49728 research outputs found
Sort by
Membaca ulang Sako Seng masyarakat Desa Wairkoja melalui penciptaan karya "Nyanyian Musim-Musim"
Tesis ini mengkaji dan merekonstruksi tradisi Sako Seng masyarakat Desa Wairkoja, Maumere, melalui penciptaan karya seni pertunjukan Performance Lecture berjudul “Nyanyian Musim-Musim”. Sako Seng merupakan praktik gotong royong dalam pengolahan lahan pertanian yang diiringi nyanyian khas “Oa Mbele”, berfungsi sebagai sarana memperkuat kolektivitas, spiritualitas, dan identitas budaya lokal. Namun, tradisi ini semakin tergerus oleh modernitas sistem pertanian moderen yang menekankan efisiensi dan penggunaan teknologi. Hal ini mengakibatkan nilai-nilai sosial, spiritual, serta ekspresi budaya yang terkandung di dalamnya mulai memudar. Metode penelitian artistik yang digunakan dalam pertunjukan ini menggunakan practice-let research. Penelitian menggunakan praktik seni untuk memahami dan mengembangkan teori dengan bentuk akhir adalah karya. Hasil karya membantu peneliti untuk berpikir, memahami dan mengembangkan teori. Melalui analisis diskursus, peneliti menemukan dan merefleksikan praktik serta makna yang terkandung dalam Sako Seng pada masa lalu dan bagaimana prakteknya kini. Proses penciptaan Nyanyian Musim-Musim menggunakan metode Penciptaan Bersama (collaborative creation) Teater Garasi untuk mewujudkan temuan-temuan menjadi sebuah peristiwa pertunjukan di atas panggung. Melalui pendekatan revisiting, tesis ini berupaya membaca ulang, mendokumentasikan, dan mengarsipkan narasi-narasi kecil Sako Seng dalam bentuk pertunjukan teater. Proses penciptaan karya menggabungkan unsur narasi, nyanyian, gerak tubuh, musik, dan media visual, yang dibagi ke dalam tiga bagian: kilas balik tradisi, pengaruh modernitas, dan proyeksi makna baru Sako Seng di masa kini
Penciptaan Skenario Film "Peristiwa-Peristiwa di Hari Ulang Tahunku" Terinspirasi dari Fenomena Fatherless Children
Fenomena fatherless children atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak menjadi inspirasi utama dalam penciptaan skenario film pendek berjudul Peristiwa-Peristiwa di Hari Ulang Tahunku. Karya ini berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya anak yang tumbuh dalam keluarga utuh secara fisik, namun secara emosional kehilangan sosok ayah. Penciptaan ini menggunakan pendekatan teoritik melalui teori psikososial Erik Erikson untuk membedah dampak emosional yang dialami anak akibat ketidakhadiran figur ayah, serta teori tragedi modern guna membangun konflik batin tokoh utama secara mendalam dan realistis. Penelitian dilakukan melalui wawancara dengan narasumber yang mengalami kondisi fatherless serta konsultasi dengan psikolog, yang kemudian diolah menjadi skenario dengan format dramatik tiga babak. Peristiwa-Peristiwa di Hari Ulang Tahunku mengisahkan Mira, seorang perempuan yang memiliki luka masa kecil karena hubungan disfungsional dengan ayahnya. Ketergantungan emosional terhadap kekasihnya menjadi cerminan dari trauma yang tidak pernah tuntas. Skenario ini dikembangkan dengan memperhatikan elemen sinematografi dan simbol visual, guna memperkuat nuansa emosional dan simbolik dalam cerita. Karya ini diharapkan menjadi media reflektif yang menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya kehadiran emosional seorang ayah dalam tumbuh kembang anak, sekaligus mengangkat isu fatherless yang seringkali terabaikan di tengah keluarga yang tampak utuh
Intervensi Musik Berbasis Preferensi Terhadap Pengelolaan Konsentrasi Anak Penyandang Down Syndrome
Anak dengan Down Syndrome intelektual kerap menghadapi kesulitan dalam mengelola konsentrasi dan emosi, yang berdampak pada efektivitas proses pembelajaran. Penelitian ini mengkaji dampak intervensi musik terhadap peningkatan konsentrasi dan stabilitas emosi pada siswa Down Syndrome di SLB Pembina Yogyakarta dengan tujuan untuk mengetahui seberapa berhasil intervensi musik dalam meningkatkan tingkat konsentrasi anak Down Syndrome, memetakan preferensi musik yang tepat untuk membantu menurunkan frekuensi ledakan emosi dan meningkatkan stabilitas emosi, serta membandingkan kemampuan fokus anak atas dasar preferensi. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang memungkinkan penyesuaian intervensi musik dengan kebutuhan individu dan konteks budaya peserta. Subjek penelitian terdiri dari lima siswa Down Syndrome yang diberikan dua sesi pembelajaran berbeda: kelas dengan intervensi musik (melalui nyanyian di awal, tengah dan akhir pembelajaran) dan kelas tanpa musik. Hasil menunjukkan bahwa nyanyian bertempo sedang yang sudah familier bagi siswa meningkatkan rentang fokus dari rata-rata 3–10 menit menjadi 10–15 menit dan menurunkan perilaku impulsif di kelas. Lagu yang sesuai preferensi pribadi memulihkan perhatian paling cepat, tetapi penggunaannya dibatasi pertimbangan kurikulum; sebaliknya, lagu non-personal yang familier menawarkan solusi praktis bagi guru dengan efek regulatif yang tetap signifikan meski lebih singkat. Intervensi musik juga menurunkan ekspresi emosi negatif, membuat suasana kelas lebih tenang, dan mempermudah transisi tugas. Temuan ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendekatan pendidikan yang lebih inklusif dan efektif bagi siswa berkebutuhan khusus di Indonesia, terutama Down Syndrome
"Ngelimbang Bala" reinterpretasi makna bala dalam ritual Buang Jong sebagai penciptaan karya tari
Penelitian dan penciptaan karya tari ini merupakan hasil reinterpretasi empiris terhadap makna bala dalam ritual Buang Jong milik suku Sekak di Pulau Bangka, yang dikontekstualisasikan ulang berdasarkan realitas ekologis masa kini. Dalam karya ini, bala tidak lagi dimaknai sebagai ancaman supranatural, melainkan sebagai representasi dampak destruktif industri pertambangan timah yang merusak ekosistem laut dan mengancam kehidupan masyarakat pesisir. Karya ini dihadirkan sebagai bentuk perlawanan simbolik, kritik sosial, sekaligus refleksi atas pentingnya kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah artistic research berbasis practice-led research. Proses penciptaan karya menggunakan pendekatan koreografi lingkungan oleh Hendro Martono yang mencakup sensasi ketubuhan, sensasi emosi, sensai imaji, dan ritus ekspresi, serta dipadukan dengan tahapan eksplorasi, improvisasi, dan komposisi dari metode Alma Hawkins. Karya yang dihasilkan berupa pertunjukan tari kontemporer berbasis tradisi dengan pendekatan gerak yang minimalis, repetitif, dan simbolik. Unsur-unsur pendukung tari yang digunakan untuk penyampaian makna karya yaitu tubuh, warna, pasir, air, rias busana, tata artistik, tata cahaya, dan musik. Struktur pertunjukan terbagi ke dalam lima bagian: (1) Doa yang mengalir tenang, (2) Nafas kehidupan antara manusia dan alam, (3) Kehidupan masyarakat pesisir yang melaut, (4) Konflik perebutan lahan tambang timah, dan (5) Doa sebagai simbol perlawanan. Kata kunci: reinterpretasi, bala, buang jong, koreografi lingkungan, perlawanan simboli
Representasi konsep Sad Ripu sebagai pembersihan dalam ritual Mesangih melalui karya "Labirin Dalam Bisikan"
Penelitian ini merupakan sebuah eksplorasi melalui pembacaan konsep sad ripu dan ritual mesangih dalam budaya Bali. Karya “ Labirin Dalam Bisikan” diwujudkan melalui performativitas tubuh sebagai medium dialektika antara kesadaran internal dan eksternal. Tujuan penelitian penciptaan ini adalah memvisualisasikan dan menginternalisasi dinamika sad ripu yang meliputi: kama, lobha, krodha, moha, mada, dan matsarya, melalui struktur kuasa dengan mengadopsi pengalaman somatik tubuh. Metodologi utama yang digunakan adalah Practice-Led Research (PLR), praktik artistik ‘proses koreografi dan performa’ menjadi sarana utama untuk menghasilkan pengetahuan baru dan pendekatan ini secara spesifik menempatkan tubuh penari sebagai subjek epistemik yang aktif dalam menciptakan makna dan pengalaman estetis, menegaskan bahwa tubuh adalah "teks itu sendiri" yang berbicara melalui kontraksi, ketegangan, keheningan, dan spasme. Proses penciptaan karya juga secara detail mengacu pada Alma Hawkins, yang secara sistematis memandu melalui tahapan eksplorasi, improvisasi, komposisi dan evaluasi. Hasil penelitian ini adalah sebuah durational performance dengan menghadirkan tubuh sebagai laboratorium spiritual untuk mengeksplorasi kesadaran tubuh ‘body consciousness’ sebagai proses pengendalian diri. Karya ini secara konseptual disajikan tidak hanya menawarkan estetika visual, tetapi menghadirkan sebuah pengalaman performatif yang autentik dan transformatif, keindahan muncul dari kejujuran kondisi internal tubuh yang bergulat, mendekonstruksi dominasi sad ripu dengan menghadirkan sikap malinggih dan sirep sebagai transformasi pembersihan melalui ritual mesangih
Makna sulak pada penyajian jathilan turonggo suro babak pungjur klasik di Dusun Lemahdadi Bangunjiwo Kasihan Bantul
Tulisan ini mengupas “Makna Sulak Pada Penyajian Jathilan Turonggo Suro Dalam Babak Pungjur Klasik Di Dusun Lemahdadi Bangunjiwo Kasihan Bantul” Kesenian rakyat Jathilan Turonggo Suro, yang berdiri sejak 1950 di Bangunjiwo, adalah warisan leluhur yang dipercaya masyarakat setempat. Didirikan oleh Kerto Pawiro, kesenian ini awalnya bertujuan untuk kepentingan masyarakat dengan berpedoman pada cerita prajurit Panji dan Mataraman. Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai dan makna filosofis dalam babak klasik Jathilan Turonggo Suro sebagai budaya tradisi yang dilestarikan. Pendekatan semiotika yang dilandasi oleh pemikiran Peirce. pemikiran Jawa dan teori Peirce digunakan untuk menganalisis simbol dan makna yang terkandung dalam unsur-unsur pertunjukan seperti tema, penari, gerak, pola lantai, properti, iringan, busana, dan tempat. Masyarakat Bangunjiwo terus melestarikan kesenian ini sebagai wujud bakti dan syukur kepada Tuhan. Pendekatan semiotika berdasarkan konsep pemikiran Jawa yang sangat kental akan makna-makna filosofis dan didukung oleh dasar pemikiran Charles Sanders Peirce dengan teori triadic dan trikotominya yang melahirkan sebuah interpretant melalui representament berkaitan dengan pengamatan indrawi. Berdasarkan pola pemikiran yang dianut oleh masyarakat Jawa, segala hal yang ada alam semesta ini sejatinya telah ditelaah melalui berbagai macam simbol maupun ajaran kebaikan sehingga diharapkan mampu menjadi pengingat bagi umat manusia. Pemahaman makna-makna filosofis yang terkandung di dalam jathilan Turonggo Suro dalam babak klasik dilihat berdasarkan pandangan konsep Jawa tersebut dapat dikaitkan dengan sulak sebagai simbol Senjata digunakan sebagai alat untuk membela diri dari hal buruk yang akan terjadi seperti penulis menyimbolkan sulak sebagai simbol yang memiliki makna penolak bala juga penolak hal negatif yang akan terjadi sehingga masyarakat Bangunjiwo menjadikan pertunjukan kesenian rakyat seperti Jathilan Turonggo sebagai cara untuk menjadi sarana memanjatkan rasa syukur dan memohon untuk terhindar dari hal buruk. Sulak juga memiliki konsep “lelaning jagad lakuning bawana” dalam bahasa Jawa berarti lelaki yang hebat di seluruh dunia, yang menjadi panutan atau contoh bagi seluruh dunia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki kualitas kepemimpinan yang luar biasa, tidak hanya dalam hal kemampuan, tetapi juga dalam hal perilaku dan pengaruhnya terhadap orang lain
"Time in life" karya tema variasi berbasis negative harmony
Karya tulis ini membahas eksplorasi teknik Negative Harmony dalam konteks gaya musik Tema Variasi. Tema Variasi merupakan salah satu bentuk komposisi penting dalam sejarah musik Barat. Meskipun demikian namun berbagai kritik telah muncul terkait keterbatasan gaya musik ini. Di sisi lain, Negative Harmony merupakan sebuah pendekatan alternatif dalam struktur harmoni yang diperkenalkan oleh Ernst Levy dan dipopulerkan oleh Jacob Collier menawarkan sudut pandang baru dalam membentuk harmoni melalui prinsip refleksi simetris. Penulis mencoba menggabungkan dua pendekatan ini dengan menciptakan sebuah komposisi yang berjudul: “Time in Life”, yang disusun dalam format musik piano quintet. Komposisi ini memanfaatkan teknik Negative Harmony sebagai dasar dalam mengembangkan variasi tema, dengan tujuan menciptakan nuansa dan warna harmoni baru dalam gaya Tema Variasi. Proses penciptaan diawali dengan inventarisasi material musikal berupa progresi akord dan melodi sebagai kerangka tema. Pemilihan materi dilakukan berdasarkan kesadaran interpretatif dan preferensi estetis penulis terhadap nuansa harmoni yang stabil, terang, serta emosional. Pendekatan Negative Harmony diaplikasikan dengan dua metode pengkutuban, yaitu pengkutuban penuh dan pengkutuban parsial, yang masing-masing menghasilkan transformasi harmonik dan melodik dengan nuansa kontras, dramatik, dan gelap. Keduanya digunakan sebagai alat konseptual untuk menciptakan sembilan variasi tematik, dengan kombinasi pengkutuban terhadap harmoni dan/atau melodi. Tahap akhir dari proses penciptaan dilakukan melalui penulisan notasi musik menggunakan aplikasi Sibelius, dilanjutkan dengan pengembangan tekstur, dinamika, dan interaksi instrumen untuk memperkuat ekspresi musikal dari karya. Skripsi ini menunjukkan bahwa pendekatan Negative Harmony tidak hanya memperkaya eksplorasi harmoni dalam komposisi, tetapi juga membuka ruang interpretasi estetis yang lebih luas terhadap bentuk tema dan variasi
Memperkuat Kesepan Tokoh Utama denganPendekatan Visual Lensa Anamorphic dalam Sinematografi Film "Terlalu Sepi Untuk Malam".
Film "Terlalu Sepi Untuk Malam" mengisahkan Raka, seorang pria kesepian yang bertemu dengan kekasihnya. Namun, pertemuan tersebut justru berujung pada perpisahan, setelah Vivi mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan pria lain. Film ini menggambarkan pertemuan dan perpisahan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Penonton akan mengikuti perjalanan Raka dalam menghadapi perpisahan sekaligus perasaannya. Kesepian yang dialami Raka meliputi perasaan terpisah, bosan, sedih, gundah (bimbang dan gelisah), terasing, dan terisolasi ditengah dunia yang luas
Perancangan home kit media terapi dasar untuk anak berkebutuhan khusus (autis) menggunakan material sekam padi
Pentingnya pola asuh orang tua dalam mengasuh anak autis memiliki karakteristik yang unik karena kondisi anak autis berbeda secara signifikan dengan anak-anak biasa. Orang tua anak autis perlu memiliki pemahaman khusus tentang strategi pengasuhan dan pendidikan karena anak autis sering mengalami tantangan dalam hal komunikasi, seperti masalah pendengaran, kurangnya kontak mata, dan respon wajah yang terbatas. Agar anak autis dapat mandiri dalam aktivitas sehari-hari, seperti mandi, berpakaian, menggunakan toilet, dan kegiatan lainnya, orang tua harus bersabar dan tekun dalam membimbing anak mereka untuk mematuhi aturan yang telah diajarkan. Tujuan dari perancangan ini mengembangkan media terapi yang hanya bisa digunakan oleh terapis ahli sehingga dapat diterapkan dirumah oleh orang tua dengan memanfaatkan potensi limbah sekam padai sebagai material utama dengan pertimbangan di aspek keamanan. Kesimpulan dari perancangan ini merupakan salah satu upaya membantu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus terutama autis, agar anak tersebut mendapatkan pertolongan dasar terapi untuk pendidikan anak. Tidak memungkiri pendampingan kepada terapi ahli tetap perlu dilakukan, akan tetapi produk ini berupaya mengurangi intensitas pendampingan terapis secara berkal
Transformasi bonding attachment ibu dn bayi dalam karya seni tufting melalui perspektif eco-art
Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi atau bonding attachment sangatlah penting serta perlu dilakukan sedini mungkin karena dapat berpengaruh pada proses perkembangan psikologis dan sosial bayi, namun sering kali masyarakat kurang mengetahui akan dampak jangka panjang dari ikatan tersebut. Penulis mentransformasikan konsep bonding attachment ibu dan bayi dalam karya seni tufting bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya bonding attachment antara ibu dan bayi. Selain itu, rancangan ini juga dapat berkontribusi dalam memperkaya ide dan konsep seni tufting, serta memberikan pemahaman dasar tentang bonding attachment kepada masyarakat umum. Seni tufting adalah teknik pembuatan karya seni tekstil dengan cara menyusun dan menempelkan benang pada kain menggunakan alat khusus tufting, yang menghasilkan tekstur tiga dimensi. Teknik ini dapat menciptakan bentuk berumbai. Metode yang digunakan berupa metode practice based research, terdiri dari literature research, drawing sketch, experiment, dan practice. Hasil dari penelitian ini menghasilkan empat karya seni tufting yang menggambarkan bonding attachment antara ibu dan bayi. Dapat disimpulan bahwa karya seni tufting yang diciptakan tidak hanya menarik secara visual tetapi juga sarat akan makna. Karya ini dapat berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya hubungan antara ibu dan anak, serta sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran vital ikatan emosional ini