49728 research outputs found
Sort by
Garap ricikan rebab gendhing kaduk manis laras pelog pathet nem kendhangan sarayuda
Skripsi yang berjudul “Garap Ricikan Rebab Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda” adalah penelitian yang berbasis pada garap ricikan rebab. Gendhing Kaduk Manis yang terdapat dalam manuskrip Serat Pakem Wirama Wiled Gendhing Bredangga Laras Pelog, yang pada dasarnya merupakan gendhing soran. Dalam kajian ini, penulis menggarap gendhing tersebut ke dalam format lirihan gaya Yogyakarta, mengingat belum ditemukannya referensi terdahulu yang menyajikan versi lirihan gaya tersebut. Oleh karena itu, proses penggarapan memerlukan pertimbangan mendalam, khususnya terhadap ricikan ngajeng, terutama ricikan rebab sebagai pamurba lagu.Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan serta mendeskripsikan garap rebab dalam Gendhing Kaduk Manis Laras Pelog Pathet Nem Kendhangan Sarayuda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis garap rebab dalam gendhing tersebut. Peralihan dari format soran ke lirihan ini melalui proses tafsir dan analisis yang meliputi pola tabuhan balungan, struktur padhang-ulihan, pathet, kosokan, serta berbagai jenis cengkok rebab, termasuk cengkok umum, khusus, gantungan, dan tuturan. Selain itu, konsep nunggal-misah antara rebab dan balungan dianalisis dan disajikan dalam bentuk notasi rebaban lengkap dengan grafik, untuk memudahkan pemahaman alur lagu. Secara teknis penggarapan, penulis menerapkan irama 4 pada bagian dhawah cengkok kedua ulihan pertama hingga cengkok pertama ulihan kedua, serta penempatan andhegan menjelang gong cengkok kedua yang terinspirasi dari Gendhing Onang-Onang. Salah satu keunikan gendhing Kaduk Manis terdapat pada bagian dhawah cengkok kedua, khususnya gatra ke-3 kenong ketiga, yaitu balungan . 7 . 6. Kehadiran nada 7 (barang) adalah sebagai pengganti nada 1 (penunggul), meskipun balungan menunjukan seleh 7, ricikan rebab memainkan nada 1 dengan tetap mengacu pada pathet induknya, yaitu pelog pathet nem. Kasus yang sama juga ditemui pada gendhing Kagok Laras. Kosokan yang digunakan mencakup kosokan nibani, mbalung, nduduk, dan wangsul
Pencemaran sampah pantai Parangtritis sebagai ide motif batik kontemporer dalam busana modest wear
Pencemaran pantai adalah situasi di mana bahan-bahan berbahaya seperti sampah, zat kimia, dan limbah masuk ke ekosistem pantai, yang menyebabkan kerusakan lingkungan serta berdampak negatif pada kesehatan makhluk hidup. Fenomena ini sering terjadi akibat aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab,seperti membuang sampah sembarangan, sehingga sampah tersebut terbawa arus ke laut dan mencemari perairan, mengancam kehidupan laut. Salah satu contoh pantai yang tercemar adalah pantai parangtritis, yang terpengaruh oleh masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang terhubung langsung ke laut. Sampah yang dibuang terbawa arus sehingga menumpuk di tepi pantai. Dalam proses penciptaan karya ini, digunakan beberapa pendekatan, termasuk pendekatan estetika dan ergonomi, serta metode penciptaan yang terdiri dari tiga tahap enam langkah menurut SP. Gustami, yang mencakup eksplorasi, perancangan, pewujudan. Teori yang menjadi landasan dalam proses penciptaan busana ini adalah teori estetika dan ergonomi. Teknik Yang digunakan dalam pembuatan busana ini adalh batik tulis dan pewarnaan remasol dengan teknik colet. Motif batik yang dihasilkan mencakup biota laut seperti terumbu karang, hiu, penyu, kuda laut, kerang, ikan pari, serta sampah organik dan anorganik, dan juga kalimat “The Ocean Is Not A Trash Can”. Desain motif batik ini diaplikasikan pada busana modest wear. Proses pembuatan karya meliputi mendesain busana dan batik, pembuatan pola busana, menjiplak pola dan motif batik pada kain, mencanting, pewarnaan, mengunci warna, nglorod, menggunting kain, menjahit, dan finishing. Karya akhir ini menghasilkan ena busana dengan celana yang serupa namun atasan yang berbeda, berwarna transformative teal yang merupakan kombinasi hijau dan biru, merah, serta putih, dengan judul “The Ocean” Kata Kunci: pencemaran pantai, batik, modest wea
Peran gaya Penceng dalam memenuhi selera musik anak muda Karo
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengapa gaya musik penceng dapat memenuhi selera musik anak muda desa Durian Tinggung. Berdasarkan fenomena pro kontra yang terjadi dikalangan masyarakat. Bagi orang tua dan beberapa seniman etnik menganggap musik penceng terkesan negatif bahkan bukan bagian dari budaya Karo. Sementara, anak muda menganggap musik penceng menjadi bagian dari budaya mereka, karena dapat mengakomodir soal gairah yang mereka butuhkan. Untuk menjelaskan data yang sudah dikumpulkan, penelitian ini menggunakan konsep habitus, modal budaya dan modal soisal Bourdieu. Modal budaya akan menjelaskan proses pembentukan pengetahuan dan keterampilan musik penceng yang dimiliki oleh pemain keyboard. Habitus menjelaskan proses sistem disposisi terbentuk pada musisi dan anak muda. Sementara, modal sosial akan memotret proses kesenangan kolektif yang menjadi tujuan anak muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Instrumen pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, studi pustaka dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengetahuan dan keterampilan bermain musik penceng musisi terbentuk akibat sosialsiasi masa lalu yang membentuk struktur, proses tersebut dinamakan cara kerja terstruktur. Struktur yang terstruktur tersebutlah yang dimaskud dengan habitus atau sistem disposisi. Habitus musisi tersebut pada akirnya akan menstruktur, proses ini terlihat pada saat musisi dapat mempengaruhi anak muda untuk berjoget dengan agresif. Kesenangan koletif merupakan efek yang ditularkan musisi melalui keterampilan dan pengetahuanya. Kesenangan kolektif ini secara tidak langsung menjadi salah satu usaha anak muda untuk merawat selera musik penceng yang sudah terbentuk
Proses kreatif penciptaan tari Panca Paramasti Di Sanggar Bengkel Seni Sasana Aji Borobudur Kabupaten Magelang
Tari Panca Paramasti merupakan tari kreasi baru yang diciptakan oleh Lukman Fauzi di Sanggar Bengkel Seni Sasana Aji (BSSA) pada tahun 2024. Panca Paramasti mengangkat permasalahan perundungan (bullying) dalam bentuk tari kelompok. Ragam gerak tari ini dikembangkan dari gerak dasar tari Jawa Tengah gaya Surakarta, gerakan pendukung tema perundungan, serta gerak dari pose-pose relief Candi Borobudur. Berdasarkan hal tersebut penulis ingin mengetahui lebih mendalam tentang tari Panca Paramasti serta proses kreatif yang dilakukan selama penciptaan tari tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis dengan menggunakan teori kreativitas Rhodes Four P’s of Creativity: Person, Press, Process, Product. Proses penciptaan Tari Panca Paramasti yang diterapkan oleh Lukman Fauzi dijelaskan dengan konsep penciptaan tari Alma Hawkins yaitu melalui tahap eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi. Tari Panca Paramasti adalah hasil karya Lukman Fauzi sebagai seorang seniman, yang didorong karena empatinya terhadap permasalahan perundungan dan keinginan anak didiknya untuk mengikuti sebuah ajang perlombaan. Penemuan gerak dilakukan dengan eksplorasi pose-pose relief dan gerak seharihari yang biasa terjadi dalam perundungan, improvisasi dilakukan terhadap gerak dalam perundungan hasil eksplorasi, evaluasi dilakukan untuk menilai dan menyeleksi ragam gerak yang dihasilkan pada tahap sebelumnya, dan tahap pembentukan digunakan untuk merangkai ragam gerak menjadi sebuah tari. Tari Panca Paramasti ditarikan oleh 5 (lima) orang perempuan berlatar usia remaja, dengan mengenakan kostum tari kreasi terdiri dari baju, celana, dan kain tenun berwarna hijau. Tarian ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian introduksi sebagai pengenalan masing-masing karakter tokoh, bagian inti menceritakan proses perundungan, dan bagian akhir tentang kebersamaan yang diiringi musik bernuansa Jawa dengan pembagian latar suasana mengacu pada pembagian gerak tari
Performativitas pemain kendang perempuan dalam Kesenian Ebeg di Banyumas Jawa Tengah
Penelitian ini mengkaji transformasi gender dalam kesenian Ebeg Banyumas melalui fenomena kehadiran Firda Apriani sebagai pemain kendang perempuan. Secara historis, kesenian Ebeg yang dikenal dengan unsur mistis dan penggunaan kuda kepang telah lama menampilkan segregasi peran berbasis gender. Melalui pendekatan analisis kritis, penelitian ini mengungkap bagaimana masuknya pemain kendang perempuan tidak hanya menantang norma tradisional, tetapi juga mencerminkan pergeseran dinamika sosial-budaya dalam masyarakat Banyumas. Studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan Firda dalam memainkan kendang jaipong dan kendang ciblon Banyumasan tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan teknisnya, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti latar belakang keluarga seniman dan penampilan fisik. Fenomena ini menghadirkan pertanyaan kritis tentang standar ganda dalam penilaian performativitas perempuan di ruang publik tradisional. Meskipun kehadirannya dianggap sebagai terobosan progresif, penelitian ini juga menggarisbawahi bagaimana eksploitasi media sosial dan aspek visual dapat menguatkan stereotip gender yang ada, sekaligus membuka diskusi tentang autentisitas dan modernisasi dalam pelestarian seni tradisional
Strategi rumah orkestra jogja untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik orkestra melalui tema pertunjukan anime ghibli
Fokus penelitian ini mengenai minat masyarakat Indonesia terutama di kota Yogyakarta terhadap musik orkestra tergolong rendah jika dibandingkan dengan musik band dan musik-musik pop. Perlu adanya strategi untuk meningkatkan apresiasi musik orkestra seperti mengambil tema pertunjukan yang sedang popular di kalangan masyarakat salah satunya tema Ghibli yang dilakukan oleh Rumah Orkestra Jogja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi Rumah Orkestra Jogja dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik orkestra melalui pertunjukan bertema anime Ghibli. Subjek penelitian meliputi pengelola Rumah Orkestra Jogja dan penonton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tema anime Ghibli dalam pertunjukan orkestra berhasil menarik perhatian masyarakat. Strategi utama yang diterapkan meliputi pemilihan repertoar musik yang populer dari film-film Ghibli dan kolaborasi dengan para ilustrator muda. Pengalaman visual yang mendukung seperti tayangan cuplikan film saat pertunjukan turut meningkatkan daya tarik dan emosional penonton. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pertunjukan dengan tema Ghibli berhasil meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik orkestra, tercermin dari antusiasme penonton, penjualan tiket cepat, dan tanggapan positif terhadap kualitas musik dan visual
Pengaruh persepsi dan motivasi belajar terhadap hasil belajar mata pelajaran tari siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kalasan
Mata pelajaran Seni Budaya memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memahami seni berdasarkan konteks ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, praktik pembelajaran Seni Budaya, khususnya tari, menemui banyak hambatan. Beberapa di antaranya adalah karena persepsi bahwa Seni Budaya bukanlah mata pelajaran penting yang akan diujikan dalam ujian nasional atau seleksi nasional masuk perguruan tinggi. Selanjutnya, yaitu kurangnya dorongan untuk mempelajari tari. Seni tari dipandang sebagai suatu bidang yang hanya ditekuni sebagai hobi dan kesenangan, bukan sebagai suatu bidang ilmu yang perlu disikapi dengan serius dalam praktik belajar mengajar. Kondisi tersebut bersamaan dengan adanya nilai hasil belajar mata pelajaran tari yang tersebar kurang merata di antara para siswa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh persepsi dan motivasi belajar pada hasil belajar mata pelajaran tari siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Kalasan. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain penelitian asosiatif kausal. Teknik pegambilan sampel menggunakan simple random sampling dan instrumen yang digunakan untuk pengambilan data berupa angket atau kuisioner. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov Smirnov sementara uji hipotesis menggunakan uji regresi linear sederhana dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) persepsi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dengan sig 0,01 0,05. (3) Persepsi dan motivasi belajar secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar dengan sig.F 0,039 < 0,05
Gaya bernyanyi Sri Hartati sebagai materi pelatihan vokal keroncong di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta
Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta merupakan wadah dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar di bidang musik yang dilakukan secara gratis. Observasi yang dilakukan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta dalam kelas keroncong bahwa ditemui permasalahan yang berkaitan dengan pelatihan teknik bernyanyi keroncong yang kurang tepat dan belum optimal. Peserta didik hanya bermodalkan mendengarkan rekaman yang terdapat dalam platform youtube yang tidak diketahui secara tepat dan tidaknya notasi serta lirik lagu tersebut. Peneliti memberikan sebuah solusi dengan menawarkan gaya bernyanyi Sri Hartati untuk dapat digunakan sebagai acuan pelatihan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakrta. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi gaya bernyanyi keroncong Sri Hartati serta penerapan gaya bernyanyi keroncong Sri Hartati di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mencari data-data yang dibutuhkan. Peneliti menggunakan lagu “Kr. Sepercik Nyala Api” untuk acuan pelatihan di Sanggar Seni Notoyudan Yogyakarta. Peserta didik memperoleh hasil dapat menyanyikan dengan menggunakan teknik luk, gregel, cengkok, embat, dan nggandul dengan baik dan tepat. Serta peserta didik mampu mempraktikan dengan menggunakan notasi yang tepat, pemenggalan kalimat lirik dengan baik, serta dapat menggunakan dan mengatur nafas dengan benar. Sehingga produksi suara dalam bernyanyi “Kr. Sepercik Nyala Api” terdengar indah dan jelas
Analisis Koreografi Tari Tambourine pada Lagu "Bermegah di DalamMu" di Gereja Bethel Indonesia Keluarga Allah Yogyakarta
Tari Tambourine adalah tarian rohani di gereja karismatik yang menggunakan tamborin sebagai propertinya. Di GBI Keluarga Allah Yogyakarta, tarian ini berkembang sesuai visi misi gereja dan ditampilkan oleh sekelompok penari putri di setiap penampilannya. Motif gerakannya disesuaikan dengan Rhema Alkitab dan koreografinya diciptakan berdasarkan rangsangan auditif dari lirik lagu. Penelitian tentang koreografi tari Tambourine pada lagu “Bermegah di DalamMu” menggunakan pendekatan analisis koreografi Y. Sumandiyo Hadi. Dari aspek gerak, tenaga, ruang, dan waktu, gerakan awal terlihat kuat namun lembut dengan tempo sedang, sementara bagian tengah hingga akhir lebih dinamis dengan tempo cepat. Aspek bentuk menunjukkan keutuhan dan kesatuan yang konsisten, runtut, dan selaras, sehingga menarik perhatian jemaat. Variasi, repetisi, transisi, dan klimaks menambah daya tarik tarian, menciptakan kesinambungan antara motif gerak. Dari aspek teknik, menggunakan dasar gerak balet klasik dari Shachah Creative Music and Dance Centre milik Magrate Yap. Aspek isi dari tari ini menyampaikan makna rohani bagi umat Kristiani, yaitu mengingatkan jemaat untuk bersiap menerima janji Tuhan berupa kemenangan atas dosa yang telah ditebus-Ny
Pengaruh Minat Belajar Tari terhadap Keterampilan Menari Siswa di SMP Negeri 11 Yogyakarta
Pembelajaran tari di sekolah menjadi wadah bagi siswa dalam mengembangkan minat, bakat, potensi, kreativitas, dan keterampilan yang dimiliki. Pembelajaran tari di SMP Negeri 11 Yogyakarta berjalan dengan baik, walaupun hanya sebagian siswa yang memiliki antusias dalam mengikuti pembelajaran tari. Keterlibatan mereka dapat dilihat pada keaktifan dalam mengikuti pelajaran atau kegiatan tari, contohnya seperti kegiatan ekstrakurikuler, sehingga keaktifan siswa berpengaruh langsung terhadap kemampuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minat belajar tari terhadap keterampilan menari siswa. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 11 Yogyakarta dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan pendekatan asosiatif kausal. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII-IX yang berjumlah 132 yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan sampel sebanyak 40 orang siswa yang memiliki minat terhadap pembelajaran tari. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan hasil nilai praktik tari yang dianalisis dengan teknik analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari minat belajar tari terhadap keterampilan menari siswa dengan distribusi nilai sebesar 11,7%. Namun analisis juga mengungkapkan bahwa terdapat 88,3% yang dimungkinkan dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini