GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir
Not a member yet
    236 research outputs found

    EFEK KEBOCORAN BEAMTUBE DAN PIPA PRIMER PENUKAR PANAS PADA SUATU MODEL REAKTOR RISET 1 MW BERBAHAN BAKAR TIPE SILINDER

    Get PDF
    Telah dilakukan analisis transien menggunakan program komputer RELAP5/Mod3.2 terhadap model reaktor riset berbahan bakar tipe silinder daya 1 MW dan diasumsikan mengalami kebocoran pada beamtube, pipa cold leg, dan pipa hot leg. Berdasarkan hasil analisis diketahui reaktor mencapai kestabilan pada daya 1 MW adalah 1650 detik setelah kekritisan. Pada kondisi stabil suhu pusat dan suhu kelongsong bahan bakar pada kanal terpanas, serta suhu air pendingin primer keluar dari kanal terkait berturut-turut adalah 529,35 OC, 98,37 OC, 81,27 OC. Pada 7,3 detik setelah beamtube bocor, atau 5,1 detik setelah pipa cold leg bocor, atau 6,2 detik setelah pipa hot leg bocor reaktor scram karena level air tangki telah turun 0,5 m. Penurunan air tangki ini terhenti pada level 0,959 m ketika 97,7 detik setelah beamtube bocor, atau pada level 1,252 m ketika 76,4 detik setelah pipa cold leg bocor, atau pada level 1,252 m ketika 78,6 detik setelah pipa hot leg bocor. Pada kondisi ini suhu pusat dan suhu kelongsong bahan bakar pada kanal terpanas, serta suhu air pendingin primer keluar dari kanal terkait berturut-turut adalah 96,25 OC, 89,63 OC, 78,96 OC untuk kebocoran beamtube, atau 87,12 OC, 78,31 OC, 69,10 OC untuk kebocoran pipa cold leg, atau 87,32 OC, 78,54 OC, 69,43 OC untuk kebocoran pipa hot leg. Berbeda dengan kebocoran pada pipa cold leg dan pipa hot leg, suhu-suhu tersebut pada kebocoran beamtube cenderung terus naik karena sisa panas peluruhan, dan air tangki yang tersedia tidak mampu mengambil panas tersebut secara maksimal, sehingga diperlukan sistem pendinginan teras darurat (SPTD) untuk mendinginkannya

    PENGGUNAAN FORMALIN DAN BORAKS SERTA KONTAMINASI BAKTERI PADA OTAK-OTAK

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian mengenai penggunaan formalin dan boraks serta kontaminasi awal bakteri pada otak-otak yang dibungkus dan tanpa pembungkus. Otak-otak tersebut diiradiasi dengan dosis 0 dan 3 kGy di IRPASENA dengan laju dosis 1,149 kGy/jam, kemudian disimpan pada 2 macam suhu penyimpanan yaitu suhu kamar dan suhu lemari es selama 4 minggu dengan interval waktu pengamatan untuk kontaminasi bakteri dilakukan setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan semua contoh otak-otak yang diteliti menggunakan formalin tetapi tidak menggunakan boraks.Kontaminasi awal total bakteri aerob pada otak-otak yang tanpa pembungkus dan dibungkus kemudiandisimpan pada suhu kamar dengan dosis 0 kGy terlihat pada awal minggu jumlah bakteri aerob masing-masing adalah 4,3 x 107 dan 2,0 x 107cfu/g. Setelah diiradiasi dengan dosis 3 kGy pada otak-otak yang tanpa pembungkus maupun yang dibungkus tidak didapatkan pertumbuhan bakteri. Kombinasi perlakuan antara iradiasi dengan penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan bakteri aerob setelah minggu pertama. Kontaminasi awal bakteri koli pada otak-otak yang tidak dibungkus maupun dibungkus masing-masing adalah 1,9 x 105 dan 5,7 x 105 cfu/g. Iradiasi dengan dosis 3 kGy dapat menghambat pertumbuhan bakteri koli pada semua contoh otak-otak. Kontaminasi awal bakteri Escherichia coli pada otak-otak yang tidak dibungkus maupun yang dibungkus adalah 1,2 x 105 cfu/g. Jumlah Staphylococcus spp. pada otak-otak yang tidak dibungkus dan yang dibungkus masing-masing adalah 3,3 x 105 dan 4,8 x 106 cfu/g. Iradiasi dengan dosis 3 kGy juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus spp.Tidak ditemukan Salmonella pada semua contoh yang diteliti

    PENGARUH SENYAWA PENGOTOR Ca DAN Mg PADA EFISIENSI PENURUNAN KADAR U DALAM AIR LIMBAH

    Get PDF
    PENGARUH SENYAWA PENGOTOR Ca DAN Mg PADA EFISIENSI PENURUNAN KADAR U DALAM AIR LIMBAH. Telah dilakukan penelitian pengolahan air limbah uranium yang mengandung senyawa pengotor Ca dan Mg dengan pertukaran ion. Penelitian secara eksperimental ini dilakukan dengan menggunakan kolom gelas berdiameter 1,1 cm yang diisi dengan 4 gram resin jenis Dowex 50W-X8(Na). Umpan yang berupa larutan uranium berkadar 100 ppm dengan pH= 4 dan pengotor Ca serta Mg yang kadarnya bervariasi dari 25, 50, 75 dan 100 ppm dialirkan ke dalam kolom resin dengan pompa masterflex dengan kecepatan alir tetap 2,5 ml/menit. Kadar efluen uranium yang keluar dari kolom resin dianalisis menggunakan spektrofotometer dengan memakai arsenazo sebagai pengompleks. Dari data kadar U yang masuk dan keluar dari kolom resin dapat ditentukan nilai penurunan efisiensi kadar U. Dari data penelitian diperoleh bahwa nilai penurunan efisiensi pemisahan kadar U yang dicapai dengan pengotor Ca dari 99,1% ke 92% sedangkan untuk pengotor Mg dari 97,8 % ke 94%

    IMPREGNASI BASAH Fe3+ KE DALAM SILIKAT MESOPORI MCM-41-TERSILILASI.

    Get PDF
    Dalam penelitian ini dilakukan impregnasi basah (wet impregnation) Fe3+ ke dalam MCM-41-tersililasi dengan optimasi konsentrasi Fe3+, waktu dan temperatur. Analisis kristalinitas inang didasarkan pada intensitas puncak bidang [100] difraktogram, analisis kuantitatif Fe dalam MCM-41-tersililasi dilakukan dengan metode AAS, sedang karakterisasi Fe-MCM-41-tersililasi dilakukan dengan metode-metode spektroskopi DRUV-Vis, spektroskopi EPR, dan FTIR. Diperoleh kesimpulan bahwa semakin besar konsentrasi Fe3+ dalam larutan prekursor cenderung meningkatkan kandungan Fe dalam Fe-MCM-41-tersililasi, namun jika digunakan larutan prekursor dengan konsentrasi Fe3+ ≥ 0,1 M berakibat terjadinya kerusakan struktur heksagonal MCM-41-tersililasi. Waktu kontak optimal adalah 8 jam, sedang temperatur optimalnya 40 ºC. Impregnasi basah Fe3+ ke dalam MCM-41-tersililasi dapat mengakibatkan substitusi isomorfis Fe3+ menggantikan Si4+ pada jaringan silikat dan juga  menghasilkan nanopartikel oksida besi diluar jaringan silikat, yaitu mengisi sebagian pori MCM-41-tersililasi

    KARAKTERISTIK GEL TITANIUM TUNGSTAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP PELEPASAN RENIUM-188

    Get PDF
    Gel titanium tungstat (TiW) merupakan bahan matriks generator 188W/188Re untuk produksi radioisotop renium-188 (188Re). Gel titanium tungstat diperoleh dengan cara mereaksikan titanil dan tungsten dari kelimpahan isotop alam. Karakteristik gel titanium tungstat yang dikontrol meliputi perbandingan mol Ti:W, pH dan reaksi pemanasan, merupakan tujuan penelitian yang akan dipelajari. Pembuatan gel dilakukan dengan cara “Pre-formed” menggunakan sasaran WO3 non radioaktif. Sasaran WO3 dibuat larutan amonium tungstat (NH4)2WO4 direaksikan dengan titanium tetraklorida (TiCl4), diperoleh kondisi optimum terjadi bentuk gel pada perbandingan mol Ti:W = 1:0.7, pH 6 dan reaksi pemanasan pada suhu 60 oC.Ge. l berwarna putih dikeringkan pada suhu 80 oC dan 130 oC selama tiga jam.Karakterisasi dengan X-RD menunjukkan bahwa sifat gel menunjukkan bentuk struktur amorf. Identifikasi dengan FTIR diperoleh puncak-puncak serapan pada 3600-3000 cm-1 dari gugus –OH yang berikatan dengan titanium dan ikatan W-OH ditunjukkan pada serapan 1600 cm-1 yang lemah, puncak lain pada serapan 600-1100 cm-1 untuk serapan dari W-O. Identifikasi menggunakan metode SEM diperoleh bentuk butiran kasar, rapuhdan homogen. Gel yang telah diiradiasi dalam reaktor pada fluks neutron » 104 n/cm2/s selama 89 jam, dipaking dalam kolom yang dilengkapi “sintered glass”. Radionuklida 188Re yang terbentuk dielusi dengan larutan NaCl 0,15 M pH 5, diperoleh hasil elusi (yield) 60 %, mempunyai kemurnian radiokimia lebih besar 95 %

    PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI PADA TEKNIK SPUTTERING TERHADAP TAHANAN DAN REFLEKSIVITAS LAPISAN TIPIS a-Si DAN Ag

    Get PDF
    PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI PADA TEKNIK SPUTTERING TERHADAP TAHANAN DAN REFLEKSIVITAS LAPISAN TIPIS a-Si DAN Ag. Telah dilakukan deposisi lopisan tipis a-Si dan Ag pada substrat kaca untuk lapisan reflektor dan lapisan untuk membuat sambungan P-N untuk sel surya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan tahanan lapisan tipis a-Si dan refleksivitas lapisan tipis Ag yang optimal, sehingga akan dipereroleh sel surya yang mempunyai efisiensi lebih tinggi. Target Si dan Ag secara terpisah ditumbuki dengan ion Ar dalam tabung sputtering, sehingga atom Si dan Ag akan terdeposisi pada substrat kaca. Untuk mengetahui struktur kristal data lapisan tipis Si diamati dengan XRD, refleksivitas lapisan tipis Ag menggunakan UV-Vis dan tahanan lapisan tipis Si dengan multimeter digital. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil bahwa lapisan tipis Si menunjukkan amorf, refleksivitas tertinggi lapisan tipis Ag 78 % dan tahanan terkecil lapisan tipis a-Si: 77 mega Ohm

    EFEK IMPLANTASI ION Mg DAN Y TERHADAP SIFAT KETAHANAN OKSIDASI MATERIAL MA 956

    Get PDF
    EFEK IMPLANTASI ION Mg DAN Y TERHADAP SIFAT KETAHANAN OKSIDASI MATERIAL MA 956. Dalam makalah ini disajikan hasil penelitian tentang pengaruh implantasi ion Magnesium dan Yttrium terhadap sifat ketahanan oksidasi material MA 956. Untuk maksud tersebut material MA 956 diimplantasi dengan ion Magnesium dan Yttrium pada doses Ion 1 x 1017 ion/cm2 dan pada energi 100 keV. Untuk mengetahui pengaruh sifat ketahanan oksidasinya, sampel dipanasi pada temperatur 1100 oC dalam udara yang mengandung oksigen selama 100 jam dengan menggunakan TGA (Thermogravitymetry). Disamping itu juga telah dilakukan analisa struktur mikro menggunakan SEM dan analisa komposisi kimia menggunakan EDX, dari pengujian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa untuk benda uji yang tanpa diimplantasi, untuk benda uji yang diimplantasi dengan ion Magnesium dan dengan ion Yttrium dengan waktu oksidasi 100 jam, laju oksidasinya masing-masing sekitar 0.54 mg/cm2., 0,48 mg/cm2 dan 0,40 mg/cm2. Sedangkan dari analisa struktur mikro potongan melintang terlihat bahwa ketebalan lapisan oksida masing-masing adalah sekitar 0 67μm. 0,3μm dan 0,25μm. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan adanya implantasi elemen reakif Magnesium maupun Yttrium mampu menghambat laju oksidasi dari 0,54 mg/cm2 menjadi 0,48 mg/cm2 untuk material yang diimplantasi dengan ion Magnesium dan dari 0,54 mg/cm2, meyadi 0,40 mg/cm2 untuk materialyang diimplantasi dengan ion Yttrium

    EVALUASI Hg, Cd, Co, Cr, DAN As DALAM SAMPELPRODUK AGROINDUSTRI BERDASARKAN KEPUTUSAN BPOM DAN ADI (ACCEPT DAILY INTAKE)

    Get PDF
    Telah dilakukan evaluasi kadar logam berat (Hg, Cd, Co, Cr dan As) dalam sampel produk agroindustri, kemudian dibandingkan dengan baku mutu sesuai dengan Keputusan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) no. 03723/B/SK/VII/89 dan batas ambang konsumsi harian logam berat dalam tubuh menurut ketentuan ADI (Accept Daily Intake). Sampel produk agroindustri yang dianalisis dalam penelitian ini adalah Teh, Coklat Bubuk, Kopi bubuk, Gula tebu dan Susu Bubuk masing-masing 3 sampel yang diperoleh dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Sampel, standar primer (SRM), dan standar sekunder masing-masing sebanyak 0,1 gram dimasukkan dalam polietilen vial dan diiradiasi bersama-sama dalam reaktor riset Kartini pada fasilitas iradiasi Lazy Susan selama 2 x 6 jam dengan fluks neutron 1,05 x 1011n.cm-2.s-1. Sampel dan standar yang sudah didinginkan 2 sampai 20 hari lalu dicacah dengan menggunakan spektrometer-γ dengan detektor Ge(Li) Ortec serta software Maestro 92 selama 3000 detik. Berdasarkan pada SK BPOM, hasil analisis logam berat pada berbagai sampel agroindustri dapat diketahui bahwa hanya kadar Hg dalam sampel K.1 sebesar 3,719 µg/g yang melebihi batas ambang baku mutu (0,03 µg/g). Berdasarkan batas ambang konsumsi harian logam berat dalam tubuh menurut ketentuan ADI yang dikeluarkan oleh FAO/WHO, maka dapat diketahui bahwa hanya kadar unsur Hg dalam sampel K.1 dan kadar unsur As dalam sampel T.1 yang melebihi batas ambang ADI. Jika dibandingkan dengan hasil analisis dari berbagai Negara, kandungan Hg, As, Cr, Cd dan Co pada semua sampel agroindustri yang dianalisis relatif lebih tinggi

    KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA SEDIAAN RADIOISOTOP 175YbCl3 HASIL IRADIASI BAHAN SASARAN 174Yb DIPERKAYA 98,4%

    Get PDF
    Radioisotop pemancar-β terus dikembangkan di berbagai negara baik untuk paliatif, radiosinovektomi maupun terapi kanker.Iterbium-175 (175Yb) merupakan salah satu radiolantanida yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut. Pada penelitian sebelumnya telah dilaporkan pembuatan radioisotop 175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran iterbium oksida alam di reaktor TRIGA 2000 Bandung. Akan tetapi, radioisotop 175YbCl3 yang dihasilkan belum dapat diaplikasikan secara luas, khususnya dalam penandaan peptida dan antibodi sebagai radiofarmaka untuk terapi kanker. Radiosotop yang digunakan harus memiliki kemurnian radionuklida dan aktivitas jenis tinggi. Untuk itu,makapada penelitian ini dilakukan pengembangan pembuatan sediaan radioisotop 175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran iterbium oksida di RSG-G.A Siwabessy Serpong (fluks neutron =1,8 x 1014 n.cm-2.det-1) dengan pengayaan isotop 174Yb sebesar 98,4%. Sediaan radioisotop 175YbCl3yang diperoleh ditentukan karakteristik fisiko-kimianya meliputi penentuan tingkat keasaman (pH), kejernihan, kemurnian radionuklida, aktivitas jenis, muatan listrik, kestabilan dan kemurnian radiokimia. Kemurnian radiokimia ditentukan dengan menggunakan metode kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Hasil menunjukkan bahwa sediaan radioisotop 175YbCl3 tidak bermuatan, memiliki kemurnian radionuklida sebesar 100% dan aktivitas jenis pada saat end of irradiation (EOI) sebesar 173,12 – 480,21 mCi/mg Yb. Sediaan radioisotop 175YbCl3 berupa larutan jernih, memiliki pH 2 dankemurnian radiokimia sebesar 99,66 ± 0,22% serta masih stabil sampai satu bulan dengan kemurnian radiokimia sebesar 99,24 ± 0,48%. Sediaan radioisotop175YbCl3 hasil iradiasi bahan sasaran 174Yb diperkaya 98,4% memiliki karakteristik fisiko-kimia yang memenuhi syarat untuk terapi kanker,radiosinovektomi dan paliatif

    PLASMA CHARACTERISTICS IN SQUARE PULSE ARC DISCHARGE OF PLASMA CATHODE ELECTRON SOURCE DEVICE

    Get PDF
    Plasma parameters in Plasma Cathode Electron Source Device (PCESD) are very important things because they will determine the eficiency of its electron extraction. Square pulse mode of PCESD’s arc discharge plasma current can be obtained by using Pulse Forming Network (PFN) circuits which is called Arc Discharge Power Supply (ADPS). The square pulse mode is necessity to simplify in electron irradiation dose calculation. ADPS is connected with Hollow Anode Chamber (HAC) which is placed inside of PCESD to produce arc discharge plasma. The value of arc discharge plasma current is the main key to determine plasma parameters that can be measured by using Rogowski coil. The value of the arc discharge plasma current is IADPS = 206.30 A with pulse width = 80 μs. Whereas the plasma parameters values inside of the HAC are: the electron plasma density ne = (16.85 1019) m-3, electron plasma temperature Te = 2.609 eV, electron plasma frequency fe = 116.74 GHz, and Debye length λD = 9.958 µm respectively

    221

    full texts

    236

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇