28611 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Angka kejadian stunting di Indonesia masih tinggi dan masih jauh dari Target RPJMN 2019 sebesar 28%. Stunting dapat menimbulkan dampak buruk bagi terganggunya perkembangan otak, penurunan kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan metabolisme dalam tubuh. Banyak faktor yang dapat menyebabkan stunting yang terbagi atas faktor langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian Stunting adalah asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak langsungnya adalah pendidikan, status ekonomi keluarga, status gizi ibu saat hamil, sanitasi air dan lingkungan, BBLRPenelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting Pada Balita di Puskesmas Rowokele.Jenis penelitian yaitu q rancangan penelitian berupa case control dengan pendekatan retrospektif. Jumlah sampel 72 responden yang di ambil dengan simple random sampling.Hasil penelitian ada hubungan pendidikan ibu dengan kejadian stunting dengan nilai p=0,002, Ada hubungan Riwayat infeksi dengan kejadian stunting dengan nilai p=0,001 dan Ada hubungan riwayat pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting di Wilayah kerja Puskesmas Rowokele dengan nilai p=0,002. Kesimpulan faktor yang mempengearuhi kejadian stunting Pada Balita di Puskesmas Rowokele adalah faktor Riwayat infeksi, Pendidikan dan riwayat pemberian ASI Eksklusif
ASUHAN KEPERAWATAN NYERI AKUT PADA PASIEN POST OPEN REDUCTION INTERNAL FIXATION FRAKTUR FEMUR DI RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN
Latar belakang: Fraktur femur atau patah tulang paha adalah diskontinuitas dari femoral shaft yang bisa terjadi akibat trauma pada paha ataupun faktor patologis. Penatalaksanaan utama pada fraktur femur untuk memulihkan fungsi normal yaitu menggunakan tindakan Open Reduction Internal Fixation (ORIF). Pasca ORIF pasien akan mengalami nyeri akut yang berat dikarenakan trauma skelet dan pembedahan yang dilakukan pada tulang, otot, maupun sendi. Tujuan penelitian: Untuk mendiskripsikan bagaimana asuhan keperawatan pada pasien post open reduction internal fixation fraktur femur dengan fokus nyeri akut di ruang bedah flamboyan RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Metode: Metode yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan proses keperawatan. Sampling yang digunakan meliputi 2 klien Post ORIF fraktur femur dengan masalah nyeri akut.Hasil: Hasil penelitian didapatkan kedua klien mengeluh nyeri sedang hingga berat dengan skala 6 sampa dengan 7 pada luka Post ORIF. Setelah dilakukan asuhan keperawatan manajemen nyeri selama 3 hari didapatkan hasil kedua klien melaporkan nyeri menurun pasien 1 menjadi 3 dan pasien 2 menjadi 2.Simpulan: Nyeri akut pada pasien post open reduction internal fixation fraktur femur akan menurun dengan penatalaksanaan farmakologi dan non farmakalogi
HUBUNGAN GERAKAN PENDAMPINGAN IUD/IMPLANT (GEMPITA) OLEH KADER INSTITUSI MASYARAKAT PEDESAAN (IMP)DENGAN PEMILIHAN KONTRASEPSI PADA WUS UNMEET NEED.
Kecenderungan tingginya angka unmet need 16,35%, menjadi fokus pemerintah karena memberi pengaruh pula terhadap program KB. Angka unmet need yang tinggi menjadi penyebab tingginya Total Fertility Rate (TFR) dan kehamilan tidak diinginkan (unwanted pregnancy). Wus Unmeet Need diprioritaskan memilih Kontrasepsi IUD/Iimplant. Diharapkan calon akseptor mendapat pendampingan KIE dan Konseling serta mendapatkan pelayanan dengan baik.Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan gerakan pendampingan IUD/Implant (Gempita) Oleh Kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) Dengan Pemilihan Kontrasepsi Pada Wus Unmet Need. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi. Jumlah sampel yang digunakan sejumlah 55 responden. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dengan cara menggunakan lembar kuesioner.Analisa yang digunakan Rank Spearman. hasil analisis diperoleh nilai p-value sebesar 0,000 (< 0,05) dan nilai koefisiensi korelasi (rho) 0,470, hubungan antara variabel berada pada kategori sedang dan hasil uji korelasi menunjukkan nilai arah positifKesimpulan: bahwa terdapat hubungan bermakna antara Gerakan Pendampingan Iud Implant (Gempita) oleh kader IMP Dengan pemilihan kontrasepsi Wus Unmeet Need.Saran: Adanya sinergi baik dari Pemerintah Daerah dan Puskesmas untuk meningkatkan Program Gempita dalam pemilihan kontrasepsi Wus Unmeet Nee
PENGARUH KONSUMSI KOPI (COFFEA SP) TERHADAP PEWARNAAN GIGI PADA PECANDU KOPI (COFFEA HOLIC) DI DESA JAMBON, KECAMATAN GEMAWANG, KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2022
Pewarnaan gigi (Stain) merupakan deposit berpigmen yang berwarna kuning hingga kecoklatan yang terdapat pada permukaan gigi. Adapun persoalan perubahan warna gigi ini dapat muncul akibat terlalu banyak mengonsumsi kopi. Tanaman kopi tanaman unggulan yang sudah dikembangkan dan menjadi komoditas utama di Indonesia terutama di daerah Temanggung khususnya di Desa Jambon yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kopi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsumsi kopi (Coffea Sp) terhadap pewarnaan gigi pada Pecandu Kopi (Coffea Holic) di Desa Jambon, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung.Jenis penelitian ini menggunakan observasional analitik dan metode pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Maret 2022. Populasi penelitian ini adalah pecandu kopi (Coffea Holic) Desa Jambon Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung sejumlah 105, dengan sampel sebanyak 31 yang dipilih menggunakan teknik propotional Cluster Sampling. Metode pengumpulan data dengan pemeriksaan gigi dan pengisian kuesioner. Variabel pengaruh penelitian yakni konsumsi kopi sedangkan variabel terpengarunya yakni pewarnaan gigi. Variabel Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Rank Spearman.Dari 31 sampel yang diperiksa didapatkan hasil bahwa sebanyak 19 responden (61%) mengalami stain dengan kriteria buruk, 7 responden (23%) kriteria sedang dan 5 responden (16%) kriteria baik. Pada uji Rank Spearman jenis kopi dan jumlah kopi yang dikonsumsi terhadap pewarnaan gigi didapatkan nilai p = 0,001, pada uji Rank Spearman terhadap intensitas konsumsi dan lama konsumsi kopi dengan terjadinya stain didapatkan hasil p = 0,00, sedangkan uji Rank Spearman terhadap konsumsi kopi dengan terjadinya pewarnaan gigi didapatkan hasil 0,002 maka hubungan kedua variabel signifikan atau bisa disebut berkorelasi atau terdapat pengaruh serta diperoleh angka koefisien korelasi sebesar 0.527** maka dapat disimpulkan penelitian ini bahwa ada pengaruh yang kuat konsumsi kopi terhadap pewarnaan gigi. Ada 4 indikator yang mempengaruhi konsumsi kopi terhadap terjadinya pewarnaan gigi antara lain yaitu jenis kopi yang dikonsumsi, jumlah kopi yang dikonsumsi dalam sehari, intensitas konsumsi dan lama konsumsi. Saran dalam penelitian ini diharapkan agar sebisa mungkin mengurangi konsumsi kopi sehingga tidak menimbulkan noda pada gigi
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA NYERI KRONIS PADA KLIEN DENGAN GOUT ARTHRITIS DI DESA JATITENGAH KECAMATAN JATITUJUH KABUPATEN MAJALENGKA
Latar Belakang: Gout arthritis merupakan proses peradangan disebabkan peradangan sekitar sendi. Terapi non-farmakologi kepada pasien gout arthritis salah satunya melalui pemberian kompres jahe hangat. Kompres jahe hangat tersebut memberikan efek panas sehingga menjadikan vasodilatasi di pembuluh darah dan aliran darah ke tubuh menjadi meningkat dengan rasa sakit sehingga menurunkan rasa sakit.Tujuan: Menggambarkan asuhan keperawatan keluarga dengan nyeri gout arthritis pada klien di Desa Jatitengah Kecamatan Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Metode: Penggunaan metode deskriptif melalui studi kasus, melakukan pengkajian, observasi, skala nyeri kronis pada penderita gout arthritis dan kompres hangat dengan jahe yang diterapkan kepada Ny. O dan Ny. T. Perolehan data ini melalui wawancara, observasi skala nyeri, pemeriksan fisik dan dokumentasi.Hasil: Kompres jahe hangat mampu menurunkan rasa nyeri pada gout arthritis. Kompres jahe hangat merupakan terapi alternatif atau pengobatan tradisional yang bertujuan menurukan rasa nyeri gout arthritis. Enzim sikloksigenasi yang terdapat dalam jahe mampu menurunkan peradangan terhadap pasien dengan gout arthritis, bahkan jahe mempunyai efek farmakologis seperti sensasi pedas dan panas, adapun panasnya mampu menurunkan rasa sakit, vasodilatasi pembuluh darah atau kejang otot dan kekakuan, pencapaian manfaat optimal dalam waktu 15-20 menit sesudah aplikasi kompres jahe hangat di lokasi nyeri. Kegiatan dilakukan selama 5 hari dan di dapatkan hasil menurunnya skala nyeri kronis pada kedua klien penderita gout arthritis.Simpulan: Kompres jahe menggunakan air hangat mampu mengurangi intensitas nyeri pada pasien gout artritis karena jahe mengandung 6-gingerol, 6-gingerdion, zingerol yang memiliki fungsi menekan produk inflamasi berupa bradikinin, histamin dan prostaglandin
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTERMI PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH KOTA TEGAL
LATAR BELAKANG : Kejang demam adalah suatu perubahan aktivitas motorik atau behavior yang memiliki sifat paroksimal dalam waktu yang terbatas akibat dari adanya aktivitas listrik yang bersifat abnormal pada otak yang terjadi kenaikan suatu suhu tubuh TUJUAN : Menggambarkan asuhan dengan masalah kejang demam pada pasien HipertermiaMETODE : Penulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan studi kasus, dilakukan pengkajian observasi tentang pengetahuan asuhan keperawatan hipertermia pada anak dengan kejang demam, metode ini diterapkan pada dua pasien hipertermia dengan kejang demam An. G dan An. A. Data ini diperoleh dengan cara : wawancara , observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. HASIL : Diagnosa yang muncul adalah hipertermia yang berhubungan proses penyakit. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 hari didapatkan masalah hipertermia berhubungan dean proses penyakit pada pasien 1 dan pasien 2 partisipan membaik, keluarga dapat melakukan secara mandiri untuk melakukan intervensi yang diajarkan sehingga kesiapan dalam menghadapi kejang demam dengan hipertermia mengalami peningkatan. SIMPULAN : Didapatkan masalah hipertermia dengan kejang demam, berdasarkan masalah tersebut maka disusunlah rencana keperawatan dan implementasi keperawatan untuk mencapai tujuan sesuai dengan hasil.SARAN : Pelayanan kesehatan agar lebih meningkatkan mutu dan serta kualitas pelayanan kesehatan yang ditunjang dengan pengadaan fasilitas serta sarana dan prasarana yang memadai, khususnya bagi pasien anak dengan kejang demam yang memiliki masalah hipertermi
Kecemasan merupakan keadaan normal yang dialami secara tetap sebagai bagian perkembangan normal manusia. Kecemasan yang dialami pasien perlu dipertimbangkan, karena kecemasan pasien dapat berpengaruh terhadap keberhasilan perawatan gigi dan mulut. Pencabutan gigi merupakan salah satu tindakan yang menyebabkan kecemasan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kecemasan anak usia 6-8 tahun terhadap keberhasilan tindakan pencabutan gigi di klinik gigi Gunung Muria Medika Pedurungan Semarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan croos sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling yakni didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri dan sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan anak usia 6-8 tahun yang paling dominan adalah pada kategori cemas yaitu terdapat sebanyak 13 responden (46,4%), dengan presentase keberhasilan tindakan pencabutan gigi yang tinggi yaitu 92,8% berhasil dilakukan tindakan pencabutan gigi. Hal tersebut mununjukkan bahwa keberhasilan tindakan pencabutan gigi cenderung tidak ada hubungan antara tingkat kecemasan anak usia 6-8 tahun terhadap keberhasilan tindakan pencabutan gigi. Hal ini dikarenakan pada saat akan dilakukan tindakan pencabutan gigi, anak diberi edukasi terlebih dahulu oleh orang tua maupun tenaga pelayanan kesehatan gigi, melakukan pendekatan komunikasi pada anak, serta dari orang tua memberi motivasi terhadap anak agar tidak takut pada saat akan dilakukan tindakan pencabutan gigi. Sehingga tindakan pencabutan gigi dominan berhasil dilakukan walaupun dengan kategori tingkat kecemasan cemas
PERANAN SEKUEN 3D VISTA PADA PEMERIKSAAN MRI KNEE JOINTDENGAN KLINIS ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT INJURIES
Pencitraan 2D FSE memiliki akurasi yang tinggi, tetapi membutuhkan banyak waktu karena perlu melakukan beberapa bidang pencitraan untuk mendapatkan citra anterior cruciate ligament atau posterior cruciate ligament. Slice section yang relatif tebal dan celah antarslice yang digunakan oleh citra 2D FSE dapat menyebabkan artefak volume parsial pada citra, sehingga dibutuhkan akuisisi citra tiga dimensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan sekuen 3D VISTA serta hasil citra anatomis pada pemeriksaan MRI knee joint dengan klinis anterior cruciate ligament injuries
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. U USIA 27 TAHUN G2P1A0 DI PUSKESMAS SALAMAN 1
Kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana (KB) merupakan proses fisiologis yang memerlukan asuhan yang tepat agar dapat berjalan dengan semestinya. Bencana non alam terjadi pada tahun 2020 disebabkan oleh Corona Virus atau Covid-19 yang berdampak pada pelayanan maternal dan neonatal. Kesehatan ibu hamil hingga nifas serta bbl perlu didukung dengan menungkatkan kualitas pelayanan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity Of Care) sejak hamil hingga nifas.Tujuan pembuatan laporan tugas akhir ini, yaitu memberi asuhan kebidanan dan pelayanan kesehatan pada ibu sejak masa kehamilan, persalinan, nifas dan konseling kontrasepsi, serta bayi baru lahirsecara komprehensif. Laporan tugas akhir ini disusun dengan metode penelitian dalam bentuk studi kasus dan didokumentasikan dengan metode SOAP. Hasil studi kasus didapatkan diagnosa Ny. U Usia 27 tahun G?P?A? usia kehamilan 37 minggu 6 hari fisiologis, dengan persalinan fisiologis pada umur kehamilan 38 minggu 4 hari, diikuti dengan masa nifas fisiologis dan konseling KB, serta bayi baru lahir. Pada penatalaksanaan didapatkan kesenjangan pada pelayanan ANC, proses persalinan dalam penggunaan APD dan tidak menghitung skala nyeri pada persalinan, serta tidak dilakukan pemeriksaan diastasis recti abdominalis. Kesimpulan laporan tugas akhir ini adalah asuhan kebidanan Ny. U telah dilaksanakan dan didokumentasikan menggunakan metode SOAP dengan asuhan Continuity Of Care, namun terdapat kesenjangan dalam ANC, penggunaan APD dan tidak menghitung skala nyeri persalinan, dan pemeriksaan diastasis recti abdominalis. Diharapkan asuhan yang diberikan bermanfaat untuk ibu dan bayi