49728 research outputs found
Sort by
Perancangan buku visual sebagai media promosi wisata bori' kalimbuang di Toraja Utara
Bori' Kalimbuang merupakan kompleks tongkonan yang berdiri pada tahun 1718 yang terkenal memiliki batu sebanyak memiliki 102 yang berdiri tegak di sekitar kawasan Rante. Jumlah batu simbuang yang cukup banyak ini membuat proses pemasangan batu simbuang di Bori' Kalimbuang memiliki nilai yang sangat fantastis pada waktu itu. Selain batu simbuang, Bori kalimbuang memiliki Liang Paa’ atau kuburan batu tua dan kuburan bayi. Budaya dan sejarah di Boli kalimbuang sangat kental dan masih menjaga nilai leluhur. Namun masih banyak masyarakat di luar Toraja Utara yang belum mengenal keunikan budaya tempat wisata ini karena kurangnya publikasi dan literasi mengenai bori kalimbuang. Perancanga buku visual ini dirancang untuk membantu mempromosikan Bori kalimbuang ke masyarakat luar di luar Toraja Utara. Teknik pengumpulan data dilakukan secara observasi, wawancara, kajian literatur dan observasi. Medote analisis yang di gunakan adalah SWOT yaitu Strenght, Weakness, Opportunities, dan Threats. Prosese pengerjaan buku visual ini mengggunakan data tentang bori kalimbuang dan batu simbuang. Data tersebut akan digunkan dalam perancangan buku dan beberapa media tambahan. Gaya penulisan materi buku menggunakan materi literatur jelas dan padat agar mudah dipahami oleh target audiens. Penggunaan seni gambar digital dan desain membantu para pembaca lebih mudah mengenali dan memahami Bori kalimbuang.Harapan perancangan buku visual Bori’ Kalimbuang dapat membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya peninggalan budaya toraja, yaitu Bori’ kalimbuang
Perancangan Media Edukasi Mengenai Pengaruh Kondisi Learned Helplessness Terhasap Kehidupan Akademik Mahasiswa Desain
Mahasiswa desain memiliki tantangan unik dalam bidang akademiknya yang terletak pada tuntutan pemecahan maslah secara kreatif. Di samping itu, fase kehidupan pada tingkat pendidikn tinggi menawarkan berbagai tantangan dan tanggungjawab baru, sehingga menjadi faktor pemicu stres yang besar bagi dewasa muda yang meniti pendidikan desain. Dalam proses belajar, kegagalan menjadi hal wajar yang sering di hadapi, terutama ketika berhadapan dengan tantangan dan stres
Perancangan Interior Rumah Sakit Umum Tipe C Queen Latifa Yogyakarta
Perancangan Rumah Sakit Umum Queen Latifa Yogyakarta dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang berkualitas di tengah pertumbuhan pesat kota sebagai pusat pendidikan dan pariwisata. Meskipun telah berstatus Tipe C, rumah sakit ini menghadapi tantangan dalam menciptakan lingkungan yang tidak hanya fungsional tetapi juga mendukung kesehatan psikologis pasien. Permasalahan desain yang muncul berkaitan dengan bagaimana menciptakan ruang yang nyaman dan ramah, serta mengubah stigma negatif terhadap rumah sakit sebagai tempat yang menakutkan. Pada perencanaan dan pelaksanaan proyek ini dipilihlah konsep Healing Environment dengan tema besar “Sanctuary of Convalescence”, yang berfokus pada penciptaan suasana yang menenangkan dan bertujuan untuk memberi kesan Rumah Sakit Umum Queen Latifa ini adalah tempat perlindungan dan kedamaian yang dapat mendukung proses penyembuhan. Konsep dan tema ini mengintegrasikan elemen-elemen desain seperti pencahayaan alami, warna yang menenangkan, dan tata letak ruang yang mendukung interaksi sosial. Solusi desain yang dihasilkan menciptakan interior yang elegan dan modern, dengan penekanan pada kenyamanan dan aksesibilitas bagi pasien serta keluarga. Hasil akhir perancangan menunjukkan bahwa konsep Healing Environment dapat diterapkan pada tema perancangan dengan menciptakan atmosfer yang mendukung pemulihan fisik dan mental pasien. Redesain interior Rumah Sakit Umum Queen Latifa ini tidak hanya memberikan kenyamanan tetapi juga meningkatkan pengalaman pasien secara keseluruhan, membuktikan bahwa solusi desain ini memiliki keuntungan signifikan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Queen Latif
"Sonata n0. 1 dalam C mayor, opus. 15" untuk string ensemble : Implementasi idiom pelog dalam struktur sonata
Sonata khususnya pada abad ke XVII - XVIII di Italia, pada saat itu gaya komposisi didominasi oleh kemunculan bentuk sonata. Bentuk sonata mewakili semangat eksplorasi musik instrumental yang mulai memisahkan diri dari musik vokal. Penulis tertarik untuk meramu komposisi musik sonata untuk instrumen gesek yang menggunakan idiom pelog sebagai material utama. Rumusan ide Penciptaan karya ini yaitu untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi keterbatasan struktur harmoni dari idiom (tangga nada pentatonis) pelog untuk menghadirkan karakter sonata pada karya ”Sonata No.1 dalam C mayor, Opus.15”. Idiom pelog memiliki keterbatasan dalam hal struktural harmoni yaitu progresi yang terbatas dikarenakan hanya memiliki lima nada saja dalam satu oktaf. Penulis menggunakan idiom pelog dikarenakan jika tetap menggunakan titi laras pelog tradisi akan mengalami kontradiksi dalam hal penalaan jika dimainkan ke dalam instrumen barat yang menggunakan sistem diatonis. Penelitian ini ditujukan untuk menghadirkan karakter musik pada struktur sonata. Proses penelitian pada komposisi “Sonata No.1 dalam C mayor, Opus.15” ditujukan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang dilakukan dengan melalui merumuskan ide penciptaan, mengkaji sumber literatur dan karya, proses mengumpulkan data, dan melakukan analisis naratif dalam gerakan pertama yang merupakan bentuk sonata dalam sonata ini. Karya ”Sonata No.1 dalam C mayor, Opus.15” dapat diketahui bahwa dalam upaya untuk mengatasi keterbatasan struktur harmoninya dan menghadirkan karakter musik dalam struktur sonata dapat dilakukan dengan menerapkan manipulasi ritme, manipulasi tekstur, dan manipulasi sentralisasi. Manipulasi perlu dilakukan dikarenakan bahwa sonata merupakan prosedur komposisi bukan sebatas aturan bentuk musik. Sebagai prosedur maka pembentukan karakter musik sonata tidak semata ditentukan oleh aturan bentuk
Perancangan Interior Gedung Clubhouse Palm Springs Golf Karawang
Letaknya yang berdekatan dengan berbagai kawasan industri besar di Karawang menjadikan pengunjung Palm Springs Golf & Country Club Karawang didominasi oleh ekspatriat dan pebisnis untuk bermain golf dan membangun jaringan bisnis. Peluang ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan budaya setempat, seperti wayang golek, kepada ekspatriat melalui desain interior clubhouse. Proses desain yang digunakan dalam perancangan Palm Springs Golf & Country Club Karawang adalah proses Design Thinking Double Diamond. Tahapan proses desain yang dilakukan meliputi discover, define, develop, dan deliver untuk menghasilkan desain yang dapat menjawab permasalahan. “The Intersection: A Social and Cultural Hub” menjadi konsep yang digunakan dalam perancangan dengan memfokuskan pada 'connectivity' pengguna melalui peletakan layout, 'harmonious' melalui perpaduan wayang golek dengan gaya desain luxury dan kontemporer, 'dynamic' melalui bentuk organik, dan 'tranquil' melaui sentuhan alami seperti tanaman. Hasilnya, perancangan Palm Springs Golf & Country Club Karawang menjadi sebuah ruang yang dapat mendorong pengguna untuk melakukan interaksi sosial untuk membantu pengunjung membangun jaringan bisnis sekaligus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan setempa
Visualisasi Emosi Tokoh Utama dengan Dynamic Shot dalam Sinematografi Film Pendek Fiksi “Senandung Bapak di Penghujung Hari”
Film “Senandung Bapak di Penghujung Hari” bercerita tentang seorang ayah yang tidak membicarakan masalahnya pada anak dan istrinya karena ingin memendamnya sendiri. Film ini akan memberikan gambaran bagaimana beratnya seorang ayah yang tidak ingin membagi beban dan ingin menanggung semuanya meskipun masalah tersebut sangat berat. Sepanjang film bertumpu dan mengikuti tokoh utama dalam menghadapi seluruh konfliknya. Konflik tersebut menimbulkan emosi kesedihan pada tokoh utama. Penciptaan karya ini bertujuan untuk mengeksplorasi dynamic shot dalam sinematografi sebagai visualisasi emosi tokoh utama dalam film “Senandung Bapak di Penghujung Hari”. Dynamic shot meliputi kombinasi subject in motion dan camera in motion (camera movement, komposisi, camera angle dan shot size) diterapkan untuk mendukung penceritaan visual yang menggambarkan kompleksitas emosi tokoh utama. Penciptaan ini mengidentifikasi bagaimana gerakan kamera yang dinamis dapat menciptakan kedalaman emosional, meningkatkan intensitas adegan, serta membangun koneksi antara tokoh utama dan penonton. Dampak tersebut menunjukkan bahwa dynamic shot berperan signifikan dalam menciptakan suasana dramatis, memperkuat emosi dan menggambarkan perkembangan psikologis tokoh utama sehingga berpengaruh terhadap tensi dramatik dalam film
Perancangan Interior Captain`s Club College Yogyakarta
Industri kapal pesiar di Indonesia berkembang pesat seiring dengan meningkatnya permintaan wisatawan, menjadikannya salah satu sektor yang tumbuh paling cepat. Hal ini mendorong kebutuhan akan sumber daya manusia yang kompeten di sektor ini, sehingga lembaga pendidikan kapal pesiar semakin penting. Captain’s Club College Yogyakarta merupakan sekolah kapal pesiar dan perhotelan yang berlokasi di Yogyakarta. Perancangan Captain`s Club College Yogyakarta ini melibatkan proses discover,define,develop dan deliver untuk menjawab permasalahan yang ada agar dapat menghasilkan output desain yang efektif. Sekolah ini menghadapi masalah terkait desain ruang, aksesibilitas, dan suasana yang kurang mencerminkan lingkungan kapal pesiar. Konsep entertainment architecture dan human centered design digunakan sebagai solusi dari permasalan keruangan yang beragam dan kompleks. Pengunaan konsep entertainment architecture dan konsep human centered design dalam desain menghasilkan interior ruangan yang mensimulasikan kapal pesiar dengan ciri art deco dengan organisasi ruang yang lebih baik sehingga kenyamanan dalam proses belajar mengajar dapat tercapai secara maksimal
Transformasi penyajian kesenian Bantengan di Kabupaten Malang, Jawa Timur
Pertunjukan kesenian Bantengan di wilayah Kabupaten Malang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat setempat. Kostum yang menyerupai banteng dan iringan musik tradisional gamelan yang sudah dikreasikan membuat pertunjukan ini selalu menarik perhatian masyarakat Malang. Perkembangan yang dialami kesenian Bantengan bukan sebuah kemunduran, melainkan merupakan proses kreatif yang bertujuan untuk menjaga keberlanjutan dan eksistensi warisan kesenian leluhur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan secara etnomusikologi. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa bantengan khususnya di kabupaten Malang mengalami transformasi. Wujud nyata dari adanya transformasi pada kesenian ini dapat dilihat dari musik pengiring digantikan oleh musik elektronik. Kemunculan Sound Horeg mempengaruhi aspek sajian kesenian Bantengan. Hubungan dan keterkaitan Sound Horeg dengan Kesenian Bantengan menimbulkan banyak pro dan kontra. Banteng yang digunakan pada kesenian itu sendiri kini telah berubah dengan inovasi dan kreativitas masyarakat. Bahan -bahan, dan wujud banteng yang lebih ceria. Dengan bahan yang lebih inovatif, lampu, kain kain yang cerah dan kreasi kreasi pada gerakan yang dimainkan oleh anggota pemain tersebut mampu menarik daya respon dari semua kalangan. Erat kaitanya Kesenian Bantengan dengan sumber daya manusia, khususnya masyarakat sekitar kelompok Kesenian. Masyarakat sekitar banyak merasakan manfaat dari adanya kelompok Kesenian Bantengan ini, dikarenakan bisa menjadi lapangan pekerjaan
Gending liturgi dalam perayaan misa Vigili Paskah di Gereja St.Petrus Kanisius Wonosari
Penelitian ini membahas bentuk dan penyajian gending dalam Misa Vigili Paskah di Gereja St. Petrus Kanisius Wonosari sebagai wujud inkulturasi musik liturgi dalam tradisi katolik. Gereja St. Petrus Kanisius Wonosari dikenal sebagai salah satu gereja yang mendukung inkulturasi, khususnya melalui penggunaan unsur-unsur musik tradisional Jawa (karawitan) dalam perayaan liturgi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk gending yang digunakan serta bagaimana penyajiannya dalam Misa Vigili Paskah di Gereja St. Petrus Kanisius Wonosari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan penyajian data secara diskripsi analisis. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan pelaku liturgi dan pengrawit, serta dokumentasi audio-visual selama perayaan Misa Vigili Paskah di Gereja St. Petrus Kanisius Wonosari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gending yang digunakan meliputi beberapa bentuk gending Jawa seperti ladrang, ketawang, dan lancaran, yang disesuaikan dengan bagian-bagian liturgi seperti pembukaan, bacaan, pemercikan air suci, dan komuni. Penyajian gending dilakukan menggunakan iringan gamelan lengkap dan vokal paduan suara suara umat yang disusun secara kontekstual serta memperhatikan nuansa sakral liturgi, tanpa menghilangkan esensi budaya lokal. Hal tersebut menciptakan sebuah perpaduan harmonis antara nilai-nilai iman katolik dan ekspresi budaya Jawa, serta memperkuat rasa keterlibatan umat dalam perayaan iman mereka
Penerapan Konsep Mirabilia pada Perancangan Desain Interior Kafe A&M Co Yogyakarta
Perkembangan digital dan industri kreatif telah mengubah fungsi ruang publik, termasuk kafe sebagai ruang multifungsi yang mendukung gaya hidup modern, serta aktivitas konten digital. Studi ini mengangkat fenomena transformasi kafe menjadi ruang sosial dan studio konten dengan fokus pada kawasan Prawirotaman, Yogyakarta, yang kental akan nilai kulturnya dan aktivitas wisatanya. Dengan pendekatan desain interior berbasis pengalaman pengguna (user-experience), penelitian ini berupaya merespons kebutuhan model dan videomaker serta content creator akan ruang yang estetis, fleksibel, serta mendukung storytelling visual. Salah satu objek studi yang dianalisis adalah A&M.Co Jogja, sebuah kafe dengan konsep hybrid yang menggabungkan estetika modernis dan budaya lokal, tetapi masih menghadapi tantangan dalam penciptaan ruang kerja yang fokus dan inklusif. Metode perancangan mengacu pada tahapan desain menurut Rosemary Kilmer, mencakup analisis kebutuhan, pencarian ide, pengembangan alternatif desain, hingga evaluasi. Konsep desain yang diusulkan mengadaptasi pendekatan Mirabilia, yaitu menciptakan ruang yang mampu membangkitkan rasa kagum melalui warna, pencahayaan, bentuk, dan narasi visual. Hasil dari studi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan kafe yang tak hanya memenuhi fungsi rekreasi dan kuliner, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis digital