49728 research outputs found
Sort by
Penerapan four basic stroke dalam pembelajaran drumset pada ekstrakurikuler musik SMA Negeri 1 Sumberrejo
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan teknik Four Basic Stroke dalam pembelajaran drumset serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan kemampuan bermain drum siswa pada ekstrakurikuler musik di SMA Negeri 1 Sumberrejo. Teknik Four Basic Stroke, yang terdiri dari Full Stroke, Down Stroke, Tap Stroke, dan Up Stroke, merupakan dasar penting dalam penguasaan permainan drumset secara musikal dan dinamis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tujuh siswa peserta ekstrakurikuler musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknik Four Basic Stroke secara bertahap melalui teori, demonstrasi, latihan individual menggunakan metronom, serta aplikasi dalam pola ritmis berhasil meningkatkan penguasaan kontrol stik (Stick control), presisi pukulan, dinamika, dan koordinasi tangan siswa. Meskipun pada awalnya siswa mengalami kesulitan dalam membedakan karakteristik pukulan dan kontrol rebound, pembelajaran yang terstruktur mampu mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan teknik Four Basic Stroke secara sistematis merupakan metode efektif untuk membentuk fondasi keterampilan drumset yang kuat dalam konteks pembelajaran ekstrakurikuler
Hubungan antara kesiapan belajar dan lingkungan keluarga dengan hasil belajar tari pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 14 Yogyakarta
Hasil belajar merupakan indikator penting yang mencerminkan pencapaian peserta didik setelah melalui proses pembelajaran. Proses belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kesiapan belajar peserta didik dan dukungan dari lingkungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hubungan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar tari pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 14 Yogyakarta, (2) mengetahui hubungan antara lingkungan keluarga dengan hasil belajar tari pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 14 Yogyakarta, dan (3) mengetahui hubungan antara kesiapan belajar dan lingkungan keluarga dengan hasil belajar tari pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 14 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif korelasional, dengan variabel kesiapan belajar (X1), lingkungan keluarga (X2), dan hasil belajar tari (Y). Populasi penelitian ini terdiri dari peserta didik kelas VII SMP Negeri 14 Yogyakarta sebanyak 137 peserta didik, dengan teknik stratified random sampling didapatkan sampel sebanyak 102 peserta didik. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner kesiapan belajar, kuesioner lingkungan keluarga, dan dokumentasi hasil belajar tari yang berupa nilai dari peserta didik. Uji yang digunakan dalam penelitian ini dimulai dari uji validitas isi, konstruk, uji reliabilitas, uji asumsi klasik dengan menguji normalitas, linearitas, heteroskedastisitas, multikolinearitas, dan uji hipotesis dengan menggunakan analisis korelasi product moment, uji analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar tari pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 14 Yogyakarta dengan rhitung = 0,455 > rtabel = 0,195 dan taraf signifikan sebesar 0,000 rtabel = 0,195 dan taraf signifikan sebesar 0,000 Ftabel = 3.09 (Sig 0,000 < 0,05) dan nilai koefisien determinasi sebesar 0,259, artinya variabel kesiapan belajar dan lingkungan keluarga memberikan sumbangan efektif sebesar 25,9
Nilai pendidikan gupuh lungguh suguh dalam pembelajaran tari nandur kamulyan di Sekolah Adat Kampoeng Batara Banyuwangi
Pengembangan sektor pariwisata di zaman serba modern membuat Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu tujuan apabila berkunjung di Pulau Jawa. Sejalan dengan hal tersebut, Sekolah Adat Kampoeng Batar Banyuwangi yang merupakan salah satu pendidikan nonformal dengan tujuan meningkatkan SDM anak-anak melalui sekolah adat. Pola pembelajaran di sekolah ini menerapkan kebisaaan masyarakat yaitu Gupuh Lungguh Suguh dalam rangka pelestarian budaya lokal dan untuk mewariskan pola pendidikan turun temurun yang melakukan ajaran tentang kehidupan kepada peserta didik agar bisa bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki keterampilan yang kreatif, salah satunya melalui pembelajaran tari Nandur Kamulyan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai pendidikan Gupuh Lungguh Suguh dalam pembelajaran tari Nandur Kamulyan di Sekolah Adat Kampoeng Batara Banyuwangi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Adat Kampoeng Batara Banyuwangi. Objek penelitian ini adalah nilai-nilai pendidikan Gupuh Lungguh Suguh dalam pembelajaran tari Nandur Kamulyan. Subjek penelitian yaitu pendiri sekolah, pengajar, peserta didik, budayawan, orang tua peserta didik. Pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik validasi data yang digunakan yaitu triangulasi sumber. Teknik analisi data terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan Gupuh Lungguh Suguh yang ditemukan pada sajian pertunjukan dan proses pembelajaran. Nilai pendidikan gupuh terdapat pada motif gerak ngarit dan aktivitas berkebun sebagai wujud semangat sedangkan pada proses pembelajaran terlihat saat peserta didik dengan semangat untuk datang mengikuti pembelajaran dan memiliki rasa saling menghormati kepada pelatih saat pembelajaran. Nilai lungguh pada bagian intro pertunjukan saat pupuh danding saat dinyanyikan mengandung makna bahwa setiap melakukan segala aktivitas harus ditekuni dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Pada proses pembelajaran terdapat pada pelayanan baik yang diberikan pelatih saat memberikan dan membuat peserta didik tekun dan ikhlas untuk menghafal gerak tari sehingga terjadi keharmonisan dalam proses pembelajaran. Nilai suguh terdapat struktuk penyajian tari Nandur Kamulyan pada aktivitas persiapan penari dan pelatih hingga pementasan berlangsung. Selain itu, saling menghargai menjadi kebiasaan yang selalu diterapkan saat pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran yang dilaksanakan akan dipentaskan untuk suguhan dan bentuk apresiasi dari pelatih dan Sekolah Adat atas hasil proses pembelajaran yang telah dilaksanakan
Perancangan concept art game bergenre adventure mengenai kejadian Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Garap gender barung gendhing Kaduk Manis laras pelog pathet nem kendhangan Sarayuda
Skrisi yang berjudul “Garap Gender Barung Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda” adalah penelitian yang berfokus pada pembahasan garap ricikan gender barung. Gendhing Kaduk Manis adalah gendhing yang terdapat dalam karawitan gaya Yogyakarta dan termasuk klasifikasi gendhing tengahan. Gendhing tersebut bermula dari garap soran, namun pada penelitian ini disajikan dengan garap lirihan. Perubahan garap soran ke garap lirihan inilah akan memunculkan permasalahan garap terutama ricikan ngajeng, salah satunya adalah ricikan gender barung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan serta mendeskripsikan garap gender barung pada Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis garap gender barung pada gendhing tersebut. Proses penelitian mencakup beberapa tahapan, yaitu proses penggarapan dan teknik pengumpulan data. Proses penggarapan meliputi beberapa aspek, yaitu memastikan notasi balungan gendhing, tafsir padhang-ulihan, pola tabuhan balungan, dan pathet, tafsir garap, aplikasi garap, menghafal, serta latihan dan evaluasi. Teknik pengumpulan data meliputi beberapa tahapan yaitu studi pustaka dan wawancara. Hasil dari penafsiran dan analisis mencakup beberapa aspek, yaitu tafsir pola tabuhan gendhing, penafsiran terhadap struktur padhang-ulihan, penafsiran pathet, serta penafsiran cengkok pada ricikan gender barung. Interpretasi terhadap padhang-ulihan menunjukkan bahwa konstruksi kalimat lagu dalam gendhing Kaduk Manis tidak selalu terletak pada dua gatra, dalam praktiknya penerapan struktur padhang-ulihan dapat berbeda-beda penerapannya. Analisis terhadap pathet mengungkapkan bahwa gatra pada gendhing Kaduk Manis memuat penggarapan pathet yang bervariasi, mencakup pathet nem, pathet sanga, pathet manyura. Penafsiran terhadap cengkok gender barung pada gendhing Kaduk Manis menunjukkan bahwa karya ini dapat digarap dengan berbagai cengkok genderan seperti cengkok umum, cengkok gantungan, cengkok khusus, dan cengkok rekan
Pengunaan shading pada style lineless untuk menciptakan ilusi volume pada visual karakter film animasi 2D "Nosy Box"
Estetika visual merupakan salah satu hal yang penting dalam animasi. Perkembangan teknologi mempengaruhi industri animasi menuntut agar animator dapat menciptakan karya yang memiliki estetika menarik. Namun pemahaman mengenai visual menarik masih terbatas pada bentuk gaya dari animasi yang disajikan, sehingga aspek lain pada animasi kurang diperhatikan terutama shading pada animasi 2D. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menerapkan komponen shading yang sederhana namun efektif dalam menciptakan ilusi volume agar animasi 2D terlihat lebih hidup. Metode kualitatif dipilih sebagai media untuk mengumpulkan data melalui analisis studi pustaka dan tinjauan karya. Melalui metode ini penerapan komponen shading dilakukan pada pembuatan contoh visual karakter animasi 2d “Nosy Box”. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa komponen shading seperti intensitas bayangan, tingkat buram, dan attach shadow mampu menciptakan ilusi volume pada karakter animasi 2D
Penerapan batik kontemporer motif geometris dan shibori pada busana kasual dengan genre unisex
Tugas Akhir ini terinspirasi dari motif geometris sebagai elemen visual utama dalam pengembangan batik kontemporer, yang dipadukan dengan shibori untuk menciptakan karya tekstil inovatif. Motif geometris, yang terinspirasi dari bentuk-bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, dan segiempat, memberikan kesan modern, dan dinamis dalam desain kain. Sebagai upaya inovasi visual, motif geometris tersebut kemudian dipadukan dengan shibori sebuah metode pewarnaan kain asal Jepang yang menggunakan prinsip ikat celup. Teknik ini melibatkan proses manual berupa jahitan dan pengikatan kain sebelum melalui tahap pewarnaan, sehingga menghasilkan pola-pola yang bersifat unik. Karakteristik khas dari shibori yang menciptakan motif yang tak terduga ini memberikan nilai tambah artistik pada hasil akhir karya tekstil. Metode penciptaan ini menggunakan metode Alma Hawkins yang terdiri dari tiga tahapan utama: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan. Dengan metode ini, penelitian bertujuan memadukan unsur-unsur batik kontemporer dan shibori dengan pewarna napthol dan remasol guna menghasilkan busana unisex yang merefleksikan kreativitas sekaligus memperlihatkan warisan budaya. Karya yang diciptakan dalam tugas akhir ini menghasilkan enam busana kasual berkonsep unisex. Setiap busana memiliki susunan motif batik yang berbeda, menambah sentuhan estetika baru yang dapat menarik perhatian pria maupun wanita
Perancangan interior lobi dan hotel hotel Swiss-Belboutique Cirebon dengan konsep historis multikultural
Identitas Cirebon sebagai kota multikultur berkembang melalui kejayaan perdagangan maritim abad ke-14 yang terjadi di Pesisir Muara Jati. Namun identitas ini mulai meredup seiring perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Pengaruh kemajuan teknologi membawa perubahan dalam perkembangan gaya hidup global sehingga memunculkan kelompok baru dalam masyarakat urban, yaitu remote worker. Disisi lain wisatawan pada kota ini meningkat setiap tahunnya. Perancangan interior ini mengambil lokus Swiss-BelBoutique sebagai studi kasus, sebuah hotel butik berbintang 4 bertarafkan internasional, berpotensi mengintegrasikan sejarah Pesisir Muara Jati penyebab multikulturalisme yang relevan dengan perkembangan gaya hidup modern melalui konsep Historis Multikultural. Metode perancangan menggunakan pendekatan Design Thinking Double Diamond, yang terdiri dari empat tahap utama: Penemuan (pengumpulan data dan studi lapangan), Perumusan Masalah (perumusan inti masalah), Pengembangan ide (pengembangan ide dan konsep desain), dan Penerapan Solusi (finalisasi desain). Solusi desain yang dihadirkan tidak hanya berfokus pada kenyamanan fungsi ruang, tetapi juga menyatukan narasi sejarah melalui elemen visual, tata ruang, dan pemilihan material yang mendukung kebutuhan produktivitas remote worker. Melalui konsep Historis Multikultural, perancangan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman ruang yang unik, memperkuat identitas lokal, serta memperkuat daya tarik pengunjung melalui desain yang adaptif terhadap kebutuhan remote worker di tengah berkembangnya pariwisata Cirebon
Representasi kecantikan dalam film The Subtance melalui perspektif psikoanalisis sinema
The Substance (2024) menyampaikan kritik terhadap standar kecantikan usia muda bagi perempuan dengan gaya satir. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar representasi kecantikan dalam film melalui elemen visual mise-en-scène dalam perspektif psikoanalisis sinema, dengan mengacu pada teori imaginary signifier, male gaze, dan fetisisme. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui proses analisis visual pada sampel-sampel adegan kunci. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecantikan direpresentasikan melalui mise-en-scène dengan mengacu pada fetisisme dan male gaze, yang mampu memengaruhi penerimaan dan identifikasi penonton (imaginary signifier). Kajian ini diharapkan mampu berkontribusi sebagai referensi dan bahan diskusi kajian media populer, film
Gaya kepemimpinan pengelolaan sanggar seni nirlaba di Yogyakarta (studi kasus : Omah Cangkem Mataraman dan Sanggar Seni Notoyudan)
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek pembentuk gaya kepemimpinan dalam pengelolaan sanggar seni nirlaba dan bagaimana pengaruh gaya tersebut terhadap sosial budaya sekitarnya. Studi kasus penelitian ini adalah gaya kepemimpinan pengelolaan pada Omah Cangkem Mataraman dan Sanggar Seni Notoyudan dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu tentang gaya kepemimpinan. Penelitian ini termasuk penelitian dengan metode kualitatif yang menggunakan pendekatan studi kasus melalui perspektif manajemen sumber daya manusia dan berfokus pada aspekaspek yang mempengaruhi gaya kepemimpinan pengelola sanggar. Analisis data penelitian kualitatif deskriptif dilakukan dengan penyajian data observasi penelitian yaitu reduksi data, pemaparan data, dan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditemukan perbedaan gaya kepemimpinan dari kedua pemimpin sanggar nirlaba. Gaya kepemimpinan Pardiman Djoyonegoro di Omah Cangkem Mataraman termasuk tipe reproduktif, dimana sang pemimpin melibatkan keluarganya, hal ini merupakan wujud pengelolaan yang bersifat dinasti yang mempertahankan struktur dan nilai dominan dari arena sosial. Sedangkan gaya kepemimpinan Silvester Alvon di Sanggar Seni Notoyudan termasuk tipe representatif, dimana pemimpin melibatkan komunitas terdekatnya, hal ini merupakan wujud pengelolaan bersifat moderat, ditandai oleh kecenderungan pemimpin untuk mengelola sumber daya manusia yang termarjinalkan dari sosial masyarakat dan membuka partisipasi berbagai kalangan. Kepemimpinan tidak berdiri sendiri sebagai pilihan individu semata, melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara habitus, jenis dan volume modal, serta logika dari arena tempat kepemimpinan itu dijalankan