49728 research outputs found
Sort by
Gwen silent sebagai ungkapan personal dalam karya soft sculpture Andre Tanama
Karya "Gwen Silent" ciptaan Andre Tanama merupakan sebuah karya yang mengundang perenungan. Dalam karya ini, figur Gwen Silent digambarkan dalam keheningan yang dalam. seolah menyimpan banyak cerita yang tak terucapkan. Melaluik penggunaan bahan tekstil yang lembut, Andre Tanama berhasil menciptakan karakter yang sebaliknya yaitu kuat.Karya ini tidak sekadar visual yang statis, tetapi menjadi metafora yang hidup untuk merefleksikan perasaan tersembunyi dan keheninganyang kadang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Melalui bentuk dan teksturmya, "Gwen Silent" berbicara kepada penontonnya tentang pengalaman batin manusia, tentang momen-momen ketika kita merasa terjebak dalam keheningan namun di saat yang sama begitu ingin di dengar. Karya ini seperti sebuah dialog diam antara seniman dan penontonnya, yang menawarkan kesempatan untuk merenung dan melihat kembali sisi-sisi emosi yang jarang diungkapkan. Penelitian inin berusaha untuk menggali lebih dalam tentang pesan yang ingin di sampaikan Andre Tanama melalui karya ini, serta bagaimana keheningan yang dihadirkan dalam "Gwen Silent" sebenarnya menyimpan berbagai lapisan makna yang dapat ditafsirka secara beraga
Memperkuat Emosi Kesedihan Tokoh Utama Dengan Menggunakan Pace Editing Lambat Melalui Film Fiksi "Terlalu Sepi Untuk Malam"
Emosi memiliki peran penting dalam narasi film, terutama dalam memengaruhi psikologis. Salah satu emosi yang sering digali dalam film adalah kesedihan, yang mampu menambah kedalaman cerita dan menciptakan dampak emosional yang kuat. Penggunaan pace editing lambat sering dimanfaatkan untuk memperdalam momen emosional, termasuk adegan yang menggambarkan kesedihan. Proses editing memainkan peran utama dalam menentukan pace dan ritme adegan. Salah satu teknik editing yang efektif untuk memperkuat emosi kesedihan adalah pace editing. Teknik ini memungkinkan ekspresi dan gestur karakter utama terlihat lebih jelas, menciptakan suasana yang mendalam dan reflektif. Dalam naskah film "Terlalu Sepi Untuk Malam", pace editing lambat mempertegas kesedihan yang dirasakan oleh tokoh utama. Durasi shot panjang yang berfokus pada ekspresi dan gestur dapat memperkuat emosi yang dirasakan oleh tokoh utama. Pace editing lambat tidak hanya menghadirkan kesedihan sebagai elemen emosional, tetapi juga memperkuat suasana dalam keseluruhan adega
Perancangan film animasi 2D "Mengenal Penyu Bersama Arsa" menggunakan metode Addie sebagai media edukasi anak
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah media edukasi pada anak-anak berupa animasi 2D yang mengangkat tentang konservasi penyu atau perlindungan terhadap penyu. Masih minim nya pengetahuan Masyarakat mengenai penyu adalah hewan yang dilindungi, sehingga masih banyak nya Masyarakat yang melalukan penyeludupan sampai dengan perdagangan bagian tubuh penyu atau pun telur penyu. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan edukasi secara interaktif kepada Masyarakat ataupun anak-anak adalah melalui animasi 2D yang dimana media ini dapat dijadikan sebuah hiburan dan dapat menyebarkan edukasi secara lansung maupun tidak lansung. Dalam penelitian ini menggunakan Metode ADDIE agar setiap tahap perancangan menjadi lebih terstruktur secara sistematis
Pakaian adat sebagai inspirasi properti karakter dengan gaya calart dalam penciptaan film animasi 2D Aruna : The Mythical World
Pakaian adat merupakan warisan budaya di Indonesia. Namun masih jarang orang yang tau tentang pakaian adat di Indonesia. Mereka juga jarang memakainya pada aktifitas sehari hari. Padahal warisan budaya seperti itu patut untuk dilestarikan. Dari hal tersebut munculah ide dari penelitian ini. Penelitian yang bertujuan untuk merancang pakaian adat sebagai desain properti karakter pada film animasi dengan gaya Calart. Dan juga sebagai media pengenalan tentang pakaian adat Indonesia kepada masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah pengaplikasian pakaian adat pada desain properti karakter pada film animasi dengan gaya Calart menjadi potensi untuk media baru dalam memperkenalkan budaya Indonesia pada masyarakat
Pengalaman estetis penggemar musik rock Pascamuda (studi kasus komunitas Classic Rock Yogyakarta
enelitian ini mengkaji pengalaman estetis penggemar musik rock pascamuda dalam Komunitas Classic Rock Yogyakarta, dengan narasumber berusia 46–70 tahun. Fokus penelitian adalah memahami pengalaman estetis mereka dari pertunjukan musik dan pengaruhnya terhadap pembentukan identitas penuaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus, dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatoris. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perubahan pengalaman estetis penggemar pascamuda dalam menikmati pertunjukan musik rock. Pada elemen auditif, pergeseran dari karakter suara analog ke digital mempengaruhi preferensi musikal mereka. Elemen khas rock seperti timbre gitar high gain dan tempo yang cepat dimaknai sebagai simbol semangat rock yang abadi. Pada elemen badaniah keterbatasan fisik mengurangi intensitas partisipasi aktif. Meskipun resonansi dentuman sound system pertunjukan musik menggugah sensasi fisik, penggemar pascamuda lebih mengutamakan kenyamanan dan kualitas mendengarkan daripada aktivitas fisik seperti headbang dan melompat. Pertunjukan musik tidak hanya mencerminkan perubahan pengalaman estetis, tetapi juga menjadi sarana pembentukan identitas penuaan. Dengan merujuk pada teori Chaney (1996), penelitian ini memperluas pemahaman tentang pengalaman estetis, mencakup dimensi badaniah dan perseptual yang berubah seiring bertambahnya usia. Sensibilitas kolektif dalam komunitas penggemar turut memperkuat hubungan sosial dan esensi diri sebagai penggemar musik rock, guna memahami apa yang dilakukan dan apakah yang dilakukan bermakna bagi penggemar pascamuda yang membedakan identitas dari orang berusia pascamuda lainy
Metafora emosi ambigu melalui elemen pitch dalam karya "Ambighost"
Fenomena emosi ambigu didasari oleh adanya faktor eksternal dan faktor internal, dimana EDM sebagai faktor eksternal menstimulus perasaan yang tidak jelas dan juga didasari oleh faktor internal berupa kenangan dan asosiasi tertentu, sehingga menciptakan emosi ambigu yang tidak dapat diidentifikasikan. Kompleksitas dan sifat multitafsir dari emosi ambigu ini membuat emosi ambigu tidak dapat dipahami secara universal, sehingga memungkinkan metafora sebagai jembatan untuk merepresentasikan emosi ambigu melalui elemen pitch dengan penggunaan teknik Frequency Modulation. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Practice-led Research dengan pendekatan studi kasus yang menekankan pada pengamatan dari berbagai sumber kajian informasi, dan analisis sebagai dasar penelitian. Dengan pendekatan ini, proses praktik atau eksplorasi yang diikuti oleh tahap analisis, diharapkan dapat menghasilkan praktik serta pengetahuan baru. Penelitian ini menunjukkan keberhasilan dalam mengidentifikasi enam aspek spesifik dari emosi ambigu terhadap EDM, yaitu ketidakpastian, keraguan, kontradiksi, kebingungan, konflik internal, dan dualisme emosi. Selanjutnya, enam aspek ambigu tersebut di tuangkan kedalam komposisi musik EDM berjudul “Ambighost”. Dengan penggunaan suara init sebagai material, yang pada awalnya datar dan netral, dapat "diwarnai" dengan berbagai emosi melalui manipulasi pitch dengan teknik frequency modulation. Proses ini memberikan pemahaman baru tentang potensi suara init dengan teknik variasi pitch frequency modulation, sebagai metafora dari ambiguitas emosional itu sendiri. Karya Ambighost ini, merupakan refleksi dari pemahaman tentang ambiguitas emosional dan bagaimana hal tersebut dapat dimetaforakan melalui elemen pitch pada musik EDM
Fungsi Montage Sequence Sebagai Eksposisi Karakter-Karakter Film "Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)"
Penelitian ini menganalisa tentang penggunaan teknik montage sequence pada film “Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018)” sebagai eksposisi karakter-karakter serta sebagai pendukung penegasan narasi utama pada film yaitu “Anyone Can Wear the Mask.” Montage sequence digunakan untuk memperkenalkan karakter-karakter baru secara singkat namun secara efisien dan tidak mempengaruhi kualitas naratif film. Adapun metode penelitian yang digunakan merupakan deskriptif kualitatif yang mengobservasi dan menganalisa adegan-adegan montage sequence. Sehingga penelitian dapat berfokus kepada montage sequence yang tidak hanya meringkas informasi kompleks menjadi padat dan efektif, tetapi juga memperkuat hubungan antar karakter serta tema film. Penggunaan pola berulang dalam montage sequence membantu audiens memahami latar belakang, motivasi, dan perjalanan karakter, seperti Miles Morales dan Spider-Man dari berbagai dimensi. Sehingga dirasa montage sequence dalam film ini tidak hanya berperan sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai strategi naratif yang krusial
Bunga Cempaka Putih sebagai Sumber Ide Penciptaan pada Busana Gaya Klasik
Busana dengan motif bunga cempaka putih menjadi inspirasi dalam penciptaan karya busana gaya klasik yang menggabungkan keindahan bentuk bunga saat mekar dan makna filosofinya yang mendalam. Keunikan bunga ini terletak pada mahkotanya yang tanpa kelopak, atau yang dikenal dengan tenda bunga memberikan ciri khas pad desain busana. Gaya klasik sendiri, dikenal dengan siluet sederhana namun elegant, sehingga tetap relevan dan dapat dipakai di berbagai era, tanpa terikat oleh tren tertentu
Perancangan Komik Digital Sejarah Kejayaan Pelaut Makassar dan Pelayaran Marege
Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Sejarah sendiri mencatat bahwa nenek monyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut. Kejayaan pelaut Indonesia juga banyak dibuktikan dengan berbagai peninggalan. Salah satu buktinya adalah beragam peninggalan dari pelaut Makasar yang ada doi pesisir utara Australia. Pelayaran ini diperkirakan dimulai pada abad ke 17 jauh sebelum james Cook aberhasil memetakan Australia. Pelaut Makasar juga memiliki hubungan yang baik dengan penduduk asl Australia, suku Yolngu
Redesain Interior Jurnal Risa Coffee Jakarta dengan Pendekatan Storytelling
Perancangan ulang interior JUrnal Risa Coffee Jakarta dilakukan untuk merespon kebutuhan akan ruang kafe yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat konsumsi, tetapi juga sebagai media pengalaman emosional, historis, dan naratif. Jurnal Risa Coffee merupakan bagian dari brand Jurnal Risa yang dikenal melaui platfrom YouTube dan karya-karya Risa Saraswati, yang mengangkat cerita-cerita mistis berbasis pengalaman pribadi dan sejarah keluarga. Kafe ini menempati bangunan bersejarah yang dulunya merupakan kediaman Kapitan Wang Seng, tokoh penting dalam sejarah kawasan Pacinan Jakarta