Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan
Not a member yet
    101 research outputs found

    Self-esteem, neuroticism, dan celebrity worship pada remaja penggemar K-pop

    Get PDF
    Memiliki dan memuja idola merupakan hal normal pada masa perkembangan remaja. Namun, perilaku memuja idola yang berlebihan menjadi hal yang tidak wajar. Celebrity worship merujuk pada sebuah fenomena kontinum terkait kekaguman penggemar terhadap tokoh selebritis dari normal hingga psikopatologis. Salah satu faktor yang mempengaruhi celebrity worship adalah self-esteem. Faktor lain yang mempengaruhi celebrity worship adalah kepribadian neuroticism. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara self-esteem, neuroticism dengan celebrity worship pada remaja penggemar K-pop. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Populasi penelitian ini adalah remaja penggemar K-pop yang tersebar di Indonesia. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik snowball sampling. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 269 remaja penggemar K-pop berusia 12-15 tahun yang tersebar di Indonesia. Alat ukur yang digunakan terdiri dari tiga skala, yaitu skala celebrity worship, Rosenberg Self Esteem Scale (RSES), dan skala NEO PI-R (faktor neuroticism) yang didistribusikan secara online. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan perolehan nilai F=3,045 dengan sign p value=0,049 (p<0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa secara simultan terdapat pengaruh antara self-esteem, neuroticism dengan celebrity worship pada remaja penggemar K-pop

    Gambaran peta dukungan sosial pada laki-laki penyintas kanker nasofaring

    Get PDF
    Dukungan sosial sangat dibutuhkan saat seseorang sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Selama masa perawatan, pendampingan dan dukungan orang-orang terdekat akan mengurangi beban yang dirasakan oleh pengidap penyakit kronis dan membantu proses penyembuhannya. Bagaimana dukungan sosial yang diterima para penyintas penyakit kronis, dalam hal ini kanker nasofaring menjadi perlu untuk diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran peta dukungan sosial pada laki-laki penyintas kanker nasofaring. Melalui pendekatan kualitatif dengan rancangan fenomenologis akan digali bagaimana jenis, bentuk dan sumber dukungan sosial yang diterima oleh pasien kanker nasofaring. Partisipan berjumlah empat laki-laki dewasa penyintas kanker nasofaring yang dipilih melalui teknik purposive dan prosedur penentuan partisipan berdasar teori (theory-based). Pengumpulan data menggunakan in depth interview. Teknik analisis data menggunakan model Miles and Huberman. Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu ke empat partisipan menerima semua jenis dukungan sosial berupa emotional atau esteem support, tangible atau instrumental support, informational support dan companionship support. Adapun bentuk emotional atau esteem support dan tangible atau instrumental support adalah pemberian empati, perhatian dan kasih sayang, dukungan finansial dan mendapatkan bantuan pelayanan (jasa). Pada jenis dukungan sosial berupa informational support dan companionship support, terdapat dua bentuk dukungan berupa nasehat atau saran tentang kanker nasofaring, serta informasi tentang pengobatan dan tentang kanker nasofaring. Sementara sumber dukungan sosial utama  datang dari keluarga, teman dan kerabat. Tenaga kesehatan dan sesama penyintas adalah juga sumber dukungan sosial bagi penderita kanker nasofaring.

    The influence of self-concept and peer support on social anxiety of stutter survivors in Indonesia

    Get PDF
    Stuttering is a speech disorder characterized by repeating sounds, syllables, or prolonging sounds. Individuals with a stutter know precisely what they want to say but have difficulty producing a regular flow of speech. Stuttering, which may be accompanied by behaviors such as rapid eye blinking or lip trembling. This study aims to determine the relationship between self-concept and peer support with social anxiety in stutter survivors in the Indonesia Stuttering Community. The sample for this study was 209 members of the Indonesia Stuttering Community out of a population 0f 537 members. The sample was selected using a purposive sampling technique with criteria of individual who have speech disorders (stuttering) and are part of the ISC community. Data collection uses three psychological scale, namely self-concept scale, peer support scale and social anxiety scale. The result of this study indicate that the effective contribution value is 46.1%, It can be concluded that there is an influence betweet self-concept and peer support on social anxiety among stuttering survivors who are part of the ISC community

    Validitas dan reliabilitas konstruk skala intensi berwirausaha untuk siswa sekolah menengah kejuruan: Analisis faktor konfirmatori

    Get PDF
    Intensi berwirausaha merupakan faktor penting yang harus dimiliki individu untuk memulai usaha. Intensi berwirausaha akan mengawali terjadinya perilaku berwirausaha yang dapat berdampak positif pada menurunnya pengangguran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas konstruk skala intensi berwirausaha, mengetahui kontribusi setiap aspek dan indikator dalam merefleksikan variabel intensi berwirausaha, dan menguji fit atau tidaknya model teoritis konstruk intensi berwirausaha dengan data empiris. Intensi berwirausaha terdiri dari tiga aspek yang merefleksikan intensi berwirausaha, yaitu memilih jalur usaha daripada bekerja, memilih karir sebagai wirausahawan, serta perencanaan untuk memulai usaha. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Negeri “X” di Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sampling, dengan sampel penelitian berjumlah 225 siswa. Metode pengumpulan data menggunakan skala intensi berwirausaha. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan CFA 2nd order melalui program Lisrel 8,71. Hasil analisis data penelitian menunjukkan model pengukuran (measurement model) skala intensi berwirausaha sesuai (fit) dengan data empirik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa semua aspek dan indikator yang membentuk konstruk skala intensi berwirausaha dinyatakan valid dan reliabel, serta dapat merefleksikan intensi berwirausaha. Skala intensi berwirausaha ini layak digunakan untuk mengukur intensi berwirausaha khususnya pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan.

    Workforce agility: Kajian literatur

    Get PDF
    Workforce agility adalah aspek penting bagi perusahaan dalam menghadapai situasi yang penuh dengan ketidakpastian. Kajian literatur terkait workforce agility pada saat ini belum banyak dikaji, dan penelitian ini dilakukan dengan tujuan mampu menegakkan konsep workforce agility melalui artikel ilmiah terpercaya. Kajian literatur ini dilakukan berdasarkan 19 artikel jurnal yang membahas tentang workforce agility.  Pencarian artikel jurnal melalui situs Google Scholar, Sciencedirect, Garuda Portal, Springer, dan Proquest. Hasil dan kesimpulan dari kajian konseptual workforce agility ini mendefinisikan workforce agility sebagai kemampuan pekerja untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang berubah dengan cepat, fleksibel dan penuh dengan ketidakpastian melalui pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Penelitian ini mengidentifikasikan tiga dimensi dari workforce agility yaitu proactivity, adaptability, dan resilience. Workforce agility dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti individu (kepribadian, kebutuhan, empowerment), lingkungan kerja (teamwork dan leadership), dan organisasi (budaya dan struktur organisasi). Workforce agility juga berdampak pada produktivitas, efektivitas biaya, prilaku inovatif, dan efektivitas waktu pencapaian target

    Model kepribadian multikultural perspektif resiliensi ego dan hubungan interpersonal

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam suku, agama dan budaya yang berpotensi menimbulkan konflik. Realitas tersebut menjadikan penelitian bertujuan mengembangkan model kepribadian multikultural perspektif resiliensi ego dan hubungan interpersonal sebagai upaya mewujudkan perdamaian.  Pendekatan penelitian kuantitatif digunakan untuk melakukan pemodelan persamaan struktural pada kepribadian multikultural. Adapun populasi penelitian merupakan siswa dari tiga sekolah menengah kejuruan di Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Teknik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling dengan total yang diperoleh yaitu 200 sampel penelitian.  Pengumpulan data menggunakan skala resiliensi ego, skala hubungan interpersonal, dan skala kepribadian multikultural. Analisis data untuk melakukan uji model menggunakan Structural Equation Model (SEM) melalui program Lisrel. Hasil dari analisis data menunjukkan pemodelan kepribadian multikultural memenuhi goodness of fit karena nilai p>0,05, yaitu 0,09956. Resiliensi ego berkontribusi terhadap kepribadian multikultural dengan nilai 0,24 (5,76%) dan hubungan interpersonal berkontribusi terhadap kepribadian multikultural dengan nilai 0,18 (3,24%). Bersumber dari hasil dapat dijelaskan bahwa resiliensi ego yang terdiri dari membangun hubungan, rasa ingin tahu, kontrol emosi dan optimisme serta hubungan interpersonal yang terdiri dari inisiasi, memenuhi tuntutan lingkungan, keterbukaan diri, dukungan emosional dan manajemen konflik membentuk empati budaya, keterbukaan pikiran, inisiasi sosial dan kestabilan emosi yang merupakan bagian pembentuk kepribadian multikultural

    Critical thinking ability and information literacy in identifying fake news on social media users

    Get PDF
    Information literacy is an ability that a person needs to be able to use information correctly and identify fake news on social media. Critical thinking skills are skills related to information literacy that can help information consumers identify reliable sources while denying fake news (hoax). The purpose of this study was to determine the relationship between critical thinking skills and information literacy in identifying fake news on social media users. This study uses a quantitative approach with a sample size of 348 people with early adults characterisctics living in Aceh aged 20-34 years and using social media. Data analysis used the Pearson Correlation technique which showed the correlation coefficient r=0.589 with a significance value p=0.000 (p<0.05). The results of the study concluded that there was a positive relationship between critical thinking skills and information literacy on social media users. The majority of the research samples are in the high category for their critical thinking skills and information literacy

    Menurunkan kecanduan gadget dengan pelatihan kontrol diri remaja di SMPN 2 Jatisrono

    Get PDF
    Penggunaan gadget selama proses pembelajaran di masa pandemi COVID-19 menimbulkan masalah baru. Sesuai dengan studi awal menunjukan bahwa kecanduan gadget di kalangan siswa relatif cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah pelatihan kontrol diri dapat menurunkan kecanduan gadget pada siwa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan pra-eksperimen, yaitu the one-group pretest-posttest design. Instrumen pengumpulan data menggunakan skala kecanduan gadget. Populasi penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 2 Jatisrono yang diambil dengan teknik purposive sampling. Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test menggunakan SPSS 23 menunjukkan adanya penurunan yang sangat signifikan dari perolehan skor kecanduan gadget dengan nilai Z=–5.541 dan p=0,000 (p<0,001). Kesimpulan dalam penelitian ini menemukan bahwa pelatihan kontrol diri dapat menurunkan kecanduan gadget pada siswa dengan penurunan presentase tingkat kecanduan gadget sebesar 8,18%

    Hardiness personality dan burnout pada guru SLB di Kalimantan Selatan

    Get PDF
    Seorang guru dituntut memiliki kemampuan dan kerelaan agar dapat memaklumi alam pikiran dan perasaan siswanya. Guru harus bersedia menerima siswa apa adanya, termasuk harus bersikap sabar, ramah, menunjukkan pengertian, mudah memberikan kepercayaan diri dan dapat menciptakan suasana aman. Terkhusus untuk Guru SLB, guru dituntut untuk profesional, mampu mengontrol diri dan memiliki kesabaran yang tinggi karena menghadapi anak-anak yang berbeda dengan anak pada umumnya, terlebih ada kalanya anak berkebutuhan khusus tidak suka dipaksa Dengan demikian, hal tersebut dapat membuat Guru SLB berada dalam suasana negatif, merasa bersalah, tertekan dan merasa jenuh dengan pekerjaan hingga menimbulkan burnout. Oleh karena itu, sebagai guru SLB harus memiliki hardiness personality agar dapat bersikap sabar dalam mengajari anak didik. Guru juga mampu memiliki kendali atas pekerjaan mereka dan mampu menemukan solusi untuk setiap masalah, menekankan pada tanggung jawab, dan tidak menyalahkan kekurangan orang lain. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hardiness personality terhadap burnout pada guru SLB. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasi. Populasi pada penelitian ini adalah guru yang mengajar di sekolah luar biasa di Provisi Kalimantan Selatan. Teknik pengambilan sampel penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 103 orang. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah  skala burnout dengan nilai reabilitas Cronbach-Alpha sebesar 0,982 dan skala hardiness personality dengan nilai reabilitas  Cronbach-Alpha sebesar 0,978. Hasil Perhitungan statistik menunjukkan nilai korelasi (r=-0,824; p=0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif antara hardiness personality dengan burnout pada guru SLB

    88

    full texts

    101

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇