Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan
Not a member yet
101 research outputs found
Sort by
Psikoterapi Islam pada pecandu narkoba di Pondok Pesantren Bidayatussalikin Sleman Yogyakarta
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi maraknya kasus narkoba adalah dengan rehabilitasi. Sejauh ini pemerintah banyak melakukan kerjasama dengan berbagai pusat rehabilitasi, salah satunya yayasan pondok pesantren Bidayatussalikin dengan metode yang relatif berbeda dari metode yang digunakan oleh pusat rehabilitasi pada umumnya, yaitu dengan pendekatan psikoterapi Islam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menjelaskan proses, manfaat, dan faktor pendukung serta penghambat proses psikoterapi Islam yang dilakukan pondok pesantren Bidayatussalikin, kepada santri (korban penyalahgunaan narkoba). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan di pondok pesantren Bidayatussalikin Sleman Yogyakarta yang sudah bekerja sama dengan BNN (Badan Narkotika Nasional) dengan informan kunci yaitu terapis sekaligus pendiri pondok pesantren, konselor, musyrif, serta santri. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, maka penelitian ini menyimpulkan bahwa proses psikoterapi Islam yang dilakukan di pondok pesantren Bidayatussalikin menggunakan pendekatan tasawuf yang meliputi takhalli, tahalli dan tajalli. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa manfaat psikoterapi Islam diantaranya, perkembangan fisik santri menjadi lebih baik, gangguan kecemasan para santri mulai menurun, santri dapat bersosialisasi dengan lingkungan, dan santri menjadi taat beribadah kepada Allah SWT. Selanjutnya faktor pendukung prosesi psikoterapi Islam adalah memiliki terapis yang ahli dalam bidangnya, serta sarana dan prasarana yang memadai. Sebaliknya, faktor penghambat proses psikoterapi Islam dikarenakan peran orang tua yang kurang konsisten dan karakter beberapa santri kurang baik
Hubungan antara regulasi emosi dan penyesuaian diri dengan stres perawat yang bertugas di ruang isolasi pasien Covid-19
Tingginya angka pasien Covid-19 saat ini turut berdampak pada kelelahan perawat, khususnya perawat yang langsung bersentuhan dengan pasien Covid di ruang islosasi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui faktor yang memiliki hubungan dengan tinggi rendahnya tingkat stres perawat yang menangani secara langsung pasien Covid-19 di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan penyesuaian diri dengan stres perawat yang bertugas di ruang isolasi pasien Covid-19. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasi. Subjek penelitian yaitu 70 perawat diruang isolasi Rumah Sakit Umum Daerah Praya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala stres, skala regulasi emosi, dan skala penyesuaian diri. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukan R= 0,442 dengan p=0,001 (p<0,01) yang berarti ada hubungan yang sangat signifikan antara regulasi emosi dan penyesuaian diri dengan stres perawat yang bertugas di ruang isolasi. Hasil uji korelasi product moment Pearson antara regulasi emosi dengan stres menghasilkan nilai rxy=-0,358 dan p= 0,023 (p<0,05). Hasil uji korelasi antara penyesuaian diri dengan stres menghasilkan nilai rxy=-0,333 dan p=0,48 (p<0,05). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan negatif antara regulasi emosi dengan stres. Semakin tinggi regulasi emosi maka semakin rendah stres sebaliknya semakin rendah regulasi emosi maka akan semakin tinggi stres. Selain itu ada hubungan negatif antara penyesuaian diri dengan stres. Semakin tinggi penyesuaian diri maka semakin rendah stres sebaliknya semakin rendah penyesuaian diri maka akan semakin tinggi stres
Rumination in children from broken home: Can self-compassion and emotional intelligence reduce rumination?
Although research on rumination and self-compassion has been done before, none of them examined rumination, self-compassion, and emotional intelligence simultaneously. This study aims to determine the role of self-compassion and emotional intelligence on rumination. The study participants were 200 adolescents aged 10-21 years and whose parents are divorced. Researchers used rumination, self-compassion and emotional intelligence measuring instrument and distributed the instrument through google form in the data collection process. Multiple regression analysis results indicate that self-compassion and emotional intelligence have a significant role in reducing rumination. Researchers found that adolescents mostly used mindfulness (M=18.00; SD=3.544), reflection (M=25.59; SD=5.364), and aspects of self-motivation (M=17.86; SD=2.313) to regulate emotions, and feel the benefits of components in everyday life
Efektivitas konseling realitas untuk meningkatkan perilaku moral siswa
Krisis moral tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang sepele karena tindakan tersebut menjurus pada tindakan kriminal. Menyikapi krisis moral yang cukup marak di lingkungan siswa akhir-akhir ini, maka dibutuhkan suatu intervensi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas konseling realitas untuk meningkatkan perilaku moral siswa sekolah menengah atas (SMA). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan one grup prestest and posttest design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 10 Malang. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan statistic descriptive uji wilcoxon signed rank test. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa setelah subjek diberi perlakuan berupa konseling realitas, terdapat peningkatan skor perilaku moral siswa pada ranah: (1) disiplin, (2) mengendalikan diri, (3) sopan santun, dan (4) kejujuran, hal ini berarti konseling realitas efektif untuk meningkatkan perilaku moral siswa.
Regulasi diri pada remaja putri yang pernah mengalami eksploitasi
Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mengalami kondisi yang memprihatinkan terkait dengan tingginya kasus kekerasan seksual. Agar para korban yang telah mengalami dampak dari kekerasan seksual tidak menjadi buruk, maka diperlukan adanya regulasi diri yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi diri yang dimiliki oleh remaja putri yang pernah mengalami eksploitasi seksual, faktor yang mempengaruhi regulasi diri, serta dampak yang dialami setelah eksploitasi seksual. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja putri yang pernah mengalami eksploitasi seksual. Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan content analysis. Sementara untuk memenuhi syarat kredibilitas data, peneliti menggunakan metode triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek telah mampu melakukan regulasi diri dengan cukup baik. Regulasi diri dilakukan dengan cara menolak setiap pemberian yang merupakan imbalan kencan, menjual hp dan mengganti nomor, serta menghindar dan menolak untuk ditemui atau diajak kencan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor internal regulasi diri subjek terdiri dari dua hal, motivasi dari dalam diri dan kepribadian yang mudah menerima masukan dari orang lain. Motivasi muncul karena adanya penolakan atas perlakuan yang subjek terima, serta adanya observasi diri dan proses penilaian yang subjek lakukan terhadap dirinya sendiri. Faktor eksternal regulasi diri subjek yaitu terdiri dari dukungan sosial dalam bentuk emotional atau esteem support, informational support, dan companionship support dari orang-orang di sekelilingnya. Akibat eksploitasi seksual yang terjadi pada dirinya, subjek mengalami dampak secara fisik dan psikologis
Menumbuhkan kesadaran anak terhadap pentingnya penerapan protokol kesehatan di masa kenormalan baru
Pandemi Covid-19 saat ini menimbulkan banyak tekanan, tak terkecuali pada anak. Anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terinfeksi Covid-19. Oleh karena itu, untuk memutus rantai penyebaran virus, perlu adanya sosialisasi dan edukasi yang tepat bagi anak dalam pencegahan Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan anak mengenai Covid-19 serta tindakan preventif yang dilakukan agar terhindar dari virus tersebut di masa kenormalan baru. Metode penelitian yang dilakukan yaitu kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini sejumlah 15 anak yang berdomisili di Dolopo, Madiun dengan menggunakan teknik purposif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan field notes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak telah memiliki pemahaman mengenai Covid-19 sebagai virus yang berbahaya dan mematikan. Informasi tersebut diperoleh dari orang-orang sekitar, seperti: orang tua, guru, kakek, nenek, serta media televisi. Selain itu, anak-anak juga mampu melakukan tindakan pencegahan virus, seperti: rajin mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, tidak keluar rumah, serta berjemur. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasanya anak–anak sudah cukup memiliki kesadaran dalam memproteksi diri serta menerapkan protokol kesehatan di masa kenormalan baru yang disertai dengan dukungan dari seluruh pihak
Regulasi emosi dan parenting stress pada ibu bekerja
Ibu dengan peran ganda atau dengan istilah ibu bekerja pada umumnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Oleh karena itu, peluang ibu bekerja untuk merasakan lelah baik secara fisik maupun emosional akan jauh lebih besar sehingga penting untuk mengetahui faktor yang memprediksi stress pada ibu bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi regulasi emosi terhadap parenting stress pada ibu bekerja. Metode pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Subjek penelitian adalah ibu bekerja yang memiliki anak dengan total jumlah 318 orang. Penelitian menggunakan dua alat ukur, yaitu skala regulasi emosi dengan nilai koefisien reliabilitas 0,831 dan skala parenting stress dengan nilai koefisien reliabilitas 0,71. Analisis data menggunakan teknik regresi sederhana dan diolah dengan menggunakan program SPSS 23 for windows. Hasil analisis data menunjukkan bahwa regulasi emosi mampu memprediksi parenting stress secara signifikan dengan nilai F=15.838 dan p=0,000 (p<0,001). Nilai R square 0,048 artinya regulasi emosi mampu memberikan sumbangan efektif terhadap parenting stress sebesar 4,8%, sedangkan 95,2% dipengaruhi oleh faktor lain. Penelitian ini menyimpulkan bahwa regulasi emosi secara signifikan mampu memprediksi parenting stress
Religiusitas, kebermaknaan hidup, dukungan sosial dan penyesuaian diri narapidana
Setiap individu senantiasa dihadapkan pada situasi yang terus berubah. Tidak terkecuali seorang narapidana yang harus menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Penyesuaian diri perlu dilakukan oleh setiap individu demi tercapainya keharmonisan antara diri dan tuntutan lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk menguji apakah ada korelasi antara religiusitas, kebermaknaan hidup, dukungan sosial dan penyesuaian diri narapidana. Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif desain korelasi. Subjek penelitian ini memiliki karakteristik berstatus narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Surakarta, Jawa Tengah sejumlah 246 orang dengan menggunakan studi populasi. Alat penumpulan data menggunakan skala religiusitas, kebermaknaan hidup, dukungan sosial dan penyesuaian diri narapidana. Analisis data yang digunakan regresi berganda dengan SPSS 21 for windows. Hasil penelitian menyimpulkan (1) terdapat korelasi yang sangat signifikan antara religiusitas, kebermaknaan hidup, dan dukungan sosial dengan penyesuaian diri. (2) terdapat korelasi positif antara religiusitas dengan penyesuaian diri. (3) terdapat korelasi positif antara kebermaknaan hidup dengan penyesuaian diri. (4) terdapat korelasi positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri. Selanjutnya sumbangan efektif (SE) religiusitas, kebermaknaan hidup dan dukungan sosial pada penyesuaian diri, sebesar 60,6%
Kecerdasan intelektual dan prestasi belajar siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 8 Yogyakarta
Belajar merupakan proses internalisasi ilmu pengetahuan dan pengalaman individu dengan hasil pada perubahan perilaku atau ketrampilan. Salah satu tugas seorang pendidik adalah melakukan penilaian terhadap siswa untuk mengukur tingkat keberhasilan proses pembelajaran. Penilaian tersebut dapat berupa angka, huruf atau kata-kata yang lebih umum disebut dengan prestasi belajar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual bukanlah menjadi prediktor utama prestasi belajar, namun keberadaannya masih memiliki pengaruh. Faktor kecerdasan intelektual seseorang masih diyakini mempunyai andil dalam mempengaruhi hasil belajar. Pada penelitian ini, tujuan penelitian adalah ingin melakukan pengujian secara empiris terkait dengan pengaruh kecerdasan intelektual terhadap prestasi belajar siswa. Metode pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional. Partisipan pada penelitian ini adalah 40 siswa kelas XI dengan peminatan MIPA yang telah diperoleh dengan teknik sampel acak. Analisis data dengan metode regresi linear sederhana menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual berpengaruh secara positif dan signifikan pada capaian prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan nilai koefisien determinasi (R2), kecerdasan intelektual diprediksikan berkontribusi sebesar 29,4% terhadap prestasi belajar siswa. Oleh karena itu penelitian ini menyimpulkan bahwa kecerdasan intelektual memiliki hubungan yang signifikan terhadap prestasi belajar siswa-siswi kelas XI peminatan MIPA SMA Negeri 8 Yogyakarta
Implikasi manajemen stres dan dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh minimnya perhatian dari masyarakat tentang kualitas hidup lansia, sementara kualitas hidup merupakan salah satu aspek penting dari kehidupan manusia, termasuk lansia. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara manajemen stres dan dukungan sosial dengan kualitas hidup pada lanjut usia. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif. Sampel penelitian adalah 80 orang lanjut usia yang tinggal di Kelurahan Sindangkasih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat yang dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner WHOQOL-BREF, skala manajemen stres dan skala dukungan sosial. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil dan kesimpulan penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara manajemen stres dan dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia. Selanjutnya, ada hubungan positif yang sangat signifikan antara manajemen stres dengan kualitas hidup lansia, namun tidak ada hubungan antara dukungan sosial dengan kualitas hidup lansia