28611 research outputs found
Sort by
GAMBARAN TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTHS (STH) PADA KUKU PETUGAS SAMPAH DI TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH (TPS) TLOGOMULYO SEMARANG
Latar Belakang : Prevalensi kecacingan di Indonesia pada umumnya masih sangat tinggi antara 2,5% - 62% masyarakat di Indonesia pernah terinfeksi cacing. Salah satu daerah yang memiliki kasus kecacingan yang tinggi adalah Semarang. Semarang menunjukkan prevalensi infeksi kecacingan STH pada petugas sampah sebesar 47,5%. Prevelensi infeksi kecacingan di Semarang yang tinggi disebabkan oleh berbagai faktor salah satunya adalah personal higiene (kebersihan diri). Ruang lingkup personal higiene sendiri salah satunya kebersihan kuku tangan dan kaki. Petugas pengangkut sampah merupakan salah satu subjek yang berisiko terkena infeksi kecacingan karena selain sering terpapar sampah dan lingkungan kotor. Personal higiene menjadi hal pokok jika dilihat risiko keterpaparan yang cukup eratTujuan Penelitian : Mengetahui gambaran telur Soil Transmitted Helminths (STH) pada kuku petugas sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tlogomulyo Semarang.Metode Penelitian : Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan rancangan penelitian observasional (non-eksperimental) menggunakan pendekatan cross sectional. Data yang diperoleh dikumpulkan melalui survey dengan instrumen kuesioner. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling berjumlah 25 orang pada kuku petugas sampah, di periksa dengan metode sedimentasi.Hasil Penelitian : Seluruh atau 25 sampel kuku yang diambil menunjukkan hasil negatif telur cacing STH. Mayoritas sampel panelitian kali ini juga rutin menggunakan APD saat di TPS, rutin mencuci tangan sebelum makan, dan membersihkan badan setelah bekerja.Kesimpulan : Kuku petugas sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sementara Tlogomulyo Semarang negatif telur STH
ANALISA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN MASALAH KUALITAS TIDUR DI DESA KINCANG RW 05 RAKIT BANJARNEGARA
ABSTRAKANALISA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN LANSIA DENGAN MASALAH KUALITAS TIDUR DI DESA KINCANG RW 05 RAKIT BANJARNEGARALatar belakang : Kualitas tidur adalah kondisi tidur yang mampu dilakukan oleh seseorang agar mendapatkan kebugaran pada saat bangun (Famelia Yurintika, Febriana Sabrian, 2015). Penatalaksanaan secara nonfarmakologis sangat dianjurkan karena tidak menimbulkan efek negative dan dapat membuat lansia lebih mandiri untuk menjaga kesehatan mereka sendiri. Terapi Relaksasi Otot Progresif termasuk terapi paling murah dan mudah sampai saat ini (Fitriani, 2017). Data rekap warga yang sudah masuk kedalam golongan lansia di RW 05 Desa Kincang, Rakit, Banjarnegara terdapat 113 lansia, dan dari hasil pengkajian diambil 3 pasien lansia dengan gangguan kualitas tidur untuk dijadikan responden.Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi Relaksasi Otot Progresif pada peningkatan kualitas tidur lansia.Metode : Dengan menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk studi kasus dengan jumlah sampel 3 pasien lansia dengan gangguan kualitas tidur, instrument yang digunakan merupakan kuesioner Pittburgh Sleep Quality Index (PSQI), penerapan tindakan yang dilakukan adalah Relaksasi Otot Progresif selama kurang lebih 30 menit dalam waktu 2 minggu dengan 4 kali pertemuan.Hasil asuhan keperawatan : Menunjukkan bahwa masalah gangguan pola tidur dengan interfensi Relaksasi Otot Progresif terhadap peningkatan kualitas tidur lansia belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Hanya terjadi peningkatan satu skala kualitas tidur dikarenakan keterbatasan waktu pada pelaksanaan penelitian.Diskusi : Penerapan teknik Relaksasi Otot Progresif untuk meningkatkan kualitas tidur lansia. Sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan kepada 73 responden lansia yang memiliki gangguan kualitas tidur yang didapatkan hasil peningkatan kualitas tidur terhadap 61 responden setelah dilakukan terapi Relaksasi Otot Progresif (Kemala, dkk, 2020).Rekomendasi : Hasil dari penelitian teknik Relaksasi Otot Progresif terhadap peningkatan kualitas tidur lansia didapatkan hasil terjadi peningkatan setelah dilakukan terapi Relaksasi Otot Progresif. Sehingga terapi Relaksasi Otot Progresif dapat digunakan sebagai intervensi guna untuk meningkatkan kualitas tidur pada lansia.Kata kunci : Kualitas Tidur; Relaksasi Otot Progresif; Pasien Lansi
ANALISA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GOUT ARTHRITIS DENGAN MASALAH NYERI DI DESA TUNJUNG KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMAS
ABSTRAKANALISA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GOUT ARTHRITIS DENGAN MASALAH NYERI DI DESA TUNJUNG KECAMATAN JATILAWANG KABUPATEN BANYUMASLatar belakang : Lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Jumlah penduduk lansia usia 60 tahun ke atas di Kecamatan Jatilawang pada tahun 2020 mencapai 7791 jiwa dengan populasi penduduk 45.482 jiwa. Asam urat atau Arthritis Gout ini sering terjadi pada lansia dan revalensi yang mengalami atau penderita asam urat berdasarkan umur yaitu, umur 55-64 tahun berdasarkan dengan diagnosis 15,5%, umur 65-74 tahun dengan berdasarkan diagnosis 18,6%, dan umur 75 thun keatas mencapai 18,9%.Tujuan : Menjelaskan Asuhan Keperawatan dengan pemberian kompres hangat jahe pada pasien dengan masalah keperawatan nyeri akut.Metode : Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dalam bentuk studi kasus. Jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 3 pasien yang memiliki keluhan nyeri sendi Gout Arthritis dengan skala nyeri sedang. Rencana keperawatan yang dilakukan yaitu kompres hangat jahe yang dilakukan 2 kali sehari selama 5 hari.Hasil asuhan keperawatan : Hasil pengkajian pada ketiga lansia diketahui memiliki hasil pemeriksaan uric acid >6 mg/dL, dan memiliki keluhan nyeri skala 6 pada sendi ekstremitas. Intervensi berdasarkan inovasi keperawatan yang dilakukan yaitu kompres hangat jahe yang di berikan pada daerah nyeri. Tindakan tersebut dilakukan 2 kali sehari selama 5 hari dan di evaluasi. Pemberian kompres hangat jahe pada ketiga lansia mengatakan lebih rileks dan skala nyeri menurun dari skala nyeri sedang menjadi skala nyeri ringan.Diskusi : Tindakan kompres hangat jahe merupakan salah satu terapi relaksasi dimana suhu hangat pada air hangat dan jahe ini dapat memvasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat menurangi nyeri pada pasien. Dibuktikan dengan terjadi penurunan skala nyeri pada pasien yang dilakukan tindakan kompres hangat jahe. Rekomendasi : Implikasi keperawatan pada tindakan terapi sangat kecil, namun perlu diperhatikan pada penyebab nyeri sebelum di lakukan kompres hangat jahe. Kata kunci : nyeri; Gout Arthritis; kompres hangat; jahe1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ners Program Profesi Poltekkes Kemenkes Semarang2)Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang3)Penguji dari lahan praktik Puskesma
GAMBARAN MIKROSKOPIS PREPARAT JARINGAN GINJAL MENCIT ( MUS MUSCULUS ) YANG DIDEPARAFINISASI DENGAN SABUN CUCI PIRING PADA PENGECATAN HEMATOKSILIN EOSIN
Deparafinisasi adalah suatu tahap sebelum proses pewarnaan (stainning) untuk menghilangkan/melarutkan parafin sehingga penyerapan warna pada sediaan jaringan menjadi maksimal. Tujuan dari penelitian .ini mengetahui gambaran mikroskopis preparat jaringan ginjal mencit ( Mus musculus) yang dideparafinisasi dengan sabun cuci piring pada pengecatan hematoksilin eosin. Jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimen dengan kriteria penelitian deskriptif. Jumlah sampel dari 3 blok parafin setiap blok dipotong sebanyak 6 preparat. Hasil penelitian menunjukan kualitas gambaran mikroskopis jaringan ginjal mencit (Mus musculus) dalam 30 lapang pandang yang dideparafinisasi menggunakan xylol difiksasi terdapat 100% sediaan baik. Kualitas gambaran mikroskopis jaringan ginjal mencit (Mus musculus) dalam 60 lapang pandang yang dideparafinisasi menggunakan konsentrasi sabun cuci piring 2% terdapat 100% sediaan kurang baik, pada konsentrasi 2,5% terdapat 100% sediaan kurang baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gambaran mikroskopis jaringan ginjal yang dideparafinisasi dengan xylol lebih baik dari gambaran mikroskopis jaringan ginjal mencit yang dideparafinisasi dengan sabun cuci piring.Saran dari penelitian ini adalah sebaiknya tetap menggunakan xylol sebagai gold standart deparafinisas
ASUHAN KEPERAWATAN MENYUSUI TIDAK EFEKTIF PADA IBU POST PARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEGAL SELATAN KOTA TEGAL
Latar Belakang: Menyusui tidak efektif merupakan suatu kondisi dimana ibu dan bayi mengalami ketidakpuasan atau kesulitan pada saat menyusui. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ASI diantaranya kurangnya pengetahuan mengenai kurang terpapar informasi tentang pentingnya menyusui dan metode menyusui. Untuk mengatasi menyusui tidak efektif dilakukan dengan edukasi menyusui dan pijat laktasi.Tujuan: Menggambarkan asuhan keperawatan menyusui tidak efektif pada ibu post partum di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Selatan Kota Tegal.Metode: Penulis menggunakan metode deksriptif. Responden ada 2 orang, data ini diperoleh dari wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi keperawatan dan dibuat laporan asuhan keperawatan. Hasil: Selama 3 hari dilakukan asuhan keperawatan pada kedua responden diagnosa keperawatan yang muncul yaitu ketidakefektifan menyusui berhubungan dengan kurangnya pengetahuan mengenai kurang terpapar informasi tentang pentingnya menyusui dan metode menyusui, dengan data pendukung; pada kedua responden ASI belum keluar, dan payudara terasa penuh. Setelah dilakukan tindakan keperawatan edukasi menyusui dan pijat laktasi selama 3 hari masalah teratasi
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MASALAH MENYUSUI TIDAK EFEKTIF MENGGUNAKAN TERAPI PIJAT OKSITOSIN DI RS HARAPAN KOTA MAGELANG
Latar belakang: Pola menyusui eksklusif di Indonesia persentasenya hanya 38%, sedangkan target nasional menyusui eksklusif di Indonesia 80%, target yang belum tercapai dapat disebabkan karena menyusui tidak efektif. Apabila tidak diatasi dapat menyebabkan masalah kesehatan bagi ibu serta bayi, salah satu cara untuk mengatasi menyusui tidak efektif adalah dengan menggunakan terapi pijat oksitosin. Pijat oksitosin dapat membantu merangsang hormon oksitosin sehingga ASI dapat keluar dengan lancar. Tujuan karya tulis ini adalah untuk menggambarkan penerapan pijat oksitosin pada pasien dengan masalah menyusui tidak efektif di RS Harapan Kota Magelang.Metode: Metode yang digunakan yaitu studi kasus (case study) dengan menggunakan pendekatan proses asuhan keperawatan. Subjek penelitian ini adalah pasien dengan masalah menyusui tidak efektif berusia 20-35 tahun, pasien yang memiliki bayi usia 0-6 bulan dengan kondisi sehat dan tidak cacat, pasien dan keluarga yang kooperatif, pasien dapat mengungkapkan keluhan secara verbal dengan baik, dan pasien bersedia menjadi responden.Hasil: Setelah dilakukan proses asuhan keperawatan selama 3x24 jam serta pemberian terapi pijat oksitosin diperoleh hasil bahwa ASI pasien keluar semakin lancar.Simpulan: Berdasarkan proses asuhan keperawatan yang sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin cukup efektif untuk mengatasi masalah menyusui tidak efektif
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTERMIA PADA ANAK DENGAN DENGUE HAEMORHAGIC FEVER (DHF) DI RUMAH SAKIT HARAPAN KOTA MAGELANG
Latar Belakang: Dengue Haemorhagic Fever (DHF) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan karena virus dengue yang disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang ditandai dengan demam, lemas, nyeri otot dan sendi, serta munculnya perdarahan dalam kulit berupa bintik-bontik merah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan hipertermia pada anak dengan Dengue Haemorhagic Fever (DHF) di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian kasus ini adalah metode deskriptif, dengan pemaparan kasus dan menggunakan pendekatan proses keperawatan seperti pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan memfokuskan pada salah satu masalah yang penting dalam kasus yang dipilih. Penelitian ini dilakukan selama 4x24 jam dengan cara wawancara, observasi, dan pemeriksaan langsung kepada pasien.Hasil: Hasil dari penelitian ini didapatkan masalah keperawatan hipertermia berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh lebih tinggi dari normal.Simpulan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4x24 jam masalah hipertermia dapat teratasi sesuai dengan kriteria hasil yang diharapkan yaitu demam menurun, suhu tubuh dalam batas normal, dan tidak ada perubahan warna kulit
KADAR UREUM DAN KREATININ SERUM PADA PASIEN DM (DIABETES MELITUS) TIPE 2
ABSTRAKLatar Belakang : Diabetes Melitus yang tidak terkontrol akan menyebabkan komplikasi kronik, baik mikrovaskuler maupun makrovaskuler. Nefropati Diabetika merupakan penyakit akibat komplikasi mikrovaskular yang dapat terjadi pada pasien diabetes. Pemeriksaan ureum kreatinin serum digunakan untuk menilai fungsi ginjal pada penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Tujuan Penelitian : Mengetahui gambaran kadar ureum dan kreatinin serum pada pasien diabetes melitus (DM) Tipe 2.Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Data pemeriksaan ureum kreatinin berasal dari pengambilan phlebotomy pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Sadewa Kelas III RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang pada bulan April 2022 dengan metode cross sectional.Hasil Penelitian : Penelitian ini didapatkan 15 responden. Rata-rata yang menjadi responden jenis kelamin perempuan 9 responden (60%) dan 6 responden (40%) berjenis kelamin laki-laki. Pasien dengan kadar ureum dan kreatinin tinggi didominasi oleh lansia (46-65 tahun), sebanyak 7 responden (58,4%) kadar ureum tinggi dan 3 responden (25%) memiliki kadar kreatinin tinggi. Berdasarkan penyakit penyerta yang didominasi oleh hipertensi sebanyak 5 responden (45,5%) dengan kadar ureum tinggi dan 3 responden (27%) dengan kadar kreatinin tinggi. Kesimpulan : Hasil penelitian dari 15 responden didapatkan 7 responden (47%) memiliki kadar ureum tinggi dan 3 responden (20%) memiliki kadar kreartinin tinggi. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Ureum, Kreatini
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MENYUSUI TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI MASA PANDEMI COVID-19
Latar Belakang: Keterbatasan untuk melakukan kunjungan ibu ke fasilitas kesehatan mengakibatkan ibu-ibu hamil dan menyusui memperoleh informasi yang terbatas mengenai tata cara yang benar dan aman mengenai menyusui di masa Covid-19. Salah satu faktor yang menghambat keberhasilan ASI eksklusif adalah ibu nifas dengan Covid-19 sebagian tidak menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibu menyusui terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif di masa pandemi Covid-19.Desain Penelitian: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 89 responden dengan teknik pengambilan sampel Simple Random Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang dibuat oleh peneliti. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan tingkat pengetahuan ibu menyusui dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di masa pandemi Covid-19 dengan nilai signifikansi sebesar 0.020