49728 research outputs found
Sort by
Perancangan interior gedung VVIP presiden dan menteri Bandara Internasional Kualanamu Medan
Gedung VVIP Presiden dan Menteri Bandara Internasional Kualanamu Medan dirancang untuk melayani tamu VVIP pada acara PON 2024 dan kegiatan kenegaraan lainnya yang berlangsung di Sumatera Utara. Terletak di Ps. Enam Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara, gedung ini dibangun di atas lahan 10.281 m² sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan infrastruktur bandara dan transportasi udara. Perancangan interior gedung ini menggunakan metode analisis, sintesis, dan evaluasi untuk menghasilkan desain yang mengutamakan sistem keamanan tinggi serta mengusung konsep lokalitas Sumatera Utara sebagai cerminan identitas bangsa. Mengusung tema ”The Elegance in Unity” sebagai simbolis kemewahan dari gaya modern luxury; dan persatuan sebagai indentitas Bangsa Indonesia, perancangan ini mengombinasikan budaya dari tiga suku besar Sumut, yaitu Batak sebagai sumber inspirasi ambience dan tata letak ruang, Melayu sebagai sumber inspirasi warna, dan Nias sebagai sumber inspirasi komposisi bentuk. Perancangan gedung ini mengoptimalkan penggunaan material berkualitas tinggi, menyelaraskan antara estetika dan fungsionalitas, serta inovasi dan eksplorasi bentuk dengan memanfaatkan teknologi dan bahan modern. Dengan demikian, perancangan gedung ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan fasilitas bagi tamu VVIP serta mampu memenuhi kebutuhan akomodasi pariwisata Sumatera Utara sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan citra kota di kancah internasional. Kata kunci: Gedung VVIP Kualanamu, Budaya Sumatera Utara, Modern luxur
Keresahan penyandang buta warna dalam penyutradaraan film dokumentasi "Warna Lain" dengan gaya performatif
Buta warna merupakan sebuah kelainan penglihatan yang menyebabkan seseorang kesulitan dalam membedakan warna-warna tertentu. Kemampuan penglihatan warna yang baik menjadi hal penting, terutama dalam bidang pendidikan dan pekerjaan yang memerlukan kondisi kesehatan bebas buta warna sebagai syarat pendaftaran. Hal tersebut menyebabkan penyandang buta warna merasa resah karena kehilangan kesempatan untuk memilih bidang pendidikan dan pekerjaan tersebut. Film dokumenter “Warna Lain” mengangkat tentang keresahan penyandang buta warna yang disampaikan dengan gaya performatif. Keresahan tersebut meliputi bagaimana reaksi seseorang ketika menyadari bahwa dirinya mengalami kelainan buta warna, kendala dalam keseharian, respon lingkungan sekitar, kekhawatiran masa depan, hingga pembuktian keberhasilan penyandang buta warna dalam melakukan aktivitas yang selalu berhubungan dengan warna. Gaya performatif pada film “Warna Lain” mengedepankan aspek subjektif dan aspek ekspresif, dengan tujuan mempengaruhi penonton untuk dapat merasakan kedekatan dengan subjek melalui keterlibatan pembuat film. Aspek subjektif diwujudkan dengan penggunaan narasi oleh penyandang buta warna dan didukung dengan penggunaan sudut kamera subjektif, sedangkan aspek ekspresif diwujudkan melalui ilustrasi, reka ulang adegan, tanda dengan makna konotasi, penggunaan bait, serta dokumentasi dalam bentuk footage, screen record, dan screenshot
Membangun imajinasi tokoh utama menggunakan unsur warna setting, cahaya, dan wardrobe dalam mise-en-scene penyutradaraan film fiksi hibrida live action-animasi 2D “Vacant Buddy”
Karya tugas akhir berjudul Membangun Imajinasi Tokoh Utama Menggunakan Unsur Warna Setting, Cahaya, dan Wardrobe dalam Mise-En-Scene Penyutradaraan Film Fiksi Hibrida Live Action-Animasi 2D “Vacant Buddy” adalah sebuah karya film pendek, membahas tentang seorang anak yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah dikarenakan perselingkuhan. Isu ini diangkat setelah maraknya berita tentang fatherless yaitu adanya seorang ayah dalam sebuah keluarga tetapi tidak memberi peran maupun kasih sayang kepada keluarganya. Tokoh utama yang kesepian akhirnya bertemu dengan teman imajinasinya yang akan membawanya ke dunia bermain sama seperti dahulu saat bermain dengan ayahnya. Warna merupakan salah satu unsur pendukung mise-en-scene yang berpengaruh pada setiap film. Sutradara akan terlibat dengan beberapa kru film untuk memilih dan memutuskan warna apa yang tepat untuk setiap adegannya. Dengan penggabungan warna yang baik akan menghasilkan harmoni pada setiap komposisinya. Teknik warna dalam mise-en-scene film ini yang terdiri dari pencahayaan, tata artistiks, kostum dan tata rias, akan memberikan dunia baru yaitu imajinasi kepada tokoh utama. Penerapan warna colorful dan warna kusam memberikan penekanan sesuai dengan suasana serta emosi dalam setiap adegan di film “Vacant Buddy”. Dalam film ini menggunakan konsep warna dalam mise-en-scene¬ untuk membangun imajinasi yang bertujuan menggali dan memahami peran serta penerapan warna dalam membangun imajinasi tokoh utama. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan warna dalam mise-en-scene tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memiliki peran penting dalam menyampaikan emosi, psikologi dan perkembangan naratif karakter. Penggunaan warna dalam “Vacant Buddy” berhasil menciptakan hubungan emosional antara tokoh utama dan teman imajinasinya sekaligus mempertegas dualitas dunia nyata dan imajinasi. Kombinasi warna mampu menggambarkan kondisi mental tokoh utama disaat Ara senang dengan dunia imajinasinya maupun saat ia kehilangan dunia imajinasi
Manajemen produksi dua pementasan masquerade: a story behind the mask (2023) enervated: as a mirror reflects the untold (2024) oleh Teater Jubah Macan SMA Negeri 3 Yogyakarta
Skripsi ini memilih obyek kajian manajemen produksi Teater Jubah Macan SMA Negeri 3 Yogyakarta dalam dua pementasan teater, yaitu "Masquerade: A Story Behind The Mask" yang dipentaskan pada tahun 2023 dan "Enervated: As The Mirror Reflects The Untold" yang dipentaskan pada tahun 2024. Penelitian ini untuk menyoroti pentingnya manajemen produksi yang efektif, dalam sebuah pementasan. Manajemen merupakan cara untuk memperlancar jalannya pementasan, mencakup aspek artistik dan non-artistik. Dalam teater, manajemen produksi memainkan peran krusial dalam mengatur berbagai aspek yang terlibat dalam pementasan. Penelitian ini menggunakan teori lima fungsi manajemen dari George Terry dan Leslie Rue. Lima fungsi tersebut meliputi dari perencanaan, pengorganisasian, penentuan sumber daya manusia, pemberian motivasi, dan pengendalian. Manajemen dapat membantu mewujudkan produksi karya secara maksimal serta tersusun .Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, yang mencakup wawancara mendalam dan observasi langsung. Hal ini untuk memahami fungsi personel kunci seperti sutradara, pimpinan produksi, dan anggota tim lainnya. Teknik wawancara digunakan untuk menggali aspek-aspek tugas para pelaku pementasan yang terlibat. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik manajerial yang terstruktur dan sistematis, berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan pementasan teater. Manajemen yang baik tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam alokasi sumber daya, tetapi juga memperkuat komunikasi antar anggota tim, yang pada gilirannya meningkatkan keterlibatan audiens dan pengalaman para pelaku pementasan
Persepsi dan selera musik penggemar K-Pop BTS “Army” terhadap Noraebang (Karaoke) di Yogyakarta
Korean Pop (K-Pop) merupakan fenomena global yang semakin populer di berbagai kalangan, terutama remaja dan dewasa. Musik K-Pop dikenal bukan hanya karena lagu-lagunya yang catchy dan penampilan visual yang menarik, tetapi juga karena kemampuannya membentuk komunitas penggemar yang kuat dan aktif. Komunitas ini tidak hanya terbatas pada dukungan terhadap idola, tetapi juga menciptakan budaya tersendiri, seperti mengikuti konser, membeli merchandise, hingga mengikuti kegiatan khas seperti Noraebang. Noraebang merupakan istilah Korea untuk tempat karaoke yang menjadi ruang bagi penggemar untuk menyanyikan lagu-lagu favorit mereka. Bagi penggemar K-Pop, khususnya ARMY (fandom resmi BTS), Noraebang bukan hanya tempat hiburan, melainkan juga menjadi ruang untuk mengekspresikan identitas, berbagi emosi, dan mempererat hubungan sosial dengan sesama penggemar. Penelitian ini berfokus pada pengalaman penggemar BTS di wilayah Yogyakarta dalam mengikuti acara Noraebang. Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana ARMY memaknai aktivitas ini dalam kehidupan mereka sebagai penggemar. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji bagaimana Noraebang dapat mempengaruhi preferensi musik mereka, serta melihat peran sosial dan emosional yang muncul dalam kegiatan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman pribadi para partisipan secara mendalam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung saat acara berlangsung serta wawancara mendalam dengan informan yang merupakan bagian dari komunitas ARMY. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Noraebang menjadi media yang penting dalam kehidupan sosial dan musikal para penggemar. Mereka tidak hanya menyanyikan lagu BTS sebagai bentuk loyalitas, tetapi juga memperluas selera musik dengan mencoba lagu dari artis K-Pop lainnya. Noraebang juga menjadi sarana untuk menguatkan identitas sebagai ARMY dan tempat untuk membangun koneksi sosial. Penelitian ini memberi gambaran nyata bagaimana budaya populer seperti K-Pop beradaptasi di Indonesi
Swarupa
Karya tari ini mengekspresikan dualitas karakter Arimbi dan proses transformasinya secara visual dan emosional: Arimbi sebagai raseksi yang kuat dan menakutkan, serta Dewi Arimbi yang cantik dan anggun. Swarupa mengacu pada konsep dalam agama Hindu yang berarti perwujudan, bentuk, atau esensi. Swarupa merujuk pada wujud atau bentuk sejati dari sesuatu yang mungkin tersembunyi di balik penampilan luarnya serta transformasi internal dan eksternal yang dialami oleh tokoh Arimbi. Tema utama karya ini adalah transformasi wujud yang terjadi karena ketulusan hati Arimbi dalam memperjuangkan cinta Werkudara, yang melambangkan perbedaan antara outer beauty (keindahan fisik) dan inner beauty (keindahan hati). Karya ini mengilustrasikan bagaimana meskipun Arimbi memiliki penampilan fisik yang dianggap buruk, ketulusan dan kekuatan batinnya menciptakan kecantikan sejati yang lebih bermakna daripada sekadar penampilan luar. Karya “Swarupa” dikemas dengan bentuk koreografi kelompok berjumlah tujuh orang penari perempuan dan seorang penari laki-laki. Dengan pijakan dan motif gerak putri gaya Surakarta yang di kembangkan oleh penata, serta pola-pola gerak tari Surakarta. Musik yang digunakan adalah musik live dengan iringan gamelan laras pelog. Tipe tari dalam karya ini adalah tipe tari dramatik. Karya ini juga menggunakan gerak representasional. Karya ini menggunakan artistik berupa kain putih sebagai siluet dan trap yang di sekat dan dapat berputar. Kain putih yang digunakan sebagai siluet menciptakan harapan dan kerinduan, menunjukkan bagaimana Arimbi mendambakan cinta sejatinya. Sedangkan trap sekat berputar berfungsi sebagai simbol dualitas Arimbi sebagai raseksi dan dewi
"Rock concerto in D for orchestra" penerapan integrasi elemen sub-genre symphonic rock dengan konsep concerto for orchestra dalam komposisi format mix ensemble
“Rock Concerto in D for Orchestra” merupakan komposisi musik absolut yang dibuat dengan menerapkan elemen dari sub-genre symphonic rock. Komposisi musik tersebut dibuat menggunakan bentuk musik concerto dengan format mix ensemble. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan suatu penemuan oleh Paul Hindemith yang disebut ‘concerto for orchestra’. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk komposisi concerto melalui penggabungan konsep elemen dari sub-genre symphonic rock dengan penerapan bagian cadenza. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi untuk menyusun komposisi “Rock Concerto in D for Orchestra”. Pembuatan komposisi ini dilakukan melalui berbagai tahapan. Penulis membuat komposisi ini dengan menentukan ide penciptaan dan judul komposisi dalam waktu yang bersamaan, observasi, eksplorasi, penyusunan konsep komposisi, penyusunan instrumen, penggarapan detail komposisi, dan penulisan notasi menggunakan program Sibelius. Eksplorasi dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan observasi yang didapatkan terkait elemen-elemen yang diterapkan dalam komposisi tersebut. Penerapan elemen sub-genre symphonic rock yang penulis integrasikan dengan temuan oleh Paul Hindemith memberikan kombinasi yang cukup variatif dalam pembuatan komposisi “Rock Concerto in D for Orchestra”. Penulis menemukan bahwa penerapan elemen sub-genre symphonic rock dapat dilakukan dengan mengintegrasikan beberapa komponen musik lainnya. Beberapa komponen tersebut yaitu teknik dalam musik avant-garde, musik abad ke-20, serta beberapa karya musik di luar sub-genre symphonic rock. Penelitian melalui penggabungan komponen-komponen tersebut memberi pemahaman kepada penulis bahwa teknik dalam musik klasik dapat menjadi sumber penciptaan dalam dunia musik roc
Penciptaan skenario film nirankara berdasarkan intoleransi dan egosentris beragama di Indonesia
Skripsi penciptaan ini bertujuan untuk menghasilkan skenario film pendek berjudul Nirankara yang merepresentasikan isu intoleransi dan egosentrisme beragama dalam konteks masyarakat Indonesia. Fenomena intoleransi antar umat beragama yang semakin menguat, baik dalam skala personal maupun komunal, menjadi latar belakang utama penciptaan. Karya ini juga berangkat dari pengalaman empiris penulis mengenai penolakan hubungan beda agama dalam lingkungan keluarga serta diskriminasi terhadap adat-istiadat Hindu Bali. Metode penciptaan yang digunakan mengacu pada model proses kreatif Graham Wallas yang meliputi tahap persiapan, inkubasi, pencerahan, dan verifikasi. Kerangka teori yang melandasi penciptaan mencakup teori psikoanalisis Jacques Lacan untuk membangun karakter dengan kompleksitas psikologis, teori struktur dramatik tiga babak untuk membentuk narasi yang terorganisasi secara dramatik, dan teori sinematografi (khususnya aspek framing) untuk memperkuat representasi visual dan makna simbolik dalam narasi. Skenario Nirankara dirancang dalam format film pendek berdurasi 15-20 menit dengan pendekatan realisme dramatik, mengangkat kisah relasi cinta dua individu berbeda keyakinan yang dihadapkan pada tekanan keluarga, budaya, dan sistem kepercayaan. Karya ini menekankan bahwa kasih sebagai nilai transenden dalam ajaran iman dapat menjadi kekuatan pemulih di tengah fragmentasi sosial akibat fanatisme dan prasangka. Dengan demikian, penciptaan ini tidak hanya menjadi medium artistik, tetapi juga bentuk refleksi kritis dan ajakan terhadap rekonstruksi nilai-nilai toleransi dalam masyarakat majemu
Pemanfaatan teknik pernapasan diafragma untuk mencapai nada tinggi dalam bernyanyi pada mahasiswa vokal pendidikan musik ISI Yogyakarta
ABSTRAK Bernyanyi merupakan serangkaian kegiatan untuk mengungkapkan ekspresi melalui melodi dalam nyanyian. Bernyanyi sering menggunakan nada- nada yang rendah hingga nada tinggi. Kemampuan membidik nada tinggi sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa vokal, terutama jika tidak disertai dengan teknik pernapasan yang baik. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan tersebut adalah pernapasan diafragma. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pada saat berlatih teknik pernapasan diafragma dan menganalisis hasil pemanfaatan pernapasan diafragma yang digunakan ketika akan membidik nada tinggi saat bernyanyi pada mahasiswa mayor vokal pop-jazz Program Studi Pendidikan Musik angkatan 2024 Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa latihan pernapasan diafragma secara konsisten mampu meningkatkan kontrol napas dan kekuatan vokal mahasiswa, khususnya saat menghadapi bagian-bagian lagu yang menuntut nada tinggi. Penelitian ini memperkuat literatur yang menyatakan bahwa pernapasan diafragma merupakan salah satu komponen penting dalam teknik vokal yang mendukung produksi suara optimal, khususnya pada nada-nada tinggi. Temuan ini dapat digunakan sebagai referensi bagi pelatih vokal dalam menyusun program pelatihan yang lebih menitikberatkan pada penguasaan teknik pernapasan, serta memotivasi mahasiswa vokal untuk lebih konsisten dalam menerapkannya guna menunjang peningkatan kualitas suara secara menyeluruh. Kata kunci: bernyanyi; nada tinggi; pernapasan diafragma; teknik vokal
Penerapan shape language untuk menonjolkan perwatakan pada karakter dalam flm animasi 2D "Contrast : Two Sided Life"
Animasi dengan penceritaan yang bagus tak luput dari penokohan karakter yang menarik. Desain karakter yang efektif berperan penting dalam memperkuat watak dan penokohan dalam karya animasi. Pendekatan yang digunakan adalah Shape Language, yaitu teknik yang memanfaatkan bentuk-bentuk dasar dalam perancangan karakter. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan rancangan karakter yang unik dan menarik untuk film animasi 2D “Contrast : Two Sided Life”. Penelitian ini menggunakan metode ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation & Evaluation) untuk merancang dan mengembangkan karakter yang memiliki perwatakan yang kuat sesuai dengan narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik Shape language dapat lebih menonjolkan sifat dan perwatakan sebuah karakter secara visual