28611 research outputs found
Sort by
PENGARUH DEMONSTRASI MENGGOK GIGI TERHADAP DEBRIS INDEKS PADA SISWA KELAS V SDN II DONOROJO DEMAK
Penyuluhan kesehatan gigi merupakan upaya untuk mengatasi permasalahan kebersihan gigi dan mulut pada siswa sekolah dasar yang rentan terhadap penyakit sehingga perlu adanya bimbingan yang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan serta kesadaran siswa dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini adalah metode demonstrasi menggosok gigi yaitu metode mengajar peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh demonstrasi menggosok gigi terhadap debris indeks pada siswa kelas V SDN II Donorojo Demak.Jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah sampel penelitian sebanyak 30 siswa. Variabel terpengaruh adalah debris indeks. Instrument penelitian menggunakan lembar pemeriksaan distribusi frekuensi debris indeks. Analisa data menggunakan distribusi frekuensi dengan ukuran pesentase.Berdasarkan hasil penelitian menunjukan rata-rata debris indeks pada siswa kelas V SDN II Donorojo Demak sebelum dilakukan penyuluhan menggosok gigi dengan metode demonstrasi berjumlah 1,46 dengan kategori sedang. Rata-rata debris indeks pada siswa kelas V SDN II Donorojo Demak sesudah dilakukan penyuluhan menggosok gigi dengan metode demonstrasi berjumlah 0,67 dengan kategori baik. Terdapat penurunan debris indeks sebelum dan sesudah penyuluhan menggosok gigi dengan metode demonstrasi sebesar 0,79. Saran dalam penelitian ini agar siswa selalu menjaga dan memelihara kebersihan gigi dan mulut
ASUHAN KEPERAWATAN RISIKO KONTAMINASI PADA ASMA
Latar belakang : Pandemi Covid 19 banyak menimbulkan berbagai masalah di masyarakat terutama pada penderita komorbid salah satu nya adalah penyakit asma. Penderita Asma sangat rentan terhadap pemajanan kontaminan (allergen, suhu dingin, polutan) yang menyebabkan kekambuhan. Kondisi ini kemudian menyebabkan kualitas hidup pada penderita asma menurun bahkan dapat menyebabbkan kematian, sehingga hal ini menjadi masalah kesehatan yang serius. Metode : Desain Penelitian deskriptif dengan menjelaskan pemaparan kasus dan menguakan pendekatan proses keperawatan yang memfokskan pada salahsatu masalah utama yaitu pengelolaan risiko kontaminasi pada asma. Hasil : Peneliti melakukan implementasi keperawatan sesuai intervensi yang ditentukan sebelumnya. Pada hari ke-5 pengelolaan keperawatan pasien teratasi sebagian dengan data subjektif pasien akan rutin menggunakan terapi inhalasi uap sederhana dan melakukan senam asma. Keluarga juga mengatakan akan menghindari faktor pemicu terjadinya kekambuhan asma. Data objektif rumah pasien terlihat lebih rapi, bersih, jendela terbuka, cahaya dapat masuk ke dalam rumah. Simpulan : Masalah pengelolaan risiko kontaminasi pada asma teratasi sebagian. Peneliti menyarankan pasien dan keluarga untuk melanjutkan implementasi yang diajarakan secara mandiri
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DI RSUD DR. R SOETIJONO BLORA
Latar Belakang: Stroke merupakan gangguan pada sistem saraf yang disebabkan adanyagangguan peredaran darah di otak. Menurut organisasi kesehatan dunia World HealthOrganization (WHO) menyatakan bahwa stroke adalah manifestasi klinik dari gangguanfungsi serebral, baik fokal maupun global, yang berlangsung dengan cepat dan lebih dari24 jam atau berakhir dengan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.Tujuan: karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan keperawatagangguan mobilitas fisik pada pasien stroke non hemoragikMetode: Metode yang akan dilakuakan pada penulisan ini adalah metode deskriptif dalambentuk studi kasus, penulis mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan asuhankeperawatan pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik. Penulismelakukan penelitian dengan subyek dua pasien stroke non hemoragik dengan gangguanmobilitas fisik dengan kriteria hasil pergerakan ekstremitas meningkat, kekuatan ototmeningkat dan rentang gerak meningkat, bersedia menjadi responden, dengan diagnosagangguan mobilitas fisik, dan dirawat di RSUD Dr. R Soetijono Blora pada setiap pasienakan dilakukan tindakan selama 3 hari. Hasil: pengkajian dilakukan secara anamnesa dengan kedua pasien berumur yangberumur 49 dan 55 tahun didapatkan data masalah yang dialami adalah gangguanmobilitas fisik. Dilakukan Intervensi dengan melakukan monitor tanda-tanda vital, kajipergerakan ekstremitas, kekuatan otot dan rentang gerak, ubah posisi minimal setiap 2jam, lakukan latihan rentang gerak, berikan dukungan positif, jelaskan tujuan danprosedur latihan rentang gerak, anjurakan mengubah posisi setiap 2 jam sekali, anjurkanlatihan rentang gerak secara sistematis, ajarkan rentang gerak, kolaborasi denganFisioterapis mengembangkan program latihan rentang gerak dan kolaborasi dengandokter pemberian obat. Implementasi dilakuakan selama 3 sesuai jadwal dan intervensiyang ditetapkan, kemudian melakukan evaluasi dan didapatkan masalah teratasi sebagian.Kesimpulan: pasien yang mengalami stroke non hemoragik dengan masalah gangguanmobilitas fisik dapat diberikan asuhan keperawatan dengan melakukan latihan rentanggerak secara teratur dengan prosedur tindakan latihan rentang gerak pasif dan aktif.Sebagai catatan pemulihan pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisikmembutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan latihan yang buntuk mencapaikeadaan normal kembal
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. T DAN TN. D DENGAN FOKUS MASALAH DEFISIT PENGETAHUAN DIIT RENDAH PURIN PADA KLIEN GOUT ARTHRITIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANDAR 1KABUPATEN BATANG
Gout Arthritis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme purin yang biasanya sering ditandai dengan hiperurisemia atau peningkatan kadar asam urat dalam darah. Selain itu peningkatan kadar asam urat dalam darah disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, memiliki berat badan berlebihan, sering mengkonsumsi alkohol, dan memiliki riwayat hipertensi atau diabetes mellitus. Dengan demikian, perlu komunikasi yang baik dengan penderita gout arthritis untuk menjapai tujuan terapi. Hal ini dapat kita peroleh dengan cara memberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakit Gout Arthritis dan diit yang benar untuk penderita gout arthritis. Tujuannya yaitu untuk meberikan asuhan keperawatan keluarga dengan fokus masalah defisit diit rendah purin pada klien gout arthritis. Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah menggunakan metode deskriptif yang memiliki tujuan untuk mengekplorasi masalah asuhan keperawatan keluarga dengan fokus masalah defisit diit rendah purin pada klien gout arthritis. Hasil penelitian dapat memberikan pendidikan asuhan keperawatan kuarga tentang pengetahuan diit rendah purin pada gout arthritis dapat menambah pengetahuan klien tentang diit rendah purin sehingga klien dapat mengontrol kadar asam urat dalam darah supaya tidak terjadi peningkatan. Kriteria hasil dilakukan asuhan keperawatan keluarga dengan fokus masalah defisit diit rendah purin pada klien gout arthritis adalah keluarga dan klien mampu endemosntrasikan cara diit rendah purin yang benar dan keluarga mampu mengenal masalah kesehatan, serta mengambil keputusan untuk menentukan diit rendah purin. Saran dalam penelitian ini agar keluarga dan klien dapat mendemostrasikan tentang diit rendah purin yang benar pada penderita gout arthritis setelah diberikan pendidikan kesehatan
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. S DAN TN. T DENGAN FOKUS MASALAH DEFISIT PENGETAHUAN TENTANG DIIT RENDAH GARAM PADA KLIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KLAREYAN KABUPATEN PEMALANG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASCA OPERASI LAPARATOMIDENGAN GANGGUAN KUALITAS TIDUR DI RSUD BENDAN KOTA PEKALONGAN
Latar belakang : Laparatomi merupakan suatu bentuk pembedahan mayor dengan melakukan pengayatan pada lapisan lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan bagian organ yang mengalami masalah. Luka post operasi yang membuat rasa nyeri dan tidak nyaman, keterbatasan gerak, sehingga dapat menganggu kebutuhan tidur. Seseorang yang mengalami gangguan kualitas tidur biasanya dilakukan pengukuran kualitas tidur menggunakan Pittsburgh sleep quality index (PSQI) tujuannya untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien post operasi dengan gangguan kualitas tidur berdasarkan dengan ketidaknyamanan fisik (nyeri).Metode : Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan studi observasi jumlah responden sebanyak 2 orang di Rumah Sakit Umum Daerah Pekalongan. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner Pittsburgh sleep quality index (PSQI).Hasil : Hasil dari penelitian ini yaitu masalah teratasi dibuktikan dengan adanya perubahan waktu tidur pasien pada pasien I (Tn.K) yang tidur awalnya 4 jam dan skala nyerinya 8 sudah bisa tidur malam dengan nyenyak 7-8 jam, skala nyeri turun menjadi 2. Sedangkan pasien II (Ny.S) mengalami gangguan kualitas tidur 3 jam menjadi 6-7 jam tidur di malam hari dengan nyenyak dan skala nyeri menurun yang awalnya 9 menjadi 3.Simpulan : Terdapat perubahan sebelum dan sesudah diberikan tindakan pada kedua responden. Diantara kedua responden memiliki peningkatan yang berbeda dan sudah teratasi sehingga membutuhkan perawatan lebih lanjut
PENGELOLAAN KECEMASAN (ANSIETAS) MENGGUNAKAN TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER 3
Latar belakang: Selama kehamilan seorang ibu banyak mengalami perubahan baik dari perubahan fisik maupun dari perubahan psikologis. Salah satu dari perubahan psikologis yang terjadi pada ibu hamil yaitu adanya kecemasan terutama pada ibu hamil primigravida. Kecemasan yang terjadi dapat berdampak pada fisik dan psikis ibu maupun pada janin itu sendiri. Salah satu cara untuk menangani kecemasan pada kehamilan trimester 3 yaitu dapat dilakukan dengan teknik relaksasi napas dalam.Tujuan: Mendeskripsikan pengelolaan kecemasan (ansietas) menggunakan teknik relaksasi napas dalam pada ibu hamil primigravida trimester 3.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dan menggunakan pendekatan keperawatan dengan dua responden yang diberikan asuhan keperawatan selama 6 hari.Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 6 hari pada kedua responden didapatkan hasil pada hari- 6 masalah keperawatan kedua responden teratasi sebagian dengan data subjektif kedua pasien yang mengatakan kecemasan sudah berkurang dan dengan adanya penurunan skala HARS dari skor kecemasan 22 menjadi 14 pada klien pertama dan skor 24 menjadi 15 pada klien kedua.Simpulan: Masalah pengelolaan kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester 3 dengan teknik relaksasi napas dalam teratasi sebagian. Penulis menyarankan kepada kedua responden untuk melanjutkan teknik relaksasi napas dalam yang telah diajarkan dengan secara mandiri
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA KELETIHAN PADA PASIEN DENGAN MASALAH INSOMNIA
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA PASIEN INSOMNIA DENGAN FOKUS KELETIHAN DI DESA KALISALAK, KECAMATAN KEBASEN, KABUPATEN BANYUMASAlfian Nur Hidayat1, Sugeng Riyadi2, Esti Dwi Widayanti3, Maisje Marlyn Kuhu41Mahasiswa Program Studi Keperawatan Purowkerto Program Diploma III 2,3,4 Dosen Jurusan Keperawatan SemarangKorespondensi : [email protected] Belakang : Insomnia adalah gangguan pola tidur yang tidak adekuat dari kualitas dan kuantitas pada aktivitas tidur. Gangguan pola tidur ini merupakan keluhan paling umum dari gangguan tidur. Insomnia apabila tidak dapat ditangani secara segera dapat mengakibatkan dampak yang buruk (Walia & Mehra, 2016). Keletihan merupakan salah satu dampak dari insomnia. Pada seorang pekerja yang berlebihan dalam melakukan pekerjaan atau lembur kerja diluar batas kemampuannya akan membuat fisik cepat lelah, kurang teliti pada pekerjaannya, kurang fokus pada pekerjaannya. Metode : Penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus yang dilakukan dengan pendekatan Asuhan Keperawatan pada dua studi kasus yang sama sebagai unit analisis pasien dewasa dengan penyakit insomnia. Lokasi penelitian dilakukan di desa Kalisalak, Kebasen, Banyumas pada tanggal 11 April sampai 14 April 2022. Metode pengambilan data menggunakan teknik wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Hasil : Berdasarakan pengkajian ditemukan persamaan keluhan pada pasien 1 dan 2 yaitu mengalami kesulitan tidur dan cepat merasa lelah saat beraktivitas. Intervensi disususn berdasarakan diagnose keperawatan yaitu Keletihan. Pada pasien 1 dan 2 masalah yang muncul dapat teratasi sebagianKesimpulan dan saran : Masalah keperawatan yang dialami kedua pasien dapat teratasi sebagian sesuai dengan rencana. Kata Kunci : Insomnia, Asuhan Keperawata