Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

repository.poltekkes-smg.ac.id
Not a member yet
    28611 research outputs found

    ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF NY. S UMUR 30 TAHUN DI WILAYAH PUSKESMAS SUKOREJO I

    No full text
    Kehamilan, Persalinan, dan nifas merupakan proses fisiologis dan memerlukan asuhan yang tepat agar berjalan degan semestinya. Dalam proses ini tidak sedikit ibu mengalami problem kesehatan yang dapat meningkatkan jumlah mobiditas dan mortalitas ibu dan bayi. Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2020 sebesar 98,6/100.000 Kelahiran Hidup (530 kasus) meningkat dibanding AKI tahun 2019 sebesar 76,93/100.000 Kelahiran Hidup (416 kasus).Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup tahun 2020 sebesar 7,79/1000 KH (4,189 kasus),lebih baik dibandingkan capaian tahun 2019 sebesar 8,30/1.000 KH dengan presentase capaian sebesar 100,73%.Tujuan pembuatan laporan tugas akhir ini yaitu memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari hamil hingga konseling KB,yang dibuat dalam bentuk studi kasus dan didokumentasikan dengan metode SOAP.Metodologi penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif. Subjek yang dijadikan sebagai responden adalah Ny. S dan By. Ny. S dengan melakukan pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney dan menarasikan dalam SOAP.Hasil dari asuhan kebidanan komprehensif yang dilakukan pada Ny. S pada saat kehamilan terdapat keluhan nyeri pinggang dan sering BAK dan diberikan asuhan kebidanan tentang senam hamil dan mengurangi minum pada malam hari, pada persalinan dan nifas tidak terdapat komplikasi. Pada By. Ny. S tidak terdapat komplikasi serta KB yang direncanakan yaitu KB Implant.Kesimpulan dari laporan tugas akhir ini adalah asuhan kebidanan Ny.S telah dilaksanakan dan didokumentasikan menggunakan metode SOAP. Diharapkan asuhan yang diberikan dapat bermanfaat untuk ibu dan bayi, sehingga dapat mengurangi AKI dan AKB

    ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY S UMUR 30 TAHUN DI WILAYAH PUSKESMAS KENDAL 01

    No full text
    Kehamilan, Persalinan, dan nifas merupakan proses fisiologis dan memerlukan asuhan yang tepat agar berjalan degan semestinya. Dalam proses ini tidak sedikit ibu mengalami problem kesehatan yang dapat meningkatkan jumlah mobiditas dan mortalitas ibu dan bayi. Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2020 sebesar 98,6/100.000 Kelahiran Hidup (530 kasus) meningkat dibanding AKI tahun 2019 sebesar 76,93/100.000 Kelahiran Hidup (416 kasus).Sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup tahun 2020 sebesar 7,79/1000 KH (4,189 kasus),lebih baik dibandingkan capaian tahun 2019 sebesar 8,30/1.000 KH dengan presentase capaian sebesar 100,73%.Tujuan pembuatan laporan tugas akhir ini yaitu memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari hamil hingga konseling KB,yang dibuat dalam bentuk studi kasus dan didokumentasikan dengan metode SOAP.Hasil studi kasus awal didapatkan diagnose G2P1A0 usia kehamilan 37 minggu. Persalinan fisiologis pada usia 39 minggu, yang diikuti dengan nifas fisiologis, bayi baru lahir fisiologis, dan konseling KB.Pada penatalaksanaan didapatkan kesenjangan pada pelayanan ANC, penggunaan APD dan kunjungan ibu.Kesimpulan dari laporan tugas akhir ini adalah asuhan kebidanan Ny.S telah dilaksanakan dan didokumentasikan menggunakan metode SOAP. Diharapkan asuhan yang diberikan dapat bermanfaat untuk ibu dan bayi,sehingga dapat mengurangi AKI dan AKB

    PERANAN PEMERIKSAAN MRI PELVIS DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS ENDOMETRIOSIS

    No full text
    Endometriosis ditandai dengan ditemukannya jaringan endometrium di luar kavum uteri, bersifat jinak, tetapi dapat menyerang organ-organ sekitarnya. Latar belakang penelitian ini adalah terjadinya keterlambatan diagnosis endometriosis yang disebabkan oleh pemeriksaan yang tidak adekuat. Ultrasonografi Transvaginal (USTV) dan laparoskopi eksplorasi sebagai modalitas diagnostik standar endometriosis masih memiliki kekurangan. Magnetic Resonance Imaging (MRI) menjadi modalitas diagnostik yang efektif karena bersifat non invasif dan memiliki tingkat akurasi diagnostik yang tinggi untuk endometriosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sekuens yang digunakan serta informasi diagnostik yang dihasilkan pada pemeriksaan MRI pelvis dalam penegakan diagnosis endometriosis.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan literature review. Pencarian artikel melalui Google Scholar, PubMed, dan RSNA dengan kata kunci Endometriosis, Pelvic MRI Endometriosis, dan Pelvic MRI Imaging. Dari pencarian tersebut didapatkan tujuh artikel yang relevan. Analisis data yang digunakan berupa sintesis penelitian.Hasil penelitian peranan pemeriksaan MRI pelvis dalam penegakan diagnosis endometriosis melalui penggunaan sekuens T2 weighted pada potongan sagital, axial, dan coronal, axial T1 weighted, axial T1 weighted dengan fat suppression (FS), dan sekuens tambahan Diffusion Weighted Imaging (DWI) mampu memberikan informasi yang penting dan akurat, dimana semua sekuens yang digunakan dapat menggambarkan kriteria yang berguna dalam penegakan diagnosis endometriosis seperti Deep Pelvic Infiltrating Endometriosis (DIE), Ovarian Endometriomas (OMA), penebalan ligamen uterosakral, endometriosis yang berukuran kecil, serta dapat membedakan lesi ganas dan lesi jinak

    ANALISA PEMBERIAN KOMPRES HANGAT UNTUK MENURUNKAN NYERI PADA PASIEN HIPERTENSI DENGAN PENDEKATAN ASUHAN KEPERAWATAN

    No full text
    Latar Belakang : Hipertensi atau yang dikenal dengan sebutan Silent Killer merupakan penyakit pada pembuluh darah dengan tidak menunjukan gejala hingga menjadi sebuah penyakit yang lebih serius. Riset Kesehatan Dasar atau (Riskesdas) tahun 2018 menjelaskan mengenai prevalensi hipertensi mencapai angka 34,11% , meningkat secara signifikan dari prevalensi tahun 2013 dengan angka 25,8 % pada usia ? 18 tahun. Data diatas disebutkan tingginya angka kejadian hipertensi perlunya penatalaksanaan yang lebih baik. Salah satu tanda dan gejala hipertensi adalah nyeri. Kompres hangat mampu merelaksasikan otot dalam pembuluh darah sehingga dapat melebarkan pembuluh darah, mampu meningkatkan pemasukan oksigen dan nutrisi ke jaringan otak (Setyawan, 2014).Tujuan : Melakukan analisa pemberian kompres hangat untuk menurunkan nyeri pada pasien hipertensi dengan pendekatan asuhan keperawatan.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif , desain deskriptif dan pendekatan studi kasus. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 3 klien yang memiliki masalah keperawatan nyeri akut.Hasil asuhan keperawatan : Intervensi berdasarkan inovasi keperawatan yang dilakukan yaitu pemberian kompres hangat. Tindakan tersebut dilakukan15 menit selama 3 hari (pagi & sore) berturut-turut dan dievaluasi. Pemberian kompres hangat pada 3 klien sebelum dilakukan nyeri sedang (4-6) setelah dilaukan intervensi skala nyeri menurun menjadi nyeri ringan(1-3).Diskusi : Efek terapeutik pemberian kompres hangat seperti mengurangi nyeri , merelaksasikan otot, meingkatkan aliran darah, menurunkan kekakuan sendi atau tulang.Rekomendasi :Hasil penelitian pemberian kompres hangat bisa dilakukan sebagai asuhan keperawatan untuk menurunkan nyeri pada pasien hipertens

    ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PASCA STROKE NON HEMORAGIK DENGAN MENGGUNAKAN CYLINDRICAL GRIP UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT EKSTREMITAS ATAS DI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG

    No full text
    Latar Belakang : Stroke non hemoragik adalah stroke muncul akibat adanya sumbatan didalam pembuluh darah otak. Pada tahun 2018 di Indonesia pravelensi penyakit stroke sebanyak 2.123.362 orang. Stroke non hemoragik 90% mengalami kerusakan jaringan pada area brodman 4 dan 6. Ekstremitas atas merupakan salah satu bagian tubuh terpenting. Kurangnya kemampuan dalam melakukan aktivitas dapat menimbulkan ketergantungan dan memperburuk keadaan. Terapi fisik yang dapat meningkatkan kekuatan otot tangan yaitu terapi cylindrical grip dengan menggenggam sebuah benda berbentuk silindris (tissue gulung).Tujuan : Menjelaskan Asuhan Keperawatan dengan pemberian terapi cylindrical grip pada pasien pasca SNH untuk meningkatkan kekuatan otot ekstermitas atas.Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu tiga pasien pasca SNH dengan keluhan penurunan kekuatan otot ekstremitas atas dengan skala 3-4.Hasil asuhan keperawatan : Hasil pengkajian pada ketiga klien diketahui hasil skala kekuatan otot 3 dan 4. Tindakan tersebut dilakukan 2 kali sehari (pagi & sore)selama 4 hari dan di evaluasi. Pemberian terapi cylindrical grip pada ketiga klien mengatakan pergerakan tanggannya sudah meningkat dengan skala kekuatan otot pada dua klien menjadi 5 dan satu klien menjadi 4.Diskusi : Terapi cylindrical grip melibatkan fungsi dari dari fleksir digitorium profundus. Objek fleksor polisis longus dan thenars akan sama-sama aktif kemudian akan terjadi kontraksi otot-otot sehingga kekuatan otot akan meningkat. Rekomendasi : Hasil penelitian pemberian terapi cylindrical grip dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien pasca SNH

    ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RSUD SULTAN FATAH DEMAK

    No full text
    Latar Belakang : Stroke non hemoragik terjadi ketika adanya sumbatan di pembuluh darah sehingga pasokan darah ke suatu bagian otak terganggu. Salah satu dampak yang terjadi pada pasien stroke yaitu mengalami kelemahan pada salah satu sisi tubuh berupa hemiparesis atau hemiplagia. Hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan mobilitas fisik, intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan latihan Range Of Motion.Tujuan : Karya Tulis Ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatan gangguan mobilitas fisik pada pasien stroke non hemoragik.Metode : Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan menggunakan proses pendekatan keperawatan. Subjek yang digunakan meliputi 2 pasien yang dilakukan pengelolaan selama 3x24 jam di Ruang Tulip RSUD Sultan Fatah Demak.Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, masalah gangguan mobilitas fisik pada Ny. S dan Ny. P teratasi sebagian dengan melakukan latihan ROM pasif, monitor tanda-tanda vital dan mengubah posisi pasien setiap 2 jam sekali.Kesimpulan : Masalah gangguan mobilitas fisik pada Ny. S dan Ny. P teratasi sebagian sehingga tetap perlu dilakukan latihan ROM yang dilakukan 2 kali sehari secara rutin dengan waktu selama 10-15 menit selama minimal 4 minggu

    PERHITUNGAN KEBUTUHAN PETUGAS REKAM MEDIS BERDASARKAN METODE ANALISIS BEBAN KERJA KESEHATAN (ABK-KES) PADA UNIT KERJA REKAM MEDIS RSU PURWOGONDO KEBUMEN

    No full text
    Peningkatan jumlah kunjungan pasien akan menambah beban kerja petugas rekam medis dan mengakibatkan tingginya risiko kelelahan kerja. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, jumlah petugas rekam medis di RSU Purwogondo Kebumen ada 12 orang, dengan rincian 4 petugas pendaftaran rawat jalan, 3 petugas pendaftaran rawat inap sekaligus gawat darurat, 2 petugas filling, 1 petugas analisis, dan 2 petugas pelaporan, dimana ada keluhan beban kerja yang tinggi dan terjadi penumpukan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan petugas rekam medis di RSU Purwogondo menggunakan metode ABK-Kes.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan wawancara dan observasi. ABK-Kes terdiri dari menetapkan waktu kerja tersedia (WKT), menetapkan komponen beban kerja dan norma waktu, menghitung standar beban kerja, menghitung standar kegiatan penunjang, menghitung kebutuhan SDMK per institusi/fasyankes. Hasil penelitian didapatkan bahwa berdasarkan perhitungan dengan metode ABK Kes diperoleh hasil kebutuhan petugas pendaftaran rawat jalan 2 orang, pendaftaran rawat inap 1 orang, pendaftaran gawat darurat 1 orang, filling 4 orang, analisis 2 orang, dan pelaporan 3 orang. Total kebutuhan petugas rekam medis sebanyak 13 orang dengan petugas yang tersedia saat ini sebanyak 12 orang, sehingga perlu ditambahkan petugas rekam medis sebanyak 1 orang

    PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI VERTEBRA LUMBOSACRAL PADA KASUS SPONDYLOLISTHESIS DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR. H. SOEWONDO KENDAL

    No full text
    PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI VERTEBRA LUMBOSACRAL PADAKASUS SPONDYLOLISTHESISDI INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr. H SOEWONDO KENDALAnisa Rahmawati1), Dartini2)INTISARIVertebra lumbosacral merupakan artikulasi dari permukaan superior sakrumdengan inferior lumbal lima. Vertebra lumbosacral dapat mengalami kelainanspondylolisthesis, yaitu pergeseran body vertebra ke arah anterior. Menurut Bhalla &Bono (2019), pemeriksaan radiografi vertebra lumbosacral dengan kasusspondylolisthesis perlu dilakukan proyeksi tambahan lateral hiperfleksi dan lateralhiperekstensi dengan posisi berdiri. Pemeriksaan radiografi vertebra lumbosacraldengan kasus spondylolisthesis di Instalasi Radiologi RSUD dr. H Soewondo Kendalhanya menggunakan proyeksi Anterior Posterior (AP) dan lateral. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan radiografi lumbosacral, alasanpenggunaan proyeksi Anterior Posterior (AP) dan lateral, serta informasi diagnostikpada radiograf lumbosacral pada kasus spondylolisthesis.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatanstudi kasus. Subjek penelitian ini melibatkan lima orang responden, terdiri dari satuorang dokter spesialis penyakit dalam, satu orang radiolog, dan tiga orangradiografer. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancaramendalam dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan interaktifmodel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografi vertebralumbosacral dengan kasus spondylolisthesis di Instalasi Radiologi RSUD dr. HSoewondo Kendal hanya menggunakan proyeksi Anterior Posterior (AP) dan lateraldengan posisi pasien supine. Proyeksi Anterior Posterior (AP) dan lateral mampumenampilkan osteofit, diskus intervertebralis, dan listhesis pada L5-S1. Posisi pasiensupine digunakan untuk memberikan kenyamanan dan mengurangi resiko jatuh padapasien.Kesimpulan dari penelitian ini, proyeksi Anterior Posterior (AP) dan lateralsupine sudah mampu memperlihatkan kelainan spondylolisthesis. Akan tetapi, lebihbaik jika dilakukan proyeksi tambahan berupa lateral hiperfleksi dan lateralhiperekstensi dengan posisi berdiri, agar kelainan pada lumbosacral lebih tampakjelas.Kata kunci : Lumbosacral, Spondylolisthesis, RSUD dr. H Soewondo KendalKeterangan:1) Mahasiswa Prodi Radiologi Purwokerto Program Diploma Tiga Jurusan TeknikRadiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang.2) Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi Politeknik KesehatanKemenkes Semaran

    ANALISIS ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA RISIKO JATUH DENGAN PENERAPAN OTAGO EXERCISE

    No full text
    Latar belakang : penuaan merupakan tantangan dalam bidang ekonomi dan social di era modern. Permasalah sering terjadi pada tahap tersebut adalah kejadian jatuh yang menjadi salah satu geriatric giant pada lanjut usia 65 tahun atau lebih karena seringkali mengakibatkan cedera. Upaya pencegahan kejadian jatuh tersebut salah satunya dilakukan dengan penerapan latihan Otago. Tujuan : studi ini mendeskripsikan analisis asuhan keperawatan dengan penerapan Otago Exercise pada lansia dengan risiko jatuh. Metode : studi ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dengan melibatkan tiga orang sebagai sampe yaitu lansia dengan risiko jatuh yang dikaji menggunakan isntrumen berg Balance Score. Lansia tersebut diberikan intervensi penerapan otago exercise sebanyak enam kali latihan yang terbagi menjadi dua kali latihan selama tiga minggu berturut-turut. Hasil asuhan keperawatan : risiko jatuh pada lansia merupakan masalah utama pada studi ini yang telah dilakukan intervensi penerapan otago exercise. Hasil dari implementasi tersebut menggambarkan ketiga lansia menunjukkan kriteria hasil berupa peningkatan kemampuan berjalan, berpindah tempat, mempertahankan posisi berdiri stabil maupun posisi duduk. Evaluasi dari pengukuran berg balance score menunjukkan bahwa ketiga lansia mengalami peningkatan skor keseimbangan namun masih dalam kategori risiko jatuh yang sama. Diskusi : kemampuan lansia dalam menurunkan risiko jatuh dilakukan dengan melaksanakan latihan Otago sebagaimana sistem saraf mereka akan mengaktifkan otot untuk melakukan kontraksi. Sehingga semakin banyak serabut otot yang teraktifasi, maka semakin besar pula kekuatan yang dihasilkan otot tersebut. Kekuatan otot dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban baik berupa beban eksternal maupun beban internal. Rekomendasi : lansia dapat menerapkan otago exercise secara berkelanjutan bersama keluarga untuk menjaga kualiatas kesehatannya khususnya mencegah kejadian jatuh

    4

    full texts

    28,611

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.poltekkes-smg.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇