28611 research outputs found
Sort by
PERBEDAAN MENGGOSOK GIGI MENGGUNAKAN TEKNIK HORIZONTAL DAN TEKNIK VERTIKAL TERHADAP PENURUNAN SKOR PLAK PADA ANAK KELAS 4 DAN 5 SD IT MUHAMMADIYAH PEGANDON KABUPATEN KENDAL
Penduduk di Indonesia yang mempunyai permasalahan kesehatan gigi dan mulut sebesar 57,6%. Penyebab utama terjadinya permasalahan kesehatan gigi dan mulut adalah plak. Plak dapat dibersihkan dengan cara menggosok gigi. Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan menggosok gigi adalah teknik menggosok gigi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan menggosok gigi menggunakan teknik horizontal dan teknik vertikal terhadap penurunan skor plak pada anak kelas 4 dan 5 SD IT Muhammadiyah Pegandon Kabupaten Kendal.Jenis penelitian pada penelitian ini adalah Observasional yang bersifat analisis multivariat dengan desain penelitian berupa Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 subjek yang terbagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu menggosok gigi tekink horizontal dan teknik vertikal. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemeriksaan skor plak sebelum dan sesudah menggosok gigi. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Non Parametrik Wilcoxon dan Uji Mann Whitney.Hasil uji Statistik didapatkan ada perbedaan antara menggosok gigi menggunakan teknik horizontal dan menggosok gigi menggunakan teknik vertikal dengan nilai sig sebesar 0.000 < 0.05. Kesimpulan penelitian ini adalah menggosok gigi menggunakan teknik horizontal lebih menurunkan skor plak dibandingkan dengan menggosok gigi menggunakan teknik vertikal. Saran penelitian diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi pada penelitian selanjutnya. Selain itu juga dapat dibedakan lagi dengan teknik menggosok gigi dengan jenis teknik lain.Kata kunci: Horizontal, vertikal, plak
PERBEDAAN RIWAYAT ASI EKSKLUSIF TERHADAP KEJADIN KARIES GIGI BATITA DI DESA DAN KOTA
Pemberian ASI eksklusif merupakan pemberian ASI tanpa memberikan makanan padat lainnya kecuali obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan. Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Semarang, cakupan pencapaian ASI Eksklusif di Kota Semarang dari Tahun 2015 hingga 2017 mengalami peningkatan dan mencapai target yaitu sebesar sebesar 64,69%. Karies dini merupakan penyakit rampan gigi paling banyak terjadi pada anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan riwayat ASI eksklusif terhadap kejadian karies gigi batita di desa dan kota.Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian kuantitatif dengan design penelitian observasional analitik menggunakan rancangan cross sectional. Variabel pengaruh adalah ASI eksklusif. Variabel terpengaruh adalah karies gigi batita. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 32 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisa data dilakukan dengan analisa univariat dan analisa bivariat menggunakan uji Mann Whitney untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara variabel bebas dengan variabel terikat.Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil uji beda Mann Whitney, didapatkan hasil nilai ? value 0,305 pada def-t batita di desa dan kota, kemudian hasil nilai ? value pada riwayat ASI eksklusif di desa dan kota yaitu 0,361. Dapat dilihat dari hasil uji beda Mann Whitney menunjukan nilai ? value > 0,05 yang artinya Ha ditolak berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Hasil uji Mann Whitney menunjukan bahwa tidak ada pebedaan antara riwayat ASI eksklusif terhadap kejadian karies gigi batita di desa dan kota
HUBUNGAN PARITAS DAN BERAT BAYI LAHIR DENGAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM
Ruptur perineum terjadi hampir pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya, tempat yang paling sering mengalami perlukaan akibat persalinan adalah perineum. Faktor yang menyebabkan terjadinya ruptur perineum yaitu faktor ibu seperti paritas, cara meneran, faktor janin meliputi berat badan janin, presentasi janin, faktor persalinan pervaginam dengan ektraksi vakum, persalinan presipitatus, riwayat persalinan dengan episiotomi.Data di RS Dr. Soedirman Kebumen tahun 2020 sebanyak 1730 persalinan. Dari data tersebut paling banyak mengalami ruptur perineum terjadi pada primipara sebanyak 992 kasus(57,3%) dan besar bayi lahir yang menyebabkan ruptur perineum adalah berat bayi lahir 2500-4000 gr sebanyak 1262 kasus(73%).Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui paritas dan berat bayi lahir dengan kejadian ruptur perineum pada persalinan normal perineum.Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi dengan rancangan berupa retrospektif study. Jumlah sampel yang digunakan sejumlah 95 responden. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dengan cara menggunakan data rekam medic untuk mengetahui paritas dan berat bayi lahir dengan kejadian ruptur perineum.Analisa yang digunakan rank spearman dengan derajat kepercayaan 95%. Pengambilan keputusan diambil dari nilai p hitung dengan ketentuan dimana kriteria pengujiannya, jika p hitung ? ? (0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan antara dua variabel tersebut
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI RSJD DR. RM. SOEDJARWADI KLATEN
Latar belakang : Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya kekeliruan persepsi. Orang halusinasi tidak mampu membedakan rangsangan mana yang berasal dari pikirannya sendiri dan mana rangsangan dari eksternal. Halusinasi dapat berdampak buruk jika tidak segera ditangani, baik pada diri penderita maupun lingkungan sekitar. Pasien akan mengalami perubahan perilaku bahkan melakukan hal yang dapat membahayakan diri sendiri atau membahayakan orang lain. Penanganan halusinasi dapat dilakukan melalui tindakan asuhan keperawatan dengan menggunakan strategi pelaksanaan. Tujuan karya tulis ini adalah untuk melakukan dan mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien halusinasi pendengaran.Metoda : Metode yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) dan menggunakan proses pendekatan keperawatan. Sampling yang digunakan meliputi 2 klien halusinasi pendengaran.Hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan menggunakan 4 strategi pelaksanaan pasien halusinasi didapatkan hasil bahwa klien 1 (Tn.J) dapat mencapai SP 2, SP 3 dan SP 4 tetapi tidak mencapai SP 1 karena klien tidak memiliki kemauan untuk menerapkan teknik menghardik, sedangkan pada klien 2 (Tn.T) SP 1 sampai dengan SP 4 dapat tercapai sesuai rencana keperawatan.Simpulan : Asuhan keperawatan mampu menurunkan intensitas halusinasi pada klien dengan halusinasi pendengaran
TINJAUAN KUALITAS MIKROBIOLOGI PADA AIR MATA AIR SIRAH PEMALI DI DESA WINDUAJI KECAMATAN PAGUYANGAN KABUPATEN BREBES TAHUN 2022
Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sangat penting bagi kehidupan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas mikrobiologis pada air mata air sirah pemali di Desa Winduaji Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian secara deskriptif. Sumber daya air berupa mata air dapat tercemar bakteri patoghen dari lingkungan sekitar mata air. Salah satu parameter penting kualitas air adalah kondisi mikrobiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Coliform di semua titik pengambilan sampel air mata air. Jumlah populasi bakteri Coliform yang paling tinggi dari 4 titik sampel terdapat pada titik mata air sirah pemali sebanyak 299 koloni/ 100mL. Titik sampel kedua Penampungan air Dk. Gondorukem diketahui sebanyak 219 koloni/ 100mL, Titik sampel ketiga pada Penampungan air Dk. Pasurupan diketahui sebanyak 191 koloni/ 100mL, pada titik sampel terjauh penampungan air Dk. Kampung Baru diketahui sebanyak 163 koloni/ 100mL. Kondisi fisik air meliputi rasa, bau dan warna memenuhi syarat sedangkan kondisi sanitasi lingkungan fisik mata air dikatakan beresiko pencemaran tinggi dengan skor 7. Simpulan kualitas mikrobiologi air tidak memenuhi syarat, kondisi fisik air memenuhi syarat, kondisi sanitasi mata air beresiko pencemaran tinggi. Penulis menyarankan masyarakat mengonsumsi air melalui proses perebusan, pengelola desa memelihara sarana dan prasarana mata air, pihak UPTD Puskesmas Winduaji meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan kualitas air bersih
HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN DAN ASUPAN ENERGI DENGAN KEJADIAN KURANG ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TLOGOSARI WETAN, PUSKESMAS TLOGOSARI KULON, DAN PUSKESMAS BANGETAYU, KOTA SEMARANG
Latar belakang: Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan keadaan kurang gizi yang diakibatkan kurangnya asupan energi dan protein yang berlangsung lama. Di kota Semarang, kasus KEK ibu hamil pada tahun 2020 di wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Wetan sebesar 15,29%.Tujuan penelitian: mengetahui hubungan antara Jarak Kehamilan dan Asupan Energi terhadap kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil.Rancangan penelitian: termasuk penelitian gizi masyarakat dengan rancangan case control tidak matching. Sampel penelitian yaitu 54 ibu hamil KEK dan 54 tidak KEK dengan proporsi 1:1 sehingga total sampel berjumlah 108 ibu hamil. Pengambilan data meliputi recall 2x24 jam, wawancara jarak kehamilan, dan pengukuran LILA.Hasil: hasil uji menunjukkan karakteristik usia tidak berisiko pada kelompok kontrol yaitu 87.0%, jarak kehamilan tidak berisiko pada kelompok kontrol yaitu 94.4%, dan asupan energi kurang pada kelompok kasus yaitu 100.0%.Simpulan: terdapat hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian KEK, dan terdapat hubungan antara asupan energi dengan kejadian KEK.Saran: diharapkan Bidan dan Ahli Gizi puskesmas untuk meningkatkan upaya promotif dan preventif dengan penyuluhan mengenai jarak kehamilan dan melakukan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk meningkatkan asupan energi pada ibu hamil. Untuk masyarakat sebaiknya melakukan upaya menjaga jarak kehamilan dengan melakukan program keluarga berencana (KB). Perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktor risiko lain seperti dukungan keluarga, aktivitas fisik dan konsumsi zat gizi mikro pada ibu hamil
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DENGAN FOKUS STUDI GANGGUAN MOBILITAS FISIK DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MUNTILAN
Latar belakang : Stroke menjadi penyebab kematian nomor dua di dunia setelah penyakit jantung iskemik, dan penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Stroke menyebabkan seseorang mengalami kelemahan otot karena penyempitan arteri yang mengarah ke otak sehingga suplai darah ke otak berkurang dan dapat mengalami gangguan mobilisasi. Seseorang yang mengidap penyakit stroke biasanya dilakukan tindakan ROM (Range Of Motion) untuk memperbaiki tingkat kemampuan pergerakan sendi. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik.Metode : Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif dengan studi observasi. Jumlah responden sebanyak 2 orang di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bola berduri, dan kuesioner kekuatan otot.Hasil : Setelah mengelola asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisik yang dilakukan tindakan ROM bola berduri selama 3 hari berturut-turut mengalami kemajuan tetapi terdapat perbedaan antara pasien 1 dengan pasien 2. Pasien 1 sudah dapat melakukan beberapa aktivitas sehari-harinya secara mandiri, sedangkan pasien 2 masih melakukan aktivitas dengan bantuan keluarga.Simpulan : Terdapat perubahan sebelum dan sesudah diberikannya tindakan ROM bola berduri pada kedua responden. Diantara kedua responden memiliki peningkatan yang berbeda dan sudah teratasi sebagian sehingga membutuhkan perawatan lebih lanjut. Dengan melakukan terapi ROM bola berduri selama 2 kali sehari sangat efektif dilakukan untuk pasien stroke non hemoragik dengan gangguan mobilitas fisi
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK TERLAKSANANYA REKAM MEDIS ELEKTRONIK KLINIK ONKOLOGI DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD KRATON KABUPATEN PEKALONGAN
RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan sudah menerapkan rekam medis elektronik instalasi rawat jalan sejak September 2019. Namun untuk klinik onkologi di instalasi rawat jalan belum dilaksanakan rekam medis elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tidak terlaksananya rekam medis elektronik klinik onkologi di instalasi rawat jalan berdasarkan faktor man, machines, money, methods, materials. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian kepala instalasi rekam medis, satu petugas filing, dan satu perawat onkologi. Objek penelitian faktor-faktor penyebab tidak terlaksananya rekam medis elektronik klinik onkologi di instalasi rawat jalan. Metode yang digunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif. Hasil faktor-faktor penyebab tidak terlaksananya rekam medis elektronik klinik onkologi di instalasi rawat jalan RSUD Kraton Kab Pekalongan faktor man pelatihan dilakukan sekali diikuti oleh 4 orang, masih adanya dokter yang belum mau dengan rekam medis elektronik, faktor machines kendala aplikasi yang kadang berjalan lambat, jaringan internet yang kadang loading(lambat), menu kurang nyaman dan lama, menu obat dan dosis yang tidak ditemukan, faktor money adanya anggaran untuk pembelian, perawatan komputer dan alat scan, faktor methods belum adanya SPO tentang rekam medis elektronik, dan faktor materials formulir rekam medis yang robek karena sudah lama dan rusak
GAMBARAN KARAKTERISTIK DAN TINGKAT PENGETAHUAN PRAMUSAJI DENGAN KETEPATAN PORSI DI RSD K.R.M.T WONGSONEGORO KOTA SEMARANG
Latar Belakang : Salah satu tujuan penyelenggaraan makanan rumah sakit yaitu menyediakan makanan sesuai kebutuhan gizi pasien. Salah satu kendala pemorsian makan pasien adalah pemorsian berdasarkan perkiraaan tanpa penimbangan sehingga porsi tidak tepat. Perbedaan besar porsi makan pasien karena petugas melakukan pemorsian hanya berdasrkan perkiraan. Karakteristik dan tingkat pengetahuan pramusaji berpengaruh terhadap ketepatan pemorsian.Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui gambaran karakteristik dan tingkat pengetahuan pramusaji dengan ketepatan porsi di RSD K.R.M.T Wongsonegoro Kota Semarang.Rancangan Penelitian : Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Variabel independen meliputi karakteristik dan tingkat pengetahuan pramusaji, sedangkan variabel dependen meliputi ketepatan porsi makanan pokok dan sayur. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 orang pramusaji yang ditentukan dengan purposive sampling. Pengumpulan data dengan wawancara dan penimbangan hasil pemorsian.Hasil : Karakteristik pramusaji perempuan 55,6%, berusia remaja akhir 46,7%, berpendidikan menengah 88,9%, masa kerja >3tahun 75,6%, dan tingkat pengetahuan kategori kurang 55,6%. Ketidaktepatan pemorsian makanan pokok 91,1% dan sayur 97,8%. Karakteristik ketidaktepatan pemorsian makanan pokok yaitu pramusaji perempuan 92%, masa kerja >3tahun 91,2%, usia dewasa awal dan lansia awal, pendidikan rendah dan tinggi serta pengetahuan cukup dan baik semuanya 100%. Ketidaktepatan pemorsian sayur yaitu pramusaji laki-laki, usia dewasa awal, dewasa akhir dan lansia awal, pendidikan rendah dan tinggi, masa kerja ?3tahun, serta pengetahuan kurang dan baik semuanya 100%.Simpulan : Karakteristik pramusaji di RSD K.R.M.T Wongsonegoro bervariasi dengan sebagian besar hasil pemorsian makanan pokok dan sayur tidak tepat