Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang

repository.poltekkes-smg.ac.id
Not a member yet
    28611 research outputs found

    No full text
    Latar Belakang: Self Care merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk dapat merawat diri sendiri secara mandiri melalui cara peningkatan pengetahuan dan kewaspadaan terhadap penyakit sebagai upaya untuk mengontrol kadar glukosa darah dengan optimal, mencegah terjadinya komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup. Self Care yang optimal akan memberikan efek yang positif bagi kualitas hidup penderita Diabetes Melitus. Sistem imunitas tubuh juga akan mengalami peningkatan jika Self Care dilakukan dengan baik, terutama dalam pandemi Covid-19 ini imunitas tubuh harus tetap terjaga, sehingga dengan dilakukannya Self Care yang optimal dapat berimplikasi terhadap regenerasi sistem imunitas yang kuat dan tubuh tidak mudah terinfeksi oleh zat asing.Tujuan: Untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Self-Care Management Pada Pasien Diabetes Melitus Pada Masa Pandemi Covid- Di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Kabupaten Banyuwangi.Metode: Desain penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu pasien Diabetes Melitus yang ada dalam wilayah Puskesmas Yosomulyo Kabupaten Banyuwangi berjumlah 84 responden dengan teknik sampel yaitu teknik Simple Random Sampling. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment.Hasil: Setelah dilakukan analisis data, pada penelitian ini nilai hubungan Pengetahuan, Keyakinan tentang kemampuan diri, Dukungan keluarga dengan Self Care Management DM tersebut memiliki p lebih kecil dari 0,05 yang berarti Ha diterima. Sehingga disimpulkan setiap variable terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variable.Simpulan: Terdapat hubungan beberapa variable yaitu Pengetahuan,Keyakinan tentang kemampuan diri dan Dukungan keluarga dengan Self Care Management DM di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Kabupaten Banyuwangi

    GAMBARAN ASUPAN ZAT GIZI TERHADAP STATUS GIZI SANTRIWATI PADA BULAN PUASA DI PONDOK PESANTREN NURUL IHSAN KELURAHAN TROMPO KECAMATAN KENDAL

    No full text
    ABSTRAKLatar Belakang: status gizi adalah keadaan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Status gizi sangat dipengaruhi oleh asupan gizi. Tujuan penelitian: mengetahui gambaran asupan zat gizi terhadap status gizi santriwati pada bulan puasa di Pondok Pesantren Nurul Ihsan Kelurahan Trompo Kecamatan Kendal. Rancangan Penelitian: termasuk penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Responden pada penelitian ini adalah semua santriwati di Pondok Pesantren Nurul Ihsan. Data yang dikumpulkan berupa status gizi dengan pengukuran antropometri menggunakan IMT dan asupan zat gizi makro menggunakan formulir recall 2x24 jam yang didapatkan dari teknik wawancara kepada responden. Hasil penelitian: status gizi santriwati sebagian besar dalam kategori normal (59,1%), Tingkat Kecukupan Energi kategori kurang sebesar 63.6%, Tingkat Kecukupan Protein kategori kurang sebesar 72.7%, Tingkat Kecukupan Lemak kategori kurang sebesar 68.2%, Tingkat Kecukupan Karbohidrat kategori baik sebesar 86,4%.Simpulan: Tingkat Kecukupan Energi, Protein, Lemak Sebagian besar Santriwati dalam kategori kurang. Perlu adanya kerjasama antara pondok pesantren dan puskesmas untuk memberikan edukasi kepada santriwati mengenai pentingnya asupan zat gizi terhadap status gizi santriwati. Serta perlu dilakukan penelitian lanjut terkait faktor-faktor yang mempengaruhi asupan zat gizi makro dan mikro terhadap status gizi santriwati.Kata Kunci : Asupan Zat Gizi, Status Gizi, Santriwati

    PERBEDAAN PEMAKAIAN SIKAT GIGI BULU HALUS (SOFT), SEDANG (MEDIUM) DAN KERAS (HARD) TERHADAP DEBRIS INDEKS PADA MURID SD N 2, 3 DAN 5 JEPON

    No full text
    Berdasarkan data dari laporan nasional Riskesdas tahun 2018, terdapat terdapat 94.5% yang mengggosok gigi setiap hari, tetapi hanya 2.8% yang menggosok gigi dengan benar. Menggosok gigi dengan baik dan benar dapat mempengaruhi tingkat kebersihan gigi seseorang. Kebersihan gigi dapat dinilai dengan pemeriksaan (OHI-S). Pengukuran OHI-S salah satunya dengan cara penghitungan Debris Indeks (DI) yang diperoleh dengan mengukur debris yang menempel pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pemakaian sikat gigi bulu halus (soft), sedang (medium) dan keras (hard) terhadap debris indeks pada Murid SD N 2, 3 dan 5 Jepon Kabupaten Blora. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen atau eksperimen semu dengan pengambilan data secara cross sectional. Populasi penelitian ini ada 630 responden dengan sampel yang diperoleh 87 responden. Teknik pengambilan sampe adalah purposive sampling. Data yang telah diperoleh dari responden melalui lembar pemeriksaan debris indeks kemudian dikelompokkan dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan pemakaian sikat gigi bulu halus (soft), sedang (medium) dan keras (hard) terhadap debris indeks pada Murid SD N 2, 3 dan 5 Jepon Kabupaten Blora. Rata-rata selisih skor debris indeks sebelum dan sesudah menggosok gigi menggunakan sikat gigi halus sebesar 0,67, sikat gigi bulu sedang sebesar 1,62, sedangkan sikat gigi bulu keras sebesar 1,1. Hal ini dikarenakan responden menggosok gigi dengan kekerasan bulu yang berbeda tetapi dengan cara yang sama sehingga angka debris indeks responden menjadi baik pula. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk dapat menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi bulu sedang karena lebih efektif dalam membersihkan gigi

    ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN INTEGRITAS KULIT PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN ULKUS DIABETIKUM DI RSUD KARDINAH KOTA TEGAL

    No full text
    Latar Belakang : Ulkus diabetik merupakan komplikasi yang terjadi secara menahun yang paling ditakuti oleh penderita diabetes melitus, dampak yang terjadi pada ulkus diabetik jika tidak segera ditangani dan tidak mendapatkan perawatan akan memperburuk kondisi pasien diabetes, dan mudah terkena infeksi yang meluas bahkan sampai amputasi. Ulkus diabtetik pada penderita diabetes harus mendapatkan perawatan luka.Tujuan : Menggambarkan asuhan keperawatan pada pasien gangguan integritas kulit dengan ulkus diabetikum di RSUD Kardinah Kota Tegal.Metode : Metode penelitian yang digunakan dalam memberikan asuhan keperawatan yaitu menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus.Hasil : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x pertemuan pada kedua klien didapatkan hasil luka pasien membaik dengan eksudat dan pus berkurang, tidak ada nyeri, dan bengkak pada kaki berkurang

    MEKANISME KOPING PASIEN DIABETES MELLITUS DI KLINIK NATURA MEDIKA KUDUS

    No full text
    Latar Belakang : Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakitkronis yang paling umum ditemukan di kalangan masyarakat. DM tidak dapat disembuhkan dan membutuhkan pengelolaan diri seumur hidup sehingga pasien DM membutuhkan mekanisme koping. Mekanisme koping yaitu upaya yang diarahkan untuk mengelola stress baik yang mengarah pada sifat konstrukstif maupun sifat destruktif. Mekanisme koping yang mengarah pada sifat konstruktif dikenal dengan istilah adaptif. Mekanisme koping yang mengarah pada sifat destruktif disebut dengan maladaptif.Tujuan : Mendiskripsikan mekanisme koping pasien diabetes mellitus diKlinik Natura Medika yang terletak di Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.Metode : Deskriptif kuantitatif, jumlah sample 77 responden, menggunakan teknik purposive sampling, instrumen penelitian menggunakan lembar data demografi dan kuesioner Brief Cope yang diadopsi dari Carver, 1997.Hasil : Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme koping pasien DM di Klinik Natura Medika 58 responden adaptif (75.3%) dan 19 responden maladaptif (24.7%).Rekomendasi : Pelayanan kesehatan dapat memberikan media-media edukasi kepada pasien bahwa DM merupakan masalah kesehatan yang serius,maka harus diatasi dengan pengobatan serta gaya hidup yang baik serta pasien diberikan pemahaman bahwa DM tidak untuk dihindari.Kata Kunci : Mekanisme Koping, Stress, Diabetes Mellitu

    ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. RM. SOEDJARWADI KLATEN

    No full text
    ABSTRAKLatar belakang: Banyaknya masalah dari seseorang yang tidak terselesaikan lalu menumpuk, kemudian tidak adanya solusi dari masalah tersebut membuat orang mengalami gangguan jiwa. Orang yang mengalami gangguan jiwa cenderung memiliki mekanisme koping yang maladaptif dan tingkat untuk mengalami stressnya tinggi. Evaluasi yang negatif dari banyaknya masalah yang terjadi pada seseorang membuat orang mengalami harga diri rendah. Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga yang disebabkan karena kegagalan berulang, dikucilkan, penolakan, kehilangan orang terdekat, kecelakaan, dan kehilangan anggota tubuh. Harga diri rendah yang terjadi begitu lama menyebabkan harga diri rendah kronis. Harga diri rendah kalau tidak ditangani dapat menyebabkan isolasi sosial. Salah satu tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi masalah harga diri rendah adalah dengan strategi pelaksanaan. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan melatih pasien harga diri rendah dengan kegiatan positif untuk meningkatkan harga dirinya. Metoda: Penelitian yang dilakukan menggunakan desain case studi atau studi kasus dengan dua orang pasien yang mengalami masalah harga diri rendah. Metode yang digunakan adalah dengan metode deskriptif.Hasil: Evaluasi yang diharapkan setelah dilakukan asuhan keperawatan adalah pasien nyaman berbicara dengan perawat, pasien menyebutkan kegiatan positif di rumah yang masih digunakan, kegiatan yang dilatih bermanfaat bagi pasien untuk kedepannya, dan pasien dapat meminum obat dengan prinsip 5 benar.Simpulan: Asuhan keperawatan yang telah dilakukan dapat memberikan manfaat bagi pasien untuk kedepannya

    PERBEDAAN MENGKONSUMSI VITAMIN C HISAP DENGAN VITAMIN C MINUM TERHADAP PH SALIVA PADA SISWA DI SD NEGERI 1 LUMAJANG WATUMALANG KABUPATEN WONOSOBO

    No full text
    Di Indonesia hampir 90% dari jumlah penduduk memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut. pH Saliva adalah salah satu faktor penting yang berperan dalam pencegahan karies gigi, demineralisasi gigi dan penyakit lain di rongga mulut. Faktor yang dapat mempengaruhi pH Saliva yaitu vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mengkonsumsi vitamin C hisap dengan vitamin C minum terhadap pH saliva pada siswa di SD Negeri 1 Lumajang Kabupaten Wonosobo.Jenis penelitian pada penelitian ini adalah Quasy Experiment dengan desain two group pre test and post test design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 110 anak yang terbagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu mengkonsumsi vitamin C Hisap dan Vitmanin C Minum. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pemeriksaan pH saliva sebelum dan sesudah mengkonsumsi vitamin C. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Non Parametrik Wilcoxon dan uji Mann Whitney.Hasil penelitian ini adalah terjadi penurunan pH saliva sesudah mengkonsumsi vitamin C. Berdasarkan uji Statistik didaptkan hasil ada perbedaan antara mengkonsumsi vitamin C Hisap dengan vitamin C Minum secara signifikan dengan nilai sig sebesar 0.000 < 0.05. Kesimpulan penelitian ini adalah mengkonsumsi vitamin C Hisap lebih menurunkan pH Saliva dibandingkan dengan mengkonsumsi vitamin C minum. Saran penelitian diharapkan penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi pada penelitian selanjutnya. Selain itu juga dapat dibedakan lagi dengan vitamin C dengan jenis lain

    4

    full texts

    28,611

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    repository.poltekkes-smg.ac.id
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇