai-nilai, pendidikan karakter, tari kreasi, Godril, sanggar tari Sekar Aru
Lokawisata Ikan Dewa kota Kuningan sebagai motif batik yang dipadukan pada inovasi kebaya Sunda dengan teknik smock
Karya ini bertujuan melestarikan budaya lokal, meningkatkan daya tarik wisata Kuningan, serta memperkenalkan inovasi dalam desain busana tradisional. Memadukan nilai-nilai tradisional yang sarat makna budaya dengan perkembangan kreatif dan inovatif. Lokawisata merupakan tempat rekreasi atau wisata yang memiliki daya tarik yang khas dan dikelola bertujuan untuk rekreasi, edukasi, atau bahkan pelestarian budaya dan alam. Lokawisata Ikan Dewa Kota Kuningan merupakan salah satu wujud kebudayaan yang terkenal di Kuningan Jawa Barat. Hal ini juga menjadikan ciri khas yang hanya ada di Kuningan Jawa Barat. Salah satu keunikannya, lokawisata Ikan Dewa memiliki unsur kepercayaan yang tersebar di masyarakat. Sehingga, Ikan Dewa yang ada disana sangat dijaga dan terus dilestarikan. Menerapkan metode pendekatan estetika dan ergonomi sebagai dasar dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara menyeluruh, baik dari segi visual maupun kenyamanan pengguna. Proses penciptaan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu eksplorasi untuk menggali ide dan referensi, perancangan sebagai tahap pengembangan konsep menjadi desain visual, serta perwujudan yang merealisasikan desain ke dalam bentuk karya nyata. Secara teoritis, penciptaan ini didasarkan pada teori estetika yang dikemukakan oleh Kartika serta teori ergonomi oleh Tarwaka. Proses membatik menggunakan teknik batik tulis dan pewarnaan remasol, sedangkan kebaya dirancang dengan menambahkan teknik smock untuk menciptakan efek visual dan kenyamanan. Karya yang diciptakan merupakan busana kebaya Sunda hasil inovasi yang menggabungkan kekayaan budaya lokal dengan sentuhan artistik modern. Kebaya ini dirancang secara khusus dengan mengintegrasikan motif batik Ikan Dewa, yang merupakan simbol kearifan lokal dan memiliki nilai filosofis mendalam. Perpaduan antara unsur-unsur di dalamnya tidak hanya memperkuat identitas budaya kebaya yang ditampilkan, tetapi juga memberikan narasi visual yang kuat tentang keindahan tradisi yang dibalut dalam batik. Dengan pendekatan desain yang mengedepankan inovasi tanpa menghilangkan esensi budaya, karya kebaya Sunda ini menjadi representasi dari pelestarian warisan budaya yang relevan dengan perkembangan zaman dan selera mode modern
Penyutradaraan naskah karantina karya Jean Pierre Martinez terjemahan bunga Islammy dengan gaya pemanggungan absurd
Karantina menceritakan tentang empat orang asing yang dikarantina secara paksa. Empat orang asing diduga terkontaminasi virus dan menularkannya pada orang lain di gerbong kereta nomor 13. Naskah Karantina dipilih sutradara sebab mengandung tema besar yang ingin diangkat sutradara yakni absurditas harapan hidup manusia dalam situasi keterbatasan. Tujuan dari penulisan ini adalah menemukan dan menerapkan metode penyutradaraan naskah Karantina karya Jean Pierre Martinez terjemahan Bunga Islammy. Metode penyutradaraan yang digunakan oleh sutradara adalah metode penyutradaraan yang dikemukakan oleh Derek Bowskill yang terbagi menjadi 3 tahapan yakni : keputusan, audisi, dan latihan. Gaya pemanggungan absurd dipilih sebagai cara ungkap pertunjukan. Sutradara berhasil menemukan dan menerapkan metode penyutradaraan dan mementaskan pertunjukan Karantina karya Jean Pierre Martinez terjemahan Bunga Islamm
"Ratok Si Anak Pisang" Komposisi Musik Dengan Format Ansambel Campuran Berdasarkan Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Hamka
“Ratok Si Anak Pisang” merupakan komposisi musik program naratif dengan format ansambel campuran yang diciptakan berdasarkan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka. Novel ini memiliki unsur tradisional yang kuat yang ditandai dengan latar belakang tokoh dengan menceritakan tentang kisah cinta tokoh Zainuddin yang dipengaruhi oleh aturan adat Minangkabau. Komposisi musik “Ratok Si Anak Pisang” mengutamakan instrumen musik tiup tradisional Minangkabau, yaitu bansi, saluang, dan sampelong yang cenderung menggunakan teknik salisiah angok atau circular breathing dalam penciptaan suasana yang sesuai dengan alur cerita dalam novel tersebut. Proses penciptaan komposisi musik ini melalui beberapa tahapan yaitu observasi terhadap novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka, observasi terhadap adat Minangkabau, observasi terhadap instrumen musik tiup Minangkabau, perumusan ide penciptaan, penentuan judul, pemilihan, dan eksplorasi instrumen musik yang digunakan, serta penulisan notasi musik. Komposisi musik ini terdiri dari empat bagian, yaitu bagian pertama “Salingka Nagari” menceritakan tentang kedatangan tokoh Zainuddin di Batipuh, Sumatra Barat, bagian kedua “Rantau Batuah” menceritakan tentang tokoh Zainuddin yang merantau menuju Batavia, bagian ketiga “Alek Nan Gadang” menceritakan tentang tokoh Zainuddin yang mengadakan pesta di Surabaya, dan bagian keempat “Lauik Sati” menceritakan tentang keadaan darurat di kapal Van Der Wijck. Untuk memperkuat nuansa Minangkabau dalam komposisi ini, penulis menggunakan unsur-unsur idiom musik Minangkabau yang diutamakan pada instrumen musik tiupnya yang mengandung unsur melodi, ritme dan pola, serta ornamentasi yang khas
Peran pengaplikasikan musik latar dalam penggambaran karakter Arthur Fleck pada film Joker (2019)
Penelitian ini bertujuan mengungkap peran pengaplikasian musik latar dalam menggambarkan karakter Arthur Fleck pada film Joker (2019). Fokus penelitian berada pada penggabungan musik diegetic dan non-diegetic, serta perannya dalam merepresentasikan kompleksitas karakter utama. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan observasi, di mana data diperoleh melalui dokumentasi dan analisis pada dua scene yang menonjolkan penggabungan musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan musik diegetic dan non-diegetic efektif menciptakan kesan misterius, suram, dan gelap, selaras dengan karakter Arthur yang depresi, tidak stabil, dan penuh imajinasi. Dilakukan analisis sinematik (Bordwell & Thompson) untuk mengungkap keterpaduan antara musik, elemen visual seperti pencahayaan, kostum, sudut kamera, dan suasana yang mendukung pengembangan karakter. Musik latar pada film ini juga menunjukkan kesesuaian dengan karakteristik musik film thriller (Brown), seperti harmoni disonan, ritme tak terduga, dan melodi berulang, yang memperkuat emosi dan karakter pemeran. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggabungan musik latar secara efektif mendukung penggambaran karakter Arthur Fleck, memberikan wawasan baru tentang pentingnya desain musik dalam memperkuat narasi dan representasi emosional dalam film. Kata kunci: diegetic, non-diegetic, karakter, musik latar, Arthur Fleck, Joke
Pertunjukan musik jogja hip hop foundation pada opening exhibition ratu adil di Bentara Budaya Yogyakarta
Bentara Budaya Yogyakarta merupakan lembaga yang menampung dan mewakili wahana budaya bangsa dari berbagai kalangan dan latar belakang, baik seni rupa hingga musik. Masyarakat dari berbagai lapisan pun dapat berpartisipasi di dalamnya. Sebagai ruang publik, tentunya Bentara Budaya Yogyakarta aktif mengadakan pameran. Pameran tak lepas dengan adanya opening exhibition dan rangkaian acara di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna yang ingin disampaikan dalam pameran Ratu Adil. Penelitian ini juga ingin mencari tahu alasan Jogja Hip Hop Foundation dilibatkan dalam opening exhibiton kali ini. Selain kedua hal tersebut, penelitian ini juga ingin melihat kontribusi yang diberikan oleh Jogja Hip Hop Foundation terhadap pameran Ratu Adil di Bentara Budaya Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumen tunggal dan partisipan berperan sebagai pengamat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan wawancara, observasi, studi pustaka dan studi dokumen. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teori hidden transcript dan integrated arts. Hasil penelitian menunjukkan pemaknaan Ratu Adil yang kontekstual, yaitu bukan lagi tentang suatu sosok pembebas, namun suatu harapan yang harus terus menerus diperjuangkan terutama bagi wong cilik maupun kaum yang terpinggirkan. Sindhunata, sang penulis buku Ratu Adil memiliki kedekatan dengan Jogja Hip Hop Foundation, sehingga akhirnya berkolaborasi dan terlibat sebagai special guestar pada opening exhibition Ratu Adil. Pameran ini dapat terselenggara dalam wujud kolaborasi antar bidang seni sastra, rupa, dan musik yang bersinergi satu dengan yang lainnya. Konsep seni terintegrasi yang terjadi menghadirkan apresiasi dari kalangan yang lebih luas, termasuk kontribusi penting dari Jogja Hip Hop Foundation
Visualisasi Puspa Karsa pada Novel Aroma Karsa dalam Karya Instalasi Batik
Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang mencakup analisis serta pembuatan kesimpulan dari informasi yang diperoleh. Salah satu media literasi yang menarik adalah novel, seperti Aroma Karsa karya Dewi Lestari, yang mengisahkan pencarian bunga Puspa Karsa. Novel ini menggabungkan elemen fiksi dengan realitas, sehingga menginspirasi penulis untuk memvisualisasikan Puspa Karsa yang digambarkan wujudnya mirip seperti bunga anggrek, namun Puspa Karsa tidak divisualisasikan oleh pengarang novel. Oleh karena itu penulis membuat visual dari Puspa Karsa menurut sudut pandang penulis. Karya ini menggunakan teknik batik sebagai bentuk ekspresi seni dengan penyajian karya instalasi, menggambarkan keindahan dan suasana latar tempat berdasarkan narasi dalam novel, sehingga dapat mewakili imajinasi terhadap Puspa Karsa dalam novel Aroma Karsa. Pendekatan dalam penciptaan karya ini meliputi Analisis Sastra Formula untuk mengkaji struktur dan tema novel, serta pendekatan estetika untuk mengeksplorasi keindahan visual. Metode penciptaan yang digunakan adalah Practice-Led Research, yang mengutamakan pengalaman praktis dalam proses kreatif. Dengan demikian, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai visualisasi, tetapi juga sebagai kontribusi terhadap pemahaman dan penghargaan terhadap sastra serta seni batik sebagai warisan budaya Indonesia. Karya Tugas Akhir ini menghasilkan empat buah karya dengan masing-masing karyanya memiliki peran dalam menggambarkan latar tempat dan suasana dimana Puspa karsa berad