49728 research outputs found
Sort by
Pengaruh interpretasi nyanyian Dung Sonang Rohangku terhada prespons suasana hati jemaat HKBP Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh reinterpretasi nyanyian gereja terhadap respons suasana hati jemaat HKBP. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa sebagian besar pemuda gereja menilai nyanyian dari Buku Ende terasa monoton dan kurang menyentuh emosi. Reinterpretasi dipandang sebagai pendekatan alternatif dalam membawakan nyanyian gereja dengan penghayatan dan ekspresi emosional, agar makna lagu lebih mudah dirasakan oleh pendengar. Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana reinterpretasi dapat membentuk suasana hati positif pada pemuda HKBP. Penelitian ini menggunakan kajian teori interpretasi performatif dari Paul Thom dijadikan kerangka dalam memahami penyajian musik dapat mempengaruhi pengalaman emosional. Musik dipandang sebagai media yang mampu membangkitkan emosi melalui proyeksi dan integrasi elemen musikal, khususnya ketika dibawakan dengan penghayatan mendalam. Kemudian klasifikasi emosi menurut Gohm dan Clore, serta teori suasana hati dari Watson, Lane & Terry. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan pendekatan eksperimen. Responden terdiri dari 37 pemuda HKBP Yogyakarta yang mendengarkan reinterpretasi nyanyian gereja. Data kuantitatif diperoleh melalui kuesioner dengan skala nominal, sementara data kualitatif dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat hasil dan mendalami pengalaman emosional peserta setelah mendengarkan lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reinterpretasi secara signifikan meningkatkan respons suasana hati positif. Mayoritas responden menyatakan merasa lebih terhubung secara emosional dan spiritual, mengalami emosi seperti damai, bahagia, dan haru, serta menikmati durasi efek emosional yang lebih lama. Kesimpulan menyatakan bahwa reinterpretasi nyanyian gereja mampu menciptakan pengalaman emosional yang kuat dan membentuk suasana hati positif pada pemuda
Daya tarik desain produk jewelry packaging terhadap preferensi pengguna
Kemasan produk (packaging) tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga memainkan peran kunci dalam membentuk kesan pertama dan pengalaman pengguna, terutama dalam industri perhiasan. Desain kemasan yang mencakup elemen visual seperti bentuk, warna, material, dan fungsionalitas menjadi faktor penting dalam menciptakan nilai estetika dan eksklusivitas produk. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat secara praktis menjadi stategi pengembangan produk yang mampu .memberikan pengalaman pengguna sesuai dengan harapan dan kebutuhan. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-method melalui studi literatur, observasi, kuesioner, dan wawancara dengan pengguna. Objek penelitian meliputi berbagai jenis material kemasan seperti kayu, kaca, akrilik, serta kombinasi tematik. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta grafik untuk memetakan preferensi konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen desain kemasan, terutama warna, material, dan keunikan bentuk, secara signifikan memengaruhi preferensi pengguna. Selain itu, faktor psikologis seperti kesan eksklusif dan nilai sentimental juga berperan penting dalam keputusan pembelian. Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi pelaku industri, khususnya dalam pengembangan desain kemasan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar
Penggunaan Ritme Edting Untuk Memperkuat Tensi Dramatik Pada Tokoh Utama Film Fiksi "Dunia Indah Saat Kamu Tersenyum
Penelitian pada karya film “Dunia Indah Saat Kamu Tersenyum” mengidentifikasi tokoh utama memiliki konflik ketika suaminya mengalami sakit kritis serta tidak kunjung membaik sementara tokoh utama ingin dapat menikmati waktu berdua bersama suaminya. Editing berperan untuk memperkuat dinamika emosional tokoh utama yang dapat meningkatkan tensi dramatik pada cerita dengan menggunakan ritme editing, tools penggerak ritme editing yaitu, pacing dan timing. Struktur dramatik menggunakan piramida dramatik Gustav Freytag, terdiri dari lima tahapan: exposition, rising action, climax, falling action, dan resolution. Kelima tahap ini dikaitkan dengan teknik editing untuk memperkuat unsur dramatik, berupa konflik, suspense, curiosity dan surprise pada tokoh utama. Kombinasi pacing lambat dan pacing cepat digunakan untuk memperlihatkan kedalaman emosional dan memperkuat tensi dramatik, terutama pada adegan klimaks dan sebagai pembeda antara imajinasi dan realitas Tatiana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ritme editing terstruktur dapat meningkatkan efek emosional pada penonton dan memperkuat cerita secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa ritme editing tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis, tetapi juga sebagai elemen naratif dapat memengaruhi pengalaman visual dan emosional. Film ini menjadi contoh bahwa pendekatan kreatif dalam editing dapat memperkaya makna dan intensitas dramatik konflik tokoh utama
Membangun Teror Melalui Delusi Tokoh Utama Dalam Penyutradaraan Film “-repeat.”
Penciptaan tugas akhir dengan judul Membangun Teror Melalui Delusi Tokoh Utama Dalam Penyutradaraan Film “-repeat.” adalah sebuah karya film fiksi bergenre psychological thriller yang menggambarkan dampak trauma mendalam hingga menyebabkan pembunuhan akibat delusi yang dialami oleh tokoh utama. Film ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana langkah-langkah membangun perasaaan teror tokoh utama melalui penggambaran gejala delusi dalam konteks sinematik. Delusi sendiri adalah salah satu jenis gangguan kejiwaan yang ditandai dengan cognitive distortion, yaitu ketidakmampuan membedakan antara kenyataan dan realita palsu. Penggambaran delusi ini menjadi dasar utama dalam proses kreatif penyutradaraan film”-repeat.” untuk membangun suasana teror yang intens. Konsep delusi diadaptasikan melalui pendekatan sinematik dan penyutradaraan yang memanfaatkan tiga elemen utama. Pertama, Film & Sinematografi, yaitu penggunaan teknik pengambilan gambar dan penataan visual untuk menciptakan suasana tegang yang mendalam. Kedua, Penyutradaraan, melalui pengadeganan dan dialog yang memperkuat elemen psikologis dan teror. Ketiga, Mise-en-scène, berupa pengaturan elemen visual seperti pencahayaan, properti, dan tata ruang untuk menghadirkan pengalaman visual yang mendukung tema. Ketiga elemen ini menjadi landasan utama dalam penciptaan film yang dapat menyampaikan pesan secara utuh. Film”-repeat.” tidak hanya berhasil membangun teror melalui eksplorasi delusi, tetapi juga menyampaikan pesan tentang besarnya pengaruh trauma masa lalu terhadap kesehatan mental seseorang. Film ini mendorong penonton untuk merenungkan bagaimana pengalaman traumatis dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Penciptaan film ini memiliki manfaat besar, baik sebagai media edukasi maupun ekspresi kreatif. Melalui penciptaan ini, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih simpatik dan empatik, serta dapat mencegah penyimpangan pola pikir maupun perilaku yang merugikan. Selain itu, karya ini dirancang untuk memberikan pengalaman sinematik yang berkesan, sekaligus menjadi media ekspresi kreatif personal bagi pembuatnya
Metamorfosis Chrysaora: Inspirasi Visual dalam Batik Lukis
Karya seni dapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan ide melalui bentuk visual. Karya seni dengan tema metamorfosis ubur-ubur yang menggambarkan perubahan bentuk, dan keindahan geraknya yang mengalir bebas, sehingga memiliki visual yang kuat untuk divisualisasikan secara artistik. Penyajian karya menggambarkan tahapan metamorfosis ubur-ubur dalam suasana bawah laut, yang divisualisasikan melalui bentuk, warna, dan komposisi yang ekspresif. Karya ini diciptakan dengan menggunakan teknik batik sebagai media utama, dipadukan dengan teknik kuasan dan pewarnaan colet untuk menciptakan gradasi warna dan tekstur. Pendekatan dalam penciptaan karya ini menggunakan pendekatan estetika untuk mengeksplorasi penampilan visual. Metode penciptaan yang digunakan adalah Practice-Based Research, yaitu metode yang menekankan pengalaman praktis selama proses penciptaan karya. Melalui metode ini, penciptaan tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga proses pemahaman mendalam terhadap tema dan media yang digunakan. Karya Tugas Akhir ini menghasilkan empat buah karya batik lukis, yang masing-masing merepresentasikan tahapan metamorfosis ubur-ubur melalui eksplorasi bentuk dan suasana. Karya ini diharapkan dapat menjadi kontribusi dalam pengembangan seni batik serta media apresiasi terhadap proses kehidupan melalui pendekatan visual
Efektivitas metode bernyanyi dalam penguasaan kosakata pada anak usia 4-5 tahun di TK Kuncup Harapan Yogyakarta
Penguasaan kosakata merupakan dasar perkembangan bahasa anak usia 4–5 tahun, namun di TK Kuncup Harapan Yogyakarta beberapa anak kesulitan dan ragu dalam mempelajari kosakata baru. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, sebagian anak belum mampu mengingat dan menggunakan kosakata baru pada tema pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas metode bernyanyi dalam penguasaan kosakata pada anak usia 4–5 tahun di TK Kuncup Harapan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain eksperimen semu. Subjek penelitian terdiri dari anak-anak kelas A yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kontrol, masing-masing berjumlah 24 anak. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui penilaian tes, yaitu pre-test dan post-test sebelum dan sesudah perlakuan. Instrumen tes telah melalui uji validitas isi dan dianalisis dengan teknik nonparametrik dengan uji Mann–Whitney dan Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian ini: (1) penerapan metode bernyanyi dalam penguasaan kosakata pada anak usia 4-5 tahun dilakukan dengan memberikan materi lagu anak dengan judul matahari ciptaan peneliti, langkah yang dilakukan ialah dengan cara menirukan per kosakata dalam lagu tersebut. (2) Pada uji analisis Wilcoxon, hasil data pre-test dan post-test kelas eksperimen diperoleh nilai sig. 0,000 < 0,05 dengan nilai Z yang lebih besar dari kelas kontrol, hal ini menunjukkan bahwa metode bernyanyi efektif dalam meningkatkan penguasaan kosakata pada anak usia 4-5 tahun di TK Kuncup Harapan Yogyakarta
Analisis struktur bentuk dan gaya musik The Elephant karya Camille Saint-Saëns
The Elephant karya Camille Saint-Saëns merupakan sebuah karya musik pendek (piece) yang menggambarkan seekor gajah dengan menggunakan instrumen kontrabas, iringan piano yang berbentuk waltz terasa kontras dengan penggambaran seekor gajah yang terkesan lamban, Saint-Saëns yang merupakan komponis konservatif ditengarai masih mengedepankan gaya klasik. Hal tersebut menarik untuk dibedah melalui pembedahan struktur bentuk dan gaya musik pada karya ini. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka serta analisis deskriptif. Karya ini berhasil dianalisa dan ditemukan memiliki bentuk A-B-A’ (terneir) serta memiliki 3 periode pada tiap bagian musiknya. 8 buah frase dengan pembagian 2 buah frase pada bagian A, 3 buah frase pada bagian B dan satu buah frase sisipan, dan 2 buah frase pada bagian A’. 14 semifrase dengan pembagian 4 buah motif semifrase yang membentuk frase pada bagian A, 6 buah semifrase yang terdiri dari kumpulan bentuk figur yang membentuk frase pada bagian B, dan 4 buah semifrase yang membentuk frase pada bagian A’. 1 motif tematik ditemukan sebagai Gambaran besar dari karya The Elephant ini, dan 8 buah figur. Selain itu ditemukan bentuk pelemahan tonalitas pada karya ini dengan bentuk modulasi yang dianggap sebagai bentuk gaya neo diatonik Saint-Saëns. Penelitian ini diharapkan mampu membantu memperluas wawasan teoritis mengenai struktur bentuk musik dan membantu dalam proses penginterpretasian karya musik The Elephan
Pemeranan tokoh Rose Thomas dalam naskah perangkap karya Eugene O'neill terjemahan Faried W. Abe
Naskah Perangkap karya Eugene O’Neill menceritakan tentang kisah Rose Thomas yang menjadi korban dari kehidupannya yang keras, dia mengambil perannya sebagai seorang ibu bagi anakknya yang rentan. Tindakannya menunjukkan adanya naluri keibuan dan potensi kasih sayang dalam dirinya, meskipun ia hidup di lingkungan yang keras dan penuh keputusasaan. Rose sebagai penderita batuk parah dan juga ibu, menjadi cerminan hidup yang kuat tentang ketahanan semangat manusia dan kekuatan naluri keibuan bahkan dalam situasi yang paling gelap sekalipun. Hal ini tentu akan menjadi kritik pedas terhadap kondisi sosial yang memaksa seseorang seperti Rose terjebak ke dalam situasi yang mengerikan. Pertunjukan Perangkap adalah bentuk teater realis yang mengeksplorasi kehidupan nyata. Pemeranan tokoh Rose Thomas dalam naskah ini berfokus pada ketahanan semangat manusia dan kekuatan naluri keibuan. Untuk menciptakan karakter ini, teori keaktoran Stanislavski diterapkan secara spesifik melalui teknik Magic If dan Memory Emotional. Pertunjukan ini akan menghadirkan sesuatu yang baru mengenai ketahanan dan ketulusan seorang ibu kepada penonton. Proses memerankan tokoh Rose Thomas telah menyadarkan pemeran akan pentingnya memahami psikologi tokoh melalui pendekatan psikologis. Pendekatan psikologis ini sangat diperlukan dalam memerankan tokoh dari naskah-naskah realis demi menciptakan tokoh yang konsisten secara tiga dimensi sehingga dapat sepenuhnya dipercaya oleh penonto
Penerapan skala pentatonik dalam konteks improvisasi pada pembelajaran gitar di ekstrakurikuler musik SMPN 2 Kalasan
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerapan skala pentatonik dalam konteks improvisasi pada pembelajaran gitar dalam kegiatan ekstrakurikuler musik di SMPN 2 Kalasan. Masalah utama dalam kegiatan ekstrakurikuler ini adalah siswa gitar mengalami kesulitan dalam memainkan melodi karena sebelumnya hanya mempelajari progresi akord dan tangga nada diatonis yang kurang efektif untuk improvisasi. Untuk mengatasi kendala tersebut, skala pentatonik diterapkan sebagai pendekatan alternatif guna melatih siswa dalam bermain melodi dan improvisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah tiga orang siswa yang bermain gitar dalam kegiatan ekstrakurikuler. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi selama enam kali pertemuan. Materi pembelajaran difokuskan pada penggunaan skala pentatonik pattern satu dan pattern dua yang dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan siswa, dengan pendekatan metode ceramah, demonstrasi, imitasi, latihan (drill), dan tugas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan skala pentatonik memberikan dampak positif terhadap perkembangan kemampuan siswa dalam bermain gitar, khususnya dalam memahami posisi jari di fretboard, menciptakan kalimat melodi, serta berimprovisasi dengan iringan progresi akor lagu Fly Me to the Moon. Siswa menunjukkan peningkatan dari hanya mampu memainkan akor menjadi mampu memainkan melodi dan berimprovisasi dalam format ansambel. Pembelajaran ini juga menumbuhkan kreativitas siswa dalam menyusun intro lagu dan memahami hubungan antar pattern skala pentatonik
"Devine Decree" transformasi pola ritme kendang jawa menjadi riff musik metalcore
Penelitian ini berjudul “Devine Decree: Transformasi Pola Ritme Kendang Jawa Menjadi Riff musik Metalcore”. Transformasi ritmis Kendang ke dalam musik Metal tidak sekedar proses penyesuaian teknis dan atau musikal, tetapi juga proses negosiasi budaya. Pola ritmis kendang memiliki karakteristik yg dekat dengan riff metal atau mirip dengan riff musik Metal. Pola aksen yg mirip dengan metal, warna suara, menjadi bahan untuk riff musik Metal. Tema syair diambil dari makna surat Al-Qori’ah yang dikembangkan menjadi lirik. Secara makna tentang tragedi sehingga itu dipandang sejalan dengan karakter bunyi musik metal. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi untuk mendapatkan informasi tentang pola ritmis kendang Jawa yang akan digunakan. Melalui observasi tersebut, terjadi proses kreatif yang dilakukan dengan menerapkan pola ritmis kendang Jawa ke dalam musik metalcore. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui proses cara konsep transformasi diterapkan dalam pengolahan ritmis Kendang Jawa ke dalam komposisi musik Metal. Konsep pembuatan riff Metal ini mengadopsi pola ritmis dari pukulan Kendang Jawa, di mana elemen bunyi “duk” diinterpretasikan sebagai nada-nada rendah atau register rendah, sedangkan bunyi “tak” diterjemahkan sebagai nada nada tinggi atau register atas. Dalam proses transformasi ritmis kendang Jawa menjadi riff Metal mengalami penyesuaian berupa pengurangan dan penambahan pada ritmisnya. Menggunakan kesan gelap terang pada progresi akor antara mayor minor dan augmented diminised. Banyak menggunakan disonan untuk memunculkan kesan gelap. Bagian-bagian ini dibuat sesuai dengan pembagian ayat pada makna surat Al-Qori’ah yang sekaligus dijadikan sumber pengembangan untuk pembuatan lirik. Dengan adanya karya komposisi ini, diharapkan bisa menjadi salah satu contoh bahwa musik tradisional dan musik modern dapat digabungkan dengan menggunakan konsep transformasi. Penggunaan pola ritmis kendang Jawa dalam musik metalcore tetap mengalami penyesuaian dengan musik metalcore agar masing-masing unsur tidak kehilangan cirikhasnya