28611 research outputs found
Sort by
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANAK BRONKITIS DENGANMASALAH BERSIHAN JALAN NAFAS TIDAK EFEKTIFDI RSU SYUBBANUL WATHON MAGELANG
Latar Belakang: Bronkitis adalah infeksi pada saluran napas yang menyebabkan bronkus meradang disebabkan oleh virus, bakteri, dan polutan yang mengakibatkan penumpukan sekret berlebih pada bronkus sehingga terjadi bersihan jalan napas tidak efektif yang menyebabkan pasien mengeluh batuk dan gangguan oksigenasi. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi masalah bersihan jalan napas dengan tindakan fisioterapi dada dan nebulizer. Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif pada anak dengan bronkitis di RSU Syubbanul Wathon Magelang. Metoda: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dengan fokus bersihan jalan napas tidak efektif yang menggunakan satu klien sebagai subjek penelitian. Hasil: Hasil dari penelitian ini didapatkan masalah bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan dengan suara napas tambahan ronkhi. Simpulan: Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama 3x8 jam masalah bersihan jalan napas tidak efektif teratasi dengan evaluasi keperawatan kemampuan untuk mengeluarkan sekret meningkat, produksi sputum menurun, tidak terdengar suara napas tambahan ronkhi
GAMBARAN NILAI HEMATOKRIT SEBELUM DAN SESUDAH DONOR DARAH DI UNIT DONOR DARAH (UDD) PALANG MERAH INDONESIA (PMI) KABUPATEN CILACAP
Latar Belakang: Donor darah merupakan tahap pengambilan darah dari seseorang secara sukarela dan disimpan di bank darah sebagai stok darah yang nanti dipakai untuk mentransfusikan darah. Hematokrit (Hct) adalah persentase jumlah sel darah merah atas jumlah keseluruhan darah. Nilai normal untuk pria 40-48% dan untuk wanita 37-43%. Nilai hematokrit dapat digunakan sebagai tes skrining sederhana untuk anemia, sebagai referensi kalibrasi untuk metode otomatis hitung sel darah dan membimbing keakuratan pengukuran hemoglobin.Tujuan: Mengetahui hasil nilai hematokrit sebelum dan sesudah donor darah di UDD PMI Kabupaten Cilacap.Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan kriteria penelitian deskriptif serta menggunakan pendekatan cross sectional dan menggunakan data primer.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 30 responden yaitu sebelum donor darah didapatkan paling tinggi yaitu jenis kelamin laki-laki dengan kategori normal sebanyak 16 pendonor (53,3%), sedangkan sesudah donor didapatkan paling tinggi yaitu jenis kelamin laki-laki dengan kategori normal sebanyak 15 pendonor (50%). Sebelum donor darah berdasarkan usia didapatkan pendonor terbanyak berusia 22-44 tahun (dewasa) memiliki nilai Hct normal sebanyak 13 pendonor (43,4%) dan sesudah donor pendonor terbanyak berusia 22-44 tahun (dewasa) memiliki nilai Hct normal sebanyak 10 pendonor (33,3%).Kesimpulan: Penelitian yang dilakukan di UDD PMI Kabupaten Cilacap dengan total 30 responden disimpulkan bahwa rata-rata nilai hematokrit sebelum donor darah adalah 43,3% dan sesudah donor darah adalah 40,2%. Jadi tidak ada hubungan nilai hematokrit dengan sebelum dan sesudah donor darah
ANALISA PENERAPAN BUTEYKO BREATHING EXERCISE TERHADAP PERBAIKAN RESPIRATORY RATE (RR) DAN SATURASI OKSIGEN (SPO2) PADA PASIEN ASMA DI RUANG IGD RSUP DR KARIADI
Background : Asthma is a chronic inflammatory disease of the respiratory tract characterized by coughing, shortness of breath, wheezing and a feeling of heaviness in the chest which is generally reversible both with and without treatment. Giving buteyko breathing exercise action is more effective than before being given the action.Purpose : To analyze the application of buteyko breathing exercise to the improvement of respiratory rate (RR) and oxygen saturation (SpO2).Methods : Descriptive analysis in the form of case studies with total sampling based on inclusion and exclusion criteria of 3 patients under management. The application of buteyko breathing exercise was carried out, observing vital signs before and after buteyko breathing exercise.Results of nursing care : Nursing problems are ineffective breathing patterns with Respiratory Rate (RR) > 26 x/minute and 2 patients were found to have mild hypoxia with SpO2 98%.Discussion : The author gives the application of buteyko breathing exercise to asthma patients with an improvement in the condition of RR and SpO2. Supported by Lisavina's research (2019) with the difference between controlling asthma before and after implementing Buteyko breathing.Recommendations : The application of buteyko breathing exercise in assessing improvement in respiratory rate (RR) and oxygen saturation (SpO2) did not have a negative impact on patient conditions, hospital costs, time and effort, or infrastructure
MONITORING BEBAN GEJALA MENGGUNAKAN INSTRUMEN DSC-R (DIABETES SYMPTOMS CHECKLIST-REVISED) DAN PEMBERIAN EDUKASI DSME (DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION)
Latar Belakang: Berdasarkan observasi di ruang Rajawali 3B sebanyak 3 dari 5 pasien diabetes mellitus tipe 2 memiliki gejala kelelahan, poliuria, polidipsia, pandangan kabur, dan kesemutan pada ekstremitas. Hasil pengkajian pengetahuan pasien menunjukkan tingkat pengetahuan yang rendah hingga sedang.Tujuan: Menganalisis asuhan keperawatan pada klien DM tipe 2 dengan diagnosa keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah dengan penilaian beban gejala menggunakan DSC-R dan intervensi DSME di RSUP Dr. Kariadi SemarangMetode: Analisis deskriptif berupa studi kasus dengan penerapan EBNP (evidence-based nursing practice) pada 3 pasien kelolaan. Beban gejala diukur dengan instrumen DSC-R, pengetahuan tentang DM diukur dengan DKQ24 (Diabetes Knowledge Questionnaire-24). Intervensi EBNP berupa monitoring beban gejala dan pemberian edukasi DSME.Hasil asuhan keperawatan: Penerapan monitoring beban gejala DM tipe 2 dengan instrumen DSC-R didapatkan pada hari terakhir implementasi, skor DSC-R pasien menurun dengan perbaikan pada beberapa domain. Tingkat pengetahuan pasien kelolaan meningkat. Hasil monitoring kadar GDS setiap pagi selama 7 hari didapatkan ketiga pasien kelolaan tidak mengalami hipoglikemia.Diskusi: Pada studi kasus ini, gejala DM tipe 2 dalam DSC-R terlihat pada semua pasien kelolaan. Monitoring beban gejala perlu diintegrasikan dalam program perawatan dan self management. DSME dapat membentuk pengetahuan dan kemampuan seseorang untuk memahami, menilai dan mengaplikasi informasi serta pelayanan kesehatan yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan terkait kesehatan.Rekomendasi: Instrumen DSC-R efektif untuk memantau beban gejala DM tipe 2. Selain itu, edukasi DSME dapat menjadi intervensi mandiri perawat yang akan membantu pasien mengatasi komplikasi akut dan mencegah komplikasi kronis serta mendorong kontrol glikemik yang efektif.Kata kunci: Beban gejala; Diabetes Mellitus Tipe 2; DSC-R; DSM
MODEL VIDEO EDUKASI BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP PERUBAHAN STATUS KESEHATAN GINGIVA PADA REMAJA
Latar Belakang: Masalah kesehatan yang sering dialami oleh remaja adalah kebersihan gigi dan mulut, data RISKESDAS tahun 2018, 57,6% masyarakat Indonesia memiliki permasalahan kesehatan gigi dan mulut. Masalah gingiva sering terjadi pada remaja. Kurangnya kebersihan gigi dan mulut menyebabkan terjadinya inflamasi gingiva. Plak, bakteri, dan kalkulus yang terakumulasi pada permukaan gigi merupakan penyebab utama penyakit periodontal. Deteksi dini yang dilakukan secara mandiri serta pemberian solusi untuk pencegahan dan pengobatan kepada pasien sangat diperlukan. Media yang sedang berkembang dikalangan remaja adalah media berbasis teknologi yang semakin kreatif dapat menjadi solusi pencegahan penyakit gigi. Tujuan: Membuktikan video edukasi berbasis teknologi informasi yang dapat layak dan efektif penerapannya terhadap perubahan status kesehatan gingiva pada remaja.Metode: Research and Development (RnD) dan uji model menggunakan quasy experiment (pre-test post-test control group design). Sampel penelitian dibagi menjadi 2 kelompok: intervensi 14 orang dan kontrol 14 orang. Pengujian data menggunakan uji paired sample t-test, wilcoxon, dan mann-whitney. Hasil: Video edukasi berbasis teknologi informasi dapat layak terhadap perubahan status kesehatan gingiva dengan hasil validasi ahli 83% dan p-value 0,044 serta penerapannya efektif meningkatkan pengetahuan (p=0,000), sikap (p=0,002), keterampilan (p=0,000), GI (p=0,001). Serta ditunjukkan dengan nilai delta pengetahuan (2,14), sikap (1,29), keterampilan (2,14), penurunan skor GI (0,44) dibandingkan kelompok kontrol.Kesimpulan: Video edukasi terbukti layak dan efektif penerapannya terhadap perubahan status kesehatan gingiva pada remaja ditandai dengan menurunnya skor gingival indeks
POTENSI LARUTAN EKSTRAK KUNYIT (CURCUMA LONGA) SEBAGAI ALTERNATIF OBAT KUMUR HERBAL PADA GINGIVITIS MARGINALIS
Latar Belakang : Gingivitis marginalis adalah peradangan gingiva bagian margin dan merupakan stadium yang paling awal ditandai adanya peradangan yang berwarna kemerahan yang tidak persisten tetapi menonjol di daerah dimana plak bakteri terkonsentrasi. Gingival indeks digunakan untuk menilai status gingiva dan mengikuti perubahan status gingiva dari waktu ke waktu. Diperlukan bahan herbal yaitu kunyit sebagai alternatif dalam menurunkan gingivitis. Hal ini dikarenakan kunyit memiliki kandungan aktif seperti fenol, minyak atsiri, flavonoid, tanin, saponin sebagai antibakteri.Tujuan : Membuktikan potensi larutan ekstrak kunyit (Curcuma longa) sebagai alternatif obat kumur herbal terhadap gingivitis marginalis.Metode : Quasy eksperiment dengan rancangan pre and post test with control group design. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan Non Random sampling dengan purposive sampling. Sampel terdiri dari 27 orang pemeriksaan menggunakan gingival indeks dengan alat bantu dental probe. Pemberian obat kumur ekstrak kunyit dibandingkan dengan formula tanpa bahan aktif.Hasil : Hasil uji independent t-test terhadap penurunan gingivitis marginalis konsentrasi 2,5% dan 5% pada hari ke 1 dan 2 menunjukkan nilai sig 0,002, hari ke 3 nilai sig 0,004, hari ke 4 dan 5 nilai sig 0,000 artinya terdapat perbedaan yang bermakna terhadap penurunan gingivitis marginalis.Kesimpulan : Pemberian obat kumur herbal efektif digunakan sebagai alternatif obat kumur herbal dalam menurunkan gingivitis marginalis
POTENSI OBAT KUMUR EKSTRAK DAUN SELEDRI (APIUM GRAVEOLENS L.) SEBAGAI ALTERNATIF ANTIBAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI DALAM RONGGA MULUT
Latar Belakang: Karies disebabkan aktivitas mikroba suatu karbohidrat yang mengalami fermentasi. Upaya preventif berkumur obat kumur mengandung antibakteri, penggunaan jangka panjang memiliki efek samping, sehingga diperlukan bahan herbal yang memiliki antibakteri salahsatunya daun seledri.Tujuan : Membuktikan potensi ekstrak daun seledri (Apium graveolens L.) sebagai bahan obat kumur dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies dan mampu menurunkan jumlah koloni bakteri dibandingkan dengan kontrol formularium tanpa bahan aktif.Metode : Penelitian ini menggunakan eksperimen laboratorium dan lapangan dengan pretest-posttest terdiri kelompok intervensi formulasi obat kumur ekstrak daun seledri konsentrasi 30%, 15% dan kontrol formularium tanpa bahan aktif, sampel terdiri dari 39 orang, sampel berkumur selama 1 menit. Pengambilan saliva sebelum dan sesudah berkumur. Variabel diteliti yaitu jumlah koloni bakteri dan daya hambat bakteri. Hasil : Hasil uji Paired t-test jumlah koloni bakteri konsentrasi 15% menunjukkan nilai ? -105,846 p-value 0,025 artinya terdapat perbedaan koloni bakteri sebelum dan setelah berkumur, konsentrasi 30% nilai ? 17,846 p-value 0,351 dan kontrol nilai ? 7,385 p-value 0,183 artinya tidak ada perbedaan bermakna tetapi terdapat penurunan jumlah koloni bakteri. Hasil daya hambat bakteri streptococcus mutans dilakukan uji Anova pada konsentrasi 15% menunjukkan mean 5 mm dan konsentrasi 30% dengan mean 6,2 mm dengan p-value 0,000 yang berarti terdapat perbedaan yang bermakna dalam menghambat bakteri streptococcus mutans, sedangkan kontrol memiliki mean 0,0 mm yang berarti tidak terdapat daya hambat yang terbentuk.Kesimpulan : pemberian obat kumur ekstrak daun seledri konsentrasi 30% selama 1 menit efektif menurunkan jumlah koloni bakteri dibandingkan kontrol, Hitung zona hambat konsentrasi 15%,30% mampu menghambat bakteri sedangkan kontrol tidak memiliki daya hambat pada bakteri streptococcus mutans