Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta

opac.isi.ac.id
Not a member yet
    49728 research outputs found

    Penciptaan skenario film pendek di rumah sendirian terinspirasi dari kitab perihal gendis karya Sapardi Djoko Damono

    No full text
    Skenario film pendek berjudul Di Rumah Sendirian, yang merupakan adaptasi dari kitab puisi Perihal Gendis karya Sapardi Djoko Damono. Film ini mengeksplorasi tema keluarga, kehilangan, dan kesepian anak pasca-perceraian orang tua akibat krisis ekonomi, merepresentasikan suara anak yang sering terabaikan dalam narasi serupa. Urgensi penciptaan terletak pada minimnya representasi perspektif anak dalam film bertema perceraian, sehingga karya ini diharapkan dapat menyuarakan dunia batin mereka dan menjadi refleksi tentang dampak psikologis krisis keluarga. Metode penciptaan melibatkan tahapan penentuan dan analisis ide cerita dari puisi, perumusan premis, pengembangan karakter dan konflik dalam sinopsis, penulisan treatment skenario, hingga penyempurnaan dari first draft ke final draft. Proses adaptasi ini didukung oleh Teori Adaptasi (Linda Hutcheon) untuk mentransformasi puisi ke dalam bentuk visual, Teori Estetika Resepsi (Hans Robert Jauss) untuk memastikan skenario komunikatif, Teori Skenario Film (Syd Field) yang menggunakan struktur tiga babak, dan Teori Five Stages of Grief (Elisabeth Kübler-Ross) untuk memetakan perjalanan emosional tokoh utama, Enola, dari penolakan hingga penerimaan. Kajian terhadap karya terdahulu seperti film Hujan Bulan Juni dan skenario Kawan Tiba Senja memberikan referensi dalam proses alih wahana puisi ke film, menunjukkan fleksibilitas adaptasi dengan tetap menjaga esensi puisi. Dengan demikian, skenario Di Rumah Sendirian diharapkan dapat menjadi karya adaptasi yang puitis dan relevan secara sosial, menggambarkan pengalaman traumatis anak dalam konteks masa kin

    Penerarapan metode solfegio pada ekstrakurikuler vokal di SMPN 16 Yogyakarta

    No full text
    Ekstrakurikuler adalah kegiatan di luar jam pelajaran formal di sekolah yang dirancang untuk mengembangkan minat, bakat, dan keterampilan siswa di berbagai bidang. SMP Negeri 16 juga melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu ekstrakurikuler di SMP Negeri 16 Yogyakarta adalah Ekstrakurikuler Vokal, yang beberapa kali mengikuti berbagai lomba. Salah satu prestasi yang berhasil dicapai dari ekstrakurikuler Vokal yaitu Juara I Vokal Grup pada lomba yang diadakan oleh SMA 1 PIRI Yogyakarta, dalam acara pentas seni SMA 1 PIRI Yogyakarta. Meskipun demikian, keaktifan Ekstrakurikuler Vokal ini bukan berarti tidak ada kendala. Permasalahan yang dialami adalah masih ada peserta ekstrakurikuler yang belum mampu mencapai ketepatan nada atau biasa disebut (fals) dan belum dapat menyanyikan nada sesuai dengan notasi. Dari permasalahan tersebut, solusi yang telah dilakukan yaitu dengan penerapan metode solfegio Metode penelitian yang digunakan merupakan metode kualitatif. Objek penelitiannya penerapan metode solfegio pada ekstrakurikuler vokal. Subjek penelitiannya guru dan siswa yang mengikuti Ekstrakurikuler Vokal. Teknik pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara, dan dokumnetasi. Teknik validasi menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data meeliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solfegio merupakan latihan yang mengasah kemampuan pendengaran atau ketajaman bermusik. Adapun teknik-teknik yang terdapat dalam solfegio yaitu ear training, sight reading, dan sight singing. Metode solfegio digunakan pada Ekstrakurikuler Vokal di SMP Negeri 16 Yogyakarta dengan mengenalkan peserta ekstrakurikuler lagu yang sederhana. Dengan adanya ekstrakurikuler vokal, membantu siswa untuk mengembangkan bakat serta dengan adanya metode solfegio dalam pembelajaran vokal, siswa dapat bernyanyi dengan baik dan tepa

    Kombinasi motif batik tengkorak dengan teknik ecoprint dan pewarna alam sebagai representasi isu fast fashion pada busana kasual

    No full text
    Fast fashion memberikan manfaat seperti memperluas akses tren mode, membuka lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, di balik itu, terdapat persoalan serius terkait lingkungan dan etika produksi, seperti pencemaran, limbah tekstil berlebih, serta kerusakan ekosistem akibat bahan kimia sintetis. Karya ini merupakan bentuk kritik melalui penggabungan motif batik tengkorak yang merepresentasikan kehancuran lingkungan sekaligus simbol manusia sebagai pelaku dan korban dari krisis ekologis yang terjadi. Teknik ecoprint dan pewarna alami digunakan sebagai upaya menjaga kelestarian alam. Proses penciptaan karya ini menggunakan pendekatan estetika berdasarkan teori Edmund Burke serta metode penciptaan Hawkins yang mencakup eksplorasi ide, eksperimen, dan perwujudan. Berlandaskan teori estetika dan ergonomi, karya diwujudkan dalam enam busana kasual berwarna nuansa cokelat yang diharapkan menjadi media edukatif dan inspiratif dalam mengajak masyarakat untuk berbusana secara etis, berkelanjutan, dan tetap nyaman. Kata kunci: fast fashion, batik tengkorak, ecoprint, pewarna alam, busana kasual. INTISARI (ABSTRAK)   ABSTRACT Fast fashion offers benefits such as expanding access to fashion trends, creating jobs, and driving economic growth. However, behind this lies a serious issue related to the environment and production ethics, such as pollution, excessive textile waste, and ecosystem damage caused by synthetic chemicals. This work is a form of criticism through the combination of batik skull motifs that represent environmental destruction as well as symbolize humans as both perpetrators and victims of the ecological crisis that is occurring. Ecoprinting techniques and natural dyes are used as efforts to preserve the environment. The creation process of this work employs an aesthetic approach based on Edmund Burke's theory and Hawkins' creation method, which includes idea exploration, experimentation, and realization. Based on aesthetic and ergonomic theories, the work is realized in six casual garments in earthy brown tones, intended to serve as an educational and inspirational medium in encouraging society to dress ethically, sustainably, and comfortably. Keywords: fast fashion, skull batik, ecoprint, natural dyes, casual clothing

    Pembelajaran kesenian reog wayang berbasis transgenerasional pada komunitas Kridha Beksa Lumaksana Mangiran, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan pembelajaran kesenian Reog Wayang berbasis transgenerasional. Kesenian Reog Wayang merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang mengandung nilai-nilai budaya lokal dan diwariskan lintas generasi. Komunitas sebagai institusi nonformal memiliki kekhasan dalam pembelajaran yang berjalan secara berkelanjutan melalui interaksi sosial, kesadaran dan pengalaman kolektif, serta keterlibatan emosional antara generasi satu dengan generasi berikutnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang dikemukakan Creswell. Objek penelitian ini adalah kesenian Reog Wayang Kridha Beksa Lumaksana. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Setelah dilakukan pengumpulan, data divalidasi menggunakan triangulasi data sumber dan metode untuk menguji kredibilitas data mengenai pembelajaran kesenian Reog Wayang berbasis transgenerasional pada komunitas Kridha Beksa Lumaksana. Data kemudian dianalisis menggunakan penangguhan pengalaman pribadi, pembacaan data keseluruhan, identifikasi pernyataan, perumusan makna dan penyusunan tema, deskripsi tekstural dan structural, serta penyusunan deskripsi esensian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kesenian Reog Wayang berbasis transgenerasional berlangsung secara nonformal dan berbasis komunitas. Keberhasilan pembelajaran ini juga didukung oleh peran aktif masyarakat Mangiran sebagai pendukung dan pelaku seni. Sifatnya partisipatif, dapat diaktualisasikan dengan kekinian, sehingga membuat Kridha Beksa Lumaksana tetap memiliki anggotanya dari generasi X, Y, sampai Z. Keberlanjutan kesenian ini menjadi bukti bahwa pendidikan berbasis komunitas dan partisipasi lintas generasi memiliki peran strategis dalam menjaga eksistensi seni tradisi di tengah dinamika perubahan sosial dan budaya

    Penerapan teknik smear frame digabung on-twos and threes dalam pembuatan film animasi 2D berjudul "Actual Intelligence' sebagai upaya efisiensi produksi

    No full text
    Film animasi 2D “Actual Intelligence” yang akan dikembangkan akan membahas soal masalah yang tumbuh dalam masyarakat tentang penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan anak dengan menggunakan teknik gabungan smear dan on-twos and threes yang diaplikasikan pada animasi frame by frame sebagai upaya efisiensi produksi. Smear frames secara dasarnya adalah motion blur dalam animasi. Pada awalnya smear frame dibuat dengan mensimulasikan motion blur pada gambar dengan membuat banyak garis jalur pergerakan. (Christoph Lendenfield, 2018). Sedangkan, animasi secara twos atau threes mengacu pada berapa lama sebuah frame bertahan dalam satu sequence. (William Richards, 2002) Metode yang akan digunakan dalam perencanaan film animasi pendek ini adalah metode penciptaan kreatif dari Graham Wallas (1962)

    Eceng gondok sebagai motif batik busana vintage

    No full text
    Karya Tugas Akhir ini berupa busana vintage yang teriinspirasi dari bentuk tumbuhan eceng gondok sebagai sumber ide penciptaan yang diterapkan pada busana vintage, melalui stilasi bentuk eceng gondok sebagai motif batik bergaya pesisiran. Eceng gondok dipilih karena memiliki karakteristik bentuk visual yang unik. Karya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain batik serta meningkatkan pemanfaatan tumbuhan lokal sebagai sumber ide kreatif dalam dunia fashion. Proses perwujudan karya ini menggunakan metode penciptaan yang dapat membantu proses kelancaran dalam pengerjaan. Metode penciptaan meliputi metode pengumpulan data, analisis data, perancangan karya, dan perwujudan karya. Dalam perwujudan karya menggunakan teknik batik tulis dengan pewarnaan colet sesuai konsep rancangan busana ini. Hasil akhir dari Tugas Akhir ini penulis membuat lima buah karya dengan judul koleksi “Sekar Wening” yang memiliki arti bunga yang indah dalam ketenangan sebagaimana ide yang diambil pada karya ini yaitu eceng gondok. Filosofi Eceng Gondok dalam karya batik melambangkan ketahanan, adaptabilitas, keindahan, sebagai simbol pertumbuhan dan perubahan, serta menghargai hubungan yang harmonis antara manusia dan alam

    Penggunaan Efek Suara Hyperreal untuk Membangun Naratif Pada Penataan Suara Film "Hajar!!!"

    No full text
    Film Hajar!!! merupakan film fiksi bergenre aksi drama yang bercerita tentang seorang Ibu muda yang harus melawan traumanya demi menyelamatkan anaknya yang diculik. Penciptaan film fiksi Hajar!!! ini berfokus pada eksplorasi peran efek suara dalam membangun konstruksi naratif, mengingat potensi suara sering kali belum dieksplorasi sebagai elemen pencerita yang aktif dalam produksi film fiksi. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana efek suara hyperreal dapat digunakan secara efektif untuk membangun naratif dalam film aksi-drama yang mengangkat tema trauma, ketahanan karakter, dan kasih sayang ibu. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk menerapkan dan menganalisis penggunaan efek suara hyperreal melalui teknik layering, reverb, time stretching, panning, dan manipulasi frekuensi guna memperkuat emosi, mempertegas motif karakter, serta memperkaya atmosfer cerita, serta memanfaatkan konsep added value, point of audition, dan leitmotif untuk membangun kontinuitas naratif dan psikologis karakter utama, Hajar. Metode penelitian penciptaan ini meliputi studi referensi, analisis naskah, eksplorasi teknis, dan eksperimen artistik, yang dilaksanakan dalam tiga tahap produksi: pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Hasil utama penciptaan menunjukkan bahwa penggunaan efek suara hyperreal secara efektif mampu memperkaya motif karakter, membangun lapisan narasi baru, mempertegas kondisi batin tokoh, serta memperkaya dimensi dramatik adegan aksi dan drama. Dengan demikian, konsep penataan suara ini terbukti dapat menjadi alternatif pendekatan kreatif dalam pengembangan penataan suara film fiksi Indonesia, khususnya dalam menggabungkan intensitas aksi dan kedalaman emosional karakter

    Perancangan buku digital panduan bisnis industri microstock bagi ilustrator pemula

    No full text
    Kemajuan teknologi dan mudahnya akses informasi membuat profesi ilustrator semakin dikenal luas, terutama melalui media sosial. Kemajuan teknologi daring memungkinkan ilustrator pemula untuk bersaing dengan ilustrator profesional dalam hal bisnis. Microstock dapat menjadi wadah untuk persaingan yang sehat dalam bisnis ilustrasi digital ini. Microstock yang merupakan model bisnis yang tidak berbasis klien secara langsung, dan dapat diakses secara global dinilai dapat menjadi salah satu solusi sebagai peluang bisnis sekaligus wadah untuk mengembangkan potensi dan menjadi motivasi bagi para illustrator digital pemula. Penulis menemukan beberapa buku panduan yang membahas cara-cara memulai berjualan di microstock, namun, buku yang sudah ada lebih berfokus pada penjualan gambar stok fotografi. Buku panduan digital ini dirancang untuk memberikan informasi seputar peluang ilustrator digital di industri microstock, mulai dari cara memulai, contoh karya yang bisa dijual, hingga tips dan trik teknis maupun non teknis. Format digital dipilih agar sesuai dengan target audiens yang aktif di dunia digital. Perancangan ini dibuat berdasarkan data yang telah terkumpul dari berbagai sumber jurnal, buku, dan wawancara dengan pihak yang terkait

    Tari Kretek Sebagai Identitas Kabupaten Kudus Jawa Tengah

    No full text
    Tulisan ini mengupas Tari Kretek Sebagai Identitas Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Tari Kretek adalah salah satu tarian yang diciptakan oleh seniman Endang Tony dan Supriyadi yang kini menjadi tari Kretek sebagai identitas di kabupaten Kudus. Kata “Kretek” digunakan pertama kali oleh Haji Djamhari, seorang warga Kudus, pada tahun 1880. Haji Djamhari menemukan rokok Kretek saat mencoba mengatasi sesak napasnya dengan minyak cengkeh yang di oleskan ke dada nya. Ia kemudian bereksperimen dengan mencampur cengkeh dan tembakau, melintingnya dengan kulit jagung, dan membakarnya sehingga terdengar bunyi "Kretek" yang dihasilkan dari pembakaran lintingan tersebut menjadi asal usul nama Kretek. Penelitian ini ingin mengungkap identitas Kabupaten Kudus yang tidak hanya dipandang sebagai kota kretek, dengan tari Kretek sebagai ikonnya. Akan tetapi, akan mengupas kedalaman makna identitas yang terlabelkan dalam tari Kretek Kudus yang saat ini menjadi alasan utama penulis melakukan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan teori identitas budaya berdasarkan pemikiran Stuart Hall. Teori identitas budaya yang sedikitnya dapat dilihat identitas ini tidak bersifat tetap, melainkan dinamis dan terus berkembang seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya. Dalam konteks masyarakat Kudus, Tari Kretek merupakan salah satu elemen budaya yang merepresentasikan identitas lokal. Tarian ini mencerminkan nilai-nilai budaya yang terkait dengan tradisi Kretek, seperti kerja keras, kebersamaan, dan kearifan lokal. Budaya Kretek juga menghasilkan jutaan kisah yang mengenai terjalinnya tali perkawanan, status sosial, hingga etika sosial. Kretek merupakan pemandangan yang kerap kali kita lihat dalam kehidupan masyarakat. Setelah hisapan pertama yang disusul seteguk teh atau kopi adalah fakta konkrit bahwa budaya Kretek menjelma menjadi ritus sehari-hari dan dimiliki oleh segala lapisan sosial. Budaya kretek menjadi salah satu aktivitas yang mewadahi guyubnya masyarakat. Dalam bahasa ilmu sosial, fenomena itu disebut sebagai kohesi sosial

    Proses Kreatif Penciptaan Tari Kipas Asri Karya Feri Catur Harjanta Sanggar Pelangi Entertainment

    No full text
    Tari Kipas Asri adalah tari yang diciptakan oleh Feri Catur Harjanta pada tahun 2015. Tari Kipas Asri ini tercipta karena terinspirasi dari tari Angguk Kipas yang berasal dari Dusun Kemiri, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Tarian ini mengangkat tema keprajuritan dan kesetaraan gender. Bentuk koreografi tari Kipas Asri ini termasuk ke dalam bentuk koreografi duet, tarian ini berpijak pada tari Angguk Kipas dan gerak- gerak silat serta beberapa menggunakan teknik gerak Lifting. Penelitian ini menggunakan teori Rhodes dengan tahapan 4P yang diharapkan dapat membantu peneliti dalam membedah permasalahan yang diangkat oleh peneliti. Adapun tahapan dalam teori ini meliputi aspek Person, Press, Process, Product. Person membahas personal dari Feri Catur Harjanta sebagai Koreografer dalam tarian Kipas Asri. Press faktor pendorong yang menjadi dasar terciptanya tari Kipas Asri yang berasal dari luar atau dalam diri Feri Catur Harjanta. Process membahas bagaimana proses Feri Catur Harjanta dalam menciptakan karya tari Kipas Asri. Product membahas bagaimana hasil akhir dalam hal ini adalah Tari kipas Asri sebagai hasil proses kreatif Feri Catur Harjanta. Dalam proses penemuan gerak Feri Catur Harjanta mengacu pada metode penciptaan yang dikemukakan oleh Alma Hawkins meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Konsep tersebut berdasarkan dari hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, yang pada kenyataannya diterapkan oleh Feri Catur Harjanta dalam menciptakan karya tari Kipas Asri. Tari Kipas Asri yang diciptakan oleh Feri Catur Harjanta ini merupakan hasil dari proses kreatif. Dalam proses kreatif penciptaan tari Kipas Asri dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor ini berasal dari dalam dan dari luar Feri Catur Harjanta. Untuk mendapatkan hasil akhir dari proses kreatif berupa karya tari Kipas Asri dimulai dari penetapan ide, penetapan pendukung karya, proses pencarian gerak,tahap penyusunan hingga pada penetapan gerak. Dalam prosesnya Feri Catur Harjanta melakukan tahapan eksplorasi, improvisasi, pembentukan, dan evaluasi hingga pada akhirnya tercipta suatu produk yaitu tari Kipas Asri

    0

    full texts

    49,728

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    opac.isi.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇